• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Analisis Regresi Berganda

2. Hasil Uji T

Uji t pada penelitian ini dilakukan untuk menunjukkan apakah variabel independen atau bebas yang terdiri dari Economic Value added, Earning Per Share, Return On Asset dan Ukuran Perusahaan (Firm Size) mempunyai pengaruh secara parsial terhadap harga saham perusahaan Jakarta Islamic Index (JII) yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2008-2012, dengan angka signifikansi (ɑ) sebesar 0,05. Berikut ini adalah tabel hasil Uji t dari penelitian ini:

Tabel 4.8 Hasil Uji T Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -12.887 5.267 -2.447 .017 EVA -.582 .145 -.447 -4.017 .000 EPS .875 .105 .555 8.354 .000 ROA 2.718 .406 .750 6.700 .000 Size 1.796 .573 .474 3.133 .003 a. Dependent Variable: HS

Sumber : Output SPSS yang diolah

Hasil dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel hasil uji t di atas. Adapun hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

1) Economic Value added (EVA)

EVA merupakan indikator tentang adanya perubahan nilai dari suatu investasi. EVA mengukur nilai tambah yang dihasilkan suatu

perusahaan dengan cara mengurangi biaya modal yang timbul sebagai akibat investasi yang dilakukan.

Dari hasil perhitungan uji secara parsial variabel Economic Value added dengan menggunakan uji satu arah (1-tailed) diperoleh nilai thitung sebesar (-4,017) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang berarti nilai Sig. variabel Economic Value added lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan Economic Value added berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Dan hubungan Economic Value added dengan Harga saham bersifat negatif dapat dilihat dari arah koefisien regresi negatif sebesar -0,582. Maka hipotesis pertama diterima (Ha diterima dan H0 ditolak).

Berdasarkan perbandingan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sawaldi7, Niekie Arwiyanti8, terdapat perbedaan hasil yang menyatakan bahwa secara parsial Economic Value added berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham. Sedangkan peneliti menemukan Economic Value added berpengaruh signifikan dan negatif terhadap harga saham

7

Sawaldi. Pengaruh EVA dan rasio rasio profitabilitas terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Daftar Efek Syariah 2007-2010”. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN sunan Kalijaga, 2013)

8

Arwiyanti, Niekie. Pengaruh EVA, Rasio Profitabilitas dan EPS terhadap Harga saham pada perusahaan Asuransi yang terdaftar di BEI tahun 2006-2010”. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro, 2012)

yang didukung oleh peneliti sebelumnya Gita Evadini9, yang menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang menjadi sampel penelitian bukannya menciptakan nilai tapi justru menghancurkan nilai kekayaan pemegang saham karena bila diteliti lebih jauh terdapat beberapa perusahaan yang menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih rendah daripada tingkat bunga bebas risiko. Hal ini juga bisa disebabkan oleh kurang mendasarkan nya self-buy decision pada investor pada pendekatan fundamental. Sehingga harga saham di pasar modal cenderung terbentuk karena sentimen pasar, spekulasi dan sebagainya, yang menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia masih bersifat weak form efficient.

Karena EVA adalah suatu pengukuran dengan memperhitungkan secara tepat semua faktor-faktor yang berhubungan dengan penciptaan nilai. Hubungan antara EVA dan nilai perusahaan dapat dijelaskan, bahwa EVA dapat digunakan sebagai alat untuk menilai perusahaan, apabila perhitungan EVA tidak hanya pada periode masa kini tetapi juga mencakup periode yang akan datang. Hal ini disebabkan karena EVA pada tahun tertentu menunjukkan nilai sekarang dari total penciptaan nilai selama umur perusahaan tersebut.

9

Evandini, Gita . Pengaruh Economic Value Added terhadap Harga Saham di pasar modal. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama Bandung, 2003)

2) Earning Per Share (EPS)

Earning per Share (EPS) merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari setiap lembar saham yang dimiliki oleh para pemegang saham perusahaan. EPS merupakan rasio antara laba bersih jumlah saham perusahaan yang beredar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa secara parsial Earning Per Share (EPS) memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap harga saham. Di samping berpengaruh secara signifikan.

Kondisi tersebut terlihat dari hasil perhitungan uji secara parsial variabel Earning Per Share dengan menggunakan uji satu arah (1-tailed) diperoleh nilai thitung sebesar (8,354) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Karena nilai thitung (8,354) > (1,667) nilai ttabel, atau karena nilai Sig. variabel Earning Per Share lebih kecil dari 0,05, dan arah koefisien positif maka dapat disimpulkan Earning Per Share berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham. Maka hipotesis kedua diterima (Ha diterima dan H0 ditolak).

