BAB V Gereja yang Bergumul di Dunia
E. Hidup sebagai Orang Asing
Di atas kita sudah membahas konsep tentang kewarganegaraan kita sebagai warga Kerajaan Sorga. Di dalam Filipi 3:20 dikatakan “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat…” Sebagai warga Kerajaan Sorga kita hidup sebagai “orang asing” di muka bumi ini. Dalam 1 Petrus 2:11 dikatakan, “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.” Sebagai warga
QHJDUD,QGRQHVLDNLWDEHODMDUEDQ\DNWHQWDQJVHMDUDK,QGRQHVLDJHRJUD¿,QGRQHVLD
perjuangan bangsa Indonesia, tetapi berapa banyak kita belajar tentang Kerajaan Sorga dan nilai-nilainya? Bukankah seringkali kita justru berusaha menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dunia, supaya kita tidak dianggap manusia aneh?
Di pihak lain, ada orang-orang Kristen yang menentang segala-galanya yang ada di dunia. Misalnya, melarang orang Kristen membaca koran, menonton televisi
GDQ ¿OP EHUPDLQ EDQG PHQJJXQDNDQ NDUWX NUHGLW PHQJJXQDNDQ .73 QDVLRQDO
yang menggunakan chip komputer, dan lain-lain. Di Amerika Serikat ada orang-orang Kristen seperti itu. Mereka disebut “orang-orang Amish”. Mereka hidup dengan cara hidup orang-orang pada abad ke XVI. Mereka menolak mengendarai mobil, menggunakan telepon, membatasi penggunaan listrik, melarang menonton televisi,
dan lain-lain. Mereka menganggap kehidupan modern seperti itu dapat mengganggu dan memperlemah ikatan-ikatan kebersamaan mereka. Pakaian mereka pun sangat sederhana. Namun demikian, apakah menjadi orang Kristen berarti harus menolak segala-galanya? Menolak modernitas, menolak kemajuan teknologi, bahkan menolak kehadiran orang beragama lain?
Dr. T.B. Simatupang, seorang teolog awam Indonesia, yang pernah menjabat sebagai kepala staf Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan juga Ketua Dewan Gereja-gereja di Indonesia (sekarang PGI), ketua Dewan Gereja-gereja Asia, dan ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia, mencetuskan gagasannya tentang bagaimana orang Kristen seharusnya hidup di dunia dengan kewarganegaraan ganda – dunia dan sorga. Simatupang mengatakan bahwa orang Kristen harus hidup dengan “sikap positif, kritis, kreatif, dan realistis”. Maksudnya, orang Kristen harus berani berbeda pendapat dengan masyarakat di sekitarnya. Namun itu tidak berarti sekadar berbeda pendapat, sebab kita pun harus dapat bersikap positif apabila memang apa yang kita hadapi itu baik dan benar. Kita harus dapat bersikap kreatif dalam menghadapi situasi-situasi yang sulit, namun kita juga harus realistis dalam arti menyadari keterbatasan-keterbatasan yang ada pada kita. Hal ini cocok dengan apa yang dikatakan Reinhold Niebuhr, seorang teolog Amerika Serikat, dalam doanya:
Tuhan, berikan aku keteduhan hati
untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, Keberanian untuk mengubah hal-hal yang dapat kuubah, Dan hikmat untuk mengetahui perbedaannya.
Menjalani kehidupan dari hari ke hari, Menikmati satu saat pada setiap waktu,
Menerima penderitaan sebagai jalan menuju perdamaian,
Menerima, seperti yang Kristus lakukan, dunia yang penuh dosa ini, sebagaimana adanya, bukan seperti yang kuharapkan,
Percaya bahwa Ia akan membuat segala sesuatunya beres ELODDNXEHUVHUDKNHSDGDNHKHQGDN1\D
Agar aku cukup berbahagia di dalam hidup ini GDQWHUDPDWEDKDJLDEHUVDPD1\D
selama-lamanya, dalam kehidupan yang akan datang. Amin.
