• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hidrogen Peroksida

Dalam dokumen Budidaya Ikan Jilid 3 Kelas 1 Gusrina 2008 (Halaman 105-109)

HAMA DAN PENYAKIT IKAN

8. Hidrogen Peroksida

Larutan jernih ini sepintas mirip air, dengan rumus kimia H2O2. Bahan ini merupakan oksidator kuat, berbahaya

bila dikonsumsi. Hidrogen peroksida

akan terurai menjadi dua produk yang aman yaitu, air dan oksigen.

2H2O2 2H2O + O2

Bahan ini kerap digunakan dalam dunia kesehatan sebagai disinfektan (pembunuh kuman) karena tidak mening- galkan residu yang berbahaya. Bahan inipun digunakan pula sebagai antiseptik pada akuarium.

Hidrogen peroksida bisa pula di- gunakan sebagai penambah oksigen dalam akuarium, untuk mengatasi kondisi kekurangan oksigen yang terjadi. Sebuah produk peralatan akuarium menggunakan hidrogen perosida untuk penambah oksi- gen tanpa tenaga listrik.

Penggunaan Hidrogen Peroksida alam Akuarium:

Sebagai anti protozoa:

Diberikan sebagai perlakuan pe-

rendaman dalam jangka pendek. Dosis yang digunakan adalah 10 ml larutan dengan konsenrasi 3 % (teknis) dalam 1 liter air. Perendaman dilakukan selama maksimum 5-10 menit. Perendaman harus dihentikan apabila ikan menunjukkan gejala stress.

Untuk memulihkan kondisi kekurangan oksigen:

Dosis yang digunakan 1-2 ml Hidrogen Peroksida 3% dalam 10 liter air akuarium. Dosis harus dijaga agar

jangan sampai kelebihan. Kelebihan

dosis akan membuat ikan menjadi stress dan bisa membahayakan kehidupan ikan yang bersangkutan.

Sebelum diberikan dianjurkan untuk mengencerkan terlebih dahulu hidrogen perioksida tersebut, setidaknya dengan perbandingan 1: 10 (satu bagian bahan

dengan 10 bagian air). Setelah itu baru

dimasukan kedalam akuarium. Pastikan pula bahwa larutan ini dapat segera tercampur dengan baik setelah dimasukan kedalam akuarium.

Perlakuan ini hanya dianjurkan pada kondisi darurat saja, yaitu bila kekurangan oksigen. Setelah itu dicari penyebab sebenarnya agar dapat diatasi dengan lebih baik.

9. Formalin (HCHO dan CH3OH)

Formalin merupakan larutan komersial dengan konsentrasi 37-40% dari formalde- hid. Bahan ini biasanya digunakan seb- agai antiseptic, germisida, dan pengawet. Formalin diketahui sering digunakan dan efektif dalam pengobatan penyakit akibat ektoparasit seperti uke dan kulit berlen- dir. Meskipun demikian, bahan ini juga sangat beracun bagi ikan. Ambang batas amannya sangat rendah, sehinggga ter- kadang ikan yang diobati malah mati akibat formalin daripada akibat penyakitnya.

Formalin sangat beracun, meskipun masih dipakai secara luas dalam akurku- lutur dan lingkungan kolam tertentu, teta- pi lebih banyak digunakan dalam peng-

awetan specimen ikan untuk keperluan identi kasi. Ikan yang akan diawetkan harus melalui proses euthanasia yang hewani terlebih dahulu, kecuali apa- bila ikan tersebut telah mati sebelumnya. Untuk pengawetan biasanya digunakan formalin dengan konsentrasi 10%.

Penggunaan

Untuk penggunaan jangka panjang (beberapa hari) atau jangka pendek (10 - 30 menit).

Formalin dapat mengganggu lter bi- ologi, oleh karena itu, perlakuan se- baiknya dilakukan di akuarium khu- sus. Keuntungan dengan perlakuan terpisah ini adalah apabila ikan men- galami stres pada saat diperlakukan, ikan tersebut dapat segera dikemba- likan pada akuarium utama.

Dosis dan Cara Pemberian

Dosis penggunaan formalin berva- riasi tergantung pada spesies ikan- nya. Setiap spesies akan memiliki toleransi berbeda terhadap formalin. Dengan demikian dosis yang dican- tumkan pada artikel ini bukan meru- pakan jaminan, tetapi merupakan kriteria rata-rata.

