BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.4 Pengujian Hipotesis Dan Pembahasan
4.4.1 Hipotesis Pertama (H1)
Hipotesis pertama yang diajukan adalah Kecakapan manajerial berpengaruh positif
terhadap manajemen laba. Artinya, semakin tinggi kecakapan manajer maka semakin
meningkatkan praktik manajemen laba. Berikut adalah hasil analisis regresi untuk hipotesis
pertama : Tabel 4.6 Hasil Uji T Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 8.243 .742 11.106 .000 kecaka M 2.854 .892 .282 3.199 .002
Tabel 4.6 Hasil Uji T Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 8.243 .742 11.106 .000 kecaka M 2.854 .892 .282 3.199 .002
a. Dependent Variable: Manajemen laba
Persamaan : DA= a+ b1KM+ e
Da = 8,243 + 2,854KM
Dari Tabel 4.6 diatas dapat dilihat bahwa nilai thitung dalam hipotesis satu (H1) ini
adalah 3,199. Sedangkan nilai ttabel adalah 1,9801 yang dilihat dari nilai df dan derajat
kepercayaan sebesar 5%. Koefisien regresi untuk jalur Kecakapan Manajerial terhadap
Manajemen laba adalah 2,854 dengan nilai signifikansi 0,002. Koefisien tersebut bernilai positif,
berarti terdapat pengaruh positif signifikan (hubungan searah) antara kecakapan manajerial dan manajemen laba sehinggahipotesis satu (H1) untuk Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014 dinyatakan terdukung.
Besarnya pengaruh variabel kecakapan manajerial terhadap Manajemen Laba dapat dilihat pada
tabel dibawah ini:
Tabel 4.7
Hasil Uji Koefisien Determinasi Hipotesis Satu (H1) Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .282a .080 .072 2.28483
Tabel 4.7 diatas menunjukkan bahwa nilai R Square adalah 0,080 artinya kemampuan
variabel Kecakapan manajerial dalam menjelaskan variabel manajemen laba hanya 8% dan
sisanya 92% dijelaskan oleh faktor lain diluar variabel bebas yang digunakan.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Isnugrahadi dan Kusuma
(2009) yang menyatakan bahwa kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap manajemen
laba. Hasil yang sama juga terjadi pada penelitian yang dilakukan oleh Utami (2013) dan
Wicaksono (2013).
Hasil ini menunjukkan bahwa semakin cakap seorang manajer semakin tinggi intensitas
manajemen laba yang dilakukannya. Hal ini dapat terjadi diantaranya karena ada beberapa
kondisi dalamlingkungan operasional perusahaan yang tidak mendukung manajemen untuk bertindak jujur dalam melaporkan laba yang mencerminkan keadaan sebenarnya. Menurut sugiri
(2005) ada dua prasyaarat yang harus ada agar manajemen selalu jujur dalam melaksanakan
tugasnya. Pertama, kultur organisasi harus mendukung pengambilan keputusan yang etis. Kedua
manajer harus memiliki pemotivator untuk selalu bertindak jujur. Apabila dua prasayarat itu
tidak ada dalam prusahaan maka perusahaan akan menjadi tempat yang ideal bagi manajemen
untuk melakukan praktik manajemen laba.
Isnugrahadi dan Kusuma (2009) menyebutkan bahwa kenyataan bahwa adanya asimetri
informasi antara pihak manajer sebagai pengelola perusahaan dengan para pemegang saha
sebagai pemilik perusahaan juga menjadi salah satu faktor yang mendukung manajemen untuk
melakukan manajemen laba. Pada kondisi ini manajer memiliki informasi tersembunyi yang bisa
di eksploitasi demi kepentingan pribadi manjer. Manajer yang cakap akan lebih leluasa
4.4.2 Hipotesis Kedua (H2)
Hipotesis kedua yang diajukan adalahProporsi dewan komisaris independen
memoderasi pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba. Artinya, dengan
semakin tinggi proporsi komisaris independen pada perusahaan dapat memperkuat ataupun
memperlemah pengaruh kecakapan manajerial terhadap praktek manajemen laba. Pengujian
hipotesis kedua dilakukan dengan menggunakan regresi linear berganda dengan Moderated
Regression Analysis (MRA). Besarnya pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba
dengan moderasi dari variabel proporsi komisaris independen ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 4.8
Hasil Uji Koefisien Determinasi Hipotesis Dua (H2) Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .339a .115 .092 2.25979
a. Predictors: (Constant), moderate1, kecakapan manajerial, Proporsi kI
Tabel 4.9
Hasil Uji F (Simultan) Hipotesis Dua (H2) ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 77.046 3 25.682 5.029 .003a
Residual 592.373 116 5.107
Total 669.419 119
a. Predictors: (Constant), moderate1, kecakpam manajerial proporsi KI b. Dependent Variable: M_laba
Tabel 4.10
Perbandingan Nilai R Square Hipotesis Satu dan Dua
Hipotesis Persamaan Nilai R Square
Hipotesis 1 DA= a+ b1KM+ e 8%
Hipotesis 2 DA = a + b1KM + b2PKI + b3KM*PKI + e
11,5%
Sumber : Data primer yang di olah
Hasil analisis regresi dengan variabel moderating proporsi komisaris independen pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014 menunjukkan bahwa nilai
koefisien determinasi (Adjusted RSquare) adalah 9,2% artinya sebesar 9,2% variabel manajemen
laba dapat dijelaskan oleh variabel kecakapan manajerial, variabel proporsi komisaris
independen, serta interaksi dari variabel kecakapan manajerial dan proporsi komisaris
independen. Sisanya sebesar 90,8% dijelaskan oleh faktor lain.
Hasil uji ANOVA atau F test diperoleh angka 5,029 dengan signifikansi 0,003 (<0,05)
artinya bahwa kecakapan manajerial, proporsi komisaris independen serta interaksi dari variabel
kecakapan manajerial dan proporsi komsaris independen secara bersama-sama (simultan)
memiliki pengaruh terhadap manajemen laba.
Oleh karena nilai R Square meningkat dari 8% (H1) menjadi 11,5% (H2) dapat
disimpulkan bahwa proporsi komisaris independen sebagai variabel moderasi dapat memperkuat
pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba.
Untuk menilai pengaruh moderasi proporsi komisaris independen signifikan ataukah
tidak, dapat dilihat dari hasil uji T dengan level signifikansi 0,05. Pengaruh pada hasil regresi
dinyatakan signifikan jika nilai signifikansi ≤0,05. Berikut adalah hasil uji T untuk hipotesis kedua (H2):
Tabel 4.11
Hasil Uji T Hipotesis Dua (H2) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 13.030 3.279 3.974 .000 kecakapan manjerial -3.603 3.652 -.357 -.986 .326 Proporsi_KI -12.717 8.467 -.568 -1.502 .136 moderate1 17.096 9.409 .945 1.817 .072
a. Dependent Variable: M_laba
Persamaan : DA = a + b1KM + b2PrKI + b3KM*PrKI + e
DA = 13,030 – 3,603KM – 12,717PrKI + 17,096KM*PrKI + e
Tabel 4.11 diatas menunjukkan bahwa nilai thitung pada variabel proporsi komisaris
independen adalah sebesar -1,502 dengan tingkat signifikansi 0,136 serta thitung interaksi antara
variabel kecakapan manajerial dengan proporsi komisaris independen (Moderate 1) sebesar
1,817 pada tingkat signifikansi 0,072 (>5%). Hal ini berarti variabel proporsi komisaris
independen hanya berperan sebagai variabel prediktor moderasi sehingga dapat diketahui bahwa
pada uji hipotesis kedua (H2) ini proporsi komisaris independen memperkuat pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba namun tidak signifikan.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Herlina
(2014). Proporsi komisaris independen dinyatakan tidak memilik pengaruh yang signifikan
sebagai variabel moderator.
Hasil ini menarik karena komisaris independen yang salah satu kegunaannya adalah sebagai penyeimbang pengambilan keputusan dewan komisaris