• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tujuan Tujuan praktikum ini adalah:

Dalam dokumen LAPORAN TEKNOLOGI DAN PRODUKSI TANAMAN (Halaman 102-122)

PANEN DI PTPN IX KRUMPUT

B. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah:

1. Mengetahui arti penting penyadapan.

2. Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi hasil sadapan.

3. Mengetahui proses-proses dalam penyadapan pada tanaman karet di PTP Nusantara IX (PERSERO).

103

II. TINJAUAN PUSTAKA

Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor karet di Indonesia yang merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan mencapai 2,5 juta ton pada tahun 2011 dan pendapatan devisa dari komoditas tersebut mencapai US $ 11,7 milyar. Negara-negara pengimpor utama karet dunia adalah United States, Jepang, China, Korea Selatan, India dan Taiwan (Badan Pusat Statistik, 2011). Menurut Giroh (2006), tanaman karet merupakan tanaman daerah tropis. Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 15o LS dan 15o LU. Apabila ditanam diluar zone tersebut, sehingga memulai pertumbuhannya pun lebih lambat. Hal ini menyebabkan produksi dari tanaman karet pun melambat. Adapun klasifikasi botani tanaman karet ada sebagai berikut:

Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan) Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji) Sub divisi : Angiospermae (biji berada dalam buah) Kelas : Dycotyledonae (biji berkeping dua) Ordo : Euphorbiales

Famili : Euphorbiales Genus : Hevea

Spesies : Hevea bransiliensi

Penyadapan merupakan sistem pengambilan lateks yang mengikuti aturan- aturan tertentu dengan tujuan untuk memperoleh produksi yang tinggi, secara

104

ekonomis menguntungkan dan berkesinambungan dengan memperhatikan kesehatan tanaman (Setyamidjaja, 1993). Pada dasarnya penyadapan adalah kegiatan pemutusan atau pelukaan pembuluh lateks. Pembuluh lateks yang terputus atau terluka tersebut akan pulih kembali seiring berjalannya waktu, sehingga jika dilakukan penyadapan untuk kedua kalinya tetap akan mengeluarkan lateks (Heru dan Andoko, 2008).

Penyadapan tanaman karet dilakukan dengan menerapkan sistem yang telah disepakati secara internasional. Penyadapan pada batang utama bertujuan untuk pemutusan atau pelukaan pembuluh lateks di kulit pohon. Pembuluh lateks yang putus atau luka kelak akan pulih kembali sehingga bila dilakukan penyadapan untuk kedua kalinya, luka tersebut telah pulih dan lateks akan mengalir lagi dengan baik. Sistem sadap selain untuk mempertahankan umur ekonomi tanaman juga bermanfaat untuk perencanaan produksi pada periode mendatang perencanaan keuangan terutama premi sadap dan persiapan untuk menempuh kebijaksanaan baru demi produktivitas. Untuk membantu meningkatkan daya saing karet alam terhadap karet sintesis adalah dengan meningkatkan produktivitas karet, penurunan biaya produksi, peningkatan mutu dan penyajian promosi yang tepat, serta memperbaiki sistem sadap (Siregar, 1995).

Dalam konsumsi kulit sadap, kedalaman sadap berpengaruh pada banyaknya kulit yang disadap pada saat penyadapan dan berpengaruh pada jumlah berkas pembuluh lateks yang terpotong. Semakin dalam kedalaman sadap maka semakin banyak berkas pembuluh lateks yang terpotong. Pada kedalaman kulit 0.5 mm dari lapisan kambium memiliki jumlah pembuluh lateks terbanyak, yaitu kurang lebih

105

80 lingkaran pembuluh lateks. Kedalaman irisan yang dianjurkan adalah 1 mm – 1.5 mm dari lapisan kambium. Bagian ini harus disisakan untuk menutupi lapisan kambium agar kulit pulihan yang terbentuk nantinya tidak rusak sehingga produksi lateks tetap seimbang (Balai Penelitian Karet Sembawa, 2005).

