BAB IV PERTIMBANGAN MAJELIS KOMISI PENGAWAS
D. Hasil Putusan Majelis
Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh KPPU pada Tahap Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Lanjutan serta dasar putusan yang dimiliki, Majelis Komisioner KPPU mengeluarkan Putusan yang menyebabkan PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo mendapat akibat hukum yang berupa sanksi, adapun sanksi tersebut berupa Sanksi Administratif. PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo mendapat Sanksi Administratif dari Majelis KPPU yang menyatakan bahwa Terlapor I dan Terlapor II harus melakukan pembatalan kerja sama dan memerintahkan Terlapor I dan Terlapor II untuk membayar denda masing-masing Rp 1.500.000.000 dan disetorkan kepada kas Negara.
Adapun akibat hukum yang diterima PT. Surveyor Indonesia dan PT.
Sucofindo secara lengkap dalam Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005 sebagai berikut:
1. Menyatakan bahwa Terlapor I dan Terlapor II terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
2. Menyatakan bahwa Terlapor I dan Terlapor II terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
3. Menyatakan bahwa Terlapor I dan Terlapor II terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 19 huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;
4. Memerintahkan kepada Terlapor I dan Terlapor II untuk membatalkan Kesepakatan Kerjasama antara PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT.
Superintending Company of Indonesia (Persero) mengenai Pelaksanaan Verifikasi atau Penelusuran Teknis Impor Gula Nomor: MOU-01/SP-DRU/IX/2004, Nomor: 805.1/DRU-IX/SPMM/2004 tanggal 24 September 2004 dan menghentikan seluruh kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula melalui KSO selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak diterimanya pemberitahuan putusan ini;
5. Memerintahkan kepada Terlapor I dan Terlapor II untuk membayar denda masing-masing sebesar Rp 1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus juta rupiah) dan disetorkan ke Kas Negara sebagai setoran penerimaan negara bukan pajak Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Anggaran Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara Jakarta I beralamat di Jalan Ir. H. Juanda Nomor 19 melalui Bank Pemerintah dengan kode penerimaan 1212 dan harus dibayar lunas paling lambat dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak diterimanya pemberitahuan Putusan ini;
6. Memerintahkan kepada Terlapor I dan Terlapor II untuk tidak menunjuk SGS Geneva maupun perwakilan atau anak perusahaan SGS Geneva di negara lain sebagai pelaksana verifikasi atau penelusuran teknis impor gula di negara asal barang dalam kaitannya dengan proses verifikasi impor gula selama 1 (satu) tahun terhitung sejak diterimanya pemberitahuan Putusan ini;
7. Memerintahkan kepada Terlapor I dan Terlapor II untuk menerapkan praktik persaingan usaha sehat dalam penentuan afiliasi di luar negeri dalam pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula terhitung sejak diterimanya pemberitahuan Putusan ini;
8. Memerintahkan kepada Terlapor I dan Terlapor II untuk tidak memungut biaya jasa verifikasi impor gula dari importir gula sebelum pungutan tersebut mendapat persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku terhitung sejak diterimanya pemberitahuan Putusan ini;
E. Analsis Putusan
Setiap putusan idealnya harus memuat ketentuan kepastian hukum (rechtssicherheit), kemanfaatan (zweckmassigkeit), dan keadilan (gerechtigkeit) secara proposional, seperti yang dikatakan oleh Lilik Mulyadi dalam bukunya mengutarakan bahwa putusan hakim yang baik adalah putusan yang dapat memenuhi kriteria dan dimensi yang meramu antara keadilan hukum (legal justice), keadilan sosial (social justice) dan keadilan moral (moral justice), meskipun di dalam praktiknya antara ketiganya sering terjadi ketegangan atau pertentangan sehingga suatu putusan jarang memuat atau merujuk ketiga unsur tersebut secara bersamaan.1 Dengan demikian alasan-alasan hukum (reasoning) perlu dalam setiap putusan, agar dapat menerapkan asas kepastian hukum, kemanfaatan dan keadilan.
Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, penulis berpendapat bahwa pembentukan KSO dan penetapan harga jasa verifikasi (surveyor fee) secara bersama-sama bukan merupakan perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan yang dikecualikan. Dengan demikian, menurut penulis tindakan pembentukan KSO dan penetapan harga surveyor fee melanggar Pasal 5 dan Pasal 17.
