• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.12 Komponen Formulasi Nanoemulsi dan Nanoemulgel pada Penelitian

2.12.8 Span 80

Span 80 mempunyai nama lain sorbitan monooleat. Kelarutannya larut atau terdispersi dalam miyal, tidak larut dalam air, tetapi dapat terdispersi secara perlahan. Konsentrasi lazimnya apabila digunkaan sendiri adalah 1-15% dan apabila dikombinasi dengan surfaktan hidrofilik adalah 1-10 % (Rowe, et al., 2009).

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental dengan tahapan penelitian yaitu penyiapan daun sendok dan rimpang kunyit, pembuatan dan karakterisasi simplisia daun sendok dan rimpang kunyit, pembuatan ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit, skrining fitokimia, uji aktivitas antibakteri ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit. Kemudian diformulasi ke dalam bentuk sediaan nanoemulgel dengan menggunakan konsentrasi kombinasi ekstrak yang telah ditentukan. Kemudian evaluasi fisik sediaan yang terdiri dari: pemeriksaan organoleptik, pengamatan stabilitas dengan metode cycling test, uji homogenitas, penentuan pH sediaan, penentuan viskositas, penentuan tipe emulsi, uji daya sebar, penentuan ukuran partikel, dan dilakukan pengujian aktivitas antibakteri nanoemulgel terhadap Staphylococcus aureus.

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitokimia, Laboratorium Teknologi Pembuatan Sediaan Obat Alam, Laboratorium Mikrobiologi, Laboratorium Farmasi Fisik, Laboratorium Farmasetika Dasar, dan PUI Nanomedisin Universitas Sumatera Utara.

3.3 Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah aluminium foil, autoklaf (Express Equitment), batang pengaduk, beaker glass (Iwaki), benang wol, bunsen, blender, blue type, cawan petri (Normax), cawan penguap, climatic chamber (Memmert), cork borer, erlenmeyer, gelas ukur, high speed homogenizer FSH-2A, inkubator (Memmert), jangka sorong, jarum ose, kaca objek, kapas, kertas

perkamen, kertas saring, kurs porselen, Laminar Air Flow Cabinet (Astec HLF 1200 L), lumpang dan alu, kurs porselen, lemari pengering, magnetic bar, magnetic stirrer (Boeco Germany), mikro pipet (Eppendorf), mikroskop, neraca analitik (Ohaus), oven (Memmert), particle size analyzer (Fritsch Analysette 22 Nanotec), pencadang kertas, pH meter (Hanna Instrument), pinset, pipet tetes, rotary evaporator (Heidolph), spatula,spektrofotometer UV-VIS (Orion Aquamate 8000), spindel, sudip, tabung reaksi (Iwaki), viskometer NDJ-8S, yellow type.

3.4 Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah akuades, daun sendok, DMSO (Emsure), etanol p.a, karbopol 940 (Nipest 40), natrium metabisulfit, nutrient agar (Oxoid), nutrient broth (Himedia), metil paraben (Ozzie), rimpang kunyit, span 80, trietanolamin (Merck), tween 80 (Merck), Virgin Coconut Oil (VCO). Bakteri uji: Staphylocoscus aureus ATCC 12228.

3.5 Penyiapan Sampel 3.5.1 Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel daun sendok dilakukan di Hutabarat, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara.

Pengambilan sampel rimpang kunyit dilakukan di Padang Bulan, Medan Baru, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.

3.5.2 Identifikasi Tumbuhan

Identifikasi tumbuhan dilakukan oleh Herbarium Medanense (MEDA), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara (USU).

3.6 Pengolahan Sampel menjadi Simplisia

Pada penelitian ini digunakan bagian rimpang induk kunyit. Rimpang kunyit yang telah dikumpulkan, disortasi basah lalu dicuci dengan air sampai bersih. Kemudian ditiriskan, dirajang dengan ketebalan 3-4 mm, selanjutnya dikeringkan dalam lemari pengering sampai bahan tumbuhan rapuh (dapat dipatahkan). Simplisia disortasi kering dan ditimbang (Depkes RI, 1985).

