• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

P

PR

R

I

I

N

N

S

S

I

I

P

P

IL

I

L

M

M

U

U

US

U

S

H

H

U

U

L

L

FI

F

I

Q

Q

I

I

H

H

Asy-Syaikh al-'Allamah

(2)
(3)

Al-Ushul min 'Ilmil Ushul

Penulis

Asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin

Judul Dalam Bahasa Indonesia

Prinsip Ilmu Ushul Fiqih

Penerjemah

Abu SHilah & Ummu SHilah

Layout & Design Sampul

Abu SHilah

Disebarkan melalui :

ht t p: / / t holib.wordpress.com

Jumadi ats-Tsaniyah 1428 H / Juni 2007 M

(4)

ﻣﹶﻘ

ﺪ

ﻣﹸﺔ

ﹾﻟﺍ

ﻤ

ﺆﱢﻟ

ِﻒ

MUQODDIMAH PENULIS

ﻦﻣ

ﷲﺎﺑ

ﺫﻮﻌﻧﻭ

،ﻪﻴﻟﺇ

ﺏﻮﺘﻧﻭ

،ﻩﺮﻔﻐﺘﺴﻧﻭ

،ﻪﻨﻴﻌﺘﺴﻧﻭ

،ﻩﺪﻤﳓ

ﺪﻤﳊﺍ

،ﺎﻨﺴﻔﻧﺃ

ﺭﻭﺮﺷ

ﻥﺃ

ﺪﻬﺷﺃﻭ

،ﻪﻟ

ﻱﺩﺎﻫ

ﻼﻓ

ﻞﻠﻀﻳ

ﻦﻣﻭ

ﻪﻟ

ﻞﻀﻣ

ﻼﻓ

ﷲﺍ

ﻩﺪﻬﻳ

ﻦﻣ

،ﺎﻨﻟﺎﻤﻋﺃ

ﺕﺎﺌﻴﺳ

ﻦﻣﻭ

ﻪﻟﻮﺳﺭﻭ

ﻩﺪﺒﻋ

ﹰﺍﺪﻤﳏ

ﻥﺃ

ﺪﻬﺷﺃﻭ

،ﻪﻟ

ﻚﻳﺮﺷ

ﻩﺪﺣﻭ

ﷲﺍ

ﻻﺇ

ﻪﻟﺇ

،ﻪﻴﻠﻋ

ﷲﺍ

ﻰﻠﺻ

،

ﹰﺎﻤﻴﻠﺴﺗ

ﻢﻠﺳﻭ

ﻦﻳﺪﻟﺍ

ﻡﻮﻳ

ﱃﺇ

ﻥﺎﺴﺣﺈﺑ

ﻢﻬﻌﺒﺗ

ﻦﻣﻭ

،ﻪﺑﺎﺤﺻﺃﻭ

ﻪﻟﺁ

ﻰﻠﻋﻭ

.

ﺪﻌﺑ

ﺎﻣﺃ

:

Ini adalah Tulisan singkat dalam Ushul Fiqih yang kami t ulis sesuai

kurikul um yang t elah disepakat i unt uk t ahun ket iga Tsanawiyah d i ma’

ma’ had ilmiyyah, dan kami menamakannya:

ِﻝﻮﺻُﻷﺍ

ِﻢﹾﻠِﻋ

ﻦِﻣ

ﹸﻝﻮﺻُﻷﺍ

(al-Ushul min 'Ilmil Ushul)

Aku memohon kepada Allah agar menj adikan ilmu kami ikhlas karena

Allah dan bermanf aat bagi hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah Maha

(5)

ﹸﺃ

ﺻ

ﹸﻝﻮ

ِﻔﻟﺍ

ِﻪـﹾﻘ

USHUL FIQIH

DEFINISINYA:

Ushul Fiqih didef inisikan dengan 2 t inj auan:

Pertama : t inj auan dari 2 kosa kat anya yait u dari t inj auan kat a (ﹲﻝﻮﺻﹸﺃ) dan

kat a (ﻪﹾﻘِﻓ).

Ushul (ﹸﻝﻮﺻُﻷﺍ) adalah bent uk j amak dari "al-Ashl" (ﹲﻞﺻﹶﺃ) yait u apa yang

dibangun di at asnya yang selainnya, dan diant aranya adalah 'pokoknya

t embok' (ﺭﺍﺪِﳉﺍ ﹸﻞﺻﹶﺃ) yait u pondasinya, dan 'pokoknya pohon' (ِﺓﺮﺠﺸﻟﺍ ﹸﻞﺻﹶﺃ) yang

bercabang darinya rant ing-rant ingnya. Allah berf irman:

ﹶﻛ

ﹰﻼﹶﺜﻣ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﺏﺮﺿ

ﻒﻴﹶﻛ

ﺮﺗ

ﻢﹶﻟﹶﺃ

ﻲِﻓ

ﺎﻬﻋﺮﹶﻓﻭ

ﺖِﺑﺎﹶﺛ

ﺎﻬﹸﻠﺻﹶﺃ

ٍﺔﺒﻴﹶﻃ

ٍﺓﺮﺠﺸﹶﻛ

ﹰﺔﺒﻴﹶﻃ

ﹰﺔﻤِﻠ

ِﺀﺎﻤﺴﻟﺍ

"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat

perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan

cabangnya (menjulang) ke langit" [ QS. Ibrohim : 24]

Dan Fiqih (ﻪﹾﻘِﻔﻟﺍ) secara bahasa adalah pemahaman (ﻢﻬﹶﻔﻟﺍ), diant ara dalilnya

(6)

ﻲِﻧﺎﺴِﻟ

ﻦِﻣ

ﹰﺓﺪﹾﻘﻋ

ﹾﻞﹸﻠﺣﺍﻭ

"dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku." (QS Thohaa : 27)

Dan secara ist ilah:

ﺸﻟﺍ

ِﻡﺎﹶﻜﺣ

َ

ﻷﺍ

ﹸﺔﹶﻓِﺮﻌﻣ

ِﺔﻴِﻠﻴِ

ﹾﻔﺘﻟﺍ

ﺎﻬِﺘﱠﻟِﺩﹶ

ِﺑ

ِﺔﻴِﻠﻤﻌﻟﺍ

ِﺔﻴِﻋﺮ

"Mengetahui hukum-hukum syar'i yang bersifat amaliyyah dengan

dalil-dalilnya yang terperinci."

Maka yang dimaksud dengan perkat aan kami : (ﹸﺔﹶﻓِﺮﻌﻣ) " Mengetahui" adalah

Ilmu dan persangkaan. Karena menget ahui hukum-hukum f iqih t erkadang

bersif at yakin dan t erkadang bersif at persangkaan, sebagaimana banyak

dalam masalah-masalah f iqih.

Dan yang dimaksud dengan perkat aan kami : (ﹸﺔﻴِﻋﺮﺸﻟﺍ ﻡﺎﹶﻜﺣَﻷﺍ) "Hukum-hukum

syar'i" adalah hukum-hukum yang diambil dari syari'at , sepert i waj ib dan

haram, maka keluar darinya (yakni Hukum-hukum syar'i) hukum-hukum akal;

sepert i menget ahui bahwa keseluruhan lebih besar daripada sebagian; dan

hukum-hukum adat (kebiasaan); sepert i menget ahui t urunnya embun di

malam yang dingin j ika cuaca cerah.

Yang dimaksud dengan perkat aan kami : (ﹸﺔﻴِﻠﻤﻌﻟﺍ) "Amaliah" adalah apa-apa

yang t idak berhubungan dengan aqidah, sepert i sholat dan zakat . Maka t idak

(7)

sepert i ment auhidkan Allah, dan mengenal nama-nama dan sif at -Nya; maka

yang demikian t idak dinamakan Fiqih secara ist ilah.

Yang dimaksud dengan perkat aan kami : (ِﺔﻴِﻠﻴِﺼﹾﻔﺘﻟﺍ ﺎﻬِﺘﱠﻟِﺩﹶﺄِﺑ) "dengan

dalil-dalilnya yang terperinci" adalah dalil-dalil f iqh yang berhubungan dengan

masalah-masalah f iqh yang t erperinci, maka t idak t ermasuk di dalamnya ilmu

Ushul Fiqih karena pembahasan di dalamnya hanyalah mengenai dalil-dalil

f iqih yang umum.

Kedua : dari t inj auan keberadaannya sebagai j ulukan pada bidang t ert ent u, maka Ushul Fiqih didef inisikan dengan :

ﻦﻋ

ﺤﺒﻳ

ﻢﹾﻠِﻋ

ِﺪﻴِﻔﺘﺴﻤﹾﻟﺍ

ِﻝﺎﺣﻭ

ﺎﻬﻨِﻣ

ِﺓﺩﺎﹶﻔِﺘﺳِ

ِﺔﻴِﻔﻴﹶﻛﻭ

ِﺔﻴِﻟﺎﻤ

ِ

ِﻪﹾﻘِﻔﻟﺍ

ِﺔﱠﻟِﺩﹶﺃ

"Ilmu yang membahas dalil-dalil fiqih yang umum dan cara mengambil

faidah darinya dan kondisi orang yang mengambil faidah."

Yang dimaksud dengan perkat aan kami (ِﺔﻴِﻟﺎﻤﺟِﻹﺍ) "yang umum/mujmal",

kaidah-kaidah umum; sepert i perkat aan : "perintah menunjukkan hukum

wajib", "larangan menunjukkan hukum haram", "sah-nya suatu amal

menunjukkan amal tersebut telah terlaksana (yakni, ia t idak dit unt ut unt uk

mengulangi, pent)". Maka t idak t ermasuk dari "yang umum": dalil-dalil yang

t erperinci. Dalil-dalil t erperinci t ersebut t idaklah disebut kan dalam ilmu

Ushul Fiqih kecuali sebagai cont oh (dalam penerapan) suat u kaidah.

