BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.10 Hasil Pengujian Stabilitas Fisik
4.10.3 Hasil Uji Cycling test
Metode uji stabilitas cycling test dilakukan pada suhu yang berbeda pada interval waktu sehingga sediaan dalam kemasannya akan mengalami stress yang bervariasi. Pengujian dilakukan dengan menyimpan sediaan pada suhu 4°C selama 24 jam lalu dipindahkan pada suhu 40°C selama 24 jam, perlakuan ini disebut 1 siklus dan dilakukan sebanyak 6 siklus.
Tabel 4.20 Hasil cycling test sediaan nanoemulgel
Formula Hasil cycling test
Warna Bau Pemisahan Fase
F1 HT Kh -
F2 HT Kh -
F3 HT Kh -
F4 HT Kh -
Emulgel HT Kh -
Keterangan:
F1:Nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit (6000rpm) F2:Nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit (9000rpm) F3:Nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit
(12000rpm)
F4:Nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit (15000rpm)
HKc : Hijau Tua (-) : Tidak terdapat
Kh : Khas (+) : Terdapat
(a)
(b)
Gambar 4.15 Hasil cycling test sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit sebelum penyimpanan (a) dan setelah
penyimpanan (b)
Emulgel
Emulgel
Dari Tabel 4.18 dan Gambar 4.16 dapat disimpulkan bahwa nanoemulgel F1, F2, F3 ,F4 , dan emulgel stabil secara fisik terhadap uji cycling test. Hal ini dapat dilihat bahwa nanoemulgel F1, F2, F3, F4, dan emulgel tidak menunjukkan adanya perubahan warna, bau, dan tidak terjadi pemisahan fase setelah dilakukan uji cycling test. Hal ini menunjukkan bahwa sediaan nanoemulgel dan emulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan kunyit tahan terhadap perubahan stress bervariasi yaitu perubahan suhu yaitu suhu tinggi dan suhu rendah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Kombinasi ekstrak daun sendok (Plantago major L.) dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dapat diformulasikan ke dalam bentuk sediaan nanoemulgel dan mempunyai sifat fisik yang memenuhi syarat evaluasi nanoemulgel dan stabil secara fisik.
2. Terdapat pengaruh kecepatan pengadukan terhadap ukuran partikel pada formulasi sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok (Plantago major) dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dimana semakin tinggi kecepatan pengadukan maka semakin kecil ukuran partikel yang dihasilkan 3. Sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok (Plantago major) dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.) memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter zona hambat yang termasuk kedalam kategori cukup kuat yaitu F3 sebesar 11,97 ± 0,37 mm dan F4 sebesar 12,73±0,42 mm
4. Terdapat perbedaan daya hambat sediaan nanoemulgel, emulgel, ekstrak, dan sediaan di pasaran (betadine®) terhadap bakteri Staphylococcus aureus yaitu sediaan nanoemulgel F3 sebesar 11,97 ± 0,37 mm dan F4 sebesar 12,73±0,42 mm; emulgel sebesar 11,6±0,46 mm; ekstrak sebesar 10,15±0,64 mm dan betadine® sebesar 10,83±0,45
5.2 Saran
Kepada peneliti selanjutnya disarankan :
1. Untuk melakukan uji in-vivo untuk mengetahui aktivitas penyembuhan luka pada hewan uji dari sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok (Plantago major) dan rimpang kunyit (Curcuma longa L.),
2. Untuk melakukan formulasi sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak ekstrak daun sendok (Plantago major) dan rimpang rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dengan variasi konsentrasi formula.
DAFTAR PUSTAKA
Amini, M, dkk. (2010). Effect Of Plantago Major On Burn Wound Healing in Rat.
Journal of Appilied Animal Research. 37(1): 53-56
Angelia, F., Purwantyastuti., Louisa, M., dan Menaldi., S.M. (2019). Teknologi Nano di Bidang Dermatologi Kosmetik. MDVI. Vol 46 (2). Halaman 92-98 Anisa, N., Amaliah, N. A., Al Haq, P. M., & Arifin, A. N. (2019). Efektifitas Anti
Inflamasi Daun Mangga (Mangifera Indica) Terhadap Luka Bakar Derajat Dua. Sainsmat : Jurnal Ilmiah Ilmu Pengetahuan Alam. 8(1), 1-7.
Ansel, H. C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi Keempat. Jakarta:
Penerbit UI Press. Halaman 158, 387-389.
