• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.3 Saran

Adapun saran-saran yang dapat diberikan penulis adalah sebagai berikut :

1. Bagi para peneliti lanjutan, sebaiknya perlu dilakukan penelitian terhadap faktor-faktor lain yang memberikan pengaruh lebih besar terhadap

rentabilitas ekonomis sehingga dapat diketahui faktor mana yang paling berpengaruh dalam upaya peningkatan rentabilitas ekonomis.

2. Sebaiknya perlu dilakukan penelitian menggunakan sampel yang lebih banyak dengan karakteristik yang lebih beragam dari berbagai sektor industri. Sehingga diiketahui pengaruh inventory turnover, current ratio, total asset turnover terhadap rentabilitas ekonomis apabila diterapkan pada perusahaan yang berbeda.

3. Selain perluasan sampel penelitian, kepada para peneliti lanjutan juga diharapkan dapat melakukan penelitian selanjutnya dengan menggunakan data time series yang up to date/terbaru sehingga hasilnya akan semakin akurat dan dapat diketahui pengaruh inventory turnover, current ratio, total asset turnover terhadap rentabilitas ekonomis apabila diterapkan pada perusahaan yang berbeda.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Tinjauan Teoritis

2.1.1 Rentabilitas Ekonomis

Untuk mengetahui kemajuan suatu perusahaan dapat dilakukan dengan menganalisa laporan keuangan perusahaan tersebut. Adanya perubahan yang terjadi dalam laporan keuangan tersebut dapat membantu pihak-pihak yang berkepentingan dalam melakukan penilaian atau analisa terhadap perusahaan yang bersangkutan. Dalam menilai dan menganalisa posisi keuangan dan potensi ataupun kemajuan perusahaan, rentabilitas merupakan salah satu faktor yang dapat diketahui dan perlu untuk dipertimbangkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengambil suatu keputusan.

Rentabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba secara teratur. Rentabilitas sering digunakan untuk mengukur efesiensi modal dalam suatu perusahaan dengan membandingkan antara laba dengan modal yang digunakan dalam operasi, oleh karena itu keuntungan yang besar tidak menjamin atau bukan ukuran bahwa perusahaan tersebut rentable.

Untuk mendapatkan laba yang baik maka perusahaan harus meningkatkan efesiensi atas penggunaan modal yang dimiliki perusahaan, seperti yang dikemukakan oleh Riyanto (2001:29), yaitu “Rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode waktu tertentu dan umumnya dirumuskan dengan L/M x 100%, dimana L adalah jumlah laba yang

diperoleh selama periode tertentu dan M adalah modal atau aktiva yang dihasilkan untuk menghasilkan laba tersebut”.

Sedangkan Rahardjo (2005:122) mengatakan bahwa “Rentabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan dengan menggunakan modal yang tertanam didalamnya. Rentabilitas sering dikelompokkan dengan profitabilitas atau kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari penjualan barang dan jasa yang dihasilkan”.

Modal yang dimiliki oleh perusahaan terdiri atas modal sendiri dan modal asing, sehubungan dengan adanya dua modal tersebut maka rentabilitas suatu perusahaan dapat dihitung dengan dua cara, yaitu :

1. Rentabilitas ekonomis menunjukkan persentase perbandingan antara laba operasi dengan modal sendiri dan modal asing yang digunakan. Yang dirumuskan sebagai berikut :

Rentabilitas modal sendiri (return on equity) menunjukkan persentase perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik (laba setelah pajak) dengan modal sendiri. Yang dirumuskan sebagai berikut :

Laba Operasi

RE = X 100% Modal Asing + Modal Sendiri

Laba Bersih

RMS = X 100%

Dalam penelitian ini penulis menggunakan variabel rentabilitas ekonomis, maka perlu diketahui beberapa definisi rentabilitas ekonomis yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya :

Menurut Sugiyarso dan Winarni (2006:118) bahwa “Rentabilitas ekonomis menunjukkan persentase perbandingan antara laba operasi (=EBIT) dengan modal sendiri dan modal asing yang digunakan (=Total Aktiva)”.

Rentabilitas ekonomis dipengaruhi beberapa faktor. Berikut ini adalah faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya rentabilitas ekonomis :

1. Profit Margin yaitu perbandingan antara net operating income (laba operasi)

dengan net sales (penjualan bersih) yang dinyatakan dalam persentase. Dimana semakin tinggi profit margin maka semakin tinggi rentabilitas ekonomis.

