KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
A. Hasil Tanaman belum menghasilkan (TBM):
TBM masing-masing berumur 1 tahun. Salah satu tindakan pemeliharaan TBM adalah pemupukan. Pemupukan tunggal menggunakan pupuk urea atau ZA. Sementara pupuk majemuk yang digunakan adalah pupuk NPK. Pemupukan tersebut dilakukan dua kali dalam setahun, yaitu pada awal musim hujan dan awal musim kemarau. Aplikasi pupuk kandang dilakukan setahun sekali. Selain itu terdapat pula perawatan gondang-gandung dan rorak. Gondang-gandung berukuran 40 cm x 60 cm, berfungsi untuk menampung seresah. Rorak terletak di tengah gawangan, berfungsi untuk menanggulangi erosi di sekitar pertanaman karet. TBM tidak terlepas dari gangguan hama dan penyakit sehingga perlu dipelihara. Penyakit yang biasanya menyerang TBM adalah embun tepung. Pengendalian penyakit tersebut biasanya dengan menggunakan kapur tohor. TBM perlu dibentuk tajuknya agar dapat produktif pertumbuhannya. Istilah pembentukan tajuk dikenal dengan nama topping. Tajuk yang menaungi tanaman serta terserang penyakit dibuang, sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman dalam menyerap nutrisi dari lingkungan. Setelah sekitar 5 tahun, maka TBM mulai dapat diambil getahnya, sehingga berubah status menjadi tanaman menghasilkan (TM).
77
Gambar 2. Tanaman belum menghasilkan Tanaman menghasilkan (TM) :
Tanaman menghasilkan (TM) bisa disadap jika 60 % dari total TBM sudah memenuhi syarat. Tanman karet bisa disadap jika lilit batang sudah mencapai 45 cm. Penyadapan dilakukan pada irisan di batang karet dengan sudut sadap 40 - 450. Buka sadap dilakukan pada jarak 130 cm dari pertautan okulasi. Penyadapan dilakukan dengan kedalaman 0,7 – 1,5 mm. Rumus sadap yang digunakan adalah S2D3. Arti dari rumus tersebut adalah S2, berarti penyadapan setengah lingkaran batang pohon, D3 artinya pohon disadap 3 hari sekali. Penyadapan karet dilakukan pada pukul 05.00-06.00 pagi, sedangkan pengumpulan lateksnya dilakukan antara pukul 08.00-10.00
Urutan penyadapan sebagaimana yang dijelaskan oleh petugas lapang di kebun Krumput adalah sebagai berikut :
1. Mengambil scrab/sisa getah karet yang menempel di jalur irisan sadap. 2. Membuat garis depan dan belakang.
3. Memasang talang dan biting. Talang terletak pada jarak 10 cm dari irisan terakhir. Biting diletakkan pada posisi 5 cm dari talang.
78
4. Menyayat batang karet. Sudut irisan 45o, batang disayat dengan pisau sadap. Kedalaman penyadapan optimum 0,7 mm, tidak boleh lebih dari 1,5 cm karena berdampak pada produksi lateks untuk jangka waktu ke depan.
