• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PENYAJIAN DATA

4.2. Penyajian Data

4.2.1. Hasil Wawancara (Variabel Implementasi)

Penelitian dilakukan di dinas pertamanan Kota Medan dan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan selama ± 3 Bulan. Dalam pengumpulan data yang diperlukan untuk menjawab permasalah penelitian, ada beberapa tahap yang dilakukan peneliti, yang pertama peneliti diawali dengan pengumpulan dokumen tertulis, Dinas Pertamanan Dan Dinas Tata Ruang Dan Bangunan (TRTB) Kota Medan dan data lain yang bersangkutan. Kedua, peneliti melakukan observasi, melihat kondisi dan keadaan kantor Dinas Pertaman dan Dinas Tata Ruang Dan Bangunan Kota Medan tersebut. Ketiga, peneliti melakukan wawancara kepada informan kunci sebanyak 1 orang yaitu Kepala Dinas Pertaman Kota Medan, serta wawancara dengan informan utama sebanyak 2 orang yaitu Kepala Bidang Taman dan Makam dan Kepala Seksi Taman Dan Dekorasi aera wawancara kepada informan tambahan sebanyak 1 orang yaitu Bagian Tata Ruang dinas Tata Ruang dan Bangunan Kota Medan.

Tipe wawancara yang dipilih peniliti yaitu wawancara terstruktur dimana sebelum memulai wawancara terlebih dahulu peneliti menyusun draf pertanyanaan yang hendak diajukan. Pertanyaan-pertanyaan yang disusun jelas berhubungan dengan Implementasi Kebijakan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031. Namun

didalam prosesnya sendiri peneliti tidak menutup kemungkinan akan munculnya pertanyaan-pertanyaan baru yang dapat menggali informasi lebih dalam dari para informan.

Adapun indikator yang digunakan untuk menganalisis implemetasi kebijakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Kejelasan Isi Kebijakan/Undang-Undang

Pada dasarnya suatu kebijakan diformulasikan dengan maksud untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu. Kebijakan tersebut dirumuskan secara rinci dan disusun secara jelas sesuai dengan kepentingannya. Kejelasan isi kebijakan berarti isi dan tujuan dari kebijakan mudah dipahami implementor dan dapat diterjemahkan pada pengimplementasiaanya.

Hasil wawancara peneliti dengan informan kunci yaitu dengan bapak Zulkifli Sitepu, informan menyatakan bahwa pemahaman beliau tentang ruang terbuka hijau itu sendiri adalah ruang yang mana ruangan itu mempunyai unsur penghijauannya baik karena taman maupun karena penghijauannya harus mendukung dari taman itu. Kemudian peneliti juga menanyakan hal yang sama kepada Kepala Bidang Taman dan Makam Dinas Pertaman Kota Medan yaitu dengan Ibuk Ir Susy Agustina, M.si, pemahaman beliau sendiri tentang ruang terbuka hijau adalah ruang terbuka yang sifatnya bisa aktif atau pasif yang fungsinya bermacam-macam seperti untuk lingkungan, edukasi, keberadaan ruang dll. Dalam arti luas RTH adalah ruang aktif dan RTH tidak aktif. RTH pasif seperti

jalur hijau tepi sungai. Lebaran jalur hijau tergantung dengan lebaran sungai. Selain itu jalur kiri-kanan rel kereta api, RTH kiri-kanan jalan. RTH aktif adalah taman-taman kota, taman-taman perumahan, dan taman pekarangan rumah.

Berikutnya peneliti juga melakukan wawancara dengan Ibu Indri

Meiyanti selaku bagian Tata Ruang Dinas Tata dan Tata Bangunan(TRTB) Kota Medan. Beliau menyatakan bahwa ruang terbuka hijau di dalam RDTR itu adalah RTH terbagi atas 6 RTH 1: Taman kelurahan, RTH 2: Taman Kota. RTH 3: TPU, RTH 4: Kawasan wisata, RTH 5: Hutan Kota, RTH 6: Lapangan olahrahraga. Itulah pembagian RTH dari RDTR Dinas Tata Ruang dan Wilayah Kota Medan

Kemudian peneliti juga menanyakan apa yang menjadi dasar di keluarkannya Kebijakan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031 adalah Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2013 Tentang Kekayaan Daerah. Peraturan ini dikeluarkan agar masyarakat dapat menikmati ruang terbuka hijau karena memang ruang terbuka hijau itu merupakan ruang publik, hanya saja kalau masyarakat itu akan menggunakan ruang terbuka hijau dalam acara yang sifatnya komunitas atau event maka masyarakat itu harus mengikuti ketentuan sesuai dengan Perda. Jika umpamanya perorangan berekreasi atau berolahraga maka pemanfaatan ruang terbuka hijau itu disediakan tidak dikenakan aturan atau biaya.

