P
PR
R
I
I
N
N
S
S
I
I
P
P
IL
I
L
M
M
U
U
US
U
S
H
H
U
U
L
L
FI
F
I
Q
Q
I
I
H
H
Asy-Syaikh al-'Allamah
Al-Ushul min 'Ilmil Ushul
Penulis
Asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin
Judul Dalam Bahasa Indonesia
Prinsip Ilmu Ushul Fiqih
Penerjemah
Abu SHilah & Ummu SHilah
Layout & Design Sampul
Abu SHilah
Disebarkan melalui :
ht t p: / / t holib.wordpress.comJumadi ats-Tsaniyah 1428 H / Juni 2007 M
ﻣﹶﻘ
ﺪ
ﻣﹸﺔ
ﹾﻟﺍ
ﻤ
ﺆﱢﻟ
ِﻒ
MUQODDIMAH PENULIS
ﻦﻣ
ﷲﺎﺑ
ﺫﻮﻌﻧﻭ
،ﻪﻴﻟﺇ
ﺏﻮﺘﻧﻭ
،ﻩﺮﻔﻐﺘﺴﻧﻭ
،ﻪﻨﻴﻌﺘﺴﻧﻭ
،ﻩﺪﻤﳓ
ﷲ
ﺪﻤﳊﺍ
،ﺎﻨﺴﻔﻧﺃ
ﺭﻭﺮﺷ
ﻥﺃ
ﺪﻬﺷﺃﻭ
،ﻪﻟ
ﻱﺩﺎﻫ
ﻼﻓ
ﻞﻠﻀﻳ
ﻦﻣﻭ
ﻪﻟ
ﻞﻀﻣ
ﻼﻓ
ﷲﺍ
ﻩﺪﻬﻳ
ﻦﻣ
،ﺎﻨﻟﺎﻤﻋﺃ
ﺕﺎﺌﻴﺳ
ﻦﻣﻭ
ﻪﻟﻮﺳﺭﻭ
ﻩﺪﺒﻋ
ﹰﺍﺪﻤﳏ
ﻥﺃ
ﺪﻬﺷﺃﻭ
،ﻪﻟ
ﻚﻳﺮﺷ
ﻻ
ﻩﺪﺣﻭ
ﷲﺍ
ﻻﺇ
ﻪﻟﺇ
ﻻ
،ﻪﻴﻠﻋ
ﷲﺍ
ﻰﻠﺻ
،
ﹰﺎﻤﻴﻠﺴﺗ
ﻢﻠﺳﻭ
ﻦﻳﺪﻟﺍ
ﻡﻮﻳ
ﱃﺇ
ﻥﺎﺴﺣﺈﺑ
ﻢﻬﻌﺒﺗ
ﻦﻣﻭ
،ﻪﺑﺎﺤﺻﺃﻭ
ﻪﻟﺁ
ﻰﻠﻋﻭ
.
ﺪﻌﺑ
ﺎﻣﺃ
:
Ini adalah Tulisan singkat dalam Ushul Fiqih yang kami t ulis sesuai
kurikul um yang t elah disepakat i unt uk t ahun ket iga Tsanawiyah d i ma’
ma’ had ilmiyyah, dan kami menamakannya:
ِﻝﻮﺻُﻷﺍ
ِﻢﹾﻠِﻋ
ﻦِﻣ
ﹸﻝﻮﺻُﻷﺍ
(al-Ushul min 'Ilmil Ushul)
Aku memohon kepada Allah agar menj adikan ilmu kami ikhlas karena
Allah dan bermanf aat bagi hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah Maha
ﹸﺃ
ﺻ
ﹸﻝﻮ
ِﻔﻟﺍ
ِﻪـﹾﻘ
USHUL FIQIH
DEFINISINYA:
Ushul Fiqih didef inisikan dengan 2 t inj auan:
Pertama : t inj auan dari 2 kosa kat anya yait u dari t inj auan kat a (ﹲﻝﻮﺻﹸﺃ) dan
kat a (ﻪﹾﻘِﻓ).
Ushul (ﹸﻝﻮﺻُﻷﺍ) adalah bent uk j amak dari "al-Ashl" (ﹲﻞﺻﹶﺃ) yait u apa yang
dibangun di at asnya yang selainnya, dan diant aranya adalah 'pokoknya
t embok' (ﺭﺍﺪِﳉﺍ ﹸﻞﺻﹶﺃ) yait u pondasinya, dan 'pokoknya pohon' (ِﺓﺮﺠﺸﻟﺍ ﹸﻞﺻﹶﺃ) yang
bercabang darinya rant ing-rant ingnya. Allah berf irman:
ﹶﻛ
ﹰﻼﹶﺜﻣ
ﻪﱠﻠﻟﺍ
ﺏﺮﺿ
ﻒﻴﹶﻛ
ﺮﺗ
ﻢﹶﻟﹶﺃ
ﻲِﻓ
ﺎﻬﻋﺮﹶﻓﻭ
ﺖِﺑﺎﹶﺛ
ﺎﻬﹸﻠﺻﹶﺃ
ٍﺔﺒﻴﹶﻃ
ٍﺓﺮﺠﺸﹶﻛ
ﹰﺔﺒﻴﹶﻃ
ﹰﺔﻤِﻠ
ِﺀﺎﻤﺴﻟﺍ
"Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit" [ QS. Ibrohim : 24]
Dan Fiqih (ﻪﹾﻘِﻔﻟﺍ) secara bahasa adalah pemahaman (ﻢﻬﹶﻔﻟﺍ), diant ara dalilnya
ﻲِﻧﺎﺴِﻟ
ﻦِﻣ
ﹰﺓﺪﹾﻘﻋ
ﹾﻞﹸﻠﺣﺍﻭ
"dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku." (QS Thohaa : 27)
Dan secara ist ilah:
ﺸﻟﺍ
ِﻡﺎﹶﻜﺣ
َ
ﻷﺍ
ﹸﺔﹶﻓِﺮﻌﻣ
ِﺔﻴِﻠﻴِ
ﺼ
ﹾﻔﺘﻟﺍ
ﺎﻬِﺘﱠﻟِﺩﹶ
ﺄ
ِﺑ
ِﺔﻴِﻠﻤﻌﻟﺍ
ِﺔﻴِﻋﺮ
"Mengetahui hukum-hukum syar'i yang bersifat amaliyyah dengan
dalil-dalilnya yang terperinci."
Maka yang dimaksud dengan perkat aan kami : (ﹸﺔﹶﻓِﺮﻌﻣ) " Mengetahui" adalah
Ilmu dan persangkaan. Karena menget ahui hukum-hukum f iqih t erkadang
bersif at yakin dan t erkadang bersif at persangkaan, sebagaimana banyak
dalam masalah-masalah f iqih.
Dan yang dimaksud dengan perkat aan kami : (ﹸﺔﻴِﻋﺮﺸﻟﺍ ﻡﺎﹶﻜﺣَﻷﺍ) "Hukum-hukum
syar'i" adalah hukum-hukum yang diambil dari syari'at , sepert i waj ib dan
haram, maka keluar darinya (yakni Hukum-hukum syar'i) hukum-hukum akal;
sepert i menget ahui bahwa keseluruhan lebih besar daripada sebagian; dan
hukum-hukum adat (kebiasaan); sepert i menget ahui t urunnya embun di
malam yang dingin j ika cuaca cerah.
Yang dimaksud dengan perkat aan kami : (ﹸﺔﻴِﻠﻤﻌﻟﺍ) "Amaliah" adalah apa-apa
yang t idak berhubungan dengan aqidah, sepert i sholat dan zakat . Maka t idak
sepert i ment auhidkan Allah, dan mengenal nama-nama dan sif at -Nya; maka
yang demikian t idak dinamakan Fiqih secara ist ilah.
Yang dimaksud dengan perkat aan kami : (ِﺔﻴِﻠﻴِﺼﹾﻔﺘﻟﺍ ﺎﻬِﺘﱠﻟِﺩﹶﺄِﺑ) "dengan
dalil-dalilnya yang terperinci" adalah dalil-dalil f iqh yang berhubungan dengan
masalah-masalah f iqh yang t erperinci, maka t idak t ermasuk di dalamnya ilmu
Ushul Fiqih karena pembahasan di dalamnya hanyalah mengenai dalil-dalil
f iqih yang umum.
Kedua : dari t inj auan keberadaannya sebagai j ulukan pada bidang t ert ent u, maka Ushul Fiqih didef inisikan dengan :
ﻦﻋ
ﹸ
ﺚ
ﺤﺒﻳ
ﻢﹾﻠِﻋ
ِﺪﻴِﻔﺘﺴﻤﹾﻟﺍ
ِﻝﺎﺣﻭ
ﺎﻬﻨِﻣ
ِﺓﺩﺎﹶﻔِﺘﺳِ
ﻹ
ﺍ
ِﺔﻴِﻔﻴﹶﻛﻭ
ِﺔﻴِﻟﺎﻤ
ﺟ
ِ
ﻹ
ﺍ
ِﻪﹾﻘِﻔﻟﺍ
ِﺔﱠﻟِﺩﹶﺃ
"Ilmu yang membahas dalil-dalil fiqih yang umum dan cara mengambil
faidah darinya dan kondisi orang yang mengambil faidah."
Yang dimaksud dengan perkat aan kami (ِﺔﻴِﻟﺎﻤﺟِﻹﺍ) "yang umum/mujmal",
kaidah-kaidah umum; sepert i perkat aan : "perintah menunjukkan hukum
wajib", "larangan menunjukkan hukum haram", "sah-nya suatu amal
menunjukkan amal tersebut telah terlaksana (yakni, ia t idak dit unt ut unt uk
mengulangi, pent)". Maka t idak t ermasuk dari "yang umum": dalil-dalil yang
t erperinci. Dalil-dalil t erperinci t ersebut t idaklah disebut kan dalam ilmu
Ushul Fiqih kecuali sebagai cont oh (dalam penerapan) suat u kaidah.
