• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHSAN

6.3 Karakteristik Produksi Pengusaha Pola Kemitraan dan Pola Mandir

6.4.2 Hasil Uji Statistik Usaha Tempe Pola Kemitraan dan Pola Mandir

Faktor produksi yang diduga mempengaruhi produksi usaha tempe pada pengusaha pola kemitraan yaitu kedelai, ragi, air, tenaga kerja. Pendugaan fungsi produksi ini dilakukan dengan menguji faktor-faktor produksi menggunakan metode statistik dan pengujian asumsi ekonometrika dengan menggunakan perangkat lunak Minitab 15. Model fungsi produksi yang digunakan dalam menduga faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah produksi tempe adalah model fungsi Cobb-Douglas dengan metode OLS (Ordinary Least Square). Hasil analisis pendugaan fungsi produksi usaha tempe kelompok pengusaha pola kemitraan dapat dilihat pada Tabel 18 dan lampiran 6.

Tabel 18 Hasil analisis pendugaan fungsi produksi usaha tempe pola kemitraan

Prediktor Koefisien SE Koef T-Hitung P-Value VIF

Konstanta 0,47 0,15 3,21 0,02

Kedelai 0,85 0,02 51,31 0,00* 4,30

Ragi -0,04 0,02 -1,88 0,10** 5,86

Air 0,04 0,04 2,10 0,07** 6,25

Tenaga Kerja (HOK) -0,02 0,03 -0,06 0,96 1,27

R-sq 99,90% R-sq(ad) 99,90% Analisi Varians Sumber DF SS MS F P Regresi 4 3,14 0,78 2861,57 0,00 Kesalahan Sisaan 7 0,00 0,00 Total 11 3,14

Keterangan: * Nyata pada taraf α 1%

** Nyata pada taraf α 10%

Berdasarkan Tabel 18, model statistik untuk menduga faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi tempe pengusaha pola kemitraan dapat dikatakan layak serta memenuhi kriteria. Alasan ini dapat dilihat dari nilai R-sq(adj) pada model produksi yang dihasilkan yaitu sebesar 99,90% berarti menyatakan bahwa variabel-variabel kedelai, ragi, air, dan tenaga kerja dapat menjelaskan keragaman dari produksi tempe sebesar 99,90% dan sisanya 0,10% dari keragaman model produksi tempe dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang ada di luar model. Nilai F-hitung sebesar 2861,57 dengan nilai p-value 0,000 menjelaskan bahwa secara umum variabel-variabel faktor produksi dalam model berpengaruh nyata secara bersama-sama terhadap produksi tempe pola kemitraan di Desa Cimanggu I Kecamatan Cibungbulang.

Nilai koefisien regresi dari variabel-variabel bebas dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan nilai elastisitas dari masing-masing variabel tersebut, atau bisa disebut sebagai nilai besarnya pengaruh variabel tersebut terhadap produsi tempe pola kemitraan. Jumlah total nilai elastisitas dari variabel- variabel bebas pada fungsi produksi tempe pola kemitraan diperoleh sebesar 0,83. Jumlah elastisitas produksi tersebut ini bernilai kurang dari satu, artinya menunjukkan bahwa skala usaha tempe pola kemitraan berada pada kondisi

produksi akan menghasilkan tambahan output produksi yang proporsinya lebih kecil daripada input produksi yang ditambahkannya. Variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap produksi tempe pola kemitraa di Desa Cimanggu Iadalah sebagai berikut.