Yang perlu diperhatikan adalah: penggunaan formalin dalam per- lakuan jangka pendek harus diawasi dengan ketat. Dan perlakuan harus segera dihentikan apabila ikan mulai menunjukkan gejala stres seperti na- fas tersengal-sengal (megap-megap) atau meloncat (ingin keluar dari akuarium)

Untuk perlakuan jangka panjang,

seperti untuk pengobatan akibat

infeksi ektoparasit penyebab kulit

berlendir adalah 0.15-0.25 ml Formalin (37-40%) per 10 liter air. Setelah 2 - 3 hari, kembalikan ikan pada wadah semula.

Jangan dilakukan pada lter biologi, karena akan membunuh bakteri yang ada pada lter

Lakukan penggantian air sebanyak 30%.

Untuk perlakuan jangka pendek,

seperti untuk pengobatan akibat infeksi ektoparasit besar penyebab

uke, dosisnya adalah 2 ml Formalin (37-40%) per 10 liter air. Siapkan campuran terlebih dahulu sebelum ikan dimasukkan. Lakukan peren-da- man selama maksimal 30 menit, atau kurang apabila ikan menunjukkan gejala stres.

Peringatan

Formalin sangat berbahaya apabila terkena kulit atau mata. Apabila hal ini terjadi segeralah cuci dengan air yang banyak. Bahan ini juga dapat meng- hasilkan uap beracun, oleh karena itu jangan biarkan botol formalin terbuka di ruang tertutup. Simpan formalin dalam botol berwarna gelap dan hindarkan dari cahaya, kalau tidak maka akan dapat terbentuk paraformaldehid (berupa enda- pan putih) yang sangat beracun bagi ikan, bahkan dalam konsentrasi yang sangat rendah. Selain itu, formalin dapat bersifat eksplosif (meledak).

Sifat Fisika dan Kimia Formalin

Tampilan : cairan jernih (tidak

berwarna)

Kelarutan : sangat larut

Berat jenis : 1.08

pH : 2.8

Identi¿kasi Bahaya:

Sangat berbahaya! Dapat menye- babkan kanker. Resiko kanker tergan- tung pada tingkat dan lama kontak. Uap berbahaya. Berbahaya apabila terhirup atau terserap kulit. Menyebabkan iritasi terhadap kulit, mata dan saluran perna- fasan. Dapat berakibat fatal atau menye- babkan kebutaan apabila tertelan. Mudah terbakar.

Pertolongan Pertama:

Terhisap: Pindahkan korban pada udara bersih. Apabila tidak bernafas beri nafas buatan, apabila kesulitan bernafas beri oksigen, panggil dokter. Tertelan: Apabila korban sadar usa- hakan untuk mengencerkan, me-

nonaktifkan dan menyerap

bahan dengan memberi susu, arang aktif, atau air. Setiap bahan organik akan dapat menonaktifkan formalin. Jaga tubuh korban agar tetap hangat dan rileks. Apabila muntah, jaga agar kepala lebih rendah dari pinggul.

Kontak Kulit: Segera cuci dengan air yang banyak selama paling tidak menit, sambil melepas pakaian yang terkena. Cuci pakaian sebelum digunakan kembali.

Kontak Mata: Segera cuci dengan air yang banyak selama paling tidak 15 menit Segera hubungi dokter.

Dengan mengetahui berbagai macam obat dan bahan kimia yang dapat digu- nakan dalam melakukan pengobatan, maka akan sangat membantu para pem- budidaya ikan untuk mengobati ikan yang sakit. Sebagai contoh dalam aplikasinya, untuk ikan yang sakit yang akan diobati dengan antibiotika antara lain oxytetracy- cline. Maka cara pengobatannya dapat dilakukan misalnya saja dengan meren- dam ikan dalam larutan oksitetrasiklin 5 ppm selama 24 jam. Atau mau menggu- nakan bahan kimia dengan cara meren- dam ikan dalam larutan nitrofuran 5 – 10 ppm selama 12 – 24 jam, merendam ikan dalam larutan kalium permanganate (PK) 10 – 20 ppm selama 30 – 60 menit. Obat- obat antibiotika seperti Kemicitin, Tetra- siklin, Streptomisin yang berupa serbuk dapat dicampurkan ke dalam makanan ikan jika akan melakukan pengobatan dengan sistem oral. Dosisnya harus di- perhitungkan agar setiap 100 gram berat ikan, dapat memakan 1 mg antibiotika itu per hari. Lama pemberian obat ini 2 – 3 minggu.

