DZOHIR DAN MU'AWWAL
HIKMAH NASKH :
Naskh mempunyai banyak hikmah diant aranya :
1. Memelihara maslahat -maslahat para hamba dengan disyariat kannya apa yang lebih bermanf aat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka.
2. Berkembangnya syari'at sedikit demi sedikit hingga mencapai kesempurnaan.
3. Uj ian bagi para mukallaf t erhadap kesiapan mereka unt uk menerima perubahan suat u hukum kepada yang lain, dan keridho'an mereka t erhadap hal t ersebut .
4. Uj ian bagi para mukallaf unt uk menegakkan t ugas bersyukur j ika naskh
it u kepada hukum yang lebih ringan, dan t ugas unt uk bersabar j ika naskh
it u kepada hukum yang lebih berat .
َ
ﻷﺍ
ﺧ
ﺒ
ﺭﺎ
AL-AKHBAR
DEFINISI KHOBAR :Khobar (ﱪﳋﺍ) secara bahasa : berit a (ﺄﺒﻨﻟﺍ).
Yang dimaksud di sini adalah :
ﻒﺻﻭ
ﻭﺃ
ﺮﻳﺮﻘﺗ
ﻭﺃ
ﻞﻌﻓ
ﻭﺃ
ﻝﻮﻗ
ﻦﻣ
ﻢﻠﺳﻭﹼ
ﻪﻴﻠﻋ
ﷲﺍ
ﻰﹼﻠﺻ
ﱯﻨﻟﺍﱃﺇ
ﻒﻴﺿﺃ
ﺎﻣ
"Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam dari perkataan atau perbuatan atau taqrir atau sifat."
Dan t elah berlalu penj elasan t ent ang ahkam lebih dari sekali.
Adapun perbuat an, maka sesungguhnya perbuat an Rosullulloh shollallohu
alaihi wa sallam ada beberapa macam :
Yang pertama : yang dilakukannya berupa kebiasaan, sepert i makan, minum, dan t idur, maka secara dzat nya perbuat an ini t idak ada hukumnya, akan t et api t erkadang perbuat an yang sif at nya kebiasaan t ersebut diperint ahkan at au dilarang karena suat u sebab, dan t erkadang memiliki sif at yang dit unt ut sepert i makan dengan t angan kanan, at au larangan sepert i makan dengan t angan kiri.
Yang kedua : apa yang dilakukan sesuai dengan adat , sepert i sif at pakaian maka hal ini mubah dalam bat asan dzat nya, dan t erkadang hal t ersebut diperint ahkan at au dilarang karena suat u sebab.
Yang ketiga : apa yang dilakukan Nabi shollallohu alaihi wa sallam dalam bent uk khushushiyyah (kekhususan), maka hal it u khusus bagi beliau, sepert i puasa wishol dan nikah dengan menghibahkan diri.
Dan t idaklah sesuat u perbuat an dihukumi dengan khushushiyyah kecuali dengan dalil (yang menunj ukkan bahwa hal t ersebut adalah kekhususan beliau, pent ), karena hukum asalnya adalah mengikut inya.
Yang keempat : apa yang dilakukan Nabi shollallohu alaihi wa sallam
secara ta'abbudi, maka ini waj ib bagi beliau sampai perbuat an t ersebut disampaikan karena waj ibnya menyampaikan, kemudian hukumnya menj adi
mandub (must ahab/ sunnah, pent ) bagi beliau dan bagi kit a berdasarkan
perkat aan yang roj ih, hal t ersebut dikarenakan bahwa perbuat an beliau yang
ta'abuddiyah menunj ukkan at as disyari'at kannya perbuat an t ersebut , dan
pada asalnya t idak ada dosa bagi yang meninggalkannya, maka perbuat an it u disyari'at kan dan t idak ada dosa dalam meninggalkannya, ini adalah hakikat
mandub.
Cont oh dari hal t ersebut adalah : hadit s Aisyah rodhiyallohu anha
bahwasanya dia dit anya t ent ang dengan apa Nabi shollallohu alaihi wa sallam
memulai masuk rumahnya? Ia berkat a : "dengan siwak", t idaklah siwak ket ika masuk rumah kecuali hanya sekedar perbuat an beliau, maka perbuat an t ersebut menj adi mandub.
Cont oh yang lain adalah : Nabi shollallohu alaihi wa sallam menyela- nyela j enggot nya di dalam berwudhu. Maka menyela-nyela j enggot t idak masuk dalam membasuh waj ah, sehingga hal ini menj adi penj elas t erhadap sesuat u yang muj mal dan hanya saj a hal t ersebut sekedar perbuat an beliau,
Yang kelima : apa-apa yang dilakukan beliau sebagai penj elas dari kemuj malan (keumuman) nash-nash al-Kit ab dan as-Sunnah, maka perbuat an t ersebut waj ib at as beliau sampai perbuat an t ersebut dij elaskan karena waj ibnya menyampaikannya, kemudian hukum nash t ersebut menj adi mubayyan bagi beliau dan bagi kit a, j ika hukumnya waj ib maka perbuat an t ersebut hukumnya waj ib dan j ika hukumnya mandub maka perbuat an t ersebut hukumnya mandub.
