• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PERTIMBANGAN MAJELIS KOMISI PENGAWAS

F. Implikasi Putusan Majelis Komisioner KPPU Terhadap

Putusan KPPU merupakan salah satu sumber penting dalam Hukum Persaingan Usaha di Indonesia karena merupakan bentuk implementasi terhadap Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999.3 Terdapat beberapa implikasi yang dapat diterima dari Putusan Majelis Komisioner KPPU Terhadap Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005, yaitu implikasi terhadap para pelaku usaha terlapor dan implikasi terhadap para pelaku usaha lainnya.

2 Rachmadi Usman, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 71-72

3Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Jurnal Persaingan Usaha, Edisi 7, Juli 2012, h.16

Implikasi yang diterima Terlapor I dan Terlapor II dalam Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005 dapat dilihat dari sikap yang diberikan. Beberapa macam penyikapan atau tanggapan pelaku usaha terhadap keputusan KPPU adalah :4

1) Pelaku usaha menerima keputusan KPPU dan secara sukarela melaksanakan sanksi yang dijatuhkan oleh KPPU. Pelaku usaha dianggap menerima putusan KPPU apabila tidak melaksanakan upaya hukum dalam jangka waktu yang diberikan oleh Undang-Undang untuk mengajukan upaya keberatan (pasal 44 ayat 2). Selanjutnya dalam jangka waktu 30 hari sejak diterimanya pemberitahuan mengenai putusan KPPU, pelaku usaha wajib melaksanakan isi putusan tersebut dan menyampaikan laporan pelaksanaanya kepada KPPU. Dengan tidak diajukannya keberatan, maka putusan KPPU akan memiliki kekuatan hukum tetap (Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999) dan terhadap putusan tersebut, dimintakan fiat eksekusi ke Pengadilan Negeri (Pasal 46 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999).

2) Pelaku usaha menolak putusan KPPU dan selanjutnya mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri dalam hal ini pelaku usaha yang tidak setuju terhadap putusan yang dijatuhkan oleh KPPU maka pelaku usaha dapat mengajukan keberatan ke Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 14 hari setelah menerima pemberitahuan tersebut (Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999).

4Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha…..h. 15

3) Pelaku usaha tidak mengajukan keberatan, namun menolak melaksanakan putusan KPPU. Apabila pelaku usaha tidak mengajukan keberatan sebagaimana diatur dalam Pasal 44 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999, namun tidak juga mau melaksanakan putusan KPPU dalam jangka waktu 30 hari, KPPU menyerahkan putusan tersebut kepada penyidik untuk dilakukan penyelidikan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam hal ini putusan KPPU akan dianggap sebagai bukti permulaan yang cukup bagi penyidik untuk melakukan penyidikan (Pasal 44 ayat (5) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999).

Jika dilihat dari hasil putusan KPPU dalam Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005, maka para pihak Terlapor dapat menolak putusan KPPU dan selanjutnya mengajukan kepada Pengadilan Negeri. Hal ini sesuai dengan analisis penulis terhadap putusan KPPU yang terdapat beberapa unsur yang dijadikan Putusan tidak sepenuhnya tepat.

Implikasi Putusan Perkara Nomor 08/KPPU-L/2005 terhadap para pelaku usaha lainnya seharusnya menjadi acuan dalam melakukan kegiatan bisnis.

Keberadaan hukum persaingan usaha jelas sangat penting, apabila di lihat kondisi ekonomi sebelum diberlakukannya hukum persaingan keadaannya sangat kacau.

Struktur pasar begitu monopolis, pengusaha tumbuh dengan hanya mengejar keuntungan. Banyak nya pelaku usaha yang melakukan penyalahgunaan posisi dominan, yang kuat semakin kuat, dan yang lemah semakin lemah. Ini semua disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang tidak memberikan kesempatan yang

sama kepada pelaku usaha.5 Karena itu peran hukum persaingan usaha dalam setiap keputusan yang diputuskan oleh KPPU sangat penting untuk memberikan keseimbangan dan menata keadaan tersebut agar aktifitas usaha dapat berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku dan menjadi kompetitif (sehat).