5. Memasang mangkok/penampung.
Gambar 3. Tanaman menghasilkan B. Pembahasan
Tanaman karet merupakan komoditas perkebunan penting bagi masyarakat Indonesia. Bahkan Indonesia menjadi salah satu produsen karet terbesar di dunia, selain Malaysia yang merupakan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Produksi karet yang tinggi sangat ditentukan oleh beberapa hal, diantaranya klon yang digunakan, kondisi lingkungan tumbuh-tanaman, dan pemeliharaan tanaman karet itu sendiri. Dijelaskan oleh Anwar (2001) bahwa pemeliharaan yang umum dilakukan pada perkebunan tanaman karet meliputi pengendalian gulma, pemupukan dan pemberantasan penyakit tanaman. Areal pertanaman karet, baik tanaman belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman sudah menghasilkan (TM) harus bebas dari gulma seperti alang-alang (Imperata cylindrica), Mikania
79
micrantha, eupatorium (Eupatorium sp), sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik
Tanaman karet belum menghasilkan (TBM) maupun tanaman karet menghasilkan (TM) harus selalu dijaga kondisinya agar dapat terus tumbuh dengan baik dan menghasilkan produksi yang tinggi. Pemeliharaan TBM merupakan pemeliharaan tanaman yang dilakukan pada tanaman karet muda yang masih belum berproduksi. Pemeliharaan ini bertujuan untuk menjaga tanaman agar pertumbuhan vegetatif tanaman tidak terhambat, sehingga saat berproduksi dapat menghasilkan lateks yang optimal. Sementara itu, pemeliharaan TM adalah pemeliharaan yang dilakukan pada tanaman karet yang telah memasuki masa produksi. Hal ini dilakukan agar dapat tetap menjaga stabilitas produksi lateks dari tanaman karet yang telah memasuki usia produktif, sehingga memiliki umur produksi yang lama. TBM dan TM yang kurang terawat akan berpengaruh terhadap kualitas dan kuantitas produksi karet, sehingga memengaruhi daya jual produksi karet di pasaran. Berdasarkan kondisi tersebut dapat kita pahami bahwa perawatan atau pemeliharaan karet di setiap fase pertumbuhannya begitu penting agar produksi yang dihasilkan sesuai yang diharapkan petani.
TBM merupakan tanaman karet yang belum mampu menghasilkan lateks, sehingga belum disadap. TM merupakan tanaman karet yang sudah memasuki usia produktif sehingga sudah dapat disadap. Tujuan pemeliharaan karet secara keseluruhan antara lain untuk mengoptimalkan kondisi lingkungan dan produksi serta menjaga kondisi lahan dan tanaman. Oleh karena tanaman karet dikelompokkan menjadi TBM dan TM, maka pemeliharaan tanaman karet yang
80
dilakukan petani dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dan pemeliharaan tanaman menghasilkan (TM).
Kondisi TBM di kebun Krumput yang diamati masing-masing berumur 1 tahun. Beberapa hal yang dilakukan terkait pemeliharaan TBM di kebun Krumput diantaranya pemupukan, perawatan gondang-gandung dan rorak, perbaikan teras, dan pengendalian hama penyakit tanaman karet yang masih muda. Pemeliharaan pada tanaman karet muda di pembibitan ditujukan untuk menjaga kondisi karet sehingga dapat menurunkan kemungkinan kegagalan tunas pada masa pembibitan. Memasuki masa TBM, pemeliharaan pada tanaman karet bertujuan untuk menjaga kondisi karet agar optimal selama pertumbuhan menuju masa produksi.
Tindakan pemeliharaan TBM penting karena masa TBM akan mempengaruhi cepatnya pertumbuhan yang pada akhirnya berdampak pada waktu matang sadap. Matang sadap yang lebih cepat tentu akan menguntungkan bagi suatu produksi karet. Walaupun lebih banyak dipengaruhi oleh tipe klon, namun pemeliharaan dalam hal ini berperan dalam menjaga tanaman karet terhindar dari hama dan penyakit yang mungkin menyerang. Menurut Syakir et al. (2010), pemeliharaan tanaman karet belum menghasilkan terdiri dari lima komponen, yaitu penyulaman, penyiangan, pemupukan, seleksi dan penjarangan, dan pemeliharaan tanaman dengan penutup tanah.
Tanaman karet yang telah menghasilkan merupakan periode pertumbuhan karet yang paling penting. Kondisi yang terdapat pada TM akan berpengaruh langsung pada hasil produksi karet sadapan. Oleh karenanya pemeliharaan pada masa TM ditujukan untuk menjaga kondisi pohon karet selama sadap, dan juga
81
memperpanjang waktu sadap. Pemeliharaan yang baik dapat memperpanjang masa produksi dan meningkatkan kecepatan regenerasi kulit karet selanjutnya. Syakir et al., (2010) menyatakan bahwa pemeliharaan tanaman pada masa produksi hanya meliputi penyiangan dan pemupukan.