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Indrayuni Ramarti10, Nazula Fatmawati11, dan

10Ramarti, Indrayuni. “Analisis Pengaruh Rasio Nilai Pasar, Profitabilitas, Solvabilitas,dan Likuiditas terhadap harga saham LQ 45 tahun 2006-2010.”(Skripsi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah, 2012).

Tamara Oca12, yang menyatakan bahwa secara parsial Earning Per Share berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham. Hal ini dibuktikan bahwa EPS yang lebih besar menandakan kemampuan perusahaan yang lebih besar dalam menghasilkan keuntungan bersih dari setiap lembar saham yang diterbitkan.perusahaan-perusahaan yang mampu memberikan laba per lembar saham akan menarik para investor untuk menginvestasikan dana nya pada saham perusahaan tersebut.

Dengan kata lain, jika investor berminat untuk berinvestasi pada saham perusahaan tersebut, hal ini akan mempengaruhi permintaan saham perusahaan tersebut di pasar. Semakin tinggi permintaan saham atas suatu perusahaan, maka harga saham tersebut akan cenderung naik. Jadi, dapat diambil kesimpulan bahwa EPS memiliki pengaruh terhadap harga saham. Karena pada dasarnya seorang investor melakukan investasi dengan harapan akan memperoleh keuntungan atas modal yang telah diinvestasikannya. Mereka beranggapan bahwa besarnya nilai laba per lembar saham yang dibagikan oleh sebuah perusahaan merupakan suatu indikator keberhasilan dalam menghasilkan keuntungan bagi pemegang

11

Fatmawati, Nazula. Analisis Faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham JII 2005-2007. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi UIN Sunan Kalijaga, 2010).

12

Oca, Tamara. Pengaruh DR, PER, EPS dan SIZE terhadap harga saham Perusahaan Industri di BEI. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang, 2012)

saham. Pola pemikiran tersebut akan mendorong seorang investor untuk melakukan pembelian saham pada perusahaan yang memiliki nilai earning per share yang tinggi. Pada kondisi yang seperti itulah harga saham di pasar modal akan bergerak naik karena meningkatnya jumlah permintaan saham. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa earning per share memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pergerakan harga saham di pasar modal.

3) Return On Asset (ROA)

Dari hasil perhitungan uji secara parsial variabel Return On Asset dengan menggunakan uji satu arah (1-tailed) diperoleh nilai t hitung sebesar (6,7) dengan nilai signifikansi sebesar 0,000. Karena nilai t hitung (6,7) > (1,667) nilai t tabel, atau karena nilai Sig. variabel Return On Asset lebih kecil dari 0,05, dan arah koefisien positif maka dapat disimpulkan Return On Asset berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham. Maka hipotesis ketiga diterima (Ha diterima dan H0 ditolak).

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hadi Mastoni13, dan Akroman14 yang menyatakan bahwa secara parsial Return On Asset berpengaruh signifikan dan

13

Mastoni, Hasi. Pengaruh rasio profitabilitas terhadap harga saham perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2009”. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang, 2011)

14

Akroman. Pengaruh Rasio Keuangan (ROA dan ROE) dan EVA terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di JII periode 2004-2006. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi UIN Kalijaga Yogyakarta, 2010).

positif terhadap harga saham, yang berarti kenaikan atau penurunan nilai ROA akan berdampak pula pada kenaikan dan penurunan harga saham. Nilai ROA yang semakin tinggi akan memberikan kontribusi terhadap nilai harga saham yang semakin tinggi atau sebaliknya nilai ROA yang semakin rendah akan memberikan kontribusi terhadap nilai harga saham yang semakin rendah.

Rasio keuangan, adalah salah satu rasio yang mempunyai peranan yang penting sehingga dapat digunakan investor untuk memenuhi kebutuhan informasi dalam proses pengambilan keputusan membeli saham suatu emiten di Bursa Efek, ketika nilai ROA menunjukkan hasil yang baik, pada kondisi yang seperti itulah harga saham di pasar modal akan bergerak naik karena meningkatnya jumlah permintaan saham.

4) Ukuran Perusahaan (Firm Size)

Dari hasil perhitungan uji secara parsial variabel Ukuran Perusahaan (Firm Size) dengan menggunakan uji satu arah (1-tailed) diperoleh nilai thitung sebesar (3,133) dengan nilai signifikansi sebesar 0,003. Karena nilai thitung (3,133) > (1,667) nilai ttabel, atau karena nilai Sig. variabel Ukuran Perusahaan (Firm Size) lebih kecil dari 0,05, dan arah koefisien positif maka dapat disimpulkan Ukuran Perusahaan (Firm Size) berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham. Maka hipotesis keempat diterima (Ha diterima dan H0 ditolak).