Cont oh yang waj ib adalah : perbuat an-perbuat an dalam sholat yang sif at nya waj ib yang Nabi shollallohu alaihi wa sallam melakukannya sebagai penj elas t erhadap f irman Alloh ta'ala :
ﹶﺓﻼﺼﻟﺍ
ﺍﻮﻤﻴِﻗﹶﺃﻭ
"Dan dirikanlah sholat" [ QS. Al-Baqoroh : 43]
Dan cont oh yang mandub : sholat nya Nabi shollallohu alaihi wa sallam
dua rokaat di belakang maqom Ibrohim set elah selesai dari t howaf sebagai penj elas f irman Alloh ta'ala :
ﻰﹼﻠﺼﻣ
ﻢﻴِﻫﺍﺮﺑِﺇِﻡﺎﹶﻘﻣ
ﻦِﻣ
ﺍﻭﹸﺬِﺨﺗﺍﻭ
"Dan jadikanlah sebagian maqom Ibrahim tempat shalat. " [ QS. Al- Baqoroh : 125]
Yang mana Nabi shollallohu alaihi wa sallam mendat angi maqom Ibrohim dan beliau membaca ayat ini, maka sholat dua roka'at di belakang maqom Ibrohim adalah sunnah.
Adapun taqrir (perset uj uan) Nabi Shollallohu alaihi wa sallam at as sesuat u maka hal t ersebut menunj ukkan at as bolehnya perbuat an it u dari sisi yang beliau set uj ui, baik berupa perkat aan at aupun perbuat an.
Cont oh perset uj uan beliau at as perkat aan : perset uj uan beliau t erhadap seorang budak wanit a yang beliau bert anya kepadanya : "Dimana Alloh?" ia berkat a : "Di at as langit ".
Cont oh perset uj uan beliau at as perbuat an adalah : perset uj uan beliau t erhadap orang yang ikut berperang yang membaca Al-Qur'an dalam sholat nya unt uk t eman-t emannya kemudian ia mengakhirinya dengan bacaan: " ﻪـﱠﻠﻟﺍﻮﻫﹾﻞﹸﻗ ﺪـﺣﹶﺃ"[ QS. Al-Ikhlash : 1] , maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkat a : "bert anyalah kepadanya, kenapa ia melakukannya?" kemudian para shohabat menanyainya, maka ia menj awab : "karena dalam ayat t ersebut ada sif at Ar- Rohman dan aku senang membacanya" Lalu Nabi shollallohu alaihi wa sallam
berkat a : "kabarkan kepadanya bahwa Alloh mencint ainya".
Cont oh yang lain : perset uj uan beliau t erhadap orang-orang Habasyah yang bermain-main di masj id, dengan t uj uan man-ta'lif mereka kepada Islam.
Adapun perbuat an-perbuat an yang t erj adi di zaman beliau shollallohu alaihi wa sallam dan t idak diket ahuinya maka hal t ersebut t idak dinisbat kan kepada beliau, t et api hal it u sebagai huj j ah at as taqrir Alloh t erhadap perbuat an t ersebut , dan oleh karena it u para sahabat rodhiyallohu anhum
berdalil at as bolehnya melakukan 'azl dengan pendiaman Alloh t erhadap mereka at as hal it u. Jabir rodhiyallohu anhu berkat a :
ﹸﻛﻨ
ﻧﺎ
ﻌِ
ﺰ
ﹸﻝ
ﻭ
ﹾﻟﺍﹸﻘ
ﺮ
ﹸﻥﺁ
ﻳ
ﻨِ
ﺰ
ﹸﻝ
"Dahulu kami melakukan 'azl sedangkan Al-Qur'an sedang dit urunkan" [Muttafaqun alaihi] .
Muslim menambahkan : berkat a Suf yan : Seandainya sesuat u it u dilarang maka Al-Qur'an sungguh akan melarang kami melakukannya.
Dan yang menunj ukkan bahwa pendiaman Alloh (t erhadap suat u perbuat an) merupakan huj j ah adalah perbuat an-perbuat an mungkar yang disembunyikan oleh orang-orang munaf iq, Alloh ta'ala menj elaskannya dan mengingkarinya, maka ini menunj ukkan bahwa apa yang didiamkan oleh Alloh hukumnya adalah boleh.
Pembagian khobar ditinjau dari sisi kepada siapa penyandarannya :
Khobar dit inj au dari penyandarannya dibagi menj adi t iga bagian : marfu',
mauquf, dan maqtu'.