Menurut penulis, putusan KPPU dapat berimplikasi untuk menjadi acuan setiap pelaku usaha, di mana pelaku usaha merupakan subyek penting dalam hukum persaingan usaha dan konsumen sebagai objek dari hukum persaingan usaha. Adapun para pelaku usaha dan konsumen perilakunya harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selama kurun waktu sejak lahirnya lembaga KPPU mulai tahun 2000 hingga tahun 2012, telah banyak perkara yang masuk ke pihak KPPU dan diperiksa oleh pihak KPPU berdasarkan kewajiban dan kewenangannya, sehingga banyak melahirkan putusan-putusan penting yang strategis bagi persaingan sehat di Republik Indonesia.6 Dalam hal ini pelaku usaha diharapkan dapat menjalankan aktifitas usahanya dengan secara adil agar tidak ada yang dirugikan. Selanjutnya dalam dunia bisnis tentunya implikasi putusan KPPU sangat besar, karena pihak KPPU ingin menciptakan iklim persaingan usaha yang sehat sesuai dengan aturan hukum yang berlaku agar aktifitas bisnis di Indonesia dapat berjalan secara adil, kompetitif dengan keadaan ekonomi yang baik. Dengan diaturnya kewenangan KPPU dalam Undang-Undang ini, maka sebenarnya KPPU memliki kewenangan yang sangat luas terhadap segala tindakan pelanggaran pelaku usaha. KPPU tidak hanya mengawasi dan melakukan

5www.kppu.go.id/id/blog/2011/02/putusan-kppu-untuk-kepentingan-konsumen/. Di akses tanggal 3 Juni 2016

6Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha…..h. 6

penilaian terhadap pelaku usaha, namun KPPU juga berwenang melakukan pemeriksaan dengan disertai alat-alat bukti pemeriksaan yang memadai sehingga dalam jangka waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini KPPU memiliki sebuah keputusan yang kemudian disebut dengan Keputusan Komisi sebagai bentuk pengawasan dan perlindungan terhadap hukum persaingan usaha.7

7Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha…..h. 5

69 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan, yaitu:

1. Akibat hukum yang diterima dari tindakan PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT. Superintending Company of Indonesia (Persero) karena melanggar kewajibannya dengan melakukan tindakan yang tidak diamanatkan dari SK Menperindag No. 594 /2004 serta terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar ketentuan Pasal 5 ayat (1), Pasal 17 dan Pasal 19 huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah Sanksi Administratif berupa pembatalan kesepakatan kerja sama antara PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT.

Superintending Company of Indonesia (Persero) dan membayar denda masing-masing sebesar Rp 1.500.000.000,- (satu milyar lima ratus juta rupiah).

2. Tindakan PT. Surveyor Indonesia (Persero) dan PT. Superintending Company of Indonesia (Persero) yang ditunjuk sebagai pelaksana verifikasi teknisi impor gula tidak pernah menawarkan Surveyor fee masing-masing dianggap Majelis Komisioner memenuhi perjanjian untuk menetapkan harga. Pembentukan KSO yang tidak diamanatkan oleh SK No. 594/2004 dianggap Majelis Komisioner memenuhi unsur melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran. Penunjukan SGS Geneva secara langsung telah menutup kemungkinan surveyor lain untuk ditunjuk sebagai pelaksana verifikasi atau

penelusuran teknis impor gula di negara asal barang dianggap Majelis Komisioner memenuhi unsur menolak dan atau menghalangi pelaku usaha tertentu.

3. Kekuatan hukum dari putusan Majelis Komisioner KPPU dalam perkara nomor 08/KPPU-L/2005 mengikat Para Terlapor. Hal ini dibuktikan dengan adanya itikad untuk mengakhiri kerja sama operasi antara para terlapor. Namun, Putusan KPPU yang menyatakan para telapor telah melanggar Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 kurang tepat dan dapat membuat para terlapor mengajukan gugatan akan perihal tersebut ke Pengadilan Negeri.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis perlu untuk memberikan saran yakni:

1. Perlu dilakukannya Amandemen Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat terhadap substansi kewenangan KPPU. Perluasan kewenangan KPPU memberikan kemudahan dalam penanganan eksekusi putusan.

