MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 29/PHP.BUP-XV/2017
PERIHAL
PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN BUPATI GAYO LUES
ACARA
MENDENGAR KETERANGAN
SAKSI/AHLI PEMOHON, TERMOHON, PIHAK TERKAIT, BAWASLU, DAN PANWAS
(III)
J A K A R T A SELASA, 11 APRIL 2017
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 29/PHP.BUP-XV/2017 PERIHAL
Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati Gayo Lues
PEMOHON
Abd. Rasad dan Rajab Marwan TERMOHON
KIP Kabupaten Gayo Lues ACARA
Mendengar Keterangan Saksi/Ahli Pemohon, Termohon, Pihak Terkait, Bawaslu, dan Panwas (III)
Selasa, 11 April 2017, Pukul 13.25 – 18.15 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Arief Hidayat (Ketua)
2) Anwar Usman (Anggota)
3) I Dewa Gede Palguna (Anggota)
4) Maria Farida Indrati (Anggota)
5) Wahiduddin Adams (Anggota)
6) Suhartoyo (Anggota)
7) Manahan MP Sitompul (Anggota)
8) Aswanto (Anggota)
9) Saldi Isra
Syukri Asy’ari Panitera Pengganti
Pihak yang Hadir:
A. Pemohon:
1. Abd. Rasad 2. Rajab Marwan
B. Kuasa Hukum Pemohon:
1. Imran Mahfudi 2. I Wayan Sudirta 3. Pilipus Tarigan 4. Benny Hutabarat 5. Rizka
6. Prasetyo Utomo C. Ahli dari Pemohon:
1. Maruarar Siahaan D. Saksi dari Pemohon:
1. Usman Ali 2. Ranta 3. Abdul Kari 4. Sultan 5. M. Ihsan E. Termohon:
1. Alfin Anhar 2. Sri Yani Selian 3. Said Abdullah 4. Ridwansyah 5. Junaidi
F. Kuasa Hukum Termohon:
1. Bambang Sugiran 2. Arie Achmad 3. Ali Nurdin 4. Asep Andryanto 5. Bagas I. P.
6. Arif Effendi
7. Deni Marfin 8. Budi Rahman 9. Fauzi
10. Hijriansyah
11. Romadhoni Feby I.
12. Sena Taher
G. Saksi dari Termohon:
1. Rasidin 2. Nazaruddin 3. Sahansyah 4. Irwansyah
5. Ridwansyah 6. Husmin 7. Ibrahim
H. Pihak Terkait:
1. Muhammad Amru 2. Said Sani
I. Kuasa Hukum Pihak Terkait:
1. Ikhwaluddin Simatupang 2. Bayu Afrianto Khodirun 3. Dorel Almir
4. Misbahuddin Gasma
5. Samsudin 6. Syarifuddin 7. Frengky
J. Ahli dari Pihak Terkait:
1. M. Jafar
K. Saksi dari Pihak Terkait:
1. Ali Husin 2. Said Muchtar 3. Hamsani 4. Muhammad Ali 5. M. Yusuf H. S.
L. Panwaslih:
1. Tharmizi
2. Ramadhansyah 3. Hendri
4. Budiman 5. Deswir
1. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Bismillahirrahmaanirrahiim. Sidang dalam Perkara Nomor 29/PHP.BUP-XV/2017 perihal Perselisihan Hasil Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Gayo Lues dengan ini dibuka dan terbuka untuk umum.
Saya cek kehadirannya, Pemohon yang hadir siapa? Silakan.
2. KUASA HUKUM PEMOHON: IMRAN MAHFUDI
Terima kasih, Yang Mulia. Pemohon hadir Prinsipal Calon Bupati Nomor Urut 2, Abd. Rasad dan Wakil, Rajab Marwan. Didampingi oleh enam Kuasa Hukum, saya sendiri Imran Mahfudi, Pak I Wayan Sudirta, kemudian di sebelahnya Pilipus Tarigan, dan Prasetyo, kemudian yang di sebelah kanan Rizka dan Benny ... Benny. Terima kasih, Yang Mulia.
3. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Termohon?
4. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN
Terima kasih, Majelis Hakim Yang Mulia. Sebelumnya kami sampaikan selamat kepada Prof. Saldi Isra atas jabatan barunya. Ini pertama kali bersidang.
Dari Termohon kami selaku Kuasa Hukum, saya Ali Nurdin, kemudian ada Bambang Sugiran, kemudian ada Pak Arif, kemudian ada Budi Rahman, kemudian ada Fauzi, Pak Arie Achmad, dan di belakang ada Arif, serta Hijriansyah, dan Dhoni, serta Deni Marfin, kemudian Asep Ardiyanto, dan Sena. Bersama kami sudah hadir Prinsipal, Pak Alfin Anhar selaku Ketua, dengan Ibu Sri Yani, dan Pak Said Abdullah, serta supervisi dari KPU Provinsi, dan Para Saksi dari PPK di wilayah kecama ...
di wilayah Kabupaten Gayo Lues. Demikian, Majelis.
5. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih. Kemudian dari Pihak Terkait?
SIDANG DIBUKA PUKUL 13.25 WIB
KETUK PALU 3X
6. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: MISBAHUDDIN GASMA
Ya, terima kasih, Yang Mulia. Pihak Terkait hadir Prinsipal, H. M.
Amru (Calon Wakil Bupati .... Calon Bupati Terpilih), kemudian Pak Said Sani (Calon Wakil Bupati Terpilih). Kemudian Kuasa Hukum yang hadir ada Dorel Almir, kemudian Samsudin, Syarifuddin, Ikhwaluddin, kemudian Bayu, Frengky Misakareng, dan saya sendiri Misbahuddin Gasma. Terima kasih, Majelis.
7. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik.
8. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: IKHWALUDDIN SIMATUPANG
Izin, Yang Mulia. Mohon, maaf, Yang Mulia.
9. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Dari mana ini?
10. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: IKHWALUDDIN SIMATUPANG
Dari Pihak Terkait, Yang Mulia.
11. KETUA: ARIEF HIDAYAT
He eh?
12. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: IKHWALUDDIN SIMATUPANG Ingin menyampaikan, Yang Mulia. Kami dapat informasi bahwa Pemohon Prinsipal dalam perkara ini hadir di sini, tapi mereka dalam status daftar pencarian orang, Yang Mulia. Selebihnya kami serahkan … kami silakan kepada Mahkamah Konstitusi.
13. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Bukan urusan kita itu.
14. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: IKHWALUDDIN SIMATUPANG Ya, selebihnya kita serahkan kepada Yang Mulia.
15. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, bukan urusan kita.
16. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: IKHWALUDDIN SIMATUPANG
Terima kasih, Yang Mulia.
17. KETUA: ARIEF HIDAYAT Bukan urusan kita itu.
Panwas hadir, ya? Silakan.
18. PANWAS: RAMADHANSYAH
Terima kasih, izin, Yang Mulia. Kami dari Panwaslih Gayo Lues, saya selaku Ketua Panwaslih Gayo Lues, dan ikut juga dari Panwaslih Provinsi Aceh yang sebelah kanan saya ... sebelah kiri saya Komisioner Panwaslih Provinsi Aceh, dan satu lagi Komisioner Panwaslih Aceh.
Demikian, Yang Mulia.
19. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, terima kasih. Persidangan kita mulai siang. Untuk itu, saya atas nama Mahkamah menyampaikan permintaan maaf pada semua Pihak. Karena pagi hari tadi kita harus menghadiri pelantikan Prof. Saldi sebagai hakim baru dari unsur yang diusulkan oleh Presiden. Jadi, baru dilantik tadi. Kemudian kita acara di sini untuk secara resmi bukan selamat datang, tapi yang resmi adalah menerima kode etik sebagai hakim, itu yang resmi. Sehingga, Prof. Saldi sudah punya bekal bahwa ada kode etik yang harus ditegakkan di sini, ya. Jadi bukan acara makan- makan selamat datang, itu bukan, tapi yang penting tadi itu acaranya adalah menerima kode etik dari Dewan Etik, ya, dan menandatangani pakta integritas, supaya beliau bisa mempelajari, menghayati, dan mengamalkan, sehingga pada waktu menjalankan amanah sebagai hakim bisa menjalankan selurus-lurusnya sesuai konstitusi dan peraturan perundang-undangan dan kode etik yang berlaku.
Jadi, ini supaya dimengerti. Kita ini bersidang untuk menyelesaikan pada hari ini, jadi kemungkinan bisa sampai malam hari, jadi harus selesai pada hari ini karena sesuai dengan agenda.
Kita akan mulai terlebih dahulu mendengarkan keterangan Pemohon ... Saksi Pemohon, kemudian Pihak Terka ... Termohon, dan Pihak Terkait, ya.
Saya persilakan untuk maju ke depan Ahli dari Pemohon, Prof. Dr.
Maruarar, Yang Mulia. Kemudian saksinya ada lima orang, Usman Ali, Ranta, Abdul Kari, Sultan, dan M. Ihsan. Silakan, maju.
Kemudian, dari Termohon. Saya menyampaikan dulu, ini sudah ...
masih menjabat sebagai penyelenggara atau sudah selesai?
20. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN
Masih sampai akhir bulan ini, Majelis.
21. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Oh, jadi tidak perlu disumpah, ya.
Ini ada tujuh, tapi nanti akan kita minta lima saja, ya. Yang (...) 22. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN
Baik, Majelis.
23. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Selebihnya nanti kalau mau anu ... ditambahkan tertulis.
24. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN Baik. Dan itu sudah berurutan, Majelis.
25. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya. Nanti berarti yang kita dengar Saksi Nomor 1 sampai dengan Nomor 5, ya?
26. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN
Betul, Majelis.
27. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, kalau begitu tanpa disumpah karena beliau masih menjabat dan sumpah pada waktu masih menjadi pejabat itu masih berlaku, sehingga harus memberikan keterangan yang benar menurut sumpahnya, ya.
28. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN
Baik, Majelis.
29. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Pihak Terkait, ada Ahli Pak Dr. M. Jafar, saya persilakan maju ke depan. Pak M. Jafar, agak dikasih antara. Kemudian Pak Ali Husin, Pak Said, Pak Hamsani, dan Pak Muhammad Ali, serta Pak M. Yusuf maju ke depan, memposisikan di belakang saksi. Semuanya beragama Islam, hanya satu ahli dari Pemohon, Prof. Maruarar yang beragama Kristen.
Saya mohon untuk yang beragama Kristen terlebih dahulu, berkenan Yang Mulia Pak Manahan MP Sitompul untuk memandu sumpah.
30. HAKIM ANGGOTA: MANAHAN MP SITOMPUL
Kepada Ahli agar mengikuti lafal janji yang saya tuntunkan.
“Saya berjanji sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya. Semoga Tuhan menolong saya.”
31. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Saya berjanji sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya. Semoga Tuhan menolong saya.
32. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih, Yang Mulia. Berikutnya Ahli yang beragama Islam, Pak Dr. M. Jafar. Berkenan Yang Mulia Pak Wahid, silakan.
33. HAKIM ANGGOTA: WAHIDUDDIN ADAMS
Kepada Ahli Pak Jafar, ikuti lafal yang saya tuntunkan.
“Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.”
34. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: M. JAFAR
Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya.
35. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Berikutnya, untuk saksi yang semuanya muslim. Silakan, Yang Mulia.
36. HAKIM ANGGOTA: WAHIDUDDIN ADAMS
Pada Para Saksi ikuti lafal yang saya tuntunkan.
“Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Saksi akan memberikan keterangan yang sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya.”
37. SELURUH SAKSI YANG BERAGAMA ISLAM:
Bismillahirrahmaanirrahiim. Demi Allah, saya bersumpah sebagai Saksi akan memberikan keterangan yang sebenarnya, tidak lain dari yang sebenarnya.
38. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik, Terima kasih. Para Ahli dan Saksi silakan kembali ke tempat masing-masing. Terima kasih, Yang Mulia.
Kita dengarkan keterangan Ahli dulu, Prof. Maruarar. Prof.
Maruarar ada waktu sekitar 15 menit untuk menyampaikan keterangan ahlinya. Silakan.
39. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Majelis Pleno yang kami hormati, Peserta sidang seluruhnya. Saya diminta oleh Pemohon ini untuk ikut memberikan keterangan menurut ilmu dan pengalaman saya. Dan sebagai pembuka, saya akan mengatakan bahwa sesungguhnya ketika Putusan MK Nomor 97 Tahun 2013 yang menyatakan, “Kewenangan MK dalam penyelesaian sengketa pemilihan kepala daerah berdasar Pasal 236C Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 Sebagai Perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemda, serta juga di sana menyangkut Pasal 29 ayat (1) huruf i Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang dinyatakan bertentangan dengan Undang- Undang Dasar Tahun 1945,” dan kemudian menyatakan, “Sebelum dibentuk badan peradilan khusus untuk memeriksa, mengadili, dan memutus sengketa pemilihan kepala daerah, MK masih melaksanakan kewenangan tersebut meskipun sudah dinyatakan inkonstitusional dan ada suatu ketentuan seperti peralihan.” Demikian juga Pasal 15 ... 157 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015. Maka
pergeseran yang terjadi sebenarnya akibat putusan MK, kalau menurut pendapat saya tidak mengurangi posisi tugas dan fungsi MK sebagai benteng terakhir keadilan, tidak mengurangi posisinya atau fungsinya sebagai pengawal konstitusi, penafsir akhir konstititusi, dan pelindung hak asasi manusia.
Ketika berpegang pada norma yang tertulis dalam Undang- Undang Penyelenggaraan Pemilihan dan penyelenggaraan pemilihan sebagai jabaran konstitusi menurut Pasal 22E Undang-Undang Dasar Tahun 1945 maupun Pasal 18 ayat (4) Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang menghasilkan dua rezim yang berbeda, MK menurut saya harus tetap dalam fungsi sebagai pengawal konstitusi, pelindung HAM, penafsir akhir konstitusi yang menjadi sumber rujukan segala norma di dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah. Intinya adalah demokrasi harus dilindungi oleh hukum yang dikawal oleh MK dan hemat kami tidak ada yang berubah tentang itu meskipun kemudian ada suatu transisi, tetapi pada saat masih berada pada MK kewenangan itu maka posisinya tetap sama.
Saya mempertanyakan sekarang tentang la bouche de la loi?
Ketika Napoleon diundang … mengundangkan code civil, kira-kira abad 19, maka pesan yang diberikan pada saat itu bahwa hakim itu tidak boleh manafsir-nafsir lagi. Dia sudah hanya menjalankan secara … karena dianggap undang-undang itu lengkap, tidak perlu ditafsirkan.
Sehingga kemudian ada satu frasa itu le juge bouche de la loi. Jadi tinggal corong, begitu. Hakim hanya perlu untuk melihat norma yang ada dan menerapkan pada kasus yang ada. Tetapi, tentu sejarah sudah lama membuktikan itu, tidak sederhana seperti demikian. Karena norma yang dihasilkan oleh manusia pembuat undang-undang, sekalipun jenius tidak mampu mengantisipasi seluruh peristiwa yang akan dihadapi di dalam kongkret, di dalam masyarakat. Norma yang dianggap lengkap itu pun seringkali tidak dapat dengan mudah diterapkan.
Oleh karenanya dengan cepat dipahami bahwa hukum dalam undang-undang mau … manapun tidak pernah sempurna, apalagi jikalau manusia yang diatur dengan hukum itu, baik warga maupun penegak hukum sendiri, mempunyai kepentingan masing-masing yang mengakibatkan cara pandang dan tafsir menjadi beragam.
Oleh karenanya penafsiran menjadi sangat perlu juga, terlebih kalau ukuran yang digunakan MK sebagai pengawal konstitusi dan pelindung HAM dalam proses memeriksa, mengadili sengketa pilkada ini harus juga melihat proses yang diatur dan diterapkan secara kasat mata bertentangan dengan prinsip konstitusi.
Konsekuensi dari threshold Pasal 158 ayat … Pasal 158 Undang- Undang Nomor 10, maka kita melihat sekarang dari sisi jumlah perkara yang sampai pada tahap dismissal begitu dominan dan yang sampai pada pokok perkara ini hanya jumlah kecil dan dapat dilihat penerapan Pasal 158 ayat (1), (2) Undang-Undang 16 … Undang-Undang 10 Tahun
2016 sangat ketat. Tampaknya dengan cara yang sangat drastis, MK telah mengubah posisi, tidak lagi melihatnya bahwa … ini menurut paham saya, pengamatan saya, proses sesungguhnya secara kausal berkolerasi dengan hasil, sehingga betapa pun … misalnya para pemohon beriba-iba mengharap supaya MK memasuki pokok perkara, MK melihat threshold secara kukuh sebagai pegangan yang kuat.
Tetapi, sebenarnya dari pertimbangan dua perkara yang berbeda atau tiga barangkali ini, di pilkada di sini terdapat kesan yang agaknya, menurut saya, menaruh harapan juga. Dalam Putusan MK tentang Sengketa Tolikara, MK mengeluarkan putusan sela yang perintah pungut suara ulang. Sementara Intan Jaya kelanjutan rekapitulasi … rekapitulasi dilakukan di tujuh tempat dan pemungutan suara di dua distrik.
Pertimbangan yang dijadikan dasar bahwa tidak berarti MK mengesampingkan Pasal 158 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, melainkan Pasal 158 belum bisa diterapkan untuk Kasus Tolikara karena rekapitulasi belum final. Sementara untuk Kasus Intan Jaya, rekapitulasi belum final sehingga perlu dilakukan kelanjutannya untuk kepastian hukum.
Di lain pihak, untuk Kasus Dismissal Sengketa Pilkada Pidie, MK berpegang teguh pada Pasal 158 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 dengan menyatakan bahwa memaksa MK menegakkan keadilan substantive, berarti melanggar … akan melanggar batasan kewenangan yang diberikan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016.
Saya mengutip sedikit, tetapi sebagaimana ditulis oleh Kompas,
“Sekali terwujud melampaui batas itu, akan menjadi preseden buruk penegakkan keadilan berkaitan dengan perkara perselisihan hasil pemilihan gubernur, bupati, dan walikota.”
Penormaan threshold sebagai terjemahan signifikansi perolehan suara yang mempengaruhi terpilihnya satu pasangan calon, secara kongkret sekarang dirumuskan dengan matematik, memang merupakan suatu hal yang masuk akal. Demikian juga pelanggaran terstruktur, sistematik, dan masif menjadi kewenangan yang harus diselesaikan dalam tahap penyelenggaraan pemilihan. Namun, semua ketentuan yang dianut dengan ketat tersebut sebenarnya hanya dengan asumsi bahwa seluruh proses dari awal hingga selesai perhitungan dan rekapitulasi hasil penghitungan suara telah berlangsung sesuai dengan aturan yang berlaku.
Menurut hemat saya, asumsi demikian dalam kenyataan tidak terwujud dengan mudah, terutama karena kepentingan politik dan kelemahan penyelenggara tetap menjadi satu variabel yang harus dipertimbangkan. Pelanggaran terhadap asas penyelenggara terutama independensi, imparsialitas, dan integritas ketika ditindaklanjuti sebagai pengaduan dan hasilnya baru diperoleh setelah pengumuman hasil oleh KPU. Menjadi pertanyaan, apakah pengawal konstitusi tidak
berkewajiban menegakkan konstitusi tentang pemilihan yang disyaratkan oleh konstitusi yang harus demokratis, harus fair, luber, jurdil?
Bahkan lebih jauh lagi yang harus dipertimbangkan serius bahwa dengan threshold dalam Pasal 158 tersebut, modus untuk memenangkan pilkada secara jalan pintas dan untuk menangkal pertarungan lanjutan di MK adalah dengan segala cara mengusahakan hasil rekapitulasi yang melampaui selisih perolehan suara yang diwajibkan dapat mencegah sengketa memasuki pokok perkara di MK.