Kepala bidang Taman dan Makam menyatakan bahwa dalam pelaksanaan kebijakan ruang terbuka hijau, Dinas Pertamanan berpedoman terhadap peraturan pusat yang sudah ada yaitu berdasarkan Undang-Undang Penataan Ruang Nomor 26 Tahun 2007 dimana di dalam UU tersebut secara jelas menyatakan bahwa proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota paling sedikit adalah 30% dari luas wilayah kota dimana dari yang 30% tersebut 20% adalah RTH publik dan 10% adalah RTH privat dan juga Peraturan Menteri Pekerjaan Umum yang tentang Pedoman penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau dikawasan perkotaan .

Kepala Seksi Taman dan Dekorasi menambahkan bahwa perda tth RTH memang harus ada karena fungsi-fungsi RTH itu sangat banyak dan untuk menampung semua fungsi tersebut agar bisa berjalan maka harus di buat Perda, 30% dari luas kota harus hijau jika mau tingkat polusi kota itu tidak tinggi. Hal yang sama juga di nyatakan oleh informan tambahan jika dia RTRW luas RTH itu 30% dan di RDTR juga tidak boleh kurang dari 30% namun dalam penyusunan RDTR RTH 30% di bagi menjadi RTH publik 22,26% dan RTH privat 6,5%. Disini RTH publik yang di bagi menjadi 6 RTH dan sisanya adalah di perumahan

Peneliti juga menanyakan apa yang menjadi target dan tujuan dari kebijakan atau peraturan tersebut. Informan kunci menyatakan mengatakan bahwa yang menjadi target dan tujuannya adalah menguatkan kepada masyarakat bahwa ruang terbuka hijau itu ada Perda dan ketentuannya apabila masyarakat secara komunitas membuat acara maka akan dikenakan biaya administrasi. Informan tambahan pun juga

menyatakan targetnya adalah 30% itu harus karena dimanapun nanti rencana kota medan itu harus menyediakan 30% dan peta nya sudah di tarok dimana-mana. Jika ada yang memohon izin namun kawasan tersebut adalah RTH maka izin tidak akan dikeluarkan untuk melakukan pembangunan.

Kemudian peneliti juga menanyakan kepada informan kunci siapa yang menjadi pelaku dari pelaksanaan kebijakan ini Perda ini, beliau menyatakan bahwa pelaku dalam pelaksaan Perda ini adalah Pemerintah Kota medan yaitu Dinas Pertamanan itu sendiri. Informan tambahan juga menambahkan bahwa dalam mengeluarkan izinnya adalah Dinas TRTB tapi untuk kebijakannnya adalah Bappeda, dan untuk pelaksnaan kebijakannya taman-tamannya adalah Dinas Pertamanan Kota Medan.

Peneliti juga menanyakan apakah kebijakan dalam pelaksanaan nya memiliki hubungan dengan dinas-dinas lainnya. Kepala seksi taman dan dekorasi menyatakan ada yaitu pada bagian jalur hijau ada koordinasi dengan dinas Pekerjaan umum karena bagian trotoar dan paret adalah tanggung jawab dari dinas pekerjaan umum. Dengan dinas tata ruang hanya menetapkan dimana jalur hijau yang harus di buat menurut perda orang itu.TRTB hanya bersifat global dan konsep-konsep saja. Menurut informan tambahan yang menjadi indikator pelaksanaan perda ini adalah pada saat penentuan peta RTRW dan konsisi di lapangan dan kajian-kajian hkusus dan kajian-kajian lapangan dalam menentukan suatu kawasan itu RTH atau tidak.

