HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Uji Hipotesis Satu
a. Kemampuan Pemecahan Masalah Tingkat Rendah
Pengujian hipotesis yang pertama dilakukan bertujuan untuk mengetahui manakah yang lebih efektif di antara model
pembelajaran STAD (Student Team Achievement Division)
dengan pendekatan PBL dan model pembelajaran individu
berbasis CLT (Cognitive Load Theory) ditinjau dari kemampuan
pemecahan masalah tingkat rendah dan juga tinggi.
Namun, sebelum itu harus dilakukan uji pengaruh kedua model pembelajaran terhadap kemampuan pemecahan masalah
tingkat rendah, dengan menggunakan uji repeated measured
MANOVA dengan bantuan program SPSS, pada masing masing tingkat kemampuan pemecahan masalah. Hasilnya adalah terdapat pengaruh secara signifikan di antara kedua model pembelajaran tersebut. Tentunya hal ini tidak akan lepas dari hasil belajar yang dimiliki masing-masing kelas.
Hasil belajar di sini meliputi skor kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah. Rerata skor yang diperoleh oleh siswa di kelas eksperimen model STAD dengan pendekatan PBL lebih besar dibandingkan dengan siswa di kelas eksperimen model individu berbasis CLT, yakni 72.0699 dan 59.9653 atau
. Berdasarkan data tersebut, kesimpulan akhir dari hasil pengujian hipotesis pertama adalah model STAD dengan
pendekatan PBL memiliki efektivitas lebih baik dibandingkan model pembelajaran individu berbasis CLT.
Hal ini dapat terjadi diduga karena terdapat redundacy effect
pada pembelajaran individu berbasis CLT. Seperti yang telah
diketahui pada bab II bahwa redundancy effect merupakan bagian
dari extraneous cognitive load (Retnowati, 2016: 3-4).
Extraneous cognitive load mempengaruhi kerja working memory
sehingga proses pengolahan informasi tidak optimal pada saat belajar (Sweller et al, 2011: 57).
Redundancy effect yang muncul diduga karena rangkuman.
Rangkuman tersebut dirancang agar dipelajari sebelum pengerjaan LKS dimulai. Namun, karena kondisi dilapangan ternyata tidak sekondusif perencanaan pembelajaran, maka rangkuman tersebut dipelajari sambil mengerjakan LKS. Rangkuman yang seharusnya membantu siswa belajar, sebaliknya
menjadi redundancy effect. Redundancy effect ini merupakan
bagian dari penyajian informasi yang tidak tepat (Retnowati, 2016: 3-4).
Untuk siswa yang membaca rangkuman sambil mengerjakan
LKS, hal yang terjadi tidak hanya redundancy effect, tapi juga
split attention. Split attention dapat mengalihkan perhatian siswa
menyebabkan pengolahan informasi yang tidak optimal (Retnowati, 2016: 3-4)
Sebagian siswa memilih untuk fokus dalam mengerjakan LKS saja. Mereka pun lebih memilih mengerjakan LKS langsung dibandingkan dengan membaca rangkuman secara bersamaan. Hal ini menyebabkan siswa lebih fokus pada cara melukis garis singgung dibandingkan ikut mempelajari pengertian dan sifat- sifat garis singgung lingkaran.
Siswa berkerja secara individual sehingga tidak saling mengingatkan satu sama lain tentang sifat-sifat apa saja yang harus diaplikasikan. Padahal pada penilaian tes, aspek yang sangat menentukan gambar siswa dilihat dari kesesuaian sifat dan juga pengertian garis singgung terhadap hasil akhir gambar siswa. Jika terdapat satu sifat saja yang tidak mereka pelajari maka bisa saja aplikasi dari sifat dan pengertian pun tidak tertuang secara utuh dalam tes dan menyebabkan skor mereka berkurang. Untuk itulah rangkuman seharusnya dialokasikan pada saat sebelum pengerjaan LKS.