a. Kedelai

Kualitas tempe yang baik akan sangat tergantung pada kualitas kedelai yang digunakan dalam memproduksi tempe, sangat penting pengusaha tempe memperhatikan kualitas dari kedelai yang digunakan sebagau input produsinya. Semkain baik kualitas kedelai maka akan menghasilakan kualits tempe yang lebih baik pula. Hasil regresi menunjukkan bahwa kedelai memiliki hubungan yang positif terhadap produksi tempe pola kemitraan yang berarti bahwa semakin banyak kedelai yang digunakan maka output produksi tempe yang dihasilkan diduga akan semakin meningkat pula. Berdasarkan hasil regresi, nilai elastisitas kedelai adalah sebesar 0,85 yang berarti bahwa setiap kenaikan penggunaan kedelai sebesar 1% maka diduga akan meningkatkan produksi tempe sebesar 0,85% (ceteris paribus). Kedelai yang digunakan pengusaha tempe pola kemitraan merupakan kedelai impor dengan kualitas yang baik, sehingga dengan kualitas kedelai yang baik menghasilkan hasil produksi tempe yang baik pula. Hal ini terbukti dengan nilai p-value kedelai yang kurang dari taraf nyata hingga 15%, artinya menunjukkan bahwa penggunaan kedelai yang baik memiliki pengaruh yang nyata terhadap output produksi tempe yang dihasilkan.

b. Ragi

Penggunaan ragi memiliki hubungan yang negatif terhadap produksi tempe pola kemitraan di Desa Cimanggu I. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa koefisien faktor produksi dari ragi adalah sebesar -0,04. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan penggunaan ragi sebesar 1% diduga akan menurunkan produksi tempe sebesar 0,04% (ceteris paribus). Penggunaan ragi dalam pegusaha pola kemitraan ini berpengaruh nyata terhadap produksi tempe pola kemitraan. Hal ini dapat dilihat dari p-value ragi sebagai variabel faktor produksi sebesar 0,10 yang lebih kecil dari taraf nyata hingga α 15%.

c. Air

Air merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam proses produksi tempe pola kemitraan di Desa Cimanggu I. Penggunaan air sangat dibutuhkan dalam usaha tempe karena air digunakan dalam banyak proses dalam memproduksi tempe. Air digunaka untuk mencuci, merebus, dan mencuci kedelai yang telah direbus, dan merendam dalam penghilangan asam pada kedelai. Sehingga peran air dalam memproduksi tempe sangat dibutuhkan keberadaannya oleh pengusaha pola kemitraan. Hasil uji statistik pada model fungsi produksi tempe pengusaha pola kemitraan menunjukkan bahwa koefisien regresi air memiliki tanda yang positif sebesar 0,04 dengan p-value 0,07. Hal ini berarti setiap kenaikan penggunaan air sebesar 1% diduga akan meningkatkan produksi usaha tempe sebesar 0,04% (ceteris paribus). Penggunaan air dalam penelitian ini berpengaruh secara nyata terhadap produksi tempe. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p-value air sebagai faktor produksi sebesar 0,074, dimana nilai tersebut kurang dari taraf nyata hingga α 15%.

d. Tenaga Kerja (HOK)

Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai elastisitas tenaga kerja sebagai salah satu variabel faktor produksi bernilai negatif, yaitu -0,03 dengan p-value

sebesar 0,956. Hal ini berarti setiap penambahan 1% penggunaan tenaga kerja diduga akan menurunkan produksi tempe sebesar 0,03% (ceteris paribus). Penggunaan tenaga kerja dalam penelitian ini berpengaruh secara tidak nyata pada taraf α 15%. Sehingga penambahan tenaga kerja pada usaha tempe pola kemitraaan akan megurangi jumlah produksi tetapi dalam jumlah yang sedikit pengurangannya yaitu sebesar 0,03%. Hal ini terjadi karena usaha tenpe pola kemitran merupakan usaha yang skalanya sangat kecil dimana dapat dikerjakan oleh satu atau dua orang tanaga kerja, sehingga jika ada penambahan tenaga kerja malah akan menimbulkan inefisien dalam produksi yang berakibat pada penuruanan output produksi.

