HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.6.2.3. Hasil Uji Parsial (Uji-t)
Pada uji statistik secara parsial dengan nilai t kritis (critical value) pada df
= (n-k), dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel independen termasuk konstanta. Untuk menguji koefisian regresi parsial secara individu dari masing-masing variabel bebas dapat dilihat pada Tabel 4.24.
Tabel 4.24. Hasil Uji Parsial Pengaruh Kualitas Jalan dan Kelancaran Transportasi terhadap Pengembangan Wilayah Kota Medan
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) -4.315 2.214 -1.949 .054
Kualitas Jalan .419 .073 .370 5.719 .000
Kelancaran Transportasi .220 .024 .592 9.158 .000
a. Dependent Variable: Pengembangan Wilayah
Sumber : Data Primer Diolah, 2015
Pada Tabel 4.24. hasil uji parsial diperoleh, sebagai berikut :
1. Variabel kualitas jalan berpengaruh positif signifikan terhadap pengembangan wilayah Kota Medan.
2. Variabel kelancaran transportasi berpengaruh positif terhadap pengembangan wilayah Kota Medan.
Berdasarkan Tabel 4.24. dapat disusun persamaan regresi berganda sebagai berikut :
Y = -4,315 + 0,419 X1 + 0,220 X2 Model persamaan regresi berganda tersebut bermakna :
1. Nilai konstanta sebesar -4,315 yang berarti jika tidak ada nilai variabel independen, dalam hal ini kualitas jalan dan kelancaran transportasi sama dengan 0 (nol) maka nilai pengembangan wilayah Kota Medan akan sebesar -4,315 satuan skor .
2. Variabel kualitas jalan (X1) memiliki nilai koefisien beta sebesar 0,419 yang bertanda positif, ini berarti setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor variabel kualitas jalan akan menambah nilai pengembangan wilayah Kota Medan sebesar 0,419 satuan skor.
3. Variabel kelancaran transportasi (X2) memiliki nilai koefisien beta sebesar 0,220 yang bertanda positif, ini berarti setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor variabel kelancaran transportasi akan menambah nilai pengembangan wilayah Kota Medan sebesar 0,220 satuan skor.
4.2. Pembahasan
Hasil analisis kualitas jalan secara deskriptif menunjukkan bahwa secara rata-rata responden menjawab setuju dengan kondisi jalan, keamanan pengguna jalan, kenyamanan pengguna jalan dan kecepatan jalan. Kondisi jalan yang meliputi jenis permukaan dan kondisi jalan lingkar terbuat dari aspal. Keamanan penggunan jalan yang meliputi jumlah dan kondisi marka jalan lingkar masih tersedia dengan baik, jumlah dan kondisi rambu-rambu lalu lintas jalan lingkar masih tersedia baik, kemiringan jalan lingkar masih baik dengan kemiringan 1-5 cm, dan kekesatan lapis permukaan jalan lingkar masih baik dengan kondisi masih kesat. Keamanan pengguna jalan dan kecepatan pelayanan yang meliputi kecepatan rencana jalan lingkar, lebar jalan lingkar, kapasitas jalan, dan lajur jalan yang ada di jalan lingkar masih baik dengan kondisi sampai 80% masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dalam beraktivitas.
Hasil analisis kelancaran transportasi secara deskriptif menunjukkan bahwa secara rata-rata responden menjawab setuju dengan kinerja transportasi yang efektif dan kinerja transportasi yang efisien. Kinerja transportasi yang efektif terlihat dari keselamatan dari terhindarnya pengoperasian transportasi dari kecelakaan akibat faktor internal transportasi dan aksesibilitas tinggi karena jaringan pelayanan transportasi dapat menjangkau seluas mungkin wilayah.
Kinerja transportasi yang efisien terlihat dari teratur, lancar dan cepat, mudah dicapai, tepat waktu, nyaman, tertib, aman dan polusi rendah.
