BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Penemuan dan Pembahasan
3. Hasil Uji Asumsi Klasik
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Seperti diketahui bahwa uji t dan F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi dilanggar maka uji statistik menjadi tidak valid untuk jumlah sampel kecil.
73
Observed Cum Prob
1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0 E xp ec te d C um P ro b 1.0 0.8 0.6 0.4 0.2 0.0
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Dependent Variable: opiniaudit
Regression Standardized Residual
3 2 1 0 -1 -2 Fr eq ue nc y 12.5 10.0 7.5 5.0 2.5 0.0 Histogram
Dependent Variable: opiniaudit
Mean =-3.71E-16 Std. Dev. =0.964
N =58
Berikut adalah gambar output SPSS untuk uji normalitas.
sumber:Data Primer diolah, 2010
Gambar 4.1
Hasil Uji Normalitas Menggunakan Grafik P-Plot
Berdasarkan tampilan grafik P-Plot (gambar 4.1) dapat disimpulkan bahwa terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal, serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal.
sumber:Data Primer diolah, 2010 Gambar 4.2 Grafik Histogram
74 Dari tampilan output SPSS grafik histogram (gambar 4.2) terlihat bahwa grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
Dengan demikian, dapat disimpulkan grafik normal plot dan grafik histogram menunjukkan bahwa model regresi layak dipakai karena asumsi normalitas.
2) Hasil Uji Multikolonieritas
Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen).
Tabel 4.16
Hasil Uji Mulitikolonieritas
Coefficients(a)
Model Collinearity Statistics
Tolerance VIF 1 (Constant) etika .987 1.014 independensi .981 1.019 pengalaman .291 3.441 keahlianauditor .293 3.413
a Dependent Variable: opiniaudit sumber: Data primer diolah, 2010
Tabel diatas menggambarkan bahwa tidak ada problem multikolonieritas. Hal ini dapat dilihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF) < 10 dan nilai Tolerance (TOL) > 0,10. Pada variabel etika nilai tolerance sebesar 0,987 > 0,10, sedangkan nilai VIF 1,014 < 10. Variabel independensi nilai tolerance sebesar 0,981 > 0,10, sedangkan nilai VIF 1,019 < 10. Variabel pengalaman nilai tolerance
75 keahlian auditor nilai tolerance sebesar 0,293 > 0,10, sedangkan nilai VIF 3,413 < 10.
3) Hasil Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Model regresi yang baik adalah yang Homoskedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas. Berikut adalah gambar output SPSS untuk uji heteroskedastisitas.
Regression Standardized Predicted Value
3 2 1 0 -1 -2 R egr es si on St ude nt iz ed R es idua l 4 3 2 1 0 -1 -2 Scatterplot
Dependent Variable: opiniaudit
Sumber: Data Primer diolah, 2010
Gambar 4.3 Grafik Scatterplot
Dari tampilan output SPSS grafik scatterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak serta tersebar, baik di atas maupun dibawah angka 0 (nol) pada sumbu Y. Hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi sehingga model regresi layak dipakai.
76 4. Hasil Uji Hipotesis
Pengujian Hipotesis dilakukan dengan menggunakan metode Regresi Linier Berganda yang bertujuan untuk menguji hubungan pengaruh antara satu variabel terhadap variabel lain. Analisis data menggunakan teknik statistik multiple regression untuk menguji pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel dependen, yaitu untuk mengetahui apakah terdapat Pengaruh antara etika, independensi, pengalaman, keahlian auditor terhadap opini audit.
a. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R²)
Dari pengujian yang dilakukan diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 4.17
Hasil Uji Koefisien Determinasi (R²)
Model Summary(b) Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .560(a) .313 .261 3.60783
a Predictors: (Constant), keahlianauditor, etika, independensi, pengalaman b Dependent Variable: opiniaudit
Sumber: Data primer diolah, 2010
Dari tampilan output SPSS model summary, besarnya
adjusted R² adalah 0,261, hal ini berarti 26,1 % variasi opini audit dapat dijelaskan oleh variasi dari ketiga variabel independen etika, independensi, pengalaman, dan keahlian auditor, sedangkan sisanya 73,9% dijelaskan oleh variabel lainnya yang tidak dimasukkan dalam model regresi ini.
77 Angka koefisien (R) pada tabel 4.17 sebesar 0,560 menunjukkan bahwa hubungan antara variabel independen dengan dependen adalah cukup kuat karena memiliki nilai koefisien korelasi diatas 0,50. Standar Error of Estimate (SEE) sebesar 3,60783, makin kecil nilai SEE akan membuat model regresi semakin tepat dalam memprediksi variabel dependen.
b. Hasil Uji Signifikansi Simultan (Uji statistik F)
Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen/terikat.