Saya belajar dari satu perkara di tahun 2015. Apakah Mahkamah Konstitusi sebagai benteng terakhir, sebagai pelindung hak asasi, pengawal konstitusi harus menutup mata? Fakta yang dapat diperoleh dari bukti yang diajukan, maka jika Mahkamah Konstitusi konsisten dengan penerapan undang-undang apa adanya, seperti halnya yang dilakukan terhadap Pasal 158 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, maka Mahkamah Konstitusi sebagai pelindung hak asasi dan pengawal konstitusi harus juga merespons setiap penyimpangan atau tidak dipenuhinya bunyi norma dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 yang menjadi aturan main yang dipedomani bersama dengan menerapkan sanksi yang relevan dan sesuai dengan norma yang mengatur. Fungsi sebagai the guardian of the constitution, the protector of human rights, and the guardian of idology of Pancasila, tidak hilang dengan adanya Putusan Nomor 97 Tahun 2013 dan norma Pasal 157 dan Pasal 158 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 yang menyatakan,
“Kewenangan penyelesaian sengketa pilkada saat ini di Mahkamah Konstitusi hanya sementara, dalam masa transisi menunggu adanya peradilan khusus.”
Saya tiba sekarang kepada apa yang dikemukakan oleh Pemohon dalam perkara ini yang menurut saya ... menurut saya, masih memerlukan suatu capaian dari Mahkamah Konstitusi untuk melihat fairplay dan demokrasi yang dikawal oleh hukum. Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah di Kabupaten Gayo Lues Tahun 2017 yang melanggar aturan main yang merugikan Pemohon menyebabkan ketidakadilan dan menguntungkan Pihak Terkait telah diuraikan kira-kira sebagai berikut ini.
Pertama. Adanya putusan pengadilan masing-masing Nomor 20, Nomor 21, Nomor 22, Nomor 23/Pidsus/2017/PN-Blangkejeren yang sudah berkekuatan hukum tetap, tetapi diumumkan sesudah Pengumuman KIP tentang Hasil Rekapitulasi Perolehan Suara dan Penetapan Pasangan Terpilih merupakan indikator penting tentang adanya pelanggaran yang lebih besar dari sekadar yang dapat diproses dan diputus oleh pengadilan negeri telah menunjukkan bahwa penyelenggaraan pemilihan dalam proses yang berlangsung juga mengalami penyimpangan sebagaimana telah dibuktikan secara autentik dengan putusan-putusan yang berkekuatan di atas.
Yang kedua. Pemilih yang memilih di lebih satu TPS, sebagaimana telah ditunjukkan dalam alat bukti yang akan diajukan nanti dan sebagaimana dapat diketahui juga dari daftar hadir pemilih, merupakan satu alasan yang disebut dalam Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 bahwa pemungutan suara ulang dilakukan, jika ditemukan lebih dari seorang pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali pada TPS yang sama atau berbeda? Frasa lebih dari satu pemilih yang menggunakan hak pilih lebih dari satu kali merujuk pada indikator adanya pemilihan yang tidak jujur dan tidak adil, sehingga tanpa pembuktian secara signifikan dengan jumlah suara yang dapat memengaruhi, keterpilihan pemungutan suara memang harus dilakukan.
Itu adalah bunyi undang-undang.
Ketiga, tidak dipenuhinya syarat yang disebut dalam Pasal 7 ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 juncto Peraturan KPU Nomor 5 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua PKPU Nomor 9 yang menyebutkan, “Salah satu syarat calon kepala daerah, tidak sedang memiliki tanggungan utang secara perseorangan dan/atau secara badan hukum, yang menjadi tanggung jawabnya yang merugikan keuangan negara.” Dan dari bukti yang akan diajukan nanti oleh Pemohon, saya melihat bahwa pasangan calon yang telah ditentukan sebagai pemenang masih memiliki tanggungan utang yang merupakan utang kerugian negara.
Keempat. Perbedaan surat suara yang sah dan tidak sah antara pemilihan gubernur dan wakil gubernur dengan suara sah dan tidak sah Pemilihan Bupati Kabupaten Gayo ules … Lues, meskipun disebut adanya kemungkinan pemilih memberikan suara untuk gubernur, tapi tidak fokus memberi suara pada bupati atau wakil bupati, sehingga tidak melakukannya secara sepatutnya atau sama ketika dikaitkan dengan pelanggaran lain, perbedaan demikian dapat menjadi petunjuk adanya pelanggaran yang terjadi.
Kelima. Ketentuan yang dimuat dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Undang-Undang Kedua Tahun 201 ...
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 dalam Pasal 61 menyatakan bahwa pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT, dapat memilih dengan menggunakan KTP elektronik untuk memilih di TPS di ... di rukun tetangga atau rukun warga yang sesuai dengan alamat KTP. Tapi di 17 TPS, penyelenggara memperkenalkan mereka yang tidak dapat menunjukkan KTP-nya, ternyata dapat memilih hanya dengan menggunakan KK, hal mana dari sudut bunyi peraturan yang ada tidak dapat dibenarkan.
Dari pelanggaran-pelanggaran yang telah diuraikan di atas, jika melihat putusan pengadilan sebagai bukti yang sifatnya autentik dan alat bukti lain yang saya pandang dapat meyakinkan Majelis nanti, jikalau telah dapat disajikan, maka sama dengan penegakan peraturan dalam Undang-Undang tentang Threshold yang harus dipatuhi, maka
penyelenggara pelanggaran ... penyelenggara yang tidak ditindak dalam proses penyelenggaraan oleh pengawas dan penyelenggara merupakan alasan yang sah bagi Mahkamah Konstitusi untuk memberi sanksi, baik diskualifikasi, maupun memerintahkan pemungutan suara ulang di tempat di mana pelanggaran menjadi signifikan, sehingga dapat dijaga adanya suatu pemilihan yang demokratis, jujur, dan adil.
Sebagai satu laporan, saya barangkali, Pak Ketua, baru kembali dari Medan, ada focus group discussion, bagaimana panwas secara memilukan menganggap dia tidak memiliki kewibawaan dibanding dengan KPU karena apa yang menjadi rekomendasi-rekomendasinya, seperti halnya di dalam kasus ini memang tidak dipatuhi.
Demikian yang bisa saya katakan, Pak Ketua dan Majelis Yang Terhormat. Karena dari seluruh uraian dan pendapat saya, kami dapat memperoleh ... meyakinkan barangkali untuk hakim, beyond reasonable doubt, mungkin dapat disimpulkan bahwa menurut hemat kami, Permohonan cukup beralasan.
Kurang dan lebih, kami mohon dimaafkan. Terima kasih.
40. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih, Yang Mulia Pak Maruarar. Dari Pemohon, ada yang akan ditambahkan untuk memperoleh tambahan penjelasan dari Ahli?
41. KUASA HUKUM PEMOHON: IMRAN MAHFUDI
Ya, terima kasih, Yang Mulia. Hanya ingin penegasan, Yang Mulia, terkait dengan memilih hanya dengan menggunakan kartu keluarga.
Nah, undang-undang jelas mengatakan bahwa pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT boleh menggunakan hak pilihnya menggunakan KTP elektronik.
Nah, pertanyaan saya, apakah ketentuan tersebut berlaku juga untuk pemilihan kepala daerah di Provinsi Aceh? Meskipun di Provinsi Aceh ada Qanun Nomor 12 Tahun 2016 yang mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah. Demikian.
42. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Dikumpulkan dulu, Ahli.
43. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN Ya.
44. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Dari Pihak Termohon?
45. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN
Ada, Majelis.
46. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Silakan.
47. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN
Terima kasih, Majelis. Bapak Ahli yang terhormat, ada beberapa pertanyaan yang mau saya sampaikan. Satu. Terkait dengan yang menggunakan hak pilih lebih dari satu kali. Berdasarkan pengamatan kami, mencermati beberapa pelaksaan PHP (perselisihan hasil pemilihan) ditemukan adanya pemilih yang mencoblos yang ternyata mencoblos Pemohon. Dan dalam kasus ini, kami mendapatkan surat pernyataan dari pelaku yang sudah dipidana sebagaimana tadi Ahli sebutkan yang menyatakan mereka mencoblos Pemohon dengan berbagai alasannya.
Apakah karena kesalahan pelaku yang mencoblos Pemohon harus ditimpakan kepada pihak lain yang tidak melakukan kesalahan, dalam hal ini adalah KPU atau KIP Gayo Lues?
Yang kedua. Terkait dengan coblosan oleh pelaku, itu ternyata di TPS yang bersangkutan, Pemohon memenangkan perolehan suaranya jauh lebih unggul daripada calon lainnya. Itu terkait dengan masalah mencoblos lebih dari satu kali.
Kemudian yang kedua, terkait dengan syarat calon kepala daerah, masalah memiliki utang. Pada waktu pendaftaran, itu diterima oleh KPU, ada surat pernyataan yang didukung surat keterangan dari pengadilan bahwa yang bersangkutan memang tidak memiliki utang. Dan terhadap persoalan ini, sudah dilakukan kajian oleh panwaslih setempat dimana kajiannya tidak terbukti, sehingga itulah yang menjadi pegangan penyelenggara dalam melaksanakan pemilihan untuk menetapkan yang bersangkutan sebagai peserta.
Yang ketiga. Terkait dengan perbedaan suara sah dan tidak sah dalam pilgub dengan pilbup. Kami berpendapat, itu tidak menunjukan masalah. Kenapa? Karena prevalensi dari masyarakat berbeda-beda.
Untuk pilgub mungkin tidak terasa manfaatnya. Sedangkan untuk pemilihan bupati karena bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari, partisipasi mereka bisa lebih tinggi. Bagaimana korelasinya adanya perbedaan selisih ini bahwa hal ini menunjukkan kerugian bagi Pemohon? Karena tidak bisa dipastikan apakah perbedaan pemilih tadi
menyebabkan adanya pemilih yang bermilih Pemohon ataukah memilih Pihak Terkait?
