• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Hasil Uji Instrumen Penelitian

3. Hasil Uji Hipotesis

a. Koefisien Determinasi

Dalam uji regresi linear berganda ini dianalisis pula besarnya koefisien determinasi (R2). Uji koefisien determinasi dalam penelitian ini digunakan untuk melihat besar pengaruh variabel independen (investment opportunity set, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris dan ukuran komite audit) terhadap variabel dependen (kinerja perusahaan).

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 ,367a ,135 ,100 ,033540469 1,410

a. Predictors: (Constant), KA, IOS, DK, KM c. Dependent Variable: ROA

58

Tabel 4.8

Hasil Koefisien Determinasi

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate 1 ,367a ,135 ,100 ,033540469

a. Predictors: (Constant), KA, IOS, DK, KM

b. Dependent Variable: ROA

Sumber : Output SPSS

Berdasarkan tabel 4.8 mengenai hasil uji koefisien determinasi (R2) besarnya nilai adjusted R2 square adalah 0,100, hal ini berarti 10% variabel kinerja perusahaan dapat dijelaskan oleh keempat variabel independen, yaitu investment opportunity set (IOS), kepemilikan manajerial (KM), ukuran dewan komisaris (KM), ukuran komite audit (KA). Sedangkan sisanya yaitu 90% (100% − 10%) dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model ini. Variabel-variabel tersebut antara lain strktur modal, komisaris independen, dewan direksi, ukuran perusahaan, kepemilikan institusional dan sebagainya.

b. Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)

Uji stastistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh masing-masing variabel independen secara individual dalam menerangkan variabel dependen. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 4.9.

59

Tabel 4.9

Hasil Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) ,098 ,050 1,972 ,051 IOS ,026 ,008 ,318 3,408 ,001 KM -4,195E-005 ,001 -,006 -,057 ,955 DK -,002 ,002 -,090 -,918 ,361 KA -,022 ,016 -,136 -1,388 ,168 a. Dependent Variable: ROA

Sumber : Output SPSS

Hasil pengujian terhadap koefisien regresi linier berganda menghasilkan model berikut ini:

ROA = 0,098+ 0,026IOS − 0,00004195KM – 0,002DK − 0,022KA Persamaan regresi di atas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1) Koefisien konstanta sebesar 0,098 menjelaskan bahwa kinerja perusahaan akan bernilai 0,098 apabila masing-masing variabel

investment opportunity set, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris, ukuran komite audit bernilai 0.

2) Variabel investment opportunity set memiliki koefisien regresi sebesar 0,026. Nilai koefisien regresi positif menunjukkan bahwa

investment opportunity set berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini menggambarkan bahwa jika setiap kenaikkan satu persen variabel investment opportunity set, dengan asumsi

60 variabel lain tetap maka akan menaikkan kinerja perusahaansebesar 0,026.

3) Variabel kepemilikan manajerial memiliki koefisien regresi sebesar

− 0,00004195. Nilai koefisien regresi negatif menunjukkan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini menggambarkan bahwa jika setiap kenaikkan satu persen variabel kepemilikan manajerial, dengan asumsi variabel lain tetap maka akan menurunkan kinerja perusahaan sebesar 0,00004195.

4) Variabel ukuran dewan komisaris memiliki koefisien regresi sebesar

– 0,002. Nilai koefisien regresi negatif menunjukkan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini menggambarkan bahwa jika setiap kenaikkan satu persen variabel ukuran dewan komisaris, dengan asumsi variabel lain tetap maka akan menurunkan kinerja perusahaansebesar – 0,002.

5) Variabel ukuran komite audit memiliki koefisien regresi sebesar − 0,022. Nilai koefisien regresi negatif menunjukkan bahwa ukuran komite audit berpengaruh negatif terhadap kinerja perusahaan. Hal ini menggambarkan bahwa jika setiap kenaikkan satu persen variabel ukuran komite audit, dengan asumsi variabel lain tetap maka akan menurunkan kinerja perusahaansebesar – 0,022.