2. Terhadap pelaku usaha diharapkan agar lebih hati-hati dalam menjalankan aktifitas usahanya agar tidak melanggar peraturan yang ada.

3. Kementerian Perindustrian dalam membuat suatu Keputusan atau SK (Surat Keputusan) haruslah menjabarkan setiap ketentuan dalam setiap Pasal secara lebih detil agar tidak menimbulkan kerancuan dalam memahami suatu Keputusan. Sehingga perusahaan yang ditunjuk dalam SK tersebut tidak melakukan kegiatan yang tidak diamanatkan pada SK tersebut.

71 Buku Buku

Amirudin dan Asikin, Zainal, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004

Fahmi M Ahmadi, Jaenal Arifin, Metode Penelitian Hukum, Jakarta : Lembaga Penelitian UIN Syarif Hidayatullah, 2010

Fuady, Munir, Hukum Anti Monopoli Menyongsong Era Persaingan Sehat, Bandung:

PT Citra Aditya Bakti, 1999.

Hermansyah, Pokok-Pokok Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2009

M. Friedman, Lawrence,Sistem Hukum Perspektif Ilmu Sosial, Bandung: Nusa Media, 2009

Marzuki, Peter Mahmud, Penelitian Hukum, Jakarta: Kencana, 2007.

Margono, Suyud, Hukum Anti Monopoli, Jakarta : Sinar Grafika, 2013

Mulyadi, Lilik, Kompilasi Hukum Perdata Prespektif Teoritis dan Praktik Peradilan (Hukum Acara Perdata, Hukum Acara Materil, Pengadilan Hubungan Industrial, Pengadilan Perkara Perdata Niaga), Cet. Ke-1, Bandung:

Alumni, 2009.

Nugroho, SusantiAdi, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia Dalam Teori dan Praktik Serta Penerapan Hukumnya, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012

Rokan, Mustafa Kamal, Hukum Persaingan Usaha Teori dan Praktiknya di Indonesia, Jakarta : Rajawali Pers, 2012

Sirait, Ningrum Natasya, Hukum Persaingan di Indonesia, Medan : Pustaka Bangsa Press, 2004

Suharsil dan Muhammad Taufik Makaro, Hukum Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat di Indonesia, Bogor: Ghalia Indonesia, 2010

Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005

Susila, R. Wayan, AGRIMEDIA Volume 10, (Jakarta: Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, 2005)

Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1986

Usman, Rachmadi, Hukum Acara Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika, 2013

---, Hukum Persaingan Usaha di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika, 2013

Yani, Ahmad dan Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis Anti Monopoli, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002

Jurnal

Sukarmi, Pelaksanaan Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Jurnal Persaingan Usaha, Edisi 7, Juli 2012.

Perundang-undangan

Analisis Perkara Putusan KPPU Nomor 08/KPPU-I/2005 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor: 527/MPP/Kep/9/2004 Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor :

117/M-DAG/PER/12/2015 Tentang Ketentuan Impor Gula Internet

www.kppu.go.id

http://kemenperin.go.id/artikel/14061/BUMN-Bebas-Mengimpor-Gula

www.kppu.go.id/id/blog/2011/02/putusan-kppu-untuk-kepentingan-konsumen/

SALINAN

P U T U S A N

Perkara Nomor: 08/KPPU-I/2005

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia selanjutnya disebut Komisi yang memeriksa dugaan pelanggaran terhadap Pasal 5 ayat (1), Pasal 17 dan Pasal 19 huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat selanjutnya disebut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, yang dilakukan oleh:---

1. PT Surveyor Indonesia (Persero), yang beralamat kantor di Gedung Adhi Graha Lantai 4-11, Jalan Jendral Gatot Subroto Kavling 56, Jakarta 12950, selanjutnya disebut sebagai Terlapor I;---

