• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Hasil Uji analisis Data dan Pembahasan

3. Hasil Uji Hipotesis Penelitian

a. Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Pada model regresi berganda penggunaan adjusted R2 (Adj R2), atau

koefisien determinasi yang telah disesuaikan, lebih baik dalam melihat seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen bila dibandingkan dengan R2.

Berikut ini disajikan hasil uji Adj R2 penelitian dapat dilihat

pada tabel 4.7 sebagai berikut:

Tabel 4.7 Hasil Adj R2 Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .423a .179 .163 .15993

a. Predictors: (Constant), PAD, GROWTH, SKPD b. Dependent Variable: ICW

Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa angka koefisien korelasi (R) menunjukkan nilai sebesar 0,423 yang menandakan bahwa hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen adalah lemah karena memiliki nila R < 0,5.

Adapun nilai Adj R2 sebesar 0,163 menunjukkan bahwa hanya sebesar

16,3% variasi variabel dependen (ICW) yang dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen (GROWTH, PAD dan SKPD) dalam penelitian ini. Hal ini menandakan lemahnya kemampuan variabel independen (GROWTH, PAD dan SKPD) menjelaskan variabel dependen (ICW), dikarenakan penelitian ini hanya memperhatikan angka-angka dalam laporan keuangan Pemerintah Daerah.

Sedangkan sisanya yang sebesar 83,7% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian, seperti ukuran pemerintah daerah, jumlah penduduk yang mungkin dapat mempengaruhi kelemahan pengendalian intern Pemerintah Daerah.

Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian Martani dan Zaelani (2011) yang seluruh variabel dalam penelitiannya hanya menyumbang 25% dari keseluruhan variabel independen. Artinya masih terdapat 75% variabel-variabel independen lain yang belum diketahui dan diteliti secara ilmiah mempengaruhi kelemahan pengendalian intern Pemerintah Daerah.

b. Uji Signifikansi Simultan (Uji F)

Uji F bertujuan untuk mengetahui apakah seluruh variabel independen secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Signifikansi model regresi pada penelitian ini diuji dengan melihat nilai signifikansi (sig.) yang ada di tabel 4.8 di halaman selanjutnya.

Berikut ini disajikan hasil uji F penelitian dapat dilihat pada tabel 4.8 sebagai berikut:

Tabel 4.8 Hasil Uji F

ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression .848 3 .283 11.050 .000a

Residual 3.888 152 .026

Total 4.735 155

a. Predictors: (Constant), PAD, GROWTH, SKPD b. Dependent Variable: ICW

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa nilai F hitung dengan nilai sig. sebesar 0,000. Hal ini menandakan bahwa model regresi dapat digunakan untuk memprediksi tingkat kelemahan pengendalian intern karena nilai sig. <alpha (α = 5%). Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara GROWTH, PAD dan SKPD secara simultan terhadap kelemahan pengendalian intern.

c. Hasil Uji Signifikansi Paramater Individual (Uji t)

Uji t bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh variabel independen secara individual (parsial) yaitu rasio pertumbuhan ekonomi (GROWTH), Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Kompleksitas Pemerintah Daerah yang dilihat dari jumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menerangkan variabel dependen yaitu kelemahan pengendalian intern (ICW).

Signifikansi model regresi pada penelitian ini diuji dengan melihat nilai sig. yang ada di tabel 4.9 sebagai berikut.

Tabel 4.9 Hasil Uji t Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) .075 .088 .859 .392 GROWTH -.014 .118 -.012 -.116 .907 PAD -.007 .015 -.034 -.449 .654 SKPD 1.755 .429 .437 4.086 .000

Berdasarkan pada hasil analisis data diperoleh persamaan model regresi sebagai berikut:

ICW = 0,075 – 0,014 GROWTH – 0,007PAD + 1,755 SKPD+ε Berdasarkan pengujian regresi berganda (multiple regression) sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, interpretasi hasil disajikan dalam tiga bagian. Bagian pertama membahas pengaruh pertumbuhan ekonomi (GROWTH) terhadap pengendalian intern (ICW) (H1). Bagian kedua membahas pengaruh PAD (PAD) terhadap

pengendalian intern (ICW) (H2). Bagian ketiga membahas pengaruh

kompleksitas pemerintah daerah jumlah SKPD (SKPD) (H3). Ketiga

variabel independen yang dimasukkan dalam model dengan signifikansi 5% dan 1% dapat disimpulkan bahwa variabel GROWTH, PAD tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel ICW, sedangkan variabel SKPD berpengaruh signifikan terhadap variabel ICW.

d. Hasil Uji Hipotesis dan Pembahasan

1) Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi (GROWTH) terhadap Kelemahan Pengendalian Intern (ICW) (H1).

Tabel 4.9 di atas menunjukkan bahwa variabel GROWTH tidak signifikan, hal ini dapat dilihat dari Koefisien regresi GROWTH adalah sebesar -0,014 dengan nilai t hitung sebesar -0,116 dan nilai sig. sebesar 0,907. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tingkat signifikansi > 0,05 yang berarti berpengaruh secara negatif

dan tidak signifikan terhadap ICW, berarti kenaikan atau penurunan GROWTH tidak akan mempengaruhi kelemahan pengendalian intern, sehingga hipotesis ke-1 tidak berhasil didukung. Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh peneliti Petrovits, Shakespeare dan Shih (2010), Asbaugh-skife, Collins dan Kinney (2007) dan penelitian yang dilakukan Martani dan Zaelani (2011),

Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Swastia Nirmala dan Daljono (2012) dan Rakhmawati (2008), yang menyatakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi pemerintah daerah tidak memiliki pengaruh terhadap

kelemahan pengendalian intern. Hal ini disebabkan karena dalam penelitian ini menggunakan pengukuran variabel pertumbuhan ekonomi pemerintah daerah yang kurang tepat. Pengukuran variabel pertumbuhan ekonomi ini tidak tepat karena dalam penelitian ini hanya mengukur perubahan laju PDRB dari tahun 2010 ke tahun 2011, maka kelemahan- kelemahan pengendalian intern banyak ditemukan di Pemerintah Daerah dan belum diperbaiki kualitas pengendalian internalnya. Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo (2012) menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan terhadap 158 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD), ditemukan 1.796 kasus kelemahan Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang belum diperbaiki kualitas

pengendalian internalnya dengan potensi kerugian senilai Rp1,72 triliun.

