• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian yang telah dilakukan oleh Yulianti (2007) yang meneliti UKM industri bordir di Tasikmalaya, dari kajian ekonomi manajemen. Secara umum pelaku bisnis terkait dengan industri bordir di Tasikmalaya terdiri dari pelaku di jalur produksi yang terdiri dari penyedia bahan baku, pengrajin dan pengusaha; dan pelaku di jalur pemasaran yang terdiri pengusaha (pengumpul) dan pedagang. Sedangkan pihak pemerintah merupakan pelaku non-bisnis, yang berperan dalam mendukung dan mengembangkan industri bordir. Temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa dalam industri bordir Tasikmalaya sudah mulai adanya beberapa subkontraktor yang mandiri yang ditunjukkan dengan adanya pekerja ataupun pengrajin yang mensubkontrakkan kembali pekerjaannya pada pihak lain (makloon) sesuai dengan keahliannya masing-masing. Hal ini berarti, sudah mulai tercipta spesialisasi dalam industri yang menuju ke flexible production. Walaupun demikian, dalam industri bordir Tasikmalaya masih terdapat permasalahan/kendala berkaitan satu dengan yang lain, yang harus diselesaikan secara komprehensif. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kualitas hubungan antar aktor dengan membangun dan memantapkan jejaring usaha/kerjasama antar pelaku industri sehingga dapat menguntungkan berbagai pihak.

Hermansah (2014) meneliti kebertahanan industri kreatif di Bandung, menggunakan paradigma Durkhemian, khususnya konsep autopiesis Luhman dan struktur agensi Giddens. Industri kreatif yang diteliti ada empat kelompok industri, yaitu, industri alas kaki, kuliner, fashion, dan pertunjukan. Temuan penelitiannya di antaranya adalah tentang sosiologi produk, resiliensi sistem, dan nilai moral trust yang merupakan inti dari fakta sosial. Ketiga hal tersebut yang mengakibatkan industri kreatif di Bandung dapat bertahan dan berkesinambungan.

Kedua penelitian yang telah diuraikan di atas dapat dilihat secara lebih jelas dalam tabel di bawah ini

Tabel 4. Hasil penelitian terdahulu tentang industri pedesaan Nama Peneliti Hasil Penelitian

Yulianti (2007) Industri bordir di Tasikmalaya sudah ada pembagian kerja yang terspesialisasi melalui subkontraktor dan

mamadukan pola orientasi keuntungan dengan nilai moral Hermansyah Industri kreatif dapat bertahan dan berkesinambungan

karena adanya sosiologi produk, resiliensi sistem, dan nilai moral trust

Sumber: Data lapangan diolah, 2014

Berdasarkan berbagai studi yang telah diungkapkan di atas, studi yang berkaitan dengan spirit nilai-nilai agama yang mempengaruhi perilaku ekonomi, baik yang dilakukan para sarjana barat maupun bukan menunjukkan bahwa seluruh penelitian tersebut hasilnya hampir sama yaitu ada hubungan antara nilai-nilai agama dengan tindakan ekonomi. Begitu juga dengan hasil studi tentang keterkaitan antara nilai-nilai budaya atau etnisitas dengan perilaku ekonomi juga menunjukkan hal yang sama, bahwa nilai budaya mempengaruhi tindakan ekonomi seseorang.