Dengan doanya ini, Niebuhr ingin menunjukkan kepada kita bahwa ada hal-hal yang harus kita lawan dan ubah, namun sebaliknya, ada pula yang tidak dapat kita ubah, karena mungkin waktunya belum tiba atau karena Allah justru ingin agar kita menerimanya. Bila kita mengetahui perbedaan antara keduanya, maka kita akan memperoleh kekuatan untuk melawan dan mengubah hal-hal yang dapat kita ubah, karena kita yakin dan percaya bahwa Allah ada bersama kita. Namun sebaliknya, kita juga akan mampu menerima dan bahkan menyambut perubahan-perubahan itu di dalam hidup kita karena kita tahu bahwa Allah justru menginginkan hal itu terjadi.
Nah, sulitnya kita seringkali tidak mempunyai hikmat yang cukup untuk mengetahui di mana perbedaannya. Umat manusia berulang kali jatuh di dalam kesalahan dalam mengenali perbedaan itu. Ketika Albert Einstein menemukan atom, dunia bersukacita karena sebuah pengetahuan baru berhasil ditemukan. Namun ketika pengetahuan itu digunakan untuk mengebom Hiroshima dan Nagasaki, dan jutaan orang tewas dan menderita, kita pun disadarkan bahwa ternyata pengetahuan itu dapat menjadi sesuatu yang berbahaya bagi kelangsungan umat manusia dan bumi ini. Itulah kesadaran yang membuat Vanunu menentang proyek pembangunan senjata nuklir Israel. Ketika ditanyai, senjata apa yang akan digunakan manusia dalam Perang Dunia III, Einstein menjawab, “Saya tidak tahu, tapi saya tahu senjata apa yang akan digunakan dalam Perang Dunia IV, yaitu kayu dan batu.”
Apakah perbedaan pendapat itu buruk? Perbedaan pendapat seringkali
PHQLPEXONDQ NRQÀLN GDQ NRQÀLN VHULQJNDOL GLQLODL QHJDWLI GDODP PDV\DUDNDW
kita. Akibatnya, kelompok dapat terjebak dalam apa yang disebut “groupthink”. Groupthink adalah suatu keadaan yang terjadi ketika semua orang setuju begitu saja atas keputusan yang diambil pimpinan karena kemalasan berpikir atau keengganan untuk berbeda pendapat dengan pimpinan atau mayoritas rekan dalam kelompok.
Sebuah contoh tentang groupthink adalah kasus penyerangan AS terhadap Kuba di Teluk Babi. Saat penyusunan rencana penyerangan itu semua pihak yakin bahwa Amerika pasti akan berhasil mengalahkan pemerintahan Fidel Castro karena para pemberontak pelarian Kuba dilatih oleh CIA, Lembaga Intelijen Amerika Serikat. Ternyata para pelarian Kuba itu dipukul mundur dan AS mengalami kekalahan yang memalukan.
.RQÀLNMXVWUXPHQXQMXNNDQNHEHUDQLDQRUDQJXQWXNEHUEHGDSHQGDSDW.HWLND
semua orang berpendapat sama dan tidak ada yang berani membantah, sebuah kelompok atau organisasi dapat terancam masuk ke jalan yang keliru. Namun ketika orang berani berpendapat lain, seperti yang dilakukan oleh Vanunu, orang diingatkan akan bahaya-bahaya yang mungkin terjadi bila suatu keputusan tetap dilaksanakan.
'LVLQLNLWDKDUXVPHPDKDPLEDKZDNRQÀLNWLGDNVHODOXQHJDWLI/HLJK5LFKDUGV VHRUDQJSDNDUGDODPVWXGLNRQÀLNPHQ\HEXWNDQDGDPDQIDDWNRQÀLN\DLWX .RQÀLN PHQGRURQJ SHPLNLUDQ EDUX .RQÀLN PHPEDQJNLWNDQ SHUWDQ\DDQ .RQÀLNPHPEDQJXQKXEXQJDQ.RQÀLNPHPEXNDSLNLUDQ.RQÀLNPHPHFDK
kebuntuan.