Yang dimaksud dari perkat aan kami : (ﺎﻬﻨِﻣِﺓﺩﺎﹶﻔِﺘﺳِﻹﺍِﺔﻴِﻔﻴﹶﻛﻭ) "dan cara mengambil
sepert i umum, khusus, mut hlaq, muqoyyad, nasikh, mansukh, dan lain-lain.
Maka dengan menguasainya (yakni cara mengambil f aidah dari dalil-dalil
umum) seseorang bisa mengambil f aidah hukum dari dalil-dalil f iqih.
Diinginkan dengan perkat aan kami : (ِﺪﻴِﻔﺘﺴﻤﹾﻟﺍ ِﻝﺎﺣﻭ) "kondisi orang yang
mengambil faidah", yait u menget ahui kondisi/ keadaan orang yang mengambil
f aidah, yait u muj t ahid. Dinamakan orang yang mengambil f aidah (ﺪﻴِﻔﺘﺴﻣ)
karena ia dengan dirinya sendiri dapat mengambil f aidah hukum dari
dalil-dalilnya karena ia t elah mencapai deraj at ij t ihad. Maka mengenal muj t ahid,
syarat -syarat ij t ihad, hukumnya dan yang semisalnya dibahas dalam ilmu
Ushul Fiqih.
FAIDAH USHUL FIQIH:
Ilmu Ushul Fiqih adalah ilmu yang agung kedudukannya, sangat pent ing
dan banyak sekali f aidahnya. Faidahnya adalah kokoh dalam menghasilkan
kemampuan yang seseorang mampu dengan kemampuan it u mengeluarkan
hukum-hukum syar'i dari dalil-dalilnya dengan landasan yang selamat .
Dan yang pert ama kali mengumpulkannya menj adi suat u bidang t ersendiri
adalah al-Imam asy-Syaf i'i Muhammad bin Idris rohimahulloh, kemudian para
'ulama sesudahnya mengikut inya dalam hal t ersebut . Maka mereka menulis
dalam ilmu Ushul Fiqih t ulisan-t ulisan yang bermacam-macam. Ada yang
berupa t ulisan, sya'ir, t ulisan ringkas, t ulisan yang panj ang, sampai ilmu
Ushul Fiqih ini menj adi bidang t ersendiri keberadaannya dan kelebihannya.
َ
ﻷﺍ
ﺣ
ﹶﻜ
ﻡﺎــ
HUKUM-HUKUM
Al-Ahkam (ﻡﺎﹶﻜﺣَﻷﹾﺍ) adalah bent uk j amak dari hukum (ﻢﹾﻜﺣ), secara bahasa
maknanya adalah keput usan/ ket et apan (ُﺀﺎﻀﹶﻘﻟﺍ).
Dan secara ist ilah :
ﻣ
ﺘﹾ
ﻗ
ﺍ
ﺎ
ﻀ
ﻩﺎ
ِ
ﺧ
ﹶ
ﻄ
ﺏﺎ
ﺸﻟﺍ
ﺮ
ِ
ﻉ
ﹸ
ﳌ
ﺍ
ﺘﻌ
ﱢﻠ
ﻖ
ِﺑ
ﹶ
ﺄ
ﹾﻓﻌ
ِﻝﺎ
ﹸ
ﳌ
ﺍ
ﹶﻜ
ﱠﻠِﻔ
ﻴﻦ
ِﻣ
ﻦ
ﹶﻃ
ﹶﻠ
ٍ
ﺐ
ﹶﺃ
،
ﻭ
ﺗ
ﺨ
ِﻴﻴ
ٍﺮ
ﹶﺃ
،
ﻭ
ﻭ
ﺿ
ٍ
ﻊ
"Apa-apa yang ditetapkan oleh seruan syari'at yang berhubungan dengan
perbuatan mukallaf (orang yang dibebani syari'at) dari tuntutan atau pilihan
atau peletakan."
Dan yang dimaksud dari perkat aan kami : (ِﻉﺮﺸﻟﺍﺏﺎﹶﻄِﺧ) "seruan syari'at" :
Al-Qur'an dan as-Sunnah.
Dan yang dimaksud dari perkat aan kami : ( ﻴﻦﱠﻠِﻔﹶﻜﳌﹸﺍ ِﻝﺎﹾﻓﻌﺄﹶِﺑ ﻖ ﻌﱢﻠﳌﹸﺍﺘ) "yang
berhubungan dengan perbuatan mukallaf": apa-apa yang berhubungan
dengan perbuat an mereka baik it u perkat aan at au perbuat an, melakukan
sesuat u at au meninggalkan sesuat u.
Maka keluar dari perkat aan t ersebut apa-apa yang berhubungan dengan
Yang dimaksud dari perkat aan kami : ( ﻴﻦﱠﻠِﻔﹶﻜﹸﳌﺍ) "mukallaf" : siapa saj a yang
keadaannya dibebani syari'at , maka mencakup anak kecil dan orang gila.
Yang dimaksud dari perkat aan kami : (ٍﺐﹶﻠﹶﻃ ﻦِﻣ) "dari tuntutan": perint ah
dan larangan, baik it u sebagai keharusan at aupun keut amaan.
Yang dimaksud dari perkat aan kami : (ٍﺮِﻴﻴﺨﺗ ﹶﺃﻭ) "at au pilihan": mubah
(hal-hal yang dibolehkan)
Yang dimaksud dari perkat aan kami : (ٍﻊﺿﻭ ﹶﺃﻭ) "atau peletakan": Sah, rusak,
dan yang lainnya yang dilet akkan oleh pembuat syari'at dari t anda-t anda,
at au sif at -sif at unt uk dit unaikan at au dibat alkan.
PEMBAGIAN HUKUM SYARI'AT:
Hukum syari'at dibagi menj adi dua bagian : Taklifiyyah (Pembebanan)
dan Wadh'iyyah (Pelet akan).
Al-Ahkam at-Taklifiyyah ada lima : Waj ib, mandub (sunnah), harom, makruh, dan mubah.
1.Wajib (ﺐﺟﺍﻮﻟﺍ) secara bahasa : (ﻡﺯﻼﻟﺍﻭﻂﻗﺎﺴﻟﺍ) "yang j at uh dan harus".
Dan secara ist ilah :
ﻣ
ﹶﺃ
ﺎ
ﻣﺮ
ِﺑ
ِﻪ
ﺸﻟﺍ
ِﺭﺎ
ﻉ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻭ
ﻰ
ﺟ
ِﻪ
ﹾﺍ
ِ
ﻹ
ﹾﻟ
ﺰ
ِﻡﺍ
"Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari'at dengan bentuk
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻉﺭﺎﺸﻟﺍ ﻪﺑ ﺮﻣﺃ ﺎﻣ) "Apa-apa yang
diperintahkan oleh pembuat syari'at", yang haram, makruh dan mubah.
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻡﺍﺰﻟﻹﺍ ﻪﺟﻭ ﻰﻠﻋ) "dengan bentuk
keharusan", yang mandub.
Dan suat u yang waj ib it u pelakunya diganj ar j ika ia melakukannya
unt uk mendapat kan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya
berhak mendapat kan adzab.
Dan dinamakan j uga : (ﺍﻡﺯﻻﻭﹰﺎﻤﺘﺣﻭﺔﻀﻳﺮﻓﻭﹰﺎﺿﺮﻓ).
2.Mandub (ﺏﻭﺪﻨﳌﺍ) secara bahasa : (ﻮﻋﺪﳌﺍ) "yang diseru".
Dan secara ist ilah :
ﻣ
ﹶﺃ
ﺎ
ﻣﺮ
ِﺑ
ِﻪ
ﺸﻟﺍ
ِﺭﺎ
ﻉ
ﹶﻻ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻭ
ﻰ
ﺟ
ِﻪ
ﹾﺍ
ِ
ﻹ
ﹾﻟ
ﺰ
ِﻡﺍ
"Apa-apa yang diperintahkan oleh pembuat syari'at tidak dalam bentuk
keharusan", sepert i sholat rowat ib.
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻉﺭﺎﺸﻟﺍ ﻪﺑ ﺮﻣﺃ ﺎﻣ) "Apa-apa yang
diperintahkan oleh pembuat syari'at", yang haram, makruh dan mubah.
Dan suat u yang mandub it u pelakunya diganj ar j ika ia melakukannya
unt uk mendapat kan pahala (ikhlas), dan orang yang meninggalkannya t idak
mendapat kan adzab.
Dan dinamakan j uga : (ﻼﻔﻧﻭً ﹰﺎﺒﺤﺘﺴﻣﻭﹰﺎﻧﻮﻨﺴﻣﻭﺔﻨﺳ).
3.Haram (ﻡﺮﶈﺍ) secara bahasa : (ﻉﻮﻨﻤﳌﺍ) "yang dilarang".
Dan secara ist ilah :
ﻣ
ﻧ
ﺎ
ﻬ
ﻋ
ﻰ
ﻨﻪ
ﺸﻟﺍ
ِﺭﺎ
ﻉ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻭ
ﻰ
ﺟ
ِﻪ
ﹾﺍ
ِ
ﻹ
ﹾﻟ
ﺰ
ِﻡﺍ
ِﺑ
ﺘﻟﺎ
ﺮ
ِ
ﻙ
"Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari'at dalam bentuk keharusan
untuk ditinggalkan", sepert i durhaka kepada orang t ua.
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻉﺭﺎﺸﻟﺍﻪﻨﻋﻰﺎﻣ) "Apa-apa yang dilarang
oleh pembuat syari'at", yang waj ib, sunnah dan mubah.
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻙﺮﺘﻟﺎﺑ ﻡﺍﺰﻟﻹﺍ ﻪﺟﻭ ﻰﻠﻋ) "dalam bentuk
keharusan untuk ditinggalkan", yang makruh.
Dan suat u yang haram it u pelakunya diganj ar j ika ia meninggalkannya
unt uk mendapat kan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya
berhak mendapat kan adzab.
4.Makruh (ﻩﻭﺮﻜﳌﺍ) secara bahasa : (ﺾﻐﺒﳌﺍ) "yang dimurkai".