Backer, C.A and Brink, V.D. 1965. Flora of Java. Volume I. Groningen:
N.V.P.Noordhoff.
Bagadi, S. 2015. Excipients Used in Self Nanoemulsifying Drug Delivery Systems.
World Journal od Pharmaceutical Research. 4(7): 1346.
Basera, K., Bhatt, G., Kothiyal, P., dan Gupta, P. (2015). Nanoemulgel: A Novel Formulation Approach for Topical Delivery of Hydrophobic Drugs. World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 4(10): 1872-1876
Balouiri, M., Sadiki, M., & Ibnsouda, S. K. 2016. Methods for In Vitro Evaluating Antimicrobial activity: A review. Journal of Pharmaceutical Analysis.
6(2):71-79.
Bhowmik, D., Chiranjib, Chandira, M., Jayakar, B., dan Sampath, K. P. 2010.
Recent Advances in Transdermal Drug Delivery System. International Journal of PharmTech Research. 2(1): 68-77.
Bonang, G. 1992. Mikrobiologi Untuk Profesi Kesehatan. Edisi 16. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Boylan, J. C. dan Swarbrick, J. 2002. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology.
Edisi 2. New York: Marcel Dekker, Inc. Halaman 1739.
BPOM RI. 2008. Taksonomi Koleksi Tanaman Obat Kebun Tanaman Obat Citeureup. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Halaman 32; 93.
Chen, H., Khemtong, C., Yang, X., Chang, X., dan Gao, J. 2011. Nanonization Strategies for Poorly Water-Soluble Drugs. Drug Discovery Today. 16: 354–
360
Cheppy Syukur, Sitti Fatimah. (2007). Manfaat Kunyit Sebagai Penguat Daya Ingat (Anti Alzheimer). Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik. Warta Puslitbangbun. Vol 13 (2).
Choudhury, H., Gorain, B., Pandey, M., Chatterjee, L. A., Sengupta, P., Das, A., dkk. 2017. Recent Update on Nanoemulgel as Topical Drug Delivery 96 System. Journal of Pharmaceutical Science. Vol 106(7): 1739.
Cihar, K. 2017. A Review on Nanoemulsions: Preparation Methods and Stability.
Trakya University Journal of Engineering Sciences. 18(1): 77.
Dalimartha S. 1999. Tanaman Obat Di Lingkungan Sekitar. Jakarta: Puspa Swara.
Darmoyuwono, W. (2006). Gaya Hidup Sehat Dengan Virgin Coconut Oil.
Salatiga: Indeks Kelompok Gramedia.
Davidov-Pardo, G., dan McClements, D.J., 2015. Nutraceutical Delivery Systems:
Resveratrol Encapsulation in Grape Seed Oil Nanoemulsions Formed by Spontaneous Emulsification. Food Chemistry. 167: 205–212.
Depkes RI. 1985. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Penerbit Departemen Kesehatan RI.
Depkes RI. 1995. Materia Medika Indonesia. Jilid IV. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Jakarta. Indonesia.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Halaman 5.
Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman39.
Ditjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Halaman33.
Eid, A. M., El-Enshasy, H. A., Aziz, R., dan Elmarzugi, N. A. 2014. Preparation, Characterization, and Anti-Inflammatory Activity of Swietenia macrophylla Nanoemulgel. Journal of Nanomedicine and Nanotechnology. 5(2): 1-2, 5 Fanun, M. (2010). Colloids in Drug Delivery. Florida: CRC Press. Halaman: 221 Fardiaz, D. 1989. Hidrokoloid. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi,
Institut Pertanian Bogor. Laboratorium Kimia dan Biokimia Pangan.
Depkes RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Halaman 5, 10-11 Devarajan, V. dan Ravichandran, V. 2011. Nanoemulsion: As Modified Drug
Delivery Tool. International Journal of Comprehensive Pharmacy. 4(1): 4- 5.
Djamal, R. 2012. Kimia Bahan Alam: Prinsip-Prinsip Dasar Isolasi dan Identifikasi. Cetakan III. Padang: Universitas Baiturrahmah. Halaman 145 Ditjen POM. 1979. Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 39
Dowshen, et al. 2002. Staphylococcus aureus. http:ud/ac.id/primahapsa/files/
2012/06/jtptunimus-gdl-primahapsa-5337-1- bab1.pdf.