61 Berdasarkan tabel 4.9 mengenai uji signifikan parameter individual (uji statistik t) menunjukkan bahwa satu dari empat variabel independen yang dimasukkan ke dalam model regresi berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hal ini terlihat dari tingkat signifikansi untuk variabel investment opportunity set (IOS) sebesar 0,001 dengan tingkat signifikansi di bawah 0,05. Sedangkan ketiga variabel lainnya, yaitu kepemilikan manajerial (KM), ukuran dewan komisaris (DK) dan ukuran komite audit (KA) tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan karena memiliki tingkat signifikansi di atas 0,05. Berikut ini akan dijelaskan mengenai uji signifikansi parameter individual (uji statistik t) pada tabel 4.9 sebagai berikut:

1) Pengaruh antara Investment Opportunity Set dengan Kinerja perusahaan

Berdasarkan tabel 4.9, investment opportunity set (IOS) memiliki nilai t hitung sebesar 3,408 dan tingkat signifikasi 0,001. Tingkat signifikasi 0,001 menunjukkan tingkat signifikasi lebih kecil dari 0,05 yang berarti investment opportunity set berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Berdasarkan kriteria yang disebutkan bahwa hipotesis H1 diterima apabila koefisien investment opportunity set berpengaruh terhadap variabel kinerja perusahaan, dimana tingkat signifikansi berada di bawah 0,05 dan bertanda positif. Dari hasil pengujian didapatkan tingkat signifikansi investment opportunity set berada

62 di bawah 0,05, yaitu sebesar 0,001, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis H1 diterima.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Christiningrum (2015) yang menyatakan bahwa

investment opportunity set berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan yaitu karena sebuah perusahaan dengan IOS tinggi biasanya membutuhkan dana yang lebih besar untuk membiayai barang modal, dan akan mencoba untuk menemukan sumber-sumber pendanaan di pasar modal. Perusahaan cenderung untuk tidak bergantung pada sumber pendanaan dari bank ketika nilai jaminan yang diadakan tidak mencukupi. Upaya untuk mendapatkan dana dari pasar modal harus didukung oleh kinerja akuntansi yang baik, seharusnya perusahaan akan berusaha untuk menyajikan kinerja yang positif melalui ROA yang baik kepada calon investor. Hasil penelitian ini juga konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Sun dkk, (2014) yang menyatakan bahwa investment opportunity set berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan setelah diterapkannya peraturan Sarbanex- Oxley.

Hal berbeda dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Marinda dkk, (2014) yang menyatakan bahwa investment opportunity set tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan yaitu karena penambahan jumlah aktiva tidak selalu

63 mempengaruhi kinerja keuangan sehingga menyebabkan dana yang dimiliki perusahaan yang digunakan untuk penambahan aktiva tidak dapat digunakan untuk kegiatan perusahaan yang lebih efektif sehingga dapat meningkatkan kinerja perusahaan.

Dapat disimpulkan bahwa investment opportunity set

berpengaruh terhadap kinerja perusahaan karena investasi yang dilakukan perusahaan dengan menambah aset yang akan digunakan untuk kebutuhan kegiatan operasional perusahaan sehingga memberikan keuntungan lebih yang dihasilkan dari aset yang diinvestasikan tersebut untuk perusahaan.