Kondisi tanaman menghasilkan (TM) di kebun Krumput yang diamati sudah berumur sekitar 10 tahun. Lingkungan sekitar TM cukup rimbun, terdapat beberapa jenis gulma yang berada di sekitar pertanaman karet. Adapun kondisi tanaman penutup tanah/LCC di sekitar TM sudah langka. Tanaman penutup tanah dari family legume (Legume Cover Crop) lebih dominan terdapat di pertanaman karet yang masih muda atau belum menghasilkan. Fokus kajian dalam tanaman karet menghasilkan (TM) sebagaimana yang disampaikan petugas lapang pada praktikum ini adalah terkait penyadapan.
Pemeliharaan tanaman dilakukan untuk menciptakan kondisi tanaman menjadi baik sehingga tanaman tersebut dapat tumbuh, berkembang, dan menghasilkan dengan baik. Berdasarkan penjelasan Yardha et al. (2007), pemeliharaan tanaman bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah; mengurangi persaingan dengan tumbuhan lain, baik dalam pengambilan air, unsur hara, cahaya matahari dan udara ; mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit yang biasa merusak atau musuh dari tanaman karet. Faktor-faktor yang memengaruhi pemeliharaan yaitu berupa faktor iklim, tanah, dan kondisi dari pohon karet di perkebunan. Kondisi kesuburan tanah merupakan faktor yang paling mempengaruhi tindakan pemeliharaan. Nutrisi tanah yang tidak mencukupi dapat menurunkan produksi karet dalam perkebunan per hektar, hal ini dikarenakan
82
dalam suatu perkebunan, nutrisi dalam tanah dibutuhkan dalam jumlah yang banyak.
Keterkaitan antara beberapa faktor tersebut dapat menjadi dasar dalam melaksanakan pemeliharaan tanaman. Syukur et al., (2014) menyatakan bahwa interaksi antara genetik tanaman dengan lingkungan akan menentukan hasil tanaman. Lebih lanjut dijelaskan juga oleh Yardha et al. (2007) misalnya dalam hal pemupukan tanaman. Perlu diketahui bahwa pemupukan merupakan bagian penting dalam pemeliharaan tanaman. Dosis pemupukan ditentukan oleh umur tanaman, kondisi tanah dan iklim, serta kondisi tanaman. Pemupukan perlu memerhatikan beberapa hal, yaitu tepat waktu, tepat jenis, tepat sasaran, dan tepat dosis. Kondisi tanah yang terlalu masam ataupun basa juga tidak sesuai untuk pemupukan karena memungkinkan terjadinya berbagai reaksi dalam tanah yang dapat menghambat terserapnya pupuk bagi tanaman.
Umur tanaman juga berpengaruh terhadap pemeliharaan tanaman, misalnya dalam hal pemupukan, penyiangan, seleksi, dan penjarangan. Kebutuhan tanaman karet dalam setiap fase pertumbuhannya berbeda-beda. Proses fisiologi tanaman karet akan terus mengalami fluktuasi seiring penambahan umur tanaman. Terkait factor iklim atau cuaca, hal ini juga menjadi perhatian dalam pemeliharaan tanaman. Sebagai contoh misalnya ketika kondisi hujan atau terjadi angin kencang, maka tindakan pemeliharaan tanaman seperti penyemprotan tanaman menjadi tidak efektif.