2. Turn Over of Operating Asset (tingkat perputaran aktiva usaha), yaitu

kecepatan berputarnya operating asset (aktiva usaha) dalam suatu periode tertentu, yang diperoleh dengan membandingkan penjualan dengan total aktiva. Dimana semakin tinggi perputaran aktiva maka semakin tinggi rentabilitas ekonomis.

Berdasarkan pendapat para ahli yang telah diuraikan maka rentabilitas ekonomis dapat diformalisasikan sebagai berikut :

Laba Sebelum Bunga dan Pajak

RE = x 100% Total Aktiva

2.1.2 Inventory Turnover

Setiap perusahaan yang bergerak dalam bidang industri dan perdagangan tentunya memiliki persediaan. Persediaan merupakan komponen terpenting dalam perusahaan. Sebelum mengetahui defenisi perputaran persediaan, maka sebelumnya perlu diketahui terlebih dahulu segala sesuatu yang berhubungan dengan persediaan.

Persediaan mewakili barang-barang yang tersedia untuk dijual pada perusahaan dagang, sedangkan dalam perusahaan manufaktur persediaan mewakili barang yang diproduksi atau ditempatkan untuk produksi. Persediaan didefenisikan secara berbeda oleh beberapa ahli. Oleh karena itu, perlu kiranya memperhatikan beberapa defenisi yang dikemukakan oleh para ahli sehingga memberikan defenisi yang jelas tentang persediaan. Berikut ini adalah beberapa defenisi persediaan yang dikemukakan oleh beberapa para ahli :

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia (2004:14.2) “ Persediaan adalah aktiva : a. Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal

b. Dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan

c. Dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa”.

Warren Reeve Fess (2006:452) mengatakan bahwa “ Persediaan (inventory) digunakan untuk mengindikasikan barang dagang yang disimpan untuk kemudian dijual dalam operasi bisnis perusahaan, dan bahan yang digunakan dalam proses produksi atau yang disimpan untuk tujuan itu”.

Skousen dan Stice (2006:571) mengatakan bahwa :

Persediaan (atau persediaan barang dagangan) ditujukan untuk barang-barang yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan bisnis normal, dan dalam kasus perusahaan manufaktur, maka kata ini ditujukan untuk barang dalam proses produksi atau yang ditempatkan dalam kegiatan produksi. Kata Bahan Baku (raw material), Barang Dalam Proses (Work in Proces). Dan Barang Jadi (Finished Goods) untuk dijual ditujukan untuk persediaan di perusahaan manufaktur.

Berdasarkan pendapat diatas, maka dapat dinyatakan bahwa persediaan itu meliputi persediaan bahan baku, barang dalam proses, barang jadi maupun barang dagang. Dalam perusahaan industri persediaan berupa persediaan bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi sedangkan dalam perusahaan dagang persediaan hanya berupa barang dagang.

Untuk mengetahui lebih jelasnya mengenai perputaran persediaan, beberapa ahli telah mengemukakan pendapatnya tentang perputaran persediaan, diantaranya :

Menurut Djarwanto (2001 : 135) mengatakan bahwa “Perputaran persediaan (inventory turnover) menunjukkan beberapa kali persediaan barang dijual dan diadakan kembali selama satu periode akuntansi”.

Menurut Sudjaja (2002:112) mengatakan bahwa “Perputaran persediaan mengukur aktifitas atau likuiditas dari persediaan perusahaan”.

Menurut Assauri (2004:203) mendefenisikan bahwa “Perputaran persediaan (inventory turnover) merupakan angka yang menunjukkan kecepatan penggantian persediaan dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun”.

Menurut Sugiyarso dan Winarni (2006:39) bahwa “Rasio perputaran persediaan mengukur berapa kali persediaan perusahaan telah dijual selama periode tertentu”.

Jika tidak diketahui data harga pokok penjualan maka perputaran persediaan dapat dihitung dari penjualan bersih. Dari beberapa defenisi yang telah diuraikan oleh para ahli, maka perputaran persediaan dapat dirumuskan sebagai berikut :

Inventory turnover atau tingkat perputaran persediaan mengukur kemampuan

perusahaan dalam memutarkan barang yang dikeluarkannya. Semakin cepat perputaran persediaan maka akan semakin efesien penggunaan persediaan dalam suatu perusahaan.