Yang ketiga. Berikutnya, terkait dengan masalah penggunaan kartu keluarga. Dalam berbagai putusannya Mahkamah Konstitusi sudah menyatakan bahwa harus ada jaminan terhadap hak konstitusional warga negara untuk memilih. Di satu sisi, kebijakan KTP elektronik yang harusnya bersifat nasional, ternyata ada kegagalan oleh negara, di antaranya karena dikorup uangnya, sehingga tidak berlaku terhadap semua. Begitu juga penyelenggara di tingkat daerahnya.
Nah, persoalannya, untuk Aceh, ada Qanun di Pasal 72 yang masih berlaku karena di undang-undang belum menetapkan secara detail, ada kekosongan hukum di situ, bagaimana Qanun Aceh menetapkan bahwa bisa dilakukan pemilihan bagi yang tidak terdaftar dalam DPT dengan menggunakan kartu keluarga.
Demikian, Majelis. Terima kasih.
48. KETUA: ARIEF HIDAYAT Baik. Dari Pihak Terkait?
49. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: IKHWALUDDIN SIMATUPANG Terima kasih. Izin, Yang Mulia. Melanjutkan dari Kuasa Termohon tadi. Pertanyaan lanjutan kami, apakah suatu peraturan perundang- undangan yang telah memberikan kewenangan kepada KPU, dalam hal ini KIP Kabupaten Gayo Lues, berdasarkan Qanun 72 ayat (3) huruf c dapat berlaku dengan catatan juga tidak ada peraturan lain yang melarangnya? Jadi, ada undang-undang yang mengatur mereka boleh menggunakan KK dan tidak ada peraturan perundang-undangan yang melarangnya.
Kemudian, juga terkait dengan penggunaan hak pilih, apakah menurut Ahli sesuatu yang secara faktual sebagaimana juga dalil dari Pemohon tidak ada keterlibatan pihak lain termasuk Pihak Terkait atau Termohon adanya kesalahan-kesalahan dalam memilih lebih dari satu kali yang telah divonis pidana dapat dibebankan kerugiannya kepada Pihak Terkait atau Termohon? Padahal Termohon juga .... Pemohon juga dalam dalilnya tidak juga ada membuktikan adanya keterlibatan Pihak Terkait maupun Termohon, apalagi Pemohon telah menandatangani kesepakatan bersama tentang pengawasan daftar pemilih tetap sebelum dilaksanakannya pemungutan suara ulang yang kami jadikan bukti di mana salah satu poinnya pihak-pihak, termasuk panwaslih, Pemohon juga, Pihak Terkait, mengawasi pemilih hingga sampai TPS, KPPS.
Kemudian apakah penanganan perkara oleh panwaslih Kabupaten Gayo Lues yang telah melibatkan Gakkumdu, penegak hukum terpadu seperti jaksa dan polisi telah ditangani tuntas dapat juga diperiksa oleh
Mahkamah Konstitusi, dalam hal ini adalah kasus tuduhan pemilih lebih dari satu kali, padahal tidak terbukti oleh Panwaslih Kabupaten Gayo Lues? Apakah ini memang juga bisa diproses dan diperiksa oleh Mahkamah Konstitusi telah adanya putusan lembaga yang berwenang untuk itu, yakni Panwaslih Kabupaten Gayo Lues yang telah dilaporkan oleh Pemohon sendiri? Terima kasih, Yang Mulia.
50. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih. Ahli, silakan untuk ... dari hakim setelah para pihak diselesaikan dulu oleh Ahli. Silakan.
51. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Terima kasih, Pak Ketua. Tentang yang pertama, hak pilih lebih dari satu kali yang dicoblos ... pemilihan dengan KK, saya kira jelas betul aturannya, kan. Undang-undangnya sangat jelas, hanya KTP karena sekarang nomor ... apa namanya ... induk kependudukan sudah sangat jelas sehingga kita harus berpedoman dengan apa yang sudah dimiliki secara nasional sekarang meskipun e-KTP itu masih belum turun, tetapi NIK paling tidak dengan apa yang ada itu dengan mudah bisa diakses saya kira.
Oleh karena itu, pelaksanaan daripada pasal ini tidak bisa kita kaitkan dengan apa yang disebutkan tadi, kanun menurut saya. Kalau ada yang mengatakan itu di kanun bisa, inilah saya kira yang kita katakan tadi apakah kita tidak lagi melihat norma yang lebih tinggi, lebih mengikat di sini, lepas daripada soal apakah benar sebenarnya tafsir atau bunyi daripada kanun itu mengatakan demikian secara tegas.
Dari pihak KPU katakan bahwa hak pilih dari satu kali yang dicoblos adalah Pemohon, yaitu mereka yang sudah dipidana. Kalau ini dipastikan, saya kira harus menjadi sesuatu hal pertanyaan bahwa luber- jurdil itu menjadi soal. Kalau misalnya diberi tahu bahwa yang dihukum itu yang dicoblos adalah Pemohon kepada KPU maupun Pihak Terkait, pertanyaannya apakah kita tidak memegang prinsip dan itu prinsip konstitusi, luber-jurdil, kalau dia sudah diberi tahu itu tidak luber-jurdil lagi, dan itu juga tidak mengatakan bahwa hal demikian merupakan suatu hal yang menguntungkan siapa pun, tetapi proses yang kita bicarakan, bukan hasil saja. Sama penting proses dengan hasil.
Syarat kepala daerah, saya … soal-soal utang sebenarnya menurut saya ada sesuatu dokumen yang meskipun mungkin itu yang ditafsirkan, tetapi kalau soal utang dari ... kepada negara bukanlah pengadilan yang menentukan, ia adalah untuk pelanggaran hukumnya apakah ada tindak pidana atau tidak, tetapi kalau untuk utang negara yang berkenan saya kira kita semua pegawai negeri itu, ada yang disebutkan ... apa namanya ... kewajiban pebendaharaan untuk
membayar kalau kelebihan membayar, yang berkenankan adalah Badan Pemeriksa Keuangan. Kalau dokumen itu ada saya kira itu betul, tapi kalau dokumen itu ada di sini bahwa ada utang, saya kira ini ada salah dalam penerapan bahwa keterangan sedemikian diambil dari pengadilan negeri.
Nah, soal surat suara yang sah, saya tidak terlalu mempersoalkan, tetapi menurut saya harus juga kita sebagai penyelenggara menaruh juga sesuatu yang penting. Tentu jumlah daripada pemilih dan surat suara di sini apakah lepas daripada daftar yang ada, yaitu daftar pemilih tetapnya tidak menjadi pedoman, sehingga surat suara itu akan disesuaikan dengan itu. Apakah dia untuk pemilihan kepala daerah bupati ataupun gubernur?
Oleh karena itu, itu menjadi suatu persoalan yang harus diselesaikan. Tetapi parameter yang dipakai bukan sebenarnya kecenderungan penting atau tidak penting, tetapi adalah daftar pemilih.
Kalau memang bisa dibuktikan daftar pemilih tetap untuk bupati beda dengan gubernur, saya tidak memper … tidak menyangkal bahwa ini bisa jadi merupakan satu hal yang boleh memengaruhi.
Dari Pihak Terkait. Ya, saya kira sudah hampir sama ini. Bahwa kalau misalnya sudah dikatakan lembaga yang kompeten sudah menyatakan itu selesai secara faktual, apakah masih boleh diperiksa oleh MK? Saya mengatakan tadi bahwa fairplay dan demokrasi yang harus dikawal oleh hukum kalau ada jaminan bahwa pemeriksaan itu sudah fair di dalam hal keputusan yang diambil, saya kira memang kita bisa menerima apa argumen yang diajukan, tetapi bukti apa secara konkret yang mengatakan itu? Telah fair adalah tentunya sebenarnya adalah putusan pengadilan, bukan kadang-kadang diskresi di lapangan yang dilakukan. Ini barangkali pendapat saya yang tidak selalu bisa diterima.
Kemudian yang terakhir, saya kira … Pak Ketua, ini yang bisa saya jawab barangkali, mungkin catatan saya ada yang kurang, tetapi sambil berjalan barangkali kalau bisa nanti berkembang dari Pihak Majelis mungkin bisa saya tanggapi kembali apa yang dikemukakan Pihak Terkait bagian akhir tadi.
Terima kasih, Pak Ketua.
52. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Sekarang dari meja hakim, ada Prof. Aswanto, kemudian Pak Palguna. Yang Mulia Pak Palguna dulu.
53. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Terima kasih, Yang Mulia Pak Ketua. Tadinya saya tidak mau bertanya, tetapi karena ada disinggung soal putusan Mahkamah Konstitusi, jadi menjadi penting juga buat kami untuk mendalami ini.
Pertanyaannya sederhana saja, Pak … Yang Mulia Pak Maruarar Siahaan. Tadi disederhanakan sekali bahwa Mahkamah Konstitusi walaupun di sini posisinya sebagai pelaksana undang-undang tetap mempunyai melekat peran itu. Tentu pertanyaannya menjadi sederhana, Mahkamah Konstitusi sekarang ini melaksanakan dalam konteks penyelesaian perselisihan hasil pilkada adalah sebagai ‘pengadilan biasa’
namanya Mahkamah Konstitusi. Nanti akan ada peradilan khusus.
Artinya, kalau Mahkamah Konstitusi dalam konteks ini adalah A dan peradilan khusus itu adalah B, maka dengan logika yang disampaikan oleh Ahli tadi, nanti ketika pengadilan khusus itu terbentuk, dia juga mempunyai kewenangan menafsirkan undang-undang. Itu yang pertama.