Drais, H.K. (2016). Development, Characterization and Evaluation of The Piroxicam Nanoemulsion Gel as Topical Dosage Form. World Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 5(6): 308-309.
Dwidjoseputro, D. 1978. Dasar–Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djambatan.
Halaman 15-17, 81, 83.
Endarini, L.H. 2016. Buku Ajar: Farmakognisi dan Fitokimia. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 145.
Fathurrahman, N.R., dan Musfiroh, I. 2018. Review: Teknis Analisis Instrumentasi Senyawa Tanin. Farmaka. 16 (2): 450.
Febriani, D., Mulyanti, D., dan Rismawati, E. (2015). Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Annona muricata Linn). Prosiding Penelitian SPESIA Unisba. Halaman: 477
Furi, T.A., dan Coniwati, P. 2012. Pengaruh Perbedaan Ukuran Partikel dari Ampas Tebu dan Konsentrasi Natrium Bisulfit (NaHSO3) pada Proses Pembuatan Surfaktan . Jurnal Teknik Kimia. 4(18):55.
Garna, H. (2016). Patofisiologi Infeksi Bakteri pada Kulit. Sari Pediatri, 2(4), 205.
https://doi.org/10.14238/sp2.4.2001.205-9
Glikcsman. 1983. Food Hydrocolloids. Volume I. Florida: CRC Press Boca Raton.
P 207
Gunn, C., and Carter, S.J. 1975. Dispensing for Pharmaceutical Student. Revised by Gunn and Carter. 11th Edition. London: Pitman Medical and Scientific Publishing Co.
Gupta, P. K., Pandit, J. K., Kumar, A., Swaroop, P., dan Gupta, S. 2010.
Pharmaceutical Nanotechnology Novel Nanoemulsion-High Energy Emulsification Preparation, Evaluation, and Application. The Pharma
Research. Vol 3: 117-138.
Gurtner GC, 2007. Wound Healing: Normal and Abnormal. Dalam: Thorne CH, penyunting. Grabb and Smith’s Plastic Surgery. Edisi ke-6. Philadelphia:
Lippincott Williams & Wilkins.
Handayani, S. 2021. Anatomi dan Fisiologi Tubuh Manusia. Bandung: Penerbit Media Sains Indonesia. Halaman 80-82.
Harborne, J.B. 1987. Phytochemical Methods. Bandung: Penerbit ITB. Halaman 174.
Hartati, S. Y., dan Balitro. 2013. Khasiat Kunyit Sebagai Obat Tradisional dan Manfaat Lainnya. Warta Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri.
Jurnal Puslitbang Perkebunan. 19 : 5 – 9.
Jawetz, E., Melnick, J. L., Adelberg, E. A., Brooks, G. F., Butel, J. S., dan Ornston, L. N. 1995. Medical Microbiology. Alih Bahasa: Nugroho, E., dan Maulany, R. F. 1996 Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta: Penerbit Salemba Medica.
Halaman 211-217, 234-241.
Junior, A., Zanil, C., (2000). Biological Screening of Brazilian Medicinal Plants.
Bra J. Sci. 95(3). 367-373.
Kabara, J. J. 1984. Cosmetic and Drug Preservation. New York: Marcel Dekker Inc. Halamn 678
Pangemanan, A., Fatimawali., dan Budiarso, F. & Hutagalung, B. S. P. (2016). Uji efektivitas ekstrak daun sendok (Plantago major L.) terhadap waktu perdarahan pada tikus Wistar jantan (Rattus norvegicus). E-GIGI, 4(2).
https://doi.org/10.35790/eg.4.2.2016.14221
Jawetz et al. 1995. Mikologi Kedokteran. Dalam: Mikrobiologi Kedokteran (20 ed.). Jakarta: EGC
Junior, A., dan Zanil, C. (2000). Biological Screeningof Brazillian Medicinal Plants. Bra J. Sci. 95(3): 36-373
Kale, N.J., Loyd, V., dan Allen, J.R. 1989. Studies on Microemulsion Using Brij 96 as Surfactant and Glycerin, Ethylene Glycol and Propylene Glycol as Cosurfactants. International Journal Pharmacy. 57(2): 87-93.
Kalangi, S. J. R. (2014). Histofisiologi Kulit. Jurnal Biomedik (Jbm), 5(3), 12–20.
https://doi.org/10.35790/jbm.5.3.2013.4344
Karima, S., Farida, S., & Mihoub, Z. M. (2015). Antioxidant and antimicrobial activities of Plantago major. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences, 7(5), 58–64.