2.1.3 Current Ratio

Didalam perusahaan industri atau komersial dan perusahaan penghasil jasa didalamnya bisa dipertimbangkan sebagai current ratio yang memuaskan. Angka dari current ratio ini hanya merupakan titik tolak untuk analisa lebih lanjut. Ada banyak faktor yang mempengaruhi ukuran current ratio. Perlu dianalisa lebih lanjut misalnya apakah surat-surat berharga yang dimiliki dapat segera diuangkan, bagaimana tingkat pengumpulan piutang, bagaimana tingkat perputaran persediaan.

Persediaan Awal + Persediaan Akhir Rata – rata Persediaan =

2

Harga Pokok Penjualan

Perputaran Persediaan =

Current ratio yang tinggi mungkin menunjukkan adanya uang kas yang berlebihan dibandingkan dengan tingkat kebutuhan atau adanya unsur aktiva lancar yang rendah likuiditasnya yang berlebih-lebihan. Current ratio yang tinggi tersebut memang baik dari sudut pandang kreditur, tetapi dari sudut pandang pemegang saham kurang menguntungkan karena aktiva lancar tidak didayagunakan dengan efektif.

Pengertian current ratio oleh beberapa para ahli, diantaranya :

Menurut Djarwanto (2001:129) bahwa “ current ratio merupakan ratio yang umum digunakan dalam analisa laporan keuangan yang memberikan ukuran kasar tentang tingkat likuiditas perusahaan yang diperoleh dengan jalan membagi aktiva lancar (current asset) dengan hutang jangka pendek (current liabilities)”.

Menurut Amin Widjaja Tunggal (2000:154) bahwa “current ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar”.

Menurut Lyn M.Fraser (2008:223) bahwa “current ratio merupakan ukuran yang umum digunakan atas solvensi jangka pendek, kemampuan suatu perusahaan memenuhi kebutuhan hutang ketika jatuh tempo”.

Dari beberapa defenisi yang telah diuraikan oleh para ahli, maka rasio lancar (current ratio) dapat dirumuskan sebagai berikut :

Current ratio merupakan salah satu rasio likuiditas, yaitu rasio yang bertujuan

untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban Aktiva Lancar

Current Ratio =

jangka pendeknya. Semakin tinggi current ratio suatu perusahaan berarti semakin kecil rasio kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dan rentabilitas ekonomisnya pun semakin tinggi.

2.1.4 Total Asset Turnover

Total asset turnover disebut juga dengan rasio aktivitas. Menurut Horne

(2005) rasio aktivitas (activity ratio) “adalah rasio yang mengukur beberapa efektif perusahaan aktivanya”. Jika sebuah perusahaan memiliki terlalu banyak aktiva, maka biaya modalnya akan menjadi terlalu tinggi, sehingga keuntungannya akan tertekan. Dilain pihak, jika aktiva terlalu rendah penjualan yang menguntungkan juga akan hilang.

Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besar kelebihan dana yang tertanam pada aktiva tersebut. Kelebihan dana tersebut lebih baik ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif. Sebaliknya semakin tinggi tingkat aktivitas semakin baiklah kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba. Menurut Brigham (2006), perputaran total aktiva secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

Total asset turnover merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan

dengan jumlah yang diperoleh selama periode tertentu dari perputaran aktiva yang diukur dari volume penjualan. Semakin besar rasio ini maka semakin baik bagi

Penjualan

TATO =

perusahaan karena aktiva dapat lebih cepat berputar dan memperoleh laba sehingga rentabilitas pun bertambah.

2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Tinjauan Peneleitian Terdahulu

NO PENELITI JUDUL HASIL PENELITIAN

1. Ratna Puspitasari (2007)

Pengaruh ratio likuiditas, rasio aktivitas dan rasio leverage terhadap rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal

sendiri pada perusahaan makanan

dan minuman yang go public di BEJ

Hasil analisis data menunjukkan bahwa rasio likuiditas (current ratio) dan Rasio aktivitas (TATO) berpengaruh positif signifikan terhadap rentabilitas ekonomi dan rentabilitas modal sendiri. Sedangkan, Rasio leverage (total debt to equity ratio dan debt ratio berpengaruh negative signifikan terhadap rentabilitas ekonomis dan

rentabilitas modal sendiri.

2. Ratna Dwi

Imawati (2011)

Pengaruh current ratio, total asset turnover, dan debt to

Curent ratio cenderung dalam klasifikasi tidak efektif dan tidak

asset ratio terhadap rentabilitas ekonomi koperasi wanita dikota malang tahun 2010

berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas ekonomis.