Yang kedua, sebagai perbandingan barangkali. Pertanyaan saya, misalnya ke Mahkamah Agung Amerika Serikat, dia membedakan dengan fungsinya yang manis di Mahkamah Agung Amerika Serikat. Antara dia sebagai the guardian of constitution dan sebagai trial court, dia membedakan betul fungsi itu dalam pelaksanaannya. Ketika dia berfungsi sebagai trial court yang memutuskan kasus-kasus yang memang diberikan langsung kepadanya, dia tidak pernah mempersoalkan di situ kewenangan dia sebagai Mahkamah Konstitusi atau The Highest Supreme Court of United States. Ini saya agak ini dengan tadi karena dengan keterangan itu, seolah-olah menimbulkan kesan Mahkamah Konstitusi mengabaikan dengan anunya. Mohon penjelasan dari Ahli mengenai soal ini.
Kemudian yang kedua, yang kedua, Yang Mulia, pertanyaan saya adalah kalau alasan bahwa institusi-institusi yang diberikan kewenangan- kewenangan masing-masing dalam konteks pilkada ini tidak mengerjakan tugasnya dengan baik, apakah itu serta-merta kemudian menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi untuk mengambil alihnya?
Misalnya, kalau ada sengketa yang menjadi kewenangan panwaslu atau Bawaslu tidak terselesaikan di situ, apakah kemudian Mahkamah Konstitusi kemudian yang harus memutus di tingkat ini?
Yang kedua, kalau kemudian ada kewenangan yang mestinya menjadi sentra Gakkumdu untuk menyelesaikan, tidak terselesaikan di situ atau dia sudah memutuskan di sana, tetapi Pemohon masih tidak puas atau beberapa pihak tidak puas, apakah juga Mahkamah Konstitusi akan mengambil alih itu dengan dalil bahwa Mahkamah Konstitusi menurut penalaran Ahli tadi menyampaikan dia adalah sebagai the guardian of the constitution? Demikian pula halnya dengan kewenangan KPU yang misalnya tak terlaksanakan, apakah di sini, Pak? Padahal undang-undang tegas mengatakan Mahkamah Konstitusi dalam konteks ini adalah memeriksa perselisihan hasil pemilu sebagaimana sudah diterangkan oleh putusan Mahkamah.
Jadi, itu dua hal yang … karena tadi dikutip juga bagian terakhir dari yang poin Mahkamah itu, sebenarnya itu adalah bagian terakhir
setelah Mahkamah menerangkan di depannya, sekali Mahkamah mencampuradukkan dua persoalan itu, maka ini akan jadi preseden buruk. Mungkin kalimat itu yang memang paling seksi tampak untuk dimuat di media cetak. Tetapi pendahuluan untuk tiba di kesimpulan itu tidak disampaikan, ini bisa menimbulkan penilaian yang saya kira menjadi bias nanti kalau itu tidak kami luruskan.
Nah, ini saya mohon pendapat dari Ahli, tentu saja kita bisa berbeda pendapat, apalagi pendapatan, begitu ya, Yang Mulia. Terima kasih, Yang Mulia.
54. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih, Yang Mulia. Yang Mulia Prof. Pak Aswanto, silakan.
55. HAKIM ANGGOTA: ASWANTO Terima kasih, Pak Ketua.
Untuk Ahli, tadi ada yang perlu penegasan. Di dalam Pasal 112 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016, ada beberapa hal yang bisa berimplikasi pada PSU. Salah satunya adalah ketika lebih dari satu orang memilih di TPS yang sama atau TPS yang berbeda.
Tadi ada apa ... pertanyaan dari Pihak Termohon, apakah makna yang ada di dalam Pasal 112 Undang-Undang Nomor 10 itu masih harus dikaitkan dengan siapa yang dipilih oleh yang lebih dari satu tadi itu? Ya, tadi Ahli mengatakan kan, “Ini enggak mungkin kita tahu. Karena kalau itu ketahuan, berarti prinsip rahasianya menjadi hilang,” gitu.
Katakanlah dalam kasus. Ini yang didalilkan oleh Pemohon.
Ternyata ada fakta bahwa sebenarnya yang lebih dari satu itu justru suaranya Pemohon. Nah, apakah dengan kondisi seperti ini, Pasal 112 menjadi gugur, gitu? Itu yang pertama.
Yang kedua. Tadi Ahli juga mengatakan bahwa sebenarnya ini bukan persoalan siapa yang dipilih, siapa yang menang, siapa yang kalah, tapi ini adalah bagaimana menegakkan aturan sehingga semua proses harus berjalan sesuai dengan prosedur yang ditentukan oleh undang-undang.
Katakanlah ada suatu kasus, dimana memenuhi persyaratan untuk PSU. Tapi setelah kita lihat bahwa ternyata jumlah DPT yang ada di TPS yang diminta untuk dilakukan PSU itu, itu tidak signifikan untuk mengubah keadaan atau membalik keadaan. Dalam arti, selisih antara yang menang dengan yang kalah itu misalnya 500, sementara DPT di PPS yang diminta untuk PSU itu cuma 300.
Nah, apakah kalau terjadi hal seperti itu, demi prosedur, tetap saja kita PSU walaupun sudah kita sudah tahu bahwa tidak mungkin terbalik keadaan? Ini karena persoalan prosedur yang harus betul-betul tidak boleh melanggar karena undang-undang mengatakan harus di PSU,
ya, PSU, gitu. Tapi sebenarnya kalau pun dia PSU, tidak mungkin membalik keadaan.
Mohon penjelasan, Yang Mulia.
56. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih, Prof. Ini suara baru, Prof. Saldi. Silakan, Prof. Saldi, Yang Mulia.
57. HAKIM ANGGOTA: SALDI ISRA
Terima kasih, Yang Mulia. Saudara Ahli, ya, Bapak Dr. Maruarar.
Saya apa ... kami ingin beberapa poin klarifikasi saja. Satu, soal … apa namanya ... pemilih menggunakan KTP atau alat keterangan diri lainnya, sepengetahuan kami itu menjadi salah satu perdebatan klasik kalau penyelesaian sengketa pemilihan umum, apakah itu pemilihan presiden, pemilihan anggota legislatif, termasuk pemilihan kepala daerah.
Nah, yang kita tahu kalau merujuk undang-undang, memang eksplisit disebut KTP. Tetapi kan ada rujukan hukum lain di Mahkamah Konstitusi yang itu digunakan di beberapa kali pemilu sampai sejauh ini bahwa sebetulnya dibenarkan alat keterangan diri lain untuk menggunakan hak suara. Kenapa? Salah satu alasannya kalau dibaca di apa ... di Putusan Pemilihan Presiden 2014 itu. Karena apa? Hak pilih warga negara itu menjadi kewajiban penyelenggara pemilu untuk menjamin. Itu satu. Jadi, di Mahkamah Konstitusi itu sebetulnya sudah selesai perdebatan soal itu.
Yang kedua, ini yang ... yang perlu klarifikasi dari Ahli. Ada dua frasa yang menurut kami ... menurut saya paling tidak, antara frasa yang tadi disebut oleh Yang Mulia Prof. Aswanto, tidak signifikan memengaruhi hasil dengan tidak boleh menggunakan atau terdapat di lebih satu TPS menggunakan hak pilih lebih dari satu kali. Kira-kira di antara dua hal ini, yang mana yang paling penting digunakan sebagai basis argumentasi dalam memberikan putusan? Antara memengaruhi hasil, signifikansi memengaruhi hasil, atau sebaliknya, tidak boleh menggunakan atau pemilih menggunakan suara lebih dari satu kali? Itu saja, Yang Mulia.
58. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih, Yang Mulia. Sudah cukup. Silakan, Ahli untuk merespons.
59. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Terima kasih, Pak Ketua. Terhadap pertanyaan Yang Mulia Pak Palguna memang kalau kita memperhatikan bahwa apa yang tadi dikatakan Mahkamah Agung Amerika, saya melihat sangat berbeda sebenarnya kita dengan Amerika. Kalau di Amerika itu apa yang dikatakan political questions doctrine, dia tidak boleh memasuki apa yang menjadi … apa yang disebutkan pilihan-pilihan itu dan juga merupakan masalah politik. Tetapi justru kehadiran MK melalui teori yang kita anut dari Eropa Barat itu justru dia memasuki semua itu, semua tidak kita perkenankan, apakah itu political question, apakah itu choice, kalau dia memang menunjukkan pertentangan dengan konstitusi, tidak ada suatu argumen apa pun di dalam doktrin MK yang kita anut untuk mengatakan kita tidak masuk. Itu sebabnya saya sangat kokoh di dalam hal ini.
60. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Bukan, saya bukan itu yang jadi soal. Maaf, saya menyela. Yang saya lihat adalah di sini yang membedakan betul ketika dia memerankan antara dia sebagai trial courts, dimana memang dia berbeda seperti peradilan biasa dan ketika dia memerankan sebagai the guardian of the constitution, the supreme amphlett court. Itu kan, kita bisa melihat praktiknya, Pak, itunya. Apakah ketika itu sekarang di ini bagaimana kalau dikaitkan dengan ini? Itu yang jadi (...)
61. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Saya hampir akan masuk ke situ sebenarnya. Dalam pelaksanaan MK sampai dia saat-saat terakhir, apa bedanya dia menguji atau memeriksa perkara yang disebutkan konkret di sini dengan di peradilan lain adalah karena sembari dia ... itu sudah kita jalankan di masa lalu, sembari dia memeriksa kasus konkret itu, tetapi dia menguji juga apakah norma yang dilakukan menguji itu juga sesuai dengan konstitusi atau tidak. Barangkali kita sudah melakukan itu dalam beberapa apa yang disebutkan penentuan kursi di masa lalu yang secara konkret, secara tegas MK melakukan penilaian tentang itu.
Jadi saya berbeda dalam soal ini. Sebenarnya kalau kita misalnya mengatakan MK itu pengawal suatu hak asasi, hak asasi itu juga sebelum diangkat dan sesudah diangkat menjadi norma konstitusi dia tetap mengatur semua langkah daripada peradilan biasa. Undang- Undang HAM lebih dahulu ada dan itu sekarang juga tetap ada sebelum ada apa yang disebutkan konstitusionalisasi HAM dalam bab 10. Nah, di dalam kerangka itulah kalau saya mengatakan tetap dia harus masuk karena memang agak berbeda ini sekarang HAM yang menjadi norma
konstitusi, HAM yang menjadi juga di dalam hukum sehari-hari.