Sebagai orang Kristen, kita dan gereja selalu dipanggil untuk bersikap kritis dan tidak perlu takut untuk berbeda pendapat.
F. Gereja yang Bergumul di Dunia
Di atas kita sudah melihat bagaimana orang Kristen hidup dan menghadapi berbagai tantangan di dunia. Dalam 1 Petrus 2:9-12, kita sudah diingatkan bahwa “…sebagai pendatang dan perantau, [kita harus] menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.” Keinginan-keinginan-keinginan daging yang dimaksudkan di sini adalah hal-hal yang membuat kita keliru menempatkan prioritas kita. Kita lebih menghargai benda-benda di dalam hidup kita, ketimbang hal-hal yang lebih berharga dan berarti seperti keluarga kita, cinta kasih, sahabat-sahabat kita yang sejati, sukacita yang sungguh-sungguh. Akibatnya hidup kita menjadi dangkal dan hampa. Sebagai gereja Tuhan di muka bumi, kita dipanggil untuk memiliki
“…cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, VXSD\DDSDELODPHUHNDPHP¿WQDKNDPXVHEDJDLRUDQJGXUMDQDPHUHNDGDSDW melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka” (1Pet. 2:12).
Masalahnya, seringkali gereja lupa akan tugas dan pergumulannya ini. Gereja lupa bahwa ia dipanggil untuk mewujudkan perbuatan-perbuatan baik di dunia. Sebaliknya, ada gereja-gereja yang sibuk bertengkar di dalam. Terjadi saling berebut kekuasaan karena orang-orang di dalamnya ingin menjadi pemimpin dan penguasa. Gereja terpecah-belah, dan akibatnya muncullah gereja-gereja yang baru yang semata-mata hasil perpecahan.
Orang lupa bahwa Tuhan Yesus sendiri tidak suka bila orang saling memperebutkan kedudukan dan berusaha menonjolkan diri. Ia pernah mengatakan, “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (Mat. 20:16).
Ada pula gereja-gereja yang tidak peduli terhadap masyarakat di lingkungannya karena mereka ternyata tidak memeluk agama yang sama, atau bahkan memusuhinya. Terhadap keadaan ini, Tuhan Yesus justru mengajarkan,
46Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 47Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? 48Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Mat. 5:46-48).
Kent M. Keith, seorang aktivis mahasiswa, pada 1968 menulis “Perintah yang Paradoks” yang isinya demikian:
Orang seringkali tidak logis, tidak masuk akal, dan egois. Tetaplah kasihi mereka.
Bila engkau berbuat baik, orang menuduhmu egois atau mempunyai motif tersembunyi
Tetaplah berbuat baik.
Bila berhasil, engkau akan mendapatkan teman-teman palsu dan musuh sejati. Tetaplah mencapai keberhasilan.
Kebaikan yang kamu lakukan hari ini, akan dilupakan besok. Tetaplah lakukan kebaikan.
Kejujuran dan keterbukaan membuat engkau rentan. Tetaplah bertindak jujur dan terbuka.
Orang-orang paling besar dengan gagasan paling besar dapat dihancurkan oleh orang-orang paling kecil dengan pikiran yang paling kecil.
Tetaplah berpikir yang besar.
Orang membela para pecundang, namun hanya mengikuti para pemenang. Tetaplah bela para pecundang.
Apa yang engkau bangun bertahun-tahun dapat dihancurkan dalam semalam. Tetaplah membangun.
Orang membutuhkan pertolongan, namun mungkin akan menyerangmu bila kau tolong.
Tetaplah menolong mereka.
Berikan yang terbaik padamu kepada dunia, dan engkau akan ditendang sebagai balasannya.