Peneliti juga menyakan berapa persen ruang terbuka hijau yang sudah terealisasi, beliau menyatakan ruang terbuka hijau yang sudah terealisasi hampir sekitar 17%, memang sesuai dengan amanat Perda Tata Ruang yang mestinya 30% namun Dinas Pertamanan sendiri berupaya terus meningkatkan persentase ruang terbuka hijau di Kota Medan Semaksimal mungkin.

Peneliti juga menanyakan apakah dinas pertamanan sendiri memiliki target yang harus dicapai, beliau menyatakan secara bertahap upaya ini terus dilakukan dengan memanfaatkan ruang-ruang yang selama ini barangkali dari segi kerapatan tanaman kemudian lahan-lahan yang dianggap memungkinkan di bangun ruang terbuka hijau seperti lokasi pemakaman dengan mengupayakan penghijauan di sekitar makan tersebut. Informan juga menyatakan dalam rangka memenuhi yang 30% ini dengan memaksimalkan kondisi yang ada dengan meminta kepada Pemko medan mengadakan lahan yang mana lahan tersebut nantinya oleh Dinas Tata Ruang dan Tata bangunan yang menyediakannya, dan lahan yang telah tersedia tetap dimanfaatkan semaksimal mungkin dan mengupayakan lahan-lahan baru sehingga untuk mencapai 30% tersebut bisa dilaksanakan.

Peneliti juga mendapatkan informasi dari informan tambahan mengapa pemerintah kota medan hanya bisa menargetkan hanya 17%, beliau menjawab karena yang ingin di bebaskan itu lahan masyarakat. Kita hanya bisa menetukan kawasan tersebut harus RTH tapi lahan tersebut belum menjadi milik pemko medan. Yang di bilang belum sampai

30% itu adalah lahan yang sudah milik pemko medan, memang belum sampai 30%, masih beberapa seperti taman beringin, taman gajah mada, taman ahmad yani dll. Yang di hitung 30% adalah yang telah menjadi milik pemko medan. Pemko medan sudah merencanakan tempat tempat yang menjadi RTH hanyasaja masalahnya untuk pembebasan lahan tersebut belum ada dananya. Karena dana yang di butuhkan untuk pembebasan itu Miliayaran untuk membebaskan lahan masyarakat tersebut.

Peneliti juga menyakan apa yang menjadi hambatan sehingga ruang terbuka hijau yang 30% tidak bisa tercapai. Beliau menyatakan yang namanya pilar pembangunan itu ada tiga yaitu pemerintah, swasta dan masyarakat. Jadi yang menjadi hambatan itu sendiri adalah kesadaran dari masyarakat itu sendiri yang menjadi hambatannya, harapan nya supaya masyarakat bisa mendukung penghijauan tersebut antara lain dengan memanfaatkan pekarangan dengan melakukan penghijauan dengan menanam pohon produktif dan membuat taman-taman di sekitar pekarangan. Jika umpamanya lahan lingkungan nya tidak ada ruko maka bisa di buat yang namanya Vertikal garden. kemudian dari pihak swasta atau pengusaha-pengusaha atau lintas instansi atau kampus Negeri maupun Swasta kami juga berharap agar sama-sama mengejar persentase 30% ruang terbuka hijau tersebut karena tidak cukup pemerintah saja yang berupaya dalam meningkatkan ruang terbuka hijau.

Menurut kepala seksi dekorasi dan taman hambatannya adalah lahan yang sangat minim dan harga lahan di tengah kota yang juga sangat

mahal. Kendala nya sangat banyak dan berat. Informan juga menambahkan hambatan lainnya adalah dari segi lahan. Dan sejauh ini hambatannya juga dari segi keuangannya.

Pendapat yang sama juga di nyatakan oleh informan tambahan hambatannya adalah dana, pemko belum bisa mengganti rugi semua tanah-tanah itu. TRTB sudah menentukan lokasinya namun pemko belum bisa mengganti rugi untuk taman. Tidak bisa dalam satu tahun langsung mengganti rugi namun dilakukan secara bertahap karena banyak izin-izin IMB yang tidak bisa terbit karena berada di kawasan zona taman RTH, Pemko Medan belum bisa mengganti rugi itu secepatnya karena harus di anggarkan terlebih dahulu. Kita hanya bisa menetapkan 30% nya saja dan menentukan tempatnya dimana saja tapi tanah tersebut belum milik pemerintah namun masih milik masyarakat.