Daun sendok yang telah dikumpulkan, disortasi basah terlebih dahulu untuk memisahkan kotoran dan bahan asing lainnya seperti tanah, ranting dan daun yang rusak serta kotoran yang lainnya. Kemudian dicuci dengan air bersih mengalir, dilakukan penirisan, lalu ditimbang berat basahnya, dan dimasukkan ke dalam lemari pengering pada suhu 50-60 °C sampai daun sendok mengering.

Simplisia yang sudah kering akan mengerut, rapuh, dan jika simplisia diremas maka simplisia akan patah, kemudian disortasi kering untuk membuang bagian-bagian yang tidak dapat dibersihkan pada saat sortasi sebelumnya. Simplisia selanjutnya dihaluskan lalu ditimbang beratnya dan disimpan didalam wadah tertutup rapat.

3.7 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia

Pemeriksaan karakteristik simplisia seperti penetapan kadar air, pemeriksaan makroskopik, mikroskopik, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu tidak larut asam dilakukan menurut prosedur Ditjen POM R.I. (1979).

3.7.1 Pemeriksaan Makroskopik

Pemeriksaan makroskopik simplisia dilakukan dengan mengamati bentuk, ukuran, bau, warna, karakterisasi permukaan dan tekstur dari simplisia (Depkes R.I., 1995).

3.7.2 Pemeriksaan Mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia daun sendok dan rimpang kunyit. Serbuk simplisia ditaburkan diatas kaca objek yang masing-masing telah ditetesi dengan akuades dan ditutup dengan kaca penutup, kemudian diamati dibawah mikroskop.

3.7.3 Penetapan Kadar Air

Penetapan kadar air dilakukan dengan metode destilasi (Azeotropi) yang meliputi penjenuhan toluen dan penetapan kadar air ekstrak. Toluen sebanyak 200 ml dan akuades 2 ml dimasukkan ke dalam labu alas bulat, dirangkai alat destilasi lalu didestilasi toluen selama 2 jam untuk penjenuhan toluen. Serbuk simplisia rimpang kunyit ditimbang sebanyak 5 gram lalu dimasukkan ke dalam labu alas bulat yang berisi toluen jenuh, dipanaskan selama 15 menit. Setelah toluen mulai mendidih, diatur penyulingan dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga sebagian besar air tersuling, kemudian dinaikkan kecepatan penyulingan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air tersuling, bagian dalam pendingin dicuci dengan toluen jenuh air, lanjutkan penyulingan selama 5 menit. Dinginkan tabung penerima hingga suhu ruang. Baca volume air setelah air dan toluen memisah sempurna. Kadar air dihitung dalam % v/b (Kemenkes RI, 2017)

3.7.4 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Air

Sebanyak 5 gram serbuk simplisia yang telah dikeringkan di udara ditimbang. Dimasukkan dalam labu bersumbat, ditambahkan 100 ml air jenuh kloroform, kocok berkali-kali selama 6 jam pertama dan dibiarkan selama 18 jam. Disaring, uapkan 20 ml filtrat sampai kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan 105°C dan ditara, panaskan sisa pada suhu 105°C hingga bobot tetap . Dihitung kadar dalam % sari air (Kemenkes RI, 2017).

3.7.5 Penetapan Kadar Sari Larut dalam Etanol

Serbuk simplisia rimpang kunyit ditimbang sebanyak 5 gram lalu dimasukkan ke dalam erlenmeyer, tambahkan 100 ml etanol, dikocok berkali-kali selama 6 jam pertama, dibiarkan selama 18 jam. Disaring, diuapkan 20 mL filtrat hingga kering dalam cawan dangkal beralas datar yang telah dipanaskan pada suhu 105°C dan ditara, panaskan sisa pada suhu 105° hingga bobot tetap.

Dihitung kadar dalam % sari larut etanol (Kemenkes RI, 2017).

