• Tidak ada hasil yang ditemukan

PDB/PDRB Hijau (Green GDP)

3.6. PDB/PDRB Hijau (Green GDP)

Penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB) dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dilakukan hingga saat ini baru menghitung nilai total barang dan jasa akhir (final product) yang memberikan gambaran mengenai struktur perekonomian dan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. PDB/PDRB konvensional ini dikenal dengan PDB/PDRB cokelat (Brown GDP). PDRB belum memasukkan aspek penipisan sumber daya alam (deplesi) dan kerusakan lingkungan (degradasi). Sumber daya alam yang dieksploitasi dan menjadi input pada kegiatan ekonomi tidak pernah dihitung nilai penyusutannya. Demikian juga dengan kerusakan dan pencemaran lingkungan yang memerlukan biaya pemulihan dan pemeliharaan tidak pernah dihitung sebagai biaya yang seharusnya mengurangi besaran pendapatan

Buku sistem pendapatan nasional, SNA 2008, membahas tentang Sistem Pendapatan Nasional yang diperluas dengan memasukkan komponen penipisan sumber daya alam dengan degradasi lingkungan. Integrasi PDRB dengan penipisan sumber daya alam dan degradasi lingkungan dapat dilakukan dengan cara membuat neraca terpisah sebagai bagian dari sistem pendapatan nasional. Neraca terpisah atau neraca satelit ini merupakan suatu neraca yang mengintegrasikan neraca pendapatan nasional dan neraca lingkungan yang dinamakan

Satellite System for Integrated Environmental and Economic Accounting (SEEA). Dengan

kata lain, SEEA merupakan perluasan sistem pendapatan nasional yang memasukkan unsur sumber daya alam dan lingkungan. Aktivitas ekonomi membutuhkan sumber daya alam sebagai aset produksi, sehingga di dalam kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa tidak saja menggunakan aset buatan manusia yang berpengaruh (misalnya mesin-mesin, gedung, alat transpor) tetapi juga aset alam (sumber daya mineral, sumber biota alam seperti hutan, ikan, udara, air, tanah).

Dalam SEEA, aset alam dibagi atas dua bagian yaitu aset alam yang bersifat ekonomis dan yang tidak bersifat ekonomis. Aset alam ekonomis adalah aset alam yang keberadaannya telah bisa dikontrol oleh pemiliknya. Hak kepemilikan ini biasanya telah diatur secara resmi oleh pemerintah, dikuasai oleh para pelaku ekonomi. Aset alam ekonomis apabila diputuskan untuk diolah dalam proses produksi akan memberikan keuntungan bagi pemiliknya. Contoh aset alam ekonomis adalah barang-barang fisik dan mineral (minyak bumi, gas alam, batu bara, timah dan tembaga) yang siap ditambang, hutan yang dikuasai oleh pengusaha hutan (HPH), tanah pertanian, air dalam reservoir, ikan dalam kolam, tambak, danau dan laut yang dikuasai.

Selanjutnya aset alam yang non ekonomis atau disebut juga sebagai aset lingkungan adalah semua aset yang keberadaannya di luar kontrol manusia, atau terjadi secara alamiah. Contoh aset ini adalah barang-barang mineral yang sudah diidentifikasi keberadaannya namun secara ekonomis belum dapat ditambang, ikan dalam laut lepas, flora dan fauna liar, kayu pada areal hutan dan sebagainya. Aset lingkungan ini biasanya tidak diketahui besaran stoknya, namun setiap pengambilan barang-barang alam ini untuk kemudian diolah, akan mengurangi stok di alam atau menipiskan persediaan cadangan dan sekaligus akan membawa dampak pada penurunan kualitas lingkungan sehubungan dengan kegiatan pengambilannya.