Kualitas jalan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kota Medan, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,419 dan memiliki pengaruh yang searah yang artinya setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor kualitas jalan akan menambah nilai pengembangan wilayah sebesar 0,419 satuan skor. Hal ini diperkirakan dengan semakin meningkatnya kualitas jalan maka semakin meningkat juga pengembangan wilayah Kota Medan.
Kelancaran transportasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kota Medan, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,220 dan memiliki pengaruh yang searah yang artinya setiap penambahan atau kenaikan satu satuan skor kelancaran transportasi akan menambah nilai pengembangan wilayah sebesar 0,220 satuan skor. Hal ini diperkirakan dengan semakin meningkatnya kelancaran transportasi maka semakin meningkat juga pengembangan wilayah Kota Medan. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Herianto dan Utomo (2012) yang menyimpulkan bahwa faktor yang menjadi alasan berkembangnya UKM di sekitar jalan Lingkar Selatan Salatiga karena banyak masyarakat yang melihat peluang yang ada untuk berusaha, selain itu juga karena adanya pangsa pasar yang besar dengan adanya para penggiat aktivitas di Jalan Lingkar Selatan. Hal ini mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar, karena menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan perekonomian yang berarti meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kendala yang dihadapi usaha kecil dan menengah meliputi :
persaingan yang ketat antara penjual, modal yang terbatas, terbatasnya sarana dan prasarana usaha, kurangnya keahlian dari pelaku UKM, dan ancaman penertiban oleh pihak berwenang. Menurut Okoko (2011) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa semua jalan di daerah penelitian berada dalam kondisi rusak dan membutuhkan perbaikan mendesak yang berdampak pada aktivitas sosial ekonomi petani dan kesejahteraan.
Menurut Wahab (2009) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa tingkat aksesibilitas dan mobilitas penduduk meningkat dan sangat berpengaruh setelah investasi infrastruktur jalan ditingkatkan kualitasnya. Disamping meningkatnya akses yang lebih cepat untuk berinteraksi dengan wilayah lainnya, maka tingkat pemanfaatan lahan dan nilai lahan dalam kawasan jalan lingkar jadi meningkat, lahan yang tadinya kurang produktif berubah menjadi lahan yang berpotensi untuk menghasilkan komoditi yang lebih berkualitas.
Gunawan, et al (2009) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa pembangunan Jalan Lingkar Barat terjadi penghematan waktu tempuh sebesar 30% untuk Kecamatan Jatiluhur, 74,7% untuk Kecamatan Sukasari, dan 77,8%
untuk Kecamatan Maniis menuju Kota Purwakarta. Dampak peningkatan aksesibilitas wilayah dapat meningkatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan masyarakat di tiga kecamatan tersebut. Peningkatan aksesibilitas wilayah juga berdampak terhadap penurunan biaya transportasi barang sebesar 8%; 130%; dan 278% di Kecamatan Jatiluhur, Sukasari, dan Maniis. Penurunan biaya transportasi dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Jalan merupakan salah satu infrastruktur terpenting dalam mendukung dan mempercepat aktivitas-aktivitas sosial, ekonomi dan budaya suatu masyarakat. Bahkan dari berbagai studi sejarah yang pernah dilakukan, jalan merupakan sarana yang vital bagi tumbuh dan berkembangnya suatu peradaban.
Dimasa lalu, daerah-daerah yang mampu tumbuh dan berkembang umumnya adalah daerah-daerah yang letaknya strategis dan berada d itepi jalan atau yang dilalui oleh jalan utama. Jalan dianalogikan sebagai urat nadi dalam tubuh manusia yang berfungsi sebagai sarana untuk mendukung masuknya energi yang diperlukan bagi perkembangan manusia.
