• Tidak ada hasil yang ditemukan

SYARAT-SYARAT IJMA' :

DZOHIR DAN MU'AWWAL

SYARAT-SYARAT IJMA' :

Ijma' memiliki syarat-syarat, diantaranya :

1. Tet ap melalui j alan yang shohih, yait u dengan kemasyhurannya dikalangan 'ulama at au yang menukilkannya adalah orang yang t siqoh dan luas penget ahuannya.

2. Tidak didahului oleh khilaf yang t elah t et ap sebelumnya, j ika didahului oleh hal it u maka bukanlah ij ma' karena perkat aan t idak bat al dengan kemat ian yang mengucapkannya.

Maka ij ma' t idak bisa membat alkan khilaf yang ada sebelumnya, akan t et api ij ma' bisa mencegah t erj adinya khilaf . Ini merupakan pendapat yang roj ih karena kuat nya pendalilannya. Dan dikat akan : t idak disyarat kan yang demikian, maka bisa dit et apkan at as salah sat u pendapat yang ada sebelumnya pada masa berikut nya, kemudian ia menj adi huj j ah bagi ummat yang set elahnya. Dan menurut pendapat j umhur, t idak disyarat kan berlalunya zaman orang-orang yang bersepakat , maka ij ma' dit et apkan dari ahlinya (muj t ahidin) hanya dengan kesepakat an mereka (pada saat it u j uga, pent ) dan t idak boleh bagi mereka at au yang selain mereka menyelisihinya set elah it u, karena dalil-dalil yang menunj ukkan bahwa ij ma' adalah huj j ah, t idak ada padanya pensyarat an berlalunya zaman t erj adinya ij ma' t ersebut . Karena ij ma' dihasilkan pada saat t erj adinya kesepakat an mereka, maka apa yang bisa membat alkannya?

Dan j ika sebagian muj t ahid mengat akan sesuat u perkat aan at au mengerj akan suat u pekerj aan dan hal it u masyhur di kalangan ahlul Ij t ihad dan t idak ada yang mengingkarinya dengan adanya kemampuan mereka unt uk mengingkari hal t ersebut , maka dikat akan : hal t ersebut menj adi ij ma', dan dikat akan : hal t ersebut menj adi huj j ah bukan ij ma', dan dikat akan : bukan ij ma' dan bukan pula huj j ah, dan dikat akan : j ika masanya t elah berlalu sebelum adanya pengingkaran maka hal it u merupakan ij ma', karena diam mereka (muj t ahidin) secara t erus-menerus sampai berlalunya masa padahal mereka memiliki kemampuan unt uk mengingkari merupakan dalil at as kesepakat an mereka, dan ini merupakan pendapat yang paling dekat kepada kebenaran.

ِﻘﻟﺍ

ﻴ

Qiyas

DEFINISINYA :

Qiyas secara bahasa : Pengukuran (ﺮﻳﺪﻘﺘﻟﺍ) dan Penyamaan (ﺓﺍﻭﺎﺴﳌﺍ).

Secara ist ilah :

ﺎﻤﻬﻨﻴﺑ

ﺔﻌﻣﺎﺔﱠﻠﻌﻟﻢﻜﺣ

ﻞﺻ

ﺮﻓ

ﺔﻳﻮﺴﺗ

"Menyamakan cabang dengan yang pokok (ashl) di dalam suat u hukum dikarenakan berkumpulnya sebab yang sama ant ara keduanya. "

Cabang (ﻉﺮﻔﻟﺍ) : yang diqiyaskan (ﺲﻴﻘﳌﺍ).

Pokok/ashl (ﻞﺻﻷﺍ) : yang diqiyaskan kepadanya (ﻪﻴﻠﻋﺲﻴﻘﳌﺍ). Hukum (ﻢﻜﳊﺍ) :

ﺎﻫﲑﻏﻭﺃ

،ﺩﺎﺴﻓ

ﻭﺃ

،ﺔﺤﺻ

ﻭﺃ

،ﻭﺃ

،ﺏﻮﻦﻣ

ﻲﻋﺮﺸﻟﺍ

ﻞﻴﻟﺪﻟﺍ

ﻩﺎﻀﺘ

ﺎﻣ

"Apa yang menj adi konsekuensi dalil syar'i dari yang waj ib at au harom, sah at au rusak, at au yang selainnya. "

Sebab/'illah (ﺔﻠﻌﻟﺍ) :

ﻞﺻﻷﺍ

ﻢﻜﺣ

ﻪﺒﺒﺴﺑ

ﺖﺒﺛﻟﺍ

Ini merupakan empat rukun qiyas, dan qiyas merupakan salah sat u dalil yang hukum-hukum syar'i dit et apkan dengannya.

