• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hegemoni Minimum Orde Baru

DARI HEGEMONI ANTIKOLONIALISME KE ANTIKOMUNISME

2.4. Hegemoni Minimum Orde Baru

Ketiga jenis hegemoni ini ada pada hegemoni Orde Baru. Awalnya hegemoni yang dibangun oleh Soeharto masihlah hegemoni minimum, belum ditanamkan secara luas lewat pendidikan serta masih mendapatkan perlawanan.

Memanfaatkan Gerakan 30 September (G30S) yang berantakan, Soeharto merongrong kekuasaan Sukarno dan menampilkan diri sebagai juru selamat bangsa dengan menumpas G30S (Roosa, 2008: 9). Untuk menjadi seorang protagonis dalam narasi yang menjadi dasar hegemoni Orde Baru ini, Soeharto membutuhkan antagonis yang akan diperanginya, dan sejak awal sekali, Soeharto menetapkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai musuhnya, dan lewat propagandanya, partai antikolonialisme ini harus dijadikannya juga musuh bersama seluruh rakyat Indonesia. Bagi Soeharto dan rezim Orde Barunya, propaganda bahwa PKI dan komunisme adalah dalang besar G30S merupakan kunci bagi keabsahan rezim Orde Baru, dan bahwa hantu komunisme tak pernah

mati menjadi alasan keberadaan kenapa rezim Orde Baru harus terus ada (Heryanto, 1999). Soeharto dan anak buahnya gencar menyebarkan tuduhan bahwa PKI ada di belakang G30S tanpa bukti apapun, dan baru belakangan mencari apa saja yang bisa digunakannya sebagai bukti. Hanya berselang 4 hari sesudah G30S berhasil dilumpuhkan oleh Soeharto, pada 5 Oktober 1965, pihak Angkatan Darat menerbitkan buku mengenai G30S dan langsung menuduh PKI sebagai dalang di balik penculikan dan pembunuhan tujuh perwira tinggi Angkata Darat (AD) (Roosa, 2008: 92-93).

Sementara Soeharto melakukan persiapan penghancuran PKI dan pembunuhan massal lewat komando-komando teritorial di Aceh dan Sumatera Utara (Melvin, 2018), ia juga mempersiapkan narasi yang akan menjadi basis kekuasaan rezimnya: PKI adalah anasir jahat yang ingin menghancurkan kekuatan non-komunis di Indonesia. Soeharto melakukannya lewat media, terutama Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha dua surat kabar yang dikelola oleh tentara dan melarang terbit semua koran dan menutup saluran berita lainnya. Lewat berita sensasional dua surat kabar tersebut rezim Orde Baru sudah mulai menciptakan narasi antagonisme PKI bahwa para pelaku penculikan betul-betul manusia biadab tak berperikemanusiaan yang melakukan penyiksaan terhadap perwira tinggi AD, menyayat-nyayat wajah, mencungkil bola mata, dan memotong kemaluan mereka (Taum, 2015: 110).

Sebagai sebuah awalan, hegemoni minimum ini tidak begitu saja dipercaya masyarakat luas dan masih mendapatkan perlawanannya. Politbiro Central Comite (CC)-PKI pada 6 Oktober 1965 masih menegaskan bahwa ―PKI tidak tahu menahu tentang G30S dan peristiwa itu adalah intern AD‖ (Roosa,

2008: 93). Tetapi Soeharto tidak tinggal diam. Soeharto terus menggerakkan pasukannya ke kantong-kantong suara PKI di daerah-daerah, sementara di Jakarta Soeharto menyelenggarakan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) yang mengadili para pelaku G30S, petinggi PKI yang dianggap terlibat G30S, dan pejabat negara seperti Wakil Perdama Menteri (Waperdam) Soebandrio. Dengan menangkapi para petinggi PKI, suara-suara yang menentang tuduhan bahwa PKI adalah dalang di balik G30S semakin padam. Soeharto bergerak dalam perang manuver, dan juga perang posisi. Ia melakukan keduanya dengan segenap tenaga dan cepat.