Kumar, D., Singh, J., Antil, M., dan Kumar., V. 2016. Emulgel-Novel Topical Drug Delivery System- A Comprehensive Review. International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research. 7(12): 4734
Kursia, S., Julianri, S. L., Burhanuddin, T., Asril, B., Wa, O.R.R., dan Nursamsiar.
2016. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etilasetat Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis. IJPST. 3(2):75.
Laverius, M. F. 2011. Optimasi Tween 80 dan Span 80 sebagai Emulsifying Agent serta Carbopol sebagai Gelling Agent dalam sediaan Emulgel Photoprotector Ekstrak Teh Hijau (Camellia sinensis L.): Aplikasi Desain Faktorial. Skripsi.
Fakultas Farmasi. Universitas Sanata Dharma. Depok.
Lawrence WT, 2002. Wound Healing Biology and Its Application to Wound Management. Edisi ke-3. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins.
Lehninger. 1982. Dasar-Dasar Biokimia. Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Halaman 9.
Leong M, Phillips LG, 2012. Wound Healing. Dalam: Sabiston Textbook of
Surgery. Edisi ke-19. Amsterdam: Elsevier Saunders. Halaman: 984-92 Lissa, L., Ratnasari, A., & Luzyawati, L. (2018). Uji Efektivitas Serbuk Biji Duwet
(Syzigium cumini) Sebagai Obat Alternatif Luka Diabetes Mellitus. Gema Wiralodra. Vol 9(1), 43–51.
Lusi, L. (2011). Cara Mengetahui Ukuran Suatu Partikel. Banten: Nanotech Indonesia.
Mambang, D.E.P., Rosidah, dan Suryanto. 2014. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Tempe Terhadap Bakteri Bacillus subtillis dan Staphylococcus aureus. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan. Vol 25(1): 116.
Manoi, F. 2009. Binahong (Andredera cordifolia) Sebagai Obat. Jurnal Warta.
Penelitian dan Pengembangan Tanaman Industri. Vol 15 (1) : 3-5.
Marjoni, M. R. 2016. Dasar-dasar Fitokimia untuk Diploma III Farmasi. Jakarta:
Trans Info Media Press. Hal.6,7, 15, 21
Martin A., Swarbick, J., Cammarata, A. 1993. Physical Pharmacy. 3rd Edition.
Philadepphia: Lea & Febiger
Mason, T. G., Wilking, J. N., Meleson, K., Chang, C. B., dan Graves, S. M. 2006.
Nanoemulsions: Formation, Structure, and Physical Properties. Journal of Physics: Condensed Matter. 18(41):636.
MAWADDAH, R. (2008). Kajian Hasil Riset Potensi Antimikroba Alami Dan Aplikasinya Dalam Bahan Pangan Di Pusat Informasi Teknologi Pertanian.
Fateta Ipb.
Mescher AL. Junqueira’s Basic Histology Text & Atlas. New York: McGraw Hill Medical; 2010.
Montenegro, L. 2014. Nanocarriers for Skin Delivery of Cosmetic Antioxidants.
Journal of Pharmacy & Pharmacognosy Research. 2(4): 73- 92.
Muthoharoh, A & Zainab. 2015. Penapisan Fitokimia, Penetapan Kadar Naftokuinon Total, dan Aktivitas Antifungi Fraksi Tidak Larut Etil Asetat Ekstrak Etanol Daun Pagar Kuku (Lawsonia inermis L.) terhadap Candida albicans ATCC 10231. J. Pharmaciana. Vol 5(2) 199-208.
Muadifah, A., Amini, H. W., Amini, H. W., Putri, A. E., Putri, A. E., Latifah, N.,
& Latifah, N. (2019). Aktivitas Antibakteri Ekstrak Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal SainHealth, 3(1), 45. https://doi.org/10.51804/jsh.v3i1.313.45-54
Mukhriani. 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktif.
Jurnal Kesehatan. 7(2): 361.
Mulia, K., Rosalia, M. A., Ramadhan, Krisanti, E. A. 2017. Formulation And Characterization Of Nanoemulgel Mangosteen Extract In Virgin Coconut Oil For Topical Formulation. RSCE 2017
Nielloud, F., and Mestres, G.M. 2000, Pharmaceutical Emulsions and Suspensions.