Dan sungguh al-Kit ab, as-Sunnah dan perkat aan sahabat t elah menunj uk- kan dianggapnya qiyas sebagai dalil syar'i. Adapun dalil-dalil dari al-Kit ab : 1. Firman Alloh ta'ala :

ﱠﻠﻟﺍ

ﻥﺍﻴِﻤﹾﻟﺍﻭ

ﺤﹾﻟﺎِﺑﺏﺎﺘِﻜﹾﻟﺍ

ﹶﻝﻧﹶﺃﻱِﱠﻟﺍ

ﻪ

"Allah-lah yang menurunkan al-Kit ab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) mizan. " [ QS. Asy-Syuuro : 17]

Mizan/ t imbangan (ﻥﺍﺰـﻴِﻤﹾﻟﺍَ) adalah sesuat u yang perkara-perkara dit imbang dengannya dan diqiyaskan dengannya.

2. Firman Alloh ta'ala :

ﻩﺪﻴِﻌﻧٍﹾﻠﹶﻝﻭﹶﺃ

ﺎﻧﹾﺃﺪﺑﺎﻤﹶﻛ

"Sebagaimana Kami t elah memulai pancipt aan pert ama begit ulah Kami akan mengulanginya" [ QS. Al-Anbiya : 104]

ﺎﻳﺮﻟﺍﹶﻞﺳﺭﹶﺃ

ﻱِﱠﻟﺍ

ﻪﱠﻠﻟﺍﻭ

ﺪـﻌﺑﺭﹶﹾﻟﺍ

ِﻪِﺑﺎﻨﻴﻴﺣﹶﹶﻓٍﺖﻴﻣ

ٍﺪﹶﻠﺑﻰﹶﻟِﺇ

ﻩﺎﻨﹾﻘﺴﹶﻓ

ﹰﺎﺑﺎﺤﺳ

ِﺜﺘﹶﻓ

ﺭﻮﺸﻨﻟﺍ

ﻚِﻟﹶﹶﻛﺎﻬِﺗﻮﻣ

"Dan Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin it u menggerakkan awan, maka Kami halau awan it u kesuat u negeri yang mat i lalu Kami hidupkan bumi set elah mat inya dengan huj an it u. Demikianlah kebangkit an

Alloh ta'ala menyerupakan pengulangan pencipt aan dengan permulaannya, dan menyerupakan menghidupkan yang mat i dengan menghidupkan bumi, ini adalah qiyas.

Di ant ara dalil-dalil sunnah :

1. Sabda Nabi shollallohu alaihi wa sallam kepada seorang wanit a yang bert anya kepadanya t ent ang berpuasa unt uk ibunya set elah meninggal :

ﺎﻬﻨﻋ

ِﻚِﻟﹶﺫ

ﻱﺩﺆﻳ

ﹶﻥﺎﹶﻛﹶﺃ

ِﻪﻴِﺘﻴﻀﹶﻘﹶﻓ

ﻦﻳﺩ

ِﻚﻣﹸﺃ

ﻰﹶﻠﻋ

ﹶﻥﺎﹶﻛ

ﻮﹶﻟِﺖﻳﹶﺃﺭﹶﺃ

؟

ﹶﻝﺎـﹶ

ﻢـﻌﻧﺖﹶﻟﺎ

ِﻚﻣﹸﺃ

ﻦﻋ

ﻲِﻣﻮﹶﻓ

"Bagaimana pendapat mu j ika ibumu memiliki hut ang lalu kamu membayar-nya? Apakah hut ang t ersebut t ert unaikan unt uknya?" Dia menj awab : "Ya". Beliau bersabda : "Maka berpuasalah unt uk ibumu. "

2. Bahwa seorang laki-laki dat ang kepada Nabi shollallohu alaihi wa sallam

lalu ia berkat a :

ﺩﻮﺳﹶﺃﻡﺎﹶﻠﹸ

ﻲِﻟ

ﺪِﻟﻭ

ِﻪﱠﻠﻟﺍ

ﹶﻝﻮﺳﺭ

ﺎﻳ

!