Sementara itu penulis tidak sependapat para Terlapor melanggar Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat sebagaimana dinyatakan oleh KPPU dalam
1Lilik Mulyadi, Kompilasi Hukum Perdata Prespektif Teoritis dan Praktik Peradilan (Hukum Acara Perdata, Hukum Acara Materil, Pengadilan Hubungan Industrial, Pengadilan Perkara Perdata Niaga), Cet. Ke-1, (Bandung: Alumni, 2009), h.164
putusannya. Untuk membuktikan pernyataan tersebut, penulis telah memberikan analisis terhadap putusan terebut.
Salah satu implementasi pelaksaan verifikasi mendapatkan sorotan dari KPPU adalah pembentukan KSO. Mengenai adanya pembentukan KSO tersebut, KPPU mempunyai pertimbangan sebagai berikut:
“Dengan demikian, seharusnya tercipta adanya persaingan di antara Para Pemohon Keberatan dalam menawarkan jasanya. Namun pada kenyataannya justru Para Pemohon Keberatan secara sengaja dan sadar membentuk KSO dengan tujuan untuk:
1. Menghilangkan persaingan diantara mereka
2. Memaksimalkan keuntungan melalui penetapan besaran surveyor fee yang dirasa memberatkan para importir gula, dan
3. Menunjuk hanya kepada SGS Jenewa sebgai pelaksana verifikasi terhadap gula Negara asal.”
Pada dasarnya sulit untuk menyatakan bahwa PT. Surveyor Indonesia dan PT.
Sucofindo telah melakukan penetapan harga pada perkara ini. Hal ini disebabkan karena berdasarkan fakta-fakta yang ada, kedua pelaku usaha tersebut tidak sepenuhnya secara sepihak menetapkan harga jasa verifikasi (surveyor fee) kepada importir gula selaku konsumen, melainkan terdapat perundingan atau negosiasi dengan para impor gula. Berdasarkan fakta yang ada, PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo melalui KSO mengadakan 4 (empat) kali pertemuan untuk menegosiasikan besarnya surveyor fee yang harus dibayar oleh para importir.
Berdasarkan riwayat pertemuan ke IV yang dilakukan PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo dengan para importir gula pada tanggal 14 Januari 2004, hasil dari pertemuan tersebut menunjukkan bahwa para importir gula menyetujui besarnya surveyor fee yang ditawarkan KSO. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan KPPU, terungkap bahwa adanya pemberian persetujuan tersebut disebabkan karena ada unsur keterpaksaan mengingat importir tidak mempunyai pilihan lain dan khawatir nantinya akan dipersulit dalam verifikasi impor gula. Dalam hal ini terlihat bahwa dalam negosiasi tersebut pada dasarnya tidak terjadi keseimbangan antara KSO dan para importir gula. Hal ini terjadi karena terbentuknya KSO menyebabkan hanya ada satu penyedia jasa verifikasi.
Dengan kata lain, terdapat monopoli 100% dalam penyediaan jasa verifikasi tersebut dilakukan oleh KSO.
Sesuai yang telah dijelaskan tentang penetapan harga (price fixing) pada Bab2, PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo telah membuat tidak berlakunya hukum persaingan usaha yang sehat mengenai harga yang terbentuk dari adanya penawaran dan permintaan. KSO yang dibentuk oleh PT.Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo juga menciptakan pasar monopoli yang hanya ada satu produsen tanpa pesaing langsung maupun pesaing tidak langsung dalam pasar. Akibatnya, pengguna jasa atau importir gula tidak mempunyai pilihan lain jika hendak menggunakan jasa menggunakan jasa verifikasi pada saat akan mengimpor gula.
Selain itu, dalam pasar monopoli ini juga tidak ada subsitusi atau jasa pengganti selain jasa verifikasi yang dilakukan oleh KSO atau SGS Geneva di Negara asal barang. Dampak lain dari adanya KSO ini adalah pelaku usaha pemegang
monopoli sehingga mempunyai kekuatan untuk menentukan harga. Dalam konteks inilah dapat dipahami mengapa akhirnya Komisi Pengawas Persaingan Usaha menjatuhkan putusan bahwa PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, sekalipun pada dasarnya terdapat negosisasi antara KSO dengan para importir gula dalam menentukan besarnya surveyor fee. Hal ini terjadi karena pada saat negosiasi terdapat ketidakseimbangan sehingga persetujuan yang diberikan oleh landasan keterpaksaan. Dengan demikian, berdasarkan analisis tersebut penulis memandang bahwa Putusan KPPU yang menyatakan PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo melanggar Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah sudah tepat.