Yang dimaksud dari perkat aan kami : (ﺎﻬﻨِﻣِﺓﺩﺎﹶﻔِﺘﺳِﻹﺍِﺔﻴِﻔﻴﹶﻛﻭ) "dan cara mengambil

(8)

sepert i umum, khusus, mut hlaq, muqoyyad, nasikh, mansukh, dan lain-lain.

Maka dengan menguasainya (yakni cara mengambil f aidah dari dalil-dalil

umum) seseorang bisa mengambil f aidah hukum dari dalil-dalil f iqih.

Diinginkan dengan perkat aan kami : (ِﺪﻴِﻔﺘﺴﻤﹾﻟﺍ ِﻝﺎﺣﻭ) "kondisi orang yang

mengambil faidah", yait u menget ahui kondisi/ keadaan orang yang mengambil

f aidah, yait u muj t ahid. Dinamakan orang yang mengambil f aidah (ﺪﻴِﻔﺘﺴﻣ)

karena ia dengan dirinya sendiri dapat mengambil f aidah hukum dari

dalil-dalilnya karena ia t elah mencapai deraj at ij t ihad. Maka mengenal muj t ahid,

syarat -syarat ij t ihad, hukumnya dan yang semisalnya dibahas dalam ilmu

Ushul Fiqih.

FAIDAH USHUL FIQIH:

Ilmu Ushul Fiqih adalah ilmu yang agung kedudukannya, sangat pent ing

dan banyak sekali f aidahnya. Faidahnya adalah kokoh dalam menghasilkan

kemampuan yang seseorang mampu dengan kemampuan it u mengeluarkan

hukum-hukum syar'i dari dalil-dalilnya dengan landasan yang selamat .

Dan yang pert ama kali mengumpulkannya menj adi suat u bidang t ersendiri

adalah al-Imam asy-Syaf i'i Muhammad bin Idris rohimahulloh, kemudian para

'ulama sesudahnya mengikut inya dalam hal t ersebut . Maka mereka menulis

dalam ilmu Ushul Fiqih t ulisan-t ulisan yang bermacam-macam. Ada yang

berupa t ulisan, sya'ir, t ulisan ringkas, t ulisan yang panj ang, sampai ilmu

Ushul Fiqih ini menj adi bidang t ersendiri keberadaannya dan kelebihannya.

(9)

َ

ﻷﺍ

ﺣ

ﹶﻜ

ﻡﺎــ

HUKUM-HUKUM

Al-Ahkam (ﻡﺎﹶﻜﺣَﻷﹾﺍ) adalah bent uk j amak dari hukum (ﻢﹾﻜﺣ), secara bahasa

maknanya adalah keput usan/ ket et apan (ُﺀﺎﻀﹶﻘﻟﺍ).

Dan secara ist ilah :

ﻣ

ﺘﹾ

ﻀ

ﻩﺎ

ِ

ﺏﺎ

ﺸﻟﺍ

ﺮ

ِ

ﺘﻌ

ﱢﻠ

ِﺑ

ﹾﻓﻌ

ِﻝﺎ

ﹶﻜ

ﱠﻠِﻔ

ﻴﻦ

ِﻣ

ﻦ

ﹶﻃ

ﹶﻠ

ٍ

ﹶﺃ

،

ﻭ

ﺗ

ِﻴﻴ

ٍﺮ

ﹶﺃ

،

ﻭ

ﻭ

ﺿ

ٍ

"Apa-apa yang ditetapkan oleh seruan syari'at yang berhubungan dengan

perbuatan mukallaf (orang yang dibebani syari'at) dari tuntutan atau pilihan

atau peletakan."

Dan yang dimaksud dari perkat aan kami : (ِﻉﺮﺸﻟﺍﺏﺎﹶﻄِﺧ) "seruan syari'at" :

Al-Qur'an dan as-Sunnah.

Dan yang dimaksud dari perkat aan kami : ( ﻴﻦﱠﻠِﻔﹶﻜﳌﹸﺍ ِﻝﺎﹾﻓﻌﺄﹶِﺑ ﻖ ﻌﱢﻠﳌﹸﺍﺘ) "yang

berhubungan dengan perbuatan mukallaf": apa-apa yang berhubungan

dengan perbuat an mereka baik it u perkat aan at au perbuat an, melakukan

sesuat u at au meninggalkan sesuat u.

Maka keluar dari perkat aan t ersebut apa-apa yang berhubungan dengan

(10)

Yang dimaksud dari perkat aan kami : ( ﻴﻦﱠﻠِﻔﹶﻜﹸﳌﺍ) "mukallaf" : siapa saj a yang

keadaannya dibebani syari'at , maka mencakup anak kecil dan orang gila.

Yang dimaksud dari perkat aan kami : (ٍﺐﹶﻠﹶﻃ ﻦِﻣ) "dari tuntutan": perint ah

dan larangan, baik it u sebagai keharusan at aupun keut amaan.

Yang dimaksud dari perkat aan kami : (ٍﺮِﻴﻴﺨﺗ ﹶﺃﻭ) "at au pilihan": mubah

(hal-hal yang dibolehkan)

Yang dimaksud dari perkat aan kami : (ٍﻊﺿﻭ ﹶﺃﻭ) "atau peletakan": Sah, rusak,

dan yang lainnya yang dilet akkan oleh pembuat syari'at dari t anda-t anda,

at au sif at -sif at unt uk dit unaikan at au dibat alkan.

PEMBAGIAN HUKUM SYARI'AT:

Hukum syari'at dibagi menj adi dua bagian : Taklifiyyah (Pembebanan)

dan Wadh'iyyah (Pelet akan).

Al-Ahkam at-Taklifiyyah ada lima : Waj ib, mandub (sunnah), harom, makruh, dan mubah.

1.Wajib (ﺐﺟﺍﻮﻟﺍ) secara bahasa : (ﻡﺯﻼﻟﺍﻭﻂﻗﺎﺴﻟﺍ) "yang j at uh dan harus".

Dan secara ist ilah :

ﻣ

ﹶﺃ

ﻣﺮ

ِﺑ

ِﻪ

ﺸﻟﺍ

ِﺭﺎ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻭ

ِﻪ

ﹾﺍ

ِ

ﹾﻟ

ِﻡﺍ

"Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari'at dengan bentuk

(11)

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻉﺭﺎﺸﻟﺍ ﻪﺑ ﺮﻣﺃ ﺎﻣ) "Apa-apa yang

diperintahkan oleh pembuat syari'at", yang haram, makruh dan mubah.

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻡﺍﺰﻟﻹﺍ ﻪﺟﻭ ﻰﻠﻋ) "dengan bentuk

keharusan", yang mandub.

Dan suat u yang waj ib it u pelakunya diganj ar j ika ia melakukannya

unt uk mendapat kan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya

berhak mendapat kan adzab.

Dan dinamakan j uga : (ﺍﻡﺯﻻﻭﹰﺎﻤﺘﺣﻭﺔﻀﻳﺮﻓﻭﹰﺎﺿﺮﻓ).

2.Mandub (ﺏﻭﺪﻨﳌﺍ) secara bahasa : (ﻮﻋﺪﳌﺍ) "yang diseru".

Dan secara ist ilah :

ﻣ

ﹶﺃ

ﻣﺮ

ِﺑ

ِﻪ

ﺸﻟﺍ

ِﺭﺎ

ﹶﻻ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻭ

ِﻪ

ﹾﺍ

ِ

ﹾﻟ

ِﻡﺍ

"Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari'at tidak dalam bentuk

keharusan", sepert i sholat rowat ib.

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻉﺭﺎﺸﻟﺍ ﻪﺑ ﺮﻣﺃ ﺎﻣ) "Apa-apa yang

diperintahkan oleh pembuat syari'at", yang haram, makruh dan mubah.

(12)

Dan suat u yang mandub it u pelakunya diganj ar j ika ia melakukannya

unt uk mendapat kan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya t idak

mendapat kan adzab.

Dan dinamakan j uga : (ﻼﻔﻧﻭً ﹰﺎﺒﺤﺘﺴﻣﻭﹰﺎﻧﻮﻨﺴﻣﻭﺔﻨﺳ).

3.Haram (ﻡﺮﶈﺍ) secara bahasa : (ﻉﻮﻨﻤﳌﺍ) "yang dilarang".

Dan secara ist ilah :

ﻣ

ﻧ

ﻬ

ﻋ

ﻨﻪ

ﺸﻟﺍ

ِﺭﺎ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻭ

ِﻪ

ﹾﺍ

ِ

ﹾﻟ

ِﻡﺍ

ِﺑ

ﺘﻟﺎ

ﺮ

ِ

"Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari'at dalam bentuk keharusan

untuk ditinggalkan", sepert i durhaka kepada orang t ua.

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻉﺭﺎﺸﻟﺍﻪﻨﻋﻰﺎﻣ) "Apa-apa yang dilarang

oleh pembuat syari'at", yang waj ib, sunnah dan mubah.

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻙﺮﺘﻟﺎﺑ ﻡﺍﺰﻟﻹﺍ ﻪﺟﻭ ﻰﻠﻋ) "dalam bentuk

keharusan untuk ditinggalkan", yang makruh.

Dan suat u yang haram it u pelakunya diganj ar j ika ia meninggalkannya

unt uk mendapat kan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya

berhak mendapat kan adzab.

(13)

4.Makruh (ﻩﻭﺮﻜﳌﺍ) secara bahasa : (ﺾﻐﺒﳌﺍ) "yang dimurkai".

Dan secara ist ilah :

ﻣ

ﻧ

ﻬ

ﻋ

ﻨﻪ

ﺸﻟﺍ

ِﺭﺎ

ﹶﻻ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻭ

ِﻪ

ﹾﺍ

ِ

ﹾﻟ

ِﻡﺍ

ِﺑ

ﺘﻟﺎ

ﺮ

ِ

"Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari'at tidak dalam bentuk

keharusan untuk ditinggalkan", sepert i mengambil sesuat u dengan t angan

kiri dan memberi dengan t angan kiri.

