• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

E. Hasil Uji Skrining Fitokimia Ekstrak Etanol 96% Buah Buni

bioaktif atau senyawa yang mempunyai aktivitas yang menguntungkan, yaitu sebagai antioksidan. Skrining fitokimia ini menggunakan uji tabung yaitu dengan mereaksikan bahan tanaman dengan larutan atau pereaksi tertentu menggunakan tabung reaksi, sehingga diperoleh hasil yang mengarah ke kandungan senyawa aktif dari bahan tanaman tersebut.

Tabel I. Hasil pengamatan uji tabung terhadap ekstrak etanol buah buni

No Uji Tabung Pereaksi Hasil Keterangan

1. Uji saponin Akuades - Tidak terbentuk

buih

2. Uji flavonoid Mg dan HCl + Merah

3. Uji triterpenoid dan steroid Liebermann-Burchard + Terbentuk cincin coklat, positif mengandung triterpenoid

4. Uji minyak atsiri - + Berbau khas

5. Uji alkaloid

Dragendroff -

Tidak terdapat endapan berwarna coklat muda sampai

kuning

Mayer -

Tidak terdapat endapan berwarna

putih 6. Uji tannin dan

polifenol

Gelatin 1% + Hijau kehitaman,

ada endapan

FeCl3 + Hijau kehitaman

7. Uji antosianin HCl + Hijau

NaOH + Merah

8. Uji antrakuinon

Brontrager - Tidak berwarna

merah Brontrager

termodifikasi -

Tidak berwarna merah Keterangan : - = negatif ; + = positif

Uji tabung meliputi uji alkaloid, antrakuinon, saponin, flavonoid, triterpenoid dan steroid, antosianin, minyak atsiri, tanin dan polifenol. Salah satu indikator terjadinya reaksi pada uji tabung adalah perubahan warna. Berdasarkan hasil penelitian diduga bahwa ekstrak etanol buah buni mengandung minyak atsiri, tanin dan polifenol, flavonoid, antosianin, fenolik, dan triterpenoid sebagaimana dalam tabel I.

a. Uji saponin

Uji saponin dilakukan dengan menggojog kuat ekstrak dengan akuades selama 30 detik hingga terbentuk buih setinggi 10 cm. Buih yang terbentuk ini akan tahan dalam jangka waktu yang lama, tidak akan hilang selama 30 detik. Saponin pada umumnya berada dalam bentuk glikosida, sehingga mempunyai kemampuan membentuk buih dalam air (Marliana et al., 2005). Saponin merupakan senyawa aktif permukaan yang dapat menimbulkan busa jika dikocok dengan air. Hal ini karena saponin memiliki gugus polar dan non polar yang akan membentuk misel. Apabila misel terbentuk maka gugus polar akan menghadap keluar yang akan berikatan dengan air dan gugus non polar akan menghadap kedalam menjauhi air yang tampak seperti busa (Padmasari et al., 2013), akibatnya terjadi penurunan tegangan permukaan air yang dapat menimbulkan buih. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rakasiwi dan Soegihardjo (2014), yaitu ekstrak etanol buah buni tidak mengandung saponin karena tidak terbentuk buih pada saat pengocokan.

b. Uji flavonoid

Untuk mengetahui kandungan flavonoid pada ekstrak uji digunakan uji Shinoda test, yaitu menggunakan larutan HCl pekat dan serbuk Mg yang menghasilkan warna kuning, oranye, atau merah jika dinyatakan positif.

Mg(s) + 2HCl(l) MgCl2(aq) + H2(g)

MgCl2(aq) + 6ArOH(s) [Mg(OAr)6]-4(aq) + 6H+ + 2Cl -Gambar 8. Reaksi flavonoid pada ekstrak etanol buah buni

Menurut Rakasiwi dan Soegihardjo (2014), ekstrak etanol buah buni mengandung senyawa flavonoid. Hasil penelitian yang dilakukan sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu timbul warna merah pada ekstrak etanol buah buni yang direaksikan dengan HCl dan Mg, hal ini menunjukkan bahwa ekstrak positif mengandung flavonoid.

c. Uji triterpenoid dan steroid

Pada pengujian steroid dan triterpenoid, analisis senyawa didasarkan pada kemampuan senyawa tersebut membentuk warna dengan H2SO4 pekat dalam pelarut asam asetat anhidrat (Sangi et al., 2008). Pereaksi Lieberman-Burchard yang terdiri dari campuran asam asetat anhidrat, asam sulfat pekat dan kloroform. Hasil positif ditunjukkan dengan adanya cincin coklat atau violet untuk triterpenoid, sedangkan untuk hasil positif steroid ditunjukkan dengan adanya cincin biru kehijauan.

Gambar 9. Mekanisme umum reaksi Liebermann-Burchard (Nafisah, et al., 2014).

