TINJAUAN PUSTAKA 2.1Tinjauan Teoritis
2.4 Hipotesis Penelitian
Menurut Erlina dan Mulyani (2011), “ Hipotesis adalah proporsi yang merumuskan dengan maksud untuk diuji secara empiris , yang menyatakan hubungan yang diduga secara logis antara 2 variabel atau lebih”. Hipotesis pada penelitian ini adalah :
H1 : CSR berpengaruh terhadap Nilai perusahaan.
H2 : Kebijakan Struktur Modal mampu memoderasi hubungan CSR dengan Nilai Perusahaan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Ada beberapa pengertian nilai perusahaan. Suatu perusahaan dikatakan mempunyai nilai yang baik jika kinerja perusahaan juga baik. Nilai perusahaan merupakan kondisi tertentu yang telah dicapai oleh suatu perusahaan sebagai gambaran dari kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan setelah melalui suatu proses kegiatan selama beberapa tahun, yaitu sejak perusahaan tersebut didirikan sampai dengan saat ini. Nilai perusahaan dapat tercermin dari nilai sahamnya. Jika nilai sahamnya tinggi bisa dikatakan bahwa nilai perusahaannya juga baik. Nilai perusahaan juga dapat didefinisikan sebagai nilai pasar perusahaan yang menggambarkan persepsi investor terhadap emiten bersangkutan. Tujuan utama perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan kemakmuran pemilik atau para pemegang saham. Meningkatnya nilai perusahaan adalah sebuah prestasi, yang sesuai dengan keinginan para pemiliknya, karena dengan meningkatnya nilai perusahaan, maka kesejahteraan para pemilik juga akan meningkat.
Akan tetapi di balik tujuan tersebut masih terdapat konflik antara pemilik perusahaan dengan penyedia dana sebagai kreditur. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan akan meningkat, sedangkan nilai hutang perusahaan dalam bentuk obligasi tidak terpengaruh sama sekali. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai dari saham kepemilikan bisa merupakan index yang tepat
Nilai Perusahaan berperan penting dalam keberlangsungan (Going concern) suatu perusahaan. Keberlangsungan hidup suatu perusahaan merupakan tujuan utama dari suatu entitas bisnis dari sejak berdirinya entitas bisnis tersebut. Jika nilai suatu perusahaan tercermin baik maka dapat dipastikan perusahaan itu memiliki umur yang lama. Going Concern sendiri juga merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam sebuah perusahaan agar perusahaan dapat mencapai tujuan perusahaan yaitu memaksimalkan laba (profit) berlangsung lama (survive) dan berkembang secara pesat (growth).
Dalam mengelola kekayaannya manajemen dapat tergambar melalui nilai perusahaan. Baik atau buruknya kinerja keuangan perusahaan menggambarkan tinggi atau rendahnya nilai perusahaan. Peningkatan nilai perusahaan sejalan dengan naiknya harga saham di pasar. Nilai perusahaan didalam penelitian ini diproyeksikan dengan price to book value. Price to book value yang tinggi akan membuat pasar percaya atas prospek perusahaan kedepan. Prospek perusahaan yang menjanjikan kebaikan dimasa mendatang, akan membuat para investor yakin terhadap dana yang ditanamnya ke perusahaan.
Struktur modal berkaitan dengan kebijakan manajemen perusahaan untuk menambah dana dari pinjaman atau penerbitan saham atau obligasi. Kedua pilihan ini tentunya harus dipikirkan matang-matang oleh manajemen, karena akan menimbulkan konsekuensi yang berbeda (Harahap 2007). Teori struktur modal menjelaskan apakah ada pengaruh jika manajemen merubah struktur modal dalam sebuah perusahaan. Jika seandainya perusahaan mengganti struktur modal sendiri dengan utang (atau sebaliknya), apakah harga saham akan berubah, dengan asumsi bahwa perusahaan tidak merubah keputusan keuangan lainnya. Jika
perubahan struktur modal tidak dapat merubah nilai perusahaan, berarti tidak ada struktur modal yang terbaik. Namun jika dengan merubah struktur modal menghasilkan perubahan pada nilai perusahaan, maka akan diperoleh struktur modal yang terbaik.
Memasuki tahun 1990-an, banyak perusahaan yang mulai menyadari arti penting dari pertanggungjawaban sosial dan memasukkan tanggung jawab sosial dalam isu strategi bisnis perusahaan mereka, bahkan tidak jarang perusahaan yang memasukkan isu tanggung jawab sosial kedalam visi dan misi perusahaan, agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan oleh manajemen perusahaan. Pertanggung jawaban sosial ini lazim disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR).