Faktor yang paling penting dalam hal ini adalah kondisi tanah. Rosyid et al. (2005) menyatakan bahwa karet dikenal sebagai tumbuhan yang mudah rebah pada
83
pertumbuhan awalnya, sehingga dibutuhkan struktur tanah yang kuat dan tidak terlalu lempung atau berpasir. Tanah yang terlalu becek akan menyulitkan penyiangan dan pemupukan. Selain itu tanah yang teralu kering juga menjadikan tanaman karet harus lebih banyak diairi, sehingga memengaruhi teknik irigasi yang harus diaplikasikan. Karet merupakan tanaman perkebunan, bahkan di kebun Krumput penanaman karet dilakukan pada lahan yang kontur tanahnya miring berundak. Potensi erosi menjadi suatu masalah yang perlu ditanggulangi karena struktur tanah jelas akan berubah, nutrisi pada top soil tercuci, dan adanya run off yang berkelanjutan, sehingga perlu dilakukan pemeliharaan yang cocok.
Pengamatan pada perkebunan Krumput tidak jauh berbeda dengan literature yang kami temukan, yaitu Samidjaja (1993) yang menjelaskan bahwa masa TBM pada tanaman karet didefinisikan sebagai masa dari sejak penanaman bahan tanam di lapangan sampai tercapainya kriteria matang sadap. Matang sadap tanaman karet secara teknis dicapai apabila lilit batang pada ketinggian 1 meter dari pertautan okulasi telah mencapai 45 cm dengan ketebalan kulit minimal 7 mm. pada kondisi ini status tanaman karet berubah dari tanaman belum menghasilkan (TBM) menjadi Tanaman Menghasilkan (TM) dengan syarat 60% dari populasi tanaman di kebun telah matang sadap.
Tahapan-tahapan penting dalam TBM diantaranya penyulaman/penyisipan, penunassan, induksi percabangan, pengendalian gulma, serta pengendalian hama dan penyakit.
84
Penyulaman dilakukan secara kondisional ketika tanaman telah dinilai tidak dapat melanjutkan pertumbuhannya, entah karena penyakit atau karena kelainan. Penyulaman dilakukan dengan tanaman yang masih disimpan dalam polybag. Namun Syakir et al. (2010) menyatakan bahwa kegiatan penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 1 - 2 tahun karena saat itu sudah ada kepastian tanaman yang hidup dan yang mati. Karena penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 1- 2 tahun, bibit yang digunakan berupa bibit stum tinggi berumur 1 - 2 tahun agar tanaman bisa seragam.
85 2. Penunasan
Penunasan atau penghilangan tunas adalah kegiatan menghilangkan tunas palsu yang tidak produktif pada tanaman karet. Penghilangan ini untuk memaksimalkan pertumbuhan tunas aktif atau yang biasa disebut sebagai tunas prima. Tunas prima merupakan tunas yang nantinya akan digunakan dalam proses okulasi, dan diketahui memiliki kemungkinan yang tinggi untuk proses dalam proses okulasi.
3. Induksi percabangan
Menurut Janudianto et al. (2013), induksi atau pembentukan percabangan pada tanaman karet sangat tergantung pada jenis klonnya. Teknik-teknik dalam induksi percabangan tersebut antara lain penyanggulan, pengguguran daun, pengikatan batang, pembuangan ujung tunas, dan pemenggalan batang. Cara yang paling dianjurkan adalah dengan teknik penyanggulan karena lebih mudah, murah, dan tidak melukai batang karet. Selain itu, percabangan juga akan mudah dan banyak muncul. Penyanggulan dilakukan apabila tanaman karet telah mencapai ketinggian 3 m namun belum membentuk percabangan.
Cara paling banyak untuk pembentukan percabangan yang dilakukan di kebun Krumput adalah dengan teknik topping. Yardha et al. (2007) menjelaskan bahwa pembentukan cabang biasanya dilakukan dengan 2 cara, yaitu topping dengan cara penyanggulan atau membungkus bagian ujung daun. Topping dilakukan dengan cara pemotongan batang pada ketinggian 3 meter pada bagian batang yang berwarna coklat. Bekas pemotongan harus diolesi dengan parafin atau TB 192. Penyanggulan dilakukan pada ketinggian 3 meter dengan menyatukan
86
daun bagian ujung yang sudah tua, kemudian atau biasa juga dengan membungkus daun ujung dengan menggunakan plastik. Cabang yang terbentuk sebaiknya hanya tiga cabang, apabila terbentuk lebih, maka perlu dilakukan pengurangan cabang- cabang kecil dengan cara dipotong, luka bekas potongan diolesi parafin atau TB 192.
