HAMA DAN PENYAKIT IKAN
8. Saprolegnea sp dan Achlya sp
8.2. PENCEGAHAN HAMA DAN PENYAKIT IKAN
8.2.3. Pencegahan terhadap beberapa penyakit
Pencegahan terhadap white spot
Tindakan karantina terhadap ikan yang akan dipelihara merupakan tindak- an pencegahan yang sangat dianjurkan dalam menghindari berjangkitnya white spot. Pada dasarnya white spot terma- suk mudah dihilangkan apabila diketahui secara dini. Berbagai produk anti white spot banyak dijumpai di toko-toko per- ikanan. Produk ini biasanya terdiri dari senyawa-senyawa kimia seperti metil biru, malachite green, dan atau forma- lin. Meskipun demikian, ketiga senyawa itu tidak akan mampu menghancurkan pula membantu mengurangi populasi white spot.
Ikan yang lolos dari serangan white spot diketahui akan memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut. Kekebalan ini dapat bertahan selama beberapa minggu atau beberapa bulan. Meskipun demikian ketahanan ini dapat menurun apabila ikan yang bersangkutan meng- alami stres atau terjangkit penyakit lain.
Untuk mencegah agar tidak berjang- kit penyakit bintik putih, air kolam harus sering diganti atau dialiri air baru yang segar dan jernih. Harus dijaga agar air buangan ini tidak menularkan kepada ikan di kolam-kolam lain.
Pencegahan terhadap jamur
Pencegahan jamur dapat dilakukan dengan cara menjaga kualitas air agar kondisinya tetap baik. Agar ikan tidak ter- luka, perlakuan hati-hati pada saat peme- liharaan ikan sangat perlu diperhatikan.
Pencegahan terhadap bakteri
Pada umumnya bibit penyakit, apa- lagi berupa bakteri yang sangat kecil dan sudah tersebar di semua perairan, sukar sekali diberantas sampai tuntas. Karena air merupakan media penular yang mem- bawa bibit-bibit penyakit secara luas. Maka cara pencegahanlah yang harus dipahami benar-benar oleh petani ikan. Ikan akan terhindar dari wabah penyakit apabila ikan selalu dalam kondisi yang baik. Kondisi baik artinya, makanan cukup, keadaan lingkungan baik, bersih dari se- gala pencemaran, agar ikan-ikan berdaya tahan tinggi untuk membentuk kekebalan alamiah terhadap berbagai penyakit.
8.3. GEJALA SERANGAN
PENYAKIT
Berdasarkan tempat tumbuhnya penyakit di dalam tubuh ikan maka bagian tubuh ikan yang diserang penyakit dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu : 1. Bagian luar tubuh ikan yaitu kulit,
sirip, mata, hidung dan insang. Ikan yang terserang penyakit pada ku- litnya akan terlihat lebih pucat dan berlendir. Ikan tersebut biasanya akan menggosok-gosokkan tubuhnya pada benda-benda yang ada di sekitarnya. Sedangkan serangan penyakit pada insang menyebabkan ikan sulit ber- nafas, tutup insang mengembang dan warna insang menjadi pucat. Pada lembaran insang sering terlihat bintik- bintik merah karena pendarahan kecil (peradangan).
2. Bagian dalam tubuh ikan. Penyakit yang menyerang organ dalam sering mengakibatkan perut ikan membeng- kak dengan sisik yang berdiri. Sering
pula dijumpai perut ikan menjadi kurus. Jika menyerang usus, biasanya akan mengakibatkan peradangan dan jika menyerang gelembung renang, ikan akan kehilangan keseimbangan pada saat berenang.
Oleh karena itu ikan dikatakan sakit bila terjadi suatu kelainan baik secara anatomis maupun siologis. Secara anatomis terjadi kelainan bentuk bagian-bagian tubuh ikan seperti bagian badan, kepala, ekor, sirip dan perut. Secara siologis terjadi kelainan fungsi organ seperti; penglihatan, perna- fasan, pencernaan, sirkulasi darah dan lain-lain. Gejala yang diperlihatkan dapat berupa kelainan perilaku atau penampak- an kerusakan bagian tubuh ikan. Adapun ciri-ciri ikan sakit adalah sebagai berikut; 1. Behaviour (perilaku ikan)
Ikan sering berenang di permukaan
air dan terlihat terengah-engah (megap-megap).