New York. Marcel Dekker Inc. Halaman: 2-11, 561, 590,
Nugroho, A.A., Candra, A., dan Yusuf, P. 2020. Nano-Androcerum: Inovasi Wound Healing Gel dari Nanopartikel Daun Binahong dan Kayu Manis Pada Luka Kronis. BIMFI. 7(1): 26.
Nurdianti, K., Lestari, F., & Gardi, A. (2017). Pengujian Efek Gel Ekstrak Daun Sendok ( Plantago major L.) terhadap Luka Bakar pada Tikus Galur Wistar.
Prosiding Farmasi. 3 (2), 598–605.
Partomuan, S. 2009. Studi Kimia dan Farmakologi Tanaman Kunyit Sebagai Tumbuhan Obat Serbaguna. Agrium. Vol (17). Halaman : 103 – 107.
Pelczar, J. M., dan Chan., E. C. S. 1988. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI
Press.
Pratiwi, S.T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Yogyakarta: Erlangga. Halaman 188- 190
Pund, S., Pawar, S., Gangurde, S., & Divate, D. (2015). Transcutaneous delivery of leflunomide nanoemulgel: Mechanistic investigation into physicomechanical characteristics, invitro anti-psoriatic and anti-melanoma activity. International Journal of Pharmaceutics. 487 (1-2), 148-156
Putri, M.H., Sukini dan Yodong. 2017. Mikrobiologi Keperawatan Gigi. Jakarta:
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Halaman 11, 30, 309.
Rajesh, H., dkk. 2013. Phytochemical Analysis Of Methanolic Extract Of Curcuma Longa Linn Rhizome. International Journal Of Universal Pharmacy And Bio Sciences. ISSN 2319-8141
Rijai, L. (2016). Senyawa Glikosida sebagai Bahan Farmasi Potensial secara Kinetik. Journal of Tropical Pharmacy and Chemistry. 3(3): 216.
Rowe, R. C., Sheskey, P. J., dan Owen, S. C. 2006 Handbook of Pharmaceutical Excipients. Edisi kelima. Washington D.C.: Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association. Halaman 466, 545, 629, 794.
Rowe, R. C., Sheskey, P. J., dan Quinn, M. E. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. Edisi keenam. Washington D.C.: Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association. Halaman 693-697
Said, Ahmad. 2007. Khasiat dan manfaat kunyit. Jakarta: Sinar Wadja Lestari.
Saifudin, A., Rahayu., Teruna. 2011. Standarisasi Bahan Obat Alam. Yogyakarta:
Graha Ilmu
Sari, A. W. 2015. Karakterisasi Ekstrak Etanolik Daun Teh Hijau (Camellia sinensis L.). Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Sanata Dharma.
Yogyakarta.
Sari, D.K., dan Lestari., R.S.D. 2015. Pengaruh Waktu dan Kecepatan Pengadukan Terhadap Emulsi Minyak Biji Matahari (Helianthus annuus L.) dan Air.
Jurnal Integrasi Proses. 5(3): 155-159
Sari, Rafika., et.al. 2017. Penentuan Nilai FICI Kombinasi Ekstrak Etanol Kulit Daun Lidah Buaya (Aloe vera (L) Burm.f) dan Gentamisin Sulfat Terhadap Bakteri Escherichia coli. Pharm Sci Res. 4 (3) : 132-142,
Shah, P., Bhalodia, D., dan Shelat, P. 2010. Nanoemulsions: A Pharmaceutical a Review. Systematic Reviews in Pharmacy. 1(1): 26-30.
Silva, H. D., Cerqueira, M. A., dan Vicente, A. A. 2015. Influence of Surfactant and Processing Conditions in the Stability of Oil-in-Water Nanoemulsions.
Journal of Food Engineering. 167: 90.
Suyal, J. dan Bhatt, G. 2017. An Introductory Review Article on Nanoemulsion.
International Journal of Research in Pharmacy and Pharmaceutical Sciences.
2(4): 35.
Sutrisna, E.M. 2016. Herbal Medicine: Suatu Tinjauan Farmakologis. Surakarta:
Muhammadiyah University Press. Halaman 16, 17.
Swarbrick, J. 2007. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology. Edisi III. Volume 1. New York: Informa Healthcare USA, Inc. Halaman 20.
Syamsuhidayat, S.S dan Hutapea, J.R. 1991. Inventaris Tanaman Obat. Jakarta:
Bakti Husada. hal 596-7
Tjitrosoepomo, G. 2005. Morfologi Tumbuhan. Gajah Mada. University Press.
