BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5. Hasil Survey Luar Negeri
27% 36% 27% 36% 9% 73% 18% 45% 36% 55% 64% 82% 0% 36% 27% 27% 18% 0% 9%
Ketersediaan teknologi kemasan Ketersediaan informasi yang cukup tentang prosedur
administrasi perdagangan
Ketersediaan media promosi dan pemasaran dukungan dari pemerintah daerah Daya saing usaha Resiko investasi Entry cost
Jelek Biasa Baik
Sumber: Hasil Survey & FGD Litbang Perdagangan, 2010
4.5. Hasil Survey Luar Negeri
Philipina
Bagi Philipina, proses pembangunan AEC akan memberdayakan ASEAN agar tetap menjadi aktor yang dinamis dan kompetitif dalam rantai suplai regional dan global. Namun demikian, proses yang terencana dalam perbaikan dan reformasi yang luas harus dilakukan oleh pemerintah dan sektor bisnis serta seluruh pemangku kepentingan. Dalam hal ini, ASEAN memiliki tiga kekuatan kunci dalam bidang ekonomi, yaitu: sumber daya alam yang melimpah, tenaga kerja yang terampil dan professional, dan kapabilitas untuk menggunakan, mengadaptasi, dan mengembangkan teknologi.
Berdasarkan AEC Scorecard, hasil perkiraan awal AEC Scorecard untuk Philipina (Mei 2010) yang disusun oleh Biro Hubungan Perdagangan
Kajian Atas 12 Sektor Prioritas Integrasi Asean 2012 (Automotives, Rubber Based
Products, Agro Based Products) 75
Internasional, Departemen Perindustrian dan Perdagangan menunjukkan bahwa Philipina memiliki skor 45,71%, yang menunjukkan sebanyak 32 kebijakan telah diimplementasikan dari 72 kebijakan untuk set pertama tindakan prioritas. Skor tersebut masih dapat ditingkatkan karena terdapat beberapa komitmen di bawah Transportasi yang telah telah memenuhi tetapi belum diimplementasikan. Ada pula beberapa protokol terkait sektor transportasi yang menunggu ratifikasi oleh Eksekutif.
Pada bulan Maret 2010, Philipina telah melakukan soft launching proyek
National Electronic Single Window. Perencanaan dan pelaksanaan proyek ini
diawasi oleh komite pengarah yang dipimpin oleh Departemen Keuangan dan terdiri dari berbagai instansi yang terkait dengan Bea Cukai (Bureau of
Customs/BOC). Proyek National Single Window diharapkan secara substansial
mempercepat pemrosesan bea cukai untuk importir dan eksportir dan meningkatkan transparansi serta efisiensi dalam transaksi dengan BOC.
Bagi Philipina, logistik merupakan enabler untuk membuat bisnis berjalan lebih baik. Philipina memiliki visi untuk menjadi pusat logistik regional melalui
Subic dan Clark Freeport Zones yang dapat menjadi lebih kuat di bawah payung
ASEAN. Dengan penambahan logistik dalam sektor integrasi prioritas, berarti akan ada lima sektor jasa termasuk e-ASEAN, perjalanan udara, pariwisata dan perawatan kesehatan. Tujuh sektor integrasi utama lainnya lainnya adalah elektronik dimana Philipina berperan sebagai koordinator, sektor otomotif, garmen dan tekstil, produk berbasis agro, ICT, perikanan, produk berbasis karet, dan produk berbasis kayu.
Kajian Atas 12 Sektor Prioritas Integrasi Asean 2012 (Automotives, Rubber Based
Products, Agro Based Products) 76
Pertumbuhan ekonomi Philipina selama tiga tahun terakhir menunjukkan pelemahan, yaitu dari 7,09% pada tahun 2007 turun menjadi 3,69% pada tahun 2008, dan 1,06% pada tahun 2009. Demikin juga dengan sektor pertanian yang mengalami perlambatan pertumbuhan selama tiga tahun terakhir yaitu 5,02% (2007); 3,21% (2008); 0,03% (2009). Pada tahun 2009, pengeluaran pemerintah untuk sektor pertanian sebesar P 75,27 miliar atau 5,3% dari pengeluaran pemerintah nasional, lebih rendah 20,23% dari tahun sebelumnya.
