• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Hasil Wawancara Terhadap Guru

Berdasarkan hasil wawancara yang dilaksanakan sebelum dan sesudah dilaksanakannya pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran CTL, maka didapat kesimpulan sebagai berikut:

a) Sebelum dilakukan tindakan

Guru belum menggunakan model pembelajaran kooperatif yang inovatif sehingga gaya mengajar terkesan monoton, akibatnya siswa rendah antusias dan tertarik dalam melaksanakan pembelajaran, selain itu nilai hasil menulis narasi siswa belum mencapai hasil yang memuaskan

commit to user

b) Sesudah dilakukan tindakan

Penggunaan model pembelajaran Kontekstual (CTL) dapat meningkatkan keterampilan menulis narasi siswa.Hal ini dapat dilihat dari hasil tes siswa.

2. Hasil Nilai Tes Menulis Narasi Siswa

a. Data nilai siswa kelas V sebelum diterapkannya model pembelajaran Kontekstual (CTL)

Pada waktu diadaknnya tes pra-siklus diketahui nilai rata-rata diperoleh sebesar 66,16. Dari hasil ini masih didapati siswa yang mendapat nilai rendah dari KKM (75), yaitu sebanyak 23 siswa.Siswa yang memperoleh nilai antara 78 84 sebanyak 1 anak, nilai antara 71 77 ada 5 anak, nilai antara 64 70 ada 11 anak, nilai antara 57 63 ada 6 anak, dan nilai antara 50 56 ada 2 anak. Dari data tersebut dan data nilai secara klasikal pada tabel lampiran 24 halaman 183 dapat diketahui bahwa siswa yang memperoleh nilai > 75 ada 2 siswa atau 8% dari jumlah keseluruhan siswa.

b. Data nilai siswa siklus I

Berdasarkan daftar nilai yang terdapat pada lampiran 25 halaman 184 dapat diketahui nilai hasil evaluasi menulis narasi siswa pada siklus I yang terdiri atas 2 pertemuan dan guru hanya melakukan evaluasi pada pertemuan 2, maka nilai yang didapat adalah sebagai berikut:

1) Pada pertemuan ke-2 siswa yang memperoleh nilai 58 64 sebanyak 2 siswa, nilai 65 71 ada 5 siswa, 72 78 ada 13 siswa, 79 85 ada 3 siswa, 86 92 ada 2 siswa. Bila dilihat dari rentang nilai yang ada, maka pada siklus I pertemuan ke-2 52% siswa telah mencapai batas ketuntasan KKM (75). Dilihat dari nilai tertinggi juga terdapat peningkatan yaitu dari 78 menjadi 89 (lihat lampiran) Nilai rata-rata yang diperoleh dari pertemuan 2 pada siklus I sebesar 74,00. Hal itu berarti mengalami peningkatan dari siklus awal/pra-siklus yaitu 66,16.

commit to user

c. Data nilai siswa siklus II

1) Berdasarkan lampiran 27 halaman 188 ada pertemuan ke-2 siswa yang mendapat nilai antara 58 64 sebanyak 2 siswa, nilai 65 71 ada 3 siswa, nilai 72 78 ada 15 siswa, nilai 79 85 ada 3 siswa, nilai 86 92 ada 2 siswa, Rata-rata kelas sebesar 79,00. Bila dibandingkan dengan nilai pada siklus I terdapat peningkatan sebesar 5,00 (dari 74,00 menjadi 79,00).

Dengan melihat temuan hasil penelitian yang berupa data-data nilai di atas maka dapat diketahui adanya peningkatan proses maupun hasil pembelajaran menulis narasi melalui penerapan model pembelajaran Kontekstual (CTL).

