BAB II TINJAUAN PUSTAKA
H. Kerangka Pikir
I. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang, tujuan penelitian, dan rumusan masalah maka di kemukakan hipotesis sebagai berikut :
Diduga bahwa pelaksanaan pengawasan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro Pada Bank Rakyat Indonesia Cabang Panakkukang Makassar belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada kantor BRI Cabang Panakkukang Makassar yang beralamat di Jl. Bolevard No 108 Makassar. Sedangkan waktu penelitian yang direncanakan kurang lebih 2(dua) bulan, yang dimulai bulan Maret sampai dengan Mei 2014.
B. Jenis dan Sumber Data 1. Sumber Data
Sumber data diperoleh dari perusahaan pada lokasi BRI Cabang Panakkukang Makassar, dimana sumber data diperoleh dari wawancara langsung dengan pimpinan dan karyawan dari BRI Cabang Panakkukang Makassar
2. Jenis data
Adapun jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu :
a. Data primer adalah hasil tanggapan pihak yang telah dipilih sebagai sumber data, data tersebut dianalisis perbandingan dan berguna pembuktian hipotesis.
b. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber-sumber lain yang berhubungan dengan bank, berupa data-data tentang syarat-yarat pengajuan kredit, jumlah kredit yang disalurkan oleh BRI Cabang Panakkukang
Makassar, seta bahan-bahan kepustakaan berupa buku-buku yang menunjang perolehan data dalam penulisan proposal ini.
C. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengunpulan data yang dilakukan oleh peneleti adalah:
1. Penelitan kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan dengan menumpulkan informasi melalui telaah literatur yang berkaitan dengan masalah yang dibahas oleh penulis dalam pembahasan ini.
2. Penelitian lapangan (Field Research) yaitu penelitian yang dilakukan penulis dengan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan di lapangan dengan menggunakan tekhnik pengumpulan data sebagai berikut :
3. Interview yaitu mengadakan wawancara langsung dengan responden untuk memperoleh data yang dibutuhkan.
4. Observasi yaitu mengadakan pengamatan secara langsung tentang permasalahan yang diteliti.
D. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif yaitu metode yang menjelaskan dan menggambarkan Pengawasan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro, yang diterapkan pihak PT.Bank Rakyat Indonesia Cabang Panakkukang Makassar.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
A. Sejarah Singkat PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) 1. BRI Masa Penjajahan Belanda (1895-1942)
Sejak awal berdirinya oleh Raden Wiriatmaja BRI pada masa itu dalam waktu singkat yaitu tiga tahun telah berubah nama sebanyak 2 kali “De Poerwokertosche Hulpen Spaarbank de Inlandsche Bestuurs Ambtenaran (1895)”. Kemudian berubah menjadi Poerwokertoche Hulp Spaar-en Landbouw Credit Bank (1897) yakni bank pemberi bantuan, tabungan, dan kredit pertanian di Purwakerto. Mencakup wilayah Cirebon, Garut, Manado.
Dalam perjalanan waktu 14 tahun kemudian berubah kembali menjadi Central Kas melalui staablat 393 tahun 1912. Fungsinya adalah sebagai bank sentral bagi Volksbanken dan bank desa. Namun akibat resesi dunia 1929-1932 banyak volksbanken yang tidak dapat berjalan dengan baik sehingga pemerintah hindia belanda melalui staablat 82 (1934) mendirikan Algemeece Volkskreditbank (bank kredit rakyat umum, AVB) yanh berstatus badan hukum eropa.AVB berlangsung sampai masa pendudukan Jepang 1942.
2. BRI Masa Penjajahan Jepang (1942-1945)
Ketika masa pendudukan Jepang. Algemeece Volkskredit Bank (AVB) berubah menjadi syoomin ginko (bank rakyat) berdasarkan undang-undang Nomor 39 tertanggal 3 Oktober 1942. Kegiatan operasi berakhir sampai pada pendudukan Jepang di Indonesia 1945.
3. BRI Masa Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1985) Setelah Indonesia merdeka, berdirilah Bank Rakyat Indonesia melalui Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 1946. Dalam peraturan itu disebut bahwa BRI merupakan bank pemerintah yang semula bernama Algemeece Volkskredit Bank dan Syoomin Ginko. Namun diawal perjuangan kemerdekaan, BRI mengalami ujian kerena pihak NICA kembali mendirikan Algemeece Volkskredit Bank. Puncaknya ketika tahun 1948 NICA menutup kegiatan BRI. BRI kembali aktif setelah adanya perjanjian Roem-Royen dengan wilayah kerja terbatas.
Pada tahun 1949 BRI berubah nama menjadi BARRIS, sesuai pindahnya ibu kota. Kemudian pada tahun 1951 BRI menjadi Bank Menengah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 1950. Selanjutnya peraturan pemerintah pengganti Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1960 lembaran Negara Nomor 126-160 tertanggal 26 Oktober 1960 BRI debitur menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan. Tahun1965 terjadi perubahan menjadi Bank Indenesia Unit II. Akhirnya Udang-Undang Nomor 21 Tahun 1968 Bank Indenesia Unit II kembali menyandang nama BRI.
4. BRI Masa Sekarang (1985 - Sekarang)
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Rakyat Indonesia nomor S.67-DRI/12/1985 tertanggal 2 Desember 1982 maka ditetapkan sebagai hari jadi Bank Rakyat Indonesia adalah tanggal 16 Desember 1985 saat itu.
Perubahan Bank Rakyat Indonesia menjadi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang didirikan dengan akte tertanggal 31 Juli 1992 No. 133 dibuat
dihadapan notaries Muhani Salim, SH notaries di Jakarta dan telah diumumkan dalam berita Negara Republik Indonesia tertanggal 11 September 1992 Nomor 73 tambahan berita Negara RI nomor 3 A tahun 1992, berikut perubahannya dengan akte tertanggal 19 September 1992 Nomor 78 tentang berita acara dan akte pembetulan tertanggal 1 Oktober 1992 Nomor 06 yang keduanya dihadapan Notaris Muhani Salim, SH dan telah diumumkan di Berita Negara Republik Indonesia tanggal 20 Oktober 1992 Nomor 84 tambahan berita Negara Republik Indonesia Nomor 01 OA tahun 1992.
Dewasa ini Bank BRI mempunyai ratusan unit yang terbesar diseluruh tanah air dan luar negri. Demikian pula dengan jumlah pegawainya apabila ditarik sebuah studi komparatif bahwa pegawai BRI telah mencapai ribuan karyawan dan hal ini yang telah membuktikan bahwa BRI adalah bank yang terbesar sampai pada kondisi pembangunan ekonomi Bangsa Indonesia dewasa ini.
B. Visi dan Misi Serta Sasaran PT. BRI (Persero) 1. Visi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)
Menjadi bank komersial terkemuka yang selalu mengutamakan kepuasan nasabah.
2. Misi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)
a. Melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan mengutamakan pelayanan kepada usaha mikro, kecil dan menengah untuk menunjang peningkatan ekonomi rakyat.
b. Memberikan pelayanan prima kepada nasabah melalui jaringan kerja yang tersebar luas dan didukung oleh sumber daya manusia yang professional dengan melakukan praktek good corporate governance.
c. Memberikan keuntungan dan manfaat yang optimal kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
3. Sasaran Jangka Panjang PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero)
a. Menjadi bank sehat dan salah satu dari lima bank terbesar dalam asset dan keuntungan.
b. Menjadi bank terbesar dan terbaik dalam pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah.
c. Menjadi bank terbesar dan terbaik dalam pengembangan agribisnis.
d. Menjadi salah satu bank go publik terbaik.
e. Menjadi bank yang melaksanakan good corporate gofernance secara konsisten.
f. Menjadikan budaya kerja PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) sebagai sikap dan perilaku semua insan PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero).
C. Struktur Organisasi
Sebagai pembahasan selanjutnya dalam pencerminan struktur organisasi PT.Bank Rakyat Indonesia Cabang Panakkukang Makassar maka dikemukakan pengertian organisasi secara umum adalah merupakan suatu kelompok manusia yang dapat dikenal, yang dapat menyumbangkan usahanya dalam mencapai tujuan bersama, MC Farland (2000).
Sesuai dengan uraian tersebut di atas maka kita dapat melihat bahwa organisasi terbentuk dari tiga bagian yaitu adanya himpunan orang, adanya kerja sama serta adanya, dimana terdiri dari segolongan orang-orang tertentu untuk mengadakan/melaksanakan suatu pekerjaan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Sehubungan dengan surat keputuan direksi Bank Rakyat Indonesia Nokep : S.I/DIR/ORG/(tertanggal 7 Januari 1989, tentang perubahan struktur organisasi Kantor Unit BRI, bahwa dalam rangka mengantisipasi persaingan GO-Publik, maka dipandang perlu untuk malakukan pembenahan dan efisiensi organisasi BRI. Sistem organisasi yang diterapkan di BRI tersebut akan mengacu kepada pengelompokan/pemisahan Strategi Bisnis Unit (SBU), sehingga bentuk organisasi BRI diharapkan lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan bentuk organisasi yang ada saat ini. Dengan pengelompokan SBU yang akan diterapkan di BRI meliputi : SBU Mikro Banking. Dengan adanya pemisahan tersebut, maka kantorunit BRI hanya akan mengelola Retail Banking.
Salah satu syarat bagi suatu organisasi yang baik adalah adanya struktur organisasi yang baik. Struktur organisasi tersebut menunjukkan suatu batas kewenangan atau tugas pokok bagi setiap karyawan baik itu pimpinan maupun staf biasa sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam menjalankan tugas masing-masing.
Struktur organisasi ini merupakan perwujudan dari setiap pembagian tugas yang ada. Dalam struktur organisasi akan nampak hubungan wewenang antara
pimpinan dan bawahan. Demikian juga yang terjadi pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang dapat dilihat pada struktur organisasinya (terlampir).
Berikut ini uraian pekerjaan yang ada dalam PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Panakkukang Makassar.
1. Kepala Cabang
a. Memimpin dan bertanggung jawab penuh atas seluruh aktivitas unit dalam usaha memberikan pelayanan unggul kepada nasabah, mengendalikan kualitas bisnis disektor pasar pengusaha kecil/menengah di daerah kerjanya dan menyelenggarakan administrasi perusahaan.
b. Bertanggung jawab sepenuhnya untuk membina dan mengembangkan kepegawaiandalam usaha meningkatkan potensi dan mutu kerja para pegawai.
c. Bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan fungsi manajemen secara utuh, konsisten dan kontinyu.
d. Menetapkan rencana kerja dan anggaran sasaran dan tujuan yang akan dicapai.
e. Mengarahkan, mengendalikan dan mengawasi secara langsung unit-unit kerja menurut bidang tugasnya di lingkungan unit dan unit pembantu sejalan dengan sistem dan prosedur yang berlaku, yang ditetapkan oleh kantor besar/ kantor wilayah.
f. Memasarkan produk dan jasa-jasa bank BRI kepada nasabah serta menggali calon nasabah/giran potensial dalam rangka meningkatkan bisnis dan hasil usaha, serta menguasai pangsa pasar di daerahkerjanya.
2. Manejer Pemasaran
a. Mendukung pimpinan dalam membina dan mengkoordinasikan unit-unit kerja dibawahnya untuk mencapai target yang telah ditetapkan terutama yang terkait dengan bidang pemasaran.
b. Membantu pimpinan unit dalam mempersiapkan Perencanaan Kegiatan Akhir (RKA) dalam rangka mencapai target bisnis yang telah ditetapkan.
c. Mengkoordinasi dan mengawasi semua bawahannya dalam rangka melaksanakan dan mencapai sasaran dari rencana kerja yang telah ditetapkan.
d. Menerapkan proses kredit sesuai dengan Kebijakan Umum Perkreditan (KPU) dan Pedoman Pelaksanaan Kredit (PPK) yang telah ditetapkan terhadap account yang termasuk fortofolionya untuk mencapai target kantorunit dan mewujudkan fortofolio kredit yang berkembang, sehat dan menguntungkan.
e. Berperan seta secara aktif dalam strategi perkembangan bisnis dan pelanyanan kantorunit, serta menjalin hubungan secara professional dengan debitur dan pihak ke tiga yang terkait dengan BRI dalam rangka perluasan pangsa pasar dan lain-lain.
f. Menyusun Rencana Pemasaran Tahunan (RPT) yang menjadi tanggung jawab agar sesuai dengan RKA Kanca.
3. Manager Operasional
a. Membantu dan mendukung pimpinan unit dalam membina dan mengkoordinasikan unit-unit kerja dibawahanya untuk mencapai target
yang telah ditetapkan, terutama yang terkait dengan operasional dan pelayanan.
b. Mengfungsikan bawahannya dalam melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan strategi yang ditetapkan kantor unit guna mewujudkan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi nasabah.
c. Memastikan bahwa seluruh kegiatan bidang rumah tangga telah berjalan efektif dan efisien untuk memperlancar operasional dan kantorunit dan mengurangi kerugian yang mungkin timbul dan lain-lain.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Proses Pelaksanaan Pelayanan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro Pada BRI Unit.
1. Melakukan sosialisasi KUR Mikro kepada masyarakat dan pihak-pihak yang terkait, bahwa KUR Mikro adalah kredit untuk usaha produktif yang menekankan kelayakan usaha, sehingga usaha-usaha yang dinilai layak yang dapat diberikan pembiayaan walaupun kredit tersebut mendapat jaminan 70% dari pemerintah melalui lembaga penjamin ( Askrindo + Jamkrindo).
Penilaian kelayakan usaha tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari pihak bank dan tidak terkait dengan intervensi atau instruksi dari pihak luar manapun.
2. KUR Mikro merupakan pinjaman dari bank yang harus dikembalikan, sepertihalnya pinjaman lainnya. Dalam kaitan ini harus dikomunikasikan bahwa KUR Mikro bukan hibah atau pemberian dari pemerintah yang tidak perlu dikembalikan karena telah dijamin oleh pemerintah kepala unit dan jajarannya harus bisa meluruskan persepsi yang kurang tepat tersebut serta mensosialisasikan kepada masyarakat dengan jelas dan santun.
3. Kepada seluruh unit kerja BRI Unit disarankan memasang informasi mengenai KUR Mikro agar calon nasabah mengenai perihal kredit tersebut dan memiliki persepsi yang benar mengenai KUR Mikro dalam bentuk leaflet/banner.
4. Setiap petugas BRI Unit harus dapat memberi informasi dan memberikan layanan secara santun sesuai budaya/etika setelah melakukan pelayanan KUR Mikro. Utamanya kepada calon nasabah atau pemohon KUR Mikro yang tidak dapat dilayani bedasarkan hasil analisis kelayakan usaha serta analisis 5 C agar diberi penjelasan secara sopan dan santun .
5. Kepala Unit dan jajarannya agar dapat menata kerja layanan KUR Mikro dengan tertib sehingga banyaknya antrian calon nasabah atau pemohon dapat terlayani dengan baik. Dalam kaitan ini , kepada calon nasabah yang kurang layak dilayani atau ditolak permohonannya agar segera dibuatkan surat pemberitahuan.
6. Kepala unit dan jajarannya agar selalu melakukan monotoring dan evaluasi atas pelayanan KUR Mikro tersebut, memastikan bahwa usaha debitur dapat berkembang dengan pemberian KUR Mikro sehingga nasabah KUR Mikro tersebut sesuai perkembangan usahanya pada saat yang tepat dapat dilayani dengan Kupedes komersil (naik kelas).
7. Ukuran keberhasilan KUR Mikro selain berdasarkan jumlah debitur yang harus dicapai dan jumlah outstanding, serta beberapa yang berhasil migrasi ke Kupedes Komersil dan juga harus memperhatikan kualitas aktivanya yaitu NPL yang rendah.
8. Ekspansi KUR Mikro merupakan salah satu strategi BRI dalam mempertahankan pangsa pasar mikro dan menjadi embrio untuk memperoleh calon-calon nasabah kupedes Komersil lebih banyak dan berkualitas karena telah teruji sebelumnya . Dalam layan KUR Mikro
meskipun memerlukan waktu dan tenaga yang cukub banyak namun agar tetap memperhatikan pertimbangan Kupedes Komersil Non KUR yang juga harus tetap tumbuh dan berkembang secara sehat . Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat pesaing sudah demikan agresif memasuki segmen bisnis mikro yang menjadi tumpuan BRI.
9. Persyaratan administratif bagi calon debitur adalah :
a. Menyerahkan foto copy KTP atau kartu identitas lainnya dan foto copy Kartu Keluarga (KK) yang masih berlaku serta harus dicocokkan dengan aslinya.
b. Pejabat Kredit Lini (PKL) juga harus memastikan kebenaran alamat calon debitur.
c. Fotocopy KTP atau kartu identitas lainnya tersebut harus diberi parafoleh Mantri atau Kaunit sebagai bukti bahwa alamat calon nasabahpada foto copy KTP tersebut benar dan cocok dengan aslinya.
d .Mengingat karakteristik yang beragam diberbagai wilayah, maka perluditegaskan kembali bahwa persyaratan di atas adalah syarat minimal, artinya dengan memenuhi syarat tersebut di atas kepada calon debitursudah dapat dilayani KUR Kupedes.
e. Terhadap dokumen kredit cukup dilakukan di bawah tangan, tidak perlu dilegalisasi/diwaarmerking.
10. Permohonan dan Prakarsa Kredit
a. Pengajuan permohonan kredit dilakukan oleh debitur/terjamin.
b. Bagi usaha baru, minimal usaha telah berjalan selama 6 bulan,
berdasarkan atas hasil pemeriksaan (on the spot) yang dilakukan Mantridan dituangkan dalam Formulir K-5.
c. Pada prinsipnya pelayanan KUR Kupedes ini berdasarkan asas domisili tempat tinggal. Namun demikian, apabila calon nasabah tidak berdomisili di wilayah BRI Unit, maka BRI Unit yang berada dalam wilayah domisili tempat usaha calon debitur diperbolehkan memberikan KUR Kupedes dengan memperhatikan :
1) Kepastian asal domisili yang dibuktikan dengan menyerahkan
fotocopy KTP atau kartu identitas lainnya tempat asal yang masih berlaku dan dicocokkan dengan aslinya. Petugas harus melakukan konfirmasi dengan BRI Unit diwilayah kerja tempat tinggal asal calon debitur, misalnya mengena informasi pinjaman maupun kepastian alamat domisili tempat tinggal calon debitur.
2) Proses pendaftaran dan pengisian formulir pada dasarnya dilakukan oleh Deskman/petugas yang ditunjuk. Namun demikian untuk mempermudah/mempercepat pelayanan, Mantri dapat membantu pendaftaran/pengisian formulir tersebut pada saat melakukan kunjungan di lapangan. Formulir yang telah diisi tersebut selanjutnya tetap diserahkan ke Deskman/petugas yang ditunjuk untuk dimulai proses kelengkapan administrasi.
3) Pada prinsipnya pelaksanaan pelayanan KUR Kupedes tetap mengacu kepada skim Kupedes umum, tetapi dengan beberapa ketentuan dan persyaratan yang lebih ringan yang disesuaikan
dengan kondisi/pola usaha skala mikro dalam rangka memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan.
d. Analisa Kredit
1) Analisa kredit dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan dan kemauan debitur/terjamin membayar kembali kreditnya kepada bank.
2) Hasil analisa dituangkan dalam Formulir K-5 sebagai dasar pertimbangan bagi Pemutus dalam memberikan putusan kredit.
e. Agunan
1) Agunan pokok
Agunan kredit dapat hanya berupa agunan pokok berupa obyek yang dibiayai.
2) Agunan tambahan
Agunan tambahan tidak wajib dipenuhi. Apabila debitur dapatmenyediakan agunan tambahan maka nilainya tidak harus mengcover pinjamannya.
f. Type, Struktur dan Syarat Kredit
Type, struktur dan syarat kredit disesuaikan dengan jenis kredit.
g. Kewenangan Memutus Kredit
Untuk putusan KUR Kupedes tetap diputus oleh pejabat pemutus yang memiliki PDWK cukup tanpa dikaitkan/dipengaruhi oleh ratio KPK dan KBK BRI Unit yang bersangkutan.
h. Formulir
1) Pendaftaran, laporan kunjungan nasabah, analisis dan evaluasi KURKupedes menggunakan formulir K-5 (1 lembar) terlampir sebagaipengganti Model 72 dan Model 70 a.
2) Formulir KUR Kupedes ini juga dipergunakan untuk pendaftaran, analisis dan evaluasi bagi permohonan debitur sektor pertanian (on farm) s/d Rp. 5 juta.
3) Apabila format dari formulir KUR Kupedes yang ada tidak cukup untuk mencantumkan seluruh data/keterangan tentang debitur, maka data/keterangan tersebut dapat dicantumkan pada halaman sebaliknya/halaman tambahan dan diparaf oleh pemrakarsa dan pemutus.
4) Pengadaan formulir KUR Kupedes diserahkan ke masing-masing Kanca BRI sesuai kebutuhan dengan berdasarkan pada rata-rata realisasi KUR Kupedes diwilayah Kanca tersebut. Apabila masih tersedia formulir K-3 sebelumnya yang digunakan untuk Kupedes
"K3", untuk sementara waktu dapat digunakan sampai dengan form KUR Kupedes tersedia, dengan melakukan pencoretan pada kalimat "FORM K3" diganti menjadi "FORM K5" serta kalimat s/d
"Rp 3.000,000,-" dicoret dan diganti menjadi "Rp 5.000.000,-".
B. Analisis Pelaksanaan Pengawasan Kredit Usaha Rakyat Pada PT. BRI Cabang Panakkukang Makassar
1. Fungsi dan tujuan pengawasan kredit
Tujuan utama dari pengawasan kredit adalah supaya kredit yang dinikmati oleh debitur dapat benar-benar bermanfaat. Manfaat yang yang dapat dinikmati oleh debitur adalah dapat menunjang perkembangan usaha perusahaannya. Sedangkan manfaat dari bank adalah bahwa dengan demikian bank dapat mengambil langkah-langkah bantuan sedini mungkin bila mana debitur mengalami kesulitan.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi debitur perlu segera ditangani dan diambil langkah-langkah penanganan seperlunya. Apabila kesulitan itu terus-menerus terjadi, maka debitur akan mengalami kerugian dalam usahanya. Di lain pihak mempunyai kewajiban untuk membayar angsuran pinjaman dan bunga atas fasilitas kredit yang diperolehnya. Jika keadaan yang demikian ini berlarut-larut maka sudah pasti diramalkan bahwa debitur tidak akan dapat melunasi utangnya serta membayar bunga yang dibebankan oleh bank kepadanya. Masalah lain yang tidak kurang pentingnya akan timbul berupa gagalnya pencapaian tujuan kredit kelayakan.
a. Fungsi Pengawasan Kredit
Pengawasan merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses manajemen. Betapapun tidaknya/tepatnya keputusan-keputusan yang telah diambil, akan tetapi apabila dalam pelaksanaannya tidak dilakukan pengawasan yang efektif maka sukar
untuk diharapkan adanya hasil-hasil pelaksanaan sesuai dengan apa yang ingin dicapai oleh perusahaan.
Sesungguhnya fungsi dari pengawasan meliputi dua bidang yaitu :
1) Fungsi laboratory
2) Fungsi polisionil
Dikatakan melakukan fungsi laboratory,oleh karena kegiatan-kegiatan pengawasan berhubungan dengan usaha-usaha untuk menentukan norma-norma yang akan dijadikan dasar dalam melaksanakan pengawasan, berhubungan dengan usaha-usaha untuk menemukan kelemahan-kelemahan dan kebaikan-kebaikan pelaksanaan operasionil yang diperlukan dalam kegiatan evaluasi.
Dikatakan melakukan fungsi polisionil, oleh karena kegitan-kegitan pengawasan berhubungan dengan usaha-usaha pendahuluan yang bersifat preventif dan presif agar pelaksanaan organisasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Dalam pengawasan perkreditan, fungsi laboratory dan polisonil ini terdapat batas-batasnya yang lebih luas dari pada pengawasan pada umumnya (walaupun dasar-dasarnya sama) dan bahwa norma-norma dalam pengawasan harus selalu konsisten dengan kebijaksanaan perkreditan yang berlaku. Kebijaksanaan perkreditan yang diberikan kepada sesuatu perusahaan dapat berbeda dengan yang diberikan kepada perusahaan lainnya, walaupun dasar-dasar yang dipergunakan adalah sama. Oleh karena itu, setiap perubahan dari kebijaksanaan tersebut
diperlukan adanya perubahan-perubahan norma yang dipergunakan dalam pengawasan.
Penetapan proses manajemen dalam pelaksanaan kegiatan operasional suatu perusahaan dapat digambarkan dalam suatu sistem sebagai berikut :
Feedback
Gambar di atas menunjukan suatu sistem input-output yang berlaku dalam kehidupan suatu perusahaan. Dalam sistem ini sebagai input dari keputusan yang akan diambil adalah :
KEPUTUSAN
Perencanaan
Input Processing Output Kebutuhan &
Tanggapan
Pengawasan
EVALUASI
1) Hasil-hasil evaluasi atas faktor-faktor produksi yang dimilki oleh perusahaan, eveluasi atas kemampuan pelaksanaan operasionil (processing) yang telah melalui pengawasan yang efektif, evaluasi atas hasil-hasil kegiatan operasionilnya, evaluasi atas kebutuhan dan tanggapan masyarakat terhadap hasil-hasil kegiatan perusahaan.
2) Pandangan dari pimpinan perusahaan mengenai kebutuhan dan tanggapan masyarakat.
Keputusan - keputusan pimpinan akan merupakan input bagi perencanaan dan output dari perencana ini akan menjadi input bagi kebutuhan akan faktor produksi serta pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan operasiol perusahaan.
Untuk menjamin adanya output dari processing yang sesuai dengan perencanaannya, feedback ini, maka sebelum processing menghasilkan output yang tidak sesuai dengan perencanaannya, segera dapat diketahui dan dilakukan usaha-usaha penyesuaian.
Feedback sistem umunya sudah dibuilt-in dalam proceesing, dan bersifat informative (data-data). Data-data ini dapt dimanfaatkan atau tidak dimanfaatkan oleh pelaksana-pelaksana yang bertanggung jawab, tergantung kepada tingkat kemampuan dan kemauannya untuk bekerja
Feedback sistem umunya sudah dibuilt-in dalam proceesing, dan bersifat informative (data-data). Data-data ini dapt dimanfaatkan atau tidak dimanfaatkan oleh pelaksana-pelaksana yang bertanggung jawab, tergantung kepada tingkat kemampuan dan kemauannya untuk bekerja