Antibiotika juga dapat diberikan dengan disuntikkan. Dosisnya, untuk larutan chloramphenicol (kemicitin) 1 : 1,5 sebanyak 1 – 2 ml disuntikkan ke dalam rongga perut (intra abdomincal cavity) untuk setiap berat badan ikan 200 gram. Penyuntikan perlu diulang setiap 2 – 3 hari sampai jangka waktu 2 minggu. Kalau cara ini berhasil, biasanya dapat terlihat gejala penyembuhan dari hari ke hari. Cara lain yang lebih praktis dalam pengobatan penyakit bakteri adalah melalui makanan. Makanan ikan yang akan diberikan dicampur dulu dengan chloromycetin 1 – 2 gram untuk setiap 1 kg pellet. Hal yang harus diperhatikan adalah tetap menjaga kualitas air agar

selalu sesuai dengan kebutuhan hidup yang ideal bagi ikan.

Perlu diketahui bahwa apabila pe- makaian antibiotika tidak sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan, atau perhi- tungannya kurang cermat, maka lama kelamaan bakteri akan kebal terhadap obat itu. Akibatnya, obat tersebut tidak mempan lagi untuk memberantas jenis bakteri tertentu.

Pada daerah yang mengalami wabah penyakit, sering kali pencegahannya sulit dihindari. Untuk mengurangi kerugian yang besar biasanya dilakukan pengo- batan pada ikan. Oleh karena ikan hidup di air, sehingga bahan kimia yang digu- nakan juga akan terlarut dalam air. Hal ini dapat berakibat selain bertujuan untuk mengobati ikan sakit, akan tetapi ikan pun dapat terbunuh bila tidak dilakukan metoda, waktu, dosis obat yang tepat. Untuk mengantisipasi kesalahan dalam melakukan pengobatan terhadap ikan yang sakit maka harus dilakukan beber- apa persiapan yaitu :

1. Ikan yang akan diobati sebaiknya harus dipuasakan terlebih dahulu selama 24 jam sebelum diberikan pengobatan.

2. Wadah yang digunakan untuk melaku- kan pengobatan ikan harus memakai wadah yang terbuat dari bahan plastik, jangan menggunakan wadah yang ter- buat dari seng. Hal ini dapat membuat bahan kimia bereaksi dengan wadah yang terbuat dari seng.

3. Dalam melakukan pengobatan, jum- lah obat yang akan diberikan kepada ikan yang sakit harus tepat jenis, do- sis dan benar-benar terukur.

4. Pengobatan sebaiknya dilakukan pada suhu perairan yang rendah misalnya pada pagi atau sore hari. 5. Sebaiknya dalam melakukan peng-

obatan dilakukan secara bertahap yaitu :

Pengobatan pendahuluan

Pengobatan pendahuluan meru- pakan pengobatan awal dimana ikan yang sakit diambil sebagian kecil dan diberi obat dengan jum- lah yang sesuai dengan dosis. Pengobatan pokok, yang dilakukan setelah 12 – 24 jam dari pengobatan pendahuluan. Cara pengobatan yang tidak berakibat fatal bagi ikan adalah sebagai berikut : 1. Pengolesan.

Cara ini biasanya digunakan untuk penyakit ikan yang kronis dengan dosis obat yang tinggi. Bagian ikan yang sakit diolesi obat dengan meng- gunakan kapas. Kemudian ikan segar dikembalikan ke air yang segar. 2. Perendaman pada bak.

Ikan yang terserang penyakit diren- dam dalam wadah/bak tertentu yang berisi larutan obat selama 5 – 30 menit. Hal ini memberi kemungkinan lamanya kerja obat untuk membunuh penyakit. Caranya sangat sesuai bila parasit terdapat dalam lapisan kulit yang terlindung. Oleh karena ikan terendam pada larutan yang berba- haya maka konsentrasi obat masih di toleransi oleh ikan.

3. Perendaman pada kolam.

Umumnya cara ini memerlukan pe- rendaman yang lebih lama dari pada

bak (1 jam s/d beberapa hari) dengan bahan kimia. Tujuan dari perendaman yang lama ini adalah memberi kesem- patan pada obat untuk memutuskan rantai kehidupan parasit dan konsen- trasi obat biasanya sangat rendah sekali sehingga tidak berbahaya bagi

ikan. Untuk metoda ini sebaiknya menggunakan bahan kimia yang mu- dah terurai menjadi netral.

Bahan kimia dan obat yang dapat digu- nakan untuk mengobati ikan pada berbagai penyakit dapat dilihat pada Tabel 8.2.

Tabel 8.2. Obat dan bahan kimia yang digunakan pengobatan penyakit ikan. NO JENIS

PARASIT

METODA BAHAN KIMIA/

Dalam dokumen Budidaya Ikan Jilid 3 Kelas 1 Gusrina 2008 (Halaman 105-109)