Peningkatan dapat dilihat dari perhitungan rata-rata nilai ketika diadakannya pembelajaran pada siklus I dan siklus II. Hal ini dapat dilihat pada tabe 9 sebagai berikut:

Tabel 9. Peningkatan Nilai pra-Siklus, Siklus I, dan Siklus II No Pembelajaran Menulis

Narasi Pra-siklus Sesudah dilaksanakan tindakan Siklus I Siklus II

1 Nilai rata-rata 66,16 74,00 79,00

2 Nilai tertinggi 78 89 91

3 Nilai terendah 51 58 62

4 Prosentase Ketuntasan 8 % 52 % 84 %

Dari tabel di atas dapat dibuat grafik perbandingan prosentase ketuntasan keterampilan menulis narasi siswa kelas V SDN Sukoharjo 01 yang disajikan pada gambar sebagai berikut:

commit to user

Gambar 10. Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata pra-Siklus, Siklus I, dan Siklus II

Dari data perbandingan antara pra-siklus, siklus I, dan siklus II dapat dianalisis sebagai berikut:

Nilai rata-rata dari pembelajaran pra-siklus hingga siklus II terus mengalami peningkatan yaitu rata-rata yang semula 66,16 menjadi 74,00 terus meningkat hingga 79,00. Sedangkan nilai tertinggi yang semula pada waktu pra-siklus sebesar 76 setelah diadakan pra-siklus I meningkat cukup signifikan menjadi 89, dan setelah dilaksanakan siklus II meningkat lagi menjadi 91. Untuk nilai terendah pada masa pra-siklus masih terdapat siswa yang mendapat nilai 51, pada siklus I telah mengalami peningkatan menjadi 58,hingga pada siklus II meningkat menjadi 62.

Dilihat dari hasil pekerjaan siswa dalam menulis narasi sudah mengalami peningkatan yang cukup berarti. Peserta didik yang semula belum bisa mennarasikan objek sudahterampil mennarasikan objek dengan ciri-ciri cukup detail, semula susunan kalimat belum begitu baik setelah diadakannya pembelajaran pada siklus I dan siklus IImengalami peningkatan yaitu dapat menyusun sebuah karangan narasi ataupun laporan pengamatan denganbaik.

commit to user

Dari 25 siswa dapat dikatakan yang memiliki rata-rata keterampilan menulis narasi dengan sangat baik berkisar sekitar 2 siswa yang mendapatkan nilai dengan kategori baik adalah sebanyak, yang memiliki keterampilan menulis narasi sedang berjumlah 15 siswa dan cukup sebanyak 3 siswa, sedangkan hanya 2 siswa yang memiliki keterampilan menulis narasi dengan kriteria rendah. Faktor yang mendasari rendahnya keterampilan anak tersebut adalah dari dalam diri anak sendiri. Anak rendah memberikan respon yang positif terhadap proses pembelajaran meskipun guru telah berusaha mengadakan pendekatan personal dan memberikan motivasi dan bimbingan.

Sedangkan penilaian terhadap aktivitas baik guru maupun siswa dapat dilihat pada tabel 10 berikut:

Tabel 10. Aktivitas Siswa dan Guru

No Jenis Aktivitas

Tabel 11. Rata-rata Aktivitas Siswa dan Guru pada Siklus I dan Siklus II

Skor rata-rata Siklus I Siklus II

Aktivitas Siswa 2.87 (rendah) 3,55 (baik)

Aktivitas Guru 2,91 (rendah) 3,62 (baik)

commit to user

Gambar 11. Grafik Rata-rata Aktivitas Siswa dan Guru pada Siklus I dan Siklus II

Berdasarkan tabel dapat diketahui aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 memiliki skor rata-rata 2,63 (rendah), hal ini mencerminkan bahwa pada pembelajaran siklus I pertemuan 1 peserta didik belum melaksanakan proses pembelajaran secara aktif. Sedangkan pada pertemuan 2 aktivitas siswa mulai menunjukkan peningkatan menjadi 3,24 (baik) atau dengan kata lain peserta didik telah berperan cukup aktif selama proses pembelajaran. Keadaan ini nterus meningkat pada pertemuan 1 siklus II, skor rata-rata aktivitas siswa menjadi 3,53 (baik) sampai pada akhir siklus II aktivitas siswa semakin meningkat menjadi 3,72.

Aktivitas guru pada pertemuan 1 siklus I memiliki skor 2,82 (rendah), sdengkan pada pertemiuan 2 telah terjadi peningkatan menjadi 3,31 (baik).

Keadaan ini terus meningkat pada siklus II pertemuan 1 yaitu sebesar 3,53 (baik) dan meningkat menjadi 3,72 (baik) di pertemuan akhir siklus II. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa baik siswa maupun guru keduanya mengalami peningkatan aktivitas pada setiap siklusnya.Peneliti sebagai guru selalu berusaha meningkatkan aktivitas di setiap pertemuan. Guru selalu mengadakan evaluasi di setiap akhir pertemuan yang bermanfaat untuk mengetahui kerendahan dan kelemahan pengajaran pada pembelajaran yang usai dilaksanakan sehingga dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan aktivitasnya pada pertemuan berikutnya.

