• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian dan Konsep Pasar Modal

A. PASAR MODAL SYARIAH

1. Pengertian dan Konsep Pasar Modal

Perusahaan adalah lembaga yang melakukan usaha atau aktivitas ekonomi sebagai produsen dan pencipta nilai tambah. Dibidang investasi perusahaan yang melakukan usaha lazim disebut investor. Investor sangat diperlukan dalam pengembangan investasi. Tanpa adanya investor, tentu investasi tidak dapat dilaksanakan. Selanjutnya investor tidak akan tertarik untuk investasi, bila iklim usaha yang diciptakan oleh pemerintah masyarakat kurang kondusif dan tidak menarik.

Pasar modal (capital market) menyediakan fasilitas untuk menanam dana atau mendapatkan modal untuk investasi jangka panjang. Alasan utama orang memilih meminjam dana jangka panjang ialah untuk mengurangi risiko naiknya tingkat bunga sebelum ia melunasi utang tersebut. Namun, pengurangan risiko itu justru menimbulkan beban biaya karena tingkat bunga jangka panjang kebanyakan lebih tinggi dari tingkat bunga jangka pendek.

Pelaku utama yang menerbitkan sekuritas pasar modal ialah pemerintah dan perusahaan. Pemerintah biasanya menerbitkan promes

jangka panjang dan obligasi untuk memperoleh dana pembangunan, misalnya jalanan dan fasilitas umum lainnya. Perusahaan-perusahaan menerbitkan saham untuk membiayai pertumbuhan perusahaan. Saham adalah surat bukti kepemilikan (ekuitas) terhadap perusahaan yang bersangkutan. Harapan pemilik saham adalah pembagian laba (dividen) dari perusahaan yang bersangkutan.

Perdagangan dalam pasar modal terjadi, baik dalam pasar perdana maupun pasar sekunder. Pasar perdana adalah pasar untuk penawaran pertama kepada publik sesudah melakukan IPO (initial public offering). Melalui transaksi dalam IPO dan pasar perdana inilah perusahaan penerbit sekuritas sesungguhnya menerima dana. Penerbitan sekuritas selalu didahului dengan initial public offering (IPO).

Perdagangan selanjutnya terjadi dalam pasar sekunder. Pasar sekunder bermanfaat bagi pemilik sekuritas untuk menjual sekuritas, baik karena alasan untuk memperoleh likuiditas maupun untuk memperoleh keuntungan atas kenaikan harga sekuritas tersebut.1

Menurut Tjiptono dan Hendy, Pada dasarnya pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrument keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk utang, ekuitas (saham), instrument derivatif, maupun instrument lainnya. Pasar modal

1

Darmawi, Herman. Pasar Finansial Dan Lembaga-Lembaga Finansial, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006), h. 104

merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah) dan sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitiasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya.2

Penerimaan yang diperoleh dari tabungan yang sudah digunakan melalui pasar modal keuangan disebut pendapatan modal. Dua bentuk pendapatan modal yang paling penting adalah bunga dan laba. Bunga adalah biaya yang dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman. Bunga merupakan imbalan bagi rumah tangga atas penundaan pemenuhan kepuasan saat ini, dan laba merupakan imbalan bagi wirausahawan atas investasi dan risiko yang diambilnya. Dalam masyarakat industri modern, keputusan investasi (keputusan produksi modal) terutama diambil oleh perusahaan. Rumah tangga memutuskan berapa banyak menabung, dan dalam jangka panjang, tabungan membatasi jumlah investasi yang dapat dilakukan perusahaan. Pasar itu berfungsi untuk mengarahkan tabungan ke proyek investasi yang mampu menghasilkan laba.3

Pasar Modal memiliki peran besar bagi perekonomian suatu Negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus: fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi

2

Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fakhrudin. Pasar Modal di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), h. 1

3

Case, Karl & Ray C. Fair. Prinsip-Prinsip Ekonomi Mikro. (New Jersey: PT. INDEKS, 2003). h. 282

karena pasar menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan, yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (yaitu investor) dan pihak yang memerlukan dana (yaitu issuer, pihak yang menerbitkan efek atau emiten). Dengan adanya pasar modal, maka pihak yang memiliki kelebihan dana dapat menginvestasikan dana tersebut dengan harapan memperoleh imbal hasil (return), sedangkan pihak issuer (dalam hal ini perusahaan) dapat memanfaatkan dana tersebut untuk kepentingan investasi tanpa harus menunggu tersedianya dana dari operasi perusahaan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi keuangan, karena memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbal hasil bagi pemilik dana, sesuai karakteristik investasi yang dipilih. Dengan adanya pasar modal, diharapkan aktivitas perekonomian dapat meningkat karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan, sehingga dapat beroperasi dengan skala yang lebih besar, dan selanjutnya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran masyarakat luas.4 2. Pengertian dan Konsep Pasar Modal Syariah