Yogyakarta.
Tranggono, R.I.S dan Latifah, F (2007). Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan
Kosmetik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Triastuti, A. (2020). Aktivitas Penghambatan Migrasi Leukosit Ekstrak Diklorometana Daun Sendok (Plantago major) pada Mencit yang Diinduksi Tioglikolat. EKSAKTA: Journal of Sciences and Data Analysis, 19, 208–215.
https://doi.org/10.20885/eksakta.vol19.iss2.art11
Trommer, H., dan Neubert, R. H. H. 2006. Overcoming the Stratum Corneum: The Modulation of Skin Penetration. Skin Pharmacology and Physiology. 19: 107 Turnip, N. U. M. B., . N., & Dwicahya, C. A. (2020). Uji Efektivitas dan Antibakteri Sediaan Salep dari Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal Farmasimed (Jfm). 2(2), 85–90.
https://doi.org/10.35451/jfm.v2i2.373
Ulaen, S.P.J., Banne, Y., dan Suatan, R.A. 2013. Pembuatan Salep Anti Jerawat dari Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorrhiza Roxb.). Jurnal Ilmiah Farmasi: 48.
Verma, A., Singh, S., Kaur, R., dan Jain, U. K. 2013. Topical Gels as Drug Delivery Systems: A Review. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research. 23(2): 374-375
Wahdaningsih, S., Eka, K. U., dan Yunita, F. 2014. Antibakteri Fraksi n-Heksana Kulit Hylocereus polyrhizus Terhadap Staphylococcus epidermidis dan Propionibacterium acnes. Pharm Sci Res. 1(3): 183
Walters, K.A. 2007. Dermatological and Transdermal Formulations. New York:
Informa Healthcare. Halaman 5-15.
Wasitaatmadja, S.M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Penerbit UI Press. Halaman 112-117.
Wulandari,P. 2016. Uji Stabilitas Fisik dan kimia Sediaan Krim Ekstrak Etanol Tumbuhan Paku (Nephrolepis falcata Cav.). Skripsi. Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
WHO. 1992. Quality Control Methods for Medicinal Plant Materials. Inggris:
World Health Organization Geneva. Halaman 28-31.
Wihelmina, C. E. 2011. Pembuatan dan Penentuan Nilai SPF Nanoemulsi Tabir Surya Menggunakan Minyak Kencur (Kaempferia galanga L.) sebagai 104 Fase Minyak. Skripsi. Fakultas Farmasi. Universitas Indonesia. Jakarta.
Winarsih, W., Wientarsih, I., & Sutardi, L. N. (2012). Aktivitas salep ekstrak rimpang kunyit dalam proses persembuhan luka pada mencit yang diinduksi diabetes. Jurnal Veteriner, 13(3), 242–250.
Winarto, I.W. 2004. Khasiat dan Manfaat Kunyit. Jakarta: AgroMedia Pustaka.
Halaman 5-7;10-11.
Wooi, K., dan Lau, W. M. 2015. Skin Deep: The Basics of Human Skin Structure and Drug Penetration. Australia: University of Newcastle Inc. Halaman 7, 9, 10.
Yadav, R. P., Tarun, G. 2017. Versatility of turmeric: A review the golden spice of life. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry. 6(1): 43.
Zhang, L., Zhang, I., Zhang, M., Pang, Y., Li, Z., Zhao, A., dan Feng, J. 2015. Self-Emulsifying Drug Delivery System and the Applications in Herbal Drugs.
Drug Delivery. 22(4): 475-477.
Zubair, M., Widén, C., Renvert, S., & Rumpunen, K. (2019). Water and ethanol extracts of Plantago major leaves show anti-inflammatory activity on oral epithelial cells. Journal of Traditional and Complementary Medicine, 9(3),
169–171. https://doi.org/10.1016/j.jtcme.2017.09.002
Lv, Y., Liu, H., Wang, Z., Hao, L., Liu, J., Wang, Y., and Wang, J. (2008).
Antibiotic glass slide coated with silver nanoparticles and its antimicrobial capabilities. Polymers for Advanced Technologies, 19(11), 1455-1460.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tanaman
a. Hasil Identifikasi Daun Sendok (Plantago major L.)
Lampiran 1. (lanjutan)
b. Hasil Identifikasi Rimpang Induk Kunyit (Curcuma longa L.)