Untuk kelas STAD dengan pendekatan PBL, rangkuman ini bisa saja mendukung siswa dalam proses pembelajarannya yang bersifat kooperatif. Rangkuman dapat menjadi suatu bahan ajar yang mampu mempermudah mereka mengasosiasikan instruksi,
isi materi pada rangkuman, dan percobaan menggambar yang mereka lakukan.
Selain itu keefektifan ini didukung dengan adanya hubungan antar grup dimana siswa saling bekerja sama, berkomunikasi, berbagi ide dalam menyelesaikan masalah sehingga PBL dapat berlangsung optimal (Arrends, 2007: 346-348). Hal lainnya yang mendukung adalah dengan belajar bersama, siswa dapat
mengamati rangkuman, berinteraksi, saling berbagi ide, prior-
knowledge, saling mengingatkan jika terjadi kesalahan.
Selain itu model memberikan pengaruh terhadap keefektifan pembelajaran walaupun tergolong kecil. Hal yang diduga
cenderung memengaruhi keefektifan adalah redundancy effect
dan split attention yang terjadi pada saat proses pembelajaran.
b. Kemampuan Pemecahan Masalah Tingkat Tinggi
Sama halnya pada tinjauan kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah. Hal yang ingin diketahui di sini adalah manakah di antara model STAD dengan pendekatan PBL dan model pembelajaran individu berbasis CLT yang lebih efektif ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi.
Sebelum menguji hal tersebut, harus diuji terlebih dahulu ada atau tidaknya pengaruh dari kedua model pembelajaran tersebut pada dua kelas eksperimen ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi. Menurut hasil pengujian hipotesis, telah
disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari kedua model pembelajaran tersebut pada dua kelas eksperimen ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari nilai rerata siswa pada kedua kelas eksperimen yang tidak memiliki selisih yang terlalu besar, yakni 48,2613 dan 41.4487.
Nilai tersebut cenderung rendah. Hal tersebut bisa jadi merupakan indikasi bahwa soal yang mereka kerjakan sulit. Soal kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi ini merupakan soal aplikasi yang juga menerapkan dasar-dasar pengetahuan untuk menyelesaikan soal kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah.
Soal tersebut sengaja dibuat lebih rumit dan aplikatif untuk mengetahui level kemampuan siswa dalam kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi. Hal lain yang menjadi dugaan penyebab nilai rerata yang cenderung kecil adalah siswa mengira soal yang diberikan merupakan soal yang tidak jauh beda kesulitannya dengan soal atau masalah pada LKS yang telah mereka kerjakan. Sehingga tidak diterapkan dengan optimal pula ketika mengerjakan soal yang lebih sulit seperti soal aplikasi.
Walaupun demikian, kelas eksperimen dengan penerapan model pembelajaran STAD-PBL memiliki skor kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi yang lebih besar dibandingkan
kelas dengan penerapan model pembelajaran individu-CLT. Hal ini disebabkan karena penerapan sifat dan pengertian dalam gambar yang telah siswa buat tidak optimal, seperti pada saat tes kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah berlangsung.
Penerapan sifat dan pengertian tersebut diawali karena
redundancy effect dan split attention dari rangkuman. Penerapan
tersebut tidak optimal pada tes kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah. Pada tes kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi soal bersifat aplikatif. Karena siswa tidak memiliki konsep materi yang cukup, maka dalam pengerjaan tes kemampuan tingkat tinggi tidak akan optimal.
Hasil analisis selanjutnya menerangkan bahwa efektivitas pembelajaran yang ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi, hampir tidak dipengaruhi oleh model pembelajaran. Diduga hal utama yang mempengaruhi hal tersebut
adalah adanya redundancy effect dan split attention pada saat
pembelajaran berlangsung.
2. Hasil Uji Hipotesis Dua
a. Kemampuan Pemecahan Masalah Tingkat Rendah
Pengujian hipotesis yang kedua dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perbedaan materi melukis pada kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah. Setelah dilakukan pengujian hipotesis, diketahui bahwa tidak ada
pengaruh yang signifikan pada perbedaan materi ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah pada siswa.