Keberadaan jalan lingkar di Kota Medan, memberikan pengaruh pada pemanfaatan lahan di sekitar jalan lingkar tersebut. Adanya jalan lingkar maka lahan-lahan yang berada di sepanjang jalan lingkar memiliki harga yang sangat tinggi, sehingga dapat dipastikan lahan di sepanjang jalan lingkar ini akan cenderung berubah fungsi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, seperti telah terbangun rumah toko (ruko) yang bergerak dalam usaha perdagangan dan jasa. Yunus (2008) menyatakan perubahan pemanfaatan lahan pada suatu bidang tertentu berpotensi mempengaruhi bidang lahan didekatnya, gejala ini disebut efek lintas batas (transboundary effec phenomena).
Pembangunan jalan lingkar mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar, karena dapat menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan perekonomian yang berarti meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun, aktivitas masyarakat dalam perdagangan mengakibatkan berkurangnya fungsi
ruang terbuka hijau (RTH) yang disebabkan dipergunakan pelaku usaha maupun masyarakat untuk lahan parkir dan tempat berjualan, sehingga badan jalan turut dipergunakan sebagai lahan parkir, yang mengakibatkan mengurangi ruas jalan untuk lalu lintas kenderaan bermotor.
Dalam sistem transportasi, jalan lingkar Gagak Hitam Kota Medan merupakan jalan Arteri Primer. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor: 38 Tahun 2004 tentang Jalan menyebutkan bahwa fungsi jalan Arteri adalah, melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna. Pernyataan tersebut mengisyaratkan jika pergerakan arus kendaraan di jalan lingkar terbebas dari hambatan samping, sehingga sangatlah mutlak diperlukan suatu pengendalian pemanfaatan ruang guna membatasi perkembangan penggunaan lahan sebagai kawasan aktif terbangun di sepanjang jalan lingkar.
Pengendalian pemanfaatan ruang dimaksudkan agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang (Kodoatie, 2005). Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap penggunaan lahan. Pengawasan dalam bentuk usaha untuk menjaga kesesuaian peman-faatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang, sedangkan penertiban adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud.
Menurut Asariansyah, et al (2013) ada beberapa manfaat utama adanya infrastruktur jalan bagi masyarakat yaitu:
d. Membuka keterisolasian wilayah dan daerah. Adanya jalan akan membuka wilayah-wilayah dan masyarakat yang dahulu terisolasi. Semakin terbukanya wilayah akan mempercepat perubahan-perubahan sosial yang merupakan pra-syarat penting bagi proses pembangunan melalui pemberdayaan masyarakat.
e. Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran dan roda ekonomi wilayah. Adanya jalan akan mempermudah distribusi dan pemasaran suatu komoditi sehingga merangsang aktivitas dan tumbuhnya kegiatan perekonomian di daerah tersebut.
f. Memperoleh akses teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial, seperti pendidikan, kesehatan, pemerintahan rencana pemindahan ibukota kabupaten dan lain-lain. Dengan adanya jalan fasilitas-fasilitas sosial akan dapat dicapai secara lebih mudah dan cepat oleh masyarakat sehingga fasilitas tersebut terasa efektif dan efisien bagi masyarakat. Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk. Adanya jalan mempermudah hubungan antara suatu daerah dengan daerah lain.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia ditegaskan Nomor: 34 Tahun 2006 pasal, 13, sebagai jalan arteri primer kecepatan rata-rata kendaraan yang direncanakan pada ruas jalan minimal 60 km/jam dengan lebar badan jalan paling sedikit 11 meter, jalan untuk jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalu lintas ulang alik, lalu lintas lokal dan kegiatan lokal. Keberadaan jalan lingkar (ring road) ini sangat membantu dalam mengalihkan arus kendaraan menerus melalui pusat kota sehingga mengurangi lalu lintas yang terjadi dalam kota serta merangsang pertumbuhan daerah pinggiran kota. Namun seiring pula dengan
perkembangan kota yang pesat perlu adanya menganalisis ruas jalan disebabkan oleh tingginya volume lalu lintas akibat menurunnya kinerja suatu ruas jalan akan menyebabkan kemacetan. Bila kapasitas jalan tetap, sedangkan jumlah pemakai jalan terus bertambah meningkat, maka waktu tempuh perjalanan akan bertambah akan menimbulkan kemacetan total (Amsuardiman, 2012). Menurut Mayer (1984), kemacetan (congesti) lalu lintas pada suatu ruas jalan raya disebabkan oleh meningkatnya permintaan perjalanan pada suatu periode tertentu serta jumlah pemakai jalan melabihi dari kapasitas yang ada.