3.7.6 Penetapan Kadar Abu Total

Serbuk simplisia rimpang kunyit ditimbang sebanyak 2 gram dimasukkan ke dalam krus porselen yang telah dipijar dan ditara. Dipijar kurs porselen perlahan-lahan hingga arang habis, pemijaran dilakukan pada suhu 600°C selama 3 jam. Lalu didinginkan dan ditimbang. Kadar abu total dihitung terhadap berat serbuk simplisia rimpang kunyit yang diuji, dinyatakan dalam %b/b (Kemenkes RI, 2017).

3.7.7 Penetapan Kadar Abu yang Tidak Larut dalam Asam

Abu yang diperoleh dari penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25 ml asam klorida encer selama 5 menit, kemudian dikumpulkan bagian yang tidak larut dalam asam, saring menggunakan kertas saring whatmann, dicuci dengan air panas, lalu dipijar dalam krus hingga bobot tetap pada suhu 600°C selama 3 jam. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap berat serbuk simplisia rimpang kunyit yang diuji, dinyatakan dalam % b/b (Kemenkes RI, 2017).

3.8 Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia serbuk simplisia meliputi pemeriksaan senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid/steroid.

3.8.1 Pemeriksaan Alkaloid

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia ditimbang, ditambahkan 1 ml asam klorida

2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan selama 2 menit, didinginkan dan disaring, filtrat dipakai untuk uji alkaloid. Diambil 3 tabung reaksi, lalu kedalam masing-masing tabung reaksi dimasukkan 0,5 ml filtrat.

1. Pada tabung I, ditambahkan 2 tetes pereaksi Mayer, akan terbentuk endapan menggumpal berwarna putih ataukuning.

2. Pada tabung II, ditambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorff, akan terbentuk endapan berwarna coklat atau jingga kecoklatan.

3. Pada tabung III, ditambahkan 2 tetes pereaksi Bouchardat, akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai kehitaman.

Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan di atas (Depkes RI, 1995).

3.8.2 Pemeriksaan Saponin

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia ditimbang, dimasukkan kedalam tabung reaksi, ditambahkan 10 ml air suling panas, didinginkan, kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Saponin positif jika terbentuk busa yang stabil tidak kurang dari 10 menit setinggi 1 sampai 10 cm dan dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2 N buih tidak hilang (Ditjen POM, 1995).

3.8.3 Pemeriksaan Flavonoid

Sebanyak 10 gram sampel kemudian ditambahkan 100 ml akuades, dididihkan selama 5 menit dan disaring dalam keadaan panas. Filtrat yang diperoleh kemudian diambil 5 ml lalu ditambahkan 0,1 g serbuk Mg dan 1 ml HCl pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok, dan dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika terjadi warna merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol (Marjoni, 2016).

3.8.4 Pemeriksaan Tanin

Sebanyak 0,5 g serbuk simplisia ditimbang, disari dengan 10 mL air suling lalu disaring, filtratnya diencerkan dengan air sampai tidak berwarna.

Larutan diambil sebanyak 2 mL dan ditambahkan 1-2 tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna biru atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Ditjen POM, 1995).

3.8.5 Pemeriksaan Triterpenoid / Steroid

Sebanyak 1 g serbuk simplisia ditimbang, dimaserasi dengan 20 ml n- heksan selama 2 jam, disaring lalu filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan 20 tetes asam asetat anhidrida dan 1 tetes asam sulfat pekat (pereaksi Lieberman-Burchard), timbulnya warna biru atau biru hijau menunjukkan adanya steroid, sedangkan warna merah, merah muda atau ungu menunjukkan adanya triterpenoid (Harborne, 1987).

3.9 Pembuatan Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit

Serbuk kering simplisia daun sendok dan rimpang kunyit dimasukkan ke dalam maserator, tambahkan 10 bagian pelarut (etanol). Rendam selama 6 jam pertama sambil sesekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat dengan cara filtrasi. Ulangi proses penyarian sekurang-kurangnya satu kali dengan jenis pelarut yang sama dan jumlah volume pelarut sebanyak setengah kali jumlah volume pelarut pada penyarian pertama. Dikumpulkan semua maserat, kemudian diuapkan dengan rotavapor hingga diperoleh ekstrak kental. Dihitung rendemen yang diperoleh yaitu persentase bobot (b/b) antara rendemen dengan bobot serbuk simplisia yang digunakan dengan penimbangan.