2. PT Superintending Company of Indonesia (Persero), yang beralamat kantor di Graha Sucofindo, Jalan Raya Pasar Minggu Kavling 34, Jakarta 12780, selanjutnya disebut sebagai Terlapor II;---

telah mengambil Putusan sebagai berikut:---

Majelis Komisi:---Setelah membaca surat-surat dan dokumen-dokumen dalam perkara ini;--- Setelah mendengar keterangan para Terlapor;--- Setelah mendengar keterangan para Saksi;--- Setelah mendengar keterangan pemerintah;--- Setelah menyelidiki kegiatan para Terlapor;--- Setelah membaca Berita Acara Pemeriksaan (selanjutnya disebut BAP);---

Page 2 of 2 TENTANG DUDUK PERKARA

1. Menimbang bahwa diduga terjadi praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat dalam bidang penyediaan jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula;--- 2. Menimbang bahwa oleh karena itu, Komisi telah melakukan monitoring terhadap

Terlapor I dan Terlapor II berkaitan dengan kegiatan penyediaan jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula;--- 3. Menimbang bahwa dari hasil monitoring terhadap Terlapor I dan Terlapor II berkaitan

dengan kegiatan penyediaan jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula, diperoleh fakta-fakta sebagai berikut:--- 3.1. Bahwa kebijakan Pemerintah yang tertuang dalam Keputusan Menteri

Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor:

527/MPP/Kep/9/2004 tanggal 17 September 2004 tentang Ketentuan Impor Gula (selanjutnya disebut SK Menperindag No. 527/2004) juncto Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia Nomor:

594/MPP/Kep/9/2004 tanggal 23 September 2004 tentang Penunjukan Surveyor Sebagai Pelaksana Verifikasi Atau Penelusuran Teknis Impor Gula (selanjutnya disebut SK Menperindag No. 594/2004) yaitu Terlapor I dan Terlapor II, berpotensi melanggar Pasal 17 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 (vide C2, C3);--- 3.2. Bahwa Kerjasama Operasi (selanjutnya disebut KSO) antara Terlapor I dan

Terlapor II dalam operasional pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula berpotensi melanggar Pasal 11 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 (vide C11);--- 3.3. Bahwa penetapan harga jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula yang dilakukan oleh Terlapor I dan Terlapor II berpotensi melanggar Pasal 5 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 (vide C12, C13, C14, C15);--- 3.4. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka dalam Laporan Hasil

Monitoring tanggal 18 Mei 2005, Tim Monitoring merekomendasikan agar Komisi melakukan Pemeriksaan Pendahuluan (vide C17);--- 4. Menimbang bahwa kemudian Rapat Komisi tanggal 19 Mei 2005 menyetujui

rekomendasi Tim Monitoring tersebut dan menetapkan sebagai perkara untuk diperiksa dalam Pemeriksaan Pendahuluan (vide A1);--- 5. Menimbang bahwa kemudian Komisi mengeluarkan Penetapan Nomor:

17/PEN/KPPU/V/2005 tanggal 25 Mei 2005 tentang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor: 08/KPPU-I/2005 dalam jangka waktu selambat-lambatnya 30 (tiga

Page 3 of 3 puluh) hari terhitung sejak tanggal 26 Mei 2005 sampai dengan tanggal 6 Juli 2005 (vide A2);--- 6. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Pendahuluan, Komisi

mengeluarkan Keputusan Nomor: 72/KEP/KPPU/V/2005 tanggal 25 Mei 2005 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor: 08/KPPU-I/2005, yang menugaskan Dr. Pande Radja Silalahi sebagai Ketua Tim Pemeriksa, Ir. Tadjuddin Noersaid dan Faisal Hasan Basri, S.E., M.A., masing-masing sebagai Anggota Tim Pemeriksa (vide A3);--- 7. Menimbang bahwa untuk membantu Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan Pendahuluan, Direktur Eksekutif Sekretariat Komisi mengeluarkan Surat Tugas Direktur Eksekutif Nomor: 27/SET/DE/ST/V/2005 tanggal 25 Mei 2005, yang menugaskan Ismed Fadillah, S.H., M.Si., Siswanto, S.P., Helli Nurcahyo, S.H., LL.M., Farid Fauzi Nasution, S.H., S.IP., Abdul Hakim Pasaribu, S.E., Ak., masing-masing sebagai Investigator, serta Ramli Simanjuntak, S.H., dan Dinni Melanie, S.H. masing-masing sebagai Panitera (vide A4);--- 8. Menimbang Penetapan Komisi Nomor: 18/PEN/KPPU/VI/2005 tanggal 6 Juni 2005 tentang Pemberhentian Sementara Proses Penanganan Perkara di KPPU (vide A5);---- 9. Menimbang Penetapan Komisi Nomor: 19/PEN/KPPU/VI/2005 tanggal 14 Juni 2005

