BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS 7
D. Hipotesis
Perumusan hipotesis statistik yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
24 Consuleo G. Sevilla., dkk, Pengantar Metode Penelitian, (Jakarta: UI-Press, 1993), cet 1, h.
243.
π‘ = πβ β πβ
βπ βΒ² + π βΒ² πβ πβ
Ho : πβ = πβ Ha : π1 β π2
Ho : tidak terdapat pengaruh model Cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil belajar siswa biologi pada konsep bakteri di MAN 1 Tangerang.
Ha : terdapat pengaruh model Cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil belajar siswa biologi pada konsep bakteri di MAN 1 Tangerang πβ : rata-rata hasil belajar biologi siswa pada kelas eskperimen
πβ : rata-rata hasil belajar biologi siswa pada kelas kontro
45 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data dari tes hasil belajar biologi siswa kelas X MAN 1 Tangerang berupa pretes dan postes juga data yang terkumpul dari data lembar observasi kegiatan guru dan kegiatan siswa selama proses pembelajaran. Penelitian ini dilakukan di dua kelas yang berbeda, yaitu kelas eksperimen (X MIPA1) yang diberikan model pembelajaran cooperative learning tipe picture and picture dan kelas kontrol (X MIPA2) tanpa diberikan penerapan model pembelajaran cooperative learning tipe picture and picture.
Instumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kognitif sebanyak 20 soal pilihan ganda. Tes pertama dilakukan sebelum adanya kegiatan pembelajaran (pretes), dan tes kedua dilakukan setelah kegiatan pembelajaran (postes). Berdasarkan data yang telah diuji coba dan dianalisis maka peneliti akan menjelaskan gambaran umum mengenai data yang diperoleh pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol.
1. Data Hasil Pretes Kelas Eksperimen dan Kontrol
Data hasil pretes kelas eksperimen dan kontrol ditunjukan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal siswa pada konsep bakteri yang akan diajarkan. Hasil perhitungan data pretes dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Data Hasil Pretes1
Data Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
N 33 33
Skor Tertinggi 75 70
Skor Terendah 10 15
Rata-Rata 39.69 38.79
Standar Deviasi 15.76 12.18
1 Lampiran 15, Data Hasil Pretes dan Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol, h.145-146.
2. Data Hasil Postes Kelas Eksperimen dan Kontrol
Data hasil postes kelas eskperimen dan kontrol ditunjukan untuk mengetahui pemahaman siswa setelah diberikan perlakuan yang berbeda pada kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hasil perhitungan data postes pada kelas eksperimen dan kelas kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2. Data Hasil Postes
Data Kelas
Eksperimen
Kelas Kontrol
N 33 33
Skor Tertinggi 100 90
Skor Terendah 75 60
Rata-Rata 83.48 74.39
Standar Deviasi 9.80 9.41
Data pada Tabel 4.2 menunjukkan bahwa adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.1 menunjukan skor pretes terendah dan tertinggi kelas ekperimen sebesar 10 dan 75 sedangkan setelah diberikan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture skor terendah dan tertinggi yaitu sebesar 75 dan 100.
Data hasil postes kelas kontrol juga menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa, namun peningkatan hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Berasarkan Tabel 4.1 menunjukan bahwa skor pretes terendah dan tertinggi kelas kontrol yaitu sebesar 15 dan 70, sedangkan hasil data postes menunjukan skor terendah dan tertinggi yaitu sebesar 60 dan 90.
3. Data N-Gain Kelas Eksperimen dan Kontrol
Data pretes dan postes yang diperoleh, maka akan dilakukan uji N-Gain.
Uji N-Gain dilakukan untuk mengetahui peningkatan skor hasil belajar siswa sebelum dilakukan proses pembelajaran (pretes) dan sesudah dilakukan proses pembelajaran (postes) pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol yang
47
diberikan perlakuan berbeda dengan cara menghitung selisih antara nilai pretes dan postes. Data N-Gain kelas eksperimen dan kelas kontrol sebagai berikut:
Tabel 4.3. Data Skor N-Gain2
N-Gain Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Tertinggi 1.00 0.85
Terendah 0.58 0.20
Rata-Rata 0.75 0.58
Kategori Tinggi Sedang
Frekuensi N-Gain kelas eksperimen maupun kelas kontrol menunjukan bahwa kategori N-Gain kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki kategori yang beragam yaitu kategori rendah, sedang, dan tinggi. Berdasarkan hasil uji Gain pada kelas eksperimen memiliki kategori tinggi dengan rata-rata N-Gain sebesar 0.75. Sedangkan hasil uji N-N-Gain kelas kontrol memiliki kategori sedang dengan rata-rata N-Gain sebesar 0.58. Maka, dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol. Frekuensi N-Gain sebagai berikut:
Tabel 4.4 Frekuensi N-Gain Kelas Eksperimen dan Kontrol
Kategori N-Gain Frekuensi
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol
Rendah 0 2
Sedang 20 29
Tinggi 13 2
Jumlah 33 33
B. Deskripsi Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Kelas Eksperimen dan Kontrol
Observasi ini dilakukan pada kelas eskperimen dan kelas kontrol untuk mengetahui tercapai tidaknya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
2 Lampiran 16, Analisis N-Gain Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol, h.147-148.
telah dibuat dengan model yang digunakan yaitu cooperative learning tipe picture and picture pada kelas eksperimen dan digunakan ketika proses pembelajaran berkaitan dengan kegiatan guru selama proses pembelajaran.
Tabel 4.5. Lembar Observasi Kegiatan Guru Kelas Eksperimen3
No Aspek Observasi
4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran β β 5. Guru membagi siswa kedalam beberapa
kelompok
β β
6. Guru membagikan LKPD dan gambar-gambar yang berkaitan dengan konsep bakteri kepada setiap kelompok
β β
7. Guru membimbing jalannya diskusi β β
8. Guru memanggil siswa secara bergantian memasangkan gambar dan menanyakan alasannya.
β β
9. Guru meminta perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok
β β
10. Guru memberikan reward secara verbal ataupun non verbal
β β
11. Guru menanamkan konsep sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
β β
12 Guru membuat kesimpulan bersama siswa β β
3 Lampiran 5, Lembar Observasi Kegiatan Guru Kelas Eksperimen, h.100-103.
Pertemuan 1 Pertemuan 2
49
Data lembar observasi pada Tabel 4.5 menunjukkan bahwa RPP yang telah dibuat dengan model yang digunakan yaitu cooperative learning tipe picture and picture pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua semua kegiatan dalam proses pembelajaran terlaksana dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.
Lembar observasi kelas kontrol juga menunjukan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat pada pertemuan pertama maupun pertemuan kedua terlaksana dengan baik. Hasil lembar observasi kegiatan guru pada kelas kontrol sebagaimana pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6. Lembar Observasi Kegiatan Guru Kelas Kontrol4
No Aspek Observasi
Ya Tidak Ya Tidak 1. Guru menyiapkan RPP yang digunakan
dalam pembelajaran
6. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan konsep bakteri
β β
7. Guru membimbing jalannya diskusi β β
8. Guru mempersilakan siswa untuk mempresentasikan secara lisan hasil diskusi kelompok
β β
9. Guru memberikan reward secara verbal ataupun non verbal
β β
10. Guru membuat kesimpulan bersama siswa
β β
4 Lampiran 6, Lembar Observasi Kegiatan Guru Kelas Kontrol, h.104-107.
Pertemuan 1 Pertemuan 2
Hasil observasi kegiatan siswa kelas eksperimen dan kontrol dapat dilihat pada Tabel 4.7 dan Tabel 4.8 sebagai berikut:
Tabel 4.7. Lembar Observasi Kegiatan Siswa Kelas Eksperimen5 No Aspek Obsevasi
1 2 3 4 1 2 3 4
1. Menjawab salam dan pertanyaan guru
β β
2. Menyimak tujuan pembelajaran yang disampaikan guru
β β
3. Menyimak penjelasan guru dan Mengajukan pertanyaan dengan memperhatikan gambar yang sudah disediakan
β β
4. Duduk secara berkelompok β β
5. Mencari dan mengumpulkan informasi terkait materi yang dipelajari dari berbagai literatur
β β
9. Merespon positif pendapat teman
β β
10. Mengikuti pelajaran dengan baik dan tertib
β β
11. Memberikan kesimpulan terkait pembelajaran yang telah dilaksanakan
β β
Jumlah 36 41
Rata-rata 3.3 3.7
5 Lampiran 7, Lembar Observasi Kegiatan Siswa Kelas Eksperimen, h.108-109.
Pertemuan I Pertemuan 2
51
Tabel 4.8. Lembar Observasi Kegiatan Siswa Kelas Kontrol6 No Aspek Obsevasi
3. Menyimak penjelasan guru dan Mengajukan pertanyaan informasi terkait materi yang dipelajari dari berbagai literatur
9. Merespon positif pendapat teman
β β
10. Mengikuti pelajaran dengan baik dan tertib
β β
11. Memberikan kesimpulan terkait pembelajaran yang telah
6 Lampiran 8, Lembar Observasi Kegiatan Siswa Kelas Kontrol, h.109-110.
Pertemuan I Pertemuan 2
C. Uji Prasyarat Analisis Data 1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk menguji apakah data yang diteliti berdistribusi normal atau tidak normal dengan kriteria pengujia jika Lo < Ltabel maka Ho diterima yang berarti data berdistribusi normal. Sebaliknya jika Lo >
Ltabel maka Ho ditolak yang berarti data tidak berdistribusi normal. Uji normalitas yang digunakan peneliti menggunakan bantuan aplikasi excel.
a. Uji Normalitas Data Pretes
Tabel 4.9 Hasil Uji Normalitas Pretes Kelas Eksperimen dan Kontrol7
Kelas N
πΆ π
π¨π
πππππ₯ KesimpulanEksperimen 33 (0.05) 0.126 0.154 Ho diterima
Kontrol 33 (0.05) 0.137 Ho diterima
Data pada Tabel 4.9 menunjukkan bahwa perhitungan uji normalitas data pretes kelas eksperimen maupun kelas kontrol dengan taraf signifikan 5%
(πΌ =0.05) diperoleh Lo lebih kecil dari Ltabel (Lo < Ltabel) . Hal ini menunjukan bahwa skor pretes kelas eksperimen maupun kelas kontrol berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lo < Ltabel. Dengan demikian Ho diterima.
b. Uji Normalitas Data Postes
Tabel 4.10 Hasil Uji Normalitas Postes Kelas Eksperimen dan Kontrol8
Kelas N
πΆ π
π¨π
πππππ₯ KesimpulanEksperimen 33 (0.05) 0.136 0.154 Ho diterima
Kontrol 33 (0.05) 0.104 Ho diterima
7 Lampiran 17, Hasil Uji Normalitas Data Pretes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol, h.149-150
8 Lampiran 18, Hasil Uji Normalitas Data Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol h.151.
53
Data pada Tabel 4.10 menunjukkan bahwa perhitungan uji normalitas data pretes pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol dengan taraf signifikan 5% (πΌ =0.05) diperoleh Lo lebih kecil dari Ltabel (Lo < Ltabel) . Hal ini menunjukan bahwa skor pretes kelas eksperimen maupun kelas kontrol berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lo < Ltabel. Dengan demikian Ho diterima.
2. Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan setelah kedua sampel dinyatakan berdistribusi normal. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah kedua sampel berasal dari populasi yang berdistribusi homogen atau tidak homogen. Uji homogenitas yang dilakukan menggunakan uji perbandingan varians kedua kelompok yaitu pretes kelas eksperimen dan kontrol, postes kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan taraf signifikan 5% (πΌ =0.05).9 Kriteria pengujian homogenitas yaitu jika Fo (Fhitung) β€ F(v1)(v2) (Ftabel) maka Ho diterima yang artinya kedua sampel memiliki varians yang homogen. Sedangkan, jika Fo > F(v1)(v2) maka Ho ditolak yang artinya kedua sampel tidak memiliki varians yang sama atau homogen. Uji homogenitas yang dilakukan peneliti menggunakan bantuan aplikasi excel. Hasil uji homogenitas data pretes dan postes dapat dilihat pada Tabel 4.11 dan Tabel 4.12.
a. Uji Homogenitas Pretes
Setelah dilakukan pengolahan data, maka diperoleh data homogenitas pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.11 berikut ini:
Tabel 4.11 Hasil Uji Homogenitas Data Pretes Kelas Eksperimen dan Kontrol
Skor Variansi F Kesimpulan
Terbesar Terkecil π π¨ π πππππ₯
Pretes 248.34 148.48 1.67 1.80 Ho diterima
9 Lampiran 19, Hasil Uji Homogenitas Data Pretes dan Postes, h.152-153.
Data pada Tabel 4.11 menunjukkan bahwa perhitungan uji homogenitas data pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh Fo lebih kecil dari Ftabel (1.67 < 1.80). Hal ini menunjukan bahwa data pretes kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varians yang sama atau homogen karena memenuhi kriteria Fo < Ftabel. Dengan demikian Ho diterima.
b. Uji Homogenitas Postes
Setelah dilakukan pengolahan data, maka diperoleh data homogenitas postes kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.12 berikut ini:
Tabel 4.12 Hasil Uji Homogenitas Data Postes Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Skor F Kesimpulan
Terbesar Terkecil π π¨ π πππππ₯
Postes 96.07 88.68 1.08 1.80 Ho diterima Data Tabel 4.12 menunjukkan bahwa perhitungan uji homogenitas data postes kelas eksperimen dan kelas kontrol diperoleh Fo lebih kecil dari Ftabel (1.08 < 1.80). Hal ini menunjukan bahwa data data postes kelas eksperimen dan kelas kontrol memiliki varians yang sama atau homogen karena memenuhi kriteria Fo < Ftabel. Dengan demikian Ho diterima.
3. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh penerapan model cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep bakteri. Kriteria pengujian hipotesis yaitu jika thitung < ttabel maka Ho diterima dan Ha di tolak dan tidak terdapat pengaruh penerapan model cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep bakteri. Sedangkan jika thitung > ttabel maka Ho di tolak dan Ha diterima dan terdapat pengaruh penerapan model cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil
Variansi
55
belajar biologi siswa pada konsep bakteri. Dengan taraf signifikan 5% (0.55) dan dk = 64.
Pengujian hipotesis dilakukan setelah uji prasyarat analisis data yaitu data hasil belajar kedua kelas pada penelitian berdistribusi normal dan memiliki variansi yang sama atau homogen. Hasil perhitungan menggunakan uji-t.
Adapun hasil perhitungan uji-t pretes dan uji-t postes dapat dilihat pada Tabel 4.13 dan Tabel 4.14.10
a. Uji-t Pretes
Hasil perhitungan menggunakan uji-t pretes, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.13 Hasil Uji-t Pretes
Keterangan Data Kelas
Eksperimen Kontrol
N 33 33
X 39.69 38.79
S 248.34 148.48
thitung 0.26
ttabel 2.00
Kesimpulan
Data Tabel 4.13 menunjukkan bahwa perhitungan uji-t postes dengan taraf signifikan 5% (πΌ =0.05) dan dk= 64 diperoleh ttabel sebesar 2.00.
Perhitungan pengujian hipotesis terhadap rata-rata pretes diperoleh thitung sebesar 0.26. Hasil perhitungan menunjukan bahwa thitung < ttabel (0.26 <
2.00). Maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep bakteri.
10 Lampiran 20, Uji Hipotesisi, h.154-155.
Ho diterima dan Ha ditolok
b. Uji-t Postes
Hasil perhitungan menggunakan uji-t postes, maka diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 4.14 Hasil Uji-t Postes
Keterangan Data Kelas
Eksperimen Kontrol
N 33 33
X 83.48 74.39
S 96.07 88.68
thitung 3.83
ttabel 2.00
Kesimpulan
Data pada Tabel 4.14 menunjukkan bahwa perhitungan uji-t postes dengan taraf signifikan 5% (πΌ =0.05) dan dk= 64 diperoleh ttabel sebesar 2.00.
Perhitungan pengujian hipotesis terhadap rata-rata postes diperoleh thitung sebesar 3.83. Hasil perhitungan menunjukan bahwa thitung > ttabel (3.83 >
2.00). Maka Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari penerapan model cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep bakteri, karena dapat dilihat dari nilai postes yang diperoleh kedua kelas menunjukan nilai postes kelas eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture lebih besar.
D. Pembahasan
Penelitian ini dilakukan peneliti dikelas X MAN I Tangerang. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data yang terkumpul dari hasil belajar biologi kelas X MAN 1 Tangerang berupa data pretes dan postes dan data dari lembar observasi kegiatan guru dan siswa selama proses pembelajaran. Konsep yang digunakan penelitian ini adalah konsep bakteri dengan ketentuan kelas eksperimen diberi perlakuan model pembelajaran cooperative learning tipe
Ho ditolak dan Ha diterima
57
picture and picture. Sedangkan kelas kontrol adalah kelas yang tanpa diterapkan model pembelajaran cooperative learning tipe picture and picture.
Hasil lembar observasi kegiatan guru dan siswa dalam pelaksanaan proses pembelajaran dikelas eksperimen pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua, guru sudah memenuhi tahapan kegiatan pembelajaran model cooperative learning tipe picture and picture di dalam kelas. Hal ini menunjukan bahwa tahapan kegiatan pembelajaran pada model cooperative learning tipe picture and picture sudah terlaksana dengan baik. Keteraksanaan model tersebut dapat memicu keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini terlihat dalam lembar observasi siswa dengan diterapkannya model cooperative learning tipe picture and picture siswa sangat antusias dan terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Banyak siswa yang mengajukan pertanyaan berkaitan dengan gambar yang diberikan, bersemangat, aktif dan bekerjasama dalam kelompok serta mencari sumber referensi untuk mengelompokkan gambar, memberi keterangan gambar, menyebutkan gambar dan menjelaskan gambar yang terdapat pada lembar kerja siswa. Hal ini menjadikan siswa nampak lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Namun pada pertemuan pertama dirasa kurang efektif pada tahap pemasangan gambar, ketika guru menunjuk siswa secara langsung secara bergantian untuk memasangkan gambar dan menjelaskan gambar siswa masih cenderung malu-malu dan menunjuk siswa yang lainnya. Sehingga pada pertemuan kedua, guru menggunakan undian pada saat menunjuk siswa atau memanggil siswa, sehingga siswa harus siap untuk menjalankan tugas yang diberikan.
Hasil pengujian hipotesis terhadap data postes kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan uji-t menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar pada kedua kelas. Namun rata-rata skor postes kelas eksperimen dengan kelas kontrol berbeda. Pada kelas eksperimen memperoleh rata-rata skor akhir yang lebih baik dibandingkan dengan rata-rata skor akhir yang diperoleh kelas kontrol. Nilai rata-rata postes pada kelas eksperimen yaitu 83.48 terdapat 33 siswa telah mencapai nilai KKM (Kriteria Ketuntusan Minimal) sedangkan nilai
rata-rata pada kelas kontrol yaitu 74.39 terdapat 16 siswa telah mencapai nilai KKM.
Kelas eksperimen mencapai hasil rata-rata postes di atas nilai KKM, yaitu 71 yang sudah ditetapkan di sekolah.
Perbedaan hasil belajar kelas eksperimen dengan kelas kontrol dikarenakan langkah-langkah pembelajaran yang diterapkan berbeda pada masing-masing kelas. Perbedaan hasil belajar siswa tidak terlepas dari model pembelajaran yang diterapkan. Model pembelajaran yang diterapkan dikelas memiliki cukup pengaruh terkait keaktifan siswa dan fokus siswa dalam proses pembelajaran.
Peningkatan hasil belajar kelas eksperimen menunjukan bahwa kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture mendorong siswa menjadi lebih aktif dan membantu siswa memahami konsep yang diajarkan guru, sehingga memeliki pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa.
Menurut Khoiru Ahmadi kelebihan picture and picture yaitu guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa dan melatih berpikir logis dan sistematis.11 Bentuk bakteri yang mikroskopis dan tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, sehingga perlu diberikan gambar yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Melalui pembelajaran koopeartif tipe picture and picture dapat melatih siswa berpikir logis dan sistematis karena gambar-gambar yang disajikan dan dipasangkan menjadi urutan yang sistematis seperti menyusun gambar, memberikan keterangan gambar, menunjukan gambar dan menjelaskan gambar.
Sehingga siswa dapat menemukan konsep materi sendiri dengan bantuan gambar-gambar yang diberikan.
Hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dicapai karena dalam penerapan model cooperative learning tipe picture and picture, model tersebut memakai media gambar sebagai sarana untuk aktivitas belajar. Media gambar yang digunakan menjadi faktor utama dalam proses pembelajaran. Pada proses pembelajaran, siswa diminta untuk mengelompokkan gambar, memasangkan gambar, menjelaskan gambar, memberi keterangan gambar dengan menyebutkan
11 Khoiru Ahmadi., dkk. Strategi Pembelajaran Terpadu, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011), h.59.
59
ciri-ciri, fungsi, struktur dan perbedaan dari gambar yang disediakan. Sehingga dari tahapan tersebut menuntut siswa berpikir logis dan aktif bersama kelompok diskusi. Tahapan-tahapan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, sehingga terjadinya interaksi secara terbuka dan membuat kegiatan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna karena gambar-gambar yang diberikan menarik perhatian siswa dan membantu siswa memahami materi.
Selain itu hasil belajar siswa pada kelas eksperimen dicapai karena gambar yang disediakan bisa menjadi salah satu cara untuk mendorong siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam proses pembelajaran. Hal ini terlihat ketika proses pembelajaran berlangsung gambar-gambar yang disediakan merangsang keingin tahuan siswa dengan siswa mengajukan pertanyaan terkait konsep atau materi yang diajarkan, siswa saling berdiskusi dan bekerja sama memberikan informasi mengenai materi yang diajarkan, siswa mengelompokkan gambar, menjelaskan gambar, memberi keterangan gambar dengan menyebutkan ciri-ciri, fungsi, struktur dan perbedaan dari gambar yang disediakan. Sehingga kegiatan tersebut menuntut siswa untuk aktif terlibat langsung dalam pembelajaran dan menjadi hal yang positif terhadap hasil belajar siswa.
Selain model pembelajaran salah satu faktor perbedaan hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol kemungkinan dipengaruhi oleh faktor waktu dilaksanakannya pembelajaran. Mata pelajaran biologi dikelas ekpserimen dimulai pada jam pertama yaitu (pukul 07.00-09.20 WIB) dimana siswa masih antusias dalam menerima pelajaran yang disampaikan. Sedangkan kelas kontrol dimulai pada jam terakhir yaitu (pukul 13.40-15.40 WIB) kemungkinan konsentrasi siswa sudah menurun sehingga memengaruhi hasil belajar siswa.
Hasil analisis penelitian yang didapatkan terdapat pengaruh model cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep bakteri. Model pembelajaran yang diterapkan memiliki pengaruh yang positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Hasil yang didapatkan penelitian ini sejalan dengan hasil yang didapatkan pada penelitian yang pernah dilakukan oleh Vahmi Riffani Hadi βPengaruh Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Picture and Picture terhadap Kompetensi Belajar Peserta Didik pada Materi Sistem Ekskresiβ menyatakan bahwa dengan diterapkannya model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture dapat meningkatkan hasil belajar siswa.12 Maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan model cooperative learning tipe picture and picture memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep bakteri.
12 Vahmi Riffani Hadi., dkk, βPenerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Picture and Picture terhadap Kompetensi Belajar Peserta Didik pada Materi Sistem Ekskresiβ, Jurnal Pedagogi Hayati, Vol. 3, 2019.
61 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan penerapan model cooperative learning tipe picture and picture terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep bakteri. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji-t dengan taraf signifikan 5% (πΌ =0.05) diperoleh thitung > ttabel (3.83 > 2.00).
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka penulis mengajukan beberapa hal yang disarankan sebagai perbaikan di masa mendatang, yakni:
1. Guru diharapkan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture dalam proses pembelajaran pada beberapa konsep biologi yang akan diajarkan.
2. Pendidik diharapkan mempersiapkan gambar-gambar dengan kualitas yang baik yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan.
3. Guru diharapkan memberikan inovasi baru pada tahap pemasangan gambar, karena siswa masih cenderung malu dan menunjuk siswa yang lainnya pada
3. Guru diharapkan memberikan inovasi baru pada tahap pemasangan gambar, karena siswa masih cenderung malu dan menunjuk siswa yang lainnya pada