BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
2. Hasil Wawancara
Objek dalam wawancara ini adalah Kepala sekolah, guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, dan siswa di SMA IZADA.
Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti kepada Kepala Sekolah SMA IZADA, dapat diketahui bahwa sekolah SMA IZADA sudah menggunakan Kurikulum 2013 sejak tahun pelajaran 2013-2014 yang dimulai dari kelas X. Dalam penerapan kurikulum 2013 ada beberapa prosedur yang harus dilakukan oleh sekolah yaitu salah satunya adalah melaksanakan penilaian autentik oleh pendidik yang mencakup ranah afektif, kognitif dan psikomotorik. Diharapkan dalam penilaian autentik ini bisa mengasah kompetensi siswa dengan baik. Penilaian autentik merupakan metode yang menekankan pada penilaian proses. Yang ingin dimunculkan adalah kemajuan siswa dalam kompetensi inti dan kompetesi dasar.
Sejak menggunakan kurikulum 2013, semua guru pada kelas X SMA IZADA sudah menerapakan penilaian autentik, meskipun dalam pelaksanaannya belum begitu ideal sesuai dengan harapan.
Penilaian autentik perlu dilakukan karena penilaian autentik membertikan gambaran secara nyata sejauh mana penguasaan yang dapat dicapai oleh peserta didik terhadap kompetensi dasar tertentu yang dikuaisainya. Penilaian ini memberikan gambaran secara lebih detail dan aktual pada aspek tertentu yang akan dinilai sesuai indikator/ kriteria penilaian yang ditegakkan, baik afektif, kognitif maupun psikomotorik.
Penilaian autentik memberikan hasil belajar siswa lebih baik karena instrumennya mengukur secara lebih fokus pada aspek yang diharapkan untuk
dikuasai oleh peserta didik, dan bukan hanya itu, penilaian ini juga dapat secara objektif diukur oleh siapapun dengan hasil yang sesuai dengan usaha/ hasil kerja yang dibuat oleh peserta didik.
Tetapi untuk menerapkan penilaian autentik juga masih banyak kendala yang dihadapi dikarenakan penilaian ini masih baru. Kendala yang dijumpai, karena indikator dan kriteria penilaian harus dibuat sedetail mungkin untuk memberi gambaran terhadap penguasaan kompetensi dasar peserta didik, maka pendidik perlu trampil dalam membuat instrumen penilaian dan perlu skill dalam kemampuan menilai peserta didik. Untuk soal yang bersifat dengan jawaban mutlak, maka akan lebih mudah menilainya, namun untuk soal/ projek yang bukan dengan jawaban mutlak, seperti penilaian observasi, produk, performance, dan lain-lain, maka tantangan yang muncul adalah terutama bagaimana menuangkan penilaian yang bersifat subjektif dari pendidik dapat diterima serta penguji lain juga memperoleh hasil yang sama, sehingga penilain yang bersifat subyektif tersebut menjadi sesuatu objektif.7
Dari hasil wawancara terhadap guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas X di SMA IZADA dapat diketahui bahwa dalam melaksanakan pembelajaran, guru terlebih dahulu melakukan pemetaan RPP dan membuat RPP sesuai dengan KI dan KD yang akan di capai. Pelajaran agama di sekolah sangatlah penting untuk diajarkan, karena pelajaran ini mengandung nilai-nilai agama, sebagai pengendali dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini guru juga mengalami kesulitan dalam pengajaran dikarenakan pelajaran PAI adalah pelajaran yang mencakup keseluruhan dari materi-materi agama dan akhlak/budi pekerti, sehingga guru masih sangat susah untuk mengajak siswa mengamalakan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari, karena guru hanya bisa memantau dan mengawasi selama di kelas atau pada jam pelajaran, selebihnya adalah tanguung jawab individu siswa masing-masing.
