commit to user
C. Higiene Perusahaan
1. Kebisingan
Kebisingan yang terjadi di PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap sebagian besar di area kilang seperti FOC I, FOC II, LOC I, LOC II, LOC III, Utilities 05, Utilities 50, Utilities 500 dan KPC. Biasanya berasal dari generator, kompresor, boiler, pompa, Sea Water Destilation (SDW) yang sedang beroperasi serta berasal dari kebocoran steam.
a. FOC I
Tabel 3. Pengukuran Kebisingan di FOC I
No Jenis Alat Hasil Waktu
Pajanan
NAB Ket
1 Unit Fin-Fan 102,3 dBA 15 menit/hr 100 dBA >NAB 2 Unit Furnance 108,8 dBA 15 menit/hr 100 dBA >NAB 3 Unit Pompa 107,3 dBA 15 menit/hr 100 dBA >NAB 4 Unit Valve 77,5 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 5 Unit Compresor 95,6 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB
commit to user
b. FOC II
Tabel 4. Pengukuran Kebisingan di FOC II
No Jenis Alat Hasil Waktu
Pajanan
NAB Ket 1 Unit Fin-Fan 95,0 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 2 Unit Furnance 96,6 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 3 Unit Pompa 96,2 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 4 Unit Valve 97,3 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 5 Unit Compresor 98,8 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB
6 Strainer 89,9 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB
7 Flare, Line Man
dan Jalan
102,8 dBA 15 menit/hr 100 dBA >NAB
Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU IV Tahun 2013 c. LOC I
Tabel 5. Pengukuran Kebisingan di LOC I
No Jenis Alat Hasil Waktu
Pajanan
NAB Ket 1 Unit Fin-Fan 88,8 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 2 Unit Furnance 90,5 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 3 Unit Pompa 94,2 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 4 Unit Valve 82,5 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 5 Unit Compresor 103,0 dBA 15 menit/hr 100 dBA >NAB 6 Unit Strainer 86,9 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 7 Unit Column 78,0 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 8 Flare, Line Man
dan Jalan
87,0 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB
Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU IV Tahun 2013 d. LOC II
Tabel 6. Pengukuran Kebisingan di LOC II
No Jenis Alat Hasil Waktu
Pajanan
NAB Ket 1 Unit Fin-Fan 94,4 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 2 Unit Furnance 92,2 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 3 Unit Pompa 94,1 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 4 Unit Valve 83,3 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 5 Unit Strainer 88,7 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 6 Flare, Line Man
dan Jalan
92,6 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB
e. LOC III
Tabel 7. Pengukuran Kebisingan di LOC III
No Jenis Alat Hasil Waktu
Pajanan
NAB Ket 1 Unit Fin-Fan 90,0 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 2 Unit Furnance 92,0 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 3 Unit Pompa 90,8 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 4 Unit Valve 102,2 dBA 15 menit/hr 100 dBA >NAB 5 Unit Strainer 80,5 dBA 15 menit/hr 100 dBA <NAB 6 Flare, Line Man
dan Jalan
89,0 dBA 15 menit/hr 100 dBA >NAB
Sumber : PT. Pertamina (Persero) RU IV Tahun 2013
Perusahaan telah melakukan pengendalian untuk mengurangi adanya kebisingan, diantaranya adalah :
1) Memberikan peredaman pada sumber bising.
2) Penyediaan ruang operator yang kedap terhadap suara.
3) Menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) untuk mengurangi pemaparan kebisingan pada tenaga kerja seperti ear plug dan ear muff di unit-unit yang intensitas kebisingannya telah melebihi Nilai Ambang Batas (NAB).
2. Penerangan
Penerangan di PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap berasal dari penerangan alami dan penerangan buatan. Di area proses paling banyak menggunakan penerangan alami dan penerangan buatan sebagian besar berada di ruang kantor. Pada malam hari, seluruh penerangan digantikan pada penerangan buatan. PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap mempunyai pembangkit listrik sendiri, hal tersebut dimaksudkan agar suplai
commit to user
laporan tahun 2012 hasil pengukuran penerangan tertinggi di area gudang TA dan overhaul sebesar 2500 lux untuk pekerjaan membedakan barang-barang yang sangat halus dengan kontras yang sangat kurang yaitu melebihi NAB, meski demikian perusahaan selalu mengadakan pengukuran intensitas penerangan menggunakan Lux Meter, mapping pencahayaan secara rutin setiap 6 bulan sekali dan pemeriksaan kesehatan mata.
