• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hegemoni Merosot Orde Baru

BAB IV PERANG POSISI:

HEGEMONI VERSUS KONTRA-HEGEMONI DALAM TIGA SURAT

4.1. Hegemoni Merosot Orde Baru

Salah satu konsep terpenting yang dilontarkan Gramsci adalah konsep hegemoni, atau bagaimana kelas penguasa mendapatkan, memelihara, dan menggunakan kekuasaannya. Lenin menggunakan istilah ―hegemoni‖ sepanjang Revolusi Rusia untuk menggambarkan apa yang dilawan oleh kelas pekerja dan bagaimana kelas pekerja ini meraih kekuasaan. Gramsci menyelidiki dan menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud dengan hegemoni ini.

Salah satu cara Gramsci untuk menganalisis hegemoni adalah dengan memulai dari gagasan Marx bahwa ekonomi dan kebudayaan saling terkait, dan memeriksa peran kebudayaan dalam pasangan lebih dekat dari yang sudah dilakukan Marx. Bagi Gramsci, ideologi, budaya, dan politik adalah hal yang teramat penting. Persoalan atau kesulitan ekonomi tidak secara otomatis akan

memprovokasi rakyat untuk menantang tata sosial di tempat mereka hidup.

Kesulitan ekonomi hanya menyediakan potensi bagi sebuah revolusi. Oleh karena itu, pergeseran kebudayaan yang penting harus juga terjadi.

Dengan dasar pemikiran ini, Gramsci berargumen bahwa intelektual organik harus menunjukkan kepada rakyat kelas pekerja bagaimana borjuasi (kelas penguasa) menjalankan hegemoni atas kelas pekerja tersebut. Gramsci percaya bahwa mendidik rakyat kelas pekerja dan mendorong mereka untuk secara aktif melakukan perlawanan dapat menciptakan sebuah krisis hegemoni, yaitu sebuah situasi ketika kelas penguasa tidak dapat lagi mempertahankan otoritas mereka.

Pada paro kedua tahun 1990-an, setelah sekitar 30-an tahun berkuasa dengan sedikit sekali penentangan, Soeharto dan rezim Orde Baru-nya mulai menua. Penentangan mulai tumbuh, dan ketika terjadi krisis ekonomi di Asia Tenggara pada 1997, rezim Orde Baru mengalami penentangan yang semakin kuat dan merosot pula kekuatannya dalam menciptakan serta mempertahankan hegemoninya. Dalam kaitan dengan hegemoni antikomunisme, kemerosotan Orde Baru mulai terlihat dalam pertarungan internal Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang kemudian berujung pada Peristiwa 27 Juli, ketika orang-orang yang tak dikenal menyerbu markas PDI di bawah kepemimpinan Megawati Sukarnoputri dan merebutnya. Menjelang terjadinya Peristiwa 27 Juli 1996 sekelompok anak muda berhaluan kiri yang tergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD) turut mendukung kepemimpinan Megawati sebagai Ketua PDIP yang tak direstui oleh Presiden Soeharto. Anak-anak muda dari PRD ini kemudian ditangkap, diadili, dan kemudian dipenjarakan dengan tuduhan makar.

Satu hal yang menjadi ciri khas Orde Baru, semua penentangan dan kritik keras terhadap pemerintah adalah bentuk lain dari komunisme, dengan kata lain, datang dari niat yang jahat, khianat, dan anti-Pancasila. PRD tidak lepas dari perlakuan standar ini. PRD dituduh sebagai penjelmaan komunis gaya baru dan bergerak dalam organisasi tanpa bentuk (OTB), sebuah tuduhan yang terlihat sangat terinspirasi dari bagaimana hegemoni total terbentuk yaitu bahwa komunisme itu sangat berbahaya dan bergerak seperti hantu yang tak kasat mata atau tak berbentuk.

Tuduhan rezim Orde Baru tidak begitu saja ditelan mentah-mentah oleh masyarakat luas dan media. Praktik korupsi dan nepotisme Soeharto yang semakin terbuka membuat orang tidak lagi mudah bersimpati pada apapun yang disampaikan oleh Soeharto yang dulu dipandang sebagai penyelamat bangsa yang utama. Rezim mulai menua dan hegemoni mulai merosot.