Barangkali saya mungkin tidak bisa memuaskan, tetapi pendirian saya selama ini tetap demikian.
62. HAKIM ANGGOTA: I DEWA GEDE PALGUNA
Maaf, ini yang mungkin penegasan saja yang terakhir, Ahli Yang Mulia Pak Maruarar. Kalau begitu halnya apakah nanti misalnya pengadilan khusus pemilu itu sudah dibentuk, fungsi Mahkamah Konstitusi juga melekat di pengadilan itu, artinya bisa juga melakukan penafsiran itu?
63. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Saya kira agak berbeda. Kan, kita ini tugas daripada sengketa pilkada tadinya dipindahkan ke MK, dia tidak hanya mengubah institusi tadinya, tetapi dia mengubah karakter sebagai pengawal konstitusi.
Tetapi kalau sudah dipindahkan ke peradilan khusus saya kira berbeda, berbeda. Itulah konsekuensi daripada kenapa masih ada di sini sengketa ini selama belum dibentuk peradilan khusus, tentu kita tidak bisa dalam masa transisi akan berubah karakter MK itu, saya kira tidak. Inilah konsekuensi yang harus konsisten akan ditanggung seperti beban yang melekat pada MK. Kalau sudah dipindah kepada peradilan khusus barangkali beda soalnya. Tentu kita bisa mengatakan dia pelaksana yang akan tegas menjalankan undang-undang.
Saya kira ini pandangan saya saja ini kan karena saya konsisten dari dulu kalau di dalam proses sengketa pemilu, tetapi ada norma yang bertentangan dengan konstitusi, kita membatalkan dulu itu norma, baru kita memutus. Saya kira itu sudah terjadi dalam dua kali pemilu, saya mungkin saya salah, nanti akan kita koreksi dengan putusan-putusan MK. Saya kira yang akan saya selanjutnya nanti adalah dari Bapak Yang Mulia Pak Aswanto. Tadi ini soal kalau memang signifikansinya tidak ada lagi, ada pelanggaran, apakah kita bertahan? Saya kira kan dalilnya adalah bahwa proses akan menentukan hasil. Kalau memang proses itu dipaksakan juga memang suaranya tidak lagi signifikan tentu tidak melanggar dengan apa yang saya katakan tadi bahwa proses menentukan hasil. Kita sudah bisa menduga dari proses yang diulang hasilnya tidak akan seperti yang dibayangkan bahwa suara yang di situ tetap akan seperti itu tentunya.
Saya kira ini jawaban saya dan mungkin agaknya bahwa kalau memang DPT itu tidak signifikan, saya kira sama. Memang itu juga merupakan suatu rujukan yang sangat tegas sebenarnya, DPT itu.
Oleh karena itu juga bahwa di dalam melihat ... apa … perbedaan surat suara sah itu, rujukannya DPT. Kalau DPT gubernur segini, DPT
bupati segini, tetapi berbeda dia surat suara sahnya, tentu bisa kita lihat nanti dengan meneliti lagi surat suara itu.
Kemudian, Yang Mulia Pak Saldi. Soal KTP, saya kira kita semua sudah melihat itu sebenarnya. Tetapi masa daripada putusan MK tentang ini adalah ketika menyangkut masalah kependudukan belum lagi sesuatu yang dianggap bisa menjadi rujukan. Soal NIK. Sekarang itu sudah menjadi suatu hal yang dengan cepat bisa dirujuk. Kalau NIK-nya sudah benar, jelas, kita bisa mengetahui siapa orangnya. Dahulu saya kira banyak yang punya 3, 4, KTP. Itu makanya berbeda, Pak. Jadi, dulu itu tampaknya memang harus demikian. Paling tidak yang optimal bisa dilakukan untuk menghindari apa yang dikatakan penyimpangan. Tetapi kalau sekarang, barangkali kita bisa melihatlah. Dengan kepastian seperti itu, urgensi daripada mengatakan bahwa harus dengan KTP.
Karena ada rujukan NIK yang bisa mencegah seperti ini. Saya mendapat informasi ini dari Ditjen Adminduk di Depdagri.
Saya kira untuk yang terakhir, frasa … ya, soal mana yang lebih penting, saya kira antara hasil dengan signifikansi tadi, hampir sudah saya jawab. Saya kira mungkin agak lebih dekat dengan Pak Aswanto.
Tetap juga ada pertimbangan bahwa signifikansi itu merupakan suatu soal. Tetapi harus diingat juga bahwa kalau memang kita melihat dari sudut sebaran daripada apa yang dikatakan pelanggaran itu sedemikian rupa, maka kita juga harus mempertimbangkan bukan hanya di lokasi itu, barangkali yang harus dilakukan kalau di lokasi satu TPS itu, itu bisa diukur dengan cepat. Tetapi kalau dia menyebar, barangkali masa lalu yang kita katakan masif itu bukan soal jumlah saja, tetapi lokasi.
Saya kira ini yang bisa saya jawab, Yang Mulia. Kurang-lebihnya mohon dimaafkan. Terima kasih.
64. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Terima kasih, Yang Mulia Pak Maru. Kita dengar juga ahli dari Pihak Terkait ini. Ini ahli kita selesaikan seluruhnya. Soalnya kalau ahli itu argonya jalan bahaya. Makanya kita harus selesaikan dulu Ahli ini.
65. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Bapak Ketua, apakah saya bisa minta izin karena sebagai rektor (…)
66. KETUA: ARIEF HIDAYAT Boleh, makanya itu.
67. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Saya minta izin karena ada yang harus saya (…) 68. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya, silakan, terima kasih, Yang Mulia.
69. AHLI DARI PEMOHON: MARUARAR SIAHAAN
Terima kasih, saya mohon maaf kepada semua pengunjung.
70. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Karena kalau ahli itu argonya jalan, nanti Pihak Terkait sama Pemohon nanti berat sekali. Supaya bisa dihentikan ini. Silakan, terima kasih, Yang Mulia Pak Maru.
Nah, ini sekarang kita dengar Ahli dari Pihak Terkait, ya. Supaya juga argonya bisa cepat selesai ini. Silakan, Pak Jafar.
71. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: M. JAFAR
Assalamualaikum wr. wb. Selamat sore dan salam sejahtera bagi kita semua. Yang saya hormati Bapak, Ibu Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi Yang Mulia. Yang saya hormati Peserta sidang yang hadir pada sore hari ini.
Perlu saya sampaikan bahwa saya diminta oleh Pihak Terkait untuk menjadi Ahli dalam perkara ini dan dalam perkara ini saya akan menyampaikan beberapa hal yang bersifat umum dan yang bersifat khusus.
Yang pertama, hal-hal yang bersifat umum. Barangkali ini bisa menjadi masukan bagi Bapak, Ibu Hakim Yang Mulia, dan peserta sidang pada hari ini. Yang pertama adalah Pilkada Aceh Serentak Tahun 2017 merupakan pilkada serentak terbesar di Indonesia. Yang diikuti oleh gubernur, kemudian juga 16 bupati, dan 4 walikota. Kemudian juga sebagaimana tadi juga disampaikan bahwa pilkada di Aceh itu diatur di dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pemerintahan Aceh. Mohon izin, dalam kesempatan ini, saya menyingkat dengan UUPA. Meskipun secara nasional itu UUPA adalah Undang-Undang Pokok Agraria.
Kemudian ketentuan pilkada dalam UUPA diatur lebih lanjut dalam Qanun Aceh dan dalam peraturan atau Keputusan Komisi Independen Pemilihan (KIP Aceh). Jadi hal-hal yang tidak diatur dalam UUPA sebagai lex specialis, maka berlaku ketentuan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 yang sudah mengalami beberapa kali perubahan dan peraturan
KPU sebagai lex generalis. Jadi sebenarnya, kedua peraturan, baik yang bersifat khusus, UUPA, maupun yang bersifat nasional, kedua-duanya berlaku dalam pilkada di Aceh dan saling melengkapi.
Kemudian juga, sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum pilkada berlangsung di Aceh, berbagai pihak menyatakan bahwa pilkada Aceh merupakan pilkada yang sangat rawan konflik. Hal ini juga di berbagai media kita dengar ada penjelasan dari Bapak Kapolri dan juga dari Pihak Bawaslu Pusat. Namun dalam penyelenggaraannya, Pilkada Serentak Aceh Tahun 2017 itu berlangsung secara aman, damai, dan tertib, dan ini juga mendapat pengakuan dari berbagai pihak.
Kemudian, secara khusus, Ahli akan menjelaskan empat hal terkait dengan perkara ini dan juga terkait dengan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Pemohon.
Yang pertama, menyangkut dengan pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali atau pemilih ganda dan pemilih yang belum cukup umur.
Pemilih menggunakan hak pilih lebih dari satu kali dan pemilih yang belum cukup umur merupakan pelanggaran administrasi dan juga sekaligus sebagai pelanggaran pidana. Oleh karena itu, terhadap pelanggaran administrasi, itu diselesaikan dengan cara menyampaikan keberatan kepada saksi pasangan calon, KPPS, PPL, dan pengawas pada saat terjadi pelanggaran tersebut untuk dilakukan perbaikan.
Kemudian, pelanggaran pidana juga dapat dilaporkan kepada panwaslih untuk diteruskan sampai dengan ke pengadilan dalam jangka waktu yang ditentukan. Jadi, di sini ke ... pelanggaran tersebut bisa diselesaikan melalui proses hukum pada saat pemilihan itu terjadi.
Kemudian, pemilih yang belum cukup umur menggunakan hak pilih karena memang terdaftar dalam DPT atau memiliki identitas kependudukan, sehingga secara prosedural memenuhi syarat untuk menggunakan hak pilih. Tetapi secara substansial, memang yang bersangkutan tidak memiliki hak. Namun, kenapa ini terjadi? Karena kurangnya kesadaran dari pemilih yang bersangkutan dan juga rendahnya partisipasi masyarakat, termasuk pasangan ... saksi pasangan calon dalam perbaikan DPT dan juga dalam proses pemungutan suara di DPS. Seharusnya, ini bisa dicegah kalau ada partisipasi dari semua pihak.