Tetaplah berikan yang terbaik yang engkau miliki.
“Perintah yang Paradoks” ini benar-benar menunjukkan cara hidup yang asing di dunia. Mungkin dapat dikatakan bahwa “Perintah yang Paradoks” ini merupakan versi modern dari “Ucapan Berbahagia” yang Tuhan Yesus sampaikan dalam Khotbahnya di Bukit. Mestinya inilah yang menjadi pergumulan gereja dan orang Kristen untuk diberlakukannya di dalam hidupnya di dunia. Setujukah kamu?
G. Penilaian
Dalam penilaian ini guru mengajak siswa untuk memahami inti pembelajaran Bab 5, yaitu masalah pergumulan yang dihadapi gereja. Pergumulan yang terutama diungkapkan di sini didasarkan pada pemahaman mengenai keberadaan orang Kristen sebagai warga Kerajaan Sorga yang menuntut kita hidup dengan nilai-nilai yang seringkali berbeda dengan nilai-nilai yang ditawarkan oleh dunia. Perlu dicatat di sini bahwa nilai-nilai dunia tidak semuanya buruk. Kita mengakui bahwa ada hal-hal yang baik yang ditawarkan oleh dunia. Kemajuan dalam pelayanan kesehatan misalnya, sangat membantu dalam meningkatkan kualitas hidup manusia.
Kemajuan teknologi pun memberikan sumbangan positif dalam hidup manusia. Penggunaan kartu kredit, misalnya, banyak ditentang oleh kelompok-kelompok fundamentalis yang menganggap hal itu sebagai ciptaan iblis. Namun kita dapat melihat bahwa ternyata penggunaan kartu kredit dapat mencegah berbagai praktik korupsi, karena semua transaksi tercatat dengan terang-benderang, sehingga orang tidak dapat menerima suap tanpa dapat ditelusuri lewat catatan komputer, dan lain-lain.
Kemajuan teknologi komunikasi juga terbukti sangat menolong. Teknologi ini baru-baru ini dimanfaatkan dalam Pemilihan Presiden Indonesia pada 2014. Dengan catatan-catatan yang langsung diunggah (dimasukkan) ke dalam internet, orang tidak dapat mengubah-ubah data yang sudah masuk, sehingga kecurangan dapat sangat diminimalkan. Namun di pihak lain, kita juga tahu bahwa teknologi komunikasi dapat dipergunakan untuk hal-hal yang negatif. Misalnya, orang dapat menggunakan teknologi informasi untuk mengunggah foto-foto pacar atau istrinya dalam keadaan bugil ketika hubungan mereka memburuk atau malah putus. Jadi, teknologi ini seperti pisau yang bermata dua, yang dapat digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, tetapi juga untuk hal-hal yang mudarat.
1. Kadang-kadang memang tidak begitu mudah untuk mengetahui apa yang harus kita ubah dan apa yang harus kita pertahankan. Bagaimana dengan adat atau tradisi? Apakah semuanya baik? Bagaimana dengan tradisi pembayaran mahar perkawinan? Apakah itu baik? Ataukah justru menjadikan perempuan seperti barang dagangan yang sudah dibeli dengan mahar itu?
Bagaimana dengan gaya hidup modern kita? Manakah yang baik dan manakah yang buruk yang harus dibuang dan diganti? Lalu minta siswa menuliskan apa hal-hal baik yang harus dipertahankan dan yang harus diubah atau dibuang yang mereka temukan dalam hidup sehari-hari.
2. Ada begitu banyak tantangan yang dihadapi gereja dalam hidupnya di dunia. Kadang-kadang tantangan itu begitu berat sehingga gereja akhirnya memutuskan untuk ikut serta melakukannya. Tanyakan kepada siswa, apa yang harus dilakukan gereja ketika gereja dianiaya dan orang Kristen dipaksa meninggalkan imannya demi keselamatan nyawanya. Minta siswa membagikan pengalaman atau pengetahuannya tentang hal ini, dan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang Kristen.