Pasar modal syariah dapat diartikan sebagai pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan transaksi ekonomi dan

4

Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fakhrudin. Pasar Modal di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), h. 2-3

terlepas dari hal-hal yang dilarang, seperti: riba, perjudian, spekulasi dan lain-lain.5

Menurut Adrian Sutedi, Pasar modal syariah adalah pasar modal yang dijalankan dengan prinsip-prinsip syariah, setiap transaksi surat

berharga dipasar modal dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syari’at

Islam. Pasar uang syariah adalah pasar yang dimana diperdagangkan surat berharga yang diterbitkan sehubungan dengan penempatan atau peminjaman uang dalam jangka pendek dan memanage likuiditas secara efisien, dapat memberikan keuntungan dan sesuai dengan syariah.6

Pertama kali lembaga keuangan yang concern didalam mengoperasionalkan portofolio syariah di pasar modal syariah adalah Amanah Income Fund yang didirikan pada bulan Juni 1986 oleh para anggota The North American Islamic Trust yang bermarkas di Indiana, Amerika Serikat. Tidak lama kemudian wacana membangun pasar modal yang berbasis syariah disambut dengan antusias oleh para pakar ekonomi muslim dikawasan Timur Tengah, Eropa, Asia, dan juga wilayah AS yang lain. Beberapa Negara yang proaktif dalam menyambut kedatangan para investor muslim maupun investor yang ingin memanfaatkan pasar modal yang berprinsip syariah adalah Bahrain Stock di Bahrain, Amman

5

Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fakhrudin. Pasar Modal di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), h. 231

6

Financial Market di Amman, Muscat Securities Kuwait Stock Exchange di Kuwait dan KL Stock Exchange di Kuala Lumpur Malaysia.

Pasar Syariah tidak hanya berkembang di Negara-negara yang mayoritas muslim, tetapi berkembang juga dinegara-negara sekuler yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bursa efek dunia New York Stock Exchange meluncurkan produk yang bernama Dow Jones Islamic Market Index (DJIMI) pada bulan Februari 1999. Untuk menjaga agar investasi yang dilakukan pasar modal syariah ini aman dari hal hal yang bertentangan dengan prinsip syariah, maka dibentuklah Dewan Pengawas Syariah yang disebut dengan nama Syariah Supervisory Board. Perkembangan lembaga keuangan syariah dalam bentuk investasi dipasar modal syariah di berbagai Negara disambut baik oleh para pakar ekonomi muslim diseluruh dunia, termasuk Indonesia yang ditandai dengan Jakarta Islamic Index pada tahun 2000.7

Pasar Modal di Indonesia, secara resmi diluncurkan pada tanggal 14 Maret 2003 bersamaan dengan penandatanganan MOU antara BAPEPAM dengan Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Walaupun secara resmi diluncurkan pada tahun 2003, namun instrumen pasar modal syariah telah hadir di Indonesia sejak tahun 1997. Hal ini ditandai dengan peluncuran Danareksa Syariah pada tanggal 3 Juli 1997 oleh PT. Danareksa Investment Management. Selanjutnya, BEJ bekerja

7

sama dengan PT. Danareksa Investment Management meluncurkan Jakarta Islamic Index (JII) pada tanggal 3 Juli 2000 yang bertujuan memandu investor yang ingin menanamkan dana nya secara syariah. Dengan hadirnya indeks tersebut, maka para investor telah disediakan saham-saham yang dapat dijadikan sarana berinvestasi dengan penerapan prinsip syariah telah disiapkan bagi para investor.8

3. Jakarta Islamic Index (JII)

Di Indonesia, prinsip-prinsip penyertaan modal secara syariah tidak diwujudkan dalam bentuk saham syariah maupun non syariah, melainkan berupa pembentukan indeks saham yang memenuhi prinsip-prinsip syariah. Dalam hal ini, di BEJ terdapat JII yang merupakan 30 saham syariah yang ditetapkan Dewan Syariah Nasional (DSN). Indeks JII dipersiapkan oleh PT. BEJ bersama dengan PT. Danareksa Investment Management (DIM).

JII dimaksudkan untuk digunakan sebagai tolak ukur (benchmark) kinerja suatu investasi pada saham dengan basis syariah. Index ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor untuk mengembangkan investasi dalam ekuitas secara syariah. JII terdiri atas sekitar 30 jenis saham yang dipilih dari saham-saham yang sesuai dengan

8

Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fakhrudin. Pasar Modal di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), h. 231

Syariah Islam. Penentuan kriteria pemilihan saham dalam JII melibatkan pihak Dewan pengawas Syariah PT Danareksa Investment Management.