Kemudian, proses pemungutan suara bersifat rahasia, sehingga tidak diketahui siapa yang dipilih oleh pemilih tersebut, kecuali dia memberitahukan. Jadi, menurut Ahli bahwa pemilih ganda dan pemilih yang cukup umur itu tidak dapat diketahui akan menguntungkan siapa, atau siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dirugikan, kecuali memang ada penjelasan atau pemberitahuan dari pemilih itu sendiri.
Yang ... dengan demikian, proses pemungutan suara ulang ya karena adanya pemilih ganda dan pemilih belum cukup umur, menurut hemat atau menurut pendapat Ahli bahwa itu tidak layak untuk dilakukan karena sudah melampaui dan sudah diberi ruang yang cukup
pada saat pemungutan suara itu sendiri, sehingga tidak dapat dan tidak perlu dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama lagi.
Yang kedua, pemilih yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap menggunakan kartu keluarga. Ini sebagaimana kita ketahui bahwa Pilkada di Aceh itu diselenggarakan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 atau UUPA dan Qanun Aceh Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota. Dalam hal ini, saya menyingkat dengan Qanun Pilkada.
Dalam Pasal 71 dan Pasal 72 UUPA diatur tentang Pemilih dan Hak Pilih. Ketentuan ini kemudian, diatur lebih lanjut dalam Qanun Pilkada. Berdasarkan Pasal 72 ayat (3) Kanun Pilkada, “Pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT dapat menggunakan hak pilih dengan menyerahkan kartu keluarga.” Jadi, Qanun Nomor 12 Tahun 2016 memberikan ruang kepada pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT selain menggunakan KTP elektronik, juga dapat menggunakan kartu keluarga.
Kemudian, ketentuan Pasal 72 ayat (3) Kanun Pilkada tersebut, juga sesuai atau konsisten dengan ketentuan Pasal 68 ayat (2) UUPA yang menentukan bahwa dukungan bagi calon perseorangan harus disertai dengan identitas bukti diri yang dapat berupa kartu tanda penduduk, Paspor Republik Indonesia, Surat Izin Mengemudi, atau identitas kependudukan lainnya. Jadi, dalam hal secara dukungan terhadap calon perseorangan, ini juga bukti identitas kependudukannya diperluas, sehingga hal seperti ini juga digunakan dalam hal menggunakan hak pilih pada hari pemungutan suara.
Kemudian, ketentuan UUPA dan Qanun Aceh merupakan lex specialis yang dapat mengenyampingkan ketentuan Undang-Undang Pilkada sebagai lex generalis berdasarkan asas lex specialis derogat legi generalis.
Kemudian, kartu keluarga merupakan dokumen kependudukan yang dijadikan sebagai dasar pembuatan KTP dan juga digunakan dalam berbagai urusan pemerintahan dan aktivitas lainnya. Oleh karena itu, menurut pendapat Ahli bahwa kartu keluarga itu memiliki kedudukan yang kuat. Yang bahkan, menurut Ahli itu memiliki kedudukan yang sama kuatnya seperti KTP. Ditambah lagi dengan kondisi riil yang terjadi di Aceh bahwa masih banyak penduduk Aceh yang tidak memiliki KTP elektronik. Selain itu, surat keterangan kependudukan yang dikeluarkan oleh disdukcapil juga boleh digunakan untuk menggunakan hak pilih apabila yang bersangkutan tidak terdaftar dalam DPT. Dan menurut Ahli, surat keterangan kependudukan dari disdukcapilnya tidak lebih kuat kedudukannya atau keabsahannya dibandingkan dengan kartu keluarga.
Kemudian, prinsip pemilihan adalah membuka ruang atau memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada warga negara yang memenuhi persyaratan untuk menggunakan hak konstitusionalnya. Hal ini merupakan kewajiban dari negara. Hak warga negara tersebut, sesuai
dengan prinsip perlindungan hak warga negara dan juga digunakan dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 102/PUU-VII/2009 dan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 116/PHPU.D-VIII/2010.
Kemudian, penggunaan kartu keluarga bagi pemilih yang tidak terdaftar dalam DPT berlaku untuk semua pemilih dalam Pilkada Aceh, sehingga sesuai dengan prinsip keadilan dan kepastian hukum. Jadi, tidak ada perbedaan, dimana ada yang digunakan, ada yang tidak gunakan, semua boleh menggunakannya.
Kemudian yang ketiga, pasangan calon memiliki tanggungan utang kepada negara. Tidak memiliki tanggungan utang kepada negara merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap pasangan calon, bar … baik dalam Undang-Undang Pilkada maupun dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh. Dalam pilkada, dokumen persyaratan dapat berupa surat pernyataan, surat keterangan, dan surat tanda terima, ini diatur dalam Pasal 45 Undang-Undang Pilkada.
Dokumen untuk pemenuhan persyaratan tidak memiliki utang kepada negara dibuat dalam bentuk surat keterangan yang dikeluarkan oleh pengadilan. Ini memang perintah dari undang-undang. Surat keterangan tersebut memuat informasi atau keterangan sesuai data atau dokumen pada saat dikeluarkannya surat tersebut. Kemudian utang kepada negara termasuk dalam perikatan yang bersumber dari undang- undang dan perbuatan manusia, ini bisa kita lihat dalam Pasal 1233 KUH Perdata.
Timbulnya utang kepada negara karena ditentukan undang- undang dan ditetapkan oleh lembaga yang berwenang. Utang Pasangan Calon Nomor Urut 3 timbul sejak ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan pada tanggal 12 Desember 2016. Sedangkan surat keterangan pengadilan dikeluarkan tanggal 8 Desember 2016 dan 19 September 2016, serta penetapan pasangan calon pada tanggal 24 Oktober 2016.
Dengan demikian, timbulnya utang tersebut setelah dikeluarkannya surat keterangan dari pengadilan dan ditetapkan yang bersangkutan sebagai pasangan calon. Dengan demikian, adanya utang tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada keabsahan syarat pasangan calon yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan.
Jadi … bahwa utang itu tidak boleh ada pada saat dikeluarkan surat keterangan dari pengadilan dan ditetapkan sebagai pasangan calon. Sedangkan utang yang timbul setelah itu bukan merupakan persyaratan tidak memiliki utang di dalam salah satu syarat menjadi pasangan calon.
Kemudian yang keempat, terjadinya perbedaan suara sah dan tidak sah antara pemilihan Gubernur dengan pemilihan Bupati Gayo Lues. Perbedaan suara sah dan tidak sah antara pemilhan gubernur dan pemilihan Bupati merupakan hal yang wajar dalam pilkada. Hal ini dikarenakan yang pertama hak pilih merupakan hak … hak warga
negara, sehingga warga negara dapat menggunakan atau tidak menggunakan haknya.
Kemudian, pemilih … pemilihan bersifat bebas dan rahasia sehingga pemilih bebas untuk menentukan pilihan termasuk untuk memilih atau tidak memilih pasangan calon tertentu.
Banyaknya jumlah suara sah dan tidak sah dalam pemilihan bupati dibandingkan dengan pemilihan gubernur merupakan suatu hal yang baik karena pemihan bupati tersebut memiliki … memiliki legitimasi politik yang lebih tinggi dibandingkan pemilihan gubernur.
Kemudian, tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan juga dapat terjadi antara lain karena kekecewaan atau kepercayaan pemilih terhadap perilaku politisi atau ketidakpercayaan ter … pemilih terhadap para kandidat.
Dan yang terakhir bahwa secara normatif berapa pun partisipasi pemilih dan jumlah perolehan suara dalam suatu pemilihan, tidak berpengaruh pada legitimasi hukum atau keabsahan pilkada tersebut, apalagi di dalam Undang-Undang Pilkada yang terbaru tidak ada ketentuan batas minimal seseorang dapat dinyatakan sebagai pemenang dalam pilkada.
Demikian beberapa penjelasan terkait dengan penyelenggaraan Pilkada Gayo Lues Tahun 2017 khususnya berkaitan dengan dalil yang diajukan Pemohon dalam Perkara PHPU Nomor 29/PHP.BUP-XV/2017.
Terima kasih, assalamualaikum wr. wb.
72. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Walaikumsalam wr. wb. Terima kasih, Ahli. Dari Pihak Terkait ada yang mau didalami?
73. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: IKHWALUDDIN SIMATUPANG Terima kasih, Yang Mulia. Mungkin nanti juga dapat disambung oleh Teman yang lain. Pertanyaan saya kepada Ahli bahwa dalil Pemohon ini ada pengguna hak pilih atas nama Sudiyanto, Sudiyanto tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap, tetapi ketika dilaksanakannya penyelenggaraan pemilu 15 Februari 2017 karena beliau sebelumnya berstatus TNI, beliau telah pensiun pada bulan Januari, sekitar 18 Januari 2017, penyelenggaraan pemilihan pada tanggal 15 Februari 2017. Pertanyaan tentang Sudiyanto ini, apakah beliau dapat menggunakan hak pilihnya dalam pemungutan penghitungan suara di Kabupaten Gayo Lues 15 Februari 2017?
Kemudian, ada pengguna hak pilih atas nama Irmawan, sebagaimana juga dalil dari Pemohon, beliau terdaftar dalam daftar pemilih tetap. Pascadilakukannya pemungutan suara, terbit surat dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang menyatakan bahwa
Irmawan ini bukan penduduk Kabupaten Gayo Lues. Jadi, surat dari dukcapil itu setelah dilakukannya pemungutan suara dan setelah adanya DPT. Pertanyaan saya, apakah surat dari dukcapil ini dapat mengesampingkan hak pilih seseorang yang telah terdaftar dalam daftar pemilih tetap, dimana surat itu terbit setelah dilakukannya pemungutan suara?