Selanjutnya, penulis juga menyatakan putusan KPPU terhadap PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo melanggar Pasal 17 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat sudah tepat. Pernyataan ini dikemukakan penulis dalam beberapa penjelasan.
Berdasarkan gambaran di atas, terbukti bahwa dengan dibentuknya KSO, PT.
Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo secara bersama-sama melakukan kegiatan monopoli karena mereka secara bersama-sama menguasai 100% pangsa pasar jasa verifikasi teknis impor gula. Kegiatan monopoli yang dilakukan oleh KSO menimbulkan adanya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Yang
dimaksud praktik monopoli sebgaimana telah dijelaskan, adalah pemusatan kekuatan ekonomi yang mengakibatkan dikuasainya produksi atau pemasaran barang dan atau jasa tertentu sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Berdasarkan keterangan saksi dalam Putusan KPPU terungkap bahwa surveyor fee yang ditetapkan oleh KSO realtif tinggi. Hal ini mengakibatkan meningkatnya biaya produksi, harga jual, dan mengurangi daya saing. Adanya peningkatan biaya produksi dan kenaikan harga jual produk pada akhirnya akan membebani konsumen sebagai pengguna akhir produk tersebut. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dalam hal ini pembentukan KSO telah diduga melakukan praktik monopoli karena tindakan yang dilakukannya merugikan kepentingan umum atau konsumen. Adanya praktik monopoli tersebut mengakibatkan hilangnya tujuan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana disebutkan di BAB II yaitu terjadinya persaingan kekuatan ekonomi yang tidak seimbang sehingga perlindungan konsumen secara sehat tidak terealisasi. Berdasarkan analisis tersebut, penulis berpendapat bahwa Putusan KPPU yang menyatakan PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo melanggar Pasal 17 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah sudah tepat.
Namun demikian, penulis berpendapat putusan KPPU yang menyatakan PT.
Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo melanggar Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat tidak tepat. Dalam hal ini penulis tidak sependapat dengan putusan KPPU.
KPPU dalam putusannya yang menyatakan bahwa PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo telah melanggar Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat mempunyai pertimbangan sebagai berikut:
1. Bahwa berdasarkan fakta yang diuraikan dalam butir 1.4. sampai dengan butir 1.6., penunjukan SGS Geneva oleh Terlapor I dan Terlapor II untuk melaksanakan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula di negara asal barang secara langsung telah menutup kemungkinan surveyor lain untuk ditunjuk sebagai pelaksana verifikasi atau penelusuran teknis impor gula di negara asal barang;
2. Bahwa hal tersebut diperkuat dengan fakta yang selama ini Terlapor I dan Terlapor II tidak pernah menunjuk surveyor selain SGS Geneva atau SGS negara setempat untuk melaksanakan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula di negara asal barang;
3. Bahwa dengan demikian, unsur menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu terpenuhi.
Dari pertimbangan utama tersebut, KPPU menyatakan bahwa PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Menurut penulis, pembuatan kerjasama atau penunjukan SGS Geneva dapat dipandang sebagai satu kesatuan atau syarat ditetapkannya PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo sebagai surveyor pelaksana verifikasi. Sebab, berdasarkan Pasal 14 ayat (5) Keputusan
Menperindag No. 527/2004 salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh surveyor yang ingin ditunjuk adalah mempunyai cabang/perwakilan/afiliasi di luar negeri. Sesuai dengan keterangan Para Terlapor dalam Putusan KPPU, mereka hanya punya SGS Geneva sebagai satu-satunya afiliasi di luar negeri sehingga tidak menunjuk afiliasi atau pelaku usaha lain di luar negeri. Berdasarkan ketentuan dalam Keputusan Menperindag No. 527/2004 tersebut, PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo tidak mungkin akan ditunjuk sebagai surveyor apabila tidak mempunyai afiliasi. Dalam konteks ini, penulis menilai bahwa penunjukan atau pembuatan kerjasama hanya dengan SGS Geneva untuk barang asal luar negeri merupakan bagian dari pembuatan yang bertujuan melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan analisis tersebut, penulis menilai bahwa Putusan KPPU yang menyatakan Para Terlapor telah melanggar Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah kurang tepat.
Menurut penulis, alasan PT. Surveyor Indonesia dan PT. Sucofindo melakukan penunjukan SGS Geneva sebagai pelaksana verifikasi di Negara asal barang bukan merupakan usaha penguasaan pasar, namun dikarenakan tugas dan wewenang tersebut adalah dalam rangka melaksanakan fungsi kebijakan pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan, sehingga fungsi dan tugas itu semata-mata merupakan Pelayanan Publik.