Pada mata pelajaran PAI ini, guru sudah melaksanakan penialaian autentik, meskipun guru mengakui masih banyak kekurangan dalam pelaksanaanya. Idealnya, menurut permendikbud no. 66 tahun 2013 penialaian autentik itu
7
61
mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan. Guru melakukan penilain sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian antar peserta didik dan jurnal. Penilaian pengetahuan melalui tes tertulis, tes lisan dan penugasan. sedangkan keterampilan melalui tes praktik, projek dan portofolio. Tetapi dalam pelaksanaannnya, tentu tidak semudah teori. Pada mata pelajaran yang diajarkan ajarkan, penilaian sikap yang di laksanakan yaitu dengan menggunakan observasi, penilaian pengetahuan menggunakan tes tertulis beupa butiran soal yaitu nilai harian, UTS dan UAS, sedangkan penilaian keterampilan menggunakan proyek. Dalam melaksanakan penilaian autentik di dalam kelas terasa gampang-gampang susah. Itu karena membutuhkan waktu yang lama. Pelaksanaannya dimulai dengan menentukan KD yang akan dinilai, membuat kriteria lingkup yang akan dinilai, melakukan proses penilaian, dan yang terakhir adalah tindak lajut. Selama ini, ketika guru menerapkan penilaian autentik, respon siswa di dalam kelas terlihat lebih aktif dalam menerima materi pelajaran. Dengan melakukan penialain autentik ini, maka hasil belajar dan kreatifitas siswa lebih baik, karena mereka terpacu untuk menunjukkan kemampuannya masing-masing. Meskipun ada juga siswa yang hasil belajarnya kurang baik, tetapi mayoritas rata-rata nilainya baik. Dan apabila hasil belajar siswa masih kurang dari KKM, maka langkah yang dilakukan guru adalah melakukan remidial.8
Dari hasil wawancara terhadap 6 orang siswa, yang diambil dari kelas X IPA-1 sebnyak 2 orang, X IPA-2 sebanyak 2 orang dan X IPS sebanyak 2 orang bahwa mereka sangat senang dengan pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, ini dikenakan guru yang mengajar mata pelajaran tersebut dapat menyampaiakan pelajaran dengan baik dan menyenangkan. Penting bagi siswa untuk mempelajari pelajaran tersebut karena mengandung nilai-nilai, aturan-aturan dan menuntun umat muslim ke jalan yang benar, untuk bisa diamalkan dalam kehidupan sehari. Sehingga bisa mendapatkan kenikmatan akhirat. Adapun rata-rata kesulitan mereka dalam belajar PAI dan Budi Pekerti adalah mereka kesulitan dalam membaca, menghafal dan menulis ayat-ayat alqur’an dan hadis,
8
Wawancara penulis kepada Guru mata pelajaran PAI dan Budi Pekerti SMA IZADA (Lihat Lampiran)
sebagian kecil mengakui bahwa kesulitan yang selama ini mereka rasakan adalah mengingat nama-nama tokoh agama dan istilah-istilah yang ada dalam pelajaran, serta ada juga yang kesulitan dalam tugas kelas mencari hadits-hadits shohih dan menafsirkannya.
Selama ini penyampaian guru PAI sudah sangat baik. Guru sangat faham dan hafal terhadap materi yang akan disampaikan. Guru menjelaskan dengan jelas dan rinci, memberi innovasi dengan menampilkan contoh-contoh vidio, memberi ulasan-ulasan yang cukup, serta menggunakan gaya belajar yang mudah dimengerti siswa sehingga siswa menjadi antusias dan lebih semangat dalam belajar, sehingga mudah untuk dimengerti siswa. Semua siswa pun senang dengan pembelajaran yang dilakukan oleh guru karena cara guru menyampaikan sangat fariatif, mulai diskusi, permainan, dan menampilkan vidio, serta yang paling membuat senang adalah karena gurunya yang humoris sehingga siswa tidak bosan waktu di dalam kelas. Guru melakukan penilaian dengan baik selama di kelas, yaitu menilai semua aspek mulai dari sikap, pengetahuan dan keterampilan siswa. Bentuk penugasannya pun sangat fariataif, mulai dari ulangan harian, diskusi, presentasi, dan tugas membuat poster. Siswa pun sangat puas dengan penilaian yang dilakukan oleh guru, karena mencakup seluruh aspek pendidikan dan objektif, serta transparan. Rata-rata merekapun mendapatkan hasil belajar yang baik, yaitu di atas KKM. Adapun bagi siswa yang hasil belajarnya rendah atau kurang dari KKM, maka diberi kesempatan untuk memperbaiki dengan dilakukan remidial oleh guru.9