3. Iklim Kerja
Sumber panas pada tempat kerja di Pertamina berasal dari proses produksi dan cuaca kerja. Di PT Pertamina (Persero) RU IV sudah melakukan pengukuran terhadap iklim kerja di area kilang dengan parameter ISBB (Indeks Suhu Bola Basah). Hasil dari pengukuran tersebut
melebihi NAB yang sebesar 25oC karena beban kerjanya sedang.
Pengendalian yang sudah dilakukan PT. Pertamina (Persero) RU IV adalah dengan melakukan pengukuran iklim kerja, pemasangan Air Conditioning (AC) pada control room dan perkantoran untuk kenyamanan tenaga kerja serta menyediakan air minum kemasan untuk dibawa ke lokasi kerja.
4. Getaran Mekanis
Dari pengukuran pada tiap-tiap mesin yang digunakan tersebut apabila dibandingkan dengan Nilai Ambang Batas tingkat getaran maka hasilnya berada di bawah Nilai Ambang Batas. Sebagai standar pembanding dari hasil pengukuran yang dilakukan adalah Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja. Peneliti tidak dapat memberikan hasil pengukuran, karena data tidak boleh dikeluarkan.
5. Radiasi Pengion
Area kilang RU IV Cilacap memiliki beberapa tempat yang menggunakan zat radioaktif, yaitu : FOC II (7 zat radioaktif), Paraxylene (7 zat radioaktif), laboratorium (1 zat radioaktif), Bunker (2 zat radioaktif), Rumak Sakit Pertamina Cilacap (3 zat radioaktif).
Paparan radiasi di kilang FOC II PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap termasuk klasifikasi dalam Bahaya radiasi eksterna yang merupakan konsekuensi dari pemakai zat radioaktif yang termasuk dalam kategori sumber terbungkus, sehingga selalu berada di luar tubuh dan hanya radiasinya saja yang dapat mengenai tubuh pemakai atau pekerja lain yang berada di medan radiasi sumber. Pada kilang FOC II dalam membantu pengolahan minyak mentah menggunakan tujuh zat radioaktif yang terletak pada bagian CCR (5 buah) dan Reaktor (2 buah). Sehingga dengan adanya tujuh zat radioaktif maka pengukuran paparan zat radioaktif juga dilakukan pada tujuh titik sesuai dengan letak zat radioaktif tersebut. Sumber radiasi terdapat di 4 Lokasi (FOC II, KPC, Bunker, Laboratory). Dengan hasil pengukuran sebesar 0,013 - 0,29 mR/th yang dilakukan pada reaktor. Sehingga jika dibandingkan dengan NAB (50 mR/hr) maka besar paparan radiasi pada sumber zat radiasi masih aman.
Untuk mencegah bahaya radiasi pengion bagi tenaga kerja maka PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap melakukan pengendalian dengan cara aktif dan pasif. Pengendalian radiasi secara aktif dilakukan dengan cara pengukuran menggunakan alat yang namanya surveymeter dimana
commit to user
dilakukan monitoring setiap 3 bulan sekali. Sedangkan pengendalian secara pasif yaitu penggunaan TLD badge yang diberikan ke setiap pekerja. TLD
badge digunakan oleh pekerja dengan menaruh di bagian tubuh pekerja
dimana dilakukan pengujian TLD badge tiap 3 bulan sekali di BATAN. Dengan adanya pengendalian secara aktif dan pasif ini membuat pekerja merasa aman dari paparan radiasi yang ada.