Maka keluar dari perkat aan kami :(ﻉﺭﺎﺸﻟﺍﻪﻨﻋﻰﺎﻣ) "Apa-apa yang dilarang

oleh pembuat syari'at", yang waj ib, sunnah dan mubah.

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻙﺮﺘﻟﺎﺑﻡﺍﺰﻟﻹﺍﻪﺟﻭﻰﻠﻋﻻ)"tidak dalam bentuk

keharusan untuk ditinggalkan", yang haram.

Dan suat u yang makruh it u pelakunya diganj ar j ika ia meninggalkannya

unt uk mendapat kan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya

t idak mendapat kan adzab.

5.Mubah (ﺡﺎﺒﳌﺍ) secara bahasa : (ﻪﻴﻓﻥﻭﺫﺄﳌﺍﻭﻦﻠﻌﳌﺍ) "yang diumumkan dan diizinkan

dengannya".

Dan secara ist ilah :

ﻣ

ﹶﻻ

ﻳ

ﺘﻌ

ﱠﻠ

ِﺑ

ِﻪ

ﹶﺃ

ﻣﺮ

ﻭ

،

ﹶﻻ

ﻧ

ﻬ

ﻲ

ِﻟ

ِﺗﺍ

ِﻪ

(14)

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﺮﻣﺃ ﻪﺑ ﻖﻠﻌﺘﻳ ﺎﻣ) "apa-apa yang tidak

berhubungan dengan perintah", waj ib dan mandub.

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻲﻻﻭ) "dan pula larangan", haram dan

makruh.

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻪﺗﺍﺬﻟ) "pada asalnya", apa-apa yang

seandainya ada kait annya dengan perint ah karena keberadaannya (yakni

suat u yang mubah) sebagai wasilah (yang menghant arkan) t erhadap hal

yang diperint ahkan, at au ada kait annya dengan larangan karena

keberadaannya sebagai wasilah t erhadap hal yang dilarang; maka bagi hal

yang mubah t ersebut hukumnya sesuai dengan apa-apa ia (yang mubah

t ersebut ) menj adi wasilah baginya, dari hal yang diperint ahkan at au yang

dilarang. Dan yang demikian t idak mengeluarkannya (yakni hal yang mubah)

dari keberadaannya sebagai sesuat u yang hukumnya mubah pada asalnya.

Dan mubah yang senant iasa berada pada sif at mubah (boleh), maka ia

t idak mengakibat kan ganj aran dan t idak pula adzab.

Dan dinamakan j uga : (ﹰﺍﺰﺋﺎﺟﻭﹰﻻﻼﺣ).

AL-AHKAM AL-WADH'IYYAH (ﺔﻴﻌﺿﻮﻟﺍﻡﺎﻜﺣﻷﺍ) :

Al-Ahkam al-wadh'iyyah adalah :

ﻣ

ﻭ

ﺿ

ﻌﻪ

ﺸﻟﺍ

ِﺭﺎ

ِﻣ

ﻦ

ﹶﺃ

ﻣ

ﺭﺎ

ٍﺕﺍ

ِﻟ

،

ﹸﺜﺒ

ﻮ

ٍﺕ

ﹶﺃ

ﻭ

ﻧﺍ

ِﺘﹶﻔ

ٍﺀﺎ

ﹶﺃ

،

ﻭ

ﻧ

ﹸﻔﻮ

ٍﺫ

ﹶﺃ

،

ﻭ

ِﺇ

ﹾﻟﻐ

ٍﺀﺎ

"Apa-apa yang diletakkan oleh pembuat syari'at dari tanda-tanda untuk

(15)

Dan diant aranya adalah sah (ﺔﺤﺼﻟﺍ) dan rusak(ﺩﺎﺴﻔﻟﺍ)/ t idak sah-nya sesuat u.

1.Sah (ﺢﻴﺤﺼﻟﺍ) secara bahasa : (ﺽﺮﳌﺍﻦﻣﻢﻴﻠﺴﻟﺍ) yang selamat dari penyakit .

Secara ist ilah :

ﻣ

ﺗ

ﺮﺗ

ﺒ

ﺖ

ﹶﺛﺁ

ﺭﺎ

ِﻓ

ﻌِﻠ

ِﻪ

ﻋ

ﹶﻠﻴ

ِﻪ

ِﻋ

ﺒ

ﺩﺎ

ﹶﻛ

ﹰﺓ

ﹶﻥﺎ

ﹶﺃ

ﻡ

ﻋ

ﹾﻘ

ﹰﺍﺪ

"apa-apa yang pengaruh perbuatannya berakibat padanya, baik itu

ibadah ataupun akad."

Maka sah dalam ibadah : apa-apa yang beban t erlepas dengannya (yakni ibadah yang sah) dan t unt ut an gugur dengannya.

Dan sah dalam akad : apa-apa yang pengaruh adanya akad t ersebut berakibat t erhadap keberadaannya, sepert i pada suat u akad j ual beli

berakibat kepemilikan.

Dan t idaklah sesuat u it u menj adi sah kecuali dengan menyempurnakan

syarat -syarat nya dan t idak ada penghalang-penghalangnya.

Cont ohnya dalam ibadah : seseorang mendat angi sholat pada wakt unya

dengan menyempurnakan syarat -syarat nya, rukun-rukunnya dan kewaj

(16)

Cont ohnya dalam akad : seseorang melakukan akad j ual beli dengan

menyempurnakan syarat -syarat nya yang t elah diket ahui dan t idak adanya

penghalang-penghalangnya.

Jika hilang sat u syarat dari syarat -syarat yang ada, at au adanya

penghalang dari penghalang-penghalangnya maka t idak dikat akan sah.

Cont oh hilangnya syarat dalam ibadah : seseorang sholat t anpa bersuci.

Cont oh hilangnya syarat dalam akad : seseorang menj ual barang yang

bukan miliknya.

Cont oh adanya penghalang dalam ibadah : seseorang sholat sunnah

mut lak pada wakt u larangan.

Cont oh adanya penghalang dalam akad : seseorang menj ual sesuat u

kepada orang yang waj ib baginya sholat j um'at , sesudah adzan j um'at yang

kedua dari sisi yang t idak dibolehkan.

2.Rusak / Fasid (ﺪﺳﺎﻔﻟﺍ) secara bahasa : yang pergi dengan hilang dan rugi.

Dan secara ist ilah :

ﻣ

ﹶﻻ

ﺗ

ﺘﺮ

ﺗ

ﹶﺛﺁ

ﺭﺎ

ِﻓ

ﻌِﻠ

ِﻪ

ﻋ

ﹶﻠﻴ

ِﻪ

ِﻋ

ﺒ

ﺩﺎ

ﹶﻛ

ﹰﺓ

ﹶﻥﺎ

ﹶﺃ

ﻡ

ﻋ

ﹾﻘ

ﹰﺍﺪ

"apa-apa yang pengaruh perbuatannya tidak berakibat kepadanya, baik

(17)

Fasid dalam ibadah : apa-apa yang beban t idak t erlepas dengannya dan t unt ut an t idak gugur dengannya; sepert i sholat sebelum wakt unya.

Fasid dalam akad : apa-apa yang pengaruh akad t ersebut t idak berakibat padanya (t idak memiliki dampak); sepert i menj ual sesuat u yang

belum dit ent ukan.

Dan semua yang f asid (rusak) dalam ibadah, akad dan syarat -syarat

maka it u adalah haram. Karena yang demikian t ermasuk melampaui

bat asan-bat asan Allah dan menj adikan ayat -ayat -Nya sebagai olok-olokan,

dan karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengingkari orang yang

mensyarat kan syarat -syarat yang t idak ada dalam kit abullah (al-Qur'an).

Fasid dan bat il memiliki makna yang sama kecuali dalam dua t empat :

Yang pertama: dalam ihrom, para 'ulama membedakan keduanya, bahwa yang f asid adalah apabila seorang yang ihrom menyet ubuhi ist rinya

sebelum t ahallul awal; dan yang bat il adalah apabila seseorang murt ad dari

Islam.

Yang kedua : dalam nikah; para 'ulama membedakan keduanya, bahwa yang f asid adalah apa-apa yang diperselisihkan para 'ulama dalam

kerusakannya, sepert i nikah t anpa wali; dan bat il adalah apa-apa yang

disepakat i kebat ilannya sepert i menikahi wanit a yang masih dalam `

iddah-nya.

(18)

ﹾﻠِﻌﻟﺍ

ﻢ

ILMU

Definisinya:

Ilmu adalah :

ِﺇﺩ

ﺭ

ﺸﻟﺍ

ﻲ

ِﺀ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻣ

ﻫ

ﻮ

ﻋ

ﹶﻠﻴ

ِﻪ

ِﺇ

ﺩ

ﺭ

ﹰﺎﻛﺍ

ِ

ﹰﺎﻣ

"Mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (yakni sesuai dengan yang

sebenarnya) dengan pasti/yakin"

Misalnya menget ahui bahwa keseluruhan it u lebih besar daripada

sebagian, dan bahwa niat merupakan syarat dari ibadah.

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﺀﻲﺸﻟﺍﻙﺍﺭﺩﺇ) "mengetahui sesuatu" adalah

t idak menget ahui sesuat u secara menyeluruh, dan dinamakan "kebodohan

yang ringan" (ﻂﻴﺴﺒﻟﺍ ﻞﻬﳉﺍ), misalnya seseorang dit anya: "kapankah t erj adinya

perang Badar?" Lalu dia menj awab "saya t idak t ahu".