Dari total tenaga kerja Philipina pada tahun 2009 sebesar 37,89 juta orang, 92,5% diantaranya telah bekerja. Dalam hal ini, sektor pertanian mempekerjakan 12,04 juta orang dan berkontribusi sebesar 34% terhadap pekerjaan nasional. Pada semester pertama tahun 2009, tingkat upah nominal per hari untuk pekerja pertanian adalah P 212,55 pertanian palay dan P 174,87 untuk pertanian jagung. Secara umum, harga yang diterima petani meningkat 1,48% di tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2008.
Pada tahun 2009, pendapatan ekspor pertanian mencapai US$ 3,2 miliar, mengalami penurunan 19,37% dibandingkan catatan tahun 2008. Minyak kelapa, pisang segar dan tuna tetap menjadi andalan ekspor utama di antara produk ekspor pertanian dengan pangsa total 41%. Minyak kelapa paling banyak dikapalkan ke Amerika Serikat dan Belanda. Pasar utama pisang segar adalah Jepang dan Iran, sedangkan tujuan ekspor utama tuna adalah Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris. Pada kuartal pertama 2010, total ekspor negara Philipina mencapai US $11,3 miliar. Sekitar 7,91% dari nilai tersebut merupakan pangsa total nilai ekspor pertanian, mengalami kenaikani 32,09% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2009.
Kajian Atas 12 Sektor Prioritas Integrasi Asean 2012 (Automotives, Rubber Based
Products, Agro Based Products) 77
Pengeluaran impor sektor pertanian mencapai US$ 6,08 miliar, atau 20,88% lebih rendah dari tahun sebelumnya. Beras, gandum, dan meslin mencapai 31% dari total impor pertanian. Sekitar 95% impor beras berasal dari Vietnam, sedangkan gandum dan meslin didatangkan dari Amerika Serikat dan Ukraina. Total nilai impor pertanian selama kuartal pertama 2010 mencapai US$ 2,1 miliar atau sebesar 15,66% dari total impor sebesar US$ 13,5 miliar.
Ekspor terbesar Philipina ke Indonesia untuk produk pertanian pada tahun 2009 adalah produk-produk susu dan krim (US$ 20,79 juta) serta pupuk pabrikan (US$ 14,24 juta). Sementara itu, produk pertanian yang diimpor Philipina dari Indonesia adalah urea dan kopi dengan nilai masing-masing sebesar US$ 31,33 juta dan US$ 33,97 juta.
Malaysia
Indonesia merupakan pasar besar bagi Malaysia dengan memiliki jumlah penduduk lebih besar dibandingkan dengan Malaysia. Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ke-7 Malaysia, setelah Singapura, Jepang, AS, China, Thailand dan Korea Selatan. Sedangkan Malaysia sendiri merupakan negara terbesar ke-10 penanam modal asing di Indonesia. Tahun 2009 total realisasi investasi Malaysia di Indonesia mencapai US$ 1,5 milyar yang meliputi sektor telekomunikasi, perbankan, minyak dan gas alam, perdagangan, kosmetik dan kesehatan, perkebunan, komponen elektronik, hotel dan restoran, dan kegiatan manufaktur lainnya . Sedangkan total realisasi investasi Indonesia di Malaysia mencapai US$ 534 juta dalam bidang bahan kimia, bahan plastik, peralatan transportasi, hotel dan restoran, dan properti. Iklim investasi di Indonesia lebih liberal dibandingkan
Kajian Atas 12 Sektor Prioritas Integrasi Asean 2012 (Automotives, Rubber Based
Products, Agro Based Products) 78
dengan Malaysia, yang diperlihatkan dengan meningkatnya investasi di bidang perbankan.
Dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) terutama pada standarisasi untuk sektor automotives Malaysia menghasilkan sparepart yang tidak hanya untuk memenuhi pasar domestik tapi juga untuk tujuan ekspor, Sedangkan standarisasi rubber based products dilakukan dengan cara meningkatkan standar hasil karet alam yang dikenal dengan Standar Malaysia Rubber, Kemudian untuk sektor agro based products dilakukan dengan meningkatkan hasil perkebunan dengan kualitas lebih baik.
Pada sektor rubber based product Malaysia mengelompokkan karet menjadi dua kelompok sesuai dengan teknologi yang diterapkan dalam pengembangannya, yaitu:
a. Ekoprena merupakan nama karet alam yang terepoksida dan merupakan karet
yang diperoleh melalui pengoksidaan terhadap lateks alam. Ekoprena dikategorikan sebagai green material yang berasal dari alam bukan sintetik yang berasal dari bahan bakar minyak. Hasil karet Ekoprena diperoleh melalui proses penelitian yang ketat untuk memastikan bahwa kualitas getah yang dihasilkan terjamin.
b. Pureprena merupakan generasi baru karet alam yang proteinnya dihasilkan dari
proses inovasi melalui pencampuran lateks mentah dengan enzim. Semua protein yang berada di lateks dihidrolisis oleh enzim ke bentuk larutan air untuk dikeluarkan
Kajian Atas 12 Sektor Prioritas Integrasi Asean 2012 (Automotives, Rubber Based
Products, Agro Based Products) 79
ASEAN bagi Malaysia menjadi sangat penting karena merupakan “big
market” karena dengan jumlah populasi yang relatif besar menjadikannya sebagai
pasar yang potensial baik bagi sesama negara ASEAN maupun bagi negara lain. Disamping itu, Malaysia memiliki kepentingan lebih besar terhadap mitra seperti Vietnam, Kamboja, Birma dan Singapura daripada Amerika Serikat.
Dalam menghadapi AEC, Pemerintah Malaysia menerapkan kebijakan yang lebih terbuka dalam memfasilitasi pertumbuhan ekonomi domestik khususnya terhadap usaha kecil dan menengah. Malaysian Industrial Development Authority (MIDA) memberikan taxes allowance sebesar 50% untuk promosi, subsidi kepada usaha kecil menengah yang pekerjanya antara 5-200 orang yang 95% merupakan usaha bumiputera (masih terjadi perdebatan di UKM khususnya bidang Teknologi Informasi dimana turnover-nya mencapai RM 5 juta). Subsidi juga diberikan pada sektor pendidikan dan kesehatan, sedangkan subsidi untuk bahan bakar minyak dikurangi. Sedangkan yang dilakukan oleh sektor swasta dalam menghadapi integrasi ASEAN adalah dengan pemberian insentif kepada dunia usaha, melakukan konsultasi dengan sektor swasta, timbal balik kegiatan (swasta dan pemerintah) yang memiliki fungsi operasi bisnis. Dunia usaha cendrung berinisiatif sendiri dalam melakukan kerjasama perdagangan dengan mitranya dengan menggunakan agen yang tersebar diseluruh mitra utama seperti di Jepang, Amerika Serikat, Indonesia dan selama ini tidak ada masalah dalam menggunakan agen tersebut.
Dari pengalaman Malaysia dalam meningkatkan daya saing ekonomi nasionalnya salah satu usaha yang dilakukan yaitu membentuk suatu lembaga atau satuan tugas khusus yang dinamakan PEMUDAH yang didirikan pada tanggal 7
Kajian Atas 12 Sektor Prioritas Integrasi Asean 2012 (Automotives, Rubber Based
Products, Agro Based Products) 80
Pebruari 2007. Satuan Tugas ini dibentuk dengan tujuan tunggal sebagai ujung tombak dalam perumusan dan pelaksanaan langkah-langkah untuk meningkatkan pelayanan publik (pemerintahan) dan memfasilitasi kegiatan usaha sektor swasta sehingga kegiatan bisnis dan perdangangan di Malaysia menjadi mudah. Memperhatikan pengalaman Malaysia tersebut di atas, ada baiknya Indonesia punya suatu unit/lembaga yang memiliki kewenangan penuh dibawah kendali Kementerian Perdagangan.