BAB IV GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
C. Struktur Organisasi
Sebagai pembahasan selanjutnya dalam pencerminan struktur organisasi PT.Bank Rakyat Indonesia Cabang Panakkukang Makassar maka dikemukakan pengertian organisasi secara umum adalah merupakan suatu kelompok manusia yang dapat dikenal, yang dapat menyumbangkan usahanya dalam mencapai tujuan bersama, MC Farland (2000).
Sesuai dengan uraian tersebut di atas maka kita dapat melihat bahwa organisasi terbentuk dari tiga bagian yaitu adanya himpunan orang, adanya kerja sama serta adanya, dimana terdiri dari segolongan orang-orang tertentu untuk mengadakan/melaksanakan suatu pekerjaan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.
Sehubungan dengan surat keputuan direksi Bank Rakyat Indonesia Nokep : S.I/DIR/ORG/(tertanggal 7 Januari 1989, tentang perubahan struktur organisasi Kantor Unit BRI, bahwa dalam rangka mengantisipasi persaingan GO-Publik, maka dipandang perlu untuk malakukan pembenahan dan efisiensi organisasi BRI. Sistem organisasi yang diterapkan di BRI tersebut akan mengacu kepada pengelompokan/pemisahan Strategi Bisnis Unit (SBU), sehingga bentuk organisasi BRI diharapkan lebih efisien dan efektif dibandingkan dengan bentuk organisasi yang ada saat ini. Dengan pengelompokan SBU yang akan diterapkan di BRI meliputi : SBU Mikro Banking. Dengan adanya pemisahan tersebut, maka kantorunit BRI hanya akan mengelola Retail Banking.
Salah satu syarat bagi suatu organisasi yang baik adalah adanya struktur organisasi yang baik. Struktur organisasi tersebut menunjukkan suatu batas kewenangan atau tugas pokok bagi setiap karyawan baik itu pimpinan maupun staf biasa sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam menjalankan tugas masing-masing.
Struktur organisasi ini merupakan perwujudan dari setiap pembagian tugas yang ada. Dalam struktur organisasi akan nampak hubungan wewenang antara
pimpinan dan bawahan. Demikian juga yang terjadi pada PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) yang dapat dilihat pada struktur organisasinya (terlampir).
Berikut ini uraian pekerjaan yang ada dalam PT. Bank Rakyat Indonesia Cabang Panakkukang Makassar.
1. Kepala Cabang
a. Memimpin dan bertanggung jawab penuh atas seluruh aktivitas unit dalam usaha memberikan pelayanan unggul kepada nasabah, mengendalikan kualitas bisnis disektor pasar pengusaha kecil/menengah di daerah kerjanya dan menyelenggarakan administrasi perusahaan.
b. Bertanggung jawab sepenuhnya untuk membina dan mengembangkan kepegawaiandalam usaha meningkatkan potensi dan mutu kerja para pegawai.
c. Bertanggung jawab sepenuhnya atas pelaksanaan fungsi manajemen secara utuh, konsisten dan kontinyu.
d. Menetapkan rencana kerja dan anggaran sasaran dan tujuan yang akan dicapai.
e. Mengarahkan, mengendalikan dan mengawasi secara langsung unit-unit kerja menurut bidang tugasnya di lingkungan unit dan unit pembantu sejalan dengan sistem dan prosedur yang berlaku, yang ditetapkan oleh kantor besar/ kantor wilayah.
f. Memasarkan produk dan jasa-jasa bank BRI kepada nasabah serta menggali calon nasabah/giran potensial dalam rangka meningkatkan bisnis dan hasil usaha, serta menguasai pangsa pasar di daerahkerjanya.