Presiden Sukarno, di bulan Desember 1965, berusaha melawan semangat antikomunisme yang sudah mulai berdarah-darah, dengan segenap kharisma yang masih dimilikinya menyampaikan pidato berikut:

―Perkataan dipakai untuk sebetulnya men-demonstreer anti kepada Kom. Padahal Pancasila itu sebetulnya tidak anti-Kom. Kom dalam arti ideologi sosial untuk mendatangkan di sini satu masyarakat yang sosialistis.‖

―Ayo, terus terang ya! Anti-Gestapu lain! Kom, Kom, Kom, saya katakan, sebagai ideologi untuk mendatangkan di sini suatu masyarakat yang adil dan makmur. Saya tidak mengatakan anti-Gestapu, saya sediri menghukum kupada Gestapu. Saya sendiri memerintahkan diadakannya Mahkamah Militer Luar Biasa. Tetapi saya melihat bahwa perkataan Pancasila itu sekarang dipakai untuk itu. Pancasila, Pancasila.

Pancasila, Pancasila, tetapi sebenarnya anti kepada bagian Kom daripada Nasakom (Setiyono & Triyana (ed.), 2014: 214).‖

Hampir setahun kemudian, pada September 1966, ketika merasa terkepung dari segala penjuru, Sukarno masih berusaha melawan dan menolak pelarangan penyebaran Marxisme, Leninisme, dan komunisme lewat Ketetapan

Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (TAP MPRS) nomor XXV/1966.

Dengan sisa kekuasaannya yang tak disadarinya telah sungguh-sungguh berada di pengujung, Soekarno, berhadapan dengan kekuatan yang makin menggergoti kekuasaannya, meledek musuh-musuhnya:

―Bahwa aku menganut Marxisme dalam lapangan analisis. Karena itulah saya anjurkan lebih dahulu kepada anggota-anggota MPRS, kalau engkau mengambil keputusan sekedar melarang Marxisme, Leninisme, komunisme, saya akan ketawa. Apa yang bisa engkau larang ialah kegiatan daripada Marxisme atau komunisme atau Islamisme yang merugikan Negara.

(Setiyono & Triyana (ed.), 2014).‖

Sukarno tidak tahu bahwa pengesahan TAP MPRS yang menurutnya layak ditertawakan ini kemudian menjadi dasar hukum bagi pemberangusan dan penghancuran pemikiran dan gerakan kiri di seluruh Indonesia selama berpuluh tahun sesudah jatuhnya pemerintahan Sukarno. Ketatapan MPRS yang pernah diusulkan oleh Presiden Abdurrahman Wahid untuk dicabut ini bahkan masih bertahan pada saat tesis ini ditulis, berpuluh tahun sesudah kejatuhan Soeharto.

Ketika akhirnya Soeharto diangkat menjadi Pejabat Presiden Republik Indonesia menggantikan Sukarno memang yang terjadi barulah pergantian pemimpin dan perubahan hegemonik belum terjadi. Hegemoni anti-komunis Soeharto belum sepenuhnya terbentuk menjadi konsensus dan perang manuver baru dimulai. Walaupun belum menjadi penguasa hegemonik dan membentuk konsensus, dalam perang manuver, Soeharto telah melakukan serangan langsung ke badan-badan negara dan memenangkan pertempurannya. Sebagai Pangkopkamtib ia menguasai militer dan kepolisian—angkatan bersenjata, Majelis Permusyawaratan Rakyat mendukungnya, membubarkan Partai Komunis

Indonesia (PKI), menangkapi pejabat negara anggota PKI, dan lewat berbagai kekerasan massal ia berhasil menghancurkan basis massa komunis di seluruh Indonesia dan praktis memunahkan seluruh penentangnya. Setelah Soeharto menjadi Pejabat Presiden, praktis ia telah berhasil mendominasi negara, cara berkuasa lewat koersi. Perlahan-lahan, Soeharto kemudian memulai perang manuver, dan untuk membawa Indonesia masuk ke dalam hegemoni total anti-komunis Soeharto perlu memenangkan perang ini. Pada tahap mendominasi lewat koersi ini Soeharto dan rezim Orde Barunya telah berhasil mengganti pemimpin dan selanjutnya akan menghegemoni masyarakat lewat manipulasi kesadaran dan konsensus sehingga masyarakat bertransformasi dari yang tadinya antikolonial kini menjadi masyarakat antikomunis.