Dan secara ist ilah :
ﻣ
ﻧ
ﺎ
ﻬ
ﻋ
ﻰ
ﻨﻪ
ﺸﻟﺍ
ِﺭﺎ
ﻉ
ﹶﻻ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻭ
ﻰ
ﺟ
ِﻪ
ﹾﺍ
ِ
ﻹ
ﹾﻟ
ﺰ
ِﻡﺍ
ِﺑ
ﺘﻟﺎ
ﺮ
ِ
ﻙ
"Apa-apa yang dilarang oleh pembuat syari'at tidak dalam bentuk
keharusan untuk ditinggalkan", sepert i mengambil sesuat u dengan t angan
kiri dan memberi dengan t angan kiri.
Maka keluar dari perkat aan kami :(ﻉﺭﺎﺸﻟﺍﻪﻨﻋﻰﺎﻣ) "Apa-apa yang dilarang
oleh pembuat syari'at", yang waj ib, sunnah dan mubah.
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻙﺮﺘﻟﺎﺑﻡﺍﺰﻟﻹﺍﻪﺟﻭﻰﻠﻋﻻ)"tidak dalam bentuk
keharusan untuk ditinggalkan", yang haram.
Dan suat u yang makruh it u pelakunya diganj ar j ika ia meninggalkannya
unt uk mendapat kan pahala (ikhlas), dan orang yang melakukannya
t idak mendapat kan adzab.
5.Mubah (ﺡﺎﺒﳌﺍ) secara bahasa : (ﻪﻴﻓﻥﻭﺫﺄﳌﺍﻭﻦﻠﻌﳌﺍ) "yang diumumkan dan diizinkan
dengannya".
Dan secara ist ilah :
ﻣ
ﹶﻻ
ﺎ
ﻳ
ﺘﻌ
ﱠﻠ
ﻖ
ِﺑ
ِﻪ
ﹶﺃ
ﻣﺮ
ﻭ
،
ﹶﻻ
ﻧ
ﻬ
ﻲ
ِﻟ
ﹶ
ﺬ
ِﺗﺍ
ِﻪ
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﺮﻣﺃ ﻪﺑ ﻖﻠﻌﺘﻳ ﻻ ﺎﻣ) "apa-apa yang tidak
berhubungan dengan perintah", waj ib dan mandub.
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻲﻻﻭ) "dan pula larangan", haram dan
makruh.
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻪﺗﺍﺬﻟ) "pada asalnya", apa-apa yang
seandainya ada kait annya dengan perint ah karena keberadaannya (yakni
suat u yang mubah) sebagai wasilah (yang menghant arkan) t erhadap hal
yang diperint ahkan, at au ada kait annya dengan larangan karena
keberadaannya sebagai wasilah t erhadap hal yang dilarang; maka bagi hal
yang mubah t ersebut hukumnya sesuai dengan apa-apa ia (yang mubah
t ersebut ) menj adi wasilah baginya, dari hal yang diperint ahkan at au yang
dilarang. Dan yang demikian t idak mengeluarkannya (yakni hal yang mubah)
dari keberadaannya sebagai sesuat u yang hukumnya mubah pada asalnya.
Dan mubah yang senant iasa berada pada sif at mubah (boleh), maka ia
t idak mengakibat kan ganj aran dan t idak pula adzab.
Dan dinamakan j uga : (ﹰﺍﺰﺋﺎﺟﻭﹰﻻﻼﺣ).
AL-AHKAM AL-WADH'IYYAH (ﺔﻴﻌﺿﻮﻟﺍﻡﺎﻜﺣﻷﺍ) :
Al-Ahkam al-wadh'iyyah adalah :
ﻣ
ﻭ
ﺎ
ﺿ
ﻌﻪ
ﺸﻟﺍ
ِﺭﺎ
ﻉ
ِﻣ
ﻦ
ﹶﺃ
ﻣ
ﺭﺎ
ٍﺕﺍ
ِﻟ
،
ﹸﺜﺒ
ﻮ
ٍﺕ
ﹶﺃ
ﻭ
ﻧﺍ
ِﺘﹶﻔ
ٍﺀﺎ
ﹶﺃ
،
ﻭ
ﻧ
ﹸﻔﻮ
ٍﺫ
ﹶﺃ
،
ﻭ
ِﺇ
ﹾﻟﻐ
ٍﺀﺎ
"Apa-apa yang diletakkan oleh pembuat syari'at dari tanda-tanda untuk
Dan diant aranya adalah sah (ﺔﺤﺼﻟﺍ) dan rusak(ﺩﺎﺴﻔﻟﺍ)/ t idak sah-nya sesuat u.
1.Sah (ﺢﻴﺤﺼﻟﺍ) secara bahasa : (ﺽﺮﳌﺍﻦﻣﻢﻴﻠﺴﻟﺍ) yang selamat dari penyakit .
Secara ist ilah :
ﻣ
ﺗ
ﺎ
ﺮﺗ
ﺒ
ﺖ
ﹶﺛﺁ
ﺭﺎ
ِﻓ
ﻌِﻠ
ِﻪ
ﻋ
ﹶﻠﻴ
ِﻪ
ِﻋ
ﺒ
ﺩﺎ
ﹶﻛ
ﹰﺓ
ﹶﻥﺎ
ﹶﺃ
ﻡ
ﻋ
ﹾﻘ
ﹰﺍﺪ
"apa-apa yang pengaruh perbuatannya berakibat padanya, baik itu
ibadah ataupun akad."
Maka sah dalam ibadah : apa-apa yang beban t erlepas dengannya (yakni ibadah yang sah) dan t unt ut an gugur dengannya.
Dan sah dalam akad : apa-apa yang pengaruh adanya akad t ersebut berakibat t erhadap keberadaannya, sepert i pada suat u akad j ual beli
berakibat kepemilikan.
Dan t idaklah sesuat u it u menj adi sah kecuali dengan menyempurnakan
syarat -syarat nya dan t idak ada penghalang-penghalangnya.
Cont ohnya dalam ibadah : seseorang mendat angi sholat pada wakt unya
dengan menyempurnakan syarat -syarat nya, rukun-rukunnya dan kewaj
Cont ohnya dalam akad : seseorang melakukan akad j ual beli dengan
menyempurnakan syarat -syarat nya yang t elah diket ahui dan t idak adanya
penghalang-penghalangnya.
Jika hilang sat u syarat dari syarat -syarat yang ada, at au adanya
penghalang dari penghalang-penghalangnya maka t idak dikat akan sah.
Cont oh hilangnya syarat dalam ibadah : seseorang sholat t anpa bersuci.
Cont oh hilangnya syarat dalam akad : seseorang menj ual barang yang
bukan miliknya.
Cont oh adanya penghalang dalam ibadah : seseorang sholat sunnah
mut lak pada wakt u larangan.
Cont oh adanya penghalang dalam akad : seseorang menj ual sesuat u
kepada orang yang waj ib baginya sholat j um'at , sesudah adzan j um'at yang
kedua dari sisi yang t idak dibolehkan.
2.Rusak / Fasid (ﺪﺳﺎﻔﻟﺍ) secara bahasa : yang pergi dengan hilang dan rugi.
Dan secara ist ilah :
ﻣ
ﹶﻻ
ﺎ
ﺗ
ﺘﺮ
ﺗ
ﺐ
ﹶﺛﺁ
ﺭﺎ
ِﻓ
ﻌِﻠ
ِﻪ
ﻋ
ﹶﻠﻴ
ِﻪ
ِﻋ
ﺒ
ﺩﺎ
ﹶﻛ
ﹰﺓ
ﹶﻥﺎ
ﹶﺃ
ﻡ
ﻋ
ﹾﻘ
ﹰﺍﺪ
"apa-apa yang pengaruh perbuatannya tidak berakibat kepadanya, baik
Fasid dalam ibadah : apa-apa yang beban t idak t erlepas dengannya dan t unt ut an t idak gugur dengannya; sepert i sholat sebelum wakt unya.
Fasid dalam akad : apa-apa yang pengaruh akad t ersebut t idak berakibat padanya (t idak memiliki dampak); sepert i menj ual sesuat u yang
belum dit ent ukan.
Dan semua yang f asid (rusak) dalam ibadah, akad dan syarat -syarat
maka it u adalah haram. Karena yang demikian t ermasuk melampaui
bat asan-bat asan Allah dan menj adikan ayat -ayat -Nya sebagai olok-olokan,
dan karena Nabi shollallohu alaihi wa sallam mengingkari orang yang
mensyarat kan syarat -syarat yang t idak ada dalam kit abullah (al-Qur'an).
Fasid dan bat il memiliki makna yang sama kecuali dalam dua t empat :
Yang pertama: dalam ihrom, para 'ulama membedakan keduanya, bahwa yang f asid adalah apabila seorang yang ihrom menyet ubuhi ist rinya
sebelum t ahallul awal; dan yang bat il adalah apabila seseorang murt ad dari
Islam.
Yang kedua : dalam nikah; para 'ulama membedakan keduanya, bahwa yang f asid adalah apa-apa yang diperselisihkan para 'ulama dalam
kerusakannya, sepert i nikah t anpa wali; dan bat il adalah apa-apa yang
disepakat i kebat ilannya sepert i menikahi wanit a yang masih dalam `
iddah-nya.
ﹾﻠِﻌﻟﺍ
ﻢ
ILMU
Definisinya:
Ilmu adalah :
ِﺇﺩ
ﺭ
ﻙ
ﺍ
ﺸﻟﺍ
ﻲ
ِﺀ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻣ
ﻰ
ﻫ
ﺎ
ﻮ
ﻋ
ﹶﻠﻴ
ِﻪ
ِﺇ
ﺩ
ﺭ
ﺟ
ﹰﺎﻛﺍ
ِ
ﺯ
ﺎ
ﹰﺎﻣ
"Mengetahui sesuatu sesuai dengan apa adanya (yakni sesuai dengan yang
sebenarnya) dengan pasti/yakin"
Misalnya menget ahui bahwa keseluruhan it u lebih besar daripada
sebagian, dan bahwa niat merupakan syarat dari ibadah.