TATO cenderung dalam klasifikasi tidak ideal tetapi berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas ekonomis.

Debt to asset ratio berpengaruh negative signifikan terhadap rentabilitas ekonomis. 3. Hernawati (2007) Pengaruh CR, TATO, Debt to total asset terhadap profitabilitas pada perusahaan barang konsumsi go public di BEJ pada tahun 2002-2003

Secara simultan CR, TATO dan Debt to total

asset berpengaruh terhadap ROE.

Sedangkan, Secara parsial hanya variabel current ratio yang berpengaruh terhadap ROE.

4. Aminatuzzah ra

(2010)

Pengaruh CR, Debt to Equity Ratio, Total Asset Turnover terhadap ROE pada perusahaan

Manufaktur Go-Public di BEI Periode 2005-2009.

Secara parsial CR, DER, TATO berpengaruh signifikan positif terhadap ROE sedangkan secara simultan CR, DER, TATO

juga berpengaruh signifikan terhadap ROE.

5. R.M Riadi (2006) Pengaruh Rasio Aktivitas (perputaran persediaan, perputaran aktiva tetap, perputaran total aktiva) tterhadap Rentabilitas Ekonomis Plastic ang Glass Product yang Go Public di Bursa Efek Jakarta Selama Tahun 2002-2005.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio

aktivitas secara simultan berpengaruh signifikan positif terhadap ROE sedangkan,

Secara parsial rasio aktivitas berpengaruh signifikan terhadap ROE.

2.3 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini : H1 H2 H3 Ha Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Keterangan :

X : Variabel Bebas, yaitu inventory turnover, current ratio, total asset turnover. Y : Variabel Terikat, yaitu Rentabilitas Ekonomis.

: Arah Hubungan Berdasarkan kerangka konseptual, dapat diketahui bahwa variabel independen dalam penelitian ini adalah Inventory Turnover (IT), Current Ratio (CR), Total

Asset Turnover (TATO) sedangkan variabel dependennya adalah rentabilitas

ekonomis yaitu Return On Equity (ROE).

Rasio perputaran persediaan (inventory turnover) adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memutarkan barang dagangannya. Rasio perputaran persediaan ini dapat dihitung dari rasio antara harga pokok penjualan terhadap persediaan rata-rata. Perputaran persediaan merupakan salah satu ukuran efesiensi perusahaan dalam penggunaan aktiva terutama aktiva lancar. Semakin

Inventory Turnover ((X1)

Current Ratio (X2)

Total Asset Turnover (X3)

Rentabilitas

Ekonomis

cepat perputaran persediaan maka akan semakin efesien penggunaan persediaan dalam suatu perusahaan. Maka dapat ditarik hipotesis inventory turnover (IT) mempunyai pengaruh terhadap Return On Equity (ROE).

Rasio lancar (current ratio) merupakan salah satu rasio likuiditas, yaitu rasio yang bertujuan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Semakin tinggi current ratio suatu perusahaan berarti semakin kecil resiko kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Akibatnya resiko yang akan ditanggung pemegang saham akan semakin kecil. Maka dapat ditarik hipotesis Current Ratio mempunyai pengaruh terhadap Return On Equity (ROE).

Rasio perputaran total aktiva (Total Asset Turnover) merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan dengan jumlah yang diperoleh selama periode tertentu. Rasio ini merupakan ukuran seberapa jauh aktiva yang telah dipergunakan dalam kegiatan atau menunjukkan berapa kali aktiva berputar dalam periode tertentu. Total asset turnover dipengaruhi oleh besar kecilnya pejualan dan total aktiva, baik lancar maupun aktiva tetap. Karena itu, TATO dapat diperbesar dengan menambah aktiva pada satu sisi dan pada sisi lain diusahakan agar penjualan dapat meningkat relatif lebih besar dari peningkatan aktiva. Dengan demikian dapat ditarik hipotesis bahwa total asset turnover mempunyai pengaruh terhadap Return On Equity (ROE).

2.4Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara yang harus diuji kebenarannya atas suatu penelitian yang dilakukan agar dapat mempermudah dalam menganalisis.

Hipotesis dalam penelitian ini adalah Ha, yaitu ada pengaruh signifikan antara inventory turnover, current rasio, total asset turnover terhadap rentabilitas ekonomis.