Amsuardiman (2012) menjelaskan bahwa penurunan kinerja jalan arteri primer pada jalan Gagak Hitam terutama pada jam-jam sibuk yang dapat diketahui dari tingkat pelayanan ruas jalan tersebut. Kinerja jalan yang buruk pada jalan Gagak Hitam diantaranya disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya:
1. Volume lalu lintas. Posisi jalan Gagak Hitam yang berperan sebagai jalan utama yang menghubungkan wilayah bagian utara dan selatan, sebagai jalan utama yang melewati angkutan umum regional serta di lalui beberapa rute angkutan umum dan pribadi menyebabkan tingginya volume lalu lintas yang terjadi pada jam-jam sibuk seperti terlihat pada Gambar 4.13.
Gambar 4.13. Volume Lalu Lintas Jalan Lingkar Gagak Hitam
Tingginya volume lalu lintas yang terjadi merupakan gabungan dari arus lokal, regional dan menerus. Percampuran arus lalu lintas ini merupakan salah satu konsekwensi dari fungsi ruas jalan Gagak Hitam sebagai jalan arteri primer Kota Medan. Selain itu, tingginya intensitas guna lahan di samping ruas jalan Gagak Hitam karena keberadaan permukiman, pertokoan (ruko) dan kegiatan lain yang menyebabkan terjadinya bangkitan lalu lintas terutama pada saat puncak kunjungan konsumen, yang berdampak terjadinya kemacetan.
2. Hambatan Samping. Faktor yang dapat mempengaruhi penurunan kapasitas adalah lajur lalu lintas dan bahu jalan yang sempit dan halangan lain pada kebebasan samping. Banyak kegiatan samping jalan sering menimbulkan konflik dengan arus lalu lintas, diantaranya menyebabkan kemacetan bahkan sampai terjadi kecelakaan lalu lintas. Hambatan samping juga terbukti sangat berpengaruh pada kapasitas dan kinerja jalan. Diantarannya: pejalan kaki, pemberhentian angkutan umum dan kendaraan, kendaraan lambat dan kendaraan keluar masuk dari lahan samping jalan.
Menurut Highway Capacity Manual (HCM) 1965 Capacity is the maximum number of vehicles that can pass in a given period time. Menurut Clark H.
Oglesby kapasitas suatu ruas jalan adalah jumlah kendaraan maksimum yang memiliki kemungkinan yang cukup untuk melewati ruas jalan tersebut (dalam satu atau pun kedua arah) dalam periode waktu tertentu. Sedangkan Menurut MKJI (1997) Kapasitas adalah jumlah maksimum kendaraan atau orang yang dapat melintasi suatu titik pada lajur jalan pada periode waktu tertentu dalam kondisi
jalan tertentu atau merupakan arus maksimum yang dapat dilewatkan pada suatu ruas jalan.
Hasil studi Situmorang dan Muis (2014) menunjukkan bahwa kapasitas jalan lingkar Gagak Hitam dari ruas jalan Gatot Subroto ke arah Ring Road sebesar 3174,60 smp/jam dengan volume 2087,83 smp/jam sehingga diperoleh rasio volume/kapasitas sebesar 0,66. Kapasiitas jalan dari arah jalan Setia Budi ke arah Ring Road sebesar 3300 smp/jam dengan volume sebesar 1969,23 smp/jam sehinggan diperoleh rasio 0,60. Nilai kapasitas Jalan Lingkar Gagak Hitam, diketahui lebih besar dari nilai standar kapasitas dasar ideal Tabel (MKJI 1997) dimana > 2900 SMP/jam.
BAB V