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﺀﻲﺸﻟﺍﻙﺍﺭﺩﺇ) "mengetahui sesuatu" adalah
t idak menget ahui sesuat u secara menyeluruh, dan dinamakan "kebodohan
yang ringan" (ﻂﻴﺴﺒﻟﺍ ﻞﻬﳉﺍ), misalnya seseorang dit anya: "kapankah t erj adinya
perang Badar?" Lalu dia menj awab "saya t idak t ahu".
Dan keluar dari perkat aan kami: (ﻪﻴﻠﻋ ﻮﻫ ﺎﻣ ﻰﻠﻋ) "sesuai dengan yang
sebenarnya" adalah menget ahui sesuat u dari segi yang menyelisihi keadaan
yang sebenarnya dan dinamakan (ﺐﻛﺮﳌﺍ ﻞﻬﳉﺍ) "kebodohan yang bert ingkat ",
misalnya seseorang dit anya : "kapankah t erj adinya perang badar?", Lalu dia
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﹰﺎﻣﺯﺎﺟ ﹰﺎﻛﺍﺭﺩﺇ) "dengan pengetahuan yang
pasti/yakin" adalah mendapat kan penget ahuan t ent ang sesuat u dengan
penget ahuan yang t idak past i/ yakin dari segi ada kemungkinan padanya
(bahwa yang benar) t idak sesuai dengan apa yang ia ket ahui, maka t idak
dinamakan sebagai ilmu. Kemudian j ika kuat padanya dari salah sat u
kemungkinan t ersebut , maka yang kuat disebut sebagai (ﻦﻇ) dan yang lemah
disebut sebagai (ﻢﻫﻭ), dan j ika kedua kemungkinan it u sama maka disebut
sebagai (ﻚﺷ).
Dengan hal ini j elaslah bahwa hubungan t ent ang penget ahuan t erhadap
sesuat u it u adalah sepert i berikut :
1.Ilmu (ﻢﻠﻋ) : yait u menget ahui sesuat u sesuai dengan yang sebenarnya
dengan past i/ yakin.
2.Jahil Basith (ﻂﻴﺴﺑﻞﻬﺟ) : yait u t idak menget ahui sesuat u secara menyeluruh
(yakni menget ahui sesuat u secara sebagian saj a, pent ).
3.Jahil Murokkab (ﺐﻛﺮﻣ ﻞﻬﺟ) : yait u mendapat penget ahuan t ent ang sesuat u
dari segi yang menyelisihi apa yang sebenarnya.
4.Dzonn (ﻦﻇ) : yait u mendapat penget ahuan t ent ang sesuat u dengan
5.Wahm (ﻢﻫﻭ) : yait u mendapat penget ahuan t ent ang sesuat u dengan
kemungkinan adanya (pendapat ) lainnya yang roj ih/ kuat .
6.Syakk (ﻚﺷ) : yait u mendapat penget ahuan t ent ang sesuat u dengan
kemungkinan adanya (pendapat ) lainnya yang sama kuat .
PEMBAGIAN ILMU :
Ilmu t erbagi menj adi dua macam : (ﻱﺭﻭﺮﺿ) "Dhoruri" dan (ﻱﺮﻈﻧ) "Nadzori".
1.Ilmu Dhoruri adalah apa-apa yang penget ahuan t ent angnya sudah diket ahui
secara past i, yait u sudah past i padanya t anpa but uh pemeriksaan dan
pendalilan, sepert i ilmu t ent ang bahwa keseluruhan it u lebih besar
daripada sebagian, bahwa api it u panas, dan bahwa Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah ut usan Allah subhanahu wa ta'ala.
2.Ilmu Nadhori adalah apa-apa yang (unt uk menget ahuinya) membut uhkan
pemeriksaan dan pendalilan, sepert i penget ahuan t ent ang waj ibnya niat
dalam sholat .
ﹶﻜﻟﺍ
ﹶﻼـ
ﻡ
KALAM
Definisi :
Kalam secara bahasa :
ﹾﻟﺍﱠﻠ
ﹾﻔ
ﹸ
ﻆ
ﹾﻟﺍ
ﻤ
ﻮ
ﺿ
ﻮ
ﻉ
ِﻟ
ﻤ
ﻌ
ﲎ
"Lafadh yang diletakkan untuk suatu makna."
Dan secara ist ilah :
ﹾﺍﱠﻠﻟ
ﹾﻔ
ﹸ
ﻆ
ﹸ
ﳌ
ﺍ
ِﻔﻴ
ﺪ
"Lafadh yang berfaidah (memiliki makna)",
Misalnya : (ﺎـﻨﻴﺒﻧﺪـﻤﳏﻭﺎﻨﺑﺭﷲﺍ) "Allah adalah Robb kit a dan Muhammad adalah
Nabi kit a".
Dan suat u kalam minimal t ersusun dari dua kat a benda; at au sat u kat a
kerj a dan sat u kat a benda.
Cont oh yang pert ama : ( ﷲﺍﻝﻮـﺳﺭﺪـﻤﳏ) "Muhammad adalah Rosullullah" dan
Dan sat u bagian dari kalam disebut kat a yait u : Laf adh yang dilet akkan
unt uk suat u makna t unggal, yait u kadang-kadang berupa kat a benda (isim),
kat a kerj a (fi'il), at au huruf (harf).
Isim (kata benda) :
ﻣ
ﺩ
ﺎ
ﱠﻝ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻣ
ﻰ
ﻌ
ﲎ
ِﻓ
ﻲ
ﻧ
ﹾﻔ
ِﺴ
ِﻪ
ِﻣ
ﻦ
ﹶ
ﻏ
ﻴِﺮ
ِﺇ
ﺷ
ﻌ
ٍﺭﺎ
ِﺑ
ﺰ
ﻣ
ٍﻦ
"apa-apa yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri dengan tidak
menunjukkan waktu tertentu."
Dan isim ada t iga macam :
Pert ama : Apa-apa yang menunj ukkan keumuman misalnya kat a sambung.
Kedua : Apa-apa yang menunj ukkan kemut lakan misalnya nakiroh dalam
kont eks penet apan.
Ket iga : Apa-apa yang menunj ukkan kekhususan misalnya nama orang.
Fi'il (kata kerja):
ﻣ
ﺩ
ﺎ
ﱠﻝ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻣ
ﻰ
ﻌ
ﲎ
ِﻓ
ﻲ
ﻧ
ﹾﻔ
ِﺴ
ِﻪ
ﻭ
،
ﹶﺃ
ﺷ
ﻌﺮ
ِﺑ
ﻬﻴ
ﹶﺌِﺘ
ِﻪ
ِﺑ
ﹶ
ﺄ
ﺣ
ِﺪ
ﹾﺍ
َ
ﻷ
ﺯ
ِﻣﻨ
ِﺔ
ﻟﺍ
ﱠﺜ
ﹶﻼ
ﹶﺛِﺔ
"Apa-apa yang menunjukkan makna pada dirinya sendiri, dan keadaannya
Yait u fi'il madhi sepert i (ﻢـِﻬﹶﻓ), fi'il mudhori' sepert i (ﻢـﻬﹾﻔﻳ) at au fi'il amr
sepert i (ﻢﻬﹾﻓِﺍ).
Dan fi'il dengan pembagiannya t ersebut memberikan f aidah mut laq,
bukan umum.
Harf adalah :
ﻣ
ﺩ
ﺎ
ﱠﻝ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻣ
ﻰ
ﻌ
ﻨ
ِﻓ
ﻰ
ﹶ
ﻏ
ﻲ
ﻴِﺮ
ِﻩ
"Apa-apa yang menunjukkan makna pada yang selainnya"
Diant aranya :
1. Wawu (ﻭﺍﻮـﻟﺍ) : dat ang sebagai 'athof (penyambung), maka memberikan
f aidah penggabungan dua hal yang saling bersambung di dalam sebuah
hukum, t idak menunj ukkan urut an dan t idak menaf ikannya kecuali
dengan dalil.
2. Fa' (ﺀﺎﻔﻟﺍ) : dat ang sebagai 'athof (penyambung), maka memberikan f aidah
penggabungan dua hal yang saling bersambung di dalam hukum dengan
berurut an dan beriringan dan dat ang dengan sebab, dan memberi f aidah
ta'lil (alasan).
3. ( ﺓﺭﺎـﳉﺍﻡﻼـﻟﺍ) : memiliki beberapa makna diant aranya : sebab, kepemilikan
4. (ﺓﺭﺎﳉﺍﻰﻠﻋ) : memiliki beberapa makna diant aranya : waj ib.
JENIS-JENIS KALAM :
Kalam t erbagi dari segi kemungkinan disif at i benar dan t idaknya dengan dua
macam :
1) Al-Khobar (Berita):
ﻣ
ﻳ
ﺎ
ﻤ
ِﻜ
ﻦ
ﹶﺃ
ﹾﻥ
ﻳ
ﻮ
ﺻ
ﻒ
ِﺑ
ﺼ
ﻟﺎ
ﺪ
ِ
ﻕ
ﹶﺃ
ﻭ
ﹶﻜﻟﺍ
ِ
ﺬ
ِﺏ
ِﻟ
ﹶ
ﺬ
ِﺗﺍ
ِﻪ
"Kalam yang mungkin disifati dengan benar atau dusta pada asalnya."
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﺏﺬﻜﻟﺍﻭﻕﺪﺼﻟﺎﺑﻒﺻﻮﻳﻥﺃﻦﻜﳝﺎﻣ) "Apa-apa yang
mungkin disif at i dengan benar at au dust a"; (ﺀﺎﺸﻧﻹﺍ) "al-insya' (yang mengandung
perint ah at au larangan, pent )" karena t idak memiliki kemungkinan sepert i
it u, sebab penunj ukannya bukanlah suat u pengkabaran yang mungkin unt uk
dikat akan : ia benar at au dust a.
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻪﺗﺍﺬﻟ) "pada asalnya"; khobar yang t idak
mengandung kebenaran, at au t idak mengandung kedust aan dari sisi yang
dikabarkan. Yang demikian karena khobar dari sisi yang dikabarkan t erbagi
Pertama, yang t idak mungkin disif at i dengan dust a, sepert i khobar dari Allah dan Rasul-Nya yang t elah shohih darinya.