Pemakaian aset alam ekonomis dan aset lingkungan untuk kegiatan produksi dalam SEEA diperhitungkan sebagai komponen penyusutan seperti halnya penyusutan pada barang modal tetap. Dalam PDB konvensional, penyusutan ini tidak diperhitungkan sehingga pemakaian aset alam tersebut tidak mempengaruhi besaran PDB. Apabila penyusutan sumber daya alam dan degradasi lingkungan yang timbul karena kegiatan ekonomi diperhitungkan sebagai unsur pengurang dari PDB konvensional (Brown GDP), akan menjadi

31 Regional Neto 2 (PDRN 2). Konsep inilah kemudian yang diadopsi oleh BPS dalam menghitung PDB Hijau (Green GDP).

Secara nasional, BPS telah melakukan studi untuk menghitung Produk Domestik Neto 2 (PDN2). Sebelum menghitung PDN2, terlebih dahulu dihitung PDN1, yaitu Produk Domestik Neto dikurangi dengan deplesi sumber daya alam. Sumber daya alam yang dicakup dalam studi meliputi sumber daya hutan dan sumber daya mineral yang terdiri dari minyak bumi, gas alam, batubara, bauksit, timah, emas, perak dan bijih nikel. Selanjutnya dihitung nilai PDN2, yaitu PDN1 dikurangi dengan degradasi lingkungan. Degradasi lingkungan dalam studi dihitung dengan pendekatan adanya emisi gas rumah kaca (GRK) yang merupakan dampak negatif dari aktivitas ekonomi. Gas rumah kaca yang dihitung hanya meliputi CO2 dan CH4 yang meliputi deforestasi, kerusakan hutan dan kebakaran hutan, kerusakan lahan sawah (CH4), penggunaan pupuk urea (CO2), konsumsi bensin, solar, minyak tanah, LPG, batubara dan briket batubara untuk industri dan transportasi (BPS, 2012). Namun studi yang dilakukan oleh BPS ini hanya mengukur PDB hijau pada level nasional, belum mendistribusikannya pada level provinsi.

Tabel 16 Hasil Analisis BPS dalam Penghitungan PDB Hijau

Uraian 2005 2006 2007 2008 2009 2010 PDB 2,774,281 3,339,217 3,950,893 4,948,688 5,603,871 6,422,918 PDN 2,635,567 3,172,256 3,753,349 4,701,254 5,323,678 6,101,772 PDN1 2,463,798 3,001,153 3,563,258 4,445,758 5,096,554 5,853,609 PDN2 2,387,578 2,938,687 3,512,469 4,376,022 4,958,581 5,786,735 (PDN / PDB) x 100 95.00 95.00 95.00 95.00 95.00 95.00 (PDN1 / PDB) x 100 88.81 89.88 90.19 89.84 90.95 91.14 (PDN2 / PDB) x 100 86.06 88.01 88.90 88.43 88.48 90.10 Sumber : BPS (2012)

Pada kajian yang lain, Kementrian Lingkungan Hidup bekerja sama dengan Dannish

International Development Agency (DANIDA), melalui kegiatan Environmental Support Programme (ESP), juga telah memulai proyek percontohan untuk memperkirakan PDRB

hijau di tingkat lokal sebagai langkah awal untuk melaksanakan perhitungan PDRB dan PDB Hijau. Kegiatan diawali dengan diskusi kelompok terfokus / FGD yang diadakan di Jakarta dengan melibatkan banyak ahli yang sebelumnya telah terlibat dalam penghitungan PDRB dan PDB di Indonesia, ahli yang memiliki latar belakang dan pengalaman dalam pengelolaan lingkungan, dan staf pemerintah dari berbagai kementrian yang telah menggunakan angka PDRB/PDB.

Untuk tujuan uji coba metodologi, pemerintah daerah yang dipilih adalah Provinsi Bali dengan alasan adanya kesediaan pemerintah daerah untuk mendukung uji coba, ketersediaan data, dan tersedianya sumber daya manusia yang telah mengikuti pelatihan tentang cara membuat PDRB hijau. Dari proyek percontohan, pelajaran, ide-ide dan metode yang telah diperoleh dan dapat diterapkan dalam menciptakan PDRB Hijau Provinsi Bali dan PDB Hijau Indonesia.

