• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Analisis dan Pembahasan

2. Hasil Uji Asumsi Klasik

Uji Asumsi klasik adalah asumsi dasar yang harus dipenuhi dalam

model regresi. Dalam penelitian ini uji asumsi klasik yang digunakan

adalah uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heterokedastisitas, dan uji

autokorelasi.

a. Uji Normalitas

Uji Normalitas dilakukan dengan menggunakan metode

Probability Plot (P-Plot). Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui

apakah dalam sebuah model regresi, variabel pengganggu atau residual

mempunyai distribusi yang normal, model regresi yang baik adalah

model regresi yang memiliki distribusi data normal atau mendekati

normal.

Uji normalitas melalui grafik dapat menyesatkan kalau tidak

hati-hati secara visual kelihatan normal, pada hal statistik bisa

sebaliknya. Oleh karena itu dianjurkan disamping uji grafik dilengkapi

dengan uji statistik (Ghozali, 2011: 163), sehingga uji yang digunakan

Pengujian ulang dengan menggunakan One-Sample

Kolmogorov-Smirnov test untuk masing-masing variabel. Untuk uji

One-Sample Kolmogorov-Smirnov test, akan dilihat dari nilai

probabilitasnya, jika probabilitasnya > 0,05 data terdistribusi normal.

Apabila data tidak berdistribusi secara normal maka dilakukan

transformasi data. (Ghozali, 2011 :164). Selengkapnya mengenai hasil

penelitian dapat dilihat pada tabel 4.2 dibawah ini:

Tabel 4.2 Hasil Uji Normalitas

Menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov test One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 40

Normal Parametersa,b Mean ,0000000 Std. Deviation ,03667716 Most Extreme Differences Absolute ,063

Positive ,063 Negative -,054

Test Statistic ,063

Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

c. Lilliefors Significance Correction.

d. This is a lower bound of the true significance. Sumber : Data diolah

Grafik 4.1 Hasil Uji Normalitas Menggunakan Normal P-P Plot

Sumber : Data diolah

Dari tabel 4.2 diatas dapat bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov

adalah 0,063 dan signifikan pada 0,200 atau lebih besar dari 0,05. Hal

ini dapat diartikan H0 diterima yang berarti data residual terdistribusi

normal.

Sedangkan pada hasil grafik normal probability plot, dapat

dilihat titik-titik distribusi normal membentuk satu garis lurus

diagonal, sehingga hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi secara

normal. Pengambilan kesimpulan normalitas melalui grafik ini akan

menimbulkan kerancuan, sehingga kesimpulan normalitas diambil

b. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinearitas bisa kita dapatkan melalui tabel

coefficients dengan melihat nilai collinearity statistics yang terdiri dari

nilai tolerance dan nilai VIF (Variance Inflation Factor). Suatu data

lulus uji multikolinearitas apabila nilai tolerance berada pada nilai >

0,1 dan nilai VIF (Variance Inflation Factor) < 10.

Tabel 4.3

Hasil Uji Multikolonieritas Coefficientsa

Sumber : Data diolah

Dari tabel 4.3 diatas menunjukan bahwa semua variabel

independen memiliki nilai tolerance > 0,10 dan VIF (Variance

Inflation Factor) < 10. Maka dapat disimpulkan bahwa model regresi

dalam penelitian ini telah terbebas dari masalah multikolinieritas.

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF 1 (Constant)

Pemilihan Sekuritas ,546 1,833 Market Timing Ability ,599 1,669 Tingkat Risiko ,473 2,114 Umur Reksa Dana ,648 1,542 Ukuran Reksa Dana ,985 1,015

pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu

pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas

dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik

adalah model yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi

Heteroskedastisitas (Ghozali, 2011: 139).

Alat yang paling umum dalam menguji heteroskedastisitas

adalah dengan melihat grafik scatter plot. Grafik yang lulus uji

heteroskedastisitas adalah grafik yang tidak membentuk suatu pola

tertentu dan tersebar pada nilai diatas dan dibawah 0. Selengkapnya

mengenai hasil uji untuk heterokedastisitas dapat dilihat pada grafik

4.2 di bawah ini :

Grafik 4.2

Dari grafik 4.2 diatas menunjukan tidak ada pola tertentu dan

titik-titik menyebar secara acak dan tersebar baik di atas maupun

dibawah angka 0 pada sumbu Y. maka dapat disimpulkan model

regresi dalam penelitian ini telah homokedastisitas atau bebas dari

masalah heteroskedastisitas.