Kedua, yang t idak mungkin disif at i dengan kebenaran, sepert i khobar
t ent ang sesuat u yang must ahil secara syar'i at au secara akal. Yang pert ama
(must ahil secara syar'i, pent ), sepert i seorang yang mengaku sebagai Rasul
set elah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam; dan yang kedua (must ahil secara
akal, pent ), sepert i khobar berkumpulnya 2 hal yang saling bert ent angan
(yang t idak mungkin ada bersamaan at au hilang bersamaan, pent ) sepert i
bergerak dan diam pada sesuat u yang sat u pada wakt u yang sama.
Ketiga, yang mungkin disif at i dengan benar dan dust a baik dengan kemungkinan yang sama (t idak bisa dibenarkan dan didust akan karena sulit
dit arj ih, pent ) at au dengan meroj ihkan salah sat unya, sepert i kabar dari
seseorang t ent ang sesuat u yang ghoib dan yang semisalnya.
2) Al-Insya' (ﺀﺎﺸﻧﻹﺍ):
ﻣ
ﹶﻻ
ﺎ
ﻳ
ﻤ
ِﻜ
ﻦ
ﹶﺃ
ﹾﻥ
ﻳ
ﻮ
ﺻ
ﻒ
ِﺑ
ﺼ
ﻟﺎ
ﺪ
ِ
ﻕ
ﻭ
ﹾﻟﺍ
ﹶﻜ
ِ
ﺬ
ِﺏ
"Kalam yang tidak mungkin disifati dengan benar atau dusta",
diant aranya adalah perint ah dan larangan. Sepert i f irman Allah :
ﺎﺌﻴﺷ
ِﻪِﺑ
ﺍﻮﹸﻛِﺮﺸﺗ
ﻻﻭ
ﻪﱠﻠﻟﺍ
ﺍﻭﺪﺒﻋﺍﻭ
"Sembahlah Allah dan janganlah kalian menyekutukannya dengan sesuatu
Dan t erkadang kalam adalah berupa khobar insya' dit inj au dari 2 sisi;
sepert i bent uk akad yang dilaf adzkan, misal : "aku j ual at au aku t erima",
karena kalimat ini merupakan khobar dit inj au dari penunj ukannya t erhadap
apa yang ada (kehendak, pent ) pada orang yang meng-akad, dan merupakan
insya' dit inj au dari sisi konsekuensi akad.
Terkadang kalam dat ang dalam bent uk khobar t api yang dimaksud
dengannya adalah Insya' dan sebaliknya unt uk suat u f aidah.
Cont oh yang pert ama : Firman Allah subhanahu wa ta'ala :
ٍﺀﻭﺮﹸ
ﻗ
ﹶﺔﹶﺛﻼﹶﺛ
ﻦِﻬِﺴﹸﻔﻧﹶ
ﺄ
ِﺑ
ﻦ
ﺼ
ﺑﺮﺘﻳ
ﺕﺎﹶﻘﱠﻠﹶ
ﻄ
ﻤﹾﻟﺍﻭ
"Dan perempuan-perempuan yang diceraikan hendaklah menunggu tiga
kali quru'" (al-Baqoroh : 228)
Maka f irman Allah "ﻦﺼﺑﺮﺘﻳ" adalah berbent uk khobar t et api yang dimaksud
dengannya adalah perint ah, dan f aidah dari hal t ersebut adalah penegasan
t erhadap perbuat an yang diperint ahkan t ersebut , sampai seolah-olah
perint ah t ersebut sepert i perint ah yang t elah t erj adi, berbicara dengannya
sepert i salah sat u sif at dari sif at -sif at perint ah.
Cont oh yang sebaliknya : Firman Allah subhanahu wa ta'ala :
ﻢﹸﻛﺎﻳﺎﹶ
ﻄ
ﺧ
ﹾﻞِﻤﺤﻨﹾﻟﻭ
ﺎﻨﹶﻠﻴِﺒﺳ
ﺍﻮﻌِﺒﺗﺍ
ﺍﻮﻨﻣﺁ
ﻦﻳِ
ﺬ
ﱠﻠِﻟ
ﺍﻭﺮﹶﻔﹶﻛ
ﻦﻳِ
ﺬ
ﱠﻟﺍ
ﹶﻝﺎﹶ
ﻗ
ﻭ
"Dan berkat a orang-orang kaf ir kepada orang-orang yang beriman, " Ikut ilah
j alan (agama) kami dan kami akan memikul kesalahan-kesalahan kamu. " [ QS
Maka f irman Allah "ﹾﻞِﻤﺤﻨﹾﻟﻭ" adalah dalam bent uk perint ah t et api yang dimaksud
dengannya adalah khobar, yait u : dan kami akan memikul, dan f aidah dari hal
t ersebut adalah menempat kan sesuat u yang dikhobarkan t ersebut pada
t empat yang diwaj ibkan dan diharuskan dengannya.
HAKIKAT DAN MAJAZ
Kalam dari sisi penggunaannya t erbagi menj adi hakikat dan maj az.
1. Hakikat (ﺔﻘﻴﻘﳊﺍ) adalah
ﱠﻠﻟﺍ
ﹾﻔ
ﹸ
ﻆ
ﹾﻟﺍ
ﻤ
ﺴ
ﺘﻌ
ﻤ
ﹸﻞ
ِﻓ
ﻴﻤ
ﻭ
ﺎ
ﺿ
ﻊ
ﹶﻟ
ﻪ
"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya."
Sepert i : Singa (ﺪﺳﺃ) unt uk suat u hewan yang buas.
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻞﻤﻌﺘﺴﳌﺍ) "yang digunakan" : yang t idak
digunakan, maka t idak dinamakan hakikat dan maj az.
Dan keluar dari perkat aan kami : (ﻪـﻟﻊﺿﻭﺎﻤﻴﻓ) " pada asal peletakannya" :
Maj az.
Dan hakikat terbagi menjadi tiga macam : Lughowiyyah, Syar'iyyah dan
Hakikat lughowiyyah adalah :
ﱠﻠﻟﺍ
ﹾﻔ
ﹾﻟﺍ
ﻆ
ﻤ
ﺴ
ﺘﻌ
ﻤ
ﹸﻞ
ِﻓ
ﻴﻤ
ﻭ
ﺎ
ِﺿ
ﻊ
ﹶﻟ
ﻪ
ِﻓ
ﻲ
ﱡ
ﻠﻟﺍ
ﻐِﺔ
"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara bahasa."
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﺔﻐﻠﻟﺍﰲ) "secara bahasa" : hakikat syar'iyyah
dan hakikat 'urfiyyah.
Cont ohnya : sholat , maka sesungguhnya hakikat nya secara bahasa adalah doa,
maka dibawa pada makna t ersebut menurut perkat aan ahli bahasa.
Hakikat syar'iyyah adalah :
ﱠﻠﻟﺍ
ﹾﻔ
ﹸ
ﻆ
ﹾﻟﺍ
ﻤ
ﺴ
ﺘﻌ
ﻤ
ﹸﻞ
ِﻓ
ﻴﻤ
ﻭ
ﺎ
ِﺿ
ﻊ
ﹶﻟ
ﻪ
ِﻓ
ﻲ
ﺸﻟﺍ
ﺮ
ِ
ﻉ
"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara syar'i."
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻉﺮــﺸﻟﺍﰲ) "secara syar'i" : hakikat
lughowiyyah dan hakikat 'urfiyyah.
Cont ohnya : sholat , maka sesungguhnya hakikat nya secara syar'i adalah
perkat aan dan perbuat an yang sudah diket ahui yang dimulai dengan t akbir
dan diakhiri dengan salam, maka dibawa pada makna t ersebut menurut
perkat aan ahli syar'i.
Hakikat 'urfiyyah adalah :
ﱠﻠﻟﺍ
ﹾﻔ
ﹸ
ﻆ
ﹸ
ﳌ
ﺍ
ﺴ
ﺘﻌ
ﻤ
ﹸﻞ
ِﻓ
ﻴﻤ
ﻭ
ﺎ
ِﺿ
ﻊ
ﹶﻟ
ﻪ
ِﻓ
ﻲ
ﻌﻟﺍ
ﺮ
ِ
ﻑ
"Lafadz yang digunakan pada asal peletakannya secara 'urf (adat/kebiasaan)."
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻑﺮﻌﻟﺍﰲ) "secara 'urf" : hakikat lughowiyyah
dan hakikat syar'iyyah.
Cont ohnya : Ad-Dabbah (ﺔـﺑﺍﺪﻟﺍ), maka sesungguhnya hakikat nya secara 'urf
adalah hewan yang mempunyai empat kaki, maka dibawa pada makna
t ersebut menurut perkat aan ahli 'urf.
Dan manf aat dari menget ahui pembagian hakikat menj adi t iga macam adalah
: Agar kit a membawa set iap laf adz pada makna hakikat dalam t empat yang
semest inya sesuai dengan penggunaannya. Maka dalam penggunaan ahli
bahasa laf adz dibawa kepada hakikat lughowiyyah dan dalam penggunaan
syar'i dibawa kepada hakikat syar'iyyah dan dalam penggunaan ahli 'urf
dibawa kepada hakikat 'urfiyyah.
2. Majaz (ﺯﺎﺍ) adalah
ﱠﻠﻟﺍ
ﹾﻔ
ﹸ
ﻆ
ﹸ
ﳌ
ﺍ
ﺴ
ﺘﻌ
ﻤ
ﹸﻞ
ِﻓ
ﻲ
ﹶ
ﻏ
ﻴِﺮ
ﻣ
ﻭ
ﺎ
ِﺿ
ﻊ
ﹶﻟ
ﻪ
"Lafadz yang digunakan bukan pada asal peletakannya."
Maka keluar dari perkat aan kami : (ﻞﻤﻌﺘﺴﳌﺍ) "yang digunakan" : yang t idak
digunakan, maka t idak dinamakan hakikat dan maj az.