1. Marfu' (ﻉﻮـﻓﺮﳌﺍ): Apa yang disandarkan kepada Nabi shollallohu alaihi wa
sallam secara hakiki at au secara hukum.
Marfu' secara hakiki adalah : sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam, perbuat an dan taqrirnya/ perset uj uannya.
Marfu' secara hukum adalah : apa yang disandarkan kepada sunnah beliau
shollallohu alaihi wa sallam, zamannya, dan yang semisalnya yang t idak
Dan di ant aranya adalah perkat aan sahabat : "kami diperintahkan" at au "kami dilarang" at au yang semisalnya. Sebagaimana perkat aan Ibnu Abbas
rodhiyallohu anhuma :
ِ
ﺾِﺋﺎﺤﹾﻟﺍﻦﻋ
ﻒﱢﻔﺧﻪﻧﹶﺃﺎﱠﻟِﺇ
ِﺖﻴﺒﹾﻟﺎِﺑ
ﻢِﻫِﺪﻬﻋ
ﺮِﺧﺁ
ﹶﻥﻮﹸﻜﻳﹾﻥﹶﺃﺱﺎﻨﻟﺍﺮِﻣﹸﺃ
"Telah diperint ahkan kepada manusia agar mengakhiri ibadah haj inya (dengan t howaf , pent ) di Bait ulloh, namun diberi kelonggaran bagi wanit a haidh. "
Dan perkat aan Ummu At hiyah :
ﺎﻨﻴﹶﻠﻋ
ﻡﺰﻌﻳ
ﻢﹶﻟﻭِﺰِﺋﺎﻨﺠﹾﻟﺍ
ِﻉﺎﺒﺗﺍﻦﻋ
ﺎﻨﻴِﻬﻧ
"Kami dilarang unt uk mengiringi j enazah, namun t idak dikeraskan at as kami" 2. Mauquf (ﻑﻮﻗﻮﳌﺍ): apa-apa yang disandarkan kepada shohabat dan t idak t et ap baginya hukum marfu'. Dan ini merupakan huj j ah berdasarkan pendapat yang roj ih, kecuali j ika menyelisihi nash at au perkat aan shohabat yang lain, j ika menyelisihi nash maka diambil nashnya, dan j ika menyelisihi perkat aan shohabat yang lain maka diambil yang roj ih di ant ara keduanya.Shohabat adalah : orang yang berkumpul bersama Nabi shollallohu alaihi
wa sallam dalam keadaan beriman kepada beliau dan meninggal dalam
keadaan beriman.
Tabi'in adalah : orang yang berkumpul bersama shohabat dalam keadaan beriman kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan meninggal dalam keadaan beriman.
Pembagian khobar ditinjau dari jalan-jalannya :
Khobar dit inj au dari j alan-j alannya dibagi menj adi : mutawatir dan ahad. 1. Mutawatir : apa-apa yang diriwayat kan oleh banyak rowi, yang secara adat must ahil bagi mereka bersepakat dengan sengaj a dalam kebohongan dan menyandarkannya kepada sesuat u yang dapat dirasakan.
Cont ohnya adalah sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam :
ﻣ
ﻦ
ﹶﻛ
ﹶ
ﺬ
ﺏ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻣ
ﻲ
ﺘﻌ
ﻤ
ﹶﻓ
ﹰﺍﺪ
ﹾﻠﻴﺘ
ﺒﻮ
ﹾﺃ
ﻣ
ﹾﻘﻌ
ﺪ
ﻩ
ِﻣ
ﻦ
ﻨﻟﺍ
ِﺭﺎ
"Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka ambillah tempat duduknya di neraka."
2. Ahad : apa-apa yang selain mutawatir (yakni t idak sampai deraj at
mutawatir, pent ).
Dan dari segi t ingkat annya hadit s ahad t erbagi menj adi t iga bagian : shohih, hasan, dan dho'if .
Shohih : apa yang dinukil oleh rowi yang 'adl, sempurna
dhobit/ hapalannya, dengan sanad yang bersambung, t erlepas dari sif at syadz
Hasan : apa yang dinukil oleh rowi yang 'adl, dhobitnya ringan, dengan sanad yang bersambung, t erlepas dari sif at syadz dan 'illah yang merusak. Dan bisa naik ke deraj at shohih j ika j alannya berbilang (lebih dari sat u, pent ) dan dinamakan shohih li ghoirihi.
Dho'if : yang t idak memenuhi syarat hadit s shohih dan hasan.
Dan bisa naik ke deraj at hasan j ika j alannya berbilang (yakni j ika kedhoif annya muhtamal/ ringan, pent ), yang saling menguat kan sat u sama lain dan dinamakan hasan li ghoirihi.
Dan semua j enis hadit s ini merupakan huj j ah kecuali hadit s dho'if , maka ia bukan huj j ah akan t et api t idak mengapa menyebut kannya sebagai
syawahid dan yang semisalnya.