2) Pengaruh antara Kepemilikan Manajerial dengan Kinerja Perusahaan

Berdasarkan tabel 4.9, kepemilikan manajerial (KM) memiliki

nilai t hitung sebesar −0,057 dan tingkat signifikasi 0,955. Tingkat signifikasi 0,955 menunjukkan tingkat signifikasi lebih besar dari 0,05 yang berarti kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Berdasarkan kriteria yang disebutkan bahwa hipotesis H2 diterima apabila koefisien kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap variabel kinerja perusahaan, dimana tingkat signifikansi berada di bawah 0,05 dan bertanda positif. Dari hasil pengujian

64 didapatkan tingkat signifikansi kepemilikan manajerial berada di atas 0,05, yaitu sebesar 0,955, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis H2 ditolak.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Widagdo dan Chariri (2014) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan karena pihak manajemen yang memiliki saham dalam jumlah kecil, akan membuat pemegang saham lain berusaha mengawasi dan mempengaruhi pengambilan keputusan manajemen sehingga proses pengambilan keputusan menjadi tidak fleksibel dan lambat. Ini mungkin terjadi jika dilihat adanya sistem paternalistik di Indonesia, dimana para pemegang saham mayoritas ingin ikut serta dalam pengambilan keputusan manajerial. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arifani (2013) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan karena kepemilikan manajerial yang minoritas tidak dapat mempengaruhi peningkatan kinerja keuangan karena pengambilan keputusan manajemen dalam rangka untuk meningkatkan kinerja keuangan masih dipengaruhi oleh pemegang saham yang lebih besar.

Hasil berbeda ditunjukan oleh penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Prihatiningtyas (2014) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap kinerja

65 perusahaan karena peningkatan kepemilikan saham oleh manajer perusahaan diharapkan akan dapat mengurangi agency problem dalam perusahaan. Rendahnya agency problem mencerminkan tidak adanya konflik kepentingan antara manajer perusahaan dan pemegang saham, sehingga akan meningkatkan nilai perusahaan. Besar kecilnya jumlah kepemilikan saham manajerial dalam perusahaan dapat mengindikasikan adanya kesamaan (congruence) kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham. Perusahaan dengan jumlah kepemilikan saham manajerial yang semakin besar seharusnya mempunyai konflik keagenan yang rendah dan biaya keagenan yang rendah pula. Konflik keagenan yang rendah dapat dapat direfleksikan dari tingginya tingkat perputaran aktiva perusahaan dan rendahnya beban operasi terhadap penjualan. Penelitian yang dilakukan oleh Laksana (2015) juga menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja perusahaan karena dengan meningkatnya kepemilikan manajerial, maka keputusan yang diambil oleh dewan akan lebih cenderung untuk menguntungkan dirinya dan secara keseluruhan akan merugikan perusahaan sehingga kemungkinan kinerja keuangan perusahaan akan cenderung mengalami penurunan.

Dapat disimpulkan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan karena saham

66 yang dimiliki oleh pihak manajemen memiliki saham dalam jumlah kecil, sehingga pemegang saham yang memiliki dalam jumlah besar ingin ikut serta dalam pengambilan keputusan manajerial yang menyebabkan proses pengambilan keputusan menjadi tidak efektif dan cenderung lebih lambat. Hal ini juga didukung oleh nilai kepemilikan manajerial perusahaan yang diteliti pada penelitian ini menunjukan jumlah kepemilikan manajerial yang dimiliki pihak manajemen baik komisaris maupun direksi masih sangat kecil, sehingga pemegang saham dalam jumlah besar dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pengambilan keputusan perusahaan.

3) Pengaruh antara Ukuran Dewan Komisaris dengan Kinerja Perusahaan

Berdasarkan tabel 4.9, ukuran dewan komisaris (DK) memiliki

nilai t hitung sebesar −0,918 dan tingkat signifikasi 0,361. Tingkat signifikasi 0,361 menunjukkan tingkat signifikasi lebih besar dari 0,05 yang berarti ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Berdasarkan kriteria yang disebutkan bahwa hipotesis H3 diterima apabila koefisien ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap variabel kinerja perusahaan, dimana tingkat signifikansi