Selama ini kenyataan menunjukan bahwa monopoli tidak hanya dilakukan oleh pihak swasta saja, tetapi juga dilakukan oleh badan usaha negara. Menurut
Rachmadi Usman2, hal ini dimungkinkan oleh sistem ekonomi nasional kita yang di dasarkan pada demokrasi ekonomi. Pasal 33 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar 1995 yang memberikan dasar filosofis dan hukum, kemungkinan monopoli dan/atau penguasaan atas cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak serta penguasaan bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya oleh negara.
Negara dapat saja memberikan hak-hak yang bersifat istimewa kepada badan-badan usaha negara yang bergerak di sektor yang penting dan menguasai hajat hidup orang banyak tersebut. Namun demikian, jangan sampai ketentuan Pasal 33 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar 1945 disalahgunakan negara dengan menjadikan aturan tersebut sebagai justifikasi untuk menindas rakyat banyak dan menyerahkan tampuk produksi yang penting ke tangan orang yang berkuasa.
F. Implikasi Putusan Majelis Komisioner KPPU Terhadap Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005
Putusan KPPU merupakan salah satu sumber penting dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia karena merupakan bentuk implementasi terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.3 Terdapat beberapa implikasi yang dapat diterima dari Putusan Majelis Komisioner KPPU Terhadap Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005, yaitu implikasi terhadap para pelaku usaha terlapor dan implikasi terhadap para pelaku usaha lainnya.
2 Rachmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 71-72
3Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Jurnal Persaingan Usaha, Edisi 7, Juli 2012, h.16
Implikasi yang diterima Terlapor I dan Terlapor II dalam Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005 dapat dilihat dari sikap yang diberikan. Beberapa macam penyikapan atau tanggapan pelaku usaha terhadap keputusan KPPU adalah :4
1) Pelaku usaha menerima keputusan KPPU dan secara sukarela melaksanakan sanksi yang dijatuhkan oleh KPPU. Pelaku usaha dianggap menerima putusan KPPU apabila tidak melaksanakan upaya hukum dalam jangka waktu yang diberikan oleh Undang-Undang untuk mengajukan upaya keberatan (pasal 44 ayat 2). Selanjutnya dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya pemberitahuan mengenai putusan KPPU, pelaku usaha wajib melaksanakan isi putusan tersebut dan menyampaikan laporan pelaksanaanya kepada KPPU. Dengan tidak diajukannya keberatan, maka putusan KPPU akan memiliki kekuatan hukum tetap (Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999) dan terhadap putusan tersebut, dimintakan fiat eksekusi ke Pengadilan Negeri (Pasal 46 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999).
2) Pelaku usaha menolak putusan KPPU dan selanjutnya mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri dalam hal ini pelaku usaha yang tidak setuju terhadap putusan yang dijatuhkan oleh KPPU maka pelaku usaha dapat mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 hari setelah menerima pemberitahuan tersebut (Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999).
4Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha…..h. 15
3) Pelaku usaha tidak mengajukan keberatan, namun menolak melaksanakan putusan KPPU. Apabila pelaku usaha tidak mengajukan keberatan sebagaimana diatur dalam Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, namun tidak juga mau melaksanakan putusan KPPU dalam jangka waktu 30 hari, KPPU menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik untuk dilakukan penyelidikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini putusan KPPU akan dianggap sebagai bukti permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan (Pasal 44 ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999).
Jika dilihat dari hasil putusan KPPU dalam Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005, maka para pihak Terlapor dapat menolak putusan KPPU dan selanjutnya mengajukan kepada Pengadilan Negeri. Hal ini sesuai dengan analisis penulis terhadap putusan KPPU yang terdapat beberapa unsur yang dijadikan Putusan tidak sepenuhnya tepat.
Implikasi Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005 terhadap para pelaku usaha lainnya seharusnya menjadi acuan dalam melakukan kegiatan bisnis.
Keberadaan hukum persaingan usaha jelas sangat penting, apabila di lihat kondisi ekonomi sebelum diberlakukannya hukum persaingan keadaannya sangat kacau.
Struktur pasar begitu monopolis, pengusaha tumbuh dengan hanya mengejar keuntungan. Banyak nya pelaku usaha yang melakukan penyalahgunaan posisi dominan, yang kuat semakin kuat, dan yang lemah semakin lemah. Ini semua disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak memberikan kesempatan yang
sama kepada pelaku usaha.5 Karena itu peran hukum persaingan usaha dalam setiap keputusan yang diputuskan oleh KPPU sangat penting untuk memberikan keseimbangan dan menata keadaan tersebut agar aktifitas usaha dapat berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dan menjadi kompetitif (sehat).