Dan keluar dari perkat aan kami: (ﻪﻴﻠﻋ ﻮﻫ ﺎﻣ ﻰﻠﻋ) "sesuai dengan yang

sebenarnya" adalah menget ahui sesuat u dari segi yang menyelisihi keadaan

yang sebenarnya dan dinamakan (ﺐﻛﺮﳌﺍ ﻞﻬﳉﺍ) "kebodohan yang bert ingkat ",

misalnya seseorang dit anya : "kapankah t erj adinya perang badar?", Lalu dia

(19)

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﹰﺎﻣﺯﺎﺟ ﹰﺎﻛﺍﺭﺩﺇ) "dengan pengetahuan yang

pasti/yakin" adalah mendapat kan penget ahuan t ent ang sesuat u dengan

penget ahuan yang t idak past i/ yakin dari segi ada kemungkinan padanya

(bahwa yang benar) t idak sesuai dengan apa yang ia ket ahui, maka t idak

dinamakan sebagai ilmu. Kemudian j ika kuat padanya dari salah sat u

kemungkinan t ersebut , maka yang kuat disebut sebagai (ﻦﻇ) dan yang lemah

disebut sebagai (ﻢﻫﻭ), dan j ika kedua kemungkinan it u sama maka disebut

sebagai (ﻚﺷ).

Dengan hal ini j elaslah bahwa hubungan t ent ang penget ahuan t erhadap

sesuat u it u adalah sepert i berikut :

1.Ilmu (ﻢﻠﻋ) : yait u menget ahui sesuat u sesuai dengan yang sebenarnya

dengan past i/ yakin.

2.Jahil Basith (ﻂﻴﺴﺑﻞﻬﺟ) : yait u t idak menget ahui sesuat u secara menyeluruh

(yakni menget ahui sesuat u secara sebagian saj a, pent ).

3.Jahil Murokkab (ﺐﻛﺮﻣ ﻞﻬﺟ) : yait u mendapat penget ahuan t ent ang sesuat u

dari segi yang menyelisihi apa yang sebenarnya.

4.Dzonn (ﻦﻇ) : yait u mendapat penget ahuan t ent ang sesuat u dengan

(20)

5.Wahm (ﻢﻫﻭ) : yait u mendapat penget ahuan t ent ang sesuat u dengan

kemungkinan adanya (pendapat ) lainnya yang roj ih/ kuat .

6.Syakk (ﻚﺷ) : yait u mendapat penget ahuan t ent ang sesuat u dengan

kemungkinan adanya (pendapat ) lainnya yang sama kuat .

PEMBAGIAN ILMU :

Ilmu t erbagi menj adi dua macam : (ﻱﺭﻭﺮﺿ) "Dhoruri" dan (ﻱﺮﻈﻧ) "Nadzori".

1.Ilmu Dhoruri adalah apa-apa yang penget ahuan t ent angnya sudah diket ahui

secara past i, yait u sudah past i padanya t anpa but uh pemeriksaan dan

pendalilan, sepert i ilmu t ent ang bahwa keseluruhan it u lebih besar

daripada sebagian, bahwa api it u panas, dan bahwa Nabi Muhammad

Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ut usan Allah subhanahu wa ta'ala.

2.Ilmu Nadhori adalah apa-apa yang (unt uk menget ahuinya) membut uhkan

pemeriksaan dan pendalilan, sepert i penget ahuan t ent ang waj ibnya niat

dalam sholat .

(21)

ﹶﻜﻟﺍ

ﹶﻼـ

ﻡ

KALAM

Definisi :

Kalam secara bahasa :

ﹾﻟﺍﱠﻠ

ﹾﻔ

ﹾﻟﺍ

ﻤ

ﻮ

ﺿ

ﻮ

ِﻟ

ﻤ

ﻌ

ﲎ

"Lafadh yang diletakkan untuk suatu makna."

Dan secara ist ilah :

ﹾﺍﱠﻠﻟ

ﹾﻔ

ِﻔﻴ

ﺪ

"Lafadh yang berfaidah (memiliki makna)",

Misalnya : (ﺎـﻨﻴﺒﻧﺪـﻤﳏﻭﺎﻨﺑﺭﷲﺍ) "Allah adalah Robb kit a dan Muhammad adalah

Nabi kit a".

Dan suat u kalam minimal t ersusun dari dua kat a benda; at au sat u kat a

kerj a dan sat u kat a benda.

Cont oh yang pert ama : ( ﷲﺍﻝﻮـﺳﺭﺪـﻤﳏ) "Muhammad adalah Rosullullah" dan

(22)

Dan sat u bagian dari kalam disebut kat a yait u : Laf adh yang dilet akkan

unt uk suat u makna t unggal, yait u kadang-kadang berupa kat a benda (isim),

kat a kerj a (fi'il), at au huruf (harf).

Isim (kata benda) :

ﻣ

ﺩ

ﱠﻝ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻣ

ﻌ

ﲎ

ِﻓ

ﻲ

ﻧ

ﹾﻔ

ِﺴ

ِﻪ

ِﻣ

ﻦ

ﻴِﺮ

ِﺇ

ﺷ

ﻌ

ٍﺭﺎ

ِﺑ

ﻣ

ٍﻦ

"apa-apa yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri dengan tidak

menunjukkan waktu tertentu."

Dan isim ada t iga macam :

Pert ama : Apa-apa yang menunj ukkan keumuman misalnya kat a sambung.

Kedua : Apa-apa yang menunj ukkan kemut lakan misalnya nakiroh dalam

kont eks penet apan.

Ket iga : Apa-apa yang menunj ukkan kekhususan misalnya nama orang.

Fi'il (kata kerja):

ﻣ

ﺩ

ﱠﻝ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻣ

ﻌ

ﲎ

ِﻓ

ﻲ

ﻧ

ﹾﻔ

ِﺴ

ِﻪ

ﻭ

،

ﹶﺃ

ﺷ

ﻌﺮ

ِﺑ

ﻬﻴ

ﹶﺌِﺘ

ِﻪ

ِﺑ

ﺣ

ِﺪ

ﹾﺍ

َ

ِﻣﻨ

ِﺔ

ﻟﺍ

ﱠﺜ

ﹶﻼ

ﹶﺛِﺔ

"Apa-apa yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri, dan keadaannya

(23)

Yait u fi'il madhi sepert i (ﻢـِﻬﹶﻓ), fi'il mudhori' sepert i (ﻢـﻬﹾﻔﻳ) at au fi'il amr

sepert i (ﻢﻬﹾﻓِﺍ).

Dan fi'il dengan pembagiannya t ersebut memberikan f aidah mut laq,

bukan umum.

Harf adalah :

ﻣ

ﺩ

ﱠﻝ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻣ

ﻌ

ِﻓ

ﻴِﺮ

ِﻩ

"Apa-apa yang menunjukkan makna pada yang selainnya"

Diant aranya :

1. Wawu (ﻭﺍﻮـﻟﺍ) : dat ang sebagai 'athof (penyambung), maka memberikan

f aidah penggabungan dua hal yang saling bersambung di dalam sebuah

hukum, t idak menunj ukkan urut an dan t idak menaf ikannya kecuali

dengan dalil.

2. Fa' (ﺀﺎﻔﻟﺍ) : dat ang sebagai 'athof (penyambung), maka memberikan f aidah

penggabungan dua hal yang saling bersambung di dalam hukum dengan

berurut an dan beriringan dan dat ang dengan sebab, dan memberi f aidah

ta'lil (alasan).

3. ( ﺓﺭﺎـﳉﺍﻡﻼـﻟﺍ) : memiliki beberapa makna diant aranya : sebab, kepemilikan

(24)

4. (ﺓﺭﺎﳉﺍﻰﻠﻋ) : memiliki beberapa makna diant aranya : waj ib.

JENIS-JENIS KALAM :

Kalam t erbagi dari segi kemungkinan disif at i benar dan t idaknya dengan dua

macam :

1) Al-Khobar (Berita):

ﻣ

ﻳ

ﻤ

ِﻜ

ﻦ

ﹶﺃ

ﹾﻥ

ﻳ

ﻮ

ﺻ

ﻒ

ِﺑ

ﻟﺎ

ﺪ

ِ

ﹶﺃ

ﻭ

ﹶﻜﻟﺍ

ِ

ِﺏ

ِﻟ

ِﺗﺍ

ِﻪ

"Kalam yang mungkin disifati dengan benar atau dusta pada asalnya."

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﺏﺬﻜﻟﺍﻭﻕﺪﺼﻟﺎﺑﻒﺻﻮﻳﻥﺃﻦﻜﳝﺎﻣ) "Apa-apa yang

mungkin disif at i dengan benar at au dust a"; (ﺀﺎﺸﻧﻹﺍ) "al-insya' (yang mengandung

perint ah at au larangan, pent )" karena t idak memiliki kemungkinan sepert i

it u, sebab penunj ukannya bukanlah suat u pengkabaran yang mungkin unt uk

dikat akan : ia benar at au dust a.

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻪﺗﺍﺬﻟ) "pada asalnya"; khobar yang t idak

mengandung kebenaran, at au t idak mengandung kedust aan dari sisi yang

dikabarkan. Yang demikian karena khobar dari sisi yang dikabarkan t erbagi

(25)

Pertama, yang t idak mungkin disif at i dengan dust a, sepert i khobar dari Allah dan Rasul-Nya yang t elah shohih darinya.

Kedua, yang t idak mungkin disif at i dengan kebenaran, sepert i khobar

t ent ang sesuat u yang must ahil secara syar'i at au secara akal. Yang pert ama

(must ahil secara syar'i, pent ), sepert i seorang yang mengaku sebagai Rasul

set elah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam; dan yang kedua (must ahil secara

akal, pent ), sepert i khobar berkumpulnya 2 hal yang saling bert ent angan

(yang t idak mungkin ada bersamaan at au hilang bersamaan, pent ) sepert i

bergerak dan diam pada sesuat u yang sat u pada wakt u yang sama.