Dan keluar dari perkat aan kami : ( ﻪـﻟﻊـﺿﻭﺎـﻣﲑـﻏﰲ) "bukan pada asal
peletakannya" : Hakikat .
Dan t idak boleh membawa laf adz pada makna maj aznya kecuali dengan dalil yang shohih yang menghalangi laf adz t ersebut dari maksud yang hakiki,
dan ini yang dinamakan dalam ilmu bayan sebagai qorinah (penguat ).
Dan disyarat kan benarnya penggunaan laf adz pada maj aznya : Adanya kesat uan ant ara makna secara hakiki dengan makna secara maj azi agar
benarnya pengungkapannya, dan ini yang dinamakan dalam ilmu bayan
sebagai 'Alaqoh (hubungan/ penyesuaian), dan 'Alaqoh bisa berupa
penyerupaan at au yang selainnya.
Maka j ika maj az t ersebut dengan penyerupaan, dinamakan maj az
Isti'arah (ﺓﺭﺎﻌﺘﺳﺍ), sepert i maj az pada laf adz singa unt uk seorang laki-laki yang
pemberani.
Dan j ika bukan dengan penyerupaan, dinamakan maj az Mursal (ﻞﺳﺮﻣﺯﺎﳎ)
j ika maj aznya dalam kat a, dan dinamakan maj az 'Aqli (ﻲﻠﻘﻋﺯﺎﳎ) j ika maj aznya
dalam penyandarannya.
Cont ohnya dari maj az mursal : kamu mengat akan : ( ﺮـﻄﳌﺍﺎـﻨﻴﻋﺭ) "Kami
memelihara huj an", maka kat a (ﺮـﻄﳌﺍ) "huj an" merupakan maj az dari rumput
Dan cont ohnya dari maj az 'Aqli : Kamu mengat akan : ( ﺐـﺸﻌﻟﺍﺮـﻄﳌﺍﺖـﺒﻧﺃ)
"Huj an it u menumbuhkan rumput ", maka kat a-kat a t ersebut seluruhnya
menunj ukkan hakikat maknanya, t et api penyandaran menumbuhkan pada
huj an adalah maj az, karena yang menumbuhkan secara hakikat adalah Allah
t a'ala, maka maj az ini adalah dalam penyandarannya.
Dan diant ara maj az mursal adalah : Maj az dalam hal penambahan dan maj az dalam hal penghapusan.
Mereka memberi permisalan maj az dalam hal penambahan dengan f irman Allah ta'ala :
ٌ
ﺀﻲﺷ
ِﻪِﻠﹾﺜِﻤﹶﻛ
ﺲ
ﻴﹶﻟ
"Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya" (QS. Asy-Syuro : 11)
Maka mereka mengat akan : Sesungguhnya (ﻑﺎـﻜﻟﺍ) "huruf kaaf" adalah
t ambahan unt uk penguat an peniadaan permisalan dari Allah t a'ala.
Cont oh dari maj az dengan penghapusan adalah f irman Allah t a'ala :
ﹶﺔﻳﺮﹶﻘﹾﻟﺍ
ِﻝﹶ
ﺄ
ﺳﺍﻭ
"Bertanyalah kepada desa" (QS. Yusuf : 82)
Maksudnya : ( ﺔـﻳﺮﻘﻟﺍﻞـﻫﺃﻝﺄـﺳﺍﻭ) "bert anyalah pada penduduk desa", maka
Dan hanya saj a disebut kan sedikit t ent ang hakikat dan maj az dalam ushul f iqh karena penunj ukan laf adz bisa j adi berupa hakikat dan bisa j adi
berupa maj az, maka dibut uhkan unt uk menget ahui keduanya dan hukumnya.
Wallahu A'lam.
PERINGATAN:
Pembagian kalam menj adi hakikat dan maj az adalah masyhur di kalangan sebagian besar muta'akhkhirin dalam Al-Qur'an dan yang selainnya.
Dan berkat a sebagian ahli ilmu : "Tidak ada maj az dalam Al-Qur'an" dan
berkat a sebagian yang lain : "Tidak ada maj az dalam Al-Qur'an dan yang
selainnya", dan ini merupakan pendapat Abu Ishaq Al-Isf aroyin dan dari
kalangan mut a'akhkhirin Muhammad Al-Amin Asy-Syanqit hi. Dan Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qoyyim t elah menj elaskan
bahwasanya ist ilah t ersebut muncul set elah berlalunya t iga masa yang ut ama,
dan beliau menguat kan pendapat ini dengan dalil-dalil yang kuat dan banyak,
yang menj elaskan kepada orang yang menelit inya bahwa pendapat ini adalah
pendapat yang benar.
َ
ﻷﺍ
ﻣﺮ
PERINTAH
DEFINISINYA :
Perint ah (ﺮﻣﻷﺍ) adalah :
ﹶ
ﻗ
ﻮ
ﹲﻝ
ﻳ
ﺘ
ﻀ
ﻤ
ﻦ
ﹶﻃ
ﹶﻠ
ﺐ
ِﻔﻟﺍ
ﻌ
ِﻞ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻭ
ﻰ
ﺟ
ِﻪ
ﹾﺍ
ِﻻ
ﺳ
ِﺘﻌ
ﹶﻼ
ِﺀ
"Perkat aan yang mengandung permint aan unt uk dilakukannya suat u
perbuat an, dalam bent uk al-isti'la (dari yang lebih t inggi ke yang lebih
rendah, sepert i Allah memerint ahkan hamba-Nya. pent ).
Keluar dari perkat aan kami : (ﻝﻮـﻗ) "perkat aan" ; Isyarat , maka isyarat
t idak dinamakan perint ah, walaupun maknanya memberi f aidah perint ah.
Keluar dari perkat aan kami : (ﻞـﻌﻔﻟﺍﺐـﻠﻃ) "permint aan unt uk dilakukannya
suat u perbuat an" ; larangan, karena larangan merupakan permint aan unt uk
meninggalkan sesuat u, dan yang dimaksud dengan perbuat an adalah
mewuj udkan sesuat u, maka (perbuat an t ersebut , pent ) mencakup
perkat aan/ ucapan yang diperint ahkan.
Keluar dari perkat aan kami : (ﺀﻼﻌﺘـﺳﻻﺍﻪـﺟﻭﻰـﻠﻋ) "dalam bent uk isti'la" ;
al-iltimas (set ara/ sej aj ar/ selevel, pent ) dan do'a (dari yang lebih rendah
kepada yang lebih t inggi, pent ) dan yang selainnya yang diambil dari bent uk
BENTUK-BENTUK PERINTAH :
Bent uk-bent uk perint ah ada empat :
1. Fi'il amr (ﺮﻣﻷﺍﻞﻌﻓ),
Cont ohnya :
ﹸﻞﺗﺍ
ِﺏﺎﺘِﻜﹾﻟﺍ
ﻦِﻣ
ﻚﻴﹶﻟِﺇ
ﻲِﺣﻭﹸﺃ
ﺎﻣ
"Bacalah apa-apa yang diwahyukan kepadamu dari Kit ab" [ QS.
Al-Ankabut : 45]
2. Isim f i'il amr (ﺮﻣﻷﺍﻞﻌﻓﻢﺳﺍ),
Cont ohnya :
ﺣ
ﻲ
ﻋ
ﹶﻠ
ﺼ
ﻟﺍ
ﻰ
ﹶﻼ
ِﺓ
"Marilah kit a sholat "
3. Masdar penggant i dari f i'il amr (ﺮﻣﻷﺍﻞﻌﻓﻦﻋﺐﺋﺎﻨﻟﺍﺭﺪﺼﳌﺍ),
Cont ohnya :
ﺍﻭﺮﹶﻔﹶﻛ
ﻦﻳِ
ﺬ
ﱠﻟﺍ
ﻢﺘﻴِﻘﹶﻟ
ﺍﹶﺫِﺈﹶﻓ
ﺏﺮﻀﹶﻓ
ﺏﺎﹶ
ﻗ
ﺮﻟﺍ
"Apabila kamu bert emu dengan orang-orang kaf ir (di medan perang) maka
4. Fi'il Mudhori' yang bersambung dengan lam amr (ﺮﻣﻷﺍﻡﻼﺑﻥﻭﺮﻘﳌﺍﻉﺭﺎﻀﳌﺍ),
Cont ohnya :
ﺍﻮﻨِﻣﺆﺘِﻟ
ِﻪِﻟﻮﺳﺭﻭ
ِﻪﱠﻠﻟﺎِﺑ
"Supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya" QS. Al-Muj adalah: 4]
Dan t erkadang yang selain bent uk perint ah memberi f aidah permint aan
unt uk dilakukannya suat u perbuat an sepert i suat u perbuat an yang disif at i
dengan hukum f ardhu at au waj ib at au mandub (disukai) at au merupakan
ket aat an at au pelakunya dipuj i at au yang meninggalkannya dicela at au
mengerj akannya mendapat ganj aran at au meninggalkannya mendapat adzab.
Yang dit unj ukkan dari bent uk perint ah (ﺮﻣﻷﺍﺔﻐﻴﺻ):
Bent uk perint ah secara mut lak/ umum memberi konsekuensi: waj ibnya
sesuat u yang diperint ahkan dan bersegera (ﺓﺭﺩﺎﺒﳌﺍ) dalam melakukannya secara
langsung.
Diant ara dalil-dalil yang menunj ukkan bahwa bent uk perint ah memberi
konsekuensi waj ib adalah f irman Allah t a'ala :
ﻢﻴِﻟﹶﺃ
ﺏﺍﹶ
ﺬ
ﻋ
ﻢﻬﺒﻴِ
ﺼ
ﻳ
ﻭﹶﺃ
ﹲﺔﻨﺘِﻓ
ﻢﻬﺒﻴِ
ﺼ
ﺗ
ﹾﻥﹶﺃ
ِﻩِﺮﻣﹶﺃ
ﻦﻋ
ﹶﻥﻮﹸﻔِﻟﺎ
ﺨ
ﻳ
ﻦﻳِ
ﺬ
ﱠﻟﺍ
ِﺭﹶ
ﺬ
ﺤﻴﹾﻠﹶﻓ
"Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perint ah Rasul, t akut akan
Segi pendalilannya bahwasanya Allah memperingat kan kepada
orang-orang yang menyelisihi perint ah Rosul shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa
mereka akan t ert impa f it nah yait u kesesat an at au mereka akan dit impa
dengan adzab yang pedih, yang demikian it u t idaklah t erj adi melainkan
dengan meninggalkan kewaj iban, maka ini menunj ukkan bahwa perint ah
Rosullullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara mut lak/ umum menunj ukkan
waj ibnya perbuat an yang diperint ahkan.
