HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.2.3. Perbandingan Hasil Belajar Siswa yang diberi Model Think Pair Share dengan Model Snowball Throwing
Setelah diberikan pembelajaran dengan perlakuan yang berbeda, diperoleh nilai rata-rat post test kelas eksperimen I yang diberi model TPS 78,53 dan kelas eksperiemn II yang diberi model Snowball Throwing 71,781. Pada penelitian ini, pencapaian rata-rata nilai post test kimia pada kelas eksperimen I yang diberi model TPS lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nilai post test kelas eksperimen II yang diberi model Snowball Throwing. Hal ini dikarenakan
penerapan model TPS membuat siswa lebih memahami konsep materi yang disampaikan. Pemecahan permasalahan melalui diskusi membuat siswa lebih aktif dalam mempelajari materi. Pembelajaran yang menyenangkan ini yang akhirnya membuat siswa dapat lebih memahami materi dan dapat menyelesaikan berbagai jenis tipe soal. Pada penerapan model Snowball Throwing siswa diajak berdiskusi untuk mempelajari dan meyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh temannya. Kebiasaan inilah yang membuat siswa harus paham terhadap konsep materi karena sewaktu-waktu mereka bisa ditunjuk untuk maju ke depan menjelaskan materi kepada teman-temannya. Namun, model Snowball Throwing
tidak sepenuhnya membuat semua siswa paham terhadap konsep materi yang diajarkan. Ada sebagian siswa terutama siswa pasif yang kurang menyukai model
Snowball Throwing ini. Mereka merasa kesulitan dan grogi untuk menjelaskan materi di depan kelas. Hal ini menyebabkan ada sebagian dari mereka yang kesulitan dalam menyelesaikan berbagai tipe soal. Oleh karena itu, rata-rata nilai
post test pada kelas eksperimen II yang dicapai lebih rendah daripada kelas eksperimen I.
Rata-rata nilai post test kelas eksperimen I telah mencapai KKM dan kelas eksperimen II masih belum melampaui KKM. Namun kedua metode ini sama-sama dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswajika dibandingkan hasil belajar siswa tahun lalu. Rata-rata nilai post test kelas eksperimen I (model TPS) lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata post test kelas eksperimen II (model
Snowball Throwing) dengan selisih nilai 6,75. Perbedaan rata-rata nilai post test
mengaktifkan siswa mencapai kompetensi yang ingin dicapai. Namun, model TPS membuat siswa lebih aktif dibandingkan dengan model Snowball Throwing. Berdasarkan pengamatan peneliti, pada saat pembelajaran dengan model TPS siswa lebih aktif untuk berdiskusi dari pertanyaan yang diberikan guru dan bertanya mengenai materi yang belum mereka pahami dari pernyataan yang diberikan guru. Siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan soal karena siswa merasa penasaran dan bersemangat untuk menemukan jawaban. Selain itu, siswa lebih percaya diri maju ke depan untuk menjelaskan hasil diskusinya kepada teman-temannya.
Komparasi hasil belajar kimia secara statistika pun dilakukan melalui analisis data post test menggunakan uji normalitas, uji kesamaan dua varians, dan uji hipotesis perbedaan dua rata-rata dua pihak dan perbedaan dua rata-rata satu pihak kiri. Data yang digunakan pada analisis tahap akhir in yaitu nilai post test.
Pada uji normalitas tahap akhir, kedua kelas berdistribusi normal dan memiliki varians yang sama. Oleh karena itu statistika yang digunakan ialah statistika parametrik. Pada uji perbedaan dua rata-rata dua pihak, diperoleh thitung = 2,567 dan ttabel = 2,00. Karena thitung > ttabel maka H ditolak yang berarti hipotesis diterima. Jadi, ada perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kelas eksprimen I dengan kelas eksperimen II. Pada uji perbedaan dua rata-rata satu pihak kiri, diperoleh thitung = 2,66 dan ttabel = 1,67. Karena thiung > ttabel yang berarti H diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kimia kelas eksperimen I lebih baik dari kelas eksperimen II, dengan kata lain pembelajaran dengan model TPS memberikan hasil belajar kimia yang lebih baik dari pada
model Snowball Throwing khususnya pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan.
Pada uji ketuntasan hasil belajar kognitif menunjukkan bahwa kelas eksperimen I mencapai batas ketuntasan individu dengan KKM 75 dari standar persentase ketuntasan ≥ 75% sehingga mencapai ketuntasan belajar klasikal,sedangkan kelas eksperimen II belum mencapai batas ketuntasan individu dengan KKM 75 dari standar persentase ketuntasan ≥ 75% sehingga belum mencapai ketuntasan belajar klasikal. Hal ini menunjukkan bahwa model TPS lebih baik dari model Snowball Throwing meskipun kedua-duanya juga merupakan model pembelajaran yang sama-sama baik untuk diterapkan pada pembelajaran.
Penilaian siswa tidak terbatas pada aspek kognitif saja. Aspek afektif dan psikomotorik juga dihitung dalam penelitian ini. Untuk analisis deskriptif nilai afektif kelas eksperimen I terdapat 4 aspek, 1 aspek mencapai kriteria sangat baik,dan 3 aspek lainnya mencapai kriteria baik, sedangkan pada kelas eksperimen II keempat aspek memiliki kriteria baik.
Pada analisis deskriptif nilai psikomotorik pada saat praktikum, kelas eksperimen I terdapat 5 aspek, yaitu 2 aspek mencapai kriteria sangat baik dan 3 aspek mencapai kriteria baik. Sedangkan pada kelas eksperimen II kelima aspek mencapai kriteria baik.
Aspek afektif siswa dan psikomotorik siswa juga dikaitkan dengan aspek kognitif siswa pada kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II. Sebagai contoh, maka akan diambil beberapa sampel siswa pada kelas eksperimen I dan kelas
eksperimen II. Diambil beberapa contoh siswa, pada siswa kelas eksperimen I absen 2, nilai kognitif siswa tersebut yaitu 76 dengan aspek afektif dan psikomotorik mencapai kriteria sangat baik, sedangkan pada kelas eksperimen II dengan siswa yang bernomor absen sama yaitu 2, nilai kognitif siswa tersebut sebesar 53, dengan aspek afektif dan psikomotorik siswa mencapai kriteria baik. Sebagai contoh lagi, siswa kelas eksperimen I bernomor absen 25 mendapat nilai kognitif sebesar 83 dengan aspek afektif dan psikomotorik mencapai kriteria sangat baik, sedangkan pada kelas eksperimen II yang memiliki nomor absen sama yaitu 25, didapatkan nilai kognitif sebesar 66 dengan aspek afektif mencapai kriteriabaik , dan aspek psikomotorik mencapai kriteria cukup. Pada siswa kelas eksperimen I dan eksperimen II yang memliki nilai kognitif sama yaitu 83, aspek afektif dan psikomotorik kelas eksperimen I mencapai kriteria sangat baik, sedangkan pada kelas eksperimen II mencapai kriteria baik. Jika dibandingkan nilai kognitif, afektif dan psikomotorik dari kelas eksperimen I dan II maka dapat dilihat bahwa kelas eksperimen I lebih baik daripada kelas eksperimen II.
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, peneliti dapat menyampaikan bahwa model TPS membuat hasil belajar kimia pada materi pokok kelarutan dan hasil kelarutan lebih baik daripada menggunakan model
67