tentang Pencabutan Penetapan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor:

18/PEN/KPPU/VI/2005 tentang Pemberhentian Sementara Proses Penanganan Perkara di KPPU (vide A6);--- 10. Menimbang Penetapan Komisi Nomor: 20/PEN/KPPU/VI/2005 tanggal 15 Juni 2005

tentang Penyesuaian Jangka Waktu Penanganan Perkara Sehubungan Dengan Perpanjangan Masa Jabatan Anggota Komisi Pengawas Persaingan Usaha Periode 2000-2005, maka jangka waktu Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor: 08/KPPU-I/2005 yang semula adalah sejak tanggal 26 Mei 2005 sampai dengan tanggal 6 Juli 2005 disesuaikan menjadi sejak tanggal 26 Mei 2005 sampai dengan tanggal 14 Juli 2005 (vide A7);--- 11. Menimbang bahwa dalam Pemeriksaan Pendahuluan, Tim Pemeriksa telah memanggil secara patut, memeriksa serta mendengar keterangan dari para Terlapor dan para Saksi yang identitas lengkapnya ada pada Tim Pemeriksa dan seluruh keterangannya telah dicatat dalam BAP yang telah ditandatangani oleh yang bersangkutan, yaitu;--- 11.1. Terlapor I telah diperiksa dan didengar keterangannya pada tanggal 23 Juni

2005 (vide A8, B1);--- 11.2. Terlapor II telah diperiksa dan didengar keterangannya pada tanggal 24 Juni

2005 (vide A9, B2);---

Page 4 of 4 11.3. Saksi I (PT Rajawali Nusantara Indonesia) telah diperiksa dan didengar

keterangannya pada tanggal 5 Juli 2005 (vide A10, B4);--- 11.4. Saksi II (PT Coca Cola Bottling Indonesia) telah diperiksa dan didengar

keterangannya pada tanggal 6 Juli 2005 (vide A11, B6);--- 12. Menimbang bahwa dalam Pemeriksaan Pendahuluan, Terlapor II menyampaikan

penjelasan atas pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula yang pada pokoknya sebagai berikut (vide B7, C35, C36);--- 12.1. Bahwa perdagangan dan pengadaan gula melalui impor merupakan suatu

sektor usaha yang diatur secara khusus (regulated business sector);--- 12.2. Bahwa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula merupakan kewenangan

Pemerintah yang didelegasikan kepada pelaku usaha tertentu, dan oleh karenanya bukan merupakan bidang jasa yang dikompetisikan;--- 12.3. Bahwa tidak ada perjanjian penetapan harga antara pesaing sebagaimana

dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;--- 12.4. Bahwa pembentukan KSO semata-mata hanya ditujukan untuk

mengoptimalkan efektifitas dan efisiensi dari pelaksanaan tugas verifikasi atau penelusuran teknis impor gula sebagai wujud dari tanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan oleh negara kepada Terlapor I dan Terlapor II;--- 12.5. Bahwa pembentukan KSO tidak mengakibatkan adanya penetapan harga yang

tidak wajar karena prosesnya dilakukan dengan mengadakan negosiasi bersama dengan para pengguna jasa atau importir gula dan disaksikan oleh Pemerintah;- 12.6. Bahwa kebijakan untuk melakukan negosiasi harga bersama dengan pengguna jasa adalah dalam rangka untuk mengakomodasi kepentingan bersama demi mencapai pelaksanaan tugas verifikasi atau penelusuran teknis impor gula tersebut, khususnya dari tujuan dilakukannya pengaturan dalam pengadaan dan perdagangan gula di Indonesia;--- 12.7. Bahwa Terlapor II berkesimpulan dan berpendapat tidak ada pelanggaran