67 berada di bawah 0,05 dan bertanda positif. Dari hasil pengujian didapatkan tingkat signifikansi kepemilikan manajerial berada di atas 0,05, yaitu sebesar 0,361, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis H3 ditolak.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lukas dan Basuki (2015) yang menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan karena dewan komisaris tidak terlibat langsung dalam kegiatan operasional. Peran mereka hanya mengawasi dan memberikan nasihat kepada direksi. Sebagian besar keputusan dibuat oleh direksi dan manajemen. Jadi, komisaris mungkin tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kinerja keuangan perbankan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Velnampy (2013) juga menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan karena tugas dewan komisaris adalah mengawasi dan memberikan nasihat kepada pihak manajemen, tetapi pihak manajemen tidak melakukan pedoman tata kelola perusahaan dengan benar dan mengakibatkan perusahaan harus membayar lebih kesalahan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pihak manajemen sehingga kinerja perusahaan akan menurun untuk menutupi biaya atas kesalahan pengambilan keputusan tersebut.

68 Hal berbeda dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Martsila dan Meiranto (2013) yang menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan, karena ukuran dewan komisaris memberikan kontribusi pada peningkatan kinerja keuangan perusahaan. Peningkatan jumlah komisaris menyebabkan adanya pengawasan lebih ketat terhadap pihak manajer, sehingga pihak manajer lebih giat dalam meningkatkan performa badan usaha dan kemungkinan timbul penyelewengan terhadap sumber daya badan usaha rendah. Selain itu, ukuran dewan komisaris yang lebih besar dianggap mampu menstimulus pertukaran pengetahuan dan informasi antar anggota dewan komisaris. Penelitian yang dilakukan oleh Rachmad (2013) juga menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan karena fungsi pengawasan yang dilakukan dewan komisaris akan meminimalisir tindak manipulasi serta jumlah dewan komisaris dalam suatu perusahaan harus dalam keadaan optimal (tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit) agar mampu saling melengkapi dan dapat bekerja secara optimal.

Dapat disimpulkan bahwa ukuran dewan komisaris tdak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan karena pengambilan keputusan dilakukan oleh pihak manajemen karena dewan komisaris hanya bertugas mengawasi dan tidak terlibat

69 langsung dalam kegiatan operasional sehingga komisaris tidak memberikan pengaruh langsung terhadap kinerja perusahaan.

4) Ukuran Komite Audit (KA)

Berdasarkan tabel 4.9, ukuran komite audit (KA) memiliki

nilai t hitung sebesar −1,388 dan tingkat signifikasi 0,168. Tingkat signifikasi 0,168 menunjukkan tingkat signifikasi lebih besar dari 0,05 yang berarti ukuran komite audit tidak berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Berdasarkan kriteria yang disebutkan bahwa hipotesis H4 diterima apabila koefisien ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap variabel kinerja perusahaan, dimana tingkat signifikansi berada di bawah 0,05 dan bertanda positif. Dari hasil pengujian didapatkan tingkat signifikansi kepemilikan manajerial berada di atas 0,05, yaitu sebesar 0,168, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis H4 ditolak.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rachmad (2013) yang menyatakan bahwa ukuran komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan karena jumlah komite audit yang dimiliki oleh perusahaan belum bisa menjamin bahwa laporan yang dikeluarkan oleh manajemen tidak akan menyesatkan pihak-pihak terkait, dan inefektivitas komite audit dikarenakan kurangnya kefokuskan dalam proses pengawasan. Selain itu, variabel komite audit tidak

70 signifikan pada kinerja dikarenakan keberadaan komite audit dalam sebuah perusahaan tergolong masih baru sehingga memicuh inefektivitas dan tidak memberikan pengaruh pada kinerja perusahaan secara keseluruhan. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widagdo dan Chariri (2014) yang menyatakan bahwa masih banyak terjadi variasi-variasi yang sangat tinggi dalam praktik komite audit serta kerancuan pemahaman tentang fungsi, tugas, dan tanggung jawab komite audit. Kerancuan dan variasi pemahaman yang begitu tinggi pada komite audit ditunjukan dengan seringnya komite audit terlibat dalam kegiatan kegiatan rutin yang bersifat operasional, sehingga komite audit tidak dapat menjalankan tugas utamanya yaitu membantu principal dalam mengawasi agentnya, hal ini menyebabkan independensi komite audit menjadi bias.

