• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

J. Teknik Pengumpulan Data

1. Data Posttest

Data posttest digunakan untuk memperoleh data kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah dan tingkat tinggi pada siswa, sesudah diberi perlakuan, tepatnya setiap akhir pembelajaran. Perlakuan di sini artinya adalah model pembelajaran yang diterapkan pada masing-masing kelas. Untuk kelas VIII C menggunakan model pembelajaran individual berbasis CLT sedangkan kelas VIII D menggunakan model pembelajaran STAD dengan pendekatan PBL. Banyaknya pertemuan yang dilaksanakan selama penelitian didesain sebanyak tiga kali.

Kriteria efektivitas kedua model dengan masing-masing pendekatan tersebut terhadap kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah dan tingkat tinggi, dilihat dari data statistik dengan menggunakan

Repeated Measured MANOVA. Untuk menentukan mana diantara

keduanya yang lebih efektif, dapat dilihat dari perbandingan nilai rata-rata yang lebih besar di antara kedua kelas eksperimen.

2. Data Non-tes

Data non-tes yang digunakan dalam penelitiaian ini diperoleh berdasarkan hasil observasi. Observasi yang dilakukan bertujuan untuk melihat keterlaksanaan pembelajaran matematika pada masing-masing kelas eksperimen, yakni kelas dengan model pembelajaran individual berbasis CLT dan kelas dengan model pembelajaran STAD dengan pendekatan PBL. Teknik observasi ini menggunakan lembar observasi.

Lembar observasi tersebut diisi dengan cara memberikan tanda centang pada kolom “ya” apabila aspek yang diamati terlaksana, memberikan tanda centang pada kolom “tidak” apabila aspek yang diamati tidak terlaksana, serta menuliskan deskripsi dari hasil pengamatan.

K. Teknik Analisis Data

1. Deskripsi Hasil Pelaksanaan Penelitian

Deskripsi hasil pelaksanaan ini merupakan uraian dari pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan. Pembelajaran yang dilakukan pada penelitian ini sebanyak tiga kali pertemuan. Masing-masing kelas eksperimen mendapatkan jumlah pertemuan yang sama. Kelas eksperimen yang ada pada kelas VIII C yakni pembelajaran dengan model individual berbasis CLT. Untuk kelas VIII D menggunakan model pembelajaran STAD dengan pendekatan PBL.

2. Analisis Deskriptif

a. Obsevarsi Keterlaksanaan Pembelajaran

Observasi keterlaksanaan pembelajaran didukung dengan adanya lembar observasi. Lembar observasi dikembangkan sesuai dengan prosedur eksperimen. Hal ini bertujuan untuk menjamin pembelajaran terlaksana sesuai dengan prosedur eksperimen. Data hasil observasi yang digunakan untuk penelitian ini diperoleh dari lembar observasi yang digunakan untuk kedua kelas eksperimen. Hasil observasi akan dianalisis berdasarkan jawaban pada lembar tersebut. Skor 1 untuk jawaban “ya” dan skor 0 untuk jawaban “tidak”. Perhitungan

presentase hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran (P) dapat dikalkulasikan dalam rumus berikut

%.

b. Kemampuan Pemecahan Masalah

Analisis deskriptif juga digunakan untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah siswa berdasarkan data posttest pada kedua kelas eksperimen. Teknik statistik yang digunakan dalam mendeskripsikan data penelitian ini, meliputi mean dan standar deviasi. Perhitungan analisis deskriptif untuk kemampuan pemecahan masalah baik tingkat rendah maupun tingkat tinggi dilakukan dengan bantuan program SPSS.

3. Analisis Data

a. Uji Prasyarat Analisis

1) Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini dilakukan pada ketiga tes kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah dan juga tes kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi pada masing-masing kelas eksperimen.

Pada sampel yang banyak, populasi dapat diasumsikan berdistribusi normal. Banyaknya sampel yang memenuhi asumsi tersebut adalah lebih dari 30 (Field, 2005: 138). Namun, pada

penelitian ini uji normalitas dilakukan untuk melihat gambaran persebaran data secara lebih jelas. Uji normalitas yang dilakukan adalah Skewness dan Kurtosis (Field, 2005:138). Uji Q-Q atau Q-Q

Test juga dilakukan sebagai pertimbangan lain dalam pengujian

normalitas (Field, 2005:164).

Ketentuan uji normalitas tes kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah dan juga tes kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi dengan menggunakan Skewness dan Kurtosis adalah sebagai berikut adalah sebagai berikut. Data berasal dari populasi yang berdistribusi normal apabila nilai mutlak dari Z skewness lebih dari 1,96 (p < 0,05). Ketentuan tersebut juga berlaku untuk Uji Kurtosis dengan mengamati nilai mutlak dari Z kurtosis (Field, 2005:138).