Dan diant ara dalil-dalil yang menunj ukkan bahwa bent uk perint ah
menunj ukkan unt uk segera dilakukan secara langsung adalah f irman Allah
ta'ala :
ِﺕﺍﺮﻴ
ﺨ
ﹾﻟﺍ
ﺍﻮﹸﻘِﺒﺘﺳﺎﹶﻓ
"Maka berlomba-lombalah (dalam membuat ) kebaikan" [ QS. Al-Baqoroh :
148]
Dan semua yang diperint ahkan secara syar'i merupakan kebaikan, dan
perint ah unt uk berlomba-lomba dalam mengerj akannya merupakan dalil
waj ibnya bersegera.
Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membenci ket ika para sahabat
menunda-nunda apa yang diperint ahkan kepada mereka dari menyembelih
dan mencukur rambut pada hari perj anj ian Hudaibiyyah, sampai Rosullullah
shallallahu 'alaihi wa sallam masuk mendat angi Ummu Salamah radhiyallahu
'anha maka beliau mencerit akan kepadanya apa yang beliau dapat kan dari
sikap para sahabat (yang menunda-nunda perint ahnya, pent ). [ HR. Ahmad
Dan karena bersegera dalam melakukan suat u perbuat an (yang
diperint ahkan, pent ) adalah lebih hat i-hat i dan lebih membebaskan dari
t anggungan, dan menunda-nunda melakukan perbuat an yang diperint ahkan
merupakan cacat , dan memberi konsekuensi bert umpuknya kewaj
iban-kewaj iban sehingga seseorang menj adi t idak sanggup mengerj akannya.
Dan t erkadang perint ah keluar dari hukum waj ib dan bersegera dengan
adanya dalil yang menunj ukkan demikian maka perint ah keluar dari hukum
waj ib kepada beberapa makna (hukum), diant aranya :
1. Mandub (disukai), sepert i f irman Allah ta'ala :
ﻢﺘﻌﻳﺎﺒﺗ
ﺍﹶﺫِﺇ
ﺍﻭﺪِﻬﺷﹶﺃﻭ
"Dan dat angkanlah saksi j ika kalian berj ual beli" [ QS. Al-Baqoroh : 282]
Perint ah unt uk mendat angkan saksi at as j ual beli hukumnya adalah mandub
dengan dalil bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membeli kuda dari
seorang A'robi (Arab Badui) dan beliau t idak mendat angkan saksi. [ HR.
Ahmad, An-Nasa'i, Abu Dawud, dan pada hadit s t ersebut t erdapat suat u
cerit a] .
2. Mubah (Boleh), dan kebanyakan yang t erj adi adalah j ika perint ah t ersebut dat ang set elah adanya larangan at au sebagai j awaban t erhadap sesuat u yang
disangka t erlarang.
ﺍﻭﺩﺎﹶ
ﻄ
ﺻﺎﹶﻓ
ﻢﺘﹾﻠﹶﻠﺣ
ﺍﹶﺫِﺇﻭ
"Jika engkau t elah bert ahallul maka berburulah" [ QS. Al-Maidah : 2]
Perint ah unt uk berburu t ersebut hukumnya mubah karena ia muncul
set elah adanya larangan yang dit unj ukkan dari f irman Allah :
ﻭ
ِﺪﻴ
ﺼ
ﻟﺍ
ﻲﱢﻠِﺤﻣ
ﺮﻴﹶ
ﻏ
ﻡﺮﺣ
ﻢﺘﻧﹶﺃ
"(Yang demikian it u) dengan t idak menghalalkan berburu ket ika kamu sedang
dalam keadaan ber-ihrom. " [ QS. Al-Maidah : 1]
Dan cont oh sebagai j awaban t erhadap sesuat u yang disangka t erlarang
adalah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam :
ﹾﻓﺍ
ﻌ
ﹾﻞ
ﻭ
ﹶﻻ
ﺣ
ﺮ
ﺝ
"Lakukanlah, t idak mengapa! " [Muttafaqun alaih]
Sebagai j awaban at as orang yang bert anya kepada beliau pada haj i wada'
t ent ang mendahulukan amalan-amalan haj i yang sat u t erhadap yang lainnya
yang dikerj akan pada hari Ied.
3. Ancaman sepert i pada f irman Allah ta'ala :
ﲑ
ِ
ﺼ
ﺑ
ﹶﻥﻮﹸﻠﻤﻌﺗ
ﺎﻤِﺑ
ﻪﻧِﺇ
ﻢﺘﹾﺌِﺷ
ﺎﻣ
ﺍﻮﹸﻠﻤﻋﺍ
"Berbuat lah semau kalian, sesungguhnya Allah Maha Melihat t erhadap
ﻴﹾﻠﹶﻓ
ﺀﺎﺷ
ﻦﻣﻭ
ﻦِﻣﺆﻴﹾﻠﹶﻓ
ﺀﺎﺷ
ﻦﻤﹶﻓ
ﺍ
ﺭﺎﻧ
ﲔ
ِﻤِﻟﺎﱠ
ﻈ
ﻠِﻟ
ﺎﻧﺪﺘﻋﹶﺃ
ﺎﻧِﺇ
ﺮﹸﻔﹾﻜ
"Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan
barangsiapa yang ingin (kaf ir) biarlah ia kaf ir. " Sesungguhnya Kami t elah
sediakan bagi orang orang zalim it u neraka" [ QS. Al-Kahf i: 29]
Penyebut an ancaman set elah adanya perint ah yang disebut kan t adi
merupakan dalil bahwa perint ah t ersebut adalah sebagai ancaman.
Dan t erkadang perint ah keluar dari hukum bersegera kepada hukum boleh
dit unda (ﻲﺧﺍﺮﺘﻟﺍ).
Cont ohnya : Qodho' puasa romadhon, maka seseorang diperint ahkan
unt uk menunaikannya, akan t et api ada dalil yang menunj ukkan bahwa qodho'
t ersebut boleh dit unda. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkat a :
ِﻓ
ﺎﱠﻟِﺇ
ﻪﻴِﻀﹾ
ﻗ
ﹶﺃ
ﹾﻥﹶﺃ
ﻊ
ﻴِ
ﻄ
ﺘﺳﹶﺃ
ﺎﻤﹶﻓ
ﹶﻥﺎﻀﻣﺭ
ﻦِﻣ
ﻡﻮ
ﺼ
ﻟﺍ
ﻲﹶﻠﻋ
ﹸﻥﻮﹸﻜﻳ
ﹶﻥﺎﹶﻛ
ﻚِﻟﹶﺫﻭ
ﹶﻥﺎﺒﻌﺷ
ﻲ
ﻢﱠﻠﺳﻭ
ِﻪﻴﹶﻠﻋ
ﻪﱠﻠﻟﺍ
ﻰﱠﻠﺻ
ِﻪﱠﻠﻟﺍ
ِﻝﻮﺳﺭ
ِﻥﺎﹶﻜﻤِﻟ
"Aku pernah mempunyai hut ang puasa romadhon, aku t idak mampu unt uk
mengqodho'nya kecuali di bulan Sya'ban, yang demikian adalah karena
kedudukan Rosullullah shallallahu 'alaihi wa sallam. " [ HR. Al-Jama'ah]
Dan seandainya mengakhirkannya adalah haram maka Aisyah t idak akan
APA YANG TIDAK SEMPURNA SESUATU YANG DIPERINTAHKAN KECUALI
DENGANNYA(ﻪﺑﻻﺇﺭﻮﻣﺄﳌﺍﻢﺘﻳﻻﺎﻣ):
Jika suat u perbuat an yang diperint ahkan t idak bisa dikerj akan kecuali
dengan sesuat u maka sesuat u t ersebut adalah diperint ahkan, j ika yang
diperint ahkan adalah waj ib maka sesuat u it u hukumnya j uga waj ib, dan j ika
yang diperint ahkan adalah mandub maka sesuat u it u hukumnya mandub.
Cont oh yang waj ib : menut up aurat , j ika t idak bisa dikerj akan kecuali
dengan membeli pakaian, maka membeli pakaian t ersebut hukumnya menj adi
waj ib.
Cont oh yang mandub : memakai wewangian unt uk sholat j um'at , j ika
t idak bisa dikerj akan kecuali dengan membeli wewangian, maka membeli
wewangian t ersebut hukumnya menj adi mandub.
Dan kaidah ini t erkandung pada kaidah yang lebih umum darinya yait u :
ﻮﻟﺍ
ﺳ
ِ
ﺋ
ﺎ
ﹸﻞ
ﹶﻟ
ﻬ
ﹶﺃ
ﺎ
ﺣ
ﹶﻜ
ﻡﺎ
ﹶ
ﳌ
ﺍ
ﹶﻘ
ِﺻﺎ
ِﺪ
"hukum wasilah adalah sebagaimana hukum yang dituju."
Maka wasilah-wasilah unt uk suat u yang diperint ahkan hukumnya adalah
diperint ahkan j uga, dan wasilah-wasilah yang suat u yang dilarang hukumnya
adalah dilarang.