terhadap Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 yang dilakukan oleh Terlapor I dan Terlapor II dalam pelaksanaan tugas verifikasi atau penelusuran teknis impor gula;--- 13. Menimbang bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Pendahuluan, Tim Pemeriksa

mendapatkan informasi, melakukan penilaian, serta telah mengambil kesimpulan sebagai berikut:--- 13.1. Bahwa kewajiban pelaksanaan verifikasi atau penelusuran teknis impor gula

telah menciptakan pasar baru yaitu pasar jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula dalam wilayah hukum Republik Indonesia. Dalam hal ini, para

Page 5 of 5 importir gula adalah pengguna atau konsumen jasa tersebut, sedangkan perusahaan survey atau surveyor adalah penjual jasa tersebut;--- 13.2. Bahwa pembentukan KSO yang dilakukan oleh Terlapor I dan Terlapor II

berpotensi menciptakan praktek monopoli sebagaimana dilarang pada Pasal 17 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;--- 13.3. Bahwa pembentukan KSO yang dilakukan oleh Terlapor I dan Terlapor II

berpotensi menghalangi surveyor lain untuk masuk dalam pasar jasa verifikasi atau penelusuran teknis impor gula tersebut sebagaimana dilarang dalam Pasal 19 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999;--- 13.4. Bahwa penetapan harga yang dilakukan oleh KSO merupakan bukti awal

adanya penetapan harga sebagaimana dilarang Pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;--- 13.5. Bahwa dengan demikian terdapat indikasi kuat adanya pelanggaran Pasal 5

ayat (1), Pasal 17 dan Pasal 19 huruf a Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;- 13.6. Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dalam Laporan Hasil Pemeriksaan

Pendahuluan, Tim Pemeriksa merekomendasikan pemeriksaan dilanjutkan ke tahap Pemeriksaan Lanjutan (vide A12);--- 14. Menimbang bahwa pada tanggal 12 Juli 2005, Rapat Komisi menyetujui rekomendasi Tim Pemeriksa untuk melanjutkan pemeriksaan ke tahap Pemeriksaan Lanjutan (vide A13);--- 15. Menimbang bahwa selanjutnya Komisi menerbitkan Penetapan Nomor:

21/PEN/KPPU/VII/2005 tanggal 13 Juli 2005 tentang Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor: 08/KPPU-I/2005 dalam jangka waktu selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal 13 Juli 2005 sampai dengan tanggal 6 Oktober 2005 dan dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari (vide A14);--- 16. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Lanjutan, Komisi mengeluarkan

Keputusan Nomor: 85/KEP/KPPU/VII/2005 tanggal 13 Juli 2005 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komisi dalam Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor: 08/KPPU-I/2005, yang terdiri dari Dr. Pande Radja Silalahi sebagai Ketua Majelis Komisi, Ir. Tadjuddin Noersaid dan Faisal Hasan Basri, S.E., M.A., masing-masing sebagai Anggota Majelis Komisi (vide A15);--- 17. Menimbang bahwa untuk membantu Majelis Komisi dalam Pemeriksaan Lanjutan,

Direktur Eksekutif Sekretariat Komisi mengeluarkan Surat Tugas Direktur Eksekutif Nomor: 55.1/SET/DE/ST/VII/2005 tanggal 13 Juli 2005, yang menugaskan Ismed Fadillah, S.H., M.Si., Siswanto, S.P., Helli Nurcahyo, S.H., LL.M., Farid Fauzi Nasution, S.H., S.IP., Abdul Hakim Pasaribu, S.E., Ak., masing-masing sebagai

Page 6 of 6 Investigator, serta Ramli Simanjuntak, S.H., dan Dinni Melanie, S.H. masing-masing sebagai Panitera (vide A16);--- 18. Menimbang bahwa dalam Pemeriksaan Lanjutan, Majelis Komisi telah memanggil

secara patut, memeriksa serta mendengar keterangan dari para Saksi, Pemerintah dan para Terlapor, yang identitas lengkapnya ada pada Majelis Komisi dan seluruh keterangannya telah dicatat dalam BAP yang telah ditandatangani oleh yang bersangkutan, yaitu:--- 18.1. Saksi III (Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Departemen

