DARI HEGEMONI ANTIKOLONIALISME KE ANTIKOMUNISME
2.3. Hegemoni: Karakter dan Motivasi yang Berhadapan
Hegemoni Orde Baru yang bersemangat antikomunis di bawah Soeharto dapat dikatakan dibangun dalam rangka menghadapi hegemoni Indonesia merdeka dengan semangat antikolonial di bawah Sukarno. Upaya Soeharto membuat sebuah kontra-hegemoni (counter-hegemony) di hadapan hegemoni Sukarno adalah bagian dari upaya pendongkelan Sukarno dan perebutan kekuasaan.
Pertarungan dua hegemon dapat dirangkum dalam tabel berikut:
Hegemon Indonesia Merdeka Orde Baru Semangat - Antikolonialisme,
- Anti-Pancasila
Dalam pandangan Sukarno yang memimpin Indonesia Merdeka pada saat itu revolusi belumlah selesai. Perjuangan melawan kolonialisme, sekalipun Indonesia secara de facto dan de jure sudah bebas dari penjajahan fisik, dalam pandangan Sukarno belum berakhir. Menurut Sukarno, kolonialisme dan imperialisme, dalam segala bentuk barunya, neokolonialisme dan neoimperialisme masih terus bekerja walaupun secara fisik tidak terang-terangan menjajah.
Sepuluh tahun sesudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dan enam tahun setelah penjajahan Belanda secara resmi berakhir Sukarno masih terus mengingatkan lewat pidatonya mengenai ancaman dan musuh utama bagi Indonesia dan dunia:
Orang sering mengatakan kepada kita, bahwa
"kolonialisme sudah mati". Janganlah kita mau tertipu atau terninabobokan olehnya! Saya berkata kepada Tuan-tuan, kolonialisme belumlah mati. Bagaimana kita dapat mengatakan ia telah mati selama daerah-daerah yang luas di Asia dan Afrika belum lagi merdeka!
Dan, saya minta kepada Tuan-Tuan, janganlah hendaknya melihat kolonialisme dalam bentuk klasiknya saja, seperti yang kita di Indonesia dan saudara-saudara kita berbagai-bagai wilayah Asia dan Afrika, mengenalnya. Kolonialisme mempunyai juga baju
modern, dalam bentuk penguasaan ekonomi, penguasaan intelektuil, penguasaan materiil yang nyata, dilakukan oleh sekumpulan kecil orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah rakyat. Ia merupakan musuh yang licin dan tabah, dan menyaru dengan berbagai cara. Tidak gampang ia mau melepaskan mangsanya. Di mana, bilamana dan bagaimana pun ia muncul kolonialisme adalah hal yang jahat yang harus dilenyapkan dari muka bumi. (Pidato Sukarno dalam Pembukaan Konferensi Asia-Afrika, 1955).
Semangat antikolonialisme ini terus-menerus menjadi tema yang memberi bingkai kehidupan ekonomi dan politik Indonesia. Tema antikolonialisme itu muncul praktis di semua bidang. Dalam bidang agraria, misalnya, dengan diterbitkannya Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Pokok Bagi Hasil tahun 1960 yang berusaha membenahi masalah ketimpangan kepemilikan lahan bagi pertanian dan pemusatan kepemilikan lahan bagi perkebunan besar milik perusahaan swasta asing. Masalah ketimpangan kepemilikan lahan ini adalah masalah besar peninggalan penjajahan Belanda selama ratusan tahun yang memulai sebuah akumulasi primitif di Indonesia lewat perampasan lahan komunal milik rakyat lewat kebijakan domein verklaring atau pendaftaran dan pembuktian kepemilikan tanah. Dengan semangat antikolonial ini kemudian pemerintahan Indonesia Merdeka di bawah Sukarno mendorong dilaksanakannya reforma agraria (land reform) yang kemudian didukung oleh organisasi akar rumput dan serikat petani seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sarekat Buruh Perkebunan RI (Sarbupri) yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia. Di lapangan ekonomi pula, dengan semangat antikolonialisme yang sama kuatnya, Sukarno mengambil alih dan menasionalisasi perusahaan-perusahaan besar pertambangan, perkebunan, dan manufaktur yang dikuasai modal asing.
Di lapangan politik luar negeri, semangat antikolonialisme dalam hegemoni Indonesia Merdeka muncul dalam berbagai bentuknya. Indonesia berjuang untuk merebut Irian Barat lewat proses dekolonisasi, diplomasi, dan juga lewat operasi militer. Selain itu, Indonesia juga menggelar konfrontasi dengan Malaysia yang oleh Sukarno dianggap sebagai antek neokolonialisme dan neoimperialisme Inggris di Asia Tenggara. Untuk menghadapi persiapan invasi militer ke Malaysia lewat Komando Ganyang Malaysia (KOGAM), Sukarno mengerahkan kekuatan sukarelawan yang tergabung dari berbagai organisasi, termasuk dari organisasi yang terafiliasi dengan partai politik untuk kemudian diberi pelatihan militer dasar.
Di bidang olahraga, Indonesia menyelenggarakan Games of New Emerging Forces (Ganefo), sebagai suatu perhelatan olahraga internasional yang mengawali rencana diadakannya Conference of New Emerging Forces (Conefo), melanjutkan Konferensi Asia-Afrika, Conefo adalah konferensi negara-negara yang baru lepas dari penjajahan, sebuah kekuatan baru yang berusaha menandingi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dianggap Sukarno telah dikuasai kekuatan neoimperialisme. Melalui Conefo Sukarno berusaha menggalang semangat antikolonialisme ke seluruh dunia dan menjadikan Indonesia sebagai pusatnya.