2) Uji Homogenitas

Asumsi lain adalah homogenitas. Walaupun pada penelitian eksperimen sampel yang diuji diasumsikan memiliki varian yang sama. Namun, peneliti juga perlu mempertimbangkan hasil uji homogenitas. Uji ini didasarkan pada kemampuan awal siswa yang ditunjukkan oleh nilai rata-rata matematika siswa yang diperoleh dari guru mata pelajaran yang bersangkutan (Sugijono, 2012: 214). Uji homogenitas pada penelitian ini menggunakan Uji Levene’s dengan bantuan program SPSS.

Ketentuan keputusan uji homogenitas varians kelompok data adalah sebagai berikut. Data kemampuan awal siswa, pada kelas

ekperimen dengan model STAD dengan pendekatan PBL dan pendekatan individu berbasis CLT, berasal dari populasi yang memiliki varians homogen apabila nilai signifikansi lebih dari 0,05. Keputusan uji dan kesimpulan diambil pada taraf signifikansi 0,05.

b. Uji Hipotesis

Uji hipotesis yang dilakukan bertujuan untuk menjawab rumusan masalah. Hasil uji tersebut kemudian dianalisis dari semua variabel terikat. Analisis tersebut dirangkum untuk menemukan dan menyimpulkan hasil penelitian.

Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan menggunakan uji

repeated measured MANOVA dengan bantuan program SPSS.

Penggunaan program SPSS bertujuan agar proses analisis data lebih teliti dan juga cepat.

Effect size dan diagram garis juga ditampilkan untuk

mengetahui pengukuran secara objektif dari pengaruh perlakuan yang diberikan. Rentang pengukuran tersebut adalah 0-1 (Field, 2005: 57). Nilai 1 mengindikasikan bahwa efek memiliki pengaruh sempurna. Menurut Cohen (1988), effect size terbagi menjadi tiga kategori antara lain, 1) efek kecil (0,20); 2) efek sedang (0,50); dan 3) efek besar (0,80).

Effect size yang digunakan dalam penelitian ini adalah partial

eta squared. Partial eta squared ) berfungsi untuk

dan memperhatikan pengaruh dari variabel lain (Field, 2005: 414- 415).

Selanjutnya data posttest digunakan sebagai landasan pengukuran kemampuan pemecahan masalah siswa. Data posttest ada dua, yakni tes kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah dan tingkat tinggi yang selanjutnya akan dianalisis masing-masing jenis tes tersebut per kelas eksperimen.

1) Uji Hipotesis Pertama

Untuk menjawab rumusan masalah yang pertama, maka kita perlu mengetahui apakah terdapat pengaruh secara signifikan pada kedua pembelajaran yang diterapkan ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah dan juga tingkat tinggi.

Ketentuan keputusannya adalah sebagai berikut. Tidak terdapat pengaruh secara signifikan model pembelajaran STAD dengan pendekatan PBL dan individual berbasis CLT pada kemampuan masalah pemecahan masalah tingkat rendah apabila nilai signifikansi ( yang didapatkan dari tabel Test of Between-Subject Effect, nilainya kurang dari 0,05. Ketentuan tersebut juga berlaku untuk kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi.

Setelah itu untuk mengetahui mana model yang lebih baik maka kita dapat melihat dari nilai rerata yang ada pada masing-masing kelas eksperimen. Berikut adalah hipotesisnya.

(i) Uji Hipotesis Pertama Ditinjau dari Kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah ataupun tingkat tinggi

Uji berikutnya yang dilakukan, yakni menemukan mana yang lebih efektif, model STAD dengan pendekatan PBL ataukah model individual berbasis CLT pada kemampuan masalah pemecahan masalah baik tingkat rendah ataupun tingkat tinggi.

Hipotesisnya adalah sebagai berikut.

: Model pembelajaran STAD dengan pendekatan PBL tidak lebih baik secara signifikan dari model individual berbasis CLT pada kemampuan masalah pemecahan masalah baik tingkat rendah ataupun tingkat tinggi.

: Model pembelajaran STAD dengan pendekatan PBL lebih baik secara signifikan dari model individual berbasis CLT pada kemampuan masalah pemecahan masalah tingkat rendah baik tingkat rendah ataupun tingkat tinggi.

:

: Keterangan:

: rata-rata nilai kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah pada kelas dengan model STAD dengan pendekatan PBL

: rata-rata nilai kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi pada kelas dengan model STAD dengan pendekatan PBL

: rata-rata nilai kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah pada kelas dengan model individual berbasis CLT

: rata-rata nilai kemampuan pemecahan masalah tingkat tinggi pada kelas dengan model individual berbasis CLT

Keputusan yang diambil apabila rata-rata nilai pada kelas dengan model STAD dengan pendekatan PBL lebih rendah atau sama dengan rata-rata nilai pada kelas dengan model individual-CLT maka artinya model pembelajaran STAD dengan pendekatan PBL tidak lebih baik secara signifikan dari model individual-CLT pada kemampuan masalah pemecahan masalah baik tingkat rendah ataupun tingkat tinggi.

2) Uji Hipotesis Kedua

Uji hipotesis kedua untuk menjawab rumusan masalah yang kedua, yaitu apakah perbedaan materi melukis geometri mempengaruhi efektivitas pembelajaran ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah tingkat rendah ataupun tingkat tinggi.