Indonesia sebagai negara kepulauan sangat terkenal dengan beragam agama, etnis dan budayanya, yang berimplikasi kepada keragaman perilaku masyarakatnya yang sudah barang tentu tidak bisa lepas dari nilai-nilai dan norma yang berasal dari agama dan budaya tersebut. Oleh karena itu penulis sangat tertarik dengan studi hal ini, yaitu melihat hubungan antara perilaku ekonomi para pengusaha bordir yang sudah bertahan kehadirannya hampir satu abad dan kaitannya dengan etika moral. Tindakan ekonomi mereka diduga kuat dipengaruhi oleh keterlekatan antara nilai-nilai etika agama Islam dan etika budaya Sunda yang sangat kental dalam kehidupan masyarakat Tasikmalaya. Meskipun dalam penelitian sebelumnya sudah ada peneliti yang meneliti hal tersebut, tetapi kajian tentang pertautan antara nilai agama dan nilai budaya secara jelas belum terlihat. Penelitian Iskandar misalnya lebih fokus kepada tindakan kerja yang tidak ada hubungan atau tidak melekat (disembedded) dengan nilai agama maupun adat. Sedangkan penelitian dalam disertasi ini akan lebih fokus melihat tentang tindakan ekonomi pengusaha bordir dari pertautan kedua etika nilai tersebut. Lebih khusus lagi struktur sosial yang ada dalam komunitas bordir ini berbentuk dalam kelembagaan pesantren dan lembaga pendidikan lainnya serta komunitas lokal Sunda yang sangat kuat. Penelitian ini tetap menggunakan paradigma Weberian, khususnya yang berkaitan keterlekatan sosial (social embeddedness) dari Granovetter. Di samping itu dalam penelitian ini juga, selain digunakan teori Granovetter tentang keterlakatan sosial (social embeddedness) juga digunakan teori isomorphisme (neo-institutionalism) dari DiMagio dan Powell. Hal inilah yang membedakan penelitian kebertahanan UKM bordir Tasikmalaya dengan penelitian- penelitian sebelumnya. Oleh karena itu peneliti tertarik dan merasa penting untuk melakukan kajian tersebut.

Dari hasil kajian-kajian terdahulu tentang rasionalitas tindakan ekonomi dan keterlekatan (embeddedness) tindakan ekonomi, maka peneliti menduga adanya keterlekatan antara moral etika Islam dan etika moral budaya Sunda di satu sisi, di sisi lain etika ekonomi pasar (modern) juga tetap dipertimbangkan untuk mendapatkan keuntungan dalam bisnis bordir. Kedua moral etika ekonomi yang saling bertautan

mempengaruhi tindakan ekonomi pengusaha bordir sehingga industri bordir tetap bertahan, maka novelty yang diusung adalah keterlekatan religiusitas budaya (religio- cultural embeddedness).

Kajian Teoritis Tindakan Ekonomi

Weber dalam Swedberg (1998) menjelaskan bahwa suatu tindakan dikatakan tindakan ekonomi sepanjang memenuhi makna subjektif yang difokuskan kepada pemenuhan suatu kebutuhan (utility). Untuk memahami bagaimana sebuah tindakan dapat dikategorikan tindakan ekonomi, Weber (1978) menguraikan sebagai berikut:

1. Aktifitas atau tindakan ekonomi dari seorang individu dapat dikatakan tindakan sosial sejauh tindakan tersebut memperhitungkan perilaku orang lain.

2. Definisi dari tindakan ekonomi harus memungkinkan dan menghasilkan fakta bahwa semua proses dan objek ekonomi adalah dicirikan sebagai suatu keseluruhan pemaknaan tentang tindakan manusia dan dalam sejumlah peran, makna, hambatan dan produksi.

3. Tindakan yang dianalisis dalam sosiologi adalah pada awalnya diasumsikan secara rasional. Namun jika realitas empirik tidak sesuai, model rasional dan bentuk penjelasan lain harus ditonjolkan.seperti tindakan tradional atau tindakan lain yang mempengaruhinya.

4. Semua tindakan ekonomi dipengaruhi tindakan non ekonomi dan tindakan yang bermanfaat kesemuanya dipengaruhi pertimbangan ekonomi.

5. Bentuk tindakan yang menggunakan kekerasan atau kejahatan mungkin berorientasi pada ekonomi. Seperti peperangan, perampokan seperti ini “makna ekonomi” menjadi “makna politik”

6. Penting untuk memasukkan pengelolaan/pengaturan (disposal) dan kontrol kekuasaan (power of control) dalam sosiologi tentang tindakan ekonomi, jika tidak ditemukan alasan-alasan lain dari pertukaran ekonomi yang melibatkan jaringan kerja yang komplit dari hubungan kontraktual.

7. Konsep tentang kontrol keluasaan dan disposal disini akan dilakukan dengan memasukkan kemungkinan adanya kontrol atas kekuasaan tenaga kerja dan aktor itu sendiri.

8. Yang terpenting dalam tindakan ekonomi difokuskan pada tipe tindakan yang dicirikan dari hasil akifitas aktor dan perhitungan aktor, yang kemudian mampu menghasilkan analisis yang berbeda dari ilmu ekonomi

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa dalam teori tindakan sosial Weberian juga melekat (embedded) subjective-meaning system dalam setiap tingkah laku (conduct) aktor, yang diidentifikasi Weber dalam empat kategori yaitu, traditional, value, afektif, dan instrumental (Weber 1978; Swedberg 1998; Ritzer & Goodman 2007).10 Keempat sistem makna ini yang menjadi rasionalitas tindakan sosial, yaitu;

1) Rasional Instrumental (Zweckrationalitat), yaitu tindakan rasional yang di dasarkan pada kesadaran akan pertimbangan dan pilihan yang berhubungan dengan tujuan tindakan dan alat yang digunakan untuk mencapainya. Tindakan

10 Menurut penulis sistem makna tradisional merupakan identifikasi dari unsur budaya, sistem

makna nilai adalah identifikasi dari nilai-nilai agama atau moral, sistem makna afektif merupakan unsur emosi individu, sedangkan sistem makna instrumental merupakan identifikasi dari orientasi yang bersifat material.

rasional instrumental ini merupakan tindakan yang paling rasional. Individu dilihat memiliki berbagai macam tujuan yang diinginkannya dan atas dasar suatu kriteria tertentu, ia memilih satu pilihan diantara tujuan-tujuan yang saling bersaingan itu. Individu itu lalu menetapkan alat yang akan digunakan untuk mencapai tujuan yang telah dipilih tersebut.

2) Rasionalitas yang Berorientasi Nilai (Werktrationalitet), yaitu tindakan dimana aktor dipandu suatu nilai dalam menentukan tujuannya. Nilai bisa berubah, namun sepanjang nilai masih berlaku, maka tetap rasional bagi aktor yang melakukannya. Dalam tindakan seperti ini, memang antara tujuan dan cara-cara mencapainya cenderung menjadi sukar untuk dibedakan.

3) Tindakan Tradisional (Traditional Action) yaitu tindakan yang didasarkan pada kebiasaan-kebiasaan masa lalu dan masih dipraktekkan dan diterima begitu saja tanpa adanya refleksi atau perencanaan si aktor. Satu-satunya alasan pembenaran yang sering dikemukakan si aktor bahwa inilah cara yang sudah dilaksanakan oleh nenek moyang kami yang sudah berlangsung secara turun-temurun.

4) Tindakan Afektif (Affectual Action) yaitu tindakan yang dilandasi oleh perasaan atau emosi, tanpa adanya refleksi intelektual dan perencanaan yang sadar. Seseorang yang sedang mengalami perasaan meluap-luap seperti jatuh cinta, marah, ketakutan, kegembiraan dan secara spontan mengungkapkan perasaan itu tanpa refleksi, berarti ia sedang memperlihatkan tindakan afektif.

Lebih jauh Weber (1978) menjelaskan bahwa tindakan ekonomi dalam teori ekonomi lebih berorientsi pada kepentingan materi dan mengutamakan keuntungan (utility) sedangkan perilaku aktor lain diabaikan atau tidak diperhitungkan (economic action). Dalam sosiologi tindakan ekonomi diarahkan pada kepentingan materi dan ideal dan juga perilaku aktor lain (social action). Berbeda dengan sosiologi ekonomi yang lebih fokus pada tindakan sosial ekonomi (social economic action) yaitu lebih diarahkan pada kepentingan materi dengan orientasi dan mempertimbangkan perilaku aktor lain. Tindakan sosial dan tindakan sosial ekonomi juga bisa diarahkan oleh kebiasaan (habit) atau tradisi, dan emosi khususnya dalam kombinasi dengan kepentingan. Dengan demikian jelas bahwa Weber berusaha untuk mengkombinasikan antara kepentingan dan memperhitungkan perilaku aktor lain. (Swedberg 1998)

Pembedaan Weber atas kepentingan dibagi menjadi kepentingan ideal dan kepentingan material, ini yang membedakan sosiologi ekonomi Weber dengan aliran sosiologi ekonomi baru. Analisis sosiologi baru menempatkan kepentingan ideal sebagai milik sosiologi dan kepentingan material dianggap milik ekonomi. (Swedberg 1998) Embedded Theory (Keterlekatan Sosial)

Keterlekatan adalah tindakan ekonomi terlekat secara nyata dan terus menerus dalam suatu sistem hubungan social (Granovetter 1992). Konsep keterlekatan (embeddedness) menurut Granovetter (1992) dimaksudkan untuk menganalisa tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat di dalam-jaringan-jaringan sosial personal yang sedang berlangsung diantara para aktor, selain level institusi dan kelompok.

Tiga proposisi tindakan ekonomi individu menurut Granoveter dan Swedberg (1992: 6 ) :

2. Tindakan ekonomi terbentuk karena bekerjanya kekuatan faktor sosial secara terus menerus

3. Kelembagaan ekonomi adalah wujud konstruksi sosial

Granovetter (1992) mengambil jalan tengah diantara dua kubu yang saling bertentangan dengan menyatakan bahwa tindakan ekonomi secara sosial berada dan tidak dapat dijelaskan dengan mengacu pada motif-motif individu dan nilai-nilai yang dianutnya. Sebagai bentuk tindakan sosial, tindakan ekonomi tertanam di jaringan hubungan pribadi dan institusi sosial ketimbang yang dilakukan oleh aktor. Tindakan ini disebut tindakan rasionalitas sosial. Dari perspektif ini sangat jelas bahwa tindakan ekonomi, pada prinsipnya tidak dapat dipisahkan dari pencarian persetujuan, status, keramahan, dan kekuasaan. Hal ini disebabkan karena perilaku manusia, termasuk tindakan ekonomi dan atributnya, harus selalu sesuai dengan norma-norma yang berfungsi sebagai pengontrol tindakan aktor. Dengan kata lain tindakan ekonomi disituasikan secara sosial dan melekat (embedded) dalam hubungan sosial dan struktural yang sedang berlangsung dari kalangan para aktor (Granovetter 1985; 1992).

Granovetter juga tidak setuju dengan konsep dikhotomi keterlekatan dan ketidakterlekatan (embbedded – disembedded) dari Polanyi. Menurut Polanyi, tindakan ekonomi dalam masyarakat pra-industri melekat dalam institusi sosial, politik, dan agama. Kehidupan ekonomi diatur oleh resiprositas dan redistribusi. Sedangkan dalam masyarakat modern kegiatan ekonomi tidak melekat dalam masyarakat, tetapi diatur oleh mekanisme pasar dan terpisah dengan struktur sosial lainnya (self regulation market/ pasar mengatur dirinya sendiri). Mekanisme pasar ini diatur oleh logika baru yang menegaskan bahwa tindakan ekonomi tidak melekat (disembedded) dalam lembaga sosial, politik dan agama. Selanjutnya Granovetter dan Swedberg (1992), menjelaskan bahwa tindakan ekonomi setiap masyarakat berlangsung di antara keterlekatan kuat (underembedded) dan keterlekatan lemah (overembedded). Granovetter juga membedakan dua bentuk keterlekatan yaitu keterlekatan relasional dan keterlekatan struktural.

Keterlekatan relasional merupakan tindakan ekonomi yang disituasikan secara sosial dan melekat (embedded) dalam jaringan sosial personal yang sedang berlangsung diantara para aktor. (Damsar, 2009; Syukur, 2013). Keterlekatan relasional ini dicontohkan dengan tindakan ekonomi dalam hubungan pelanggan antara penjual dan pembeli. Hubungan pelanggan ini terjadi hubungan interpersonal yang melibatkan berbagai aspek sosial budaya, agama, dan politik dalam kehidupan mereka berdua. Melalui hubungan pelanggan, pembeli dapat memutus mata rantai informasi yang asimetris dengan penjual. Hubungan ini dimulai dari pembeli yang mencari informasi yang tidak pasti tentang barang dan jasa. Pembeli mencari informasi dari penjual yang mau berbagi informasi dengannya. Berbagi informasi juga harus diperhitungkan sebagai sebuah keuntungan untuk penjual maupun pembeli. Hal ini akan terus menerus sampai terjadi saling kepercayaan dan kepastian dari kedua belah pihak bahwa berbagi informasi telah menguntungkan kedua belah pihak (Damsar 2009; Syukur 2013). Ketika hubungan penjual dan pembeli yang impersoanal telah sampai pada tahap berbagi informasi yang pasti dan akurat juga melibatkan kepercayaan, maka hubungan meningkat pada hubungan yang lebih personal, yaitu hubungan pelanggan. Hubungan pelanggan ini tidak hanya sekedar tindakan ekonomi, tetapi dapat meluas ke dalam aspek sosial, budaya, dan politik. (Damsar 2009; Syukur 2013). Pada saat ada pesta di pihak pembeli, maka penjual akan memberikan kado istimewa. Begitu juga pada saat kena musibah, penjual juga akan datang dan mengirimkan ungkapan dukacita. Sama halnya dengan pihak penjual,

pembelipun akan melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh pihak penjual.

Keterlekatan struktural adalah keterlekatan yang terjadi dalam suatu jaringan hubungan yang lebih luas yaitu institusi atau struktur sosial. Keterlekatan stuktural ini bisa dicontohkan dengan hubungan produsen dan konsumen. Mereka dapat membuat kesepakatan diantara keduanya agar terjadi transaksi jual beli. Dalam siatuasi yang berbeda dapat juga transaksi jual beli tidak dapat secara langsung terjadi antara penjual dan pembeli, tetapi dilakukan melalui seorang kurir. Selain itu bisa juga barang diberikan lebih dahulu dan pembayaran dilakukan belakangan atau dengan sistem konsinyiasi. Di sini terlihat bahwa kepercayaan terjadi diantara produsen dan konsumen (pelanggan) dengan melibatkan seorang kurir. Dalam hal ini keterlekatan antara penjual dan pembeli terjadi melibatkan jaringan dan saling kepercayaan serta aturan main yang disepakati bersama.

Terkait dengan jaringan sosial Granovetter menguraikan bagaimana jaringan kerja dan jaringan sosial bekerja mendinamisasi tenaga kerja, menentukan besaran harga barang, meningkatkan produktivitas kegiatan ekonomi dan menjadi sumber inovasi dan adopsi teknologi. Selanjutnya pemikiran Granovetter (2005) tentang jaringan sosial adalah tentang empat prinsip utama yaitu: 1) norm and densitas network (norma dan kepadatan jaringan); 2) the strenght and weak ties (kuat atau lemahnya ikatan) berupa manfaat ekonomi yang cenderung diperoleh dari jalinan jaringan ikatan lemah; 3) the important of stuctural holes yang berkontribusi menjembatani relasi individu dengan pihak luar; 4) the interpretation of economic and non economic action, adanya tindakan- tindakan non ekonomi yang dilakukan individu, yang ternyata memberi kemanfaatan bagi tindakan ekonominya.

New Instituonalism (Institusi Baru) dan Isomorphisme dalam kaitan Tindakan Ekonomi

Nee (2005) melalui teori new institutionalism, berusaha menjelaskan bagaimana proses bekerjanya nilai-nilai adat kebiasaan, nilai kepercayaan (agama), norma-norma dan institusi-institusi formal maupun informal dalam proses pengembangan ekonomi masyarakat.

Pemikiran Nee (2003) tentang kelembagaan baru relevan untuk menganalisis konteks keberhasilan atau kegagalan kehidupan ekonomi masyarakat bordir Tasikmalaya, yang terkait dengan tindakan ekonomi yang bertautan dengan nilai-nilai agama dan nilai adat tradisi. Nee melihat gejala keberhasilan dan kegagalan suatu kehidupan ekonomi masyarakat secara utuh, dimana ia memperhatikan keberlangsungan mekanisme integrasi hubungan formal dan informal pada setiap level kausal yang terdiri dari level mikro (individu), meso (kelompok atau organisasi) dan makro (policy environment).

Menurut Nee, keberhasilan ekonomi dapat dicapai apabila terjadi harmonisasi hubungan dari level makro kepada lembaga informal atau organisasi di level meso dan sampai ke level mikro (individu). Sebaliknya kegagalan dapat terjadi apabila terjadi kerusakan salah satu mekanisme integrasi atau disebut decoupling. Nee memandang penting lingkungan institusi dan budaya dalam membentuk tingkah laku ekonomi masyarakat. (Nee 2003; Iskandar 2012).

Selanjutnya Nee (2003), menegaskan adanya mekanisme sosial dimana di dalamnya terdapat hubungan keterkaitan dan berkelindan antara unsur formal (state rules) dan unsur informal seperti nilai-nilai kepercayaan (share belief), jaringan sosial dan

keterlekatan sosial (social embeddedness) menurut konteks sosial budaya tertentu, yang kemudian menjadi basis bagi individu melakukan tindakan sosial guna mencapai kepentingan-kepentingan ekonominya. Pada dasarnya apa yang disampaikan Nee (2003) dalam New Institutionalism adalah gabungan dari pemikiran teori pilihan rasional dikemukakan Coleman, teori ekonomi institusional dan teori keterlekatan sosial (embeddedness theory) yang digagas Granovetter.

Kritik Nee (2003) terhadap Granovetter (1992), bahwa pemikiran Granovetter memiliki titik lemah yaitu hanya menjelaskan proximate causes tanpa menyentuh large macro causes. Selain itu, Granovetter tidak dapat menjelaskan mengapa aktor terlepas atau terpisah (decouple) dari hubungan sosial untuk mengejar kepentingan ekonomi.

Sejalan dengan pemikiran Nee (2003), DiMagio & Powell (1983) mengemukakan teorinya tentang isomorphisme dan lebih dikenal dengan aliran neo- institutionalism. Menurut kalangan Neo kelembagaan satu lingkungan kelembagaan tertentu hanya akan melegitimasi satu bentuk organisasi saja, atau cenderung hanya pada satu bentuk yang lebih kurang sama (similar). Konsep ini dikenal dengan social fitness

Menurut DiMagio dan Powell (1983), institutional isomorphism memeperhatikan berbagai hal di lingkungannya baik yang berbentuk pemaksaan (coercive), normatif, dan mekanisme mimetik. Organisasi-organisasi individual akan cenderung similar tanpa melihat esensinya. Stuktur formal dan non formal juga merupakan hal yang perlu dipertimbangkan dalam mempelajari gejala isomorfisme. Keduanya memberi pengaruh pada struktur dan prosedur dalam organisasi.

Entrepeneurship

Kewirausahaan (entrepreneurhip) merupakan persoalan penting di dalam perekonomian suatu bangsa yang sedang berkembang. Kemajuan atau kemunduran ekonomi suatu bangsa sangat ditentukan oleh keberadaan dan peranan dari kelompok wirausahawan ini. Peter Drucker (1993) menyatakan bahwa seluruh proses perubahan ekonomi pada akhirnya tergantung dari orang yang menyebabkan timbulnya perubahan tersebut yakni sang “entrepreneur”. Kebanyakan perusahaan yang sedang tumbuh dan yang bersifat inovatif menunjukan suatu jiwa (spirit) entrepreneur. Korporasi-korporasi berupaya untuk mendorong para manajer mereka menjadi orang-orang yang berjiwa entrepreneur, universitas-universitas sedang mengembangkan program-program entrepreneurhip, dan para entrepreneur individual menimbulkan perubahan-perubahan dramatik dalam masyarakat. Keberhasilan pembangunan yang dicapai oleh negara Jepang ternyata disponsori oleh para entrepreneur yang berjumlah 2 % (tingkat sedang), berwirausaha kecil sebanyak 20% dari jumlah penduduknya. Inilah kunci keberhasilan pembangunan negara Jepang (Ranu 1982). Sayangnya, jumlah entrepreneur di Indonesia masih sedikit dan mutunya belum bisa dikatakan hebat untuk menopang perekonomian, sehingga persoalan wirausaha ini menjadi persoalan yang mendesak bagi suksesnya pembangunan perekonomian di Indonesia.

Menurut Gerry Segal, Dan Borgia, dan Jerry Schoenfeld (2005), toleransi akan resiko, keberhasilan diri dalam berwirausaha dan kebebasan dalam bekerja memiliki pengaruh positif terhadap minat berwirausaha. Praag dan Cramer (2002) secara eksplisit mempertimbangkan peran resiko dalam pengambilan keputusan seseorang untuk menjadi seorang entrepreneur. Rees dan Shah (1986) menyatakan bahwa perbedaan pendapatan pada pekerja individu yang bebas (entrepreneur) adalah tiga kali lipat dari yang didapat oleh individu yang bekerja pada orang lain, dan menyimpulkan bahwa toleransi terhadap

resiko merupakan sesuatu yang membujuk untuk melakukan pekerjaan mandiri (entrepreneur). Gurol dan Atsan (2006) mendefinisikan keberhasilan berwirausaha sebagai pendorong keinginan seseorang untuk menjadi entrepreneur, karena persepsi keberhasilan sebagai hasil menguntungkan atau berharap untuk berakhir melalui pencapaian tujuan dari usahanya. Artinya, jika seseorang mencapai tujuan usaha yang diinginkan melalui prestasi, ia akan dianggap berhasil.

Menurut Duchesnau et al. (dalam Riyanti 2003), wirausaha yang berhasil adalah mereka yang dibesarkan oleh orang tua yang juga wirausaha, karena memiliki banyak pengalaman yang luas dalam dunia usaha. Lebih lanjut Staw mengemukakan bahwa ada bukti kuat wirausaha memiliki orang tua yang bekerja mandiri atau berbasis sebagai wirausaha. Kemandirian dan fleksibilitas yang ditularkan oleh orang tua seperti itu melekat dalam diri anak-anaknya sejak kecil. Sifat kemandirian yang kemudian mendorong mereka untuk mendirikan usaha sendiri. Fang Yang (2011) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa perbedaan latar belakang sosial membuat perbedaan motivasi dan minat masyarakat dalam penentuan pekerjaan. Selain itu, menurut Clement K. Wang dan Poh-Kam Wong (2004) menyebutkan bahwa adanya pengaruh positif latar belakang pekerjaan orang tua terhadap minat berwirausaha.

Jaringan Sosial Ekonomi

Jaringan sosial merupakan salah satu dimensi modal sosial selain kepercayaan dan norma. Jaringan (networking) merupakan hal penting dalam sebuah usaha bisnis. Jaringan adalah hubungan antar individu yang memiliki makna subjektif yang berhubungan atau dikaitkan dengan sesuatu sebagai simpul (aktor individu dalam jaringan) dan ikatan yaitu hubungan antar para aktor tersebut ( Damsar 2013). Konsep jaringan dalam kapital sosial lebih memfokuskan pada aspek ikatan antar simpul yang bisa berupa orang atau kelompok (organisasi). Dalam hal ini terdapat pengertian adanya hubungan social yang diikat oleh adanya kepercayaan yang mana kepercayaan itu dipertahankan dan dijaga oleh norma-norma yang ada. Pada konsep jaringan ini, terdapat unsur kerja, yang melalui media hubungan social menjadi kerja sama. Pada dasarnya jaringan social terbentuk karena adanya rasa saling tahu, saling menginformasikan, saling mengingatkan, dan saling membantu dalam melaksanakan ataupun mengatasi sesuatu. Intinya, konsep jaringan dalam kapital sosial menunjuk pada semua hubungan dengan