Di bidang kebudayaan, dengan semangat antikolonialisme pula Sukarno melarang masuknya musik rock dan pop dari negara-negara Barat, dan mendorong diadakannya pemboikotan atas film-film dianggap melemahkan semangat revolusioner kebangsaan. Dengan memboikot film-film dari negara Barat diharapkan tercipta sebuah ruang bagi tumbuhnya perfilman Indonesia yang membawa identitas nasional. Sukarno juga mendukung terbentuknya sebuah
lembaga kebudayaan yang progresif bernama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Dukungan Presiden Sukarno sangat jelas ditunjukkan dalam pidatonya pada penutupan Kongres Lekra Pertama sebagai berikut:
Seni dan ilmu untuk rakyat hendaknya berisi pengertian
‘seni dan ilmu dari rakyat untuk rakyat‘ yang berarti juga mengabdi kepada kepantingan seluruh rakyat Indonesia. Sedang pengabdian pada rakyat itu tidak mungkin terjadi tanpa politik sebagi panglima, artinya bahwa politik disini adalah politik yang didasarkan atas garis massa.
Politik yang penuh sesak dengan tema dan semangat antikolonialisme inilah yang kemudian menjadi bingkai dan arah kebijakan—atau panglima—bagi kebudayaan Indonesia. Hegemoni kultural Indonesia Merdeka di bawah Sukarno dapat dikatakan dipersatukan dalam semangat antikolonialisme dengan membenturkan kekuatan progresif revolusioner pada musuh bersama yaitu kekuatan kolonialisme dan kaum komprador yang menjadi antek-anteknya. Lewat musuh bersama bernama kolonialisme, neokolonialisme, dan neoimperialisme inilah, semangat antikolonialisme menjadi sebuah hegemoni yang sanggup membangun konsensus rakyat sehingga mereka bersetuju untuk berkorban dan mendukung garis kebijakan negara yang mereka pandang sebagai pelindung berulangnya kembali eksploitasi manusia atas manusia dan atas sumber daya alam di Indonesia.
Di hadapan hegemoni antikolonialisme ini tumbuh sebuah gerakan kontra-hegemoni antikomunisme. Lewat semua saluran komunikasi yang ia kuasai, Soeharto dengan propagandanya, memindahkan musuh bersama rakyat Indonesia, dari kolonialisme menjadi komunisme. Konsensus yang berusaha dibangun rezim Orde Baru tetap memelihara sikap ―anti‖ tetapi mengaganti kata di belakangnya
dari ―kolonialisme‖ menjadi ―komunisme.‖ Dalam pandangan Soeharto, musuh dan hantu, serta bahaya laten bagi bangsa Indonesia bukanlah kolonialisme yang menghisap kekayaan rakyat Indonesia untuk segelintir orang, melainkan komunisme yang telah melakukan pengkhianatan kepada negara. Secara tidak langsung, semua gagasan yang didukung oleh Partai Komunis Indonesia, dan secara luas oleh kelompok progresif revolusioner, turut digusur bersama dihancurkannya organisasi akar rumput yang berafiliasi dengan partai tersebut.
Gerakan kontra-hegemoni antikomunis ini mulai bekerja merayap seraya mengikuti kekuasaan dan jabatan Soeharto yang kemudian memutarbalikkan kebijakan dengan semangat antikolonialisme menjadi berbagai kebijakan dengan semangat antikomunisme. Komunisme, yang tadinya adalah salah satu unsur penolak musuh negara berupa kolonialisme, kini menjadi satu-satunya musuh negara.
Dengan semangat memusuhi komunisme, berturut-turut Soeharto membubarkan Conefo, mengembalikan kepemilikan saham perusahaan asing yang telah dinasionalisasi oleh Sukarno, membuka keran penanaman modal asing, menghentikan reforma agraria, menghentikan boikot film Barat, dan menghentikan konfrontasi dengan Malaysia. Pertarungan antara hegemoni Indonesia Merdeka melawan kontra-hegemoni antikomunisme berakhir dengan kemenangan dan menguatnya hegemoni antikomunisme Orde Baru seiring dengan bertumbuhnya hegemoni tersebut menjadi hegemoni total yang menguasai seluruh media dan sumber informasi yang bisa dijangkau masyarakat. Dampak dari kemenangan hegemoni antikomunisme Orde Baru yang paling terlihat adalah masyarakat yang tidak lagi menjiwai kemerdekaan yang diperjuangkan para
pendiri bangsa agar menjadi tuan di negeri sendiri dan berkuasa atas sumber daya alamnya, tidak terusir, dan tidak terperah. Sementara Sukarno berusaha mempertahankan hegemoninya lewat pidato yang persuasif, Soeharto sejak 1 Oktober 1965 terus menerus melakukan opresi dan teror untuk menciptakan ketakutan yang menguntungkan bagi menguatnya hegemoni antikomunisme.
Dampaknya, ketakutan itu berakar dalam dan rakyat memberikan konsensus dan kepatuhannya pada Orde Baru demi perlindungan dari bahaya komunisme, bahkan sesudah komunisme di Indonesia menjadi hantu selama lebih dari setengah abad.