Uji Kriteria Ekonometrika

a. Uji Multikolinearitas

Tujuan dari adanya uji multikolinearitas terhadap suatu model regresi berganda adalah untuk memastikan tidak adanya hubungan linear kuat yang terjadi antara variabel-variabel bebas (independen) yaitu kedelai, ragi, air, dan tenaga kerja. Pengujian ini dilakukan dengan cara melihat nilai dari Variance Inflation Factor (VIF) pada model hasil regresi tersebut. Suatu model dikatakan memiliki multikolinearitas jika nilai VIF dari setiap variabel bebas pada model bernilai lebih dari 10. Berdasarkan hasil uji statistik pada Tabel 19, nilai VIF dari keempat faktor yang menjadi variabel bebas pada model memiliki nilai kurang dari 10. Artinya ini menunjukkan bahwa variabel-variabel bebas dalam model regresi untuk produksi usaha tempe pola kemitraan tidak memiliki hubungan linear satu sama lain antara variebel-variabel bebas.

b. Uji Normalitas dan Heteroskedastisitas

Uji stasistik Kolmogorov-Smirnov (KS) dalam penelitian ini digunakan untuk menguji kenormalam (Uji normalitas) untuk model produksi tempe pola kemitraan, dapat dilihat pada Lampiran 6. Hasil yang diperoleh pada uji KS tersebut yaitu nilai rata-rata -1,33227E-15, nilai standar deviasi 0,01321, jumlah pengamatan 12 reponden, nilai Kolmogorov-Smirnov (KS) 0,235, dan p-value

0,066. Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa nilai KS-hitung (0,235) lebih kecil daripada KS-Tabel (0,375). Hal ini menunjukkan bahwa residual responden telah mengikuti distribusi secara normal, sehingga asumsi kenormalan residual dikatakan telah terpenuhi.

Tujuan dari uji heteroskedastisitas terhadap suatu model regresi berganda dilakukan untuk memastikan varian unsur gangguan (error) adalah konstan. Model regresi yang didapat diharapkan memenuhi asumsi homoskedastisitas. Pendeteksian heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode grafik, yaitu dengan melihat pola penyebaran titik-titik pada scatterplot. Model regresi dikatakan memenuhi asumsi homoskedastisitas jika sebaran titik-titik pada grafik tidak membentuk pola tertentu atau pola yang terbentuk tidak jelas, dan titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y (Hidayat, 2013). Gambar

2 (a) dan (b) masing-masing menunjukkan sebaran kenormalan residual dan homoskedastisitas dari model regresi berganda pengusaha pola kemitraan.

Gambar 2. Gambar grafik model regresi produksi usahatani tempe pola kemitraan

(a) Grafik Uji Kenormalan (b)Grafik Homoskedastisitas

Model fungsi produksi untuk menduga faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah produksi tempe pola mandiri hampir sama dengan model fungsi produksi tempe pola kemitraan. Faktor produksi yang menjadi variabel bebas (independen) untuk fungsi produksi tempe pola mandiri yaitu kedelai, ragi, air, dan tenaga kerja. Secara rinci hasil analisis pendugaan fungsi produksi usaha tempe pola mandiri dapat dilihat pada Tabel 19 dan Lampiran 7.

Tabel 19 Hasil analisis pendugaan fungsi produksi usaha tempe pola mandiri

Prediktor Koefisien SE Koef T-Hitung P-Value VIF

Konstanta 0,67 0,24 2,77 0,04

Kedelai 0,85 0,04 21,54 0,00* 9,03

Ragi 0,00 0,05 0,08 0,94 7,23

Air 0,01 0,04 0,25 0,81 8,12

Tenaga Kerja (HOK) 0,13 0,13 1,00 0,36 4,45

R-sq 99,90% R-sq(ad) 99,80% Analisi Varians Sumber DF SS MS F P Regresi 4 235,749 0,58937 1111,03 0,000 Kesalahan Sisaan 5 0,00265 0,00053 Total 9 236,014

Keterangan: * Nyata pada taraf α 1%

Berdasarkan data pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa model statistik regresi berganda untuk menduga faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi tempe pengusaha pola mandiri dapat dikatakan layak dan memenuhi kriteria. Karena dapat dilihat bahwa nilai R-sq(adj) dari model produksi yaitu sebesar 99,80% yang menyatakan bahwa variabel-variabel independen seperti kedelai, ragi, air, dan tenaga kerja dapat menjelaskan keragaman dari produksi tempe sebesar 99,80% dan sisanya sebesar 0,20% dari keragaman model produksi tempe dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang ada di luar model. Nilai F- hitung sebesar 1111,03 dengan nilai p-value 0,000 menjelaskan bahwa secara umum variabel-variabel faktor produksi dalam model berpengaruh nyata secara bersama-sama terhadap produksi tempe pola mandiri.