Kerangka umum yang dipergunakan dalam studi DANIDA-KLH hampir sama dengan yang dipergunakan oleh BPS, dimana PDRB/PDB Hijau setara dengan nilai PDRB/PDB konvensional dikurangi nilai total deplesi sumber daya alam dan degradasi jasa lingkungan. Perbedaan yang paling mendasar antara penghitungan adalah penempatan komponen penyusutan modal buatan (depresiasi modal buatan). BPS memasukkan komponen ini sebagai pengurang PDB/PDRB konvensional, sedangkan DANIDA-KLH melakukan yang

32 sebaliknya. Tidak dimasukkannya komponen ini didasari oleh alasan bahwa PDRB/PDB Hijau berkaitan dengan produk domestik bruto (PDB), bukan produk nasional bruto (national

domestic product/NDP). Dengan demikian, secara matematis, perhitungan PDB/PDRB Hijau

yang dilakukan oleh DANIDA-KLH merupakan hasil pengurangan antara PDRB Konvensional dengan deplesi sumber daya tak terbarukan (mineral dan batubara), deplesi sumber daya terbarukan (kehutanan dan perikanan) dan degradasi lingkungan.

Dalam studi kasus di Provinsi Bali, nilai CGRDP Provinsi Bali diperoleh dari publikasi yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. Perhitungan penipisan/deplesi sumber daya tak terbarukan (pertambangan dan produk penggalian seperti batu, pasir dan kerikil)akan diperoleh dengan mengalikan volume fisik produk di ekstraksi dengan masing-masing harga per unit atau rente ekonomi, sedangkan menipisnya sumber daya alam terbarukan (kayu, ikan dan air) dapat ditemukan dengan mengalikan total komoditas sumber daya yang di ekstrak dengan harga satuannya masing-masing.

Degradasi lingkungan dibedakan menjadi degradasi sumber daya lahan, sumber daya air, dan sumber daya udara. Degradasi lahan terkait dengan adanya kegiatan penggalian, konversi lahan dan penurunan kesuburan tanah yang menyebabkan turunnya daya dukung lingkungan. Dalam penghitungan PDRB Hijau Provinsi Bali, degradasi lahan dihitung dari lahan kritis yang disebabkan oleh galian C (penggalian pasir dan kerikil), penurunan kesuburan lahan pertanian akibat eksploitasi pertanian, serta penurunan fungsi lingkungan akibat adanya konversi lahan. Degradasi sumber daya udara dihitung berdasarkan penurunan kualitas udara karena CO2 yang berasal konsumsi bahan bakar untuk kendaraan bermotor (transportasi) dan konsumsi rumah tangga. Komponen lain yang menjadi bagian dari penghitungan degradasi sumber daya udara adalah yang berasal dari gas methan (CH4) yang berasal dari pertanian dan peternakan. Degradasi lingkungan juga memperhitungkan penurunan kualitas air dan hutan yang terdegradasi akibat illegal logging.

Tabel 17 PDRB Hijau Bali, 2010

No. Item Juta Rupiah

1. PDRB konvensional (Brown GRDP) 66.690.598,00

2. Deplesi Sumber Daya Alam 1.776.471,00

3. PDRB Semi Hijau (Semi Green GRDP) 64.914.127,00

4. Degradasi lingkungan 1.251.732,02

5. PDRB Hijau (Green GRDP) 63.662.394,98

6. Penduduk Pertengahan tahun 2010 3.890.757

7. PDRB Hijau per Kapita 16,36

8. PDRB Konvensional per Kapita 17,14

Sumber : DANIDA 2012

Metode yang dipergunakan untuk menghitung PDRB Hijau di Provinsi Bali ini kemudian diterapkan untuk menghitung PDB hijau pada tingkat nasional. Namun upaya untuk melakukan hal ini masih menghadapi banyak kesulitan. Isu tentang ketersediaan data di seluruh wilayah dan lintas sektor menjadi kendala utama. Data yang dibutuhkan tidak selalu tersedia sesuai kebutuhan studi PDB Hijau. Selain deplesi produk yang sama mungkin memiliki satuan pengukuran yang berbeda,juga banyak data yang tidak tersedia karena penelitian terkait dengan penilaian terhadap pencemaran lingkungan dan degradasi sangat terbatas.

Dokumen terkait