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nur Hidayati15, Dena Aksinia16 yang menyatakan bahwa secara parsial Ukuran Perusahaan (Firm Size) berpengaruh signifikan dan positif terhadap harga saham. Karena menurut Widjaja dalam Tamara Oca17, Ukuran Perusahaan (Firm Size) adalah suatu ukuran yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan, antara lain total penjualan, rata-rata tingkat penjualan, dan total aktiva. Pada umumnya perusahaan besar memiliki total aktiva yang besar pula sehingga dapat menarik investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut dan akhirnya saham tersebut mampu bertahan pada harga yang tinggi.

Karena makin besar ukuran sebuah perusahaan (size) yang dapat dilihat dari besarnya total aset sebuah perusahaan maka harga saham perusahaan semakin tinggi, sedangkan jika ukuran perusahaan semakin kecil maka harga saham akan semakin rendah. Artinya para investor di pasar modal akan lebih tertarik kepada perusahaan yang memiliki total aset yang besar karena perusahaan besar lebih mudah memperoleh pinjaman karena nilai aktiva yang dijadikan jaminan lebih besar dan tingkat kepercayaan bank juga

15

Hidayati, Nur. Analisis pengaruh Kinerja finansial dan firm size terhadap harga saham perusahaan LQ-45 2003-2005. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi UNS, 2009)

16

Aksinia, Dena. Pengaruh ROE dan Ukuran Perusahaan terhadap Harga Saham Perbankan dimoderasi oleh variabel Harga Emas”. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Terbuka, 2013).

17

Oca, Tamara. Pengaruh DR, PER, EPS dan SIZE terhadap harga saham Perusahaan Industri di BEI. (Skripsi S1 Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, 2012) h.3

lebih tinggi sehingga harga pasar saham perusahaan tersebut di Bursa Efek Indonesia akan meningkat.

Semakin besar kekayaan suatu perusahaan maka semakin positif respon investor di pasar modal yang diindikasikan dengan meningkatnya harga pasar saham perusahaan tersebut. Semakin besar ukuran perusahaan maka menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aktiva yang besar yang dapat dikelola guna menghasilkan laba sebesar-besarnya sehingga hal ini direspon secara positif oleh para investor di pasar modal. Pada kondisi yang seperti itulah harga saham di pasar modal akan bergerak naik karena respon positif menunjukkan adanya kenaikan jumlah permintaan saham.

3. Hasil Persamaan Regresi

Tabel 4.9

Model Persamaan Regresi

Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) -12.887 5.267 -2.447 .017 EVA -.582 .145 -.447 -4.017 .000 EPS .875 .105 .555 8.354 .000 ROA 2.718 .406 .750 6.700 .000 Size 1.796 .573 .474 3.133 .003 a. Dependent Variable: HS

Pada tabel 4.9 Model Persamaan Regresi di atas, dapat dilihat persamaan regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Y = -12,887 + -0,582X1 + 0,875X2 + 2,718X3 + 1,796X4 Keterangan :

Y = Harga Saham

X1 = Economic Value added (EVA) X2 = Earning Per Share (EPS) X3 = Return On Asset (ROA) X4 = Ukuran Perusahaan (Size)

Koefisien-koefisien persamaan regersi linier berganda diatas dapat diartikan koefisien regresi untuk konstan sebesar -12,887 menunjukkan bahwa jika variabel Economic Value added, Earning Per Share, Return On Asset dan Ukuran Perusahaan bernilai nol maka Harga saham adalah -12,887 kali. Dengan catatan, variabel lain dianggap konstan.

Berdasarkan hasil persamaan regresi linier berganda diatas dapat diambil kesimpulan bahwa variabel dependen (harga saham) akan mengalami penurunan sebesar -12,887 tanpa dipengaruhi oleh semua variabel independen yang terdiri dari Economic Value added, Earning Per Share, Return On Asset dan Ukuran Perusahaan. Widyatmini mengemukakan18, bahwa salah satu instrument pasar modal yang paling

18Widyatmini & Michael Valentino, “Pengaruh Pertambahan Ekonomis dan Analisis Fundamental Terhadap harga saham. Artikel Ekonomi:Univ Gunadarma, ( 2009) h. 40

sering diperdagangkan adalah saham. Terutama saham yang bersifat menjual ke saham publik. Saham dari perusahaan yang menjual ke publik adalah saham yang diperjual-belikan pada khalayak umum (investor) pada suatu bursa saham. Bursa efek yang mengatur transaksi pembelian dan penjualan saham di Indonesia adalah Bursa Efek Indonesia (BEI). Seperti halnya harga barang pada pasar tradisional, harga saham yang diperdagangkan dipasar modal pun mengalami fluktuasi, harga saham yang diperdagangkan di pasar modal dapat naik ataupun turun dalam hitungan menit. Kenaikan ataupun penurunan harga saham dipengaruhi oleh seberapa kuat penawaran dan penjualan yang terjadi pada bursa terhadap saham tersebut. Harga saham akan naik jika semakin banyak investor yang ingin membeli saham tersebut, sebaliknya harga saham akan turun jika semakin banyak investor yang ingin menjual saham tersebut.