Ikan sering menggosok-gosokan
tubuhmya pada suatu permukaan benda.
Ikan tidak mau makan (nafsu
makan menurun).
Untuk jenis ikan yang sering
berkelompok, maka ikan yang sakit akan memisahkan diri dan berenang secara pasif
2. Equilibriun
Equibriun artinya keseim-bangan, ikan yang terserang penyakit keseimbang- annya terganggu, maka ikan berenang oleng, dan loncat-loncat tidak teratur, bahkan menabrak dinding bak.
3. External lesion
Adalah abnomalitas dari organ tubuh tertentu karena adamya serangan
penyakit. External lesion pada ikan antara lain:
Discoloration
Pada ikan sehat mempunyai warna tubuh normal sesuai den- gan pigmen yang dimilikinya. Kelainan pada warna yang ti- dak sesuai dengan pigmennya adalah suatu discoloration. Se- perti warna gelap menjadi pucat dan lain-lain.
Produksi lendir
Lendir pada ikan sakit akan ber- lebihan bahkan sampai menyeli- muti tubuh ikan tergantung pada berat tidaknya tingkat infeksi.
Kerusakan organ luar
Kelainan bentuk organ ini dise- babkan oleh parasit tertentu yang menyebabkan kerusakan organ seperti pada kulit, sirip, insang dan lain-lain. Pada insang dapat me- nyebabkan insang terlihat pucat atau adanya bercak merah.
4. Faktor kondisi
Pada ikan sehat mempunyai korelasi antara bobot (M) dan panjang (L) ikan yang seimbang yaitu dengan rumus sebagai berikut
100 M K = L 3 Dimana : M : berat ikan (gr) L : panjang ikan (cm)
Ikan mempunyai nilai K yang berbeda-beda tergantung jenisnya bila nilai K berubah dari normal maka ikan dikatakan sakit.
www.o - ¿ sh.com www.o - ¿ sh.com
Pada ikan mas sehat K = 1,9
sedangkan yang sakit K = 1,6 ikan yang mempunyai K < 1,4 ikan tidak dapat hidup lagi.
Gejala penampakan kerusakan bagian tubuh ikan antara lain:
1. Dropsy
Dropsy merupakan gejala dari suatu penyakit bukan penyakit itu sendiri. Gejala dropsy ditandai dengan terjadinya pem- bengkakan pada rongga tubuh ikan. Pem- bengkakan tersebut sering menyebabkan sirip ikan berdiri sehingga penampakannya akan menyerupai buah pinus.
Gambar 8.19. Dropsy pada Platty (kiri) dan Cupang (kanan) . Tampak sisik yang berdiri (mengembang) sehingga menyerupai bentuk buah pinus.
Gambar 8.20. Dropsy tampak samping, menunjukkan perut membuncit sebagai akibat akumulasi cairan/lendir pada rongga perut.
Pembengkakan terjadi sebagai akibat berakumulasinya cairan, atau lendir dalam rongga tubuh (Gambar 8.21). Gejala ini disertai dengan,
malas bergerak,
gangguan pernapasan,
Gambar 8.21. Akumulasi cairan
Akumulasi cairan selain akan menyi- sakan rongga yang “menganga” lebar, juga akan menyebabkan organ dalam tubuh ikan tertekan. Bila gelembung re- nang ikut tertekan dapat menyebabkan keseimbangan ikan terganggu
Secara alamiah bakteri penyebab dropsy kerap dijumpai dalam lingkungan, tetapi biasanya dalam jumlah normal dan terkendali. Perubahan bakteri ini menjadi patogen, bisa terjadi karena akibat ma- salah osmoregulator ;pada ikan yaitu,
kualitas air yang kurang baik
menurunnya fungsi kekebalan tubuh
ikan,
malnutrisi atau karena faktor genetik.
Infeksi utama biasanya terjadi melalui mulut, yaitu ikan secara sengaja atau ti- dak memakan kotoran ikan lain yang ter- kontaminasi patogen atau akibat kanibal- isme terhadap ikan lain yang terinfeksi.