Lampiran 2. Bagan Alir Penelitian
a. Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Sendok (Plantago major L.) Serbuk Simplisia Daun Sendok
(500 gram)
dimasukkan ke wadah maserasi dimasukkan etanol p.a sebanyak 5 L direndam selama 6 jam, sambil diaduk sesekali
didiamkan selama 18 jam terlindung dari cahaya
direndam dengan etanol p.a sebanyak 2,5 L diaduk sesekali selama 6 jam
didiamkan selama 18 jam terlindung dari cahaya disaring
digabung
dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 50 ℃ dipekatkan ekstrak dengan oven pada suhu 40 ℃
Lampiran 2. (lanjutan)
a. Pembuatan Ekstrak Etanol Rimpang Induk Kunyit (Curcuma longa L.) Serbuk Simplisia Rimpang Induk Kunyit
(300 gram)
dimasukkan ke wadah maserasi dimasukkan etanol p.a sebanyak 3 L direndam selama 6 jam, sambil diaduk sesekali
didiamkan selama 18 jam terlindung dari cahaya
disaring
Residu Maserat I
Maserat II
Ekstrak Kental (Induk Kunyit = 44,17 gram dan Rendemen = 14,7233 %) direndam dengan etanol p.a sebanyak 1,5 L diaduk sesekali selama 6 jam pertama
didiamkan selama 18 jam terlindung dari cahaya disaring
digabung
dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 50 ℃
dipekatkan ekstrak dengan oven pada suhu 40 ℃
Lampiran 2. (lanjutan)
b. Bagan Alir Pembuatan Nanoemulsi Ekstrak Etanol Daun Sendok dan Rimpang Induk Kunyit ditimbang Span 80 dan VCO ditambahkan sedikit demi sedikit Span 80 dan VCO ke dalam lumpang sambil digerus hingga halus dan homogen
Fase Minyak
Aquadest
didihkan di hotplate
dilarutkan Metil Paraben dan Natrium Metabisulfit dalam akuades hingga larut
diaduk campuran dengan homogenizer
ditambahkan Tween 80 sedikit demi sedikit kedalam larutan saat kondisi hangat
diaduk campuran dengan homogenizer dengan kecepatan 400 rpm
Fase Air
ditambahkan fase minyak setetes demi setetes ke dalam fase air sambil di aduk dengan kecepatan 3000 rpm selama 3 jam pada suhu kamar hingga terbentuk nanoemulsi yang homogen dan jernih transparan
Nanoemulsi kombinasi ekstrak etanol daun sendok dan rimpang induk kunyit
Lampiran 2. (lanjutan)
c. Bagan Alir Pembuatan Nanoemulgel Ekstrak Etanol Daun Sendok dan Induk Kunyit
Aquades Nanoemulsi ekstrak etanol daun
sendok dan rimpang induk kunyit didihkan di hotplate
dilarutkan Metil Paraben dan Natrium Metabisulfit dalam akuades hingga larut dituangkan kedalam lumpang
ditaburkan Karbopol 940 di atasnya didiamkan selama 24 jam
digerus sambil ditetesi TEA sedikit demi sedikit hingga terbentuk massa yang homogen dan transparan
Basis Gel
ditimbang nanoemulsi dan basis gel dengan perbandingan 45:55
dimasukkan basis gel ke dalam beaker glass sambil diaduk pelan dengan pengaduk magnetik dengan kecepatan 400 rpm
diteteskan secara perlahan nanoemulsi ke dalam beaker glass sambil diaduk dengan homogenizer
dihomogenkan mengunakan homogenizer dengan variasi kecepatan 6000 rpm, 9000 rpm, 12000 rpm, 15000 rpm selama 10 menit pada suhu kamar hingga homogen
Nanoemulgel Ekstrak Etanol Daun Sendok dan Rimpang Induk Kunyit
Lampiran 3. Hasil Pemeriksaan Makroskopik Serbuk dan Simplisia
a. Hasil Pemeriksaan Makroskopik Serbuk dan Simplisia Daun Sendok
Gambar 1. Tanaman Daun Sendok
Gambar 2. Simplisia Daun Sendok
Gambar 3. Serbuk Simplisia Daun Sendo
Lampiran 3. (lanjutan)
b. Hasil Pemeriksaan Makroskopik Serbuk dan Simplisia Induk Kunyit
Gambar 4. Induk Kunyit Segar
Gambar 5. Pemeriksaan Simplisia Induk Kunyit
Lampiran 3. (lanjutan)
Gambar 6. Serbuk Simplisia Rimpang Induk Kunyit
Lampiran 4. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Serbuk Simplisia
a. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Serbuk dan Simplisia Daun Sendok
Stomata Berkas Pembuluh
Rambut Kelenjar Sel Idioblas
Lampiran 4. (lanjutan)
b. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik Serbuk Rimpang Induk Kunyit
Berkas pengangkut (kolateral tertutup)
Rambut penutup
Periderm Amilum berbentuk lonjong
Parenkim stele Parenkim korteks
Lampiran 5. Perhitungan % Rendemen Ekstrak Etanol Daun Sendok dan Rimpang Induk Kunyit
a. Daun Sendok (Plantago major L.)