106

III. METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat tulis, kertas, kamera, pisau sadap, mangkok lateks, dan paku.

B. Prosedur Kerja

Prosedur kerja pada acara V ini adalah sebagai berikut: 1. Tanaman yang sudah siap untuk disadap dipilih.

2. Jarak dari mata okulasi diukur setinggi 100 cm ke titik sadapan paling bawah, lilit batang diukur jika sudah mencapai 45 cm berarti tanaman tersebut siap disadap.

3. Pembukaan sadap diukur 130 cm dari permukaan tanah.

4. Pohon karet sebelum disadap dibersihkan terlebih dahulu sisa getah sadapan terakhir (Scrub).

5. Setelah dibersihkan garis pembagi bidang (latakan) diperbaiki. 6. Pohon disadap dengan menggunakan pisau sadap.

7. Arah sadapan dari kiri atas ke kanan bawah.

8. Talang dipasang 10 cm dari alur sadap paling bawah.

9. Paku dipasang 5 cm dari talang untuk meletakkan mangkuk penampungan getah.

107

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapatkan hasil satu bidang sadap dibagi menjadi dua bagian dimana satu bagian dapat disadap selama lima tahun. Satu bagian sadap dibagi lagi menjadi 2, dengan tujuan agar penyadapan yang dilakukan lebih efisien. Satu tanaman karet dapat berproduksi hingga berumur 30 tahun. Lateks yang dihasilkan jumlah nya tidak dipengaruhi oleh tebalnya sayatan namun dipengaruhi oleh dalamnya penyadapan. Saat penyadapan diusahakan jangan sampai terkena kayu karena kulit bekas sadap dapat disadap kembali setelah kulit tersebut pulih. Apabila penyayatan mengenai kayu dan sampai menjadi luka maka kulit pulihan yang terbentuk akan timbul benjolan.

Lokasi bidang sadap ditentukan dengan mengukur ketinggian pohon setinggi 100 cm dari tanah. Penyadapan dilakukan dari kiri atas ke kanan bawah untuk sadap bawah dan dari kiri bawah ke kanan atas untuk sadap atas. Terdapat 2 bidang sadap yaitu sadap depan dan sadap belakang yang usia penyadapannya sama yaitu 5 tahun. Bidang sadap belakang baru mulai disadap setelah bidang sadap depan sudah habis 5 tahun kemudian sambil menunggu pemulihan, sadap belakang dapat dilakukan. Sudut kemiringan penyadapan adalah 45°. Waktu penyadapan dilakukan sekitar pukul 03.30-04.00 pagi dan hasil diambil sekitar pukul 11.00. Satu hari penyadapan menghasilkan 1-2 mangkuk. Penyadapan dilakukan pada pagi hari dengan tujuan agar memperoleh jumlah lateks yang banyak, jika penyadapan diambil terlalu siang maka pohon karet tidak dapat menghasilkan lateks secara maksimal karena

108

digunakan sebagai energi untuk melakukan proses fotosintesis dan lateks yang dihasilkan pun cepat menggumpal.

Talang dan paku dipasang pada pohon dengan jarak yang sudah ditentukan. Talang dengan alur depan jaraknya 10 cm dan untuk talang dengan paku jaraknya 5 cm. Satu orang pekerja/penyadap bertanggung jawab untuk menyadap 3 blok, dengan ketentuan satu blok 3 hari sekali sehingga petani memanen getah setiap hari untuk dibawa ke pabrik.