6. Biologi
PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap melakukan pemeriksaan sumber air minum dan air bersih yang telah diperiksa secara bakteriologi dan secara kimiawi. PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap juga melakukan pengendalian terhadap vektor seperti kucing, ular, musang, tikus, nyamuk dan lain-lain dengan cara fogging.
7. Kimia
Setiap unit area proses di kilang dan control roomnya mempunyai faktor kimia terutama gas yang berbeda-beda. Berikut ini gas-gas yang terdeteksi antara lain :
a. Benzene, Toluene, Xylene (BTX)
BTX di KPC dan laboratory kilang. Hasil monitoring di area KPC adalah 0,5 ppm selama pengukuran 7 jam kerja. Di daerah KPC sudah terpasang detektor monitoring benzene. Jadi dapat diketahui kadar BTX setiap saat. Sedangkan pada laboratory kilang hasil monitoring adalah 0,5 – 10 ppm. Pengukuran gas tersebut menggunakan Gas Tube Detector (Passive dan active Dosy Tube).
Pekerja yang bekerja di Kilang Paraxylene terkena paparan yang tidak spesifik dari benzene saja, tetapi kemungkinan juga dari toluen,
xylen, logam berat (Pb) dan lingkungan fisik lainnya (radiasi) yang dapat
memberikan gambaran kelainan darah seperti akibat paparan benzene. Paparan kronis benzene akan memberikan gambaran leucopenia, trombositopenia, anemia, atau kombinasi dari berbagai kelainan darah.
Untuk pengendaliannya, PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap telah memberikan penjelasan kepada setiap pekrja yang memasuki area tersebut, harus menggunakan respirator (masker).
b. H2S
Gas H2S terdeteksi di SRU dan LOC III. Pengukuran H2S yang ada
di SRU dan LOC III menggunakan Gas Tube Detector. Gas H2S adalah
rumus kimia dari gas Hidrogen Sulfida yang terbentuk dari 2 unsur
Hidrogen dan 1 unsur Sulfur. Gas H2S disebut juga gas telur busuk, gas
asam, asam belerang atau uap bau. Hasil monitoring di area LOC III adalah 10 ppm dengan pengukuran 7 jam kerja. Di PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap mempunyai kilang Sulfur Recovery dengan hasil monitoring di area SRU adalah 10 ppm.
Tindakan pengendalian PT. Pertamina (Persero) RU IV Cilacap
commit to user
1) Entry Card
Entry Card merupakan suatu kartu yang ditukarkan dengan bedge
di ruang control room SRU. Entry Card ini memiliki beberapa fungsi, antara lain :
a) Untuk mengetahui beberapa jumlah orang yang ada di dalam area kilang SRU.
b) Untuk mengetahui identitas orang yang ada di dalam area kilang. c) Sebagai langkah untuk mempermudah tindakan evekuasi jika
terjadi kebocoran di dalam kilang.
d) Kartu ini (Entry Card) harus dipakai oleh setiap orang yang akan memasuki kilang SRU.
2) Windshock
Suatu alat yang digunakan untuk mengetahui arah angin yang ada
di area kilang khususnya pada saat terjadinya kebocoran gas H2S yaitu
untuk melakukan tindakan memotong arah angin.
3) Personal Gas Detector H2S
Personal gas detector H2S merupakan alat yang berfungsi untuk
mengetahui paparan gas H2S secara personal dan bukan merupakan
alat ukur untuk mengetahui tingkat konsentrasi gas H2S.
Personal gas detector H2S di setting sesuai standar TWA dan STEL dan akan memberi peringatan atau alarm bila konsentrasi yang
diterima pekerja melebihi NAB H2S pada 10 ppm (TWA) akan alarm
disediakan oleh K3LL dengan maksud melindungi pekerja dari risiko
bahaya aspek K3 sehingga pekerja merasa aman di area H2S.