Hal ini didukung dengan nilai rerata tiap tes pada masing- masing kelas eksperimen, yang cenderung sama atau tidak memiliki selisih yang terlalu besar pada setiap tesnya. Nilai tersebut juga menunjukkan bahwa tidak ada materi yang terlalu sulit di antara ketiganya. Tidak adanya perbedaan pengaruh pada materi tersebut, disebabkan karena level kesulitan materi pada tes kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah relatif sama pada level masalah yang ada pada LKS. Sehingga pada setiap materi siswa hanya perlu menerapkan apa saja pengetahuan yang sudah mereka dapatkan dari proses pengerjaan LKS tersebut.
b. Kemampuan Pemecahan Masalah Tingkat Tinggi
Pengujian hipotesis yang kedua untuk kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi sebenarnya sama dengan kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah, yakni ingin mengetahui ada atau tidaknya pengaruh perbedaan materi. Setelah melalui pengujian hipotesis, diketahui bahwa terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi.
Hasil analisis selanjutnya yang didapat adalah perbedaan
0,405. Nilai tersebut menunjukan bahwa pengaruh yang ditimbulkan adalah sedang.
Jika ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi, maka efektivitas pembelajaran pada masing-masing kelas
eksperimen tidak hanya dipengaruhi pada redundancy effect dan
split attention. Namun juga jenis materi pembelajaran serta
kesulitannya.
Dari data di atas terlihat bahwa materi satu memiliki nilai rata-rata siswa paling kecil pada kedua kelas. Hal ini disebabkan karena materi yang diujikan tidak hanya terkait dengan materi melukis saja. Namun juga terdapat materi aplikasi teorema
Pythagoras.
Selain itu, tes pemecahan masalah tingkat tinggi pada materi satu dianggap sulit diduga karena adanya pemilihan bilangan yang kompleks, yakni bilangan riil bentuk akar. Akibatnya, bilangan seperti ini bisa saja membuat siswa merasa lebih sulit dalam menyelesaikan permasalahan. Kesulitan tersebut beresiko mengakibatkan kesalahan perhitungan dan berpengaruh pada skor yang didapatkan siswa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa materi pertama memiliki tingkat kompleksitas yang cukup tinggi dibanding soal tes pada materi lainnya. Menurut Kalyuga (2009: 332) banyaknya komponen serta kompleksnya suatu masalah
dapat mempengaruhi proses kognitif yang berat. Proses kognitif tersebut juga mempengaruhi penilaian akhir pada tes.
Tingkat kompleksitas soal yang tergolong tinggi menjadi
sumber intrinsic cognitive load. Intrinsic cognitive load ini juga
dapat mempengaruhi optimal atau tidaknya germane cognitive
load. Akibatnya pengelolaan informasi materi pembelajaran, tidak
optimal diolah oleh working memory (Retnowati, 2016: 2).
3. Hasil Uji Hipotesis Tiga
a. Kemampuan Pemecahan Masalah Tingkat Rendah
Pengujian hipotesis yang ketiga ini dilakukan untuk menguji perbedaan efektivitas model pembelajaran ditentukan oleh interaksi antara model dan materi ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah baik tingkat rendah maupun tingkat tinggi. Setelah dilakukan uji hipotesis, diketahui bahwa model dan materi pada kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah tidak memiliki interaksi yang signifikan.
Analisis selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah pengaruh dari interaksi antara model dan materi pembelajaran pada efektivitas pembelajaran di kedua model. Pengaruh interksi tersebut tidaklah besar bahkan mendekati nol. Artinya, hampir tidak ada pengaruh yang ditimbulkan dari interaksi tersebut. Hal ini sesuai dengan pernyataan sebelumnya bahwa tidak ada interaksi yang ditemukan secara signifikan.
Walaupun tidak memiliki interaksi namun dapat diketahui bahwa pada kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah di semua materi, kelas eksperimen dengan model pembelajaran STAD-PBL memiliki skor lebih baik daripada kelas eksperimen model pembelajaran individu-CLT.
Hal ini terjadi diduga karena pengaruh dari redundancy effect
dan split attention yang terjadi selama proses pembelajaran.