Rendemen harus mencapai angka sekurang-kurangnya sebagaimana ditetapkan pada masing-masing monografi ekstrak (Kemenkes RI, 2017).

3.11 Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak 3.11.1 Sterilisasi Alat dan Bahan

Semua bahan dan alat yang akan digunakan dicuci hingga bersih lalu dikeringkan. Bahan dan alat disterilkan menggunakan autoklaf dengan temperature sebesar 121oC dengan tekanan 2 atm selama 15 menit, media Nutrient Agar (NA) dan Nutrient broth (NB) juga disterilkan dengan cara yang sama. Alat gelas yang akan digunakan disterilkan dengan oven pada suhu 160-170oC selama 2 jam (Anonim, 1995). Jarum ose dibakar dengan nyala Bunsen (Muthoharoh dan Zainab, 2015).

3.11.2 Pembuatan Media 3.11.2.1 Nutrient Agar (NA)

Komposisi: Bacto beef extract 3,0 g, Bacto peptone 5,0 g, Bacto agar 15,0 g, air suling ad 1 L (Difco Laboratories, 1977). gpembuatan: media nutrient agar (NA) ditimbang sebanyak 28 gram, dilarutkan dengan air suling sebanyak 1000 ml, kemudian dipanakan diatas hotplate hingga bening. Selanjutnya disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121⁰C selama 15 menit (merk : Himedia).

3.11.2.2 Nutrient broth (NB)

Komposisi: Bacto Beef Extract 3,0 g, Bacto Peptone 5,0 g, air suling ad 1 L (Difco Laboratories, 1977). Cara pembuatan: media Nutrient Broth (NB) ditimbang sebanyak 13 gram, kemudian dilarutkan dengan 1000 ml akuades dan disterilisasi dengan autoklaf pada 121⁰C selama 15 menit (merk : Himedia).).

3.11.3 Pembiakan Bakteri 3.11.3.1 Penyiapan Bakteri

Koloni bakteri Staphylococcus aureus diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.11.3.2 Pembuatan Stok Kultur Bakteri Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus diinokulasi pada media selektifnya yaitu media Manitol Salt Agar (MSA) kemudian diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37⁰C (Wahdaningsih, dkk., 2014).

3.11.3.3 Peremajaan Bakteri Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus diambil satu ose dari stok kultur, lalu diinokulasi pada media Nutrien Agar (NA) miring, kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam (Kursia, dkk., 2016).

3.11.4 Penyiapan Inokulum Bakteri

3.11.4.1 Pembuatan Inokulum Bakteri Staphylococcus aureus

Satu koloni bakteri Staphylococcus aureus diambil, lalu disuspensikan ke dalam 10 ml Nutrient Broth steril, kemudian diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Lalu diukur kekeruhan larutan pada panjang gelombang 580 nm sampai diperoleh transmitan 25% (Mambang, dkk., 2014).

3.12 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak

3.12.1 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Daun Sendok Dengan Berbagai Konsentrasi

Ekstrak daun sendok ditimbang 0,5 g, lalu ditambahkan dimetil sulfoksida (DMSO) sebanyak 5 ml dan diaduk hingga larut dan didapat konsentrasi 100mg/ml (10%) kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi 27,5 mg/ml, 25 mg/ml, dan 20 mg/ml.

3.12.2 Pembuatan Larutan Uji Ekstrak Rimpang Kunyit Dengan Berbagai Konsentrasi

Ekstrak rimpang kunyit ditimbang 0,5 g, lalu ditambahkan dimetil sulfoksida (DMSO) sebanyak 5 ml dan diaduk hingga larut dan didapat konsentrasi 100mg/ml (10%) kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi 10 mg/ml, 5

mg/ml, 2.5 mg/ml.

3.13 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak

3.13.1 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Sendok Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan memipet 100 µL inokulum bakteri Staphylococcus aureus kedalam cawan petri steril, kemudian tuang 15 ml media Nutrien Agar (NA) steril dalam cawan petri, digoyang secara perlahan-lahan untuk menyebarkan biakan bakteri secara merata kemudian dibiarkan sampai media memadat. Masing-masing dari kertas cakram steril dipindahkan ke konsentrasi ekstrak daun sendok. Kertas cakram yang terlah direndam dipindahkan dengan pinset steril ke medium NA yang sudah berisi bekteri Staphylococcus aureus secara aseptik. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam dan diamati hasil diameter daerah bening di sekitar pencadang menggunakan jangka sorong dengan satuan mm (Turnip et al., 2020).

3.13.2 Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Rimpang Kunyit Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan memipet 100 µL inokulum bakteri Staphylococcus aureus kedalam cawan petri steril, kemudian tuang 15 ml media Nutrien Agar (NA) steril dalam cawan petri, digoyang secara perlahan-lahan untuk menyebarkan biakan bakteri secara merata kemudian dibiarkan sampai media memadat. Masing-masing dari kertas cakram steril dipindahkan ke konsentrasi ekstrak rimpang kunyit. Kertas cakram yang terlah direndam dipindahkan dengan pinset steril ke medium NA yang sudah berisi bekteri Staphylococcus aureus secara aseptik. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam dan diamati hasil diameter daerah bening di sekitar pencadang

menggunakan jangka sorong dengan satuan mm. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali (Turnip et al., 2020).

3.14 Pembuatan Larutan Uji Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit Dengan Berbagai Konsentrasi

Kombinasi ekstrak dilakukan untuk mencari konsentrasi terkecil yang mampu menghasilkan daya hambat yang kuat untuk diformulasikan dalam sediaan nanoemulgel. Berdasarkan diameter daya hambat masing-masing dari ekstrak, maka, maka persentase kombinasi yang memungkinkan adalah 3%, dimana ini merupakan konsentrasi minimal dari kombinasi yang mempunyai peluang untuk menghasilkan diameter daya hambat yang kuat. Kombinasi ekstrak dilakukan dengan cara menggabungkan masing-masing konsentrasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit dengan daya hambat yang kuat dengan daya hambat yang lemah.

Ekstrak daun sendok ditimbang 0,5 g, lalu ditambahkan dimetil sulfoksida (DMSO) sebanyak 5 ml dan diaduk hingga larut dan didapat konsentrasi 100mg/ml (10%) kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi 27,5 mg/ml, 25 mg/ml, dan 20 mg/ml.

Ekstrak kunyit ditimbang 0,5 g, lalu ditambahkan dimetil sulfoksida (DMSO) sebanyak 5 ml dan diaduk hingga larut dan didapat konsentrasi 100mg/ml (10%) kemudian dibuat pengenceran dengan konsentrasi 10 mg/ml, 5 mg/ml, an 2,5 mg/ml. Kemudian, dikombinasikan ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit dengan konsentrasi kombinasi berikut:

Tabel 3.1 Konsentrasi kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit Konsentrasi

Kombinasi

Konsentrasi Ekstrak Kombinasi

Ekstrak Daun Sendok Ekstrak Rimpang Kunyit 3%

27,5 mg/ml (2,75%) 2,5 mg/ml (0,25%) 25 mg/ml (2,5%) 5 mg/ml (0,5%)

20 mg/ml (2%) 10 mg/ml (1%)

3.15 Pengujian Aktivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan memipet 100 µL inokulum bakteri Staphylococcus aureus kedalam cawan petri steril, kemudian tuang 15 ml media Nutrien Agar (NA) steril dalam cawan petri, digoyang secara perlahan-lahan untuk menyebarkan biakan bakteri secara merata kemudian dibiarkan sampai media memadat. Masing-masing dari kertas cakram steril dipindahkan kedalam pengenceran ekstrak. Kertas cakram yang terlah direndam dipindahkan dengan pinset steril ke medium NA yang sudah berisi bekteri Staphylococcus aureus secara aseptik. Kemudian diinkubasi pada suhu 37ºC selama 24 jam dan diamati hasil diameter daerah bening di sekitar pencadang menggunakan jangka sorong dengan satuan mm. Pengujian dilakukan sebanyak 3 kali (Turnip et al., 2020)

