• Tidak ada hasil yang ditemukan

PELAJARAN-PELAJARAN YANG DIPEROLEH DAN PRAKTEK-PRAKTEK TERBAIK YANG MUNCUL

Bio-rights Terkait dengan Mekanisme Pendanaan untuk

5.4. PELAJARAN-PELAJARAN YANG DIPEROLEH DAN PRAKTEK-PRAKTEK TERBAIK YANG MUNCUL

Tinjauan literatur mengenai mekanisme pendanaan menunjukkan beberapa pelajaran penting, yang perlu dipertimbangkan dan digabungkan ke dalam penerapan proyek-proyek Bio-rights:

Pengelolaan biaya transaksi: Biaya transaksi dalam sebuah skema pendanaan terutama terjadi untuk mengatasi kebutuhan informasi serta tuntutan logistik untuk penerapan program. Secara khusus, sebuah program PES memiliki biaya transaksi dalam bentuk biaya peluang akan manfaat yang hilang; biaya-biaya penerapan untuk membuat dan memelihara perubahan penggunaan tanah; biaya-biaya penerapan program, termasuk penciptaan kapasitas, pemantauan dan evaluasi. Biaya-biaya transaksi untuk sebuah skema kredit mikro melibatkan biaya waktu partisipasi masyarakat miskin dalam pertemuan kelompok, biaya peningkatan keahlian, perawatan kantor ketika diperlukan dan lainnya. Sebuah program Bio-rights akan menghadapi biaya-biaya transaksi yang lebih tinggi dibandingkan sebuah program kredit mikro karena Bio-rights juga akan melibatkan pemantauan dampak hasil konservasi di antara biaya-biaya tersebut. Cakupan biaya transaksi yang tidak memadai telah diidentifikasikan sebagai potensi penghambat bagi partisipasi aktif masyarakat dalam program-program konservasi-pembangunan. Tantangan-tantangan kunci bagi seorang manajer proyek terkait dengan biaya transaksi adalah: i) memastikan bahwa tantangan-tantangan tersebut diperhitungkan; ii) tantangan-tantangan tersebut diatasi; dan iii) diminimalisasikan. Elemen ke tiga secara khusus difokuskan karena Bio- rights memiliki fokus langsung pada kemiskinan. Beberapa cara tertentu untuk menurunkan biaya transaksi adalah kontrak secara kolektif dan menginvenstasikan ke dalam kapasitas-kapasitas lokal untuk mendelegasikan dan mendesentralisasikan operasi-operasi pengelolaan pokok.

Mitigasi kebocoran: kebocoran merujuk pada situasi saat kegiatan-

kegiatan yang merusak lingkungan itu berganti, bukan diturunkan. Pada tingkat lokal, kebocoran akan berarti bahwa kegiatan- kegiatan yang merusak hanya berpindah di luar lokasi proyek. Pada tingkat yang lebih luas, seseorang bisa memikirkan situasi saat pembatasan-pembatasan dalam penggunaan tanah akan mengarah pada kerusakan di wilayah lain. Salah satu contoh adalah pencegahan konversi hutan untuk pertanian pada lahan basah akan mengarah pada peningkatan harga makanan, yang pada gilirannya akan mempercepat hasil pembersihan hutan di mana-mana. Kebocoran-kebocoran sangat mungkin terjadi ketika ukuran intervensi kurang optimal dibandingkan dengan persoalan yang sedang dihadapi. Misalnya adalah jika proyek Bio-rights dirancang untuk mengatasi pemanenan ikan yang tidak bertanggung jawab dari lahan basah tertentu, tetapi hanya melayani sebagian lahan basah serta masyarakat nelayan.

Dalam prinsipnya, mengontrol kebocoran pada berbagai tingkat adalah hampir tidak mungkin. Namun demikian, pada skala lokal, ruang lingkup proyek harus cukup komprehensif untuk mengatasi akar penyebab kerusakan sumberdaya.

Target pemangku kepentingan dan partisipasinya: Target

pemangku kepentingan yang efektif serta partisipasinya merupakan hal yang penting bagi keberhasilan intervensi konservasi- pembangunan. Secara historis, keterlibatan pemangku kepentingan secara sempit telah diidentifikasikan sebagai salah satu alasan utama kegagalan ICDPs. Dalam program PES, partisipasi pemangku kepentingan relatif lebih berhasil. Beberapa faktor kunci yang menentukan partisipasi pemangku kepentingan dalam program-program tersebut adalah kelayakan, keinginan, kemampuan dan daya saing (Wunder et al., 2008). Dengan tetap mengamati bahwa Bio-rights adalah tentang penciptaan kondisi untuk konservasi dengan sebuah hasil pembangunan, maka perhatian ditarik pada kenyataan bahwa seringkali kondisi dalam hal kelayakan dan kemampuan mampu menurunkan fokus pada kemiskinan. Secara khusus, kemampuan menghubungkan rancangan penggunaan sumberdaya dan hak milik aset. Oleh karena itu, miskin tanpa adanya akses pada tanah secara langsung dikeluarkan dari rancangan ketika kemampuan untuk mengubah penggunaan tanah menjadi sebuah kriteria bagi keterlibatan dalam sebuah program.