Berdasarkan kajian masalah, tinjauan teoritis dan penelitian terdahulu maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

H1 : Inventory Turnover (IT) berpengaruh terhadap Return On Equity (ROE) H2 : Current Ratio (CR) berpengaruh terhadap Return On Equity (ROE) H3 : Total Asset Turnover (TATO) berpengaruh terhadap Return On Equity

(ROE).

H4 : Inventory Turnover (IT), Current Ratio (CR), Total Asset Turnover (TATO) berpengaruh terhadap Return On Equity (ROE).

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Dewasa ini banyak sekali perusahaan-perusahaan baru yang didirikan, perusahaan-perusahaan tersebut bergerak menurut kegiatannya masing-masing yaitu perusahaan jasa, perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dari semua jenis kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan, semuanya memiliki tujuan yang sama yaitu memperoleh laba dan melangsungkan hidup dengan menciptakan barang atau jasa maupun dengan menyediakan barang-barang kebutuhan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan beberapa variabel yang diperlukan yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Dimana yang menjadi variabel terikat dari penelitian ini adalah rasio profitabilitas yaitu Rentabilitas Ekonomis (ROE) sedangkan yang menjadi variabel bebasnya yaitu inventory turnover, current ratio dan total asset turnover. ROE (return on equity) merupakan salah satu rasio profitabilitas atau dinamakan dengan rentabilitas ekonomis yaitu rasio yang mengukur efesiensi keseluruhan perusahaan dalam mengelola total investasinya dalam aktiva dan dalam menghasilkan pengembalian kepada pemegang saham (Lyn M. Frases, 2008:223). Perkembangan pada persaingan yang sangat ketat, menyebabkan keunggulan kompetitif telah berkembang dan melibatkan pada pentingnya efesiensi keuangan. Oleh karena itu laporan keuangan di setiap perusahaan sangat diperlukan oleh pemimpin dalam sebuah perusahaan untuk dijadikan sebagai alat pengambilan keputusan lebih lanjut untuk masa yang akan datang.

Semakin besar ROE menunjukkan efesiensi perusahaan sangat baik, karena

return semakin besar. Efesiensi suatu perusahaan tersebut dapat dilakukan dengan

melihat laporan keuangan yang ada. Dimana laporan keuangan dapat dianalisis dengan menggunakan rasio keuangan. Dengan rasio ini dapat menghubungkan unsur-unsur rencana dan perhitungan laba rugi sehingga dapat menilai efektivitas dan efesiensi suatu perusahaan. Sehingga memungkinkan manajer keuangan dan pihak yang berkepentingan untuk mengevaluasi kondisi keuangan untuk menunjukkan sehat atau tidaknya suatu perusahaan.

Perputaran persediaan (inventory turnover) menunjukkan ukuran kecukupan

persediaan dan seberapa efesien persediaan itu dikelola kembali selama satu periode akuntansi (Djarwanto, 2001:135). Persediaan merupakan aktiva yang paling aktif dalam operasi untuk usaha manufaktur besar maupun kecil. Persediaan merupakan investasi yang dibuat untuk tujuan memperoleh pengembalian melalui penjualan kepada pelanggan, oleh karena itu pengalokasian dana pada persediaan haruslah sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Kesalahan dalam penetapan persediaan akan berpengaruh langsung terhadap keuntungan perusahaan. Jika persediaan tidak cukup maka volume penjualan akan turun dibawah tingkat yang seharusnya dapat tercapai. Laju perputaran persediaan yang tinggi menunjukkan rendahnya jumlah persediaan yang ada diperusahaan karena kemungkinan besar perusahaan akan sering kehabisan persediaan.

Current ratio (rasio lancar) merupakan ukuran fundamental likuiditas

perusahaan dan sering juga disebut sebagai rasio modal kerja (working capital). Current ratio dapat pula dikatakan sebagai bentuk untuk mengukur tingkat

keamanan (margin of safety) satu perusahaan. Current ratio dihitung dengan cara membandingkan antara total aktiva lancar dengan total kewajiban lancar. Semakin besar rasio ini menunjukkan semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Dari hasil perhitungan, apabila rasio ini rendah berarti perusahaan memiliki kemampuan yang rendah dalam membayar kewajiban jangka pendeknya. Namun apabila rasio ini terlalu tinggi juga tidak baik karena mungkin disebabkan adanya kas yang menganggur atau tidak dikelola dengan baik. Sehingga current ratio digunakan sebagai variabel untuk menguji pengaruhnya terhadap rentabilitas ekonomis pada perusahaan.