Ketiga, yang mungkin disif at i dengan benar dan dust a baik dengan kemungkinan yang sama (t idak bisa dibenarkan dan didust akan karena sulit

dit arj ih, pent ) at au dengan meroj ihkan salah sat unya, sepert i kabar dari

seseorang t ent ang sesuat u yang ghoib dan yang semisalnya.

2) Al-Insya' (ﺀﺎﺸﻧﻹﺍ):

ﻣ

ﹶﻻ

ﻳ

ﻤ

ِﻜ

ﻦ

ﹶﺃ

ﹾﻥ

ﻳ

ﻮ

ﺻ

ﻒ

ِﺑ

ﻟﺎ

ﺪ

ِ

ﻭ

ﹾﻟﺍ

ﹶﻜ

ِ

ِﺏ

"Kalam yang tidak mungkin disifati dengan benar atau dusta",

diant aranya adalah perint ah dan larangan. Sepert i f irman Allah :

ﺎﺌﻴﺷ

ِﻪِﺑ

ﺍﻮﹸﻛِﺮﺸﺗ

ﻻﻭ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﺍﻭﺪﺒﻋﺍﻭ

"Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukannya dengan sesuatu

(26)

Dan t erkadang kalam adalah berupa khobar insya' dit inj au dari 2 sisi;

sepert i bent uk akad yang dilaf adzkan, misal : "aku j ual at au aku t erima",

karena kalimat ini merupakan khobar dit inj au dari penunj ukannya t erhadap

apa yang ada (kehendak, pent ) pada orang yang meng-akad, dan merupakan

insya' dit inj au dari sisi konsekuensi akad.

Terkadang kalam dat ang dalam bent uk khobar t api yang dimaksud

dengannya adalah Insya' dan sebaliknya unt uk suat u f aidah.

Cont oh yang pert ama : Firman Allah subhanahu wa ta'ala :

ٍﺀﻭﺮﹸ

ﹶﺔﹶﺛﻼﹶﺛ

ﻦِﻬِﺴﹸﻔﻧﹶ

ِﺑ

ﻦ

ﺑﺮﺘﻳ

ﺕﺎﹶﻘﱠﻠﹶ

ﻤﹾﻟﺍﻭ

"Dan perempuan-perempuan yang diceraikan hendaklah menunggu tiga

kali quru'" (al-Baqoroh : 228)

Maka f irman Allah "ﻦﺼﺑﺮﺘﻳ" adalah berbent uk khobar t et api yang dimaksud

dengannya adalah perint ah, dan f aidah dari hal t ersebut adalah penegasan

t erhadap perbuat an yang diperint ahkan t ersebut , sampai seolah-olah

perint ah t ersebut sepert i perint ah yang t elah t erj adi, berbicara dengannya

sepert i salah sat u sif at dari sif at -sif at perint ah.

Cont oh yang sebaliknya : Firman Allah subhanahu wa ta'ala :

ﻢﹸﻛﺎﻳﺎﹶ

ﹾﻞِﻤﺤﻨﹾﻟﻭ

ﺎﻨﹶﻠﻴِﺒﺳ

ﺍﻮﻌِﺒﺗﺍ

ﺍﻮﻨﻣﺁ

ﻦﻳِ

ﱠﻠِﻟ

ﺍﻭﺮﹶﻔﹶﻛ

ﻦﻳِ

ﱠﻟﺍ

ﹶﻝﺎﹶ

ﻭ

"Dan berkat a orang-orang kaf ir kepada orang-orang yang beriman, " Ikut ilah

j alan (agama) kami dan kami akan memikul kesalahan-kesalahan kamu. " [ QS

(27)

Maka f irman Allah "ﹾﻞِﻤﺤﻨﹾﻟﻭ" adalah dalam bent uk perint ah t et api yang dimaksud

dengannya adalah khobar, yait u : dan kami akan memikul, dan f aidah dari hal

t ersebut adalah menempat kan sesuat u yang dikhobarkan t ersebut pada

t empat yang diwaj ibkan dan diharuskan dengannya.

HAKIKAT DAN MAJAZ

Kalam dari sisi penggunaannya t erbagi menj adi hakikat dan maj az.

1. Hakikat (ﺔﻘﻴﻘﳊﺍ) adalah

ﱠﻠﻟﺍ

ﹾﻔ

ﹾﻟﺍ

ﻤ

ﺴ

ﺘﻌ

ﻤ

ﹸﻞ

ِﻓ

ﻴﻤ

ﻭ

ﺿ

ﹶﻟ

"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya."

Sepert i : Singa (ﺪﺳﺃ) unt uk suat u hewan yang buas.

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻞﻤﻌﺘﺴﳌﺍ) "yang digunakan" : yang t idak

digunakan, maka t idak dinamakan hakikat dan maj az.

Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻪـﻟﻊﺿﻭﺎﻤﻴﻓ) " pada asal peletakannya" :

Maj az.

Dan hakikat terbagi menjadi tiga macam : Lughowiyyah, Syar'iyyah dan

(28)

Hakikat lughowiyyah adalah :

ﱠﻠﻟﺍ

ﹾﻔ

ﹾﻟﺍ

ﻤ

ﺴ

ﺘﻌ

ﻤ

ﹸﻞ

ِﻓ

ﻴﻤ

ﻭ

ِﺿ

ﹶﻟ

ﻪ

ِﻓ

ﻲ

ﻠﻟﺍ

ﻐِﺔ

"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara bahasa."

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﺔﻐﻠﻟﺍﰲ) "secara bahasa" : hakikat syar'iyyah

dan hakikat 'urfiyyah.

Cont ohnya : sholat , maka sesungguhnya hakikat nya secara bahasa adalah doa,

maka dibawa pada makna t ersebut menurut perkat aan ahli bahasa.

Hakikat syar'iyyah adalah :

ﱠﻠﻟﺍ

ﹾﻔ

ﹾﻟﺍ

ﻤ

ﺴ

ﺘﻌ

ﻤ

ﹸﻞ

ِﻓ

ﻴﻤ

ﻭ

ِﺿ

ﹶﻟ

ﻪ

ِﻓ

ﻲ

ﺸﻟﺍ

ﺮ

ِ

"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara syar'i."

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻉﺮــﺸﻟﺍﰲ) "secara syar'i" : hakikat

lughowiyyah dan hakikat 'urfiyyah.

Cont ohnya : sholat , maka sesungguhnya hakikat nya secara syar'i adalah

perkat aan dan perbuat an yang sudah diket ahui yang dimulai dengan t akbir

dan diakhiri dengan salam, maka dibawa pada makna t ersebut menurut

perkat aan ahli syar'i.

(29)

Hakikat 'urfiyyah adalah :

ﱠﻠﻟﺍ

ﹾﻔ

ﺴ

ﺘﻌ

ﻤ

ﹸﻞ

ِﻓ

ﻴﻤ

ﻭ

ِﺿ

ﹶﻟ

ﻪ

ِﻓ

ﻲ

ﻌﻟﺍ

ﺮ

ِ

"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara 'urf (adat/kebiasaan)."

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻑﺮﻌﻟﺍﰲ) "secara 'urf" : hakikat lughowiyyah

dan hakikat syar'iyyah.

Cont ohnya : Ad-Dabbah (ﺔـﺑﺍﺪﻟﺍ), maka sesungguhnya hakikat nya secara 'urf

adalah hewan yang mempunyai empat kaki, maka dibawa pada makna

t ersebut menurut perkat aan ahli 'urf.

Dan manf aat dari menget ahui pembagian hakikat menj adi t iga macam adalah

: Agar kit a membawa set iap laf adz pada makna hakikat dalam t empat yang

semest inya sesuai dengan penggunaannya. Maka dalam penggunaan ahli

bahasa laf adz dibawa kepada hakikat lughowiyyah dan dalam penggunaan

syar'i dibawa kepada hakikat syar'iyyah dan dalam penggunaan ahli 'urf

dibawa kepada hakikat 'urfiyyah.

2. Majaz (ﺯﺎﺍ) adalah

ﱠﻠﻟﺍ

ﹾﻔ

ﺴ

ﺘﻌ

ﻤ

ﹸﻞ

ِﻓ

ﻲ

ﻴِﺮ

ﻣ

ﻭ

ِﺿ

ﹶﻟ

ﻪ

"Lafadz yang digunakan bukan pada asal peletakannya."

(30)

Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻞﻤﻌﺘﺴﳌﺍ) "yang digunakan" : yang t idak

digunakan, maka t idak dinamakan hakikat dan maj az.

Dan keluar dari perkat aan kami : ( ﻪـﻟﻊـﺿﻭﺎـﻣﲑـﻏﰲ) "bukan pada asal

peletakannya" : Hakikat .

Dan t idak boleh membawa laf adz pada makna maj aznya kecuali dengan dalil yang shohih yang menghalangi laf adz t ersebut dari maksud yang hakiki,

dan ini yang dinamakan dalam ilmu bayan sebagai qorinah (penguat ).

Dan disyarat kan benarnya penggunaan laf adz pada maj aznya : Adanya kesat uan ant ara makna secara hakiki dengan makna secara maj azi agar

benarnya pengungkapannya, dan ini yang dinamakan dalam ilmu bayan

sebagai 'Alaqoh (hubungan/ penyesuaian), dan 'Alaqoh bisa berupa

penyerupaan at au yang selainnya.

Maka j ika maj az t ersebut dengan penyerupaan, dinamakan maj az

Isti'arah (ﺓﺭﺎﻌﺘﺳﺍ), sepert i maj az pada laf adz singa unt uk seorang laki-laki yang

pemberani.