Berdasarkan Tabel dapat dilihat bahwa nilai koefisien regresi dari variabel-variabel bebas dalam model fungsi produksi Cobb-Douglas merupakan nilai elastisitas dari masing-masing variabel tersebut, atau bisa disebut sebagai nilai besarnya pengaruh variabel tersebut terhadap produsi tempe pola mandiri. Jumlah total nilai elastisitas dari variabel-variabel bebas (independen) pada fungsi produksi tempe pola kemitraan diperoleh sebesar 0,99. Jumlah elastisitas produksi tersebut bernilai kurang dari satu yang menunjukkan bahwa skala usaha tempe pola kemitraan berada pada kondisi decreasing return to scale. Artinya bahwa proporsi penambahan input produksi akan menghasilkan tambahan output produksi yang proporsinya lebih kecil dari penambahan input produksi yang ditambahkannya. Berikut adalah Variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap produksi tempe pola mandiri.

a. Kedelai

Hasil regresi berganda pada Tabel diatas menunjukkan bahwa kedelai memiliki hubungan yang positif terhadap output produksi tempe pola mandiri yang berarti bahwa semakin banyak kedelai yang digunakan maka diduga output produksi tempe yang dihasilkan akan meningkat pula. Berdasarkan hasil pada Tabel diatas, nilai elastisitas kedelai sebesar 0,85 yang berarti bahwa setiap penambahan penggunaan kedelai sebesar 1% diduga akan meningkatkan produksi tempe sebesar 0,85% (ceteris paribus). Kedelai yang digunakan pengusaha tempe pola mandiri merupakan kedelai kualitas impor yang baik sama halnya dengna

kedelai yang digunakan pengusaha pola kemitraan, sehingga dengan kualitas kedelai yang baik menghasilkan hasil output produksi yang baik pula. Hal ini terbukti dengan nilai p-value kedelai yang kurang dari taraf nyata hingga 15% menunjukkan bahwa penggunaan kedelai yang baik dalam penelitian ini memiliki pengaruh yang nyata terhadap produksi tempe.

b. Ragi

Berbeda dengan penggunaan ragi pada pengusaha pola kemitraan yang memiliki hubungan negatif terhadap output produksi tempe, pada pengusaha pola mandiri ragi justru memikiki hubungan positif terhadap output produksi. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai koefisien dari ragi adalah sebesar 0,004. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan ragi yang digunakan sebesar 1% diduga akan meningkatkan output produksi sebesar 0,004% (ceteris paribus). Penggunaan ragi dalam penelitian ini berpengaruh tidak nyata terhadap produksi tempe pola kemitraan. Hal ini dapat dilihat dari p-value ragi sebagai variabel faktor produksi sebesar 0,94 yang lebih besar dari taraf nyata hingga α 15%. Penggunaam ragi oleh pengusaha pola mandiri berada di atas normal dari yang seharusnya digunakan, sehingga pengaruh kenaikan penggunaan ragi dirasakan tidak nyata oleh pengusaha pola mandiri.