2. Manejer Pemasaran
a. Mendukung pimpinan dalam membina dan mengkoordinasikan unit-unit kerja dibawahnya untuk mencapai target yang telah ditetapkan terutama yang terkait dengan bidang pemasaran.
b. Membantu pimpinan unit dalam mempersiapkan Perencanaan Kegiatan Akhir (RKA) dalam rangka mencapai target bisnis yang telah ditetapkan.
c. Mengkoordinasi dan mengawasi semua bawahannya dalam rangka melaksanakan dan mencapai sasaran dari rencana kerja yang telah ditetapkan.
d. Menerapkan proses kredit sesuai dengan Kebijakan Umum Perkreditan (KPU) dan Pedoman Pelaksanaan Kredit (PPK) yang telah ditetapkan terhadap account yang termasuk fortofolionya untuk mencapai target kantorunit dan mewujudkan fortofolio kredit yang berkembang, sehat dan menguntungkan.
e. Berperan seta secara aktif dalam strategi perkembangan bisnis dan pelanyanan kantorunit, serta menjalin hubungan secara professional dengan debitur dan pihak ke tiga yang terkait dengan BRI dalam rangka perluasan pangsa pasar dan lain-lain.
f. Menyusun Rencana Pemasaran Tahunan (RPT) yang menjadi tanggung jawab agar sesuai dengan RKA Kanca.
3. Manager Operasional
a. Membantu dan mendukung pimpinan unit dalam membina dan mengkoordinasikan unit-unit kerja dibawahanya untuk mencapai target
yang telah ditetapkan, terutama yang terkait dengan operasional dan pelayanan.
b. Mengfungsikan bawahannya dalam melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan strategi yang ditetapkan kantor unit guna mewujudkan pelayanan yang sebaik-baiknya bagi nasabah.
c. Memastikan bahwa seluruh kegiatan bidang rumah tangga telah berjalan efektif dan efisien untuk memperlancar operasional dan kantorunit dan mengurangi kerugian yang mungkin timbul dan lain-lain.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Proses Pelaksanaan Pelayanan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro Pada BRI Unit.
1. Melakukan sosialisasi KUR Mikro kepada masyarakat dan pihak-pihak yang terkait, bahwa KUR Mikro adalah kredit untuk usaha produktif yang menekankan kelayakan usaha, sehingga usaha-usaha yang dinilai layak yang dapat diberikan pembiayaan walaupun kredit tersebut mendapat jaminan 70% dari pemerintah melalui lembaga penjamin ( Askrindo + Jamkrindo).
Penilaian kelayakan usaha tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab dari pihak bank dan tidak terkait dengan intervensi atau instruksi dari pihak luar manapun.
2. KUR Mikro merupakan pinjaman dari bank yang harus dikembalikan, sepertihalnya pinjaman lainnya. Dalam kaitan ini harus dikomunikasikan bahwa KUR Mikro bukan hibah atau pemberian dari pemerintah yang tidak perlu dikembalikan karena telah dijamin oleh pemerintah kepala unit dan jajarannya harus bisa meluruskan persepsi yang kurang tepat tersebut serta mensosialisasikan kepada masyarakat dengan jelas dan santun.
3. Kepada seluruh unit kerja BRI Unit disarankan memasang informasi mengenai KUR Mikro agar calon nasabah mengenai perihal kredit tersebut dan memiliki persepsi yang benar mengenai KUR Mikro dalam bentuk leaflet/banner.
4. Setiap petugas BRI Unit harus dapat memberi informasi dan memberikan layanan secara santun sesuai budaya/etika setelah melakukan pelayanan KUR Mikro. Utamanya kepada calon nasabah atau pemohon KUR Mikro yang tidak dapat dilayani bedasarkan hasil analisis kelayakan usaha serta analisis 5 C agar diberi penjelasan secara sopan dan santun .
5. Kepala Unit dan jajarannya agar dapat menata kerja layanan KUR Mikro dengan tertib sehingga banyaknya antrian calon nasabah atau pemohon dapat terlayani dengan baik. Dalam kaitan ini , kepada calon nasabah yang kurang layak dilayani atau ditolak permohonannya agar segera dibuatkan surat pemberitahuan.
6. Kepala unit dan jajarannya agar selalu melakukan monotoring dan evaluasi atas pelayanan KUR Mikro tersebut, memastikan bahwa usaha debitur dapat berkembang dengan pemberian KUR Mikro sehingga nasabah KUR Mikro tersebut sesuai perkembangan usahanya pada saat yang tepat dapat dilayani dengan Kupedes komersil (naik kelas).