Kemudian terkait dengan BPK tadi, apakah surat BPK itu dapat berlaku surut untuk menyatakan Pasangan Calon Amru dan Pak Said ini tidak memenuhi syarat calon karena tunggakan hutang? Dihubungkan pula, apakah memang putusan BPK ini serta-merta memiliki kekuatan hukum untuk menyatakan orang memiliki kerugian negara atau tidak?
Karena setahu kita di Republik ini, meskipun BPK telah menerbitkan bahwa seorang ... apa ... telah merugikan negara, ada juga yang mengesampingkan itu. Jadi pertanyaan saya, apakah serta-merta jadi kekuatan hukum keterangan BPK adanya kerugian negara ini?
Terakhir saya bertanya, saya tadi belum di ... apa ... menurut saya belum puas dengan ahli tadi, apakah memang tindakan seseorang yang salah dalam hal ini pemilih lebih dari satu kali yang juga di dalikan Pemohon tidak ada kaitannya dengan tindakan Pihak Terkait maupun dari Termohon dapat dipertanggungjawabkan kepada Pihak Terkait dan Termohon sendiri? Demikian, yang ... saksi, Yang Mulia. Terima kasih, ada? Silakan, kalau (...)
74. KETUA: ARIEF HIDAYAT Ya. Ada?
75. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: SAMSUDIN
Ada satu, Yang Mulia.
76. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ringkas, ya!
77. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT: SAMSUDIN
Baik, Yang Mulia. Ahli, dalam ada di sana pencoblos lebih dari satu kali, sudah ditangani oleh Gakkumdu dan sudah ada putusan.
Apakah di sini MK berwenang untuk mengadili lagi pelanggaran tersebut?
Terima kasih.
78. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Ya. Cukup, ya? Sekarang Pemohon, saya persilakan.
79. KUASA HUKUM PEMOHON: IMRAN MAHFUDI
Terima kasih, Yang Mulia. Saya ingin membaca secara utuh tadi apa yang disampaikan oleh Ahli terkait dengan Qanun Nomor 12 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepada Daerah, Pasal 72 ayat (3), nanti setelah saya baca, saya akan bertanya, Yang Mulia. Pasal 73 ayat (3), “Sebelum penghitungan suara dimulai sebagaimana dimaksud pada ayat (1), KPPS menghitung:
a. Jumlah pemilih yang memberikan suara berdasarkan salinan daftar pemilih tetap untuk TPS.
b. Jumlah pemilih dari TPS lain.
c. Jumlah pemilih yang menggunakan dasar kartu tanda penduduk elektronik, kartu tanda penduduk nasional, kartu keluarga, paspor, dan/atau identitas lain sesuai dengan ketentuan perundang- undangan.”
Nah, yang saya pahami bahwa apa yang tertulis di sini tidak menjelaskan bahwa di Aceh itu boleh memilih menggunakan kartu keluarga, hanya menggunakan kartu keluarga. Karena bab ini bukanlah mengatur tentang pemilih.
Saya akan membacakan ketentuan Pasal 14 yang mengatur tentang pemilih. Pasal 14 ayat (1), “Untuk dapat menggunakan hak memilih warga negara Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih.”
Nah, yang saya ingin tanyakan kepada Ahli, ada dua … ada dua ketentuan yang berbeda dalam qanun ini. Yang pertama, jelas di bab yang ... yang menentukan bab 2 a ... maaf, bab 2.
Yang pertama, ada bab V, hak pilih dan penetapan pemilih. Itu jelas di Pasal 14 mengatur untuk dapat menggunakan hak memilih warga negara Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih. Artinya, kalau ... kalau ingin menggunakan kanun ini tidak terdaftar, pakai KTP pun tidak boleh, kalau ingin menggunakan qanun ini, kira-kira begitu yang saya pahami.
Nah, terhadap ada dua ... dua hal yang berbeda ini, di Pasal 14 mengatakan hanya ... di Pasal 14 memudahkan … warga negara Indonesia harus terdaftar sebagai pemilih. Nah, kemudian di Pasal 72 ...
Pasal 72 ayat (3) tadi, dimana sesungguhnya pasal ini bukanlah mengatur tentang hak pilih, tapi menjelaskan apa ... apa tugas ... apa ...
sebelum penghitungan suara dimulai sebagaimana dimaksud ayat (1), KPPS menghitung, ini lebih menjelaskan kepada tugas KPPS. Nah, menurut Ahli, apabila terdapat dua aturan dalam undang-undang ini, mana yang harus digunakan? Terima kasih.
Ya, masih ada Rekan saya, Pak.
80. KETUA: ARIEF HIDAYAT Ya.
81. KUASA HUKUM PEMOHON: I WAYAN SUDIRTA
Saya akan menambahkan satu pertanyaan lagi.
82. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Dimatikan itu satunya!
83. KUASA HUKUM PEMOHON: I WAYAN SUDIRTA
Ya. Saudara Ahli, saya ingin bertanya pada Saudara, jika BPK sudah mengeluarkan surat tentang seorang yang berutang kepada negara, lalu kemudian pengadilan mengeluarkan surat tentang orang yang sama berkaitan dengan utang yang sama. Pertanyaannya, jika pengadilan tidak mengecek terlebih dahulu kepada BPK atau tidak mengecek sama sekali kepada pihak manapun, apakah dapat surat pengadilan yang demikian itu dianggap benar, sah, dan berlaku menurut hukum?
Kedua, lalu bagaimana akibatnya dan pengaruhnya terhadap surat keterangan yang dikeluarkan oleh BPK menurut Ahli? Terima kasih.
84. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Dari Termohon?
85. KUASA HUKUM TERMOHON: ALI NURDIN
Terima kasih, Majelis Hakim Yang Mulia. Ada beberapa pertanyaan sesuai isu yang berkembang. Satu, masalah pemilih yang mencoblos dari satu kali, saya menangkap gejala adanya pemilih yang disengaja untuk mencoblos dua kali salah satu pasangan calon sehingga ketika dia kalah, baru diangkat, tapi kalau dia menang, dia diam. Di satu sisi, bagaimana asas keadilan? Karena di satu TPS, DPT itu maksimum 800, taruhlah 400 orang. Ketika ada satu dua orang yang mencoblos dua kali, sehingga di tempat itu harus PSU, bagaimana rasa keadilan bagi pemilih lain 400, 500 orang, yang telah mengorbankan waktunya, tenaganya datang ke TPS menentukan pilihannya? Karena berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu ketika PSU, jumlah pemilihnya berkurang sangat banyak, sangat banyak. Karena banyak pemilih yang sudah pindah tempat atau bekerja, sehingga tidak sempat lagi menggunakan hak pilihnya. Bagaimana tanggapan pemilih terkait dengan hal itu ... apa pandangan Ahli terkait dengan hal itu?
Yang kedua, dalam kaitannya tadi yang dipersoalkan masalah ada tanggungan utang atau pada pokoknya tidak memenuhi persyaratan.
Dalam pandangan kami, proses pemilu selain adanya masalah kepastian
hukum, juga ditentukan dengan keadilan prosedural, dimana untuk persoalan masalah pencalonan, itu ada mekanisme melalui sengketa pemilihan yang diajukan kepada panwas. Kalau tidak puas, baru kemudian PTUN dan kasasi. Apabila terkait dengan satu persoalan yang tidak diangkat, dalam hal ini misalnya masalah utang tadi, kepada panwas, artinya mekanisme itu tidak ditempuh, apakah itu bisa di ...
kemudian bisa dipersoalkan belakangan?
Yang ketiga, masalah perbedaan suara sah antara Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Bupati Gayo Lues. Tadi sudah dijelaskan oleh Ahli bahwa terkait hal itu diserahkan kepada pilihan masyarakat, apakah bisa adanya perbedaan suara ini, lantas diputuskan, bisa merugikan atau menguntungkan salah satu pasangan calon? Demikian, Ahli. Terima kasih, Majelis.
86. KETUA: ARIEF HIDAYAT
Baik. Silakan Ahli, direspons.
87. AHLI DARI PIHAK TERKAIT: M. JAFAR
Baik. Terima kasih, Yang Mulia. Saya akan menanggapi satu per satu dari semua pertanyaan dan tanggapan dari Pihak Terkait, Pemohon, dan Termohon.
Yang pertama, menyangkut dengan penggunaan hak pilih atas nama Sudiyanto. Jadi, di dalam ketentuan tentang pilkada disebutkan bahwa warga negara Indonesia memiliki hak pilih apabila sudah terdaftar pada DPT, itu satu. Kemudian, juga dia yang paling prinsipil adalah sudah berusia 17 tahun, atau sudah menikah, atau pernah menikah.
Dikatakan berusia 17 tahun, yaitu pada hari pemungutan suara, maka hari pemungutan ... maka dalam sistem penyelenggaraan pemilu, hari pemungutan suara itu sudah ditentukan terlebih dahulu karena semuanya bermuara dari penetapan hari pemungutan suara.
Jadi, kalau hari pemungutan suaranya pada tanggal 15 Februari 2017 dan beliau pensiun sebelum tanggal 15 Februari 2017, maka beliau memiliki hak pilih. Sedangkan persoalan apakah sudah terdaftar dalam DPT atau tidak, itu adalah persoalan teknis, tetapi hak pilihnya harus dilindungi. Oleh karena itu, ketentuan yang membuka peluang seseorang yang tidak terdaftar dalam DPT dapat menggunakan hak pilih dengan menunjukkan KTP elektronik, surat keterangan dari disdukcapil, kemudian kartu keluarga, saya pikir ini suatu perlindungan yang luar biasa kepada warga negara dan ini sudah ... sudah sangat tepat.
Yang kedua, mengenai Pak Irmawan terdaftar dalam DPT.
Kemudian, kalau beliau terdaftar dalam DPT, berarti sudah pasti beliau bisa menggunakan hak pilihnya. Dan apabila setelah DPT ditetapkan atau setelah pemungutan suara, beliau diketahui tidak memiliki ... bukan