• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.2.2. Hasil Analisis Tahap Akhir

4.2.2.2. Hasil Uji Kesamaan Dua Varians

Uji kesamaan dua varians data post test digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan varians pada kelas sampel. Hasil uji kesamaan varians data

post test dari kelas eksperimen I dan eksperimen II disajikan dalam tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4 Hasil Uji Kesamaan Dua Varians Data Post Test

Data Fhitung F0,975(33;33) F0,025(33;33) Kriteria

Post

test 1,189 0,48 2,07

Kedua kelompok mempunyai varians yang sama (Sumber: olah data hasil penelitian)

Berdasarkan hasil perhitungan data post test diperoleh harga Fhitung =1,189, F0,975(33;33) = 0,48, dan F0,025(33;33) = 2,07. Oleh karena itu F0,975(33;33) < F <

F0,025(33;33) sehingga H diterima yang berarti kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II memiliki varians yang sama. Pehitungan uji kesamaan dua varians

post test terdapat pada lampiran 19. 4.2.2.3. Hasil Uji Hipotesis

Uji hipotesis ini digunakan untuk membuktikan kebenaran dari hipotesis yang diajukan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji t dua pihak dan uji t satu pihak kiri. Uji t dua pihak dan uji t satu pihak kiri dipilih karena data berdistribusi normal.

4.1.2.4.1. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Dua Pihak

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar antara kelas eksperimen I dengan kelas eksperimen II. Hasil perhitungan uji perbedaan dua rata-rata dua pihak data post test disajikan dalam tabel 4.5 berikut:

Tabel 4.5 Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Dua Pihak Data Post Test

Uji t Rata-rata kelas thitung ttabel Keterangan

Eksperimen 1 Eksperimen 2

Post test 78,53 71,78 2,657 2,00 Berbeda signifikan

(Sumber: olah data hasil penelitian)

Berdasarkan perhitungan uji perbedaan rata-rata post test antara kelas

eksperimen I dengan kelas eksperimen II, diperoleh thitung = 2,657 dan ttabel = 2,00. Karena berdasarkan analisis data menunjukkan thitung > ttabel, maka H

ditolak yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen I dengan kelas eksperimen II setelah kedua kelas tersebut diberi perlakuan yang berbeda. Perhitungan uji t dua pihak data post test terdapat pada lampiran 20.

4.1.2.4.2. Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Satu Pihak Kiri (Uji Satu Pihak) Uji t satu pihak kiri digunakan untuk membuktikan hipotesis yang menyatakan bahwa rata-rata nilai post test kelas eksperimen I lebih baik dari kelas eksperimen II. Hasil uji satu pihak dapat dilihat pada tabel 4.6.

Tabel 4.6 Hasil Uji Perbedaan Dua Rata-Rata Satu Pihak Kiri Kelas Rata-rata Varians dk thitung ttabel Kriteria Eksperimen I 78,53 108,94

60 2,66 1,671 Kelas eksperimen I lebih baik Eksperimen II 71,78 91,60

(Sumber: olah data hasil penelitian)

Berdasarkan perhitungan uji perbedaan rata-rata antara kelas eksperimen I dengan kelas eksperimen II, diperoleh thitung = 2,66 dan ttabel = 1,671. Karena thitung > ttabel maka H diterima yang berarti bahwa rata-rata kelas eksperimen I lebih baik dari kelas eksperiemen II sehingga hasil belajar dengan menggunakan metode Think-Pair-Share lebih baik dari metode Snowball Throwing. Perhitungan uji t satu puhak kiri data post test terdapat pada lampiran 21.

4.1.2.4.3. Uji Ketuntasan Hasil Belajar

Hasil Perhitungan uji ketuntasan hasil belajar individu kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II disajikan pada Tabel 4.7 berikut ini:

Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Uji Ketuntasan Belajar Individu Kelas Rata-rata kelas thitung ttabel Kriteria

Eksperimen I 78,53 1,854 1,70 Tuntas

Eksperimen II 71,78 -1,902 1,696 Belum tuntas (Sumber: olah data hasil penelitian)

Berdasarkan uji ketuntasan belajar individu kelas eksperimen I diperoleh thitung > ttabel yang berarti kelas eksperimen I mencapai ketuntasan belajar individu, sedangkan kelas eksperimen II diperoleh thitung < ttabel yang berarti kelas

eksperimen II belum mencapaiketuntasan belajar individu. Sementara itu, hasil uji ketuntasan belajar secara klasikal kedua kelas terdapat pada tabel 4.8.

Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Uji Ketuntasan Belajar Klasikal Kelas Jumlah

siswa

Rata-rata kelas

Jumlah

siswa ≥ 75 % ketuntasan belajar Kriteria

Eksperimen I 30 78,53 23 77% Tuntas

Eksperimen II 32 71,78 16 50% Belum

(Sumber: olah data hasil penelitian)

Berdasarkan hasil analisis tersebut, kelas eksperimen I mencapai ketuntasan belajar klasikal dengan persentase ketuntasan belajarnya sebesar 77%. Sedangkan pada kelas eksperimen II belum mencapai ketuntasan klasikal karena persentase ketuntasan belajarnya sebesar 50%. Hal tersebut menandakan belum ada 75% dari jumlah siswa yang ada dikelas tersebut yang mencapai ketuntasan individu. Analisis ketuntasan hasil belajar dapat dilihat pada lampiran 22 dan 23. 4.2.2.4. Analisis Deskriptif Data Hasil Belajar Afektif dan Psikomotorik 4.1.2.4.1. Analisis Deskriptif Data Hasil Belajar Afektif

Penilaian afektif dilakukan untuk mengetahui perbedaan aktifitas siswa kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II. Terdapat 4 aspek pada ranah afektif yang digunakan untuk menilai aktifitas siswa. Tiap aspek dianalisis sacara diskriptif yang bertujuan untuk mengetahui aspek mana yang dimiliki siswa untuk dibina dan dikembangkan. Hasil analisis reliabilitas aspek penilaian afektif sebesar 0,73. Perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 25. Nilai afektif kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II dapat dilihat pada tabel 4.9

Tabel 4.9 Nilai Afektif Kelas Eksperimen I dan II

No Aspek Kelas eksperimen I Kelas Eksperimen II Nilai Kategori Nilai Kategori

1 Bertanya 114 Sangat Baik 89 Baik

2 Menyumbangkan ide 93 Baik 94 Baik 3 Menjadi pendengar yang baik 105 Baik 101 Baik

4 Bekerjasama 109 Baik 111 Baik

Hasil analisis menunjukkan bahwa pada kelas eksperimen I terdapat 1 aspek yang mencapai kriteria sangat baik dan 3 aspek yang mencapai kriteria baik, sedangkan pada kelas eksperimen II keempat aspek mencapai kriteria baik. Perbandingan skor penilaian aspek afektif siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol disajikan pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1 Penilaian afektif Keterangan :

1 = Bertanya

2 = Menyampaikan pendapat 3 = Mendengarkan

4.1.2.4.2. Analisis Deskriptif Data Hasil Belajar Psikomotorik

Penilaian aspek psikomotorik diperoleh dari hasil observasi terhadap siswa pada saat praktikum. Ranah psikomotorik yang digunakan untuk menilai ada 5 aspek. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama pembelajaran dengan menggunakan instrumen berupa lembar obsevasi psikomotorik, diperoleh hasil reliabilitas intrumen penilaian psikomotorik sebesar 0,79. Perhitungan reliabitas aspek psikomotorik terdapat pada lampiran 28. Nilai psikomotorik kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II pada tiap-tiap aspek dapat dilihat pada Tabel 4.10.

Tabel 4.10 Hasil Nilai Psikomotorik

No Aspek Kelas Eksperimen I Kelas Eksperimen II Nilai Kategori Nilai Kategori 1 Persiapan siswa dalam

melaksanakan praktikum

149 Sangat Baik

135 Baik 2 Kemampuan siswa dalam

bekerja sama dengan kelompok

110 Baik 110 Baik

3 Kecakapan siswa dalam melakukan percobaan

113 Baik 113 Baik

4 Kebersihan dan kerapian tempat serta alat

percobaaan

142 Sangat Baik

133 Baik

5 Kemampuan siswa dalam membuat laporan

115 Baik 112 Baik

Dari hasil analisis, dapat dilihat bahwa nilai psikomotorik pada kelas eksperimen I terdapat 2 aspek mencapai nilai kategori sangat baik, sedangkan 3 aspek lain mencapai kategori baik. Pada kelas eksperimen II, 1 aspek mencapai kriteria sangat baik,dan 4 aspek mencapai kriteria baik. Hasil analsis penilaian psikomotorik antara kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II disajikan pada Gambar 4.2.

Gambar 4.2 Penilaian Psikomotorik Keterangan : 1 = Persiapan 2= Bekerjasama 3= Kecakapan 4= Kebersihan 5 = Membuat laporan

4.2. Pembahasan

Penelitian ini dilaksanakan di SMA Kesatrian 1 Semarang. Populasi penelitian kelas XI program studi IPA yang terdiri atas tiga kelas yaitu kelas XI IPA 3, XI IPA 4, dan XI IPA 5. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui:

(1) Perbedaan hasil belajar kimia antara siswa yang diberi model Think Pair Share dengan model Snowball throwing materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan di SMA Kesatrian 1 Semarang.

(2) Manakah yang lebih baik antara model Think Pair Share dengan model

Snowball Throwing materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan di SMA Kesatrian 1 Semarang.

Dokumen terkait