3. Minta siswa mengisahkan sebuah pengambilan keputusan yang mereka lakukan atau tindakan yang kini mereka sesali telah mereka lakukan, yang mereka anggap bertentangan dengan cara hidup seorang warga Kerajaan Sorga. Mengapa mereka melakukan hal itu?
4. Mintalah siswa membagikan pengalamannya apabila mereka pernah menyaksikan atau mendengar tentang kasus pertikaian di dalam gereja. Apa yang akan mereka lakukan bila mereka sendiri menghadapi hal seperti itu?
H. Doa Penutup
Pada akhir bab ini, guru mengajak siswa untuk bersama-sama mengucapkan doa untuk dunia oleh John Birch, seorang penulis doa dari Wales, Inggris. Dalam doa ini kita semua diingatkan untuk terlibat dan mendoakan berbagai pihak yang bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan penting yang menyangkut kehidupan banyak orang.
Lewat doa penutup ini, guru mengajak siswa untuk mendoakan orang-orang yang bekerja dan berjuang untuk hal-hal yang berkenan kepada Allah dan demikian telah menjadi mitra Allah dalam menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah di muka bumi.
I. Penjelasan Bahan Alkitab
1. Matius 5:3-12
Bagian bacaan ini merupakan bagian dari apa yang biasa disebut “Khotbah di Bukit” oleh Yesus. Para pakar meragukan bahwa ucapan-ucapan ini memang disampaikan dalam khotbah Yesus di bukit, ataukah semuanya ini sebenarnya merupakan intisari dari ajaran Yesus. Betapapun juga, hal itu tidaklah begitu penting, sebab yang perlu kita perhatikan di sini adalah nilai-nilai yang Yesus sampaikan. Di sini Yesus mengajarkan hal-hal yang sama sekali berlawanan dengan apa yang biasanya kita peroleh dari dunia. Bagaimana mungkin orang yang miskin, yang berdukacita, yang lemah lembut, dst. berbahagia? Di sini Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang-orang inilah yang mengerti apa artinya berjalan dalam jalan Allah, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada kasih dan pemeliharaan-Nya. Di tengah-tengah kebohongan dan kepalsuan dunia orang-orang ini tidak akan puas sebelum menemukan kebenaran. Mereka adalah orang-orang berani membawa damai dan memperjuangkan kebenaran, meskipun mereka tahu bahwa hal itu dapat membuat mereka dianiaya. Mengapa demikian? Karena orang-orang ini percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar dan lebih dalam daripada apa yang dapat dilihat secara kasat mata, yaitu bahwa mereka akan memiliki Kerajaan Surga, sama seperti para nabi yang telah dianiaya sebelum mereka.
Dengan ajaran-ajaran seperti ini, tidaklah mengherankan apabila Donald Kraybill, seorang teolog AS, menyebutkan bahwa Kerajaan yang Yesus beritakan itu adalah Kerajaan yang sungsang, atau terbalik, karena nilai-nilainya sungguh terbalik dibandingkan nilai-nilai dunia.
2. Matius 5:46-48
Bagian bacaan ini masih merupakan bagian dari Khotbah di Bukit yang disampaikan Yesus dalam Matius 5-7. Di sini Yesus melanjutkan ajaran-Nya yang berlawanan 180 derajat dengan ajaran-ajaran dunia. Yesus menuntut kita berbeda dari dunia. Bahkan kita harus menjadi sempurna, kata-Nya. Dalam kesempurnaan itulah maka pengikut Kristus diajar bukan hanya mengasihi orang-orang yang mengasihinya, tetapi juga yang membenci dan memusuhinya. Ini adalah pengajaran
yang juga disampaikan oleh Rasul Paulus dalam Roma 12:20: “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!”