Hasil uji F dari pengujian statistik multiple regression adalah sebagai berikut:
Tabel 4.18
Hasil Uji Signifikansi Simultan (uji statistik F)
ANOVA(b) Mod el Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 314.543 4 78.636 6.041 .000(a) Residual 689.870 53 13.016 Total 1004.414 57
a Predictors: (Constant), keahlianauditor, etika, independensi, pengalaman
b Dependent Variable: opiniaudit Sumber: Data primer diolah, 2010
Hasil Uji Hipotesis 5 dapat dilihat pada tabel 4.18 nilai F hitung diperoleh sebesar 6,041 dengan tingkat signifikansi 0,000. Karena tingkat signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka Ha5 diterima, sehingga dapat dikatakan bahwa Etika, Independensi, Pengalaman,
78 dan Keahlian auditor berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap Opini audit.
c. Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji statistik t)
Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.
Hasil uji t dari pengujian statistik multiple regression adalah sebagai berikut:
Tabel 4.19
Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (uji statistik t)
Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients Standar dized Coefficie nts t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 26.625 6.404 4.157 .000 etika -.029 .056 -.060 -.526 .601 independensi -.182 .080 -.261 -2.270 .027 pengalaman .018 .190 .020 .093 .926 keahlianaudit or .529 .231 .481 2.288 .026 a Dependent Variable: opiniaudit
Sumber: Data primer diolah, 2010
Hasil pengujian antara variabel Independensi (Etika, Independensi, Pengalaman, dan Keahlian Auditor) terhadap variabel Dependen (Opini Audit) secara individu yang dilakukan dengan uji t (tabel 4.19) adalah sebagai berikut:
1) Hasil Uji Hipotesis yang pertama, yaitu:
Hipotesis pertama yang menyatakan bahwa Etika tidak berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit. Dari tabel
79 4.19 dapat diketahui bahwa hasil pengujian untuk variabel Etika mempunyai angka signifikansi 0,601 sehingga nilai tersebut lebih besar dari 0,05. Dengan demikian Ha1 ditolak, hal ini berarti bahwa Etika tidak berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Megasari (2008) yang menunjukkan bahwa dimungkinkan dengan adanya dilema etika pada diri auditor tersebut, dimana seseorang dalam mengambil keputusan mengenai perilaku yang pantas yang harus dibuat. Auditor menghadapi banyak dilema etika dalam bisnis mereka, salah satu contohnya negosiasi dengan klien yang mengancam untuk mencari auditor baru jika perusahaannya tidak memperoleh unqualified opinion, hal itu jelas merupakan dilema etika karena pendapat seperti itu belum memuaskan auditor itu sendiri.
Menurut Ludigdo (2006) yang menunjukkan bahwa pengkajian yang mendalam sangat diperlukan dari berbagai perspektif atas tidak efektifnya penerapan etika profesi akuntan khususnya di Indonesia. Pengaturan etika dibuat untuk menghasilkan kinerja etis yang memadai maka kemudian asosiasi profesi merumuskan suatu kode etik. Kode etik profesi dan sebagai dasar terbentuknya kepercayaan masyarakat karena dengan mematuhi kode etik, akuntan diharapkan dapat
80 menghasilkan kualitas kinerja yang paling baik bagi masyarakat (Baidaie, 2000 dalam Ludigdo, 2006). Dalam kerangka inilah Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) merumuskan suatu kode etik yang meliputi mukadimah dan delapan prinsip etika yang harus dipedomani oleh semua anggota, serta wajib dipatuhi oleh masing-masing anggota kompartemen.
2) Hasil Uji Hipotesis kedua, yaitu:
Hipotesis kedua yang menyatakan bahwa Independensi berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit. Dari tabel 4.19 dapat diketahui bahwa variabel Independensi mempunyai angka signifikansi 0,027 sehingga nilai tersebut lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian Ha2 diterima, hal ini berarti bahwa Independensi berpengaruh signifikan terhadap opini audit. Semakin besar independensi seorang auditor maka semakin baik opini audit yang diberikan auditor. Independensi merupakan suatu sikap seseorang untuk bertindak secara objektif dan dengan integritas yang tinggi. Integritas berhubungan dengan kejujuran intelektual akuntan sedangkan objektivitas secara konsisten berhubungan dengan sikap netral dalam melaksanakan tugas pemeriksaan dan menyiapkan laporan auditan.
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP,2009) yang dimuat dalam PSA No. 04 (SA Seksi 220) standar ini
81 mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan dalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Jadi, Independensi harus dipertahankan oleh seorang auditor agar audit yang dilaksanakan dapat menghasilkan opini yang wajar sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP). Hasil penelitian ini konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mayangsari (2003) yang menunjukkan bahwa Independensi berhubungan posistif terhadap Opini audit.
3) Hasil Uji Hipotesis ketiga, yaitu:
Hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa pengalaman tidak berpengaruh secara signifikan terhadap opini audit. Dari tabel 4.19 dapat diketahui bahwa variabel pengalaman mempunyai angka signifikansi 0,926 sehingga nilai tersebut lebih besar dari 0,05. Dengan demikian Ha3 ditolak, hal ini berarti bahwa pengalaman tidak berpengaruh signifikan terhadap opini audit.
Hal ini disebabkan karena mayoritas responden adalah audtor junior yaitu sebesar 60,4% dan sebesar 63,8% auditor yang bekerja di Kantor Akuntan Publik rata-rata memiliki pengalaman kurang dari tiga tahun. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian Muttaqin (2008) yang menyatakan
82 bahwa Pengalaman tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Opini Audit.