Menurut penulis, putusan KPPU dapat berimplikasi untuk menjadi acuan setiap pelaku usaha, di mana pelaku usaha merupakan subyek penting dalam hukum persaingan usaha dan konsumen sebagai objek dari hukum persaingan usaha. Adapun para pelaku usaha dan konsumen perilakunya harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selama kurun waktu sejak lahirnya lembaga KPPU mulai tahun 2000 hingga tahun 2012, telah banyak perkara yang masuk ke pihak KPPU dan diperiksa oleh pihak KPPU berdasarkan kewajiban dan kewenangannya, sehingga banyak melahirkan putusan-putusan penting yang strategis bagi persaingan sehat di Republik Indonesia.6 Dalam hal ini pelaku usaha diharapkan dapat menjalankan aktifitas usahanya dengan secara adil agar tidak ada yang dirugikan. Selanjutnya dalam dunia bisnis tentunya implikasi putusan KPPU sangat besar, karena pihak KPPU ingin menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat sesuai dengan aturan hukum yang berlaku agar aktifitas bisnis di Indonesia dapat berjalan secara adil, kompetitif dengan keadaan ekonomi yang baik. Dengan diaturnya kewenangan KPPU dalam Undang-Undang ini, maka sebenarnya KPPU memliki kewenangan yang sangat luas terhadap segala tindakan pelanggaran pelaku usaha. KPPU tidak hanya mengawasi dan melakukan
5www.kppu.go.id/id/blog/2011/02/putusan-kppu-untuk-kepentingan-konsumen/. Di akses tanggal 3 Juni 2016
6Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha…..h. 6
penilaian terhadap pelaku usaha, namun KPPU juga berwenang melakukan pemeriksaan dengan disertai alat-alat bukti pemeriksaan yang memadai sehingga dalam jangka waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini KPPU memiliki sebuah keputusan yang kemudian disebut dengan Keputusan Komisi sebagai bentuk pengawasan dan perlindungan terhadap hukum persaingan usaha.7
7Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha…..h. 5
69 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan, yaitu:
1. Akibat hukum yang diterima dari tindakan PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT. Superintending Company of Indonesia (Persero) karena melanggar kewajibannya dengan melakukan tindakan yang tidak diamanatkan dari SK Menperindag No. 594 /2004 serta terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1), Pasal 17 dan Pasal 19 huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah Sanksi Administratif berupa pembatalan kesepakatan kerja sama antara PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT.
Superintending Company of Indonesia (Persero) dan membayar denda masing-masing sebesar Rp 1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus juta rupiah).
2. Tindakan PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT. Superintending Company of Indonesia (Persero) yang ditunjuk sebagai pelaksana verifikasi teknisi impor gula tidak pernah menawarkan Surveyor fee masing-masing dianggap Majelis Komisioner memenuhi perjanjian untuk menetapkan harga. Pembentukan KSO yang tidak diamanatkan oleh SK No. 594/2004 dianggap Majelis Komisioner memenuhi unsur melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran. Penunjukan SGS Geneva secara langsung telah menutup kemungkinan surveyor lain untuk ditunjuk sebagai pelaksana verifikasi atau
penelusuran teknis impor gula di negara asal barang dianggap Majelis Komisioner memenuhi unsur menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu.
3. Kekuatan hukum dari putusan Majelis Komisioner KPPU dalam perkara nomor 08/KPPU-L/2005 mengikat Para Terlapor. Hal ini dibuktikan dengan adanya itikad untuk mengakhiri kerja sama operasi antara para terlapor. Namun, Putusan KPPU yang menyatakan para telapor telah melanggar Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 kurang tepat dan dapat membuat para terlapor mengajukan gugatan akan perihal tersebut ke Pengadilan Negeri.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis perlu untuk memberikan saran yakni:
1. Perlu dilakukannya Amandemen Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat terhadap substansi kewenangan KPPU. Perluasan kewenangan KPPU memberikan kemudahan dalam penanganan eksekusi putusan.
2. Terhadap pelaku usaha diharapkan agar lebih hati-hati dalam menjalankan aktifitas usahanya agar tidak melanggar peraturan yang ada.
3. Kementerian Perindustrian dalam membuat suatu Keputusan atau SK (Surat
3. Kementerian Perindustrian dalam membuat suatu Keputusan atau SK (Surat