Keduanya ini timbul akibat rangkuman. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa alokasi waktu untuk rangkuman dialihkan menjadi bersamaan dengan pengerjaan LKS. Sehingga mempengaruhi pengelolaan informasi, pemahaman serta skor yang didapatkan oleh siswa.
b. Kemampuan Pemecahan Masalah Tingkat Tinggi
Lain halnya pada kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi. Terdapat interaksi pada materi kedua dan materi ketiga. Jika diukur berapa besar pengaruh interaksi tersebut, maka hasil yang didapat adalah pengaruh yang ditimbulkan tidak begitu besar. Hal ini dikarenakan interaksi hanya terdapat pada materi kedua dan materi ketiga. Tidak semua materi mengalami interaksi secara bersamaan.
Interaksi tersebut menggambarkan bahwa model pembelajaran STAD dengan pendekatan PBL lebih unggul pada materi kedua sedangkan pada materi ketiga justru sebaliknya. Terdapat interaksi
attention yang berasal dari rangkuman. Pada pertemuan materi LKS kedua, siswa mempelajari rangkuman tersebut bersamaan dengan pengerjaan LKS sedangkan pertemuan materi ketiga tidak.
Rangkuman untuk materi kedua dan materi ketiga digabung menjadi satu bendel. Hal ini dibuat dengan pertimbangan waktu yang tidak mencukupi apabila pada pertemuan ketiga harus ada alokasi waktu tersendiri untuk membaca rangkuman. Sehingga peneliti memutuskan untuk menggabung kedua materi rangkuman tersebut. Materi ketiga dipelajari pada pertemuan sebelumnya sehingga tidak berlangsung bersamaan dengan pengerjaan LKS ketiga. Hasilnya siswa pada kelas bermodel pembelajaran individu- CLT, dapat mengaplikasikan sifat dan pengertian pada materi ketiga lebih baik dibandingkan kelas STAD-PBL.
Hal tersebut dikarenakan siswa telah mempelajari dulu konsep penting dari rangkuman. Walaupun pengerjaan LKS ketiga terlaksana pada pertemuan berikutnya. Rangkuman tidak
menimbulkan redundancy effect dan juga split attention sehingga
pengelolaan informasi pada LKS menjadi optimal. Akibatnya penerapan konsep tersebut pada soal kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi juga optimal.
Namun, jika dibandingkan dengan kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah materi ketiga, model pembelajaran individu-CLT justru lebih rendah dari model pembelajaran STAD- PBL. Hal ini diduga karena siswa lebih terpaku pada cara melukis dan mengabaikan penerapan sifat yang ada pada rangkuman.
Seperti yang diketahui bahwa soal pemecahan masalah tingkat rendah hanya mencakup tiga tingkatan awal kognitif pada Taksonomi Bloom versi revisi (Anderson dan Karthwohl, 2012: 100-102). Artinya, tingkat kesulitan soal tersebut persis sama dengan yang baru mereka pelajari, dalam hal ini pada LKS. Sehingga siswa diduga lebih terfokus pada penerapan cara melukis untuk mesalah dengan level yang sama pada LKS.
Kembali pada pembahasan kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi. Tidak terlihat interaksi yang muncul pada materi pertama. Jika diamati melalui digram garis, maka model pembelajaran STAD-PBL lebih baik secara signifikan daripada model pembelajaran individu-CLT. Hal ini disebabkan karena pada saat pengerjaan LKS yang pertama, rangkuman dipelajari secara
bersamaan. Akibatnya terjadi redundancy effect dan split attention
seperti yang telah diuraikan sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, keefektifan pembelajaran antara kedua model cenderung dipengaruhi oleh tingkat kesulitan materi
soal, redundancy effect, dan split attention yang timbul pada saat
proses pembelajaran. Lain halnya dengan model pembelajaran, yang tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap efektivitasnya. Namun, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pembelajaran STAD-PBL lebih baik secara signifikan daripada pembelajaran individu-CLT. Hal tersebut telah ditinjau baik dari kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah dan juga tingkat tinggi.