Perdagangan Republik Indonesia) telah diperiksa dan didengar keterangannya pada tanggal 26 Juli 2005 (vide A18, B9);--- 18.2. Saksi IV (Asosiasi Minuman Ringan/ASRIM) telah diperiksa dan didengar

keterangannya pada tanggal 12 Agustus 2005 (vide A22, B12);--- 18.3. Saksi V (Gabungan Pengusaha Makanan & Minuman Seluruh

Indonesia/GAPMMI) telah diperiksa dan didengar keterangannya pada tanggal 19 Agustus 2005 (vide A23, B13);--- 18.4. Saksi VI (PT Nestle Indonesia) telah diperiksa dan didengar keterangannya

pada tanggal 22 Agustus 2005 (vide A24, A26, B14);--- 18.5. Saksi VII (PT Frisian Flag) telah diperiksa dan didengar keterangannya pada

tanggal 25 Agustus 2005 (vide A25, A31, B15);--- 18.6. Saksi VIII (PT Sinar Sosro) telah diperiksa dan didengar keterangannya pada

tanggal 26 Agustus 2005 (vide A27, B16);--- 18.7. Saksi IX (PT Pan Asia Superintendence) telah diperiksa dan didengar

keterangannya pada tanggal 29 Agustus 2005 (vide A28, B17);--- 18.8. Pemerintah (Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan

Republik Indonesia) telah didengar keterangannya pada tanggal 31 Agustus 2005 (vide A30, A33);--- 18.9. Terlapor II telah diperiksa dan didengar keterangannya pada tanggal 30

September 2005 (vide A48, B20, B22);--- 18.10. Terlapor I telah diperiksa dan didengar keterangannya pada tanggal 4 Oktober

2005 (vide A49, B21, B24);--- 19. Menimbang bahwa dalam Pemeriksaan Lanjutan, Terlapor I menyampaikan

penjelasan atas pelaksanaan tugas verifikasi atau penelusuran teknis impor gula yang pada pokoknya sebagai berikut (vide B8, C37, C38):--- 19.1. Bahwa perdagangan dan pengadaan gula melalui impor merupakan sebuah

sektor usaha yang diatur secara khusus (regulated business sector);--- 19.2. Bahwa segala aspek kegiatan pendukung yang berkaitan dengan pengadaan

gula melalui impor termasuk kegiatan verifikasi atau penelusuran teknis impor

Page 7 of 7 gula pada hakekatnya merupakan bagian kewenangan, tugas dan tanggung-jawab pemerintah atau setidak-tidaknya berada di bawah pengawasan yang ketat dari Pemerintah, oleh karenanya bukan merupakan bidang jasa yang dikompetisikan;--- 19.3. Bahwa dari pembahasan berbagai alternatif pelaksanaan verifikasi atau

penelusuran teknis impor gula dapat disimpulkan bahwa pembentukan KSO merupakan alternatif terbaik dipandang dari sisi stakeholder;--- 19.4. Bahwa pembentukan KSO semata-mata hanya ditujukan untuk

mengoptimalkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas verifikasi atau penelusuran teknis impor gula sebagai wujud dari tanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan oleh negara kepada Terlapor I dan Terlapor II;--- 19.5. Bahwa biaya verifikasi yang dipungut KSO merupakan harga yang ditetapkan

melalui proses negosiasi dengan pengguna jasa;--- 19.6. Bahwa pembentukan KSO dan proses pembentukan harga bukan merupakan

perjanjian dalam rangka penetapan harga antara pesaing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;--- 19.7. Bahwa Terlapor I berpendapat tidak ada pelanggaran terhadap Undang-undang

perjanjian dalam rangka penetapan harga antara pesaing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999;--- 19.7. Bahwa Terlapor I berpendapat tidak ada pelanggaran terhadap Undang-undang

Dokumen terkait