: Tidak terdapat terdapat pengaruh perbedaan materi melukis pada kemampuan pemecahan tingkat rendah ataupun tingkat tinggi. : Terdapat pengaruh perbedaan materi melukis pada kemampuan

pemecahan tingkat rendah ataupun tingkat tinggi. :

: atau atau

Uji pengaruh perbedaan materi ini dilakukan dengan menggunakan uji

repeated measured MANOVA dengan bantuan program SPSS.

Keputusan yang diambil apabila nilai signifikansi ( yang didapatkan dari tabel Tests of Within-Subjects Effects (baris “Materi”), nilainya lebih dari atau sama dengan 0,05, maka diterima.

Apabila ditolak maka analisis lebih lanjut yang harus dilakukan adalah menentukan materi mana yang paling sulit bagi siswa, sehingga mempengaruhi nilai tes kemampuan pemecahan masalah tingat rendah ataupun tingkat tinggi. Hal tersebut dapat dilihat dari total nilai rata-rata pada masing-masing tes. Total nilai rata-rata tes yang paling rendah merupakan salah satu indikasi bahwa tes tersebut merupakan tes paling sulit untuk siswa.

3) Uji Hipotesis Ketiga

Uji hipotesis ketiga untuk menjawab rumusan masalah yang ketiga, yaitu apakah perbedaan efektivitas model pembelajaran ditentukan oleh materi pembelajaran ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah baik tingkat rendah maupun tingkat tinggi. Untuk mengetahui hal tersebut, maka kita perlu mengetahui apakah terdapat interaksi atau tidak antara model dan materi pembelajaran.

Berdasarkan interaksi tersebut akan diketahui pula apakah efektivitas pembelajaran ditentukan atau tidak oleh materi

pembelajaran, ditinjau dari kemampuan pemecahan masalah baik tingkat rendah maupun tingkat tinggi.

(i) Hipotesis interaksi antara model pembelajaran dengan ketiga materi dilihat dari kemampuan pemecahan masalah matematika tingkat rendah.

Hipotesis yang digunakan sebagai berikut.

: Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan ketiga materi dilihat dari kemampuan pemecahan masalah matematika tingkat rendah.

: Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan ketiga materi dilihat dari kemampuan pemecahan masalah matematika tingkat rendah.

Keputusan yang diambil apabila nilai signifikansi ( yang didapatkan dari tabel Tests of Within-Subjects Effects (baris “Model*Materi”), nilainya lebih dari atau sama dengan 0,05, maka diterima.

Jika ditolak, maka analisis lebih lanjut yang perlu dilakukan adalah menentukan pada materi apa interaksi itu terjadi serta model mana yang lebih efektif pada interaksi tersebut. Jika terdapat grafik berupa dua ruas garis yang berpotongan, maka hal tersebut merupakan bentuk interaksi dari model pembelajaran dan materi. Pada ruas garis materi yang berpotongan, dapat dilihat manakah model pembelajaran yang lebih efektif pada masing-masing materi.

Analisis berikutnya yang dilakukan adalah menguji apakah model pembelajaran yang diterapkan memiliki perbedaan pengaruh pada masing-masing materi tes. Analisis ini menggunakan uji t. Keputusan yang diambil apabila nilai signifikansi ( yang didapatkan lebih dari atau sama dengan 0,05, maka artinya model pembelajaran yang diterapkan memiliki pengaruh pada hasil tes dalam suatu materi. (ii) Hipotesis interaksi antara model pembelajaran dengan ketiga

materi dilihat dari kemampuan pemecahan masalah matematika tingkat tinggi.

Hipotesis yang digunakan sebagai berikut.

: Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan ketiga materi dilihat dari kemampuan pemecahan masalah matematika tingkat tinggi.

: Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran dengan ketiga materi dilihat dari kemampuan pemecahan masalah matematika tingkat tinggi.

Keputusan yang diambil apabila nilai signifikansi ( yang didapatkan dari tabel Tests of Within-Subjects Effects (baris “Model*Materi”), nilainya lebih dari atau sama dengan 0,05, maka diterima.

Jika ditolak, maka analisis lebih lanjut yang perlu dilakukan adalah menentukan pada materi apa interaksi itu terjadi serta model mana yang lebih efektif pada interaksi tersebut. Jika terdapat grafik

berupa dua ruas garis yang berpotongan, maka hal tersebut merupakan bentuk interaksi dari model pembelajaran dan materi. Pada ruas garis materi yang berpotongan, dapat dilihat manakah model pembelajaran yang lebih efektif pada masing-masing materi.

Analisis berikutnya yang dilakukan adalah menguji apakah model pembelajaran yang diterapkan memiliki perbedaan pengaruh pada masing-masing materi tes. Analisis ini menggunakan uji t. Keputusan yang diambil apabila nilai signifikansi ( yang didapatkan lebih dari atau sama dengan 0,05, maka artinya model pembelajaran yang diterapkan memiliki pengaruh pada hasil tes dalam suatu materi.

BAB IV

Dokumen terkait