• Tidak ada hasil yang ditemukan

Variable Independen Variable dependen

I. Hipotesis

A. Pengaruh informasi keuangan (financial leverage; ROA; Firm Size;

Harga saham perdana; dan OCF ) terhadap tingkat underpricing.

Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi yang digunakan oleh investor atau calon investor dan underwriter untuk menilai perusahaan yang akan go public. Laporan keuangan yang terdiri dari neraca, laporan rugi/laba, laporan arus kas dan penjelasan laporan keuangan, yang dalam penelitian ini disebut variabel keuangan.

Variabel keuangan 1. Return On Assets (ROA) 2. Financial Leverage(FL) 3. Firm Size (FS)

4. OCF

5. Issue Price (IP) Variable non keuangan 1. Prosentase Saham (PPS) 2. Time Lag (TL)

3. Umur perusahaan (AGE) 4. Reputasi Underwriter (UDW) 5. Reputasi Auditor (AUD)

commit to user

1) ROA

Su (2004) & Syarifah Aini (2009) mengemukakan bahwa ROA (Return

On Assets) berpengaruh negatif terhadap underpricing. Penelitian ini

menunjukan tersebut bahwa ROA yang semakin tinggi dapat mengurangi tingkat kemungkinan terjadinya IPO underpricing.

H1.1 : ROA berpengaruh negatif dan signifikan terhadap

underpricing.

2) Financial Leverage

Sulistio (2005) menunjukkan dalam penelitiannya bahwa terdapat hubungan positif antara tingkat leverage. Investor akan mempertimbangkan besarnya financial leverage, karena financial leverage

menunjukkan kemampuan perusahaan dalam membayar hutang dengan ekuitas yang dimiliki. Dengan tingginya financial leverage maka risiko suatu perusahaan juga akan tinggi.

H1.2 : Financial Leverage perusahaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap underpricing.

3) Firm Size

Del Monte et al (2010) perusahaan yang berskala besar mempunyai tingkat underpriced yang lebih rendah daripada perusahaan yang berskala kecil. Oleh karena itu, diajukan hipotesis sebagai berikut:

H1.3 : Firm Size berpengaruh negatif dan signifikan terhadap

underpricing.

4) Operation Cash Flow

commit to user

sedangkan arus kas yang bernilai negatif perlu memiliki penjelasan lagi dan perlu menggali lebih sebelum membuat investasi diperusahaan tersebut. Dengan kata lain bahwa OCF bisa di anggap sebagai sinyal tentang kualitas dari bisnis perusahaan, lebih lanjut sinyal yang berpotensi untuk kesuksesan IPO (Bodin & Samuelsson, 2010).

H1.4 : Operation cash flow berpengaruh n e g a t i f dan signifikan

terhadap underpricing.

5) Issue Price (Harga Saham Perdana)

Menurut Dimovski & Brooks (2008) harga saham perdana (issue

price) berpengaruh negatif terhadap underpricing. Jadi harga saham

perdana yang rendah merupakan sinyal tingkat underpricing yang tinggi. Dan sebaliknya, harga saham perdana yang tinggi merupakan sinyal tingkat

underpricing yang rendah. Untuk itu diajukan hipotesis sebagai berikut:

H1.5 : Issue Priceberpengaruh negatif dan signifikan terhadap

underpricing.

B. Pengaruh informasi non keuangan (reputasi underwriter; reputasi

auditor; umur perusahaan; waktu IPO ;dan prosentase penawaran saham)

terhadap tingkat underpricing.

Informasi selain laporan keuangan seperti underwriter (penjamin emisi), auditor independen, konsultan hukum, nilai penawaran saham, persentase saham yang ditawarkan, umur perusahaan dan informasi lainnya, dalam penelitian disebut variabel non keuangan.

commit to user

Prosentase kepemilikan yang ditahan oleh pemilik (insiders) menunjukkan adanya privat information yang dimiliki oleh pemilik/manajer (Leland & Phyle dalam Yasa, 2003). Enterpreneur akan tetap menginvestasikan modal pada perusahaannya apabila mereka yakin akan prospek pada masa mendatang. Pemilik tidak akan menginvestasikan modalnya pada perusahaan lain bila investasi di perusahaannya lebih baik (Leland & Phyle dalam Yasa, 2003). Informasi tingkat kepemilikan saham oleh entrepreneur akan digunakan oleh investor sebagai pertanda bahwa prospek perusahaannya baik. Semakin besar tingkat kepemilikan yang ditahan (atau semakin kecil persentase saham yang ditawarkan) akan memperkecil tingkat ketidakpastian pada masa yang akan datang. Konsisten dengan yang dikemukakan oleh Leland & Phyle (1977), dan Beatty (1989) (dalam Yasa, 2003) menunjukkan adanya hubungan positif antara persentase yang ditawarkan dengan initial

return. Untuk itu diajukan hipotesis sebagai berikut:

H2.1 : Persentase saham yang ditawarkan kepada publik berpengaruh positif dan signifikan terhadap underpricing.

2) Umur perusahaan

Menurut penelitian syarifah (2009) mengemukakan bahwa umur perusahaan tidak berpengaruh terhadap underpricing. Sedangkan menurut Ritter (dalam Dimovski & Brooks, 2008) mengemukakan bahwa umur perusahaan berpengaruh negatif terhadap underpricing. Penelitian yang dilakukan oleh Ritter (dalam Dimovski & Brooks, 2008), menemukan bahwa tingkat underpricing akan lebih tinggi pada perusahaan yang lebih muda. Untuk itu diajukan hipotesis sebagai berikut:

commit to user

H2.2 : Umur perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap underpricing.

3) Time Lag (Waktu IPO)

Lui & Li ( dalam Tian & Magginson 2007) mengemukakan bahwa waktu IPO berpengaruh positif terhadap underpricing.. Hal ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Chan et al (dalam Su, 2004), yang mengemukakan bahwa time lag (penyimpangan waktu) antara offering dan

listing berpengaruh positif terdadap underpricing IPO. Perusahaan dengan

time lag (penyimpangan waktu) l e b i h l a m a akan m eni n gk at k an re s i ko

i nves t o r s ehi n gga p e rus ah a an menetapkan harga IPO jauh dibawah nilai intrinsik (Chan et al, 2004). Untuk itu diajukan hipotesis sebagai berikut:

H2.3 : Waktu IPO berpengaruh positif dan signifikan terhadap underpricing.

4) Reputasi Underwriter

Menurut Suyatmin & Sujadi (2006) dan Dimovski & Brooks (2008) mengemukakan bahwa reputasi penjamin emisi (underwriter) berpengaruh negatif terhadap underpricing. Dalam proses IPO penjamin emisi bertanggung jawab atas terjadinya saham dan apabila saham masih tersisa, maka penjamin emisi berkewajiban untuk membelinya. Oleh karena itu, bagi penjamin emisi yang belum memiliki reputasi tentunya akan sangat hati-hati untuk menghindari risiko tersebut dengan cara menekan harga serendah mungkin. Berbeda dengan penjamin yang memiliki reputasi tinggi, mereka akan berani memberikan harga yang tinggi pula sebagai konsekuensi dan kualitas penjaminanya. Untuk itu diajukan

commit to user hipotesis sebagai berikut:

H2.4 : Reputasi underwriter berpengaruh negatif dan signifikan terhadap underpricing.

5) Reputasi Auditor

Auditor sebagai sebagai salah satu profesi penunjang pasar modal berfungsi melakukan pemeriksaan terhadap laporan keuangan yang akan melakukan go public. Auditor yang berkualitas akan mengurangi tingkat ketidakpasian dan menunjukkan bahwa informasi privat dari emiten mengenai prospect perusahaan tidak menyesatkan Suyatmin & Sujadi (2006). Menurut Suyatmin & Sujadi reputasi auditor berpengaruh negatif terhadap terjadinya

underpricing. Sedangkan dalam penelitian syarifah (2009) tidak ditemukan

hubungan antara reputasi auditor dengan underpricing.

H2.5 : Reputasi auditor berpengaruh negatif dan signifikan terhadap underpricing.

commit to user

BAB III

Dokumen terkait