Selain menggunakan scatter plot untuk pengujian

heteroskedastisitas, peneliti juga menggunakan Uji Park untuk

menghindari kerancuan yang diakibatkan pengambilan keputusan

melalui grafik. Uji Park dapat dilakukan setelah kita mendapatkan nilai

unstandardized residual yang telah dikuadratkan dan di logaritmakan,

lalu meregresikan nilai tersebut menjadi variable dependen.

Tabel 4.4

Uji Heteroskedastisitas Melalui Uji Park Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -20,981 8,113 -2,586 ,014 Pemilihan Sekuritas 21,756 17,702 ,271 1,229 ,228 Market Timing Ability -,057 ,093 -,128 -,607 ,548 Tingkat Risiko 36,470 24,447 ,353 1,492 ,145 Umur Reksa Dana ,169 ,122 ,280 1,384 ,175 Ukuran Reksa Dana ,423 ,555 ,125 ,762 ,451 Sumber : Data diolah

Pada tabel 4.4, dapat kita lihat hasil uji Park melalui tabel

coefficients dan nilai sig. Pada bagian sig dapat kita ketahui bahwa

signifikansi berada diatas 0,05. Hal ini berarti model regresi tidak

mengalami heteroskedastisitas.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi mempunyai tujuan untuk menguji apakah

dalam model regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan

pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu pada

periode t-1. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan

sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya (Ghozali, 2011: 110).

Salah satu alat untuk menguji nilai autokorelasi adalah dengan melihat

nilai Durbin-Watson pada tabel model summary bagian

Durbin-Watson.

Tabel 4.5

Uji Autokorelasi Melalui Durbin-Watson Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,991a ,982 ,979 ,039281541 1,175

a. Predictors: (Constant), Ukuran Reksa Dana, Umur Reksa Dana, Pemilihan Sekuritas, Market Timing Ability, Tingkat Risiko

b. Dependent Variable: Kinerja Reksa Dana Sumber : Data diolah

Dari tabel diatas terlihat menunjukan bahwa nilai D-W sebesar

1,175 berdasarkan kriteria yang telah ditentukan D-W hitung berada

koefisien autokorelasi lebih besar daripada nol, berarti ada autokorelasi

positif.

Untuk mengatasi hal ini maka digunakan Uji Run test sebagai

bagian dari statistik non parametrik dapat pula digunakan untuk

menguji apakah antar residual terdapat korelasi yang tinggi. Jika antar

residual tidak terdapat hubungan korelasi maka dikatakan bahwa

residual adalah acak atau random. Run test digunakan untuk melihat

apakah data residual terjadi secara random atau tdak (sistematis)

(Ghozali, 2011: 120)

Tabel 4.6

Uji Autokorelasi Melalui Run Test Runs Test

Unstandardized Residual Test Valuea -,00133 Cases < Test Value 20 Cases >= Test Value 20 Total Cases 40 Number of Runs 16

Z -1,442

Asymp. Sig. (2-tailed) ,149 a. Median

Sumber : Data diolah

Dari tabel diatas terlihat menunjukan bahwa nilai Asymp. Sig.

(2-tailed) sebesar 0,149 atau lebih besar dari 0,05 berdasarkan kriteria

yang telah ditentukan maka model regresi tidak mengalami masalah

3. Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi atau R2 dilakukan untuk mengukur

seberapa besar kemampuan variabel independen untuk menjelaskan

variabel dependen. Hasil uji koefisien determinasi dapat dilihat pada tabel

model summary dibagian R Square.

Tabel 4.7

Hasil Uji Koefisien Determinasi Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 ,991a ,982 ,979 ,039281541 1,175

a. Predictors: (Constant), Ukuran Reksa Dana, Umur Reksa Dana, Pemilihan Sekuritas, Market Timing Ability, Tingkat Risiko

b. Dependent Variable: Kinerja Reksa Dana Sumber : Data diolah

Pada tabel 4.7, dapat kita ketahui bahwa nilai R square sebesar

0,982. Hal ini dapat diartikan bahwa sebesar 98,2% variabel dependen

(Kinerja Reksa Dana) dapat dijelaskan oleh variabel independennya

(Pemilihan Sekuritas, Market Timing, Tingkat Risiko, Umur Reksa Dana,

dan Ukuran Reksa Dana). Sedangkan sisanya, yaitu sebesar 1,8% dapat

dijelaskan oleh variabel lainnya. Hal ini menandakan telah tingginya

kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen.

Adapun angka koefisien korelasi (R) menunjukan nilai sebesar 0,991 yang

menandakan hubungan antar variabel independen dengan variabel

4. Hasil Uji Hipotesis

Dokumen terkait