• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil studi tentang Keterlekatan ( Embeddedness ) Tindakan Ekonomi dengan Nilai Budaya

Hasil studi lain yang berkaitan dengan sosiologi ekonomi pedesaan khususnya terkait dengan keterlekatan tindakan ekonomi aktor diantaranya Fadjar (2008) tentang keterlekatan yang kuat pelilaku petani terhadap nilai moral tradisional, Iskandar (2012) tentang ketidaklekatan (disembeddedness); dan Syukur (2013) berkaitan dengan social embeddedness antara tindakan ekonomi penenun dengan adat budaya masyarakat Wajo dan Zusmelia (2007) tentang keterlekatan tindakan ekonomi pedagang kayu manis

dengan kekerbatan masyarakat Nagari, D’Magio dan Louch (1998) tentang keterlekatan dalam jaringan pertemanan dalam jual beli yang beresiko tinggi dan Kafi, et al. (2012) terkait dengan keterlekatan relasional pondok pesantren dengan santrinya.

Pengaruh kapitalisme terhadap perkembangan moda produksi komunitas petani kakao di Sulawesi Tengah dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD) yang digambarkan oleh Fadjar (2009) semakin menguat. Hal ini terlihat dengan adanya perubahan moda produksi dari ladang berpindah (padi Ladang) menjadi moda produksi pertanian menetap (kakao untuk komoditas perdagangan). Perubahan moda produksi itu semakin menguat dengan digunakannya teknologi intensif. Dalam perubahan ini, elemen-elemen moda produksi kapitalis masuk merembes terhadap moda produksi non kapitalis namun tidak sampai menghilangkan elemen-elemen non kapitalis (petani sawah). Jadi kedua moda produksi tersebut bekerja secara bersamaan dalam komunitas petani tersebut dan tidak membuat mereka terbelah ataupun terpisah menjadi beberapa kelompok, sehingga peneliti menyebut tipe ekonomi tersebut dengan nama ‘amphibian”.

Fadjar menunjukkan bahwa perubahan sistem perladangan berpindah menjadi pertanian menetap mempengaruhi struktur agraria yang asalnya dari penguasaan kolektif menjadi penguasaan perorangan dengan bukti tertulis (status formal). Meski demikian masih kuatnya hubungan sosial produksi yang berpijak pada ikatan moral tradisional (terutama ikatan kekerabatan, pola pewarisan, dan solidaritas lokal untuk menjaga kebutuhan minimum warga se-komunitas) turut mendorong petani untuk menerapkan pola “penguasaan sementara” atas sumberdaya agraria, terutama melalui pola bagi hasil pada usahatani padi sawah dan kakao.

Studi Iskandar (2012) tentang tindakan kerja masyarakat Pidie yang dikaitkan dengan pemahaman agama, adat tradisi dan sejarah lokal menggambarkan bagaimana masyarakat Pidie yang berlatar belakang agama Islam, tindakan kerjanya tidak mencerminkan manifestasi dari nilai-nilai agama yang dianutnya. Hal ini menunjukkan gejala ketidaklekatan (disembeddedness) nilai-nilai agama, dan nilai-nilai adat pada tindakan kerja masyarakat Pidie. Agama hanya berfungsi pada tataran dimensi ritualitas (ibadah). Begitu juga dengan nilai-nilai adat hanya sebatas mengharmonisasikan kegiatan ekonomi antar aktor dalam bermasyarakat. Sedangkan tradisi bekerja untuk menghidupi keluarga dengan mengolah sawah, ladang dan laut yang menjadi ciri masyarakat tradisional agraris Pidie memiliki pola hidup sederhana (subsisten), dan tidak kompetitip (kolektif) . Ciri masyarakat komunal seperti ini menyebabkan individu kurang kreatif dan inovatif dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Berbeda dengan masyarakat kebanyakan di Pidie, aktor yang memiliki keluasan pergaulan dan pengetahuan, maka semangat kewirausahaannya yang telah teruji karena pengalaman akan menentukan pendapatan yang sangat jauh berbeda.

Menurut Iskandar (2012), ketidakberfungsian (social disfunctionality) agama dan adat disebabkan agama dan adat merupakan faham latent dan umumnya mampu termanifestasi dalam wujud tindakan konkrit melalui agensi. Secara empirik menunjukkan pemuka agama maupun pemuka adat sebagai agen yang sedang mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat.

Berbeda dengan Iskandar, hasil studi M Syukur (2013) menunjukkan bahwa tindakan ekonomi masyarakat Bugis-Wajo yang berprofesi sebagai penenun terlekat (social embeddedness) dengan nilai- nilai adat budaya masyarakat Wajo.

Orientasi tindakan ekonomi di kalangan penenun “Gedogan” melekat (embedded) pada pemahaman budaya dan agama yang mereka anut yang menganggap kerja dan rizki lebih ditentukan oleh Tuhan daripada usaha manusia. Menurut mereka kerja dan rizki

tidak merujuk pada kerja rasional dan sistematis (undersocialized) akan tetapi merujuk pada ‘rido Tuhan’ yang abstrak dan misterius. Kalangan penenun ‘ATBM’ memandang kerja untuk mendapatkan rizki merupakan tuntutan budaya dan agama. Bagi mereka rizki sudah ditentukan oleh Tuhan, tetapi harus tetap dicari karena masih misterius. Setelah berusaha maksimal baru pasrah terhadap apa hasil yang didapatkan.