Saham-saham yang masuk dalam Indeks Syariah adalah emiten yang kegiatan usahanya tidak bertentangan dengan syariah, seperti:

 Usaha perjudian dan permainan yang tergolong judi atau perdagangan yang dilarang.

 Usaha lembaga keuangan konvensional (ribawi) termasuk perbankan dan asuranasi konvensional.

 Usaha yang memproduksi, menditribusi, dan/atau menyediakan barang-barang atau jasa yang merusak moral dan bersifat mudarat. Selain kriteria diatas, dalam proses pemilihan saham yang termasuk JII-BEI, maka dilakukan tahap-tahap pemilihan yang juga mempertimbangkan aspek likuiditas dan kondisi keuangan emiten, yaitu:

 Memilih kumpulan saham dengan jenis usaha utama yang tidak bertentangan dengan prinsip syariah dan sudah tercatat lebih dari tiga bulan (kecuali termasuk dalam 10 kapitalisasi besar).

 Memilih saham berdasarkan laporan keuangan tahunan atau tengah tahun terakhir yang memiliki rasio kewajiban terhadap aktiva maksimal sebesar 90%.

 Memilih 60 saham dari susunan saham diatas berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar (market capitalization) terbesar selama satu tahun terakhir.

 Memilih 30 saham dengan urutan berdasarkan tingkat likuiditas rata-rata nilai perdagangan regular selama satu tahun terakhir. Pengkajian ulang akan dilakukan setiap enam bulan sekali dengan penentuan komponen index pada awal bulan Januari dan bulan Juli setiap tahunnya. Sedangkan perubahan pada jenis usaha emiten akan diawasi atau dimonitor terus-menerus berdasarkan data-data publik yang tersedia.9

Dalam rangka merespon segala hal yang berhubungan dengan investasi syariah sebagai akibat pesatnya perkembangan ekonomi syariah diseluruh dunia, PT Bursa Efek Jakarta membentuk Jakarta Islamic Index (JII) pada tanggal 3 Juli 2000. Perusahaan-perusahaan (emiten) yang kegiatan utamanya tidak sesuai syariah maka akan dikeluarkan dari kelompok JII. Bagi perusahaan yang telah terdaftar di JII paling tidak perusahaan tersebut telah memenuhi filter dari prinsip-prinsip syariah dan sudah terpenuhi kriteria untuk indeks yang telah ditetapkan, sedangkan tolak ukur filter syariah adalah usaha emiten bukan usaha perjudian, tidak menggunakan unsur ribawi sebagaimana dalam investasi konvesional,

9

Darmadji, Tjiptono dan Hendy M. Fakhrudin. Pasar Modal di Indonesia, (Jakarta: Salemba Empat, 2006), h. 233-234

bukan emiten yang mendistribusikan dan memproduksi barang barang haram, atau barang-barang yang merusak moral bangsa.

Tabel 2.1

Prinsip Pasar Modal Syariah10

Penyebab Haramnya Transaksi Implikasi di Pasar Modal

Li Dzatihi Efek yang diperjual belikan harus merupakan representasi dari barang

dan jasa yang halal.

Li Ghairi– Tadlis 1. Keterbukaan/Transparansi Informasi

2. Larangan terhadap informasi menyesatkan.

Li Ghairi– Riba Fadhl Larangan terhadap transaksi yang mengandung ketidakjelasan objek yang ditransaksikan, baik dari sisi pembeli maupun penjual.

Li Ghairi– Riba Nasiah Larangan atas pertukaran efek sejenis dengan nilai nominal berbeda,

Li Ghairi– Riba Jahiliyah Larangan atas short selling yang menetapkan bunga atas pinjaman.

Li Ghairi–Bai’ Najasy Larangan melakukan rekayasa permintaan untuk mendapatkan

keuntungan diatas laba normal, dengan cara menciptakan false demand.

Li Ghairi - Ikhtikar Larangan melakukan rekayasa penawaran untuk mendapatkan

keuntungan diatas laba normal, dengan cara mengurangi supply agar harga jual naik.

Tidak Sah akad - Rukun dan Syarat Larangan atas semua investasi yang tidak dilakukan secara sportif. Tidak Sah akad - Ta’aluq Transaksi yang settlement-nya dikaitkan dengan transaksi lainnya. Tidak Sah akad - 2 in 1 Dua transaksi dalam satu akad, dengan syarat:

1. Objek sama 2. Pelaku sama 3. Periode sama

10

Harahap, Sofyan Syafri. Menuju Perumusan Teori Akuntansi Islam, (Jakarta; Pusaka Quantum, 2001), h.288.