Nilai koefisien variabel Economic Value added terhadap harga saham sebesar -0,582, menyatakan bahwa apabila variabel Economic Value added meningkat 1 satuan maka akan menurunkan Harga saham sebesar 0,582 kali. Dengan catatan variabel independen yang lain tetap (konstan).

Nilai koefisien variabel Earning Per Share terhadap harga saham sebesar 0,875, menyatakan bahwa apabila setiap penambahan nilai Earning Per Share sedangkan variabel independen yang lain tetap, akan meningkatkan harga saham sebesar 0,875.

Nilai koefisien Return On Asset terhadap harga saham sebesar -2,718, artinya ketika Return On Asset naik 1 satuan sedangkan variabel independen yang lain tetap, maka harga saham akan naik 2,718 satuan.

Nilai koefisien Ukuran Perusahaan (Firm Size) terhadap harga saham sebesar 1,796, artinya ketika Ukuran Perusahaan (Firm Size) naik 1 satuan sedangkan variabel independen yang lain tetap, maka harga saham akan naik 1,796 satuan.

4. Koefisien Determinasi

Tabel 4.10

Uji Koefisien Determinasi

Model Summaryb

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

Durbin-Watson

1 .908a .824 .813 .62495 1.915

a. Predictors: (Constant), Size, EPS, EVA, ROA b. Dependent Variable: HS

Sumber : Output SPSS yang diolah

Pada data tabel hasil uji koefisien determinasi di atas dapat dilihat bahwa nilai adjusted R square sebesar 0,813 atau 81,3%, yang berarti variabel terikat (harga saham) dapat dijelaskan variabel bebas (EVA, EPS, ROA, Ukuran Perusahaan) sebesar 81,3%, sedangkan sisanya sebesar 18,7% dijelaskan oleh faktor-faktor lain.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi harga saham seperti Resiko Sistematis (Beta) yang telah diteliti oleh Zulkifli Harahap19. Sedangkan Wirawan20, mengemukakan bahwa inflasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga saham. Inflasi berkorelasi negatif dengan harga saham karena meningkatnya inflasi merupakan sinyal bahwa pendapatan pajak pemerintah akan menurun, tingkat peminjaman akan meningkat, dan dana yang dikeluarkan oleh pemerintah berkaitan dengan obligasinya juga akan meningkat. Tingginya ekspektasi inflasi dan tingkat risiko memegang rupiah juga biasanya dikendalikan dengan menaikkan bunga SBI. Bunga yang tinggi diperlukan agar masyarakat mau memegang rupiah dan tidak membelanjakannya untuk hal-hal yang tidak mendesak, melainkan lebih memilih menginvestasikan dananya pada deposito atau obligasi yang memberikan return berupa bunga yang lebih tinggi daripada saham. Apalagi risiko berinvestasi pada deposito dan obligasi jelas lebih kecil daripada risiko investasi dalam saham. Hal ini otomatis akan menurunkan harga saham.

Kenaikan SBI juga dapat dilihat dari peningkatan bunga pinjaman untuk para debitur. Jika bunga untuk masyarakat yang menyimpan uang meningkat, jelas bunga pinjaman yang dikenakan untuk para debitur juga akan meningkat. Karena hampir semua perusahaan besar (termasuk yang listed di bursa)

19Harahap, Zulkifli & Agusni Pasaribu. “Pengaruh Faktor Fundamental dan Resiko Sistematis terhadap Perubahan Harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Jurnal MEPA: EKONOMI, Vol 2 No. 1 (Januari, 2007)

20Wirawan, Saipul& Intan. “Analisis Faktor-faktor Internal dan Eksternal terhadap Harga Saham Perusahaan Manufaktur yang listed di BEJ. Jurnal Riset Akuntansi: AKSIOMA, Vol 5, No. 2 (Desember, 2006)

meminjam dana dari bank, otomatis mereka merasakan dampaknya juga. Hal ini menyebabkan laba bersih sekaligus dividen yang diberikan pada pemegang saham ikut menurun. Jika ini terjadi, maka kondisi fundamental perusahaan tersebut akan kurang menguntungkan. Dampaknya akan banyak investor yang melepas sahamnya, sehingga harga dan return saham menurun.

D. Interpretasi Hasil Penelitian

Dokumen terkait