Peneliti juga menyakan apa upaya dari pemerintah sendiri dalam meningkatkan ruang terbuka hijau. Informan menyatakan disamping menganggarkan lahan kemudian memanfaatkan ruang supaya volume/kerapatan tanaman dan keanekaragaman tanaman di tingkatkan dan menghimbau pihak swasta dan masyarakat supaya ikut berperan aktif dalam rangka meningkatkan ruang terbuka hijau.

b. Komunikasi dan Koordinasi

Komunikasi merupakan hal penting yang mempengaruhi

keberhasilan dalam suatu pengimplementasian kebijakan. Sementara itu, komunikasi kebijakan berarti merupakan proses penyampaian informasi

kebijakan dari pembuat kebijakan (policy makers) kepada pelaksana kebijakan (policy implementors). Agar suatu kebijakan dapat diimplementasikan dengan baik, diperlukan pemahaman terhadap hal-hal strategis yang hendak diaturnya. Hal ini terjadi dengan persepsi dari individu-individu yang bertanggung jawab dalam pencapaian tujuan kebijakan. Setiap individu tentunya memiliki cara pandang yang berbeda-beda dalam memahami suatu kebijakan. Oleh karena itu perlu adanya kejelasan tujuan dan sasaran suatu kebijakan yang perlu dikomunikasikan secara tepat dengan para pelaksana kegiatan.

Menurut para informan, komunikasi dan pola interkasi perda ini yang diwadahi oleh BKPRD (badan koordinasi penataan ruang daerah) bersaman dengan dengan dinas pertamanan, TRTB, dinas bina marga, dinas pekerjaan umum dan dinas kebersihan yang semuanya merupakan anggota dari BKPRD dimana BKPRD ini berada di bawah di bawah BAPPEDA dimana apabila terdapat masalah dalam pengimplementasian perda ini maka semua anggota BKPRD akan di panggil untuk membahas permasalahan tersebut. Informan juga menyatakan bahwa yang menangani ruang terbuka hijau ini adalah bidang taman dan makam jadi kita tetap menyarankan supaya untuk turun langsung ke lapangan.

Selanjutnya peneliti juga menanyakan sosialisasi yang dilakukan terkait dengan Perda ini. Beliau menyatakan ada yaitu dengan membuat surat-surat edaran. Informan tambahan menambahkan bahwa Pemko Medan pernah melakukan kegiatan-kegiatan seperti hutan kota yang candika, disitu ada penanaman-penanaman dan mengupayakan

pembebasan lahan, ada juga perluasan TPU karena termasuk RTH juga. Memaksimalkan dan mempertahankan RTH yang ada dan tidak mengeluarkan izin IMB untuk kawasan RTH yang sudah di tetapkan dan untuk kawasan2 perumahan diharuskan untuk menyediakan RTH 15%, jika misalnya izin IMB privat juga tetap harus penyediakan KDH (Koefisien Dasar Hijau) zona hijau minimal sebesar 15% dan komplek perumahan juga harus menyediakan taman-taman di setiap rumahnya. Pendapat lain dinyatakan oleh Kepala Bidang Taman dan Makam bahwa sosialisasi dilakukan dengan sosialisasi ke lurah-lurah maupun ke kecamatan-kecamatan dan selanjutnya bentuk sosialisasi dilakukan oleh Bappeda dengan anggota SKPD nya. Pendapat serupa juga dikatakan oleh kepala seksi taman dan dekorasi bahwa dinas pertamanan sendiri pernah melakukan sosialisasi ke kecamatan-kecamatan dan memberikan penjelasan kepada masyarakat tentang pemanfaatan ruang terbuka hijau.