Aktiva lancar pada perusahaan manufaktur biasa menggunakan lebih dari separuh total aktivanya. Tingkat aktiva lancar yang berlebih dapat dengan mudah membuat perusahaan merealisasi pengembalian atas ekuitas (ROE) yang rendah. Akan tetapi, perusahaan dengan jumlah aktiva lancar yang terlalu sedikit dapat mengalami kekurangan dan kesulitan dalam mempertahankan operasi yang lancar (Horne dan Wachowicz, 2009:308). Untuk mengetahui seberapa besar modal kerja yang dialokasikan perusahaan untuk operasi perusahaan, dapat digunakan rasio lancar atau yang lebih dikenal dengan current ratio.

Total asset turnover (total perputaran aktiva) merupakan rasio aktivitas yang

digunakan untuk mengukur sampai seberapa besar efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber dayanya yang berupa asset. Semakin tinggi penggunaan asset dan semakin cepat pengembalian dana dalam bentuk kas (Abdul Halim, 2007). Total asset turnover sendiri merupakan rasio antara penjualan dengan total aktiva yang mengukur efesiensi penggunaan aktiva secara keseluruhan. Total

asset turnover diukur dari volume penjualan, dengan volume penjualan yang baik perusahaan mampu memperoleh laba yang maksimal. Semakin besar rasio ini maka semakin baik bagi perusahaan karena aktiva dapat lebih cepat berputar dan menghasilkan laba sehingga rentabilitas bertambah.

Dalam penelitian sebelumnya, Aminatuzzahra (2010) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh CR, Debt to Equity Ratio, TATO Terhadap ROE pada Perusahaan Manufaktur Go-Public di BEI Periode 2005-2009”. Hasil penelitian menyatakan bahwa data CR, DER, TATO secara parsial beerpengaruh signifikan positif terhadap ROE perusahaan manufaktur di BEI periode 2005-2009 pada

level of significant kurang dari 5% (masing-masing sebesar 0.000%). Sementara

secara simultan CR, DER, TATO terbukti signifikan berpengaruh terhadap ROE perusahaan manufaktur di BEI pada level kurang dari 5% yaitu sebesar 0.000%. kemampuan prediksi dari keempat variabel tersebut terhadap ROE sebesar 97.9 sebagaimana ditunjukkan oleh besarnya Adjusted Rsquare sebesar 97.9% sedangkan sisanya 2.1% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan kedalam model penelitian.

R.M Riadi (2006) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Rasio Aktivitas terhadap Rentabilitas Ekonomi pada Perusahaan Plastics and Glass Product yang Go Public di Bursa Efek Jakarta Selama Tahun 2002-2005”. Hasil penelitian menyatakan bahwa data perputaran persediaan, perputaran aktiva tetap, perputaran total aktiva secara simultan berpengaruh signifikan positif terhadap Rentabilitas Ekonomi pada perusahaan plastic and glass product yang go public di BEJ dan sedangkan secara parsial data perputaran persediaan, perputaran aktiva

tetap dan perputaran total aktiva berpengaruh signifikan terhadap Rentabilitas Ekonomi.

Ratna Dwi Imawati (2011) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Current Ratio, Total Asset Turnover, dan Debt to Asset Ratio terhadap Rentabilitas Ekonomi koperasi wanita di Kota Malang”. Penelitian ini menggunakan CR, TATO dan Debt to Asset Ratio sebagai variabel independennya sedangkan ROE sebagai variabel dependennya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa CR dan TATO berpengaruh signifikan terhadap rentabilitas ekonomi (ROE), sedangkan Debt to Asset Ratio berpengaruh negatif signifikan terhadap rentabilitas ekonomi (ROE).

Hasil penelitian ini belum menunjukkan konsistensi antara penelitian satu dengan penelitian yang lainnya, lokasi maupun tahun yang dibuat. Maka penulis berminat untuk melakukan penelitian lebih lanjut terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi rentabilitas ekonomis di perusahaan manufaktur, dengan alat ukur sebagai berikut : Inventory Turnover (IT), Current Ratio dan Total Asset Turnover

(TATO).

Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis tertarik akan menuangkannya dalam skripsi dengan judul “Pengaruh Inventory

Turnover, Current Ratio, Total Asset Turnover terhadap Rentabilitas Ekonomis pada Perusahaan Manufaktur Industri Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2011”.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka perumusan masalah

Dokumen terkait