ﻲـﻬﻨﻟﺍ
LARANGAN
DEFINISINYA :
Larangan (
ﻲﻬﻨﻟﺍ
) adalah :
ﹶ
ﻗ
ﻮ
ﹲﻝ
ﻳ
ﺘ
ﻀ
ﻤ
ﻦ
ﹶﻃ
ﹶﻠ
ﺐ
ﻟﺍ
ﹶﻜ
ﻒ
ﻋ
ﹶﻠ
ﻭ
ﻰ
ﺟ
ِﻪ
ﹾﺍ
ِﻻ
ﺳ
ِﺘﻌ
ﹶﻼ
ِﺀ
ِﺑ
ِ
ﺼ
ﻴﻐ
ٍﺔ
ﻣ
ﺨ
ﺼ
ﻮ
ﺻ
ٍﺔ
ِﻫ
ﻲ
ﹸ
ﳌ
ﺍ
ﻀ
ِﺭﺎ
ﻉ
ﹶ
ﳌ
ﺍ
ﹾﻘﺮ
ﻭ
ﹸﻥ
ِﺑ
ﹶﻼ
ﻨﻟﺍ
ِﻫﺎ
ﻴِﺔ
"Perkat aan yang mengandung permint aan unt uk menahan diri dari suat u
perbuat an dalam bent uk ist i'la' (dari at as ke bawah) dengan bent uk khusus
yait u f i'il mudhori' yang didahului dengan 'la nahiyah' (
ﺔﻴِﻫﺎﻨﻟﺍ
ﹶﻻ
) (Yakni [ﻻ] yangbermakna larangan, pent ). "
Sepert i f irman Allah :
ﹶﻥﻮﻤﹶﻠﻌﻳ
ﻻ
ﻦﻳِ
ﺬ
ﱠﻟﺍ
َ
ﺀﺍﻮﻫﹶﺃ
ﻊ
ِﺒﺘﺗ
ﻻﻭ
"Dan j anganlah engkau mengikut i hawa naf su orang-orang yang
mendust akan ayat -ayat kami dan orang-orang yang t idak beriman kepada
Keluar dari perkat aan kami : (
ﻝﻮ
ﻗ
) "perkat aan" : isyarat (ﺓﺭﺎﺷ
ﻹ
ﺍ
), makaisyarat t idak dinamakan sebagai larangan walaupun maknanya memiliki
f aidah sebagai larangan.
Keluar dari perkat aan kami : (
ﻒﻜﻟﺍ
ﺐ
ﻠﻃ
) "permint aan unt uk menahan diridari suat u perbuat an": perint ah (
ﺮﻣﻷﺍ
), karena perint ah adalah permint aanunt uk melakukan suat u perbuat an. "
Keluar dari perkat aan kami : (
ﺀﻼﻌﺘﺳﻻﺍ
ﻪ
ﺟ
ﻭ
ﻰﻠﻋ
) "dalam bent uk isti'la'" :sej aj ar (
ﺱ
ﺎﻤﺘﻟﻻﺍ
) dan doa (ﺀﺎﻋﺪﻟﺍ
), dan yang selainnya yang memberi f aidahlarangan dengan adanya qorinah.
Keluar dari perkat aan kami : (
ﺔﻴﻫﺎﻨﻟﺍ
ﻼﺑ
ﻥﻭﺮﻘ
ﳌ
ﺍ
ﻉ
ﺭﺎﻀ
ﳌ
ﺍ
ﻲﻫ
ﺔﺻﻮ
ﺼﳐ
ﺔﻐﻴ
ﺼ
ﺑ
) "denganbent uk khusus yait u f i'il mudhori' yang didahului dengan la nahiyah" : apa-apa
yang menunj ukkan at as permint aan menahan diri dari sesuat u dengan bent uk
perint ah (
ﺮﻣﻷﺍ
ﺔﻐﻴﺻ
), sepert i : (ﻉ
ﺩ
) "t inggalkan", (ﻙ
ﺮﺗﺍ
) "t inggalkan", (ﻒﻛ
)"cukup", dan yang selainnya, maka walaupun ini mengandung permint aan
unt uk menahan diri dari sesuat u, t api f i'il-f i'il t ersebut dalam bent uk perint ah
(
ﺮﻣﻷﺍ
ﺔﻐﻴﺻ
), maka f i'il-f i'il t ersebut adalah bermakna perint ah, bukan larangan.Dan t erkadang yang selain bent uk larangan (
ﻲﻬﻨﻟﺍ
ﺔﻐﻴﺻ
) memberi f aidahyang disif at i dengan keharoman, larangan at au keburukan, at au at au
pelakunya dicela, at au mengerj akannya mendapat adzab.
APA-APA YANG MENJADI KOSEKUENSI BENTUK LARANGAN (
ﻲﻬﻨﻟﺍ
ﺔﻐﻴﺻ
):Bent uk larangan secara mut lak menunj ukkan keharoman dan rusaknya
sesuat u yang dilarang t ersebut .
Diant ara dalil-dalil bahwa larangan it u menunj ukkan keharoman adalah
f irman Allah ta'ala :
ﺍﻮﻬﺘﻧﺎﹶﻓ
ﻪﻨﻋ
ﻢﹸﻛﺎﻬﻧ
ﺎﻣﻭ
ﻩﻭﹸ
ﺬ
ﺨ
ﹶﻓ
ﹸﻝﻮﺳﺮﻟﺍ
ﻢﹸﻛﺎﺗﺁ
ﺎﻣﻭ
"Apa-apa (perint ah) yang dat ang kepada kalian dari Rosul maka ambillah
(kerj akanlah) dan apa-apa yang dilarang oleh Rosul maka berhent ilah
(t inggalkanlah)" [ QS. Al-Hasyr : 7]
Maka perint ah unt uk berhent i (meninggalkan dari apa yang dilarang)
menunj ukkan waj ibnya berhent i, dan konsekuensinya adalah haramnya
mengerj akan perbuat an t ersebut .
Diant ara dalil-dalil bahwa larangan it u menunj ukkan rusaknya suat u
perbuat an adalah sabda Nabi Shollallahu 'alaihi wa sallam adalah :
ﻣ
ﻦ
ﻋ
ِﻤ
ﹶﻞ
ﻋ
ﻤ
ﹶﻟ
ﹰﻼ
ﻴ
ﺲ
ﻋ
ﹶﻠﻴ
ِﻪ
ﹶﺃ
ِﻣﺮ
ﻧ
ﹶﻓ
ﺎ
ﻬ
ﻮ
ﺭ
ﺩ
Yakni dit olak (
ﺩﻭﺩﺮﻣ
), dan apa-apa yang Nabi shollallahu alaihi wa sallammelarang dari mengerj akannya, maka t idak ada padanya perint ah Nabi
shollallahu alaihi wa sallam, sehingga perbuat an t ersebut merupakan
perbuat an yang dit olak.
Demikian dan dalam kaidah al-madzhab (maksudnya adalah madzhab
hambali, pent ) dalam perbuat an yang dilarang; apakah perbuat an t ersebut
menj adi bat al at au t et ap sah dengan adanya pengharaman (t erhadap
perbuat an t ersebut )? adalah sebagai berikut :
1. Bahwa larangan t ersebut kembali pada dzat yang dilarang at asnya at au
syarat nya maka sesuat u it u menj adi bat al.
2. Bahwa larangan t ersebut kembali pada perkara luar yang t idak
berhubungan dengan dzat yang dilarang at asnya dan t idak pula
berhubungan dengan syarat nya maka sesuat u it u t idak menj adi bat al.
Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah
ibadah adalah : Larangan unt uk berpuasa pada dua hari Ied.
Misal larangan yang kembali pada dzat yang dilarang dalam masalah
mu'amalah adalah : Larangan unt uk berj ual beli set elah adzan sholat j um'at
yang kedua bagi orang-orang yang waj ib sholat j um'at .
Misal larangan yang kembali pada syarat nya dalam masalah ibadah
adalah: Larangan bagi laki-laki unt uk memakai pakaian dari sut era, menut up
aurat adalah syarat sahnya sholat , j ika dia menut upnya dengan pakaian yang
dilarang at asnya, maka sholat nya t idak sah karena larangan t ersebut kembali
Misal larangan yang kembali pada syarat nya dalam masalah mu'amalah
adalah: Larangan unt uk berj ual beli dengan suat u binat ang yang masih berada
dalam perut induknya, maka penget ahuan t ent ang sesuat u yang akan
diperj ual belikan adalah syarat sahnya j ual beli, j ika seseorang berj ual beli
dengan suat u binat ang yang masih berada dalam perut induknya, maka j ual
beli t ersebut t idak sah karena larangan t ersebut kembali pada syarat nya.
Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah ibadah
adalah : larangan bagi laki-laki unt uk memakai imamah dari sut era, j ika dia
sholat dan memakai imamah dari sut era maka sholat nya t idak bat al, karena
larangan t idak kembali kepada dzat nya sholat dan syarat nya.
Misal larangan yang kembali pada perkara luar dalam masalah mu'amalah
adalah : larangan unt uk menipu, maka j ika seseorang melakukan j ual beli
sesuat u dengan menipu, j ual beli t ersebut t idak bat al karena larangan t idak
kembali pada dzat nya j ual beli dan syarat nya.
Dan t erkadang suat u larangan keluar dari hukum haram kepada hukum
lain dengan dalil yang menunj ukkan hal it u, diant aranya :
1. Makruh, mereka (ulama ushul f iqh, pent ) memberi permisalan hal it u
dengan sabda Nabi shollallahu alahi wa sallam :
ﹶﻻ
ﻳ
ﻤ
ﺴ
ﹶﺃ
ﻦ
ﺣ
ﺪ
ﹸﻛ
ﻢ
ﹶﺫ
ﹶﻛ
ﺮﻩ
ِﺑ
ﻴِﻤ
ﻴِﻨ
ِﻪ
ﻭ
ﻫ
ﻮ
ﻳ
ﺒﻮ
ﹸﻝ
"Janganlah salah seorang diantara kalian menyentuh kemaluannya
Maka j umhur ulama mengat akan : "Sesungguhnya larangan disini
adalah menunj ukkan kemakruhan, karena kemaluan adalah salah sat u
bagian t ubuh manusia, dan hikmah dari larangan t ersebut adalah
mensucikan t angan kanan. "
2. Sebagai arahan, misalnya sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam kepada
Mu'adz :" Janganlah kamu meninggalkan untuk membaca disetiap akhir
sholat :
ﻚِﺗﺩﺎﺒِﻋ
ِﻦﺴﺣ