Peneliti juga menanyakan siapa yang paling bertanggung jawab dalam pelaksanaan perda ini, informan kunci menyatakan bahwa di dalam Tupoksinya ada dua dinas yang terkait dalam menjalankan Perda ini yaitu dinas pertamanan yang menyangkut tentang pertamanan dan pohon penghijauan yang berada di bahu jalan dan juga ada Dinas Pertanian dimana mereka dari sisi pohon-pohon yang berkaitan dengan pertanian seperti Palawija kemudian pengembangbiakan pohon-pohon produktif karena dinas pertaman sendiri tidak mengerti dengan namanya bibit-bibit unggul yang bagus untuk di tanam, dan dinas pertamanan tidak mengerti akan hal tersebut. Beliau juga menyatakan ada juga dinas lain yang terkait

dalam pelaksanaan perda ini yaitu dinas Tata Ruang dan Tata bangunan yaitu masalah pengadaan lahan. Informan tambahan juga menyatakan kalau misalnya kewenangan nya berada di Bappeda karena di Bappeda lah yang menjadi pemegang kendali dalam pelaksanaan perda ini, namun secara teknis lapangan adalah dinas Pertamanan Kota Medan

c. Disposisisi atau Kecendrungan Pelaksana

Disposisi implementor dalam hal ini merupakan kecenderungan perilaku, sikap, karakter atau watak dari agen pelaksana kebijakan (peraturan). Setiap Dinas dan Badan harus memahami dan mengetahui apa yang menjadi wewenang, fungsi, dan tanggung jawabnya masing-masing di dalam implementasi kebijakan tersebut dalam mencapai standar dan sasaran kebijakan. Hal ini mencakup respon implementor, pemahaman, dan nilai yang dimiliki oleh implementor.

Menurut informan kunci, yang menjadi komitmen dari pelaksanaan perda ini kedapannya adalah sedapat mungkin apa yang menjadi petunjuk, aturan dan teknis pelaksaannya Dinas Pertamanan berupaya semaksimal mungkin bisa mengituti aturan dari Perda tersebut maupun turunan Perwalnya yaitu dibagian teknisnya. Informan tambahan menambahkan komitmen pemerintah kota medan adalah pertaman, komitmen kami adalah tetap menjaga yang 30% tetap harus terpenuhi. Kedua, setiap kawasan-kawasan perumahan harus menyediakan RTH. Apapun ketentuannya, yang sudah menjadi RTH yang sudah di tetapkan di RDTR maka harus tetap menjadi RTH dan TRTB tidak akan mengeluarkan izin

untuk membangun yang lain. Setiap rumah pun juga harus menyediakan minimal 15% KDH (Koefisien Dasar Hijau), tidak 100% rumah itu boleh di bangun.

Peneliti juga menanyakan bagaimana tanggapan dari setiap dinas terhadap Perda tersebut. Informan kunci menyatakan bahwa tanggapannya adalah positif dan menyutujui dengan adanya Perda ini. Pendapat serupa di nyatakan oleh informan tambahan Pemerintah harus mendukung karena karena RTRW tidak boleh terbit jika RTH tidak sampai 30%. Pemerintah pusat, Kementrian tata ruang pada saat ingin menerbitkan RTRW apabila RTH kota Medan kurang dari 30% maka RTRW tidak akan di terbitkan dan tidak akan di sahkan. Itulah keawajiban yang harus di penuhi.

Peneliti juga menanyakan bentuk transparansi dalam pelaksaan kebijakan ini. Informan menyatakan bahwa dinas pertamanan telah membuat SOP (Standar Operational Prosedur) yang bisa dilihat langsung oleh masyarakat sehingga apabila ada masyarakat yang ingin mengetahui bagaimana ketentuan-ketentuan mengurus izin seperti penebangan pohon, pemakaian ruang terbuka hijau itu semua sudah ada SOP nya dan bersifat transparan yang dipantau langsung oleh lembaga pelayanan publik.

Menurut informan kunci masyarakat kota Medan belum memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau secara keseluruhannya, namun informan menyatakan bahwa masyarakat perlu mengetahui RTH itu banyak sekali manfaatnya, disamping paru-paru kota, RTH juga bisa untuk berolahraga, berekreasi, dan beredukasi karena dinas pertamanan sendiri

telah menyediakan hootspoot speedy dan masyarakat bisa mengakses internet secara gratis di RTH tersebut. Dan juga saat ini disetiap taman sudah di bangun mushalla untuk beribadah. Jadi tinggal masyarakatnya saja bagaimana memanfaatkan RTH secara maksimal.

Hal serupa juga di nyatakan informan tambahan Masyarakat Kota Medan belum sepenuhnya ikut berpartisipasi dalam meningkat RTH di Kota Medan seperti misalnya di keluarkan kebijakan untuk membangun RTH di lahan masyarakat maka tidak jarang masyarakat marah dan memprotes bahwasannya itu tanah hak milik pribadi dan ada sertifikat hak milik tanah dan menganggap pemerintah seenaknya nya saja menetapkan lahan tersebut sebagai zona RTH.