Kegiatan corporate social responsibility tidak hanya terfokus pada pelaksanaan tata kelola perusahaan ini melainkan semua kegiatan yang mencakup operasional yang dilakukan perusahaan komunitas, lingkungan dan stakeholder (Reyes dalam Theda, 2013). Kesadaran tentang pentingnya mempraktekkan CSR ini menjadi tren seiring dengan semakin maraknya kepedulian masyarakat global terhadap produk-produk yang ramah lingkungan. Disamping itu, beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini juga ikut menyadarkan akan arti penting penerapan CSR. Sebagai contoh yang masih sangat segar dalam ingatan kita adalah, kasus PT Freeport Indonesia di Papua, Kasus TPST baojong di Bogor, kasus PT Newmont di Buyat, atau bahkan yang lebih fenomenal yaitu kasus lumpur panas di lading migas PT Lapindo Brantas di Sidoarjo. Dunia usaha semakin menyadari bahwa perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab
yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya saja, namun juga harus memperhatikan aspek sosial dan lingkungannya (Wibisono 2007)
Corporate social responsibility dapat dikatakan sebagai aktivitas yang mempunyai nilai investasi bagus bagi perusahaan, karena corporate social responsibility secara tidak langsung dapat meningkatkan enterprise value perusahaan. Kegiatan CSR sendiri di Indonesia didasari oleh Undang-Undang No.40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas pasal 74 yang intinya menyatakan bahwa perusahaan yang melaksanakan kegiatan di bidang atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melakukan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Hal ini menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat luas. Dengan adanya Undang-Undang tersebut diharapkan CSR bukan hanya menjadi kesukarelaan perusahaan, tetapi menjadi kewajiban setiap perusahaan.
Kecenderungan pelaksanan corporate social responsibility dalam tujuan meningkatkan nilai perusahaan dipengaruhi oleh jenis industri yang dijalankan oleh perusahaan. Jenis industri dapat dibagi menjadi dua yaitu industri high profile dan industri low profile. Perusahaan yang termasuk dalam industry berkategori high profile akan memberikan informasi sosial lebih banyak dibandingkan perusahaan yang termasuk dalam industri berkategori low profile. Sebuah perusahaan yang baik harus mampu mengontrol potensi finansial maupun potensi non finansial di dalam meningkatkan nilai perusahaan untuk eksistensi perusahaan dalam jangka panjang. Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga memaksimalkan kemakmuran pemegang saham yang merupakan tujuan utama perusahaan (Yao, Wang, dan Song 2011).
CSR berarti perusahaan harus bertanggungjawab atas operasinya yang berdampak buruk pada masyarakat, komunitas dan lingkungannya. Namun sebaliknya juga harus memberikan dampak positif terhadap masyarakat sekitar. Suatu perusahaan tidak akan dapat bertahan lama apabila dia mengisolasikan dan membatasi dirinya dengan masyarakat sekitarnya (Djajadiningrat dan Famiola, 2004).
Pentingnya CSR pada perusahaan mampu menjadi faktor penentu keberlangsungan perusahaan. Preston (1981) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan yang baik dan melakukan pengungkapan yang tinggi memposisikan mereka sebagai perusahaan yang memiliki aktivitas yang berguna dan kualitas pengungkapan ini juga didorong legitimasi terhadap masyarakat. CSR merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan untuk memperbaiki masalah sosial dan lingkungan yang terjadi karena aktivitas operasional dari perusahaan. Oleh sebab itu, CSR sangat berperan penting untuk meningkat nilai suatu perusahaan.
Penelitian Desi (2012) mengungkapkan bahwa ada hubungan antara struktur modal dan kinerja perusahaan. Penelitian frihatni (2014) mengemukakan adanya hubungan yang mempengaruhi CSR dengan nilai perusahaan. sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh theda (2013) adanya hubungan antara CSR dengan nilai perusahaan. Namun penelitian yang dilakukan oleh Uniariny (2012) yang mengungkapkan struktur modal dan modal intelektual berpengaruh terhadap nilai perusahaan, begitu juga penelitian yang dilakukan Purnasiwi (2011) ukuran
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, peneliti tertarik untuk membahas topik ini dan menguji hipotesis yang berkatian dengan pengaruh CSR terhadap nilai perusahaan perbankan. Oleh karena itu penelitian ini berjudul “Pengaruh Corporate Social Responsibility Disclosure Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kebijakan Struktur Modal Sebagai Variabel Pemoderasi Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.”