7. Ukuran keberhasilan KUR Mikro selain berdasarkan jumlah debitur yang harus dicapai dan jumlah outstanding, serta beberapa yang berhasil migrasi ke Kupedes Komersil dan juga harus memperhatikan kualitas aktivanya yaitu NPL yang rendah.
8. Ekspansi KUR Mikro merupakan salah satu strategi BRI dalam mempertahankan pangsa pasar mikro dan menjadi embrio untuk memperoleh calon-calon nasabah kupedes Komersil lebih banyak dan berkualitas karena telah teruji sebelumnya . Dalam layan KUR Mikro
meskipun memerlukan waktu dan tenaga yang cukub banyak namun agar tetap memperhatikan pertimbangan Kupedes Komersil Non KUR yang juga harus tetap tumbuh dan berkembang secara sehat . Hal ini perlu menjadi perhatian mengingat pesaing sudah demikan agresif memasuki segmen bisnis mikro yang menjadi tumpuan BRI.
9. Persyaratan administratif bagi calon debitur adalah :
a. Menyerahkan foto copy KTP atau kartu identitas lainnya dan foto copy Kartu Keluarga (KK) yang masih berlaku serta harus dicocokkan dengan aslinya.
b. Pejabat Kredit Lini (PKL) juga harus memastikan kebenaran alamat calon debitur.
c. Fotocopy KTP atau kartu identitas lainnya tersebut harus diberi parafoleh Mantri atau Kaunit sebagai bukti bahwa alamat calon nasabahpada foto copy KTP tersebut benar dan cocok dengan aslinya.
d .Mengingat karakteristik yang beragam diberbagai wilayah, maka perluditegaskan kembali bahwa persyaratan di atas adalah syarat minimal, artinya dengan memenuhi syarat tersebut di atas kepada calon debitursudah dapat dilayani KUR Kupedes.
e. Terhadap dokumen kredit cukup dilakukan di bawah tangan, tidak perlu dilegalisasi/diwaarmerking.
10. Permohonan dan Prakarsa Kredit
a. Pengajuan permohonan kredit dilakukan oleh debitur/terjamin.
b. Bagi usaha baru, minimal usaha telah berjalan selama 6 bulan,
berdasarkan atas hasil pemeriksaan (on the spot) yang dilakukan Mantridan dituangkan dalam Formulir K-5.
c. Pada prinsipnya pelayanan KUR Kupedes ini berdasarkan asas domisili tempat tinggal. Namun demikian, apabila calon nasabah tidak berdomisili di wilayah BRI Unit, maka BRI Unit yang berada dalam wilayah domisili tempat usaha calon debitur diperbolehkan memberikan KUR Kupedes dengan memperhatikan :
1) Kepastian asal domisili yang dibuktikan dengan menyerahkan
fotocopy KTP atau kartu identitas lainnya tempat asal yang masih berlaku dan dicocokkan dengan aslinya. Petugas harus melakukan konfirmasi dengan BRI Unit diwilayah kerja tempat tinggal asal calon debitur, misalnya mengena informasi pinjaman maupun kepastian alamat domisili tempat tinggal calon debitur.
2) Proses pendaftaran dan pengisian formulir pada dasarnya dilakukan oleh Deskman/petugas yang ditunjuk. Namun demikian untuk mempermudah/mempercepat pelayanan, Mantri dapat membantu pendaftaran/pengisian formulir tersebut pada saat melakukan kunjungan di lapangan. Formulir yang telah diisi tersebut selanjutnya tetap diserahkan ke Deskman/petugas yang ditunjuk untuk dimulai proses kelengkapan administrasi.
3) Pada prinsipnya pelaksanaan pelayanan KUR Kupedes tetap mengacu kepada skim Kupedes umum, tetapi dengan beberapa ketentuan dan persyaratan yang lebih ringan yang disesuaikan
dengan kondisi/pola usaha skala mikro dalam rangka memberikan kemudahan dan kecepatan pelayanan.
d. Analisa Kredit
1) Analisa kredit dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan dan kemauan debitur/terjamin membayar kembali kreditnya kepada bank.
2) Hasil analisa dituangkan dalam Formulir K-5 sebagai dasar pertimbangan bagi Pemutus dalam memberikan putusan kredit.
e. Agunan
1) Agunan pokok
Agunan kredit dapat hanya berupa agunan pokok berupa obyek yang dibiayai.
2) Agunan tambahan
Agunan tambahan tidak wajib dipenuhi. Apabila debitur dapatmenyediakan agunan tambahan maka nilainya tidak harus mengcover pinjamannya.
f. Type, Struktur dan Syarat Kredit
Type, struktur dan syarat kredit disesuaikan dengan jenis kredit.
g. Kewenangan Memutus Kredit
Untuk putusan KUR Kupedes tetap diputus oleh pejabat pemutus yang memiliki PDWK cukup tanpa dikaitkan/dipengaruhi oleh ratio KPK dan KBK BRI Unit yang bersangkutan.
h. Formulir
1) Pendaftaran, laporan kunjungan nasabah, analisis dan evaluasi KURKupedes menggunakan formulir K-5 (1 lembar) terlampir sebagaipengganti Model 72 dan Model 70 a.
2) Formulir KUR Kupedes ini juga dipergunakan untuk pendaftaran, analisis dan evaluasi bagi permohonan debitur sektor pertanian (on farm) s/d Rp. 5 juta.
3) Apabila format dari formulir KUR Kupedes yang ada tidak cukup untuk mencantumkan seluruh data/keterangan tentang debitur, maka data/keterangan tersebut dapat dicantumkan pada halaman sebaliknya/halaman tambahan dan diparaf oleh pemrakarsa dan pemutus.
4) Pengadaan formulir KUR Kupedes diserahkan ke masing-masing Kanca BRI sesuai kebutuhan dengan berdasarkan pada rata-rata realisasi KUR Kupedes diwilayah Kanca tersebut. Apabila masih tersedia formulir K-3 sebelumnya yang digunakan untuk Kupedes
"K3", untuk sementara waktu dapat digunakan sampai dengan form KUR Kupedes tersedia, dengan melakukan pencoretan pada kalimat "FORM K3" diganti menjadi "FORM K5" serta kalimat s/d
"Rp 3.000,000,-" dicoret dan diganti menjadi "Rp 5.000.000,-".
B. Analisis Pelaksanaan Pengawasan Kredit Usaha Rakyat Pada PT. BRI Cabang Panakkukang Makassar
1. Fungsi dan tujuan pengawasan kredit
Tujuan utama dari pengawasan kredit adalah supaya kredit yang dinikmati oleh debitur dapat benar-benar bermanfaat. Manfaat yang yang dapat dinikmati oleh debitur adalah dapat menunjang perkembangan usaha perusahaannya. Sedangkan manfaat dari bank adalah bahwa dengan demikian bank dapat mengambil langkah-langkah bantuan sedini mungkin bila mana debitur mengalami kesulitan.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi debitur perlu segera ditangani dan diambil langkah-langkah penanganan seperlunya. Apabila kesulitan itu terus-menerus terjadi, maka debitur akan mengalami kerugian dalam usahanya. Di lain pihak mempunyai kewajiban untuk membayar angsuran pinjaman dan bunga atas fasilitas kredit yang diperolehnya. Jika keadaan yang demikian ini berlarut-larut maka sudah pasti diramalkan bahwa debitur tidak akan dapat melunasi utangnya serta membayar bunga yang dibebankan oleh bank kepadanya. Masalah lain yang tidak kurang pentingnya akan timbul berupa gagalnya pencapaian tujuan kredit kelayakan.
a. Fungsi Pengawasan Kredit
Pengawasan merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses manajemen. Betapapun tidaknya/tepatnya keputusan-keputusan yang telah diambil, akan tetapi apabila dalam pelaksanaannya tidak dilakukan pengawasan yang efektif maka sukar
untuk diharapkan adanya hasil-hasil pelaksanaan sesuai dengan apa yang ingin dicapai oleh perusahaan.
Sesungguhnya fungsi dari pengawasan meliputi dua bidang yaitu :
1) Fungsi laboratory
2) Fungsi polisionil
Dikatakan melakukan fungsi laboratory,oleh karena kegiatan-kegiatan pengawasan berhubungan dengan usaha-usaha untuk menentukan norma-norma yang akan dijadikan dasar dalam melaksanakan pengawasan, berhubungan dengan usaha-usaha untuk menemukan kelemahan-kelemahan dan kebaikan-kebaikan pelaksanaan operasionil yang diperlukan dalam kegiatan evaluasi.
Dikatakan melakukan fungsi polisionil, oleh karena kegitan-kegitan pengawasan berhubungan dengan usaha-usaha pendahuluan yang bersifat preventif dan presif agar pelaksanaan organisasi sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Dalam pengawasan perkreditan, fungsi laboratory dan polisonil ini terdapat batas-batasnya yang lebih luas dari pada pengawasan pada umumnya (walaupun dasar-dasarnya sama) dan bahwa norma-norma dalam pengawasan harus selalu konsisten dengan kebijaksanaan perkreditan yang berlaku. Kebijaksanaan perkreditan yang diberikan kepada sesuatu perusahaan dapat berbeda dengan yang diberikan kepada perusahaan lainnya, walaupun dasar-dasar yang dipergunakan adalah sama. Oleh karena itu, setiap perubahan dari kebijaksanaan tersebut
diperlukan adanya perubahan-perubahan norma yang dipergunakan dalam pengawasan.
Penetapan proses manajemen dalam pelaksanaan kegiatan operasional suatu perusahaan dapat digambarkan dalam suatu sistem sebagai berikut :
Feedback
Gambar di atas menunjukan suatu sistem input-output yang berlaku dalam kehidupan suatu perusahaan. Dalam sistem ini sebagai input dari keputusan yang akan diambil adalah :
KEPUTUSAN
Perencanaan
Input Processing Output Kebutuhan &
Tanggapan
Pengawasan
EVALUASI
1) Hasil-hasil evaluasi atas faktor-faktor produksi yang dimilki oleh perusahaan, eveluasi atas kemampuan pelaksanaan operasionil (processing) yang telah melalui pengawasan yang efektif, evaluasi atas hasil-hasil kegiatan operasionilnya, evaluasi atas kebutuhan dan tanggapan masyarakat terhadap hasil-hasil kegiatan perusahaan.
2) Pandangan dari pimpinan perusahaan mengenai kebutuhan dan tanggapan masyarakat.
Keputusan - keputusan pimpinan akan merupakan input bagi perencanaan dan output dari perencana ini akan menjadi input bagi kebutuhan akan faktor produksi serta pelaksanaan-pelaksanaan kegiatan operasiol perusahaan.
Untuk menjamin adanya output dari processing yang sesuai dengan perencanaannya, feedback ini, maka sebelum processing menghasilkan output yang tidak sesuai dengan perencanaannya, segera dapat diketahui dan dilakukan usaha-usaha penyesuaian.
Feedback sistem umunya sudah dibuilt-in dalam proceesing, dan bersifat informative (data-data). Data-data ini dapt dimanfaatkan atau tidak dimanfaatkan oleh pelaksana-pelaksana yang bertanggung jawab, tergantung kepada tingkat kemampuan dan kemauannya untuk bekerja menurut perencanaan yang telah ditetapkan.
Pengawasan, dalam hal itu menggunakan data-data mengenai hal-hal yang sedang dalam processing sebagai inputnya untuk menjaga agar
output dari processing sesuai dengan perencanaanya. Out dari processingakan merupakan input bagi kebutuhan bagi kebutuhan dan tangapan-tanggapan masyarakat dan pada akhirnya kondisinya dan potensi dari faktor-faktor yang dimilki, processing yang telah dilaksanakan melalui pelaksanaan yang efektif, hasil dari processing, dan kebutuhan dan tanggapan masyarakat, ksemuanya akan merupakan input bagi kegiatan evaluasi.
Dalam proses perkreditan sistem input-output semacam ini juga berlaku. Dengan demikian, maka fungsi dari pengawasannya juga memilki dasar-dasar yang sama dengan fungsi pengawasan pada umumnya.
Dalam perkreditan, processing dari hal-hal yang berhubungan dengan pemberian kredit tidak hanya dilaksanakan oleh petugas-petugas dari bank, tetapi juga pihak debitur.Debitur dalam hal ini adalah pihak luar di luar organisasi bank. Nampak di sini, bahwa pengawasan perkreditan tidak hanya meliputi intern organisasi bank, tetapi juga meliputi ekstern organisasi bank.
b. Tujuan Pengawasan Perkreditan
Sebagaimana halnya dengan pengawasan pada umumnya, tujuan yang hendak dicapai dalam pengawasan perkreditan meliputi hal-hal berikut :
1) Untuk menemukan permasalahan-permasalahan operasionil pada waktunya agar dapat diambil tindakan-tindakan preventif/korektif sebelum msalahnya menjadi kritis. Pengawasan perkreditan dimaksudkan untuk menjamin agar penggunaan kredit oleh debitur sesuai dengan dasar dan tujuan pemberiannya dan bahwa pengembalian dari kredit tersebut dapat terjamin sesuai dengan perencanaannya.
2) Untuk memberikan bimbingan secara terus-menerus agar terjadi perbaikan/penigkatan dalam kemampuan penyelenggaraannya.
Pengawasan perkreditan hendaknya menciptakan iklim, agar baik bagi perkreditan maupun debitur, kedua-duanya dapat meningkatkan/memperbaiki pelayanannya (pihak debitur).
3) Untuk menetapkan adanya kebutuhan akan perubahan-perubahan.
Pengawasan debitur terus dapat memberikan prgnosenyakepada bagian perkreditan mengenai perubahan-perubahan kebijaksanaan yang diperlukan dalam hubungannya dengan kemampuan-kemampuan debitur.
4) Untuk memproyeksikan hasil-hasil yang dikehendaki bank sebcara lebih tepat. Disini pengawasan perkreditan hendaknya menjadi peramal mengenai nasib dan manfaat dari pemberian kredit.
5) Untuk merumuskan permasalahan-permasalahan pokok dan kecenderungan utama dari pemberian kredit pada umumnya dan yang sedang berjalan.
2. Proses pengawasan perkreditan
Kegiatan pengawasan perkreditan setidak-tidaknya mencakup empat hal, yaitu yang berupa langkah-langkah berikut :
a. Menetapkan kriteria pengawasan
Pengawasan perkreditan harus berhasil untuk menentukan dasar yang akan digunakan sebagai titik tolak dalam melihat hubungan timbal bilik yang ada antara variabel yang berhubungan dengan pemberian kredit. Maksudnya agar dapat diketahui variabel-variabel yang mempunyai hubungan sebab musebab, sehingga dapat dipahami adanya logikan dalam pengawasannya.
b. Menetapkan standar pengawasan
Berdasarkan kriteria-kriteria pengawasan sebagaimana telah ditetapkan sebelumnya, maka dapat dibuat standar pengawasan yang dipergunakan sebagai norma untuk menilai hasil-hasil pelaksanaan kegiatan (performance) debitur.
c. Melaksanakan usaha-usaha preventif sebagai tindakan preventif dan sebagai tindak pendahuluan bagi tinadakan repsentif.
Kegiatan-kegiatan pengawasan ini dapat dilakukan berdasarkan data-data hasil monitoring atau atas dasar hasil-hasil peninjauan on the spot.
d. Melakukan penilaian secara umum dan secara khusus (debitur) dengan memperbandingkan performance, norma dan objective perkreditan.
Pelaksanaan pengawasan perkreditan yang dilakukan oleh BRI Cabang Panakkukang Makassar merupakan suatu kegiatan analisis dan penilaian terhadap seluruh kegiatan bidang perkreditan yang bertujuan untuk meminimumkan resiko, baik resiko image (nama baik).
Sedangkan ruang lingkup pengawasan perkreditan meliputi jangkauan luas dan tingkat kedalaman pemeriksaan seluruh kegiatan perkreditan BRI Cabang Panakkukang Makassar mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian, penilaian keandalan serta kepatuhan terhadap pelaksanaan perundang-undangan, peraturan, ketentuan sistem dan prosedur, kebijakan serta praktek-praktek perbankan yang sehat.
Dalam masalah pengawasan dan pembinaan terdapat dua pihak yang berperan, yaitu pihak yang melakukan pengawasan dan pembinaan di lain pihak adalah debitur yang diawasi dan dibina.
Pengawasan yang dilakukan oleh BRI Cabang Panakkukang Makassar terhadap debiturnya bukan semata-mata untuk mencari kesalahan atau menjatuhkan sanksi kepada para debitur yang tidak atau lalai melaksanakan kewajiban-kewajibannya, tetapi pengawasan ini lebih menitikberatkan kepada pengarahan dan pembinaan debitur, agar dengan demikian usaha debitur menjadi semakin maju dan berkembang terus.
BRI Cabang Panakkukang Makassar dalam melaksanakan pengawasan dan pembinaan ada beberapa macam yaitu :
1) Pengawasan aktif
Cara pengawasan aktif dengan mengadakan peninjauan setempat (on the spot). Dengan cara ini bank dapat secara langsung memperoleh informasi dari debitur yang bersangkutan.
2) Pengawasan pasif
Pengawasan jenis ini dilakukan oleh bank dengan cara lebih berorientasi kepada laporan-laporan yang diterbitkan oleh debitur.
3. Prosedur Permohonan Kredit
Kebijaksanaan bank dalam memberikan pinjaman (kredit) kepada peminat kredit, tidak dengan sendirinya berlaku untuk setiap, pengusaha/perusahaan, tetapi terlebih dahulu harus didasarkan pada adanya permohonan kredit dari peminat kredit.
Permohonan ini harus diajukan secara tertulis. Bank akan mengalami kesulitan bila permohonan ini diajukan secara lisan, oleh karena kurang adanya data yang cukup lengkap dalam melakukan pembahasan atau permohonan kredit.
Untuk permohonan gambaran yang lebih jelas mengenai prosedur permohonan kredit pada BRI Cabang Panakkukang Makassar, maka kegiatan-kegiatan dapat digolongkan dalam tiga tahap, yaitu :
a. Peminat kredit mencari informasi, memperoleh informasi, dan menerima formulir isian (formulir untuk mengajukan permohonan kredit). Peminat kredit menghubungi Bank BRI Cabang
Panakkukang Makassar untuk mencari informasi. Informasi yang dibutuhkan dalam hubungannya dengan kredit antara lain meliputi :
1) Cara mengajukan permohonan kredit
2) Syarat-syarat yang diperlukan dalam mengajukan permohonan kredit.
3) Jumlah maksimum pagu (plafond) yang diperkenankan 4) Jangka waktu kredit
5) Besarnya bunga, denda 6) Jenis-jenis biaya
7) Bidang usaha yang dapat dibiayaidengan kredit 8) Jaminan kredit
b. Setelah peminat kredit menerima informasi yang dibutuhkan maka BRI Cabang Panakkukang Makassar akan memberikan formulir isian (formulir untuk mengajukan permohonan kredit) Bank setempat :
1) Setiap peminat kredit datang ke BRI Cabang Panakkukang Makassar akan diberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya.
2) Memberikan segala informasi tentang kredit kepada peminat kredit.
3) Apabila pihak bank yakin bahwa peminat kredit itu serius dan mempunyai konsepsi proyek yang jelas maka kepada peminat kredit formulir kepada BRI Cabang Panakkukang Makassar.
c. Peminat kredit mengisi dan menunjukan formulir isian kepada BRI Cabang Panakkukang Makassar
Peminat kredit
1) Setelah penerima formulir isian peminat kredit mempelajari,
1) Setelah penerima formulir isian peminat kredit mempelajari,