Peneliti juga menanyakan kepada informan kunci tentang upaya pemerintah kota Medan dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Informan menyatakan bahwa dinas pertamanan tetap melakukan sosialisasi, website dinas pertamanan pun juga sudah ada sehingga masyarakat bisa mengakses RTH dan Ruang terbuka Publik yang bisa di manfaatkan oleh masyarakat.

d. Sumber Daya

Sumber daya, yaitu menunjuk setiap kebijakan harus didukung oleh sumber daya yang memadai, baik sumber daya manusia maupun sumber daya finansial. Berikut ini merupakan kriteria sumber daya yang dibutuhkan dalam proses implementasi Kebijakan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 13

Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031:

a. Sumber Daya Manusia

Didalam proses implementasi kebijakan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau terdapat pendidikan dari setiap pengawai Dinas Pertamanan Kota Medan dan Dinas Tata Ruang dan Tata Bangunan Kota Medan dalam melaksanakan setiap kebijakan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah Kota Medan. Selain itu terdapat setiap tugas pengawai yang dikerahkan serta jumlah personil yang dikerahkan dalam melaksanakan implementasi kebijakan Penyediaan Ruang Terbuka Hijau Kota Medan.

Menerut keterangan informan kunci bahwa sumber daya manusia yang dimiliki oleh Dinas Pertamanan Kota Medan masih belum cukup memadai dan belum mampu melaksanakan kebijakan tersebut sesuai dengan tugas pokok dan fungsi yang ada. Berdasarkan data sekunder yang peneliti peroleh dari Dinas Pertamanan Kota Medan dapat dilihat pegawai Dinas Pertamanan Kota Medan yang berjumlah 419 orang di dominasi oleh golongan III (tiga) yang berjumlah 191 orang dan disusul oleh golongan II(dua) yang berjumlah 183 Orang.

Informan kunci juga menambahkan bahwa kualitas kalau memang di urusan teknis lapangan harus memahami, dan administrasi kantor pun juga harus dipahami jadi tidak hanya

memahami secara teori saja di kantor namun harus juga bisa dilihat dari dekat gimana sebenarnya RTH yang dipenuhi dengan taman-taman itu.

b. Sumber Daya Finansial

Sumber daya terdapat pendanaan didalam melaksanakan implementasi kebijakan penyediaan ruang terbuka hijau. Informan menyatakan bahwa dana yang digunakan dalam Implementasi Kebijakan penyediaan ruang terbuka hijau berdasarkan peraturan daerah kota medan nomor 13 Tahun 2011 Tentang Tata Ruang Wilayah Kota Medan berasal dari dana anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Kota Medan, tepatnya sudah tercantum di dalam APBD. Namun informan tidak bisa menyebutkan berapa besar anggaran yang di tetapkan dalam APBD tersebut. Anggaran tersebut yang dugunakan untuk merawat taman, membuat taman, meningkatkan kualitas taman, dimana di dalam APBD itu sendiri telah tercantum anggaran untuk RTH.

Informan tambahan juga memberikan penjelasan tentang sumber dana untuk RTH harusnya APBD kota Medan untuk membeli lahan-lahan untuk RTH. Didalam APBD kota medan sudah ada tercantum dana yang digunakakan untuk pembebasan lahan untuk RTH, dana untuk pembangunan dan pelebaran jalan, namun dalam pelaksanaannya terlebih dahulu memperhatikan pembangunan fasilitas mana didahulukan dan yang lebih penting. Tergantung dari dinas Pertamanan apakah ada mengajukan dana

untuk pembebasan lahan untuk RTH. Semua tergantung dari instansi masing-masing apakah ada atau tidak mengajukan dana ke APBD Kota Medan. Kalau misalnya sudah di ajukan barulah dana tersebut di alokasi kan jika keuangan Pemko Medan mencukupi.

Peneliti juga menanyakan apakah dana tersebut sudah efektif dalam menjalankan kebijakan ruang terbuka hijau ini, informan kunci menyatakan bahwa anggarannya masih jauh dari

Dokumen terkait