Dengan demikian, penerapan Bio-rights yang berhasil harus didasarkan pada sebuah pemetaan yang rinci mengenai hubungan para pemangku kepentingan dan sumberdaya, dan memastikan partisipasinya yang efektif. Hal ini juga bisa digunakan dalam menentukan skala program secara menyeluruh. Yang paling efektif adalah pemetaan ketika semua atau sebagian besar pemangku kepentingan terlibat dan mendapatkan manfaat.

Nilai tambah yang terlihat: Salah satu tantangan kunci dari ekosistem

yang terkait dengan mekanisme finansial adalah nilai tambah yang tampak, yang diciptakan dengan adanya inisiatif. Nilai tambah di sini merujuk pada perubahan kondisi dasar yang diciptakan oleh adanya inisiatif. Proyek-proyek Bio-rights perlu menciptakan nilai tambah paling tidak dalam dua konteks, nilai tambah ekologi ketika konservasi diperkuat, atau kerusakan diturunkan. Konteks yang kedua adalah untuk memastikan nilai tambah sosio-ekonomi, ketika kemiskinan diturunkan, akes pada modal untuk penciptaan matapencaharian (livelihood) yang penting diperkuat, kualitas hidup meningkat, dan lain-lain. Sebagian besar proyek konservasi- pembangunan tidak memiliki ‘informasi dasar/awal‘ (baseline). Oleh karena itu, penilaian/pengukuran terhadap adanya tingkat perubahan yang diciptakan oleh proyek tersebut sulit dilakukan. Dalam proyek- proyek PES, penghubungan nilai tambah konservasi pada alternatif dibandingkan pada sebuah kondisi ekosistem tertentu, fungsi atau proses, sudah diamati. Dengan begitu, perlindungan yang lebih baik yang tersedia pada arus bawah dianggap telah terjadi ketika jumlah pohon telah meningkat, bukan mengamati perubahan hidrografi. Demikian juga pada kasus ICDPs. Ketiadaan nilai tambah yang terlihat tidak hanya menurunkan daya tarik program, tetapi hal ini mungkin akan menciptakan permasalahan-permasalahan untuk mengamankan sumberdaya tambahan atau pelengkap bagi program secara keseluruhan.

Oleh karena itu, keberhasilan penerapan Bio-rights memberikan mandat rancangan dan penerapan program pemantauan dan evaluasi yang jelas, yang menciptakan sebuah dasar sebelum proyek. Hal tersebut juga memberikan peluang-peluang adaptasi jangka menengah dan pemerolehan pelajaran. Investasi ke dalam kemampuan-kemampuan lokal untuk pemantauan dan evaluasi juga memiliki manfaat tambahan dalam hal biaya transaksi yang dapat diturunkan.

Menghindari penciptaan insentif yang tidak tepat: Dalam beberapa

kesempatan, sebuah perencanaan proyek yang lemah bisa menciptakan insentif yang tidak tepat yang justru akan memperbesar kerusakan sumberdaya. Misalnya, jika pengambilan kayu hutan merupakan satu kriteria bagi keikutsertaan dalam program, maka akan ada kemungkinan pengambilan kayu hutan semakin meningkat dari orang-orang yang ingin menjadi anggota dalam program tersebut. Ada bukti sporadis dari hal ini dalam prakteknya (misalnya lihat Tattenbach et al., 2006). Mekanisme untuk mengatasi situasi seperti itu haruslah tertentu dalam hal lokasi maupun kasusnya, dan dalam rentang dari rancangan kontrak sampai sebuah sistem insentif dalam rantai pasar, bahkan pada penciptaan jalan agar sistem pengaturannya beroperasi.

Kesimpulannya, sebuah tinjauan mengenai pengalaman penerapan mengindikasikan bahwa pencapaian hasil konservasi dan pembangunan melalui penerapan Bio-rights secara implisit akan melibatkan integrasi dari beberapa elemen. Prinsip pertama dan fundamental adalah kemampuan mengatasi pemicu kerusakan pada berbagai tingkat dalam sebuah multitude pemangku kepentingan dan kepentingan-kepentingan yang bertentangan. Mengikat konservasi pada arus manfaat konservasi yang dapat dirasakan menentukan sebuah elemen penting untuk keberhasilan program. Perhatian yang memadai akan diperlukan untuk mengatasi permasalahan kebocoran, insentif yang tidak tepat, dan ketidakefisienan sosial maupun finansial. Penegasan pada strategi pengawsan yang menyeluruh akan membantu menilai tingkat nilai tambah yang diciptakan melalui penerapan program. Menjaga biaya transaksi agar tetap rendah adalah sebuah tantangan lain, yang bisa diatasi dengan pendekatan-pendekatan inovatif sebagai kontrak. Sebuah investasi fundamental akan menciptakan Bio-rights sebagai sebuah proses, bukan proyek, sehingga akan menciptakan skala kebutuhan dan amplitude yang diperlukan untuk mencapai hasil konservasi - kemiskinan.

Kotak 5.1. Menghindari kesalahan pada Proyek Konservasi dan