Hal berbeda dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arfani (2013) yang menyatakan bahwa komite audit berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan dapat diterima karena semakin banyak komposisi komite audit maka kinerja keuangan akan terawasi dengan baik sehingga kinerja akan meningkat

Dapat disimpulkan bahwa ukuran komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan karena ukuran komite audit tidak menjamin kinerja suatu perusahaan dapat meningkat, hal itu dapat disebabkan oleh kemungkinan kurangnya

71 pengalaman dari auditor tersebut sehingga tidak dapat memberikan saran yang tepat kepada pihak manajemen bahkan akibat kurangnya pemahaman yang diterima auditor tersebut bisa menyebabkan pengambilan keputusan yang dilakukan menjadi menyesatkan.

c. Uji Signifikansi Parameter Simultan (Uji Statistik F)

Uji signifikasi simultan (uji statistik F) dilakukan untuk menguji apakah semua variabel independen dalam model persamaan regresi mempunyai pengaruh secara bersama-sama atas variabel dependen. Uji signifikasi simultan (uji statistik F) dilakukan pada tingkat signifikasi 0,05. Apabila nilai probability F lebih besar dari 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak, sebaliknya jika nilai probability F lebih kecil daripada 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Berikut ini merupakan hasil uji signifikasi simultan (uji statistik F):

Tabel 4.10 Hasil Uji Statistik F

Berdasarkan tabel 4.10 mengenai tabel uji signifikasi simultan (uji statistik F) atau uji ANOVA dapat diketahui bahwa didapat nilai

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1

Regression ,018 4 ,004 3,896 ,006b

Residual ,112 100 ,001 Total ,130 104

a. Dependent Variable: ROA

72 F hitung sebesar 3.896 dengan probabilitas 0,006. Karena probabilitas 0,006 lebih kecil dari 0,05 maka model persamaan regresi ini dapat digunakan untuk memprediksi kinerja perusahaan (ROA) atau dapat dikatakan bahwa investment opportunity set (IOS), kepemilikan manajerial (KM), ukuran dewan komisaris (DK) dan ukuran komite audit (KA) bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja perusahaan (ROA).

Hasil uji secara simultan menunjukkan bahwa investment opportunity set, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris dan ukuran komite audit berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap kinerja perusahaan. Hal tersebut dibuktikan dengan tingkat signifikansi 0,006 < 0,05. Hal ini menunjukkan apabila investment opportunity set, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris dan ukuran komite audit secara bersama-sama pada kinerja perusahaan, maka akan meningkatkan kinerja perusahaan.

Christiningrum (2015) dan Sun dkk, (2014) membuktikan bahwa

investment opportunity set berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan. Putri dan Prihatiningtyas (2014) membuktikan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Laksana (2015) yang menyatakan kepemilikan manajerial berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Martsila dan Meiranto (2013)

73 membuktikan bahwa ukuran dean komisaris berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Penelitan tersebut sejalan dengan yang dilakukan oleh Rachmad (2013) yang menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Penelitian yang dilakukan Arfani (2013) menyatakan bahwa komite audit berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan.

Dapat disimpulkan bahwa investment opportunity set, kepemilikan manajerial, ukuran dewan komisaris dan ukuran komite audit apabila secara bersama-sama berpengaruh terhadap kinerja perusahaan dimana dengan investasi yang tepat terhadap aset yang akan digunakan, kepemilikan manajerial yang dapat memberikan kontribusi dalam pengambilan keputusan, dewan komisaris yang memberikan pengawasan dan nasihat yang tepat untuk perusahaan, serta komite audit yang memiliki pengalaman yang baik dapat meningkatkat kinerja perusahaan menjadi lebih baik.

74

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait