Terima kasih, Majelis Hakim Yang Mulia. Ada beberapa pertanyaan sesuai isu yang berkembang. Satu, masalah pemilih yang mencoblos dari satu kali, saya menangkap gejala adanya pemilih yang disengaja untuk mencoblos dua kali salah satu pasangan calon sehingga ketika dia kalah, baru diangkat, tapi kalau dia menang, dia diam. Di satu sisi, bagaimana asas keadilan? Karena di satu TPS, DPT itu maksimum 800, taruhlah 400 orang. Ketika ada satu dua orang yang mencoblos dua kali, sehingga di tempat itu harus PSU, bagaimana rasa keadilan bagi pemilih lain 400, 500 orang, yang telah mengorbankan waktunya, tenaganya datang ke TPS menentukan pilihannya? Karena berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu ketika PSU, jumlah pemilihnya berkurang sangat banyak, sangat banyak. Karena banyak pemilih yang sudah pindah tempat atau bekerja, sehingga tidak sempat lagi menggunakan hak pilihnya. Bagaimana tanggapan pemilih terkait dengan hal itu ... apa pandangan Ahli terkait dengan hal itu?
Yang kedua, dalam kaitannya tadi yang dipersoalkan masalah ada tanggungan utang atau pada pokoknya tidak memenuhi persyaratan.
Dalam pandangan kami, proses pemilu selain adanya masalah kepastian
hukum, juga ditentukan dengan keadilan prosedural, dimana untuk persoalan masalah pencalonan, itu ada mekanisme melalui sengketa pemilihan yang diajukan kepada panwas. Kalau tidak puas, baru kemudian PTUN dan kasasi. Apabila terkait dengan satu persoalan yang tidak diangkat, dalam hal ini misalnya masalah utang tadi, kepada panwas, artinya mekanisme itu tidak ditempuh, apakah itu bisa di ...
kemudian bisa dipersoalkan belakangan?
Yang ketiga, masalah perbedaan suara sah antara Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Bupati Gayo Lues. Tadi sudah dijelaskan oleh Ahli bahwa terkait hal itu diserahkan kepada pilihan masyarakat, apakah bisa adanya perbedaan suara ini, lantas diputuskan, bisa merugikan atau menguntungkan salah satu pasangan calon? Demikian, Ahli. Terima kasih, Majelis.
86. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Silakan Ahli, direspons.
87. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: M. JAFAR
Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Saya akan menanggapi satu per satu dari semua pertanyaan dan tanggapan dari Pihak Terkait, Pemohon, dan Termohon.
Yang pertama, menyangkut dengan penggunaan hak pilih atas nama Sudiyanto. Jadi, di dalam ketentuan tentang pilkada disebutkan bahwa warga negara Indonesia memiliki hak pilih apabila sudah terdaftar pada DPT, itu satu. Kemudian, juga dia yang paling prinsipil adalah sudah berusia 17 tahun, atau sudah menikah, atau pernah menikah.
Dikatakan berusia 17 tahun, yaitu pada hari pemungutan suara, maka hari pemungutan ... maka dalam sistem penyelenggaraan pemilu, hari pemungutan suara itu sudah ditentukan terlebih dahulu karena semuanya bermuara dari penetapan hari pemungutan suara.
Jadi, kalau hari pemungutan suaranya pada tanggal 15 Februari 2017 dan beliau pensiun sebelum tanggal 15 Februari 2017, maka beliau memiliki hak pilih. Sedangkan persoalan apakah sudah terdaftar dalam DPT atau tidak, itu adalah persoalan teknis, tetapi hak pilihnya harus dilindungi. Oleh karena itu, ketentuan yang membuka peluang seseorang yang tidak terdaftar dalam DPT dapat menggunakan hak pilih dengan menunjukkan KTP elektronik, surat keterangan dari disdukcapil, kemudian kartu keluarga, saya pikir ini suatu perlindungan yang luar biasa kepada warga negara dan ini sudah ... sudah sangat tepat.
Yang kedua, mengenai Pak Irmawan terdaftar dalam DPT.
Kemudian, kalau beliau terdaftar dalam DPT, berarti sudah pasti beliau bisa menggunakan hak pilihnya. Dan apabila setelah DPT ditetapkan atau setelah pemungutan suara, beliau diketahui tidak memiliki ... bukan
penduduk sehingga dianggap tidak memiliki hak pilih, menurut saya, itu adalah persoalan personal yang bersangkutan dan itu tidak berpengaruh pada pilkada. Jadi, pilkada itu tetap sah, kenapa? Karena memang pada saat pemungutan suara, beliau terdaftar dalam DPT sehingga memiliki hak untuk menggunakan hak pilih.
Persoalan apakah beliau masih penduduk atau tidak, yang pertama yang ... yang mengetahui adalah beliau sendiri. Tidak mungkin orang lain mengetahui atau penyelenggara mengetahui bahwa beliau tidak lagi sebagai penduduk. Kalau kemudian, baru diketahui bahwa beliau itu bukan penduduk, maka juga perlu diketahui sejak kapan beliau tidak penduduk. Apakah sejak penetapan itu atau sebelumnya? Kalau sejak penetapan dari disdukcapil, sejak SK disdukcapil itu beliau dinyatakan bukan sebagai penduduk, maka SK disdukcapil yang dikeluarkan setelah pemungutan suara itu bukan atau tidak meru … tidak berlaku surut, tidak mempengaruhi penggunaan hak pilih Bapak Irmawan ini.
Kemudian yang ketiga, apakah surat BPK dapat berlaku surut?
Sebagaimana saya sudah jelaskan tadi bahwa pemenuhan syarat itu harus dipenuhi pada saat … paling lambat pada saat penetapan calon.
Pada saat penetapan calon, semua persyaratan itu harus dipenuhi.
Tetapi kalau kemudian terjadi situasi berbeda antara pada saat penetapan calon atau sebelum penetapan calon dengan setelah penetapan calon, maka situasi yang berbeda itu tidak mempengaruhi penetapan pasangan calon, tidak mempengaruhi persyaratan tersebut.
Kenapa? Karena surat keterangan dari BPK itu tidak berlaku surut.
Dan saya sudah jelaskan tadi juga bahwa utang kepada negara yang namanya utang itu adalah bagian dari hukum perdata. Ini meskipun itu bagian … katakanlah dari proses publik, tapi ini termasuk hukum perdata, sehingga hukum perdata di sini berlaku umum sepanjang tidak diatur secara khusus.
Pasal 12, 33 mengatakan, “Utang adalah suatu perikatan.”
Perikatan itu bisa lahir karena undang-undang, bisa lahir karena perjanjian. Yang lahir karena undang-undang juga dibagi 2, ada yang undang-undang saja seperti hak kewajiban anak dan orang tua, suami istri, dan sebagainya, ada yang undang-undang tanpa perbuatan manusia. Ini termasuk perikatan atau utang yang lahir karena undang-undang dan perbuatan manusia. Perbuatan manusia di sini adalah perbuatan BPK. Sebelum BPK atau lembaga yang berwenang menetapkan bahwa seseorang itu memiliki utang kepada negara, maka dia tidak memiliki utang kepada negara.
Oleh karena itu, surat keterangan dari pengadilan itu menurut saya yang dikeluarkan sebelum penetapan calon, itu tidak berpengaruh, tidak menyebabkan batal atau berubah statusnya dengan dikeluarkannya surat keterangan dari BPK setelah penetapan calon itu berlangsung.
Hal ini juga dalam persyaratan-persyaratan yang lain, misalnya seseorang pada saat dipungut … dilakukan pemeriksaan kesehatan, dia sehat. Ternyata, setelah penetapan calon dia menjadi sakit. Apakah pemeriksaan kesehatan harus diulang? Kan, tidak. Begitu juga kalau di Aceh, ada kemampuan baca Alquran yang diuji. Pada saat diuji dia mampu baca Alquran, kemudian besoknya enggak mampu. Apakah harus diulang? Kan, tidak. Jadi, saya pikir ini tidak ada pengaruh dan dampak apa pun terhadap keterangan yang dikeluarkan oleh pengadilan.
Persoalan apakah pengadilan mengetahui informasi dan data terhadap pasangan calon? Seharusnya pengadilan mengetahui sebelum mengeluarkan keterangan itu.
Kemudian, apakah tindakan yang salah yang dilakukan oleh pihak lain itu dapat dibebankan … apakah tindakan yang salah yang bukan dilakukan oleh Pihak Terkait itu dibebankan kepada Pihak Terkait?
Menurut saya, itu boleh. Ada prinsip hukum yang mengatakan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh seseorang, tidak boleh merugikan orang, dan sebaliknya juga kesalahan orang lain tidak boleh merugikan seseorang.
Oleh karena itu, tindakan dari pihak lain, katakanlah di sini pemilih
… pemilih ganda, pemilih tidak terdaftar, dan sebagainya, maka tidak boleh dibebankan atau menjadi beban dan tanggung jawab daripada Pihak Terkait.
Kemudian, pertanyaan berikutnya, mencoblos lebih dari 1 kali sudah ditangani oleh Gakkumdu. Dan sebagaimana saya sampaikan tadi, mencoblos lebih dari 1 kali itu adalah persoalan … adalah pelanggaran administratif dan pelanggaran pidana. Setiap pelanggaran dalam penyelenggaraan pilkada itu ada batas waktunya. Kenapa harus ada batas waktu? Karena tahapan-tahapan pilkada itu ada yang bersifat linier, ada yang bersifat paralel. Jadi, kalau tidak dibatasi waktu, maka pelanggaran atau tahapan yang satu terganggu, itu bisa menyebabkan tahapan yang lain juga terganggu.
Oleh karena itu, kalau misalnya ada indikasi atau bukti awal bahwa seseorang melakukan pelanggaran, maka dalam jangka waktu tertentu harus diproses, baik secara administratif, maupun secara pidana. Apabila sudah melampaui jangka waktu, maka untuk keadilan prosedural, perkara tersebut tidak dapat ditangani lagi.
Dan selama ini, yurispridensi juga demikian, pengadilan, panwaslih, dan sampai dengan pengadilan juga tidak akan menangani laporan-laporan pelanggaran yang disampaikan setelah melampaui jangka waktu.
Kemudian dari Kuasa Hukum Pemohon, menyangkut dengan ketentuan Pasal 72 ayat (3) Qanun Nomor 12 Tahun 2016 bahwa memang di sini ada 2 ketentuan, ada 2 bagian yang mengatur tentang hak pilih. Yang pertama adalah dalam bab 4 tadi, kemudian dalam hal pemungutan dan penghitungan suara. Jadi dari Pasal 72 ayat (3) huruf
c, ya, dimana sebelum penghitungan suara KPPS harus menghitung huruf c-nya, “Jumlah pemilih yang menggunakan dasar kartu tanda penduduk elektronik, kartu tanda penduduk nasional, kartu keluarga, paspor, dan sebagainya.” Yang ingin disampaikan di sini adalah menyangkut dengan kewajiban dari KPPS untuk menghitung pemilih yang menggunakan kartu keluarga.
Dari ketentuan tersebut, dapat kita pahami bahwa pemilih boleh menggunakan kartu keluarga, ya karena itu harus dihitung oleh KPPS.
Kalau tidak boleh menggunakan kartu keluarga, maka pemilih itu dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pemilih. Tetapi karena dia memenuhi syarat sebagai pemilih, maka KPPS harus menghitung jumlah pemilih tersebut. Bagaimana kalau misalnya KPPS tidak menghitung? Itu menjadi suatu pelanggaran, dan dari ketentuan ini, juga secara eksplisit dapat kita ketahui bahwa Qanun Nomor 12 Tahun 2016 membolehkan pemilih menggunakan kartu keluarga. Sama halnya juga terhadap syarat dukungan bagi calon perseorangan. Dimana syarat dukungan bagi calon perseorangan itu harus dilengkapi dengan identitas kependudukan dan surat keterangan atau surat pernyataan dukungan.
Dan di dalam identitas kependudukan, juga termasuk kartu keluarga, paspor, dan sebagainya. Oleh karena itu, menurut pemahaman saya, berdasarkan Pasal 72 ayat (3) huruf c dimungkinkan atau dibolehkan pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT menggunakan kartu keluarga. Dan ini juga terjadi di seluruh Aceh, dan bukan hanya di Gayo Lues atau TPS tertentu, sehingga sesuai dengan asas keadilan dan kepastian hukum.
Kemudian, kalau misalnya ada pertentangan antara dua pasal, dalam sebuah qanun, maka yang kita gunakan adalah pasal yang paling dekat yang mengatur tentang penggunaan hak pilih, yaitu pemungutan suara. Dan prinsip yang kedua adalah kita harus menggunakan ketentuan yang menguntungkan si pemilih karena yang digunakan di sini bukan hanya keadilan prosedural, tapi juga keadilan substantif. Jangan karena prosedur itu menyebabkan pemilih kehilangan hak konstitusionalnya, apalagi secara prosedural qanun sudah membolehkan penggunaan kartu keluarga tersebut.
Kemudian, mengenai hubungan antara BPK dengan keterangan pengadilan. Kenapa pengadilan tidak mengecek pada BPK, apakah yang bersangkutan memiliki utang atau tidak? Itu menurut saya, itu yurisdiksi atau wilayahnya pengadilan. Tentu pengadilan itu punya SOP tersendiri dan saya yakin, setiap lembaga pemerintah yang mengeluarkan sebuah produk hukum atau sebuah keputusan, tentu sudah melalui sebuah proses, bagaimana mengeluarkan keputusan itu.
Yang kedua, dia juga bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut dan yang paling penting adalah semua keputusan yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga itu dianggap benar, sebelum ketidakbenarannya dibuktikan. Jadi, keterangan pengadilan, apakah
mengecek pada BPK atau tidak, menurut saya itu bukan menjadi tupoksi atau kewenangan dari penyelenggara, apalagi dari Pihak Pemohon sebagai penerima dokumen tersebut.
Kemudian, akibat dari surat keterangan BPK karena surat keterangan itu dikeluarkan setelah penetapan calon, dan setelah surat ...
apa namanya ... surat keterangan pengadilan dikeluarkan, maka tidak berdampak pada surat keterangan pengadilan. Karena sebuah surat keterangan BPK ini tidak berlaku surut.
Kemudian, dari Pihak Termohon menyangkut dengan pemilih ganda atau dua kali menggunakan hak pilih, menurut saya, ini merupakan sebuah pelanggaran administratif dan sebuah pelanggaran pidana yang ... yang seharusnya ini bisa diantisipasi kalau saksi pasangan calon, baik dari Pemohon maupun dari Pihak Terkait, itu betul-betul bekerja dengan baik. Karena setiap saksi pasangan calon yang merupakan wakil dari pasangan calon, itu memberikan kewenangan untuk mengawas, mengawasi proses pemungutan suara. Dan setiap pelanggaran yang dilakukan, dapat dilakukan upaya-upaya. Jadi kalau memang ini misalnya terjadi, berarti saksi pasangan calon ini tidak optimal.
Oleh karena itu, kelemahan atau kesalahan dari si pemilih dan saksi pasangan calon jangan dibebankan kepada Pihak Terkait, meskipun juga sebagai salah satu pasangan calon.
Kemudian, mengenai dengan tanggungan utang, ada proses ke panwas, tidak ... sudah, sudah, di ... sebenarnya, terhadap semua persyaratan yang harus dilengkapi oleh Pemohon itu, oleh penyelenggara sudah dilakukan dua hal. Yang pertama, verifikasi administratif. Yang kedua, verifikasi faktual. Kemudian juga, pihak-pihak yang mengetahui adanya pelanggaran administratif dalam penggunaan syarat calon, juga dapat mengajukan keberatan atau melaporkan kepada panwaslih dan panwaslih juga berwenang melakukan pengawasan terhadap pelanggaran itu. Dan kalau misalnya pelanggaran itu sudah di
… apa namanya ... tidak di ... pelanggaran itu boleh diajukan kepada panwas, boleh juga kepada KIP sendiri, tetapi tidak dilakukan, baru dilakukan belakangan.
Ini juga sebagaimana saya sampaikan tadi adalah proses waktu ini, mengenai waktu, itu ada batas, ya. Jadi, ada batas waktu untuk dapat mengajukan atau melaporkan pelanggaran dan sebagainya. Ya, saya pikir di luar batas waktu tersebut, kalau kepada panwaslu, Bawaslu, atau di Aceh untuk kabupaten dan provinsi, itu namanya panwaslih yang dibentuk berdasarkan UUPA dan berbeda dengan ketentuan Bawaslu secara nasional.
Jadi, menurut SOP yang ada pada panwaslih sendiri ketentuan batas waktu ini berlaku ... menggunakan ketentuan yang bersifat nasional, jadi tidak ada hal yang berbeda untuk Aceh dan kalau memang sudah lewat waktu, tidak bisa dilakukan lagi.
Kemudian, mengenai perbedaan jumlah suara sah dan jumlah suara tidak sah, saya pikir ini juga sudah saya sampaikan di awal tadi bahwa ini tidak berpengaruh pada legitimasi hukum dari hasil pilkada itu sendiri.
Saya pikir demikian yang dapat saya jelaskan menyangkut dari pertanyaan-pertanyaan Pihak Terkait, Pemohon, dan Termohon, mungkin kalau ada yang kurang, mohon diingatkan kembali. Terima kasih. Saya kembalikan kepada Majelis Yang Mulia.
88. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, terima kasih, Pak Jafar. Dari meja Hakim? Ada dua, Yang Mulia Pak Suhartoyo dan Yang Mulia Pak Palguna. Saya persilakan.