Gambar 4. Alur penyadapan Gambar 5. Pohon yang telah disadap B. Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan penyadapan merupakan proses pelukaan pada batang karet untuk mengeluarkan getah pada batang karet kemudian ditampung dan diolah. Menurut Siswanto (1997), penyadapan adalah mengiris kulit batang sedemikian rupa sehingga sebagian besar sel pembuluh lateks terpotong dan cairan lateks yang berada di dalamya bisa menetes keluar. Pada prinsipnya, penyadapan merupakan proses mengeluarkan lateks dari dalam pembuluh lateks. Penyadapan harus bisa mengeluarkan lateks sesuai dengan kapasitas potensial yang dimiliki oleh tanaman karet serta tetap bisa menjaga keberlanjutan produksi lateks. Dengan demikian, pengetahuan tentang pembuluh lateks dalam suatu tanaman karet

109

menjadi sebuah keniscayaan untuk diketahui. Heru dan Andoko (2008) menambahkan penyadapan adalah kegiatan pemutusan atau pelukaan lateks. Pembuluh lateks yang terputus atau terluka tersebut akan pulih kembali seiring berjalannya waktu, sehingga jika dilakukan penyadapan untuk kedua kalinya tetap akan mengeluarkan lateks.

Kriteria matang sadap berdasarkan pengamatan yaitu ketebalan kulit 7 mm dan lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan batas okulasi telah mencapai 48 cm. Menurut Woelan, dkk (2006), kriteria matang sadap antara lain apabila keliling lilit batang pada ketinggian 130 cm dari permukaan tanah telah mencapai minimum 45 cm. Jika 60% dari populasi tanaman telah memenuhi kriteria tersebut, maka areal pertanaman sudah siap dipanen. Kriteria bidang sadap yaitu karakteristik khusus pada batang tanaman karet yang dapat dilakukan penyadapan.

Pelaksanaan teknis penyadapan di PTP Nusantara IX (PERSERO) terdapat beberapa tahapan, diantaranya adalah sebelum dilakukan penyadapan terlebih dahulu alur keluarnya lateks dibersihkan dari sisa aliran lateks yang kemarin atau yang disebut dengan scrub. Setelah dibersihkan alur depan dan alur belakang diperbaiki agar pembagian dua bidang sadap terbagi dengan sama rata, namun tidak boleh langsung sampai bawah hanya sedikit demi sedikit. Langkah selanjutnya adalah memperbaiki talang yang diletakkan 10 cm dibawah alur sadap paling bawah dan dipasang paku dibawah talang dengan jarak 5 cm. setelah itu disadap menggunakan pisau sadap dengan ketebalan 0,6 mm, kedalaman 1 mm dari cambium. Setelah disadap mangkuk dipasang pada paku yang sebelumnya telah

110

dipasang dibawah talang. Tiga jam dari pohon yang terakhir disadap, getah ditampung dalam ember penampungan lalu dibawa menuju pabrik untuk diolah.

Peralatan yang digunakan pada proses penyadapan adalah sebagai berikut: 1. Pisau sadap atas

Pisau sadap ada 2 macam, yaitu pisau untuk sadap atas dan pisau untuk sadap bawah. Pisau sadap harus mempunya ketajaman yang tinggi, karena berpengaruh pada kecepatan menyadap dan kerapihan sadapan. Pisau sadap atas bertangkai panjang untuk menyadap kulit karet pada bidang sadap atas dengan ketinggian di atas 130 cm (Nazaruddin, 1998).

2. Pisau sadap bawah

Ketajaman pisau berpengaruh pada kecepatan menyadap dan kerapihan menyadap. Pisau sadap mempunyai tangkai yang panjang untuk mempermudah penyadapan. Pisau sadap bawah digunakan untuk menyadap kulit karet pada bidang sadap bawah, ketinggian mulai 130 cm ke arah bawah (Siregar, 1995). 3. Talang lateks (spout)

Talang lateks berfungsi untuk mengalirkan cairan lateks atau getah karet dari irisan sadap ke dalam mangkok. Talang lateks terbuat dari seng dengan lebar 2.5 cm dan panjangnya antara 8-10 cm. Pemasangan talang lateks pada pohon karet dilakukan dengan cara ditancapkan 5 cm dari titik atau ujung terendah irisan sadapan. Penancapannya hendaknya tidak terlalu dalam agar tidak merusak lapisan kambium atau pembuluh empulur karet (Siregar, 1995).

111 4. Mangkok atau cawan

Mangkok ini berfungsi sebagai penampung lateks yang mengalir dari bidang irisan melalui talang. Mangkok ini biasanya dibuat dari tanah liat atau plastik atau aluminium. Paling baik adalah dibuat dari aluminium karena tahan lama dan bisa menjamin kualitas lateks. Namun sulit dicari dan harganya yang cukup mahal. Mangkok dipasang 10 cm di bawah talang (Siregar, 1995). 5. Paku

Paku berfungsi sebagai tempat untuk mencantolkan mangkok sehingga mutlak harus disediakan. Paku ditancapkan 5 cm kebawah dari talang.

6. Pisau mal

Pisau mal berfungsi sebagai alat untuk menoreh kulit batang karet saat akan membuat gambar bidang sadap. Alat ini dibuat dari besi panjang dengan ujung runcing dan pegangannya terbuat dari kayu atau plastik. Bagian runcing inilah yang digunakan untuk menoreh kulit batang pohon karet (Siregar, 1995).

Waktu penyadapan yang diterapkan di PTP Nusantara IX (PERSERO) adalah jam setengah 4 atau jam 4 pagi. Hal tersebut berkaitan dengan tekanan turgor pada jam tersebut tinggi sehingga aliran lateksnya semakin tinggi juga. Pernyataan tersebut sejalan dengan pernyataan Sumarmadji (1999), yang menyatakan waktu sadap berkaitan dengan tekanan turgor. Tekanan turgor yang tepat untuk penyadapan adalah 10-14 atm. Semakin siang waktu penyadapan, maka tekananan turgornya akan semakin rendah. Dengan demikian hasil lateks yang didapat pada tekanan turgor rendah sangat sedikit sebagai dampak penguapan yang tinggi. Jumlah lateks yang keluar kecepatan alirannya dipengaruhi oleh tekanan turgor sel.

112

Tekanan turgor mencapai maksimum pada saat menjelang fajar, dan akan menurun bila hari semakin siang. Oleh karena itu penyadapan sebaiknya dilakukan sepagi mungkin setelah penyadap dapat melihat tanaman dengan jelas 04.00-06.00 pagi. Dalam keadaan pertumbuhan normal, tanaman karet akan siap disadap pada umur 4– 6 tahun. Namun demikian seringkali dijumpai tanaman belum siap disadap walau umurnya sudah lebih dari 6 tahun. Hal ini terjadi akibat kondisi lingkungan dan pemeliharaan yang kurang mendukung pertumbuhan tanaman. Bagian tanaman yang disadap adalah batang tanaman karet yang telah memenuhi kriteria bidang sadap. Siregar (1995) menambahkan, turun-naiknya tekanan turgor dipengaruhi oleh waktu (sepanjang hari), yang tentu saja berpengaruh terhadap pengaliran lateks. Tekanan turgor tertinggi adalah pada jam 4.00–8.30 pagi. Pada saat itu penyadapan layak dilakukan untuk mendapatkan tetesan lateks yang banyak. Sejalan dengan waktu dan intensitas sinar matahari yang semakin tinggi menyebabkan tekanan turgor semakin menurun, sehingga menyebabkan tekanan turgor semakin turun dan pengaliran lateks semakin sedikit.

Hasil sadapan suatu tanaman karet di pengaruhi oleh beberapa factor diantaranya kerampilan penyadap dan iklim. Menurut Balittri (2007) faktor-faktor yang mempengaruhi hasil sadapan antara lain sebagai berikut:

a. Kedalaman irisan

Kedalaman irisan akan memengaruhi jumlah pembuluh lateks yang terpotong. Semakin banyak pembuluh lateks yang terpotong maka semakin banyak lateks yang keluar. Tetapi kedalaman sadapan pun ada batasannya, yaitu 1-1.5 mm dari kambium. Selain kedalaman sadapan faktor waktu sadap

113

sangat mempengaruhi hasil lateks. Menurut hasil penelitian pada kedalaman kulit 0.5 mm dari lapisan kambium memiliki jumlah pembuluh lateks terbanyak, yaitu kurang lebih 80 lingkaran pembuluh lateks. Sedangkan kedalaman irisan yang dianjurkan adalah 1–1.5 mm dari lapisan kambium, karena pada kedalaman kulit 0.5 mm sangat rawan terhadap kerusakan kambium dan akan berpengaruh terhadap produksi selanjutnya.

b. Tekanan turgor

Kondisi fisiologis pembuluh lateks yang tepat untuk penyadapan adalah pada tekanan turgor 10-14 atm. Segera setelah pohon disadap, tekanan turgor menurun dan air dari sel-sel tetangga menembus dinding pembuluh lateks sehingga lateks mengalir sepanjang irisan sadap. Lateks yang diperoleh dari penyadapan tidak saja berasal dari pembuluh lateks yang terlukai tetapi merupakan kumpulan lateks yang mengalir dari daerah aliran lateks. Lamanya aliran lateks ditentukan oleh besarnya tekanan turgor dalam pembuluh lateks dan kecepatan koagulasi pada alur sadap. Turgor adalah tekanan pada dinding sel oleh isi sel. Banyak sedikitnya isi sel berpengaruh pada besar kecilnya tekanan pada dinding sel.

c. Curah hujan

Curah hujan, jika pada dini hari terjadi hujan maka penyadapan tidak dapat dilakukan karena akan menurunkan kualitas lateks akibat tercampurnya lateks dengan air hujan.

114 d. Ketebalan irisan sadap

Lateks akan mengalir dengan cepat pada awalnya, dan semakin lama akhirnya akan semakin lambat hingga akhirnya terhenti sama sekali. Hal ini disebabkan tersumbatnya ujung pembuluh lateks dengan gumpalan lateks. Sumbatan berupa lapisan yang sangat tipis. Lateks akan mengalir bila sumbatan dibuang dengan cara mengiris kulit pada hari sadap berikutnya dengan ketebalan 1.5 mm – 2 mm setiap penyadapan.

e. Frekuensi penyadapan

Frekuensi penyadapan adalah jumlah penyadapan yang dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Penentuan frekuensi penyadapan sangat erat kaitannya dengan panjang irisan dan intensitas penyadapan. Dengan panjang irisan ½ spiral (1/2 S) , frekuensi penyadapan yang dianjurkan untuk karet rakyat adalah satu kali dalam 3 hari (d/3) untuk 2 tahun pertama penyadapan, dan kemudian diubah menjadi satu kali dalam dalam 2 hari (d/2) untuk tahun selanjutnya. Menjelang peremajaan tanaman, panjang irisan dan frekuensi penyadapan dapat dilakukan secara bebas.

Selama proses budidaya tanaman karet tidak akan jauh dari serangan OPT (Organisme Penganggu Tanaman). Organisme Penganggu Tanaman yang biasa dijumpai di PTP Nusantara IX (PERSERO) adalah penyakit embun tepung dan hama belalang. Namun yang paling sering menyerang adalah penyakit embun daun sedangkan hama belalang sangat jarang ditemui. Penyakit tepung menyebabkan gugurnya daun-daun muda yang baru terbentuk setelah masa gugur daun tahunan. Apabila cuaca mendukung penyakit tepung dapat menyebabkan gugur daun

115

beberapa kali sehingga tanaman terpaksa membentuk daun muda berulang-ulang. Akibatnya kondisi tanaman menjadi lemah, menurunkan produksi lateks, menghambat perkembangan lilit batang dan menyebabkan mati ujung. Penyakit embun tepung disebabkan oleh jamur Oidum heveae jamur ini meyerang pucuk dan daun muda tanaman karet. Gejala yang ditimbulkan dari serangan jamur ini adalah daun-daun muda umur 1-9 hari jika terserang permukaannya mengeriput, ujung daun mongering dan akhirnya gugur. Sedangkan umur daun-daun yang lebih tua (umur 10-15 hari) jika terserang pada jaringan daun tanpa adanya bercak translusen, tapi daun tidak gugur. Pada permukaan daun tampak koloni berwarna putih seperti tepung yang terdiri dari konidia dan konidiofor. Apabila serangan berat terjadi pada daun muda (1-9 hari), daun akan gugur sehingga tanaman menjadi gundul. Berikut ini adalah gambar daun yang terserang penyakit embun tepung di PTP Nusantara IX (PERSERO):

Gambar 6. Daun yang terserang penyakit embun tepung

Pengendalian penyakit tepung yang diterapkan di PTP Nusantara IX (PERSERO) adalah dengan dengan mencampur detin dan belerang, lalu diseprotkan pada malam hari yaitu diatas jam 12 malam. Hal tersebut dilakukan

116

karena pada saat malam hari terdapat embun, lalu embun tersebut membantu merekatnya bahan campuran detin dengan belerang ke daun tanaman sehingga dapat bekerja untuk menekan perkembangan penyakit embun tepung pada daun karet. Hal tersebut kurang sejalan dengan pendapat Lindung (2010), yang menyatakan pengendalian penyakit dilakukan dengan memadukan beberapa cara pengendalian yang cocok. Cara pengendalian tersebut adalah:

1. Kultur teknis

Untuk mencegah timbulnya penyakit tepung dilakukan dengan menanam 3-4 jenis / klon anjuran yang resisten dalam 1 areal pertanaman atau dengan kata lain mencegah penanaman monokultur, memperbaiki kondisi tanaman dengan pemupukan menggunakan dosis yang dianjurkan. Khusus pada saat membentuk daun-daun baru, pemupukan nitrogen diberikan dalam dosis tinggi (2x dosis anjuran) dengan maksud untuk memacu pembentukan daun-daun baru sehingga tanaman terhindar dari serangan oidium. Sanitasi kebun dengan mengendalikan gulma secara teratur terutama disekitar tanaman dan perbaikan drainase kebun untuk menghindari penggenangan air dalam kebun.

2. Kimia

Tanaman disemprot menggunakan bahan kimia penggugur daun misalnya asam kakodilat (asam dimetil arsenat) atau MSMA (monosodium methane arsenat) dengan dosis masing-masing 1,0 dan 2,0 kg/ha. Penggunaan fungisida untuk perlindungan tanaman dengan jenis fungisida yang dianjurkan, penggunaan fungisida ini dimulai saat 10% tanaman dalam kebun telah

117

membentuk daun-daun secara gugur alamiah terutama terutama pada daerah rawan penyakit.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan teknis penyadapan di PTP Nusantara IX (PERSERO) terdapat beberapa tahapan, diantaranya adalah sebelum dilakukan penyadapan terlebih dahulu alur keluarnya lateks dibersihkan dari sisa aliran lateks yang kemarin atau yang disebut dengan scrub. Setelah dibersihkan alur depan dan alur belakang diperbaiki agar pembagian dua bidang sadap terbagi dengan sama rata, namun tidak boleh langsung sampai bawah hanya sedikit demi sedikit. Langkah selanjutnya adalah memperbaiki talang yang diletakkan 10 cm dibawah alur sadap paling bawah dan dipasang paku dibawah talang dengan jarak 5 cm. setelah itu disadap menggunakan pisau sadap dengan ketebalan 0,6 mm, kedalaman 1 mm dari cambium. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Siregar (1995), jika penyadapan terlalu dalam dapat membahayakan kesehatan tanaman, dan juga untuk mempercepat kesembuhan luka sayatan maka diharapkan sadapan tidak menyentuh kayu (xilem) akan tetapi paling dalam 1,5 mm sebelum cambium. Setelah disadap mangkuk dipasang pada paku yang sebelumnya telah dipasang dibawah talang yang berjarak 10 cm dari talang, hal tersebut sesuai dengan pernyataan Siregar (1995) yang menyatakan mangkok berfungsi sebagai penampung lateks yang mengalir dari bidang irisan melalui talang. Mangkok ini biasanya dibuat dari tanah liat atau plastik atau aluminium. Paling baik adalah dibuat dari aluminium karena tahan lama dan bisa menjamin kualitas lateks. Namun sulit dicari dan harganya yang cukup mahal. Mangkok dipasang 10 cm di bawah talang. Setelah semua pohon disadap tiga jam dari pohon yang terakhir disadap,

118

getah ditampung dalam ember penampungan lalu dibawa menuju pabrik untuk diolah.

119

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum acara V ini adalah sebagai berikut:

1. Penyadapan tanaman karet merupakan salah satu langkah penting dalam budidaya karet. Pada dasarnya penyadapan adalah kegiatan pemutusan atau pelukaan pembuluh lateks sehingga lateks menetes keluar dari pembuluh lateks ke mangkuk penampung yang dipasang pada batang karet.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil sadapan antara lain: kedalaman irisan, tekanan turgor, curah hujan, ketebalan irisan sadap dan frekuensi penyadapan. 3. Proses-proses dalam penyadapan pada tanaman karet di PTP Nusantara IX (PERSERO) diantaranya adalah mengambil scrub, memperbaiki alur depan dan belakang bidangsadap, memperbaiki talang, mengiris kulit, memasang mangkuk, dan menampung getah lalu dibawa ke pabrik untuk diolah.

B. Saran

Sebaiknya pada saat dilaksanakan praktikum dibagi menjadi beberapa kelompok dengan satu pemandu di setiap kelompok agar pada saat penyampaian materi dapat tersampaikan semuanya.

120

DAFTAR PUSTAKA

Balai Penelitian Perkebunan Sembawa. 1982. Penyadapan Tanaman Karet. Departemen Pertanian. Tirta Yasa, Palembang. 32 hal.

Balittri. 2007. http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/?p=10312. Diakses pada 2 Desember 2016.

Bastari, D. H. 2008. The Production of Indonesian Natural Rubber and Its Outlook. Slide presentation of Gapkindo in The Fifth Shanghai Derivetives Market Forum. 24 p.

Giroh DY, Abubakar M, Balogun FE, Wuranti V, Ogbebor OJ. 2006. Adoption of rubber quality innovations among smallholder rubber farmers in two farm settlements of delta State, Nigeria. Journal of Sustainable Development in Agriculture and Environment. 2:1.

Heru, D. S. dan A. Andoko. 2008. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet.PT. Agromedia Pustaka, Jakarta 166 hal.

Lindung. 2010. Teknik Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Karet. Kansius. Yogyakarta.

Nazaruddin dan Paimin, F. B. (1998). Karet, Strategi Pemasaran Tahun 2000. Budidaya dan Pengolaha. Penebar Semangat. Jakarta.

Setyamidjaja, D. (1993). Karet: Budidaya dan Pengolahan. Jogjakarta: Kanisius. Siregar, T. 1995. Teknik penyadapan karet. Kanisius, Yogyakarta.

Siswanto. 1997. Penyadapan dan pengobatan tanaman karet terserang brown bast (KAS). Makalah Pertemuan Teknis Bioteknologi Perkebunan untuk Praktek, Bogor, 1 Mei 1997. 17p.

Sumarmadji. 1999. Respons karakter fisiologi dan produksi lateks beberapa klon tanaman karet terhadap stimulan. Program Pasca Sarjana IPB. Bogor. Woelan, S., I. Suhendry, Aidi-Daslin. 2006. Pengenalan klon karet penghasil lateks

121 LAMPIRAN

122

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN TAHUNAN (PNA 3519)

ACARA VI

Dalam dokumen LAPORAN TEKNOLOGI DAN PRODUKSI TANAMAN (Halaman 102-122)

Dokumen terkait