Soeharto akhirnya jatuh, dan rezim Orde Baru secara resmi berakhir bersama mundurnya Soeharto sebagai presiden. Indonesia mengalami sebuah periode baru yang disebut sebagai era Reformasi dengan semangat melakukan koreksi terhadap otoritarianisme dan militerisme pemerintahan di Indonesia.

Masyarakat mulai sadar bahwa Soeharto punya sisi gelap berupa korupsi, kroniisme, dan nepotisme keluarganya. Soeharto dicoba untuk diadili dalam kasus korupsi, tetapi tidak untuk kejahatannya dalam pelanggaran HAM berat sejak 1965 hingga akhir pemerintahan tangan besinya di Indonesia dan Timor Leste.

Hegemoni antikomunisme Orde Baru merosot tapi belum runtuh.

Di tengah kemerosotan itu pernah buku-buku teks sekolah mengganti istilah G30S/PKI menjadi G30S saja tanpa tambahan ―/PKI‖ di belakangnya. Tapi proses

kemerosotan hegemoni ini tidak berlangsung lama karena kemudian buku teks pelajaran sejarah yang tidak menambahkan ―/PKI‖ di belakang G30S ditarik dari peredaran dan kemudian dibakar Kejaksaan Agung. Tambahan ―/PKI‖ kembali ke kelas dan PKI kembali menjadi kambing hitam dan penjahatnya.

Monumen ―Pancasila Sakti‖ juga sempat menyaksikan kemerosotan hegemonik berupa tidak diselenggarakannya upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober di Lubang Buaya selama masa pemerintahan Presiden Megawati Sukarnoputri. Sebagai putri dari seorang presiden yang digulingkan lewat kudeta merangkak dan disahkan secara hegemonik lewat upacara dan simbol-simbol di Lubang Buaya, keputusan Megawati menghentikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti sudah tepat.

Kemerosotan hegemoni Orde Baru juga tampak dari dihentikannya pemutaran film Pengkhianatan di televisi pada 30 September 1998 setelah rutin diputar di seluruh stasiun televisi selama 12 tahun. Penghentian pemutaran film ini dilakukan berkat permintaan Perhimpunan Purnawirawan Angkatan Udara Republik Indonesia (PP AURI) yang diajukan kepada Menteri Pendidikan dan Menteri Penerangan pada saat itu. PP AURI merasa film Pengkhianatan terlalu memojokkan Angkatan Udara dan seolah membuat Lapangan Udara Halim Perdanakusuma menjadi sarang PKI. Sekalipun alasan penghentian pemutaran film tersebut justru memperkuat hegemoni antikomunisme, karena PP AURI ingin menjauh dari segala hal yang terkait komunisme, pengambilan keputusan pemerintah saat itu untuk menghentikan pemutaran serempak telah menciptakan kemerosotan salah satu tonggak hegemoni pencipta narasi Orde Baru. Masyarakat

dapat merasakan ada yang salah dengan film tersebut karena kini film itu seolah tak boleh lagi diputar.

Walaupun demikian hegemoni yang sudah sedemikian tertanam kuat tidaklah mudah runtuh. Beberapa bagiannya mengalami kemerosotan tetapi di beberapa bagian muncul penguatan kembali dalam berbagai wajahnya. Mulai tahun 2018 Panglima Tentara Nasional Indonesia Gatot Nurmantyo memerintahkan komandan-komandan di seluruh Indonesia agar mengadakan acara nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan pada malam 30 September bersama masyarakat. Dua tahun kemudian, tidak lagi sebagai Panglima TNI, Gatot Nurmantyo menganjurkan masyarakat berinisiatif menyelenggarakan acara nobar film Pengkhianatan. Anjuran ini menimbulkan keriuhan di media, tetapi dua stasiun televisi ikut menyiarkan film ini di malam hari. Ironis bahwa dalam sebuah video yang beredar tampak Gatot Nurmantyo sang pemrakarsa pemutaran film ini ditemukan tertidur di tengah pemutaran film. Sekali lagi, hegemoni Orde Baru merosot lagi, tetapi tidak juga sepenuhnya runtuh.