ٍﻞِﺑِﺇ

ﻦِﻣ

ﻚﹶﻟ

ﹾﻞﻫ

ﹶﻝﺎﹶﻘﹶﻓ

؟

ﺎـﻬﻧﺍﻮﹾﻟﹶﺃﺎﻣ

ﹶﻝﺎﹶ

ﻢﻌﻧﹶﻝﺎﹶ

ﹶﻓ

ﹶﻝﺎﹶ

ﻢﻌﻧ

ﹶﻝﺎﹶ

ﺭﻭﹶﺃﻦِﻣ

ﺎﻬﻴِﻓ

ﹾﻞﻫ

ﹶﻝﺎﹶ

ﺮﻤﺣﹶﻝﺎﹶ

ﻚِﻟﹶﺫ

ﻰﻧ

؟

ﹶﻝﺎﹶﺮِﻋ

ﻪﻋﻧﻪﱠﻠﻌﹶﻟﹶﻝﺎﹶ

ﻪﻋﻧﺍﹶﻫ

ﻚﻨﺑﺍﱠﻞﻌﹶﻠﹶﻓ

"Wahai Rosullulloh! Telah dilahirkan unt ukku seorang anak laki-laki yang berkulit hit am. " Maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam berkat a: "Apakah kamu memiliki unt a? Ia menj awab: "Ya", Nabi berkat a: "Apa saj a warnanya?" Ia menj awab: "Merah", Nabi berkat a: "Apakah ada yang berwarna keabu-

abuan?" Ia menj awab: "Ya", Nabi berkat a: "Mengapa demikian?" Ia menj awab: "Mungkin urat nya ada yang salah" Nabi berkat a: "Mungkin j uga anakmu ini t erj adi kesalahan urat ".

Demikian ini seluruh cont oh yang ada dalam kit ab dan sunnah sebagai dalil at as kebenaran qiyas karena di dalamnya ada penganggapan sesuat u sama dengan yang semisalnya.

Dan di ant ara dalil dari perkat aan sahabat : Apa yang dat ang dari Amirul Mu'minin Umar bin Al-Khot ht hob dalam surat nya kepada Abu Musa Al-Asy'ari dalam hal pemut usan hukum, ia berkat a :

ﻳﺎ

،ﺔﻨﺳ

ﻻﻭ

ﻥﺁﺮ

ﻴﻟ

ﻚﻴﻠﻋ

ﺩﺭﻭ

،ﻚﻴﻠﻋ

ﱃﺩﺃ

ﺎﻤﻴﻓ

ﻢﻬﻔﻟﺍ

ﻢﻬﻔﻟﺍ

ﺎﻤﻴﻓ

ﺪﻤﻋﺍ

،ﻝﺎﺜﻣﻷﺍﺮﻋﺍﻭ

،ﺪﻨﻋ

ﺭﻮﻣﻷﺍ

ﺎﻬﻬﺒـﺷﺃﻭ

،ﷲﺍ

ﱃﺇ

ﺎﻬـﺒﺣﺃ

ﱃﺇ

ﳊﺎﺑ

"Kemudian f ahamilah, f ahamilah t erhadap apa yang diaj ukan kepadamu, kepada apa yang dat ang kepadamu yang t idak ada dalam al-Qur'an dan as- Sunnah, kemudian qiyaskanlah perkara-perkara yang t erj adi padamu t ersebut dan ket ahuilah persamaan-persamaannya, kemudian sandarkanlah pendapat mu it u kepada apa yang paling dicint ai Alloh dan paling menyerupai kebenaran."

Ibnul Qoyyim berkat a : "dan ini adalah surat (dari Umar, pent ) yang mulia yang t elah dit erima oleh para 'ulama".

Dan Al-Muzani meriwayat kan bahwa para ahli f iqih sej ak zaman sahabat sampai zaman beliau t elah bersepakat bahwa penyamaan dengan yang benar

adalah benar dan penyamaan dengan yang bat hil adalah bat hil, dan mereka menggunakan qiyas-qiyas dalam f iqh dalam seluruh hukum-hukum.

Dokumen terkait