• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ya, silakan direspons. Ini karena yang kita ... apa … kita periksa adalah Perkara Gayo Lues, maka berlaku qanun ini, kita harus istirahat Asar nanti sebentar lagi, ya. Kalau itu daerah lain, saya sampai hampir mendekati Magrib, begitu, ya. Karena ini Aceh, saya akan break dulu nanti untuk Asar, kemudian nanti kita lanjutkan lagi, tapi sebentar. Tadi juga diperingatkan itu handphone-nya enggak boleh bunyi, tapi handphone-nya bunyi, tapi mengingatkan kalau sudah Asar, makanya saya tidak marah. Kalau yang lain, saya marah itu tadi. Karena ini di Aceh saya enggak bisa marah karena itu.

Ya, silakan, Ahli, dalam waktu yang singkat saja.

103. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: M. JAFAR

Baik, terima kasih, Yang Mulia. Dan ini banyak juga masukan bagi saya selain juga ada beberapa pertanyaan.

Yang pertama dari Yang Mulia Bapak Suhartoyo menyangkut dengan utang, saya juga sependapat ini adalah masalah integritas, masalah yang lebih luas. Ya, kalau sebelum jadi calon saja sudah tidak jujur, bagaimana setelah terpilih, misalnya. Tetapi yang juga perlu kita kaji bahwa seseorang itu kan ada yang merasa mengetahui punya utang, ada yang tidak merasa mengetahui punya utang. Ada utang yang memang kita ketahui, ada utang yang kadang-kadang kita tidak mengetahui itu. Jadi misalnya, kalau kita tidak bayar PBB, yaitu kita punya utang, tidak bayar PPh kan utang. Banyak sekali, kredit juga utang. Oleh karena itu, itu harus diberitahukan, diinformasikan, dikeluarkan sebuah keputusan atau sebuah keterangan bahwa seseorang itu memiliki utang. Sama seperti misalnya, anggota DPRD beberapa periode yang lalu yang diberikan tunjangan komunikasi. Itu juga sampai sekarang hampir semuanya atau sebagian besar itu belum melunasi utang itu karena perbedaan penafsiran terhadap utang tunjangan komunikasi. Sebelumnya dibolehkan, kemudian dilarang, padahal uang sudah digunakan, misalnya. Jadi, oleh sebab karena itu, menurut hemat Ahli, menurut saya bahwa utang itu memang harus diberitahukan dan kalau memang sudah tahu yang bersangkutan punya utang tapi tidak mau melunasi, berarti itu menyangkut dengan ... terkait dengan integritas masing-masing yang ... yang menurut saya itu ada pada masing-masing orang.

Kemudian, Yang Mulia Bapak Dewa Palguna, menyangkut dengan UUPA, memang ini ada dua dasar. Kalau menurut saya bahwa apa yang

diatur dalam Qanun ... apa yang diatur dalam UUPA (Undang-Undang Pemerintahan Aceh), yaitu menyangkut dengan otonomi khusus di Aceh yang diberikan berdasarkan Pasal 18B Undang-Undang Dasar Tahun 1945, maka semua ketentuan yang ada dalam UUPA menurut saya adalah lex specialis (khusus). Sedangkan undang-undang yang lain yang bersifat nasional dan sektoral, itu adalah lex generalis dalam hal berbenturan dengan UUPA. Tetapi kalau misalnya, BW dengan WVK atau KUH Perdata dengan KUH Dagang bahwa KUH Dagang yang lex specialis, begitu juga Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi dengan KUHP. Tetapi kalau khusus untuk UUPA karena ini undang-undang yang berlaku untuk daerah khusus, maka semua ketentuan yang ada di dalamnya adalah lex specialis. Itu pemahaman saya. Mohon ... mohon izin, Yang Mulia.

Kemudian juga, hampir semua peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional, itu ada ketentuan khusus yang menyatakan bahwa ketentuan yang berlaku secara nasional, ini juga berlaku di Aceh sepanjang tidak diatur. Ini ... ini menurut saya, ketentuan penutup itu merupakan penjabaran dari asas lex specialis.

Yang kedua, juga memperkuat, kalau pun misalnya terjadi perbedaan pemahaman tentang apakah semua ketentuan UUPA itu lex specialis atau bukan, maka dengan adanya ketentuan Pasal 199 yang Majelis Yang Mulia sampaikan tadi, maka UUPA itu menjadi kuat kedudukannya dibandingkan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015.

Kemudian mengenai Qanun itu sendiri bahwa sepanjang Qanun ...

sepanjang diperintahkan langsung dalam UUPA, maka Qanun itu memiliki kekuatan yang sama dengan UUPA. Ini mungkin saya bisa menggunakan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Bisa saya mengambil dasarnya di situ, yaitu peraturan pelaksanaan, apakah Permendagri dan sebagainya, kekuatannya sama dengan ketentuan undang-undang yang memerintahkannya.

Nah, Qanun juga demikian, sepanjang isinya diperintahkan dalam UUPA. Kalau tidak di ... diperintahkan atau diatur dalam UUPA, apakah dalam Qanun boleh diatur? Boleh, sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi, undang-undang di luar UUPA. Kalau misalnya bertentangan, tentu yang berlaku adalah peraturan yang lebih tinggi karena ketentuan tersebut bukan perintah UUPA.

Kemudian dari Yang Mulia Bapak Aswanto, menyangkut dengan penggunaan kartu keluarga dan ... kartu keluarga bagi yang tidak terdaftar dalam DPT, ini menurut saya karena yang pertama sudah diatur di dalam UUPA, meskipun terhadap syarat dukungan bagi calon persorangan, kemudian juga di ... di ... dalam Qanun juga sudah diatur, kemudian dalam pilkada-pilkada sebelumnya juga dibolehkan, maka menurut saya, ketentuan tentang penggunaan kartu keluarga itu dibolehkan. Apalagi ini berlaku di seluruh Aceh, tanpa diskriminasi. Kalau

misalnya kita harus mengubah atau menganulir keputusan tersebut, maka pilkada seluruh Aceh harus di ... dianulir. Ini dari segi asas manfaat kan dampak negatif lebih besar dari yang positif.

Kemudian, penanganan pilkada menyangkut waktu yang tepat ...

waktu yang ketat ini. Ini ketentuan tentang penanganan pelanggaran pilkada, di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 itu sendiri dikatakan bahwa penanganan pelanggaran pidana pilkada itu berlaku KUHP sepanjang tidak diatur secara khusus, tapi menyangkut dengan waktu, prosedur, dan sebagainya, itu diatur secara khusus. Karena sudah diatur secara khusus dalam Undang-Undang Pilkada, maka berlaku ketentuan yang ada dalam Undang-Undang Pilkada. Cuma kadang-kadang saya melihat ini tidak adil, kadang tidak fair. Kenapa?

Gara-gara lewat waktu yang ditentukan, seseorang yang nyata-nyata bersalah, menjadi tidak diproses secara hukum.

Tapi ini pengalaman saya pada saat jadi Anggota Panwaslu Aceh Pemilu 2004 yang lalu, itu saya alihkan dari laporan, saya alihkan menjadi temuan karena kalau temuan itu tanpa ... tanpa batas. Jadi, dengan temuan, saya selaku Koordinator Bidang Pengawasan Panwaslu Aceh Pemilu 2004, itu banyak sekali menjerat kasus-kasus pelanggaran yang meskipun sudah lewat waktu. Bahkan pada saat itu, kami bisa menangani sampai dengan 140 kasus dan 120 sampai ke pengadilan. Itu yang ... yang kami tempuh dan secara hukum dibolehkan karena keadilan substantif tentu lebih tinggi dari keadilan prosedural kalau bisa memang dua-duanya dipenuhi, tapi kalau tidak saya secara pribadi mengatakan itu harus ditangani. Kemudian dari Pak Yang Mulia Bapak Wahiduddin menyangkut dengan sanksi tadi memang ada dua sanksi pidana dan pemungutan suara ulang. Pemungutan suara ulang ini ada prosedur dan waktu yang ditentukan, jadi memang ada prosedurnya harus dilaporkan kepada panwas, panwas merekomendasikan kepada KIP, KIP melakukan pemungutan suara ulang, dan itu ada batas waktunya, tapi kalau sudah lewat batas waktu tidak dilaporkan, tidak diajukan keberatan maka pemungutan suara ulang menurut saya tidak bisa dilakukan oleh penyelenggara, apalagi misalnya ada yang mengajukan keberatan setelah penetapan pasangan calon. Ya, ini tentu mengacaukan tahapan-tahapan yang lain karena setiap tahapan yang satu dengan yang lain itu terkait.

Oleh karena itu, persoalan prosedur dan waktu memang harus betul-betul dipenuhi, baik dalam pemungutan suara ulang maupun dalam penanganan tindak pidana, tapi untuk tindak pidana tadi ada celah yang bisa kita gunakan, yaitu dengan mengalih dari laporan menjadi temuan. Saya pikir demikian yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas segala kekurangan. Saya akhiri dengan assalamualaikum wr. wb.

Dokumen terkait