3.16 Formulasi Sediaan Nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit

Formulasi sediaan nanoemulgel ekstrak etanol kombinasi daun sendok dan rimpang kunyit diawali dengan pembuatan nanoemulsi, dan basis gel secara terpisah, kemudian ditambahkan nanoemulsi ke dalam basis gel untuk menambah kekentalan dan meningkatkan kenyamanan pada aplikasinya melalui kulit. Pada formulasi sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit, persentase komposisi bahan dalam sediaan dimodifikasi dari formula nanoemulgel yang telah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Pada penelitian sebelumnya, Mulia dkk (2017) melakukan penelitian tentang formulasi dan

karakterisasi nanoemulgel ekstrak manggis dalam minyak kelapa murni untuk formulasi topikal. Komposisi bahan yang digunakan dalam penelitian tersebut dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Persentase komposisi bahan dalam sediaan nanoemulgel pada penelitian Mulia, dkk (2017).

Formula Nanoemulgel Jumlah Bahan

(%b/b)

Minyak Kelapa Murni 7,12 Gel Basis Gel

Xanthan gum 1,03

Aquades 48,30

Phenoxyethanol 0,72

3.16.1 Pembuatan Sediaan Nanoemulsi Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit

Pada penelitian ini dilakukan modifikasi formula dari penelitian Mulia, dkk (2017) dengan melakukan uji pendahuluan (orientasi). Orientasi yang dilakukan untuk mengetahui kesesuaian komposisi rasio konsentrasi terhadap VCO dan Surfaktan yang digunakan untuk menghasilkan sediaan nanoemulsi Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan Rimpang Kunyit yang transparan dan stabil. Hasil orientasi formula nanoemulsi kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit dengan rasio Ekstrak : VCO : Surfaktan yang sesuai yaitu 1:3:5 yang dapat dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3 Persentase komposisi bahan dalam nanoemulsi kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit

Bahan Nanoemulsi Jumlah Bahan (%b/b)

Ekstrak Kombinasi 3

Formulasi nanoemulsi kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit dibuat dengan metode homogenisasi bertekanan tinggi memiliki tahapan sebagai berikut:

1. Disiapkan Fase Minyak, yaitu ekstrak ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit digerus terlebih dahulu lalu dituang perlahan-lahan Span 80 sambil digerus agar tercampur rata, kemudian dituang perlahan-lahan Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil) sambil digerus agar tercampur semua.

2. Disiapkan Fase Air dengan melarutkan Metil Paraben dan Natrium Metabisulfit dalam Aquades di beaker glass kemudian dipanaskan di atas hotplate hingga larut sempurna, setelah itu larutan dibiarkan agar suhunya kembali menjadi suhu kamar. Ditambahkan Tween 80 ke dalam fase air sambil diaduk menggunakan pengaduk magnetik pada kecepatan lambat sebesar 400 rpm agar tidak berbusa.

3. Fase minyak diteteskan secara perlahan-lahan ke dalam fase air sambil dihomogenkan dengan pengaduk magnetik pada kecepatan 3000 rpm selama 3 jam pada suhu kamar hingga homogen dan terbentuk nanoemulsi yang transparan.

3.16.2 Pembuatan Basis Gel

Sebelum dilakukan pembuatan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit, dilakukan pembuatan basis gel menggunakan karbopol

940 dengan variasi konsentrasi kemudian dipilih konsentrasi karbopol yang terbaik.

Konsentrasi sediaan yang lazim digunakan dalam gelling agent yaitu sebesar 0,5 - 2,0% (Rowe dkk., 2009). Pada penelitian ini dilakukan modifikasi komposisi basis gel, konsentrasi karbopol yang digunakan pada orientasi hanya 0,5-1,0%. Setelah dilakukan orientasi, didapatkan konsentrasi karbopol 940 yang sesuai yaitu 1%, karena saat orientasi dengan konsentrasi karbopol 940 1% didapatkan hasil sediaan yang semipadat, daya sebar yang kecil, dan tidak mudah mengalir.