Selain itu guru juga mengadakan evaluasi pada aktivitas siswa selama proses pembelajaran baik. Dari beberapa pertemuan terdapat aktivitas yang rendah pada

commit to user

siswa.Hal ini karena masih adanya beberapa kendala dan kerendahan yang terjadi selama pembelajaran berlangsung, baik itu siklus I mapun siklus II. Kendala-kendala tersebut antara lain: 1) rendahnya partisipasi siswa, mereka masih terlihat malu-malu dan belum begitu antusias selama proses pembelajaran, hal ini dimungkinkan karena mereka berhadapan dengan guru baru; 2) sebagian dari siswa masih belum mengerti makna pembelajaran Kontekstual (CTL); 3) beberapa dari siswa masih bersikap individual, sehingga pembelajaran kontekstual belum berjalan sesuai harapan; 4) ada siswa yang masih enggan memperhatikan apalagi mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, mereka bersikap malas dan acuh tak acuh, bahkan ada 1 anak yang tidak mengerjakan tugas sama sekali.

Dari kendala-kendala tersebut peneliti mengadakan upaya perbaikan yaitu dengan menciptakan pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan, dalam hal ini peneliti berusaha mengadakan pendekatan personal terhadap tiap-tiap siswa. Peneliti memberikan arahan dan bimbingan pada siswa bagaimana melakasanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Kontekstual (CTL). Selain itu peneliti memberikan bimbingan pada masing-masing kelompok bagaimana mereka seharusnya bekerja sama dalam melaksanakan tugas. Peneliti juga tidak lupa untuk memberikan motivasi dan penghargaan baik itu penghargaan verbal maupun nonverbal yang dimaksudkan agar siswaa-siswa lebih termotivasi selama proses pembelajaran dilaksanakan.

3. Temuan Hasil Penelitian

Dari analisis data dan pembahasan di atas, maka dapat dibuat suatu kesimpulan yaitu adanya peningkatan keterampilan menulis narasi siswa kelas V SDN Sukoharjo 01 tahun pelajaran 2010/2011. Peningkatan tersebut tejadi pada hasil menulis narasi siswa ddan juga aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Siswa menjadi lebih aktif dan tertarik untuk belajar. Siswa juga belajar bagaimana bekerja sama dengan teman lain,bersosialisasi, dan bertukar pikiran dengan teman sebayanya.

Keberhasilan penggunaan model pembelajaran CTL dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis narasi dapat dilihat dari indikator-indikator sebagai berikut:

commit to user

a. Siswa terlihat aktif mengikuti pelajaran menulis narasi

Sebelum tindakan penelitian ini dilaksanakan, siswa terlihat rendah antusias mengikuti pembelajaran menulis. Hal tersebut disebabkan siswa tidak tertarik dengan cara mengajar guru. Cara mengajar yang biasa digunakan adalah dengan ceramah dan menyuruh siswa mengerjakan tugas membuat tulisan.Kelemahan dari teknik ini adalah munculnya kebosanan siswa, sehingga tidak tertarik mengikuti pembelajaran, dan rendahnya minat siswa untuk mengikuti pembelajaran menulis. Hal ini terlihat dari suasana kelas pada saat kegiatan belajar-mengajar menulis narasi yang sedang berlangsung, siswa tidak begitu aktif menanggapi stimulus dari guru, ada yang tidak menaruh perhatian sepenuhnya pada proses pembelajaran, dan terlihat ada beberapa siswa yang tidak memperhatikan pelajaran, diam dan tidak merespons serta berbicara dengan teman.