Dan j ika bukan dengan penyerupaan, dinamakan maj az Mursal (ﻞﺳﺮﻣﺯﺎﳎ)

j ika maj aznya dalam kat a, dan dinamakan maj az 'Aqli (ﻲﻠﻘﻋﺯﺎﳎ) j ika maj aznya

dalam penyandarannya.

Cont ohnya dari maj az mursal : kamu mengat akan : ( ﺮـﻄﳌﺍﺎـﻨﻴﻋﺭ) "Kami

memelihara huj an", maka kat a (ﺮـﻄﳌﺍ) "huj an" merupakan maj az dari rumput

(31)

Dan cont ohnya dari maj az 'Aqli : Kamu mengat akan : ( ﺐـﺸﻌﻟﺍﺮـﻄﳌﺍﺖـﺒﻧﺃ)

"Huj an it u menumbuhkan rumput ", maka kat a-kat a t ersebut seluruhnya

menunj ukkan hakikat maknanya, t et api penyandaran menumbuhkan pada

huj an adalah maj az, karena yang menumbuhkan secara hakikat adalah Allah

t a'ala, maka maj az ini adalah dalam penyandarannya.

Dan diant ara maj az mursal adalah : Maj az dalam hal penambahan dan maj az dalam hal penghapusan.

Mereka memberi permisalan maj az dalam hal penambahan dengan f irman Allah ta'ala :

ٌ

ﺀﻲﺷ

ِﻪِﻠﹾﺜِﻤﹶﻛ

ﻴﹶﻟ

"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya" (QS. Asy-Syuro : 11)

Maka mereka mengat akan : Sesungguhnya (ﻑﺎـﻜﻟﺍ) "huruf kaaf" adalah

t ambahan unt uk penguat an peniadaan permisalan dari Allah t a'ala.

Cont oh dari maj az dengan penghapusan adalah f irman Allah t a'ala :

ﹶﺔﻳﺮﹶﻘﹾﻟﺍ

ِﻝﹶ

ﺳﺍﻭ

"Bertanyalah kepada desa" (QS. Yusuf : 82)

Maksudnya : ( ﺔـﻳﺮﻘﻟﺍﻞـﻫﺃﻝﺄـﺳﺍﻭ) "bert anyalah pada penduduk desa", maka

(32)

Dan hanya saj a disebut kan sedikit t ent ang hakikat dan maj az dalam ushul f iqh karena penunj ukan laf adz bisa j adi berupa hakikat dan bisa j adi

berupa maj az, maka dibut uhkan unt uk menget ahui keduanya dan hukumnya.

Wallahu A'lam.

PERINGATAN:

Pembagian kalam menj adi hakikat dan maj az adalah masyhur di kalangan sebagian besar muta'akhkhirin dalam Al-Qur'an dan yang selainnya.

Dan berkat a sebagian ahli ilmu : "Tidak ada maj az dalam Al-Qur'an" dan

berkat a sebagian yang lain : "Tidak ada maj az dalam Al-Qur'an dan yang

selainnya", dan ini merupakan pendapat Abu Ishaq Al-Isf aroyin dan dari

kalangan mut a'akhkhirin Muhammad Al-Amin Asy-Syanqit hi. Dan Syaikhul

Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim t elah menj elaskan

bahwasanya ist ilah t ersebut muncul set elah berlalunya t iga masa yang ut ama,

dan beliau menguat kan pendapat ini dengan dalil-dalil yang kuat dan banyak,

yang menj elaskan kepada orang yang menelit inya bahwa pendapat ini adalah

pendapat yang benar.

(33)

َ

ﻷﺍ

ﻣﺮ

PERINTAH

DEFINISINYA :

Perint ah (ﺮﻣﻷﺍ) adalah :

ﻮ

ﹲﻝ

ﻳ

ﺘ

ﻀ

ﻤ

ﻦ

ﹶﻃ

ﹶﻠ

ِﻔﻟﺍ

ﻌ

ِﻞ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻭ

ِﻪ

ﹾﺍ

ِﻻ

ﺳ

ِﺘﻌ

ﹶﻼ

ِﺀ

"Perkat aan yang mengandung permint aan unt uk dilakukannya suat u

perbuat an, dalam bent uk al-isti'la (dari yang lebih t inggi ke yang lebih

rendah, sepert i Allah memerint ahkan hamba-Nya. pent ).

Keluar dari perkat aan kami : (ﻝﻮـﻗ) "perkat aan" ; Isyarat , maka isyarat

t idak dinamakan perint ah, walaupun maknanya memberi f aidah perint ah.

Keluar dari perkat aan kami : (ﻞـﻌﻔﻟﺍﺐـﻠﻃ) "permint aan unt uk dilakukannya

suat u perbuat an" ; larangan, karena larangan merupakan permint aan unt uk

meninggalkan sesuat u, dan yang dimaksud dengan perbuat an adalah

mewuj udkan sesuat u, maka (perbuat an t ersebut , pent ) mencakup

perkat aan/ ucapan yang diperint ahkan.

Keluar dari perkat aan kami : (ﺀﻼﻌﺘـﺳﻻﺍﻪـﺟﻭﻰـﻠﻋ) "dalam bent uk isti'la" ;

al-iltimas (set ara/ sej aj ar/ selevel, pent ) dan do'a (dari yang lebih rendah

kepada yang lebih t inggi, pent ) dan yang selainnya yang diambil dari bent uk

(34)

BENTUK-BENTUK PERINTAH :

Bent uk-bent uk perint ah ada empat :

1. Fi'il amr (ﺮﻣﻷﺍﻞﻌﻓ),

Cont ohnya :

ﹸﻞﺗﺍ

ِﺏﺎﺘِﻜﹾﻟﺍ

ﻦِﻣ

ﻚﻴﹶﻟِﺇ

ﻲِﺣﻭﹸﺃ

ﺎﻣ

"Bacalah apa-apa yang diwahyukan kepadamu dari Kit ab" [ QS.

Al-Ankabut : 45]

2. Isim f i'il amr (ﺮﻣﻷﺍﻞﻌﻓﻢﺳﺍ),

Cont ohnya :

ﺣ

ﻲ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻟﺍ

ﹶﻼ

ِﺓ

"Marilah kit a sholat "

3. Masdar penggant i dari f i'il amr (ﺮﻣﻷﺍﻞﻌﻓﻦﻋﺐﺋﺎﻨﻟﺍﺭﺪﺼﳌﺍ),

Cont ohnya :

ﺍﻭﺮﹶﻔﹶﻛ

ﻦﻳِ

ﱠﻟﺍ

ﻢﺘﻴِﻘﹶﻟ

ﺍﹶﺫِﺈﹶﻓ

ﺏﺮﻀﹶﻓ

ﺏﺎﹶ

ﺮﻟﺍ

"Apabila kamu bert emu dengan orang-orang kaf ir (di medan perang) maka

(35)

4. Fi'il Mudhori' yang bersambung dengan lam amr (ﺮﻣﻷﺍﻡﻼﺑﻥﻭﺮﻘﳌﺍﻉﺭﺎﻀﳌﺍ),

Cont ohnya :

ﺍﻮﻨِﻣﺆﺘِﻟ

ِﻪِﻟﻮﺳﺭﻭ

ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ

"Supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya" QS. Al-Muj adalah: 4]

Dan t erkadang yang selain bent uk perint ah memberi f aidah permint aan

unt uk dilakukannya suat u perbuat an sepert i suat u perbuat an yang disif at i

dengan hukum f ardhu at au waj ib at au mandub (disukai) at au merupakan

ket aat an at au pelakunya dipuj i at au yang meninggalkannya dicela at au

mengerj akannya mendapat ganj aran at au meninggalkannya mendapat adzab.

Yang dit unj ukkan dari bent uk perint ah (ﺮﻣﻷﺍﺔﻐﻴﺻ):

Bent uk perint ah secara mut lak/ umum memberi konsekuensi: waj ibnya

sesuat u yang diperint ahkan dan bersegera (ﺓﺭﺩﺎﺒﳌﺍ) dalam melakukannya secara

langsung.

Diant ara dalil-dalil yang menunj ukkan bahwa bent uk perint ah memberi

konsekuensi waj ib adalah f irman Allah t a'ala :

ﻢﻴِﻟﹶﺃ

ﺏﺍﹶ

ﻋ

ﻢﻬﺒﻴِ

ﻳ

ﻭﹶﺃ

ﹲﺔﻨﺘِﻓ

ﻢﻬﺒﻴِ

ﺗ

ﹾﻥﹶﺃ

ِﻩِﺮﻣﹶﺃ

ﻦﻋ

ﹶﻥﻮﹸﻔِﻟﺎ

ﻳ

ﻦﻳِ

ﱠﻟﺍ

ِﺭﹶ

ﺤﻴﹾﻠﹶﻓ

"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perint ah Rasul, t akut akan

(36)

Segi pendalilannya bahwasanya Allah memperingat kan kepada

orang-orang yang menyelisihi perint ah Rosul shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa

mereka akan t ert impa f it nah yait u kesesat an at au mereka akan dit impa

dengan adzab yang pedih, yang demikian it u t idaklah t erj adi melainkan

dengan meninggalkan kewaj iban, maka ini menunj ukkan bahwa perint ah

Rosullullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara mut lak/ umum menunj ukkan

waj ibnya perbuat an yang diperint ahkan.

Dan diant ara dalil-dalil yang menunj ukkan bahwa bent uk perint ah

menunj ukkan unt uk segera dilakukan secara langsung adalah f irman Allah

ta'ala :

ِﺕﺍﺮﻴ

ﹾﻟﺍ

ﺍﻮﹸﻘِﺒﺘﺳﺎﹶﻓ

"Maka berlomba-lombalah (dalam membuat ) kebaikan" [ QS. Al-Baqoroh :

148]

Dan semua yang diperint ahkan secara syar'i merupakan kebaikan, dan

perint ah unt uk berlomba-lomba dalam mengerj akannya merupakan dalil

waj ibnya bersegera.

Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membenci ket ika para sahabat

menunda-nunda apa yang diperint ahkan kepada mereka dari menyembelih

dan mencukur rambut pada hari perj anj ian Hudaibiyyah, sampai Rosullullah

shallallahu 'alaihi wa sallam masuk mendat angi Ummu Salamah radhiyallahu

'anha maka beliau mencerit akan kepadanya apa yang beliau dapat kan dari

sikap para sahabat (yang menunda-nunda perint ahnya, pent ). [ HR. Ahmad

(37)

Dan karena bersegera dalam melakukan suat u perbuat an (yang

diperint ahkan, pent ) adalah lebih hat i-hat i dan lebih membebaskan dari

t anggungan, dan menunda-nunda melakukan perbuat an yang diperint ahkan

merupakan cacat , dan memberi konsekuensi bert umpuknya kewaj

iban-kewaj iban sehingga seseorang menj adi t idak sanggup mengerj akannya.

Dan t erkadang perint ah keluar dari hukum waj ib dan bersegera dengan

adanya dalil yang menunj ukkan demikian maka perint ah keluar dari hukum

waj ib kepada beberapa makna (hukum), diant aranya :

1. Mandub (disukai), sepert i f irman Allah ta'ala :

ﻢﺘﻌﻳﺎﺒﺗ

ﺍﹶﺫِﺇ

ﺍﻭﺪِﻬﺷﹶﺃﻭ

"Dan dat angkanlah saksi j ika kalian berj ual beli" [ QS. Al-Baqoroh : 282]

Perint ah unt uk mendat angkan saksi at as j ual beli hukumnya adalah mandub

dengan dalil bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membeli kuda dari

seorang A'robi (Arab Badui) dan beliau t idak mendat angkan saksi. [ HR.

Ahmad, An-Nasa'i, Abu Dawud, dan pada hadit s t ersebut t erdapat suat u

cerit a] .

2. Mubah (Boleh), dan kebanyakan yang t erj adi adalah j ika perint ah t ersebut dat ang set elah adanya larangan at au sebagai j awaban t erhadap sesuat u yang

disangka t erlarang.

(38)

ﺍﻭﺩﺎﹶ

ﺻﺎﹶﻓ

ﻢﺘﹾﻠﹶﻠﺣ

ﺍﹶﺫِﺇﻭ

"Jika engkau t elah bert ahallul maka berburulah" [ QS. Al-Maidah : 2]

Perint ah unt uk berburu t ersebut hukumnya mubah karena ia muncul

set elah adanya larangan yang dit unj ukkan dari f irman Allah :

ﻭ

ِﺪﻴ

ﻟﺍ

ﻲﱢﻠِﺤﻣ

ﺮﻴﹶ

ﻡﺮﺣ

ﻢﺘﻧﹶﺃ

"(Yang demikian it u) dengan t idak menghalalkan berburu ket ika kamu sedang

dalam keadaan ber-ihrom. " [ QS. Al-Maidah : 1]

Dan cont oh sebagai j awaban t erhadap sesuat u yang disangka t erlarang

adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :

ﹾﻓﺍ

ﻌ

ﹾﻞ

ﻭ

ﹶﻻ

ﺣ

ﺮ

"Lakukanlah, t idak mengapa! " [Muttafaqun alaih]

Sebagai j awaban at as orang yang bert anya kepada beliau pada haj i wada'

t ent ang mendahulukan amalan-amalan haj i yang sat u t erhadap yang lainnya

yang dikerj akan pada hari Ied.

3. Ancaman sepert i pada f irman Allah ta'ala :

ِ

ﺑ

ﹶﻥﻮﹸﻠﻤﻌﺗ

ﺎﻤِﺑ

ﻪﻧِﺇ

ﻢﺘﹾﺌِﺷ

ﺎﻣ

ﺍﻮﹸﻠﻤﻋﺍ

"Berbuat lah semau kalian, sesungguhnya Allah Maha Melihat t erhadap

(39)

ﻴﹾﻠﹶﻓ

ﺀﺎﺷ

ﻦﻣﻭ

ﻦِﻣﺆﻴﹾﻠﹶﻓ

ﺀﺎﺷ

ﻦﻤﹶﻓ

ﺭﺎﻧ

ِﻤِﻟﺎﱠ

ﻠِﻟ

ﺎﻧﺪﺘﻋﹶﺃ

ﺎﻧِﺇ

ﺮﹸﻔﹾﻜ

"Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan

barangsiapa yang ingin (kaf ir) biarlah ia kaf ir. " Sesungguhnya Kami t elah

sediakan bagi orang orang zalim it u neraka" [ QS. Al-Kahf i: 29]

Penyebut an ancaman set elah adanya perint ah yang disebut kan t adi

merupakan dalil bahwa perint ah t ersebut adalah sebagai ancaman.

Dan t erkadang perint ah keluar dari hukum bersegera kepada hukum boleh

dit unda (ﻲﺧﺍﺮﺘﻟﺍ).

Cont ohnya : Qodho' puasa romadhon, maka seseorang diperint ahkan

unt uk menunaikannya, akan t et api ada dalil yang menunj ukkan bahwa qodho'

t ersebut boleh dit unda. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkat a :

ِﻓ

ﺎﱠﻟِﺇ

ﻪﻴِﻀﹾ

ﹶﺃ

ﹾﻥﹶﺃ

ﻴِ

ﺘﺳﹶﺃ

ﺎﻤﹶﻓ

ﹶﻥﺎﻀﻣﺭ

ﻦِﻣ

ﻡﻮ

ﻟﺍ

ﻲﹶﻠﻋ

ﹸﻥﻮﹸﻜﻳ

ﹶﻥﺎﹶﻛ

ﻚِﻟﹶﺫﻭ

ﹶﻥﺎﺒﻌﺷ

ﻢﱠﻠﺳﻭ

ِﻪﻴﹶﻠﻋ

ﻪﱠﻠﻟﺍ

ﻰﱠﻠﺻ

ِﻪﱠﻠﻟﺍ

ِﻝﻮﺳﺭ

ِﻥﺎﹶﻜﻤِﻟ

"Aku pernah mempunyai hut ang puasa romadhon, aku t idak mampu unt uk

mengqodho'nya kecuali di bulan Sya'ban, yang demikian adalah karena

kedudukan Rosullullah shallallahu 'alaihi wa sallam. " [ HR. Al-Jama'ah]

Dan seandainya mengakhirkannya adalah haram maka Aisyah t idak akan

(40)

APA YANG TIDAK SEMPURNA SESUATU YANG DIPERINTAHKAN KECUALI

DENGANNYA(ﻪﺑﻻﺇﺭﻮﻣﺄﳌﺍﻢﺘﻳﻻﺎﻣ):

Jika suat u perbuat an yang diperint ahkan t idak bisa dikerj akan kecuali

dengan sesuat u maka sesuat u t ersebut adalah diperint ahkan, j ika yang

diperint ahkan adalah waj ib maka sesuat u it u hukumnya j uga waj ib, dan j ika

yang diperint ahkan adalah mandub maka sesuat u it u hukumnya mandub.

Cont oh yang waj ib : menut up aurat , j ika t idak bisa dikerj akan kecuali

dengan membeli pakaian, maka membeli pakaian t ersebut hukumnya menj adi

waj ib.

Cont oh yang mandub : memakai wewangian unt uk sholat j um'at , j ika

t idak bisa dikerj akan kecuali dengan membeli wewangian, maka membeli

wewangian t ersebut hukumnya menj adi mandub.

Dan kaidah ini t erkandung pada kaidah yang lebih umum darinya yait u :

ﻮﻟﺍ

ﺳ

ِ

ﹸﻞ

ﹶﻟ

ﻬ

ﹶﺃ

ﺣ

ﹶﻜ

ﻡﺎ

ﹶﻘ

ِﺻﺎ

ِﺪ

"hukum wasilah adalah sebagaimana hukum yang dituju."

Maka wasilah-wasilah unt uk suat u yang diperint ahkan hukumnya adalah

diperint ahkan j uga, dan wasilah-wasilah yang suat u yang dilarang hukumnya

adalah dilarang.

(41)

ﻲـﻬﻨﻟﺍ

LARANGAN

DEFINISINYA :

Larangan (

ﻲﻬﻨﻟﺍ

) adalah :

ﻮ

ﹲﻝ

ﻳ

ﺘ

ﻀ

ﻤ

ﻦ

ﹶﻃ

ﹶﻠ

ﻟﺍ

ﹶﻜ

ﻒ

ﻋ

ﹶﻠ

ﻭ

ِﻪ

ﹾﺍ

ِﻻ

ﺳ

ِﺘﻌ

ﹶﻼ

ِﺀ

ِﺑ

ِ

ﻴﻐ

ٍﺔ

ﻣ

ﻮ

ﺻ

ٍﺔ

ِﻫ

ﻲ

ﻀ

ِﺭﺎ

ﹾﻘﺮ

ﻭ

ﹸﻥ

ِﺑ

ﹶﻼ

ﻨﻟﺍ

ِﻫﺎ

ﻴِﺔ

"Perkat aan yang mengandung permint aan unt uk menahan diri dari suat u

perbuat an dalam bent uk ist i'la' (dari at as ke bawah) dengan bent uk khusus

yait u f i'il mudhori' yang didahului dengan 'la nahiyah' (

ﺔﻴِﻫﺎﻨﻟﺍ

ﹶﻻ

) (Yakni [] yang

bermakna larangan, pent ). "

Sepert i f irman Allah :

ﹶﻥﻮﻤﹶﻠﻌﻳ

ﻦﻳِ

ﱠﻟﺍ

َ

ﺀﺍﻮﻫﹶﺃ

ِﺒﺘﺗ

ﻻﻭ

"Dan j anganlah engkau mengikut i hawa naf su orang-orang yang

mendust akan ayat -ayat kami dan orang-orang yang t idak beriman kepada

(42)

Keluar dari perkat aan kami : (

ﻝﻮ

) "perkat aan" : isyarat (

ﺓﺭﺎﺷ

), maka

isyarat t idak dinamakan sebagai larangan walaupun maknanya memiliki

f aidah sebagai larangan.