c. Air

Hasil uji statistik pada model fungsi produksi tempe pengusaha pola mandiri menunjukkan bahwa koefisien regresi air memiliki tanda yang positif sebesar 0,01 dengan p-value 0,81. Hal ini berarti setiap kenaikan penggunaan air sebesar 1% diduga akan meningkatkan output produksi sebesar 0,01% (ceteris paribus). Penggunaan air dalam penelitian ini berpengaruh secara tidak nyata terhadap produksi tempe. Hal ini ditunjukkan dengan nilai p-value air sebagai faktor produksi sebesar 0,81 dimana nilai tersebut lebih besar dari taraf nyata α 15%. Fungsi air pada produksi tempe dirasakan secara tidak nyata oleh pengusaha pola mandiri dalam pemenuhan kebutuhan air untuk pengelolaan usahanya.

d. Tenaga Kerja

Tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi usaha tempe dapat memberikan pengaruh yang positif jika penggunaan tenaga kerja dilakukan dengan efisien. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai elastisitas tenaga kerja

bernilai positif, yaitu 0,13 dengan p-value sebesar 0,36. Hal ini berarti setiap penambahan 1% penggunaan tenaga kerja diduga akan menaikan produksi tempe sebesar 0,13% (ceteris paribus). Penggunaan tenaga kerja dalam penelitian ini berpengaruh secara tidak nyata pada taraf α 15% karena nilai P-value adalah sebesar 0,36 danlebih besar dari taraf nyata α 15%.

Uji Kriteria Ekonometrika

a. Uji Multikolinearitas

Tujuan dari uji multikolinearitas terhadap suatu model regresi berganda adalah untuk memastikan tidak adanya hubungan linear yang terjadi antara variabel-variabel bebas (independen) yaitu kedelai, ragi, air, dan tenaga kerja. Cara melakukan pengujian ini dilakukan dengan melihat nilai dari Variance Inflation Factor (VIF) dari model. Suatu model dikatakan memiliki multikolinearitas jika nilai VIF dari setiap variabel pada model hasil tegresi bernilai lebih dari 10. Berdasarkan hasil uji statistik pada Tabel 20 diatas, nilai VIF dari keempat faktor yang menjadi variabel bebas (indpoenden) pada model memiliki nilai kurang dari 10. Hal ini menunjukkan bahwa variabel-variabel independen dalam model regresi untuk produksi tempe pola mandiri tidak memiliki hubungan linear satu sama lain sesame variabel bebasnya.

b. Uji Normalitas dan Heteroskedastisitas

Uji statistik Kolmogorov-Smirnov (KS) dilakukan untuk melihat kenormalan (Uji normalitas) pada model produksi tempe pola kemitraan di Desa Cimanggu I, secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 7. Hasil yang diperoleh pada uji Kolmogorov-Smirnov (KS) tersebut yaitu nilai rata-rata 4,440892E-17, nilai standar deviasi 0,01717, jumlah pengamatan 10 reponden, nilai Kolmogorov- Smirnov (KS) 0,287, dan p-value 0,029. Terlihat bahwa nilai KS-hitung (0,287) lebih kecil dari KS-Tabel (0,409). Sehingga bisa dikatakan bahwa residual telah mengikuti distribusi secara normal, sehingga asumsi kenormalan residual telah terpenuhi.

Uji heteroskedastisitas terhadap suatu model regresi berganda dilakukan untuk memastikan varian unsur gangguan (eror) adalah konstan. Model regresi yang didapat diharapkan memenuhi asumsi homoskedastisitas. Pendeteksian

heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan metode grafik, yaitu dengan melihat pola penyebaran titik-titik pada scatterplot. Model regresi dikatakan memenuhi asumsi homoskedastisitas jika sebaran titik-titik pada grafik tidak membentuk pola tertentu atau pola yang terbentuk tidak jelas, dan titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka nol pada sumbu Y (Hidayat, 2013). Gambar 3 (a) dan (b) masing-masing menunjukkan sebaran kenormalan residual dan homoskedastisitas.

Gambar 3. Gambar grafik Model Regresi Produksi Usaha Tempe Pola Mandiri

(a) Grafik Uji Kenormalan (b)Grafik Homoskedastisitas

6.5 Analisis Perbandingan Pendapatan Usaha Tempe Pola Kemitraan

Dokumen terkait