Setelah dilakukan tindakan, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran CTL sebagai model dalam pembelajaran, siswa tertarik untuk mengikuti pembelajaran menulis karangan narasi.Siswa terlihat memperhatikan penjelasan dari guru, serta mengamati. Selain itu, siswa mulai mau ikut aktif ambil bagian dalam proses pembelajaran yang sedangterjadi, seperti mau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru kepada mereka. Data tersebut diperoleh peneliti dari pengamatan proses pembelajaran di kelas. Peneliti melakukan penilaian tersebut tanpa diketahui siswa.

b. Siswa mengalami kemajuan dalam pelajaran menulis narasi

Sebelum diadakan tindakan siswa mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran menulis narasi.Siswa juga merasa kesulitan untuk mengawali kegiatannya dalam pelajaran menulis, apalagi menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan secara runtut.Kebanyakan siswa masih kacau untuk menuliskan suatu tulisan yang runtut.Siswa masih menuliskan dengan alur yang meloncat-loncat dan berputar-putar.

Setelah diadakan tindakan keterampilanmenulis narasinya meningkat.Hal ini dapat dilihat dari hasil pekerjaannya.Mereka sudah mampu menulis narasi dengan lancar dan cerita yang runtut.Hasil tulisan mereka

commit to user

menjadi lebih teratur.Susunan kalimat dan paragrafnya pun cukup baik.Hal ini tidak lepas dari peran guru yang selalu mengingatkan siswa untuk memperhatikan penggunaan bahasa dalam kalimatnya.

c. Guru berhasil membangkitkan minat siswa

Minat siswa terhadap pebelajaran menulis narasi dapat dikatakan mengalami peningkatan.Hal ini dapat terlihat dari sikap siswa saat mengikuti kegiatan belajar mengajar.Siswa terlihat antusias dan semangat.Misalnya banyak siswa yang ikut berpartisipasi menjawab pertanyaan dari guru dan memperhatikan dengan seksama media audio visual yang diputarkan guru bahkan sesekali berkomentar mengenai kegiatan tersebut.Hal ini terjadi karena guru berusaha membangkitkan minat siswa dengan penggunaan media yang berbeda dari kegiatan belajar mengajar yang biasanya yaitu menggunakan cergam dan pemberian hadiah berupa pujian, penambahan nilai dan benda-benda yang bermanfaat bagi siswa yang aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.

Siswa juga selalu menunggu-nunggu untuk mengikuti pelajaran menulis narasi karena mereka dapat melihat rekaman kegiatan meraka.Mereka merasa kegiatan belajarnya menjadi semakin menyenangkan karena tidak harus berhadapan dengan buku teks dan papan tulis melulu. Siswa merasa sangat terhibur karena adanya suasana baru dan penggunaan media lain dalam pembelajaran.

d. Keterampilanguru dalam menggunakan media pembelajaran serta mengembangkan materi ajar meningkat.

Sebelum penelitian ini, guru yang bersangkutan menyatakn jarang menggunakan media pembantu dalam mengajarkan materinya. Guru hanya mengandalkan buku teks sebagai pegangan selebihnya guru hanya menggunakan papan tulis, tugas tertulis, dan metode ceramah. Guru bersangkutan menjelaskan bahwa selama ini dalam mengajar, hanya menyampaikan apa yang telah tertulis di dalam buku pegangan yang dimilikinya yang menurutnya telah sesuai dengan kurikulum yang berlaku saat ini, tanpa pernah mencoba untuk mengadaptasikan materi tersebut dengan media-media lain yang mungkin saja sesuai untuk

commit to user

digunakan dalam pembelajaran.

Setelah diadakan tindakan penelitian, Guru tersebut menyatakan bahwa dengan penggunaan model pembelajaran CTL seperti dalam penelitian ini merupakan salah satu upaya membangkitkan minat siswa terhadap pembelajaran menulis karangan narasi. Selain itu, guru juga menyatakan bahwa ia terinspirasi untuk menggembangkan metode mengajar pada materi yang lain demi meningkatkan kualitas pembelajaran pada kesempatan berikutnya. Selain itu beliau akan mengadakan beberapa perbaikan cara mengajar agar mata pelajaran yang guru ampu menjadi semakin menarik dan memancing minat siswa untuk belajar.

3. Kendala-kendala yang dihadapi dalam upaya peningkatan keterampilan

Menulis narasi menggunakan model pembelajaran CTL pada siswa kelas V SD Negeri Sukoharjo 01. Kendala dalam pelaksanaan siklus I berupa posisi guru yang selalu berada di depan kelas membuat perhatiannya tidak dapat menyeluruh, antusiasme siswa rendah dan minat belajar mereka masih rendah, dan hanya menggunakan foto kegiatan serta rendah memperhatikan pendalaman kosakata pada siswa.