Prosedur pembuatan gel yaitu ditimbang masing-masing bahan terlebih dahulu. Dilarutkan metil paraben dan natrium metabilsulfit dalam akuades panas.

Karbopol 940 ditaburkan di atas akuades panas yang berada di dalam lumpang panas, ditutup dan dibiarkan hingga terdispersi seluruhnya, selanjutnya dihomogenkan di dalam lumpang sambil ditetesi sedikit demi sedikit TEA hingga terbentuk basis gel yang transparan dan homogen. Persentase komposisi bahan untuk pembuatan basis gel dapat dilihat pada Tabel 3.4.

Tabel 3.4 Persentase komposisi bahan dalam basis gel

Bahan Basis Gel Konsentrasi (%b/b)

Karbopol 940 1

TEA q.s

Akuades 100

3.16.3 Pembuatan Sediaan Nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Rimpang Kunyit dan Daun Sendok

Pembuatan nanoemulgel dibuat dengan mencampurkan sediaan nanoemulsi dan basis gel dengan perbandingan tertentu. Pada orientasi formula nanoemulgel telah dilakukan percobaan pembuatan sediaan dengan berbagai perbandingan nanoemulsi dan basis gel. Hasil orientasi dapat dilihat pada Tabel 3.5

Tabel 3. 5 Perbandingan nanoemulsi dan gel Perbandingan Nanoemulsi : Gel

Keterangan

Nanoemulsi Gel

60 40 sediaan semi padat dan daya sebar yang kecil (< 5cm)

45 55 sediaan semi padat dan daya sebar yang bagus (5-7cm)

50 50 sediaan cair dan daya sebar yang terlalu lebar (> 7cm)

Dari hasil orientasi orientasi tersebut didapatkan hasil perbandingan yang paling sesuai tampilan fisik dan kekentalannya pada perbandingan 45:55 yaitu masih berwarna hijau tua, sediaan semi padat, mudah mengalir, dan daya sebar yang baik. Jumlah komposisi bahan dalam nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit dan dapat dilihat pada Tabel 3.6

Tabel 3.6 Persentase komposisi bahan dalam nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit

Bahan Nanoemulgel

Prosedur pembuatan sediaan nanoemulgel Kombinasi Ekstrak Daun Sendok dan rimpang kunyit sebagai berikut:

1. Nanoemulsi dibuat sesuai prosedur dan formula pada bagian 3.16.1 dan Basis gel dibuat sesuai prosedur dan formula pada bagian 3.16.2.

2. Nanoemulsi yang terbentuk ditetesi secara perlahan-lahan ke dalam basis gel dengan perbandingan 45:55 (nanoemulsi:basis gel) sambil diaduk dengan kecepatan 400 rpm sampai homogen, kemudian dilakukan pengadukan menggunakan homogenizer dengan berbagai kecepatan pengadukan.

3.16.4..Pembuatan Sediaan Nanoemulgel Kombinasi Daun Sendok dan Rimpang Kunyit Dengan Berbagai Kecepatan Pengadukan

Dalam proses pembuatan sediaan nanoemulgel ada beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah kecepatan pengadukan. Untuk variasi kecepatan pengadukan dalam Pembuatan sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan kunyit dapat dilihat pada Tabel 3.7.

Tabel 3.7 Variasi kecepatan pengadukan dalam pembuatan sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit

Formula Kecepatan

Pengadukan Suhu Waktu

F1 6000rpm Kamar (28±2°C) 10menit

F2 9000rpm Kamar (28±2°C) 10menit

F3 12000rpm Kamar (28±2°C) 10menit

F4 15000rpm Kamar (28±2°C) 10menit

Untuk komposisi bahan dapat dilihat pada Tabel 3.6 dan prosedur pembuatan sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit dapat

Untuk komposisi bahan dapat dilihat pada Tabel 3.6 dan prosedur pembuatan sediaan nanoemulgel kombinasi ekstrak daun sendok dan rimpang kunyit dapat