Menurut Metwally11 fungsi dari keberadaan pasar modal syariah adalah sebagai berikut:

1. Memungkinkan bagi masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan bisnis dengan memperoleh bagian dari keuntungan risiko nya.

2. Memungkinkan para pemegang saham menjual sahamnya guna mendapatkan likuiditas.

3. Memungkinkan perusahaan meningkatkan modal dari luar untuk membangun dan mengembangkan lini produksinya.

4. Memisahkan operasi kegiatan bisnis dari fluktuasi jangka pendek pada harga saham yang merupakan ciri umum pada pasar modal konvensional.

5. Memungkinkan investasi pada ekonomi itu ditentukan oleh kinerja kegiatan bisnis sebagaimana tercermin pada harga saham.

Sementara itu, karakteristik yang diperlukan dalam membentuk pasar modal syariah12 adalah sebagai berikut.

1. Semua saham harus diperjual belikan pada bursa efek.

2. Bursa efek perlu mempersiapkan pasca perdagangan yang saham dapat diperjualbelikan melalui pialang.

11

Matewally, Teori dan Praktik Ekonomi Islam, (Jakarta; Bangkita Daya Insani, 1995). H. 177

12

Matewally, Teori dan Praktik Ekonomi Islam, (Jakarta; Bangkita Daya Insani, 1995). hlm. 178-179.

3. Semua perusahaan yang mempunyai saham yang dapat diperjualbelikan di bursa efek diminta menyampaikan informasi tentang perhitungan (account) keuntungan dan kerugian, serta neraca keuntungan kepada komite manajemen bursa efek, dengan jarak tidak lebih dari tiga bulan.

4. Komite manajemen menerapkan harga saham tertinggi (HST) disetiap perusahaan dengan interval tidak lebih dari 3 bulan sekali.

5. Saham tidak boleh diperjualbelikan dengan harga lebih tinggi dari HST.

6. Saham dapat dijual dengan harga dibawah HST.

7. Komite manajemen harus memastikan bahwa semua perusahaan yang terlibat dalam bursa efek itu mengikuti standar akuntansi syariah. 8. Perdagangan saham mestinya hanya berlangsung dalam satu minggu

periode perdagangan setelah menentukan HST.

9. Perusahaan hanya dapat menerbitkan saham baru dalam periode perdagangan, dan dengan harga HST.

B. KINERJA KEUANGAN

Kinerja keuangan adalahh penentuan ukuran ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba. Tujuan penilaian kerja adalah untuk memotivasi karyawan dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam anggaran.13

Terdapat beberapa tahap dalam menganalisis kinerja suatu perusahaan secara umum menurut Irham Fahmi14, antara lain:

a. Melakukan review terhadap data laporan keuangan

Review ini dilakukan agar laporan keuangan yang telah dibuat sesuai dengan kaidah kaidah yang berlaku sehingga hasil laporan keuangan tersebut dapat dipertanggung jawabkan.

b. Melakukan Perhitungan

Penerapan metode perhitungan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan tersebut akan memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan analisis yang diinginkan.

13

Sucipto. “Penilaian Kinerja Keuangan”. Jurnal Akuntansi: Universitas Sumatera Utara. (2003). h .1-2

14

c. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh. Hasil hitungan yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan hasil hitungan perusahaan lainnya. Metode yang paling umum dipergunakan ini ada dua yaitu:

1) Time series analysis, yaitu membandingkan secara antar waktu atau antar periode, dengan tujuan itu nantinya akan terlihat secara grafik.

2) Cross Sectional Approach, yaitu melakukan perbandingan

terhadap hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis yang dilakukan secara bersamaan.

Hasil penggunaan kedua metode ini dapat dibuat satu kesimpulan yang menyatakan posisi perusahaan tersebut berada dalam kondisi sangat baik, baik, tidak baik, dan sangat tidak baik. d. Melakukan Penafsiran (Interpretation) terhadap berbagai masalah

yang ditemukan. Pada tahap ini dilakukan penafsiran untuk melihat apa-apa saja permasalahan dan kendala-kendala yang dialami perusahaan tersebut.

e. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap masalah yang ditemukan. Pada tahap ini apabila ditemukan permasalahan yang dihadapi maka dicarikan solusi guna

memberikan suatu input atau masukan agar apa yang menjadi kendala dan hambatan selama ini dapat terselesaikan.

Dokumen terkait