Keluar dari perkat aan kami : (

ﻒﻜﻟﺍ

ﻠﻃ

) "permint aan unt uk menahan diri

dari suat u perbuat an": perint ah (

ﺮﻣﻷﺍ

), karena perint ah adalah permint aan

unt uk melakukan suat u perbuat an. "

Keluar dari perkat aan kami : (

ﺀﻼﻌﺘﺳﻻﺍ

ﻰﻠﻋ

) "dalam bent uk isti'la'" :

sej aj ar (

ﺎﻤﺘﻟﻻﺍ

) dan doa (

ﺀﺎﻋﺪﻟﺍ

), dan yang selainnya yang memberi f aidah

larangan dengan adanya qorinah.

Keluar dari perkat aan kami : (

ﺔﻴﻫﺎﻨﻟﺍ

ﻼﺑ

ﻥﻭﺮﻘ

ﺭﺎﻀ

ﻲﻫ

ﺔﺻﻮ

ﺼﳐ

ﺔﻐﻴ

) "dengan

bent uk khusus yait u f i'il mudhori' yang didahului dengan la nahiyah" : apa-apa

yang menunj ukkan at as permint aan menahan diri dari sesuat u dengan bent uk

perint ah (

ﺮﻣﻷﺍ

ﺔﻐﻴﺻ

), sepert i : (

) "t inggalkan", (

ﺮﺗﺍ

) "t inggalkan", (

ﻒﻛ

)

"cukup", dan yang selainnya, maka walaupun ini mengandung permint aan

unt uk menahan diri dari sesuat u, t api f i'il-f i'il t ersebut dalam bent uk perint ah

(

ﺮﻣﻷﺍ

ﺔﻐﻴﺻ

), maka f i'il-f i'il t ersebut adalah bermakna perint ah, bukan larangan.

Dan t erkadang yang selain bent uk larangan (

ﻲﻬﻨﻟﺍ

ﺔﻐﻴﺻ

) memberi f aidah
(43)

yang disif at i dengan keharoman, larangan at au keburukan, at au at au

pelakunya dicela, at au mengerj akannya mendapat adzab.

APA-APA YANG MENJADI KOSEKUENSI BENTUK LARANGAN (

ﻲﻬﻨﻟﺍ

ﺔﻐﻴﺻ

):

Bent uk larangan secara mut lak menunj ukkan keharoman dan rusaknya

sesuat u yang dilarang t ersebut .

Diant ara dalil-dalil bahwa larangan it u menunj ukkan keharoman adalah

f irman Allah ta'ala :

ﺍﻮﻬﺘﻧﺎﹶﻓ

ﻪﻨﻋ

ﻢﹸﻛﺎﻬﻧ

ﺎﻣﻭ

ﻩﻭﹸ

ﹶﻓ

ﹸﻝﻮﺳﺮﻟﺍ

ﻢﹸﻛﺎﺗﺁ

ﺎﻣﻭ

"Apa-apa (perint ah) yang dat ang kepada kalian dari Rosul maka ambillah

(kerj akanlah) dan apa-apa yang dilarang oleh Rosul maka berhent ilah

(t inggalkanlah)" [ QS. Al-Hasyr : 7]

Maka perint ah unt uk berhent i (meninggalkan dari apa yang dilarang)

menunj ukkan waj ibnya berhent i, dan konsekuensinya adalah haramnya

mengerj akan perbuat an t ersebut .

Diant ara dalil-dalil bahwa larangan it u menunj ukkan rusaknya suat u

perbuat an adalah sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wa sallam adalah :

ﻣ

ﻦ

ﻋ

ِﻤ

ﹶﻞ

ﻋ

ﻤ

ﹶﻟ

ﹰﻼ

ﻴ

ﻋ

ﹶﻠﻴ

ِﻪ

ﹶﺃ

ِﻣﺮ

ﻧ

ﹶﻓ

ﻬ

ﻮ

ﺭ

(44)

Yakni dit olak (

ﺩﻭﺩﺮﻣ

), dan apa-apa yang Nabi shollallahu alaihi wa sallam

melarang dari mengerj akannya, maka t idak ada padanya perint ah Nabi

shollallahu alaihi wa sallam, sehingga perbuat an t ersebut merupakan

perbuat an yang dit olak.

Demikian dan dalam kaidah al-madzhab (maksudnya adalah madzhab

hambali, pent ) dalam perbuat an yang dilarang; apakah perbuat an t ersebut

menj adi bat al at au t et ap sah dengan adanya pengharaman (t erhadap

perbuat an t ersebut )? adalah sebagai berikut :

1. Bahwa larangan t ersebut kembali pada dzat yang dilarang at asnya at au

syarat nya maka sesuat u it u menj adi bat al.

2. Bahwa larangan t ersebut kembali pada perkara luar yang t idak

berhubungan dengan dzat yang dilarang at asnya dan t idak pula

berhubungan dengan syarat nya maka sesuat u it u t idak menj adi bat al.

Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah

ibadah adalah : Larangan unt uk berpuasa pada dua hari Ied.

Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah

mu'amalah adalah : Larangan unt uk berj ual beli set elah adzan sholat j um'at

yang kedua bagi orang-orang yang waj ib sholat j um'at .

Misal larangan yang kembali pada syarat nya dalam masalah ibadah

adalah: Larangan bagi laki-laki unt uk memakai pakaian dari sut era, menut up

aurat adalah syarat sahnya sholat , j ika dia menut upnya dengan pakaian yang

dilarang at asnya, maka sholat nya t idak sah karena larangan t ersebut kembali

(45)

Misal larangan yang kembali pada syarat nya dalam masalah mu'amalah

adalah: Larangan unt uk berj ual beli dengan suat u binat ang yang masih berada

dalam perut induknya, maka penget ahuan t ent ang sesuat u yang akan

diperj ual belikan adalah syarat sahnya j ual beli, j ika seseorang berj ual beli

dengan suat u binat ang yang masih berada dalam perut induknya, maka j ual

beli t ersebut t idak sah karena larangan t ersebut kembali pada syarat nya.

Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah ibadah

adalah : larangan bagi laki-laki unt uk memakai imamah dari sut era, j ika dia

sholat dan memakai imamah dari sut era maka sholat nya t idak bat al, karena

larangan t idak kembali kepada dzat nya sholat dan syarat nya.

Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah mu'amalah

adalah : larangan unt uk menipu, maka j ika seseorang melakukan j ual beli

sesuat u dengan menipu, j ual beli t ersebut t idak bat al karena larangan t idak

kembali pada dzat nya j ual beli dan syarat nya.

Dan t erkadang suat u larangan keluar dari hukum haram kepada hukum

lain dengan dalil yang menunj ukkan hal it u, diant aranya :

1. Makruh, mereka (ulama ushul f iqh, pent ) memberi permisalan hal it u

dengan sabda Nabi shollallahu alahi wa sallam :

ﹶﻻ

ﻳ

ﻤ

ﺴ

ﹶﺃ

ﻦ

ﺣ

ﺪ

ﹸﻛ

ﻢ

ﹶﺫ

ﹶﻛ

ﺮﻩ

ِﺑ

ﻴِﻤ

ﻴِﻨ

ِﻪ

ﻭ

ﻫ

ﻮ

ﻳ

ﺒﻮ

ﹸﻝ

"Janganlah salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya

(46)

Maka j umhur ulama mengat akan : "Sesungguhnya larangan disini

adalah menunj ukkan kemakruhan, karena kemaluan adalah salah sat u

bagian t ubuh manusia, dan hikmah dari larangan t ersebut adalah

mensucikan t angan kanan. "

2. Sebagai arahan, misalnya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam kepada

Mu'adz :" Janganlah kamu meninggalkan untuk membaca disetiap akhir

sholat :

ﻚِﺗﺩﺎﺒِﻋ

ِﻦﺴﺣ�

Referensi

Dokumen terkait

Penulis memilih konsep yang ditawarkan Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin karena beliau merujuk kepada Alquran dan Hadis dengan pemahaman pendahulu umat yaitu

Sungguh beruntung orang yang terhindar dari menggunjing orang lain, karena ia mengetahui yang ada pada dirinya.. Sungguh beruntung orang yang berpegang denganpetunjuk al Qur`an,

Seorang pria yang menikah dengan tujuan untuk menjaga dirinya dari perbuatan dosa, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan membantu didalam nikahnya itu,

‘alaihi wa sallam maka kami mempelajari halal-haramnya, tidak ada di dekat Nabi yang seperti kalian dalam mempelajari Al-Qur- ān.” Lalu ia mengatakan : “Aku telah

Jika hal itu dilakukan di siang hari ramadhan dan puasanya adalah puasa wajib, maka harus diganti dan membayar kaffaroh mugholazhoh; yaitu membebaskan budak, jika tidak menemukan

Sungguh hal yang menakjubkan dari Syaikh Muhammad لىاعت للها هحمر ini bahwa ia telah diberikan Allah pemahaman yang kuat dan kepintaran dimana beliau setiap

Inilah yang semestinya menjadi perhatian besar bagi orang yang beriman untuk membersihkan hati darinya. Demikian pula ia membersihkan hatinya dari sifat iri, dengki, marah dan

MisaInya: seseorang bangun dari sujud kedua pada raka'at kedua untuk melan- jutkan ke raka'at ketiga; dia lupa tidak membaca tasyahhud awwal, tetapi ke- mudian ia ingat sebelum