% Rendemen Ekstrak Daun Sendok = Bobot Ekstrak
Bobot Simplisia× 100%
= 49
500 × 100 % = 9,8%
b. Rimpang Induk Kunyit (Curcuma Longa L.)
% Rendemen Ekstrak Daun Sendok = Bobot Ekstrak
Bobot Simplisia× 100%
= 44,17
300 × 100 % = 14,7233%
Lampiran 6. Perhitungan Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia Ekstrak Daun sendok (Platago major L.) dan Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.)
a. Karakterisasi Serbuk dan Ekstrak Daun Sendok (Platago major L.) 1. Kadar Air Simplisia Daun Sendok
% Kadar = Volume air (ml)
Kadar Air Simplisia Daun sendok = 7,96%+5,98%+3,99%
3 = 5,97%
2. Kadar Abu total Simplisia Daun sendok
% Kadar = Berat abu (g)
Kadar abu total Simplisia Daun sendok = 7,54%+7,17%+6,29%
3 = 7%
3. Kadar Abu Tidak Larut asam Simplisia Daun sendok
Kadar abu tak larut asam Simplisia Daun sendok = 0,86%+0,98%+0,92%
3 = 0,92%
4. Kadar Sari Larut Air Simplisia Daun sendok
% Kadar = Berat sari (g)
Kadar sari larut air Simplisia Daun sendok = 13,75%+11,93%+12,91%
3 = 12,86%
5. Kadar Sari Larut Etanol Simplisia Daun sendok
% Kadar = Berat sari (g)
Berat sampel (g) x 100
20 x 100%
Kadar sari larut etanol Simplisia Daun sendok = 13,10%+14,83%+16,66%
3 = 14,86%
b. Karakterisasi Ekstrak Daun Sendok 1. Kadar air Ekstrak Daun sendok
% Kadar = Volume air (ml)
Kadar air ekstrak daun sendok = 7,82%+7,64%+5,91
3 = 7,12 % 2. Kadar Abu Total Ekstrak Daun sendok
% Kadar = Berat abu (g)
Berat sampel (g) 𝑥 100%
Kadar abu total ekstrak daun sendok = 0,75%+0,88%+0,81%
3 = 0,81%
3. Kadar Abu Tidak Larut Asam Ekstrak Daun sendok
% Kadar = Berat abu (g)
Kadar abu tak larut asam ekstrak daun sendok = 0,38%+0,36%+0,404%
3 = 0,38%
Lampiran 7. Perhitungan Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Serbuk Simplisia dan Ekstrak Rimpang Induk Kunyit (Curcuma Longa L.)
a. Karakterisasi Serbuk Simplisia 1. Perhitungan Penetapan Kadar Air
No Berat Sampel (g) Volume Awal (ml) Volume Akhir (ml)
% Rata-rata Kadar air Ekstrak kunyit % = 9,9986+7,9988+7,9985
3 = 8,65%
% Rata-rata Kadar abu total Simplisia kunyit = 7,2589%+6,8943%+7,2613%
3
Lampiran 7. (lanjutan)
Kadar abu tidak larut asam = 0,0047
2,0003 x 100% = 0,2349%
- Kadar abu tidak larut asam = 0,0056
2,0002 x 100% = 0,2799%
- Kadar abu tidak larut asam = 0,0034
2,0011 x 100% = 0,1699%
3. Kadar sari larut air simplisia Kunyit
No Berat Sampel (g) Berat abu (g)
% Rerata Kadar sari larut air Simplisia Rimpang Induk Kunyit
=
19,1380%+20,6946%+21,3870%3
= 16,7972
4. Kadar Sari Larut Etanol Simplisia Kunyit
No Berat Sampel (g) Berat abu (g)