3. Matius 21:28-31
Dalam perumpamaan Tuhan Yesus ini, Ia mengajarkan kepada kita betapa pentingnya tindakan yang kita lakukan. Berkata-kata yang baik saja tidaklah cukup. Kata-kata harus diikuti dengan perbuatan. Ortodoksi (=ajaran yang benar) tidaklah cukup. Yang harus kita wujudkan adalah ortopraksis (=cara hidup dan praktik hidup yang benar). Hal itulah yang diperlihatkan oleh anak yang kedua, yang pertama-tama mengatakan tidak mau pergi ke kebun anggur ayahnya. Namun belakangan ia berubah pikiran dan kemudian pergi juga. Ini lebih baik daripada anak yang pertama yang menyatakan bersedia pergi, namun ternyata ia tidak pergi ke kebun anggur itu.
4. Filipi 3:17-21
Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi ini mengingatkan mereka bahwa mereka memiliki sebuah kewarga(-negaraan) yang lain. Orang Filipi tentu paham betul apa yang Paulus katakan. Filipi adalah koloni Roma, sehingga orang-orang Filipi hidup sebagai bangsa Romawi. Demikian pula orang Kristen seharusnya hidup sebagai warga Kerajaan Surga, karena mereka adalah milik Kristus. Sebagai warga Kerajaan Surga sudah seharusnyalah mereka hidup dengan cara hidup yang berbeda, yaitu cara hidup sesuai dengan Kerajaan Surga.
5. 1 Petrus 2:9-12
Seperti dalam Bab 1, di sini kita berjumpa kembali dengan ayat-ayat ini namun dengan konteks yang lebih luas. Meskipun menggunakan nama “Petrus”, kebanyakan pakar menyangsikan bahwa surat ini ditulis oleh Rasul Petrus, murid Yesus. Pertama, bahasa Yunani yang digunakan dalam surat ini terlalu canggih untuk seorang nelayan seperti Petrus. Kedua, surat ini berbicara tentang penganiayaan oleh Roma, yang diduga dilakukan oleh Kaisar Domitianus pada tahun 81 M. Artinya, sudah cukup lama sejak Yesus naik ke surga dan gereja berdiri. Kemungkinan besar Petrus sendiri sudah meninggal pada waktu itu.
Surat ini mengandung pesan yang berusaha menguatkan orang-orang Kristen yang mulai ditindas oleh Roma. Mereka diingatkan bahwa di dalam Kristus mereka telah menjadi manusia baru. Dulu mereka bukan umat Allah, tapi sekarang mereka umat Allah, dulu mereka tidak dikasihi, tapi sekarang beroleh belas kasihan (ay. 10). Dulu mereka orang biasa, sekarang menjadi bangsa yang terpilih, imamat yang rajawi, dan bangsa yang kudus, umat milik Allah sendiri (ay. 9). Dulu mereka tinggal di dalam kegelapan, sekarang mereka telah dipanggil keluar untuk masuk ke dalam terang Allah yang ajaib. Itulah sebabnya sekarang mereka harus menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang baru, sama sekali berbeda dibandingkan dengan di masa-masa sebelumnya. Inilah arti hidup baru. Inilah arti pertobatan – perubahan 180 derajat dari manusia lama menjadi manusia baru.
Dalam bahasan Surat Filipi 3:17-21 di atas telah disebutkan bahwa orang Kristen adalah warga Kerajaan Surga. Dalam Surat 1 Petrus 2:11 kita diingatkan bahwa adalah “pendatang dan perantau”. Artinya, kita hidup di dunia sebagai orang asing, karena memang kita tidak hidup dengan nilai dunia, melainkan nilai-nilai Kerajaan Surga (bdk. Mat. 5:3-12 di atas). Kembali di sini kita diimbau untuk
PHQMDJDFDUDKLGXSNLWDDJDUWHWDSEDLN³VXSD\DDSDELODPHUHNDPHP¿WQDKNDPX
sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” (2:12).