Setelah pelaksanaan siklus II masih terdapat beberapa kendala berupa rendah optimalnya keterampilanmenulis karangan narasi dari beberapa siswa disebabkan faktor faktor di luar keterampilanguru diterapkan karena baru kali ini siswa menerima materi tersebutdan terdapat siswa yang merupakan siswa yang lambat belajar.

commit to user

108 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus selama empat kali pertemuan di kelas Va SDN S mengenai keterampilanmengarangnarasi,maka dapatditariksimpulanbahwapembelajaranmenulis karangannarasi denganmenggun pembelajaran CTL dapat meningkatkan: Peningkatan kemampuan menulis narasi tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai kemampuan menulis narasi pada seti yaitu: sebelum tindakan nilai rata-rata kemampuan menulis narasi siswa 66,16, siklus I nilai rata-rata kemampuan menulis narasi siswa 74,00 nilai rata-rata kemampuan menulis siswa 79,00. Tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal sebanyak 2 siswa atau 8%, pada siklus I yai atau 52%, dan pada siklus II sebanyak 21 siswa atau 84 %. Dengan demikian, penggunaan model pembelajaran CTL dalam pembelajaran m dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi pada siswa kelas V SD Negeri Sukoharjo 01. Peningkatan kualitas proses pembelajaran menulis narasi tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya nilai rata-rata kegiatan gu dalam proses pembelajaran menulis narasi dengan model pembelajaran CTL, yaitu: nilai rata-rata kegiatan guru pada siklus I nilainya 2,91den rendah dan meningkat pada siklus II nilainya menjadi3,62 dengan kriteria baik. Sementara itu nilai rata-rata kegiatan siswa pada siklus I n dengan kriteria rendah dan meningkat pada siklus II nilainya menjadi 3,62 dengan kriteria baik. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan dalam hanya didominasi oleh guru melainkan juga siswa sudah turut aktif dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, penggunaan model pembe dalam pembelajaran menulis narasi dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis narasi pada siswa kelas V SD Negeri Sukoharjo 0 Proses pembelajaran CTL yang menitikberatkan pada pengalaman siswa di lingkungan sekitar yang pernah dialaminya sehingga si mengeksplorasi kembali pemikiran yang sudah sangat dekat dengan dirinya sendiri terbukti dengan tanggapan siswa yang terlontar oleh s

commit to user

spontan mengenai foto dan video yang dilihat. Penggunaan media LCD sebagai pendukung juga sangat berguna karena pengalaman siswa akan tergambar jika dapat dilihat kembali melalui audio dan visual. Dampak lain yang dapat dirasakan adalah pada pembelajaran ini siswa dapat lebih memperhatikan kondisi lingkungan dan situasi so Terlihat dari tanggapan-tanggapan siswa yang terlontar ketika siswa-siswa sedang mencermati media pembelajaran sekaligus juga dapat pelajaran moral bagi siswa. B. Implikasi Penerapan pembelajaran dan prosedur dalam penelitian ini didasarkanpada pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia pada pokok materi menulis karangan narasi.Tindakan penelitian yang dilakukan terdiri dari dua s I dilaksanakan pada tanggal 15November 2011 dan 18November 2011, sedangkan siklus IIdilaksanakan pada tanggal 10Desember 20 Desember 2011. Adapun indikatornya adalah berdasarkan syarat penulisan karangan berdasarkan Burhan Nurgiyantoro sebagai berikut: Setiappelaksanaansiklus terdapatempatlangkahkegiatan, yaituperencanaantindakan, pelaksanaaan, observasi,danrefleksi.K dilaksanakan berdaurulang, sebelum melaksanakan tindakan dalam setiap siklus perlu adanya perencanaan dengan memperhatikan keberh sebelumnya. Tindakan dalam setiap siklus dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Hal ini berdasarpada analisis perkembangan dari pertem pertemuan berikutnya dalamsatu siklus dan dari analisis perkembangan peningkatan proses dalam siklus Isampai siklus II. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dikemukakan, dapat diketahuibahwa dengan Model Pembelajaran Contekstual and Teachin (CTL) dapat meningkatkankemampuanmenulis narasi siswa kelasVaSDNegeriSukoharjo01.Sehubungandenganpenelitianini dikemukakan implikasi hasilpenelitian sebagai berikut: 1. Implikasi Teoritis Dalam menyajikan materi pelajaran, guru harus dapat memilih metode pembelajaran yang tepat agar siswa mampu meningkat

