BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2. Undang-undang Pemerintah Daerah
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah menjelaskan bahwa pembentukan undang- undang tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah (UU No.33 Tahun 2004) dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan kepada pemerintahan daerah yang diatur dalam undang-undang tentang pemerintahan daerah. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah pusat dan Pemerintahan Daerah secara proporsional, demokratis, adil dan transparan dengan memperhatikan potensi, kondisi dan kebutuhan daerah.
Ada beberapa cakupan yang terdapat dalam UU No.33 Tahun 2004 yaitu antara lain:
a. Prinsip Kebijakan Perimbangan Keuangan.
Prinsip kebijakan perimbangan keuangan terdapat dalam pasal 2 dan pasal 3. Pelaksanaan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah tersebut perlu memperhatikan kebutuhan pembiayaan bagi pelaksanaan kewenangan yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, antara lain pembiayaan bagi politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, pengelolaan moneter dan fiskal, agama, serta kewajiban pengembalian pinjaman Pemerintah Pusat.
b. Dasar Pendanaan Pemerintah Daerah.
Dasar pendanaan pemerintah daerah terdapat dalam pasal 4. Pendanaan penyelenggaraan pemerintahan agar terlaksana secara efisien dan efektif serta untuk mencegah tumpang tindih ataupun tidak tersedianya pendanaan pada suatu bidang pemerintahan, maka diatur pendanaan penyelenggaraan pemerintahan. Penyelenggaraan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah dibiayai dari APBD, sedangkan penyelenggaraan kewenangan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab pemerintah dibiayai dari APBN, baik kewenangan Pusat yang didekonsentrasikan kepada Gubernur atau ditugaskan kepada pemerintah daerah dan/atau desa atau sebutan lainnya dalam rangka tugas pembantuan. c. Sumber Penerimaan Daerah.
Sumber penerimaan daerah terdapat dalam pasal 5, 6, 7, 8, 9. Penerimaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi terdiri atas pendapatan daerah dan pembiayaan. Pendapatan daerah bersumber dari: (1) Pendapatan Asli Daerah (PAD); (2) dana perimbangan; dan (3) lain-lain pendapatan. Pembiayaan bersumber dari: (1) sisa lebih perhitungan anggaran Daerah; (2) penerimaan pinjaman daerah; (3) dana cadangan daerah; (4) hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan.
d. Pendanaan Asli Daerah.
Pendanaan asli daerah terdapat dalam pasal 6,7,8,9. pendapatan asli daerah merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, yang bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam menggali pendanaan dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas desentralisasi. Pendapatan daerah bersumber dari: (1) pendapatan asli daerah; (2) dana perimbangan; (3) lain-lain pendapatan.
e. Dana Perimbangan.
Dana perimbangan terdapat dalam pasal 10 sampai dengan pasal 26. Dana perimbangan merupakan sumber pembiayaan yang berasal dari bagian daerah dari Pajak Bumi dan Bangunan, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, dan penerimaan dari sumber daya alam, serta dana alokasi umum dan dana alokasi khusus. Dana perimbangan ini terdiri atas: (1) dana bagi hasil; (2) dana alokasi umum; (3) dana alokasi khusus.
f. Lain-lain Pendapatan.
Lain-lain pendapatan terdapat dalam pasal 43 sampai dengan pasal 48 dalam lain-lain pendapatan selain hibah, undang-undang ini juga mengatur pemberian dana darurat kepada daerah karena bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi dengan dana APBD. Pemerintah juga dapat memberikan dana darurat pada daerah yang
mengalami krisis solvabilitas, yaitu daerah yang mengalami krisis keuangan berkepanjangan.
g. Pinjaman Daerah.
Pinjaman daerah terdapat pada pasal 49 sampai dengan pasal 56. Pinjaman daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima sejumlah uang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. Pinjaman daerah adalah salah satu alternatif sumber pembiayaan daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, termasuk untuk menutup kekurangan arus kas. Pinjaman daerah digunakan untuk membiayai kegiatan yang merupakan inisiatif dan kewenangan daerah berdasarkan peraturan perundang-undangan.
h. Obligasi Daerah.
Obligasi daerah terdapat pada pasal 57 sampai dengan pasal 65. Obligasi daerah merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah daerah yang ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. Obligasi ini tidak dijamin oleh pemerintah pusat (pemerintah) sehingga segala resiko yang timbul sebagai akibat dari penerbitan obligasi daerah menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Penerbitan surat utang merupakan bukti bahwa pemerintah daerah telah melakukan pinjaman/utang kepada pemegang surat utang tersebut. Pinjaman akan dibayar kembali sesuai dengan jangka waktu dan persyaratan yang
disepakati. Pemerintah daerah yang menerbitkan obligasi daerah berkewajiban membayar bunga secara berkala sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Pada saat jatuh tempo pemerintah daerah berkewajiban mengembalikan pokok pinjaman.
i. Pengelolaan Keuangan Dalam Rangka Desentralisasi.
Pengelolaan keuangan dalam rangka desentralisasi terdapat dalam pasal 66 sampai dengan pasal 86. Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang telah dilaksanakan sejak tahun 2001 adalah dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pembangunan nasional. Seiring dengan perubahan dinamika sosial politik, Pemerintah telah melakukan revisi beberapa materi dalam undang-undang otonomi daerah dan desentralisasi fiskal dengan ditetapkannya Undang-undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Substansi perubahan kedua undang-undang tersebut adalah semakin besarnya kewenangan Pemerintah Daerah dalam mengelola pemerintahan dan keuangan daerah. Pembangunan daerah diharapkan dapat berjalan sesuai dengan aspirasi, kebutuhan, dan prioritas daerah, sehingga dapat memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi regional, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
j. Dana Dekonsentrasi.
Dekonsentrasi terdapat dalam pasal 87 sampai dengan pasal 95. Pendanaan dalam rangka dekonsentrasi dilaksanakan setelah adanya pelimpahan wewenang pemerintah melalui kementerian negara/lembaga kepada gubernur sebagai wakil pemerintah di daerah didanai oleh pemerintah yang disesuaikan dengan wewenang yang dilimpahkan. Kegiatan dekonsentrasi di daerah dilaksanakan oleh SKPD yang ditetapkan oleh gubernur. Dana dekonsentrasi merupakan bagian anggaran kementerian negara/lembaga yang dialokasikan berdasarkan rencana kerja dan anggaran kementerian negara/lembaga dana dekonsentrasi disalurkan melalui rekening kas umum negara. Semua barang yang diperoleh dari dana dekonsentrasi menjadi barang milik negara yang dapat dihibahkan kepada daerah.
k. Dana Tugas Pembantuan.
Dana tugas pembantuan terdapat dalam pasal 96 sampai dengan 100. Dana tugas pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan. Sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang menugaskan. Penata keuangan dalam pelaksanaan tugas pembantuan dilakukan secara
terpisah dari penatausahaan keuangan dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan desentralisasi. Semua barang yang diperoleh dari dana tugas pembantuan menjadi barang milik negara dan dapat dihibahkan kepada Daerah. Barang milik negara yang dihibahkan kepada daerah dikelola dan ditatausahakan oleh daerah.
l. Sistem Informasi Keuangan Daerah.
Sistem informasi keuangan daerah terdapat dalam pasal 101 sampai dengan pasal 104. Informasi keuangan daerah adalah segala informasi yang berkaitan dengan keuangan daerah yang diperlukan dalam rangka penyelenggaraan sistem informasi keuangan daerah. Daerah menyampaikan informasi keuangan daerah yang dapat dipertanggungjawabkan kepada pemerintah.