Menurut Rakasiwi dan Soegihardjo (2014), ekstrak etanol buah buni mengandung senyawa triterpenoid. Hasil penelitian sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu ekstrak etanol buah buni positif mengandung triterpenoid ditandai dengan terbentuknya cicin berwarna coklat.

d. Uji minyak atsiri

Minyak atsiri dapat dihasilkan dari berbagai tanaman (Kardinan, 2005). Telah diketahui bahwa bunga, buah batang, dan akar rempah – rempah mengandung bahan yang mudah menguap serta berbau khas yang dikenal dengan minyak atsiri (Fachriyah dan Sumardi, 2007). Minyak atsiri didefinisikan sebagai sebagai campuran kimiawi yang terdapat pada berbagai tumbuhan dan mempunyai sifat mudah menguap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol buah buni mengandung minyak atsiri karena menimbulkan bau khas setelah larutan ekstrak uji diuapkan. Hasil positif ini diperkuat dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Rakasiwi dan Soegihardjo (2014) bahwa ekstrak etanol buah buni mengandung senyawa triterpenoid, sedangkan triterpenoid merupakan komponen penyusun minyak atsiri.

e. Uji alkaloid

Pada uji ini larutan ekstrak uji yang telah diuapkan kemudian ditambahkan asam klorida. Penambahan asam klorida bertujuan untuk mengubah alkaloid yang bersifat basa menjadi garam alkaloid, agar bisa larut dalam air. Alkaloid merupakan senyawa yang mengandung atom N dan sebagian besar bersifat basa. Tujuan dari pemanasan adalah mempercepat pembentukan garam alkaloid. Setelah dingin, larutan kemudian dimasukkan kedalam 2 tabung reaksi dan

direaksikan dengan pereaksi Dragendroff dan Mayer masing – masing sebanyak 3 tetes. Reaksi positif jika terbentuk endapan berwarna coklat muda sampai kuning pada penambahan Dragendroff dan endapan berwarna putih pada penambahan Mayer (Marliana et al., 2005). Menurut Rakasiwi dan Soegihardjo (2014), ekstrak etanol buah buni tidak mengandung alkaloid. Hasil penelitian yang didapatkan sesuai dengan penelitian sebelumnya yaitu negatif dengan ditandai tidak adanya endapan dari kedua tabung sampel.

f. Uji tanin dan polifenol

Pada uji tanin diperoleh hasil positif yaitu berwarna hijau dan terbentuk endapan, adanya tanin akan mengendapkan protein pada gelatin. Tanin akan bereaksi dengan gelatin membentuk kopolimer mantap yang tidak larut dalam air (Marliana et al., 2005).

Uji tanin juga dilakukan dengan menggunakan pereaksi besi (III) klorida untuk menentukan apakah sampel mengandung gugus polifenol atau tidak. Salah satu senyawa polifenol adalah tanin. Adanya gugus fenol ditunjukkan dengan perubahan warna sampel menjadi hijau kehitaman atau biru tua setelah penambahan besi (III) klorida. Terjadinya pembentukan warna ini karena terbentuknya senyawa kompleks antara logam Fe dan tanin.

FeCl3(aq) + 6ArOH(s) 6H+ + 3Cl- + [Fe(OAr)6]3-(aq)

Gambar 10. Reaksi antara flavonoid dengan FeCl3 (Nafisah et al., 2014). Menurut Rakasiwi dan Soegihardjo (2014), ekstrak etanol buah buni mengandung senyawa tanin. Hasil positif ditunjukkan pada penelitian ini adalah adanya perubahan warna ekstrak menjadi hijau kehitaman, hal ini sesuai dengan

penelitian sebelumnya bahwa ekstrak etanol buah buni mengandung senyawa tanin yang tergolong sebagai tanin kondensasi (Sangi et al., 2008).

g. Uji antosianin

Salah satu faktor yang mempengaruhi warna dari antosianin adalah perubahan pH. Sifat asam akan menyebabkan warna antosinin menjadi merah, sedangkan sifat basa menyebabkan antosianin menjadi biru.

Dalam penelitian ini digunakan asam kuat (HCl) dan basa kuat (NaOH). Penambahan asam kuat akan mengubah pH antosinin menjadi lebih asam, sedangkan penambahan basa akan mengubah pH antosinin menjadi basa (Putri et al., 2015). Menurut Maulida dan Guntarti (2015), pada pH asam antosianin akan berada pada bentuk ion flavilium yang berwarna merah dan berganti warna biru-hijau pada keadaan basa. Warna biru-biru-hijau disebabkan karena antosianin banyak berada dalam bentuk ion anhidro basa.

Gambar 11. Perubahan struktur antosianin pada pH yang berbeda (Maulida dan Guntarti 2015).

Saat larutan sampel ditambahkan dengan HCl terjadi perubahan warna menjadi merah, dan ketika larutan sampel ditambahkan NaOH terjadi perubahan warna menjadi biru sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel mengandung antosianin.

h. Uji antrakuinon

Uji Brontrager dan uji Brontrager termodifikasi bisa mendeteksi adanya antrakuinon, antrakuinon akan memberikan karakteristik warna merah, violet, hijau atau ungu dengan basa (Marliana et al., 2005). Uji Brontrager bisa mendeteksi senyawa antrakuinon, namun uji ini akan menunjukkan negatif untuk glikosida antrakuinon yang sangat stabil atau turunan tereduksi dari tipe antranol. Oleh karena itu uji Brontrager dimodifikasi dengan melakukan uji Brontrager sebelumnya untuk menghidrolisis dan mengoksidasi senyawa antrakuinon. Tidak terjadinya perubahan warna pada uji Brontrager menunjukkan tidak adanya antrakuinon pada ekstrak antrakuinon karena antrakuinon yang terdapat dalam ekstrak kemungkinan sangat stabil atau turunan tereduksi dari tipe antranol sehingga menyebabkan hasil negatif.

F. Hasil Optimasi Metode Uji Fenolik Total

Dokumen terkait