4. Pengendalian gulma
Pengendalian gulma dibagi menjadi dua teknis, yaitu dengan menggunakan kimiawi dan kultur teknis. Pengendalian gulma dalam suatu perkebunan menjadi pekerjaan yang penting mengingat arealnya yang luas dan jarak antar tanaman yang renggang. Pada perkebunan Krumput, untuk menghindari tumbuhnya gulma, akhirnya dilakukan pengendalian dengan menggunakan tanaman legume cover crops. Pada kasus parah, dalam masa TBM juga beberapa kali digunakan pengendalian dengan menggunakan bahan kimia dengan bahan aktif Phosphat untuk daun sempit, dan Tiphormon untuk gulma berdaun lebar.
5. Pengendalian hama dan penyakit
Hama tanaman karet yang terdapat di kebun Krumput sebagian besar adalah belalang. Belalang menjadi hama bagi tanaman karet pada fase penyemaian dengan cara memakan daun-daun yang masih muda. Serangga ini tergolong sangat rakus. Jika daun muda habis, mereka tak segan-segan memakan daun-daun tua, bahkan tangkainya (Syakir et al., 2010). Selain belalang, hama lain yang penting dalam perkebunan karet adalah rayap, kutu, dan beberapa golongan mamalia. Pengendalian hama belalang dapat dilakukan secara kimiawi dengan menyemprotkan
87
insektisida Thiodan dengan dosis 1,5 ml/liter air. Penyemprotan dilakukan 1 - 2 minggu sekali tergantung pada intensitas serangannya.
Penyakit yang sering menyerang tanaman karet adalah penyakit embun epung atau mildew. Penyakit Mildew adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur Oidium sp. Gejala penyakit ini ditandai oleh pada daun terdapat massa tepung berwarna putih melekat pada permukaan bawah daun, kemudian berkembang menyebabkan bercak transparan sehingga pertumbuhan daun tidak normal, agak berkeriput. Massa tepung jamur tersebut dapat juga menutupi permukaan atas daun. Daun muda yang masih berwarna coklat tembaga jika terserang akan gugur, sedangkan daun-daun yang lebih dewasa tidak gugur akan tetapi fungsi untuk berfotosintesis tidak maksimal (Darwis, 2014). Pengendalian penyakit ini di kebun Krumput dilakukan dengan memakai fungsida berbahan aktif Daetin, atau dengan aplikasi belerang.
Telah sedikit disinggung dalam pembahasan sebelumnya bahwa pada fase pemeliharaan tanaman TBM, digunakan Legume Cover Crops (LCC) sebagai penutup tanah. Menurut Arsyad (2006), tanaman penutup tanah adalah tanaman yang khusus ditanam untuk melindungi tanah dari ancaman kerusakan oleh erosi dan atau untuk memperbaiki sifat kima dan sifat fisik tanah. Tanaman penutup tanah dari famili Leguminosa atau biasa disebut dengan Legume Cover Crop (LCC). Lebih sesuai dijadikan sebagai tanaman penutup tanah karena dapat mengikat nitrogen. Susetyo (2006) menjelaskan bahwa terdapat beberapa tanaman kekacangan yang dapat digunakan sebagai LCC, yaitu Calopogoniumm
88
mucunoides, Calopogonium caeraleum, Pueraria javanica, Sentrosoma pubescens dan yang baru di introduksi dari India adalah Mucuna bracteata.
Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan LCC di pertanaman karet adalah dapat meningkatkan serapan hara N bagi karet, dan dapat mencegah erosi di perkebunan. Dijelaskan oleh Achmad dan Aji (2016) bahwa fungsi LCC dapat bermanfaat sebagai mulsa sehingga pada saat musim kemarau dapat menjaga kelembaban tanah. Selain itu dapat memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah, LCC dalam jangka panjang dapat berfungsi sebagai sumber hara bagi tanaman, memperbaiki KTK tanah pasiran yang rendah dan mengaktifkan mikroba dalam tanah.
Tanaman penutup tanah yang berasal dari tanaman leguminosa dapat mengikat N sehingga meningkatkan ketersediaan N untuk tanaman utama. Bahan organik dapat diharapkan memperbaiki struktur tanah dari berbutir tunggal menjadi bentuk gumpal sehingga meningkatkan derajat struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus menjadi sedang atau kasar, bahkan bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah menjadi baik atau remah, dengan derajat struktur yang sedang hingga kuat (Achmad dan Aji, 2016). Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa pemberian Legume cover crop (LCC) memberikan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman karet, dan mampu menjaga kondisi tanah di perkebunan karet sehingga resiko erosi di perkebunan karet bisa diminimalisir.
Beberapa jenis tanaman legume yang baik untuk digunakan di perkebunan karet adalah sebagai berikut:
89
1. Calopogonium mucunoides
Menurut Prayudaningsih et al. (2015), kalopogonium dapat tumbuh mulai dari pantai hingga ketinggian 2000 mdpl, tetapi dapat beradaptasi dengan baik pada ketinggian 300-1500 mdpl. Kacang ini cocok pada iklim tropis lembab dengan curah hujan tahunan lebih dari 1250 mm/tahun. Kacang ini tahan terhadap kekeringan tapi mungkin akan mati pada musim kering yang lama. Dapat tumbuh dengan cepat pada semua tekstur tanah, walaupun dengan pH rendah antara 4.5 - 5. Cara tumbuhnya dengan membelit, membuat Kalopogonium mampu beradaptasi dengan baik pada beragam kondisi ekologi.
2. Pueraria javanica
Tanaman ini merupakan legum tahunan dengan batang memanjat atau melilit dan berbulu, panjang sulur 1-3 meter,daun besar berjumlah tiga (trifoliat), bunga- bunganya kecil berwarna lembayung muda hingga ungu. Tanaman ini dapat tumbuh pada tanah yang miskin unsur hara dan tahan terhadap naungan yang ringan maupun penyinaran yang penuh. Umumnya ditemukan hingga ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut di pulau Jawa. Tanaman ini menghasilkan biji yang 13 relatif sedikit sehingga umumnya perbanyakan dengan cara stek. Disamping sebagai hijauan sumber protein dan mineral yang disukai ternak ruminansia, Pueraria javanica juga berperan sebagai penutup tanah, menekan pertumbuhan gulma, mengurangi erosi dan sebagai pupuk hijau (Mannetje dan Jones, 2000).
3. Centrosema pubescens
Tanaman ini merupakan tanaman tahunan, di pangkal batang sering berkayu, membelit ke kiri atau menjalar dengan panjang 1 – 4 meter. Dapat tumbuh pada
90
ketinggian 0 – 300 mdpl, cukup toleran terhadap kesuburan tanah yang rendah, musim kering yang dibutuhkan mencapai 4,5 bulan, curah hujan tahunan 1500 mm, sangat toleran terhadap penggenangan, pertumbuhan awal lama, ketahanan terhadap naungan sedang sampai tinggi (Susetyo, 2006).
Jenis LCC yang digunakan pada perkebunan krumput adalah dari tipe Mucuna bracteata atau yang biasa disebut Makonah. Mucuna sp adalah salah satu jenis penutup tanah yang dikembangkan sebagai pengendali pupuk dan tanaman pupuk hijauan. Selain itu menurut Darian (2007), tanaman jenis ini toleran terhadap kondisi abiotik yang ekstrim antara lain kondisi kekeringan, kesuburan tanah yang rendah dan kemasaman tanah yang tinggi. LCC ini merupakan salah sau jenis yang merambar dan bersifat tahunan. Tanaman ini digunakan karena memiliki beberapa keunggulanan, yaitu pertumbuhannya cepat, produksi biomassa tinggi, tahan terhadap naungan, tahan terhadap kekeringan, menekan pertumbuhan gulma dan tidak disukai ternak.
LCC sering kali menjadi cara ampuh untuk mengendalikan gulma dalam suatu perkebunan karet. Selain itu juga terdapat beberapa manfaat dari penggunaan LCC pada perkebunan karet seperti yang dilaporkan oleh Nusyirwan (2014), yaitu:
1. Melindungi permukaan tanah serta mengurangi bahaya erosi 2. Menambah bahan organik tanah
3. Memperbaiki atau mempertahankan struktur tanah
4. Memperbaiki perembesan air, yang berarti menyimpan air dalam tanah, 5. Mengurangi suhu tanah dan lamanya dekomposisi bahan organik, 6. Memperkecil kehilangan unsur hara karena pencucian
91
7. Memompa unsur hara dari lapisan tanah bawah ke lapisan tanah atas oleh perakarannya yang dalam
8. Penutup tanah jenis leguminosa tertentu dapat mengikat nitrogen udara serta mengembalikannya kembali ke dalam tanah dalam bentuk bahan organik.
Aspek penting yang lain dalam pemeliharaan tanaman karet adalah pemeliharaan tanaman yang telah masuk masa produksi, atau lebih dikenal istilah tanaman menghasilkan (TM). Syakir et al, (2010) menjelaskan bahwa pemeliharaan tanaman selama masa produksi dimaksudkan agar kondisi tanaman dalam keadaan baik; produksinya tetap, bahkan meningkat sesuai dengan umur tanaman; dan masa produktifnya makin panjang. Beberapa pemeliharaan yang dilakukan di perkebunan Krumput adalah sebagai berikut:
1. Penyiangan
Penyiangan lahan karet pada masa produksi bertujuan sama dengan penyiangan pada masa sebelum produksi, yaitu mengendalikan pertumbuhan gulma agar tidak mengganggu tanaman utama. Penyiangan bisa dilakukan secara manual, kimiawi, atau gabungan dari keduanya. Cara manual atau mekanis adalah pemberantasan gulma menggunakan peralatan, seperti cangkul, parang, atau sabit. Jika gulmanya berupa rumput-rumputan, penyiangan bisa menggunakan cangkul, sehingga perakarannya ikut tercabut. Jika gulma berupa semak atau perdu, penyiangannya harus dengan cara didongkel dengan bantuan cangkul dan parang. Pemberantasan gulma secara manual hanya memungkinkan jika areal perkebunan karet tidak terlalu luas (Syakir et al., 2010).
92
Penyiangan di kebun Krumput dilakukan dengan cara konvensional dan kimiawi. Kimiawi tentu saja menggunakan herbisida. Pada perkebunan TM, herbisida yang dipakai masih sama dengan TBM, yaitu yang memiliki bahan aktif Phosphat atu Tiphormon. Sedangkan pengendalian gulma secara konvensional dilakukan dengan menggunakan babad, cangkul, atau dongkel. Penyiangan dilakukan secara kondisional, dengan berbekal laporan dari observasi harian yang dilakukan di perkebunan.
2. Pemupukan
Cara pemupukan tanaman karet pada masa produksi sama dengan masa sebelum produksi, yaitu pupuk dimasukkan ke dalam lubang yang digali melingkar dengan jarak 1 – 1,5 meter dari pohon. Bisa juga pupuk dimasukkan ke dalam alur berbentuk garis di antara tanaman dengan jarak 1,5 meter dari pohon. Sebelum