commit to user

pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan Model Pembelajaran Contekstual and Teaching Learning (CTL) dapat meningkatkan k menulis narasi siswa, karena pembelajaran ini dapat membantu siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam menemukan ide/gagasann diubah ke dalam bentuk karangan narasi karena model pembelajaran ini menggunakan hal-hal yang sudah sangat familiar dengan siswa yak kehidupannya sehari-hari. Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran Con Teaching Learning (CTL) dapat meningkatkan kemampuan menulis narasi. Hasil penelitian ini juga memperkuat teori yang menyatakan ba penggunaan model pembelajaran Contekstual and Teaching Learning (CTL) dapat menjadi salah satu metode pembelajaran Bahasa Indon dengan Model Pembelajaran Contekstual and Teaching Learning (CTL) dapat memudahkan siswa dalam mengungkapkan dan mengemb pemikirannnya. Penelitian ini juga dapat dipertimbangkan untuk mengembangkan metode pembelajaran bagi guru dalam memberikan mat kepada siswa. Dari hasil rata-rata yang diperoleh bahwa dalam penelitian ini, kemampuan siswa terhadap materi menulis narasi pada p Bahasa Indonesia dan aktifitas atau kegiatan proses pembelajaran menjadi meningkat. Hal ini terbukti adanya peningkatan kemampuan m siswa dalam mengungkapkan pikiran dan gagasannya, interaksi dengan guru maupun kerjasama dengan siswa lain. Dengan partisipasi s pembelajaran yang meningkat, kondisi kelas menjadi lebih kondusif dan pada akhirnya kemampuan menulis narasi pada siswa kelas V Sukoharjo 01meningkat.Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulanbahwa, implikasiteoritis dari penelitianini adalah ada p kemampuan menulis narasi dengan menggunakan model pembelajaran Contekstual and Teaching Learning (CTL). 2. Implikasi Praktis Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan bagi guru dan calon guru untuk meningkatkan keefektifan strategi guru dalam dan meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar terutama dalam pelajaran Bahasa Indonesia pada pokok kemampuan menulis narasi. K menulis narasi siswa dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajaran Contekstual and Teaching Learning (CTL). Berdasa temuan dan pembahasan hasil penelitian seperti yang diuraikan pada bab IV, maka penelitian ini dapat digunakan peneliti untuk mem menghadapi permasalahan yang sejenis. Disamping itu, perlu penelitian lebih lanjut tentang upaya guru untuk mempertahankan atau m

commit to user

meningkatkan kemampuan menulis narasi siswa. Pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Contekstual and Teaching Lea pada hakikatnya dapat digunakandan dikembangkan oleh guruyangmenghadapi permasalahanyangsejenis, terutama untuk menga peningkatan kemampuan menulis siswa, yang pada umumnya dimiliki oleh sebagian besar siswa. Adapun kendala yang dihadapi dalam p penelitian ini harus di atasi semaksimal mungkin. C. Saran Berdasarkan simpulan dan implikasi di atas, maka peneliti memberikansaran-saran sebagai berikut: 1. Bagi Sekolah Sebagai bahan masukan bagi sekolah dalam melaksanakan pembelajaran khususnya pembelajaranBahasa Indonesiauntuk m kemampuan menulis narasi dengan menggunakan model pembelajaran Contekstual and Teaching Learning (CTL). 2. Bagi Guru Guru dalam mengajar hendaknya menggunakan model pembelajaranyang inovatif salah satunya dengan Contekstual and Teaching Lea dalam pembelajaran menulis narasi. Penggunaan model pembelajaran Contekstual and Teaching Learning (CTL) dimaksudkan agar pembel terasa membosankan dan membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan menulis narasi. 3. Bagi Siswa a. Hendaknya lebih mengembangkan inisiatif dan keberanian dalam menyampaikan pendapat dalam proses pembelajaran untuk menambah p sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar. b. Hendaknya ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran dan rajin belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar yang meningkat.

commit to user