Jika pengukuran perubahan laju pertumbuhan ekonomi ini dilakukan dalam beberapa tahun minimal lima tahun, kelemahan- kelemahan akan lebih sedikit ditemukan karena perusahaan sudah berusaha meningkatkan pengendalian internalnya. Hal tersebut yang membuat laju pertumbuhan ekonomi tidak memiliki pengaruh terhadap kelemahan pengendalian intern. Alasan lain yang menyebabkan variabel ini tidak signifikan adalah pemerintah daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi belum tentu memiliki pengendalian intern yang baik. Sehingga banyak pemerintah daerah yang tingkat pertumbuhan ekonomi tinggi ternyata ditemukan banyak temuan kecurangan oleh BPK. Hal ini terbukti dalam temuan kasus oleh BPK RI di Kabupaten Padang Lawas Utara yang memiliki pertumbuhan ekonomi sebesar 8,20% pada tahun 2011 namun memiliki banyak kasus kecurangan seperti di bidang administrasi pemerintahan, rekruitmen PNS yang diduga mematok sejumlah dana, penempatan jabatan struktural dengan tarif tertentu dan pemotongan setiap pencairan kegiatan pada setiap SKPD dan proyek Pemerintah Daerah.

Namun ada pula pemerintah daerah dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi memiliki pengendalian intern yang baik. Hal ini

Perwakilan Aceh yang memberikan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) kepada pemerintah Banda Aceh yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yaitu sebesar 6,02% pada tahun 2011 sehingga untuk kelima kali secara berturut-turut karena memiliki pengendalian intern yang baik dengan tidak ditemukannya pelanggaran yang fatal oleh BPK RI.

2) Pengaruh Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap Kelemahan Pengendalian Intern (ICW) (H2).

Variabel PAD menunjukkan koefisien regresi negatif -0,007 dengan nilai t hitung sebesar -0,449 nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,657. Hal ini berarti tingkat signifikansinya jauh diatas 0,05, sehingga hipotesis ke-2 tidak berhasil didukung. Penelitan ini tidak mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Mustikarini dan Fitriasari (2007), Martani dan Zaelani (2011) dan Kristanto (2006).

Penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yaitu oleh Hasmawati dan Raharja (2012) yang menyatakan tingkat kekayaan yang dimiiki perusahaan tidak memiliki pengaruh yang signifkan terhadap

kelemahan pengendalian intern. Hal ini dikarenakan Pemerintah Daerah yang memiliki PAD yang tinggi belum menjamin pengendaian internnya juga akan lebih baik daripada Pemerintah Daerah yang memiliki PAD lebih rendah. Penelitian lain yang mendukung adalah penelitian

Kristanto (2009) yang menyatakan bahwa PAD tidak berpengaruh terhadap kelemahan pengendalian internal yang disebabkan karena sejak semakin maraknya penangkapan pejabat daerah dan anggota DPRD ke pengadilan akibat kasus korupsi terhadap dana Anggaran Pendapatan dan APBD, membuat PAD sebagai salah satu obyek korupsi mendapat perhatian khusus (pengawasan) dalam peruntukkannya dengan tujuan agar Pemerintah Daerah efektif melakukan kebijakan demi kepentingan rakyat banyak.

3) Pengaruh Kompleksitas Pemerintah daerah (SKPD) terhadap Kelemahan Pengendalian Intern (ICW) (H3).

Variabel SKPD menunjukkan koefisien regresi positif sebesar 1,755 dengan nilai t hitung sebesar 4,086 nilai probabilitas signifikansi sebesar 0,000. Hal ini berarti tingkat signifikansinya jauh dibawah 0,05, sehingga hipotesis ke-3 diterima. Penelitan ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ashbaugh-skife, Collins, dan Kinney (2007) yang menyatakan bahwa jumlah kecamatan memiliki pengaruh signifikan terhadap kelemahan pengendalian intern.

Alasan yang mendasari adalah semakin kompleks suatu organisasi dalam menjalankan kegiatan dan memiliki area kerja yang tersebar akan semakin sulit pengendalian intern yang dijalankan. Organisasi akan menghadapi tantangan yang lebih besar dalam

mengimplementasikan pengendalian intern secara konsisten untuk setiap divisi yang berbeda dan kesulitan akan muncul ketika akan memulai konsoldasi laporan keuangan dari berbagai divisi atau cabang organisasi.

Alasan lain yang mendasari adalah pemerintah daerah yang memiliki satuan kerja yang banyak akan memiliki banyak diversifikasi sehingga akan menyebabkan semakin kompleksnya pengendalian intern yang dilakukan. Dengan demikian semakin banyak segmen atau cabang organisasi maka kasus kelemahan pengendalian intern yang terjadi akan semakin banyak seperti kesulitan implementasi sistem pengendalian intern di lingkungan SKPD yang berbeda, masalah pengawasan dari pemerintah daerah sampai saat pelaporan keuangan.

BAB V

Dokumen terkait