Temuan Iskandar (2012) mengenai disembeddedness antara tindakan kerja masayarakat Pidie dengan nilai-nilai agama dan budaya yang menyebabkan para enterpreneur di daerahnya tidak dapat berkembang, kecuali bila pengusaha ini keluar atau berada di luar daerahnya. Sementara itu temuan M Syukur (2013) tentang keterlekatan tindakan ekonomi penenun Bugis Wajo pada nilai-nilai budaya setempat sedemikian rupa, sehingga terjadi mix rationality antara rasionalitas formal dan rasionalitas moral ekonomi. Dalam temuannya juga dibedakan antara penenun Gedogan (alat tradisional), ATBM dan pengusaha tenun, yang memiliki rasionalitas dan keterlekatan terhadap nilai- nilai budaya lokal berbeda-beda pula. Sedangkan dalam industri bordir Tasikmalaya, alat yang digunakan sudah menggunakan mesin meskipun ada yang masih manual dengan menggerakkan kaki dan tangan, mesin semi otomatis, dan mesin komputer yang serba otomatis.

Studi Zuzmelia (2007) menunjukkan adanya keterlakatan tindakan ekonomi yang terjadi pada kegiatan perdagangan kayu manis di pasar Nagari. Menurut Zuzmelia bahwa perdagangan kayu manis di pasar nagari melekat (embedded) dalam sistem kekerabatan di tengah masyarakat nagari karena pada umumnya pedagang kayu manis adalah kelompok elite nagari. Petani kayu manis sangat dirugikan, tetapi tetap melakukan budidaya tanaman kayu manis karena terkait dengan strategi bertahan ekonomi rumahtangga pada saat sulit (livelihood strategies) dan konstruksi sosial atas tanaman kayu manis sebagai tanaman sosial budaya, seperti adat tambilang besi, tanaman prestise dan style masyarakat nagari dalam berinteraksi di pasar nagari terutama untuk pertukaran sosial, tanaman tabungan untuk membiayai kegiatan-kegiatan sosial budaya yang besar.

Dliyauddin Kafi, Sanggar Kanto, dan A. Imron Rozuli, (2012) melakukan penelitian tentang keterlekatan santri pondok pesantren Sunan Drajat Lamongan, yang merangkap menjadi karyawan di unit usaha AIDRAT. Hasil penelitian menunjukkan tindakan ekonomi santri karyawan tersebut sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai agama yang berupa kearifan lokal dari Sunan Drajat mengenai 4 prinsip wenehono. Ajaran tersebut dikondisikan secara sosial dalam hubungan yang berlangsung antara pondok pesantren dengan santri karyawan. Ajaran wenehono mampu mempengaruhi dalam pendefinisian motif-motif yang dimiliki oleh santri karyawan. Adapun motif-motif yang dimiliki, di antaranya yaitu, motif (sosial) untuk membantu pembangunan pondok pesantren, motif (agama) tindakan bekerja yang ditujukan untuk mebantu orang lain adalah tindakan yang bernilai ibadah, dan motif (ekonomi) orientasi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup santri karyawan didalam Pondok Pesantren Sunan Drajat. Tindakan bekerja santri karyawan yang dikondisikan secara sosial menciptakan relasi sosial antara pondok pesantren dengan santri karyawan dalam hubungan personal dan melekat dalam institusi unit usaha AIDRAT, sehingga dari tindakan bekerja yang berkelanjutan menciptakan keterlekatan relasional yang dihasilkan dari kondisi sosial, budaya dan agama yang berlangsung. Dengan demikian, dari keterlekatan relasional antara pondok pesantren dengan santri karyawan terbentuklah motivasi/semangat bekerja dengan tujuan untuk mencapai motif-motif yang dimiliki oleh para aktor.

Penelitian Dimaggio & Louch (1998), menunjukkan, khususnya dalam kasus jual beli yang sifatnya beresiko tinggi ataupun ketidakpastian keberlanjutannya, transaksi jual

beli lebih senang menggunakan perantara jaringan sosial (social network) berdasarkan pertemanan yang aktornya tersebut tidak berkaitan dengan kegiatan ekonomi tersebut. Hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan studi keterlekatan nilai agama atau nilai budaya dalam tindakan ekonomi dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 2. Hasil Studi Penelitian Terdahulu tentang Keterlekatan tindakan Ekonomi terhadap Nilai Budaya

Peneliti Hasil Penelitian

Fajar (2008) Keterlekatan yang kuat tindakan ekonomi petani pada ikatan moral tradisonal (budaya tradisional)

Syukur (2013) Keterlekatan Nilai Budaya Bugis dalam Tindakan Ekonomi Penenun Wajo

Kafi (2012) Keterlekatan relasional antara pondok pesantren (ajaran Wenehono) dengan santri karyawan yang membentuk motivasi/semangat bekerja dengan tujuan mencapai motif-motif yang dimiliki oleh para aktor D’Magio & Louch (1998) Keterlekatan dalam jaringan sosial pertemanan dalam

kasus jual beli yang beresiko tinggi

Iskandar (2012) Tidak adanya keterlekatan (disembeddedness) antara tindakan kerja masayarakat Pidie dengan nilai-nilai agama dan budaya yang menyebabkan para

enterpreneur di daerahnya tidak dapat berkembang Zusmelia (2007) Adanya keterlekatan tindakan ekonomi yang terjadi

pada kegiatan perdagangan kayu manis di pasar nagari dalam sistem kekerabatan di tengah masyarakat nagari ( kelompok elite nagari) sehingga tetap persisten Sumber: Data lapangan diolah, 2014

3. Hasil studi tentang Isomorphisme dan Kelembagaan Baru (New