4) Continous H2S Monitor (Fix Monitoring)
Continous H2S Monitor untuk mengetahui besarnya paparan gas
H2S yang ada di seluruh kompleks Sulfur Recovery Unit, Continous
H2S Monitor dapat mengetahui besarnya konsentrasi gas H2S yang
ada di lingkungan area setiap saat. Apabila terdapat H2S dengan
konsentrasi hingga 10 ppm atau lebih maka beacon yang tersambung
dengan Continous H2S Monitor akan berbunyi dan seluruh personil
yang ada di area kilang SRU harus meninggalkan area tersebut dengan cara memotong arah angin yang dapat dilihat pada windshock. Sedangkan pekerja yang ada di control room harus mereset control
panel gas H2S dengan segera, apabila alarm masih berbunyi, maka pekerja harus segera mencari letak dari kebocoran. Dan apabila hal ini sulit untuk dilakukan, maka pekerja dapat mematikan unit untuk sementara.
5) Pagar pembatas
Pagar pembatas ini merupakan tindakan paling awal dalam
mengurangi banyaknya orang yang dapat terpapar gas H2S di area
SRU. Sehingga hanya orang yang berkepentingan saja yang dapat masuk ke area kilang SRU. Pagar ini juga disertai papan peringatan yang berada tepat di pagar masuk.
commit to user
6) Papan Peringatan
Papan peringatan ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan pekerja yang ada di area SRU pada saat melakukan pekerjaannya.
Apabila tindakan pengendalian yang sudah direncanakan ternyata mengalami kegagalan, maka untuk menangani secara dini apabila terjadi kecelakaan seperti kebocoran, maka di SRU telah disediakan alat-alat keselamatan seperti :
a) Safety shower, digunakan untuk mengguyur badan atau bagian tubuh yang terkena bahan kimia berbahaya. Kedua alat ini ditempatkan di titik-titik rawan yang memungkinkan mudah
terkena bahan-bahan kimia ataupun uap gas berbahaya seperti H2S.
b) Eye wash station, digunakan untuk menyiram bagian tubuh khususnya mata, apabila terjadi kecelakaan seperti terkena
bahan-bahan kimia atau terpapar H2S. Karena sifat gas H2S yang dapat
mengakibatkan iritasi pada mata, maka Eye wash station sangat
diperlukan untuk mengantisipasi adanya paparan gas H2S pada
mata. Di area kilang SRU terdapat 2 safety shower dan 2 Eye wash
station, hanya saja tidak terdapat papan petunjuk mengenai letak safety shower dan Eye wash station. Karena dalam darurat pekerja
akan panik dan lupa mengenai letak safety shower dan Eye wash
c) Self Contained Breathing Aparatus dan Emergency Live Support
Aparatus
Self Contained Breathing Aparatus (SCBA) tersedia didalam
ruangan SRU yang berjumlah 6 buah dengan tekanan 200 bar yang dimungkinkan dapat digunakan selama kurang lebih 45 menit. Selain itu juga tersedia ELSA (Emergency Live Support Aparatus) tersedia di lapangan area kilang 6 buah dan di dalam ruang SRU sebanyak 3 buah. ELSA memiliki tekanan 207 bar yang memungkinkan dapat digunakan selama 15 menit. Kedua alat bantu pernapasan ini dapat digunakan untuk menyelamatkan personil yang mengalami kecelakaan atau mengisolasi kebocoran peralatan atau perpipaan.
d) Fire Hydrant dan Estinguisher
Dengan melihat potensi bahaya kebakaran dari gas H2S yang
memiliki sifat flammable, maka di area SRU telah disediakan fire
hydrant yang tersambung langsung dengan pompa yang ada di area
kilang 63. Fire Hydrant ini memiliki tekanan hingga 10 kg/cm2,
Estinguisher dalam kilang PT. Pertamina (Persero) Refinery Unit
IV Cilacap terdapat beberapa jenis. Estinguisher yang berupa APAR (Alat Pemadam Api Ringan) memiliki 2 (dua) jenis yaitu
APAR (Alat Pemadam Api Ringan) yang berisi CO2 dan APAR
yang berisi Dry Powder. Selain APAR juga terdapat jenis alat pemadam FM 200 yang digunakan untuk memadamkan api apabila
commit to user
terjadi kebakaran di daerah sub station (SS) yang merupakan area sumber listrik. Di dalam ruang SRU terdapat 3 buah FM 200.