• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Hasil Uji Asumsi Klasik

Untuk menghasilkan suatu model regresi yang baik, analisis regresi memerlukan pengujian asumsi klasik sebelum melakukan pengujian hipotesis. Apabila terjadi penyimpangan dalam pengujian asumsi klasik perlu dilakukan perbaikan terlebih dahulu. Pengujian asumsi klasik yang telah dilakukan adalah sebagai berikut :

4.3.1 Uji Normalitas

Uji normalitas ini bertujuan ingin mengetahui apakah dalam hal model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Jika asumsi ini dilanggar atau tidak dipenuhi maka uji statistik tidak valid untuk jumlah sampel

kecil. Uji normalitas pada multivariate sebenarnya sangat kompleks, karena hanya dilakukan pada seluruh variabel secara bersama-sama.

Namun uji ini bisa juga dilakukan pada setiap variabel dengan logika bahwa jika secara individual masing-masing variabel memenuhi asumsi normalitas, maka secara bersama-sama variabel-variabel tersebut juga bias dianggap memenuhi asumsi normalitas. Cara yang digunakan peneliti adalah dengan cara analisis grafik dan statistik. Dalam analisis grafik, dilakukan dengan melihat grafik Histogram dan normal P – plot, sedangkan dalam analisis statistik dilakukan dengan alat uji Kolmogoro Smirnov. Berikut grafik Histogram dan normal P – plot.

Gambar 4.1 Grafik Histogram

Sumber : Output SPSS

Gambar 4.2 Grafik Normal P-Plot

Jika dilihat berdasarkan grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal, serta penyebaran agak jauh dari garis diagonal. Hal ini manunjukkan bahwa grafik menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi norrmalitas. Dalam uji normalitas residual dengan grafik dapat menyesatkan apabila tidak hati-hati secara visual kelihatan normal, oleh karena itu untuk melengkapi uji grafik dilakukan juga uji statistik lain yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji Kolmogrov-Smirnov (Uji K-S) dapat dilihat pada tabel 4.8, sebagai berikut :

Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

IT CR TATO ROE N 30 30 30 30 Normal Parametersa,b Mean .0640 1.7590 .3253 .7873 Std. Deviation .03470 1.6244 2 .39578 1.5145 4 Most Extreme Differences Absolute .223 .265 .310 .311 Positive .223 .265 .310 .274 Negative -.097 -.142 -.220 -.311 Kolmogorov-Smirnov Z 1.223 1.450 1.698 1.703

Asymp. Sig. (2-tailed) .100 .030 .006 .006

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data. Sumber : Output SPSS

Berdasarkan Tabel 4.8, dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi telah terdistribusi secara normal karena data residual lebih besar dari 0.05 yang berarti H0 diterima. Setelah data terdistribusi secara normal, maka dilanjutkan uji asumsi klasik lainnya.

4.3.2 Uji Multikolieritas

Multikolieritas dikenal juga dengan istilah kolinearitas ganda diciptakan oleh Ragner Frish didalam bukunya : statistical Confluence Analysis By Means Of Complete Regression System. Istilah kolinearitas (colinearity) sendiri berarti hubungan linear tunggal (single linear relationship), sedangkan kolinearitas ganda (multicolinearity) menunjukkan adanya lebih dari satu hubungan linear yang sempurna.

Multikolieritas juga merupakan situasi antara korelasi variabel-variabel independen antara yang satu dengan yang lainnya. Variabel-variabel ini disebut bebas tidak orthogonal. Variabel-variabel bebas yang bersifat orthogonal adalah variabel bebas yang memiliki nilai korelasi diantaranya sama dengan nol. Hasil uji gejala multikolieritas disajikan pada table 4.9 berikut ini :

Tabel 4.8 Hasil Uji Multikolieritas

Coefficientsa

Model Collinearity Statistics Tolerance VIF

1 IT .955 1.048

CR .909 1.100

TATO .878 1.139

a. Dependent Variable: ROE Sumber : Output SPSS

Hasil yang disimpulkan bahwa tidak terjadi gejala multikolinearitas antara variabel independen. Gejala multikolinearitas terjadi apabila nilai VIF lebih dari 10. Dari hasil analisis, di dapat dari nilai VIF untuk variabel independen dan variabel dependen adalah 1.048 (<10 ), 1.100 (<10), 1.139 (<10). Berdasarkan hasil ini maka dapat disimpulkan bahwa variabel dependen dan variabel independen lolos uji multikolinearitas.

4.3.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain dalam model regresi. Sedangkan uji homokedastisitas pada prinsipnya ingin menguji apakah sebuah grup mempunyai varians yang sama diantara anggota grup tersebut. Jika varians

sama, dan ini yang seharusnya terjadi maka dikatakan ada homokedastisitas. Sedangkan jika varians tidak sama dikatakan terjadi heteroskedastisitas. Alat untuk menguji heteroskedastisitas bisa dibagi dua, yakni dengan alat analisis grafik atau dengan analisis residual yang berupa statistik.

Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas atau terjadi homokedastisitas. Dalam model regresi dinyatakan telah terjadi heterokedastisitas apabila titik-titik yang ada tidak membentuk pola yang tertentu dan teratur dan titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y. Berikut ini dilampirkan grafik scatterplot untuk menganalisis apakah terjadi heterokedastisitas dengan mengamati penyebaran titik-titik pada gambar :

Sumber : Output SPSS

Gambar 4.3

Hasil Uji Heterokedastisitas

Dari grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar baik diatas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heterokedastisitas pada model regresi sehingga layak dipakai untuk memprediksi rentabilitas ekonomis pada perusahaan manufaktur dengan variabel independen inventory turnover, current ratio, total asset turnover.

4.3.4 Uji Autokorelasi

Istilah autokorelasi dapat didefenisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deret waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-section). Dalam konteks regresi, model regresi linear klasik mengasumsikan bahwa autokorelasi seperti itu tidak terdapat dalam disturbansi atau gangguan Ui. Pengujian autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada suatu periode dengan model regresi. Autokorelasi menunjukkan adanya korelasi antara kesalahan pengganggu pada data yang tersusun, baik berupa data cross sectional atau time series. Jika terjadi autokorelasi dalam model regresi berarti koefesien korelasi yang diperoleh menjadi tidak akurat, sehingga model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas dari autokorelasi.

Cara yang dapat dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi adalah dengan melakukan pengujian Durbin Watson (DW). Pengambilan keputusan ada

tidaknya autokorelasi menurut Ghozali (2005:96) dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :

Tabel 4.9

Kriteria Pengambilan Keputusan Uji Durbin Watson

Hipotesis Nol Keputusan Jika

Tidak ada autokorelasi positif

Tolak 0 < d < dl

Tidak ada autokorelasi positif

No decision dl ≤ d ≤ du

Tidak ada korelasi negative

Tolak 4 – dl < d < 4

Tidak ada korelasi negative

No decision 4 – du ≤ d ≤ 4 – dl

Tidak ada korelasi positif atau negatif

Tidak ditolak du < d < 4 – du

Berikut ini hasil uji Durbin Watson dengan menggunakan program SPSS versi 18 :

Tabel 4.10 Hasil Uji Autokorelasi

Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .389a .151 .053 1.47363 1.843

a. Predictors: (Constant), TATO, IT, CR b. Dependent Variable: ROE

Sumber : Output SPSS

Hasil uji autokorelasi diatas menunjukkan nilai Statistik Durbin Watson (Dw) sebesar 1.843, nilai ini akan kita bandingkan dengan nilai tabel dengan menggunakan signifikansi 5%, jumlah sampel (n) = 30, dan jumlah variabel

independen (k) = 3, maka berdasarkan model tabel Durbin Watson didapat nilai batas atas (du) sebesar 1.65 dan nilai batas bawah (dl) sebesar 1.214. Oleh karena itu, nilai (Dw) lebih besar dari 1.65 dan lebih kecil dari 4-1.65 (du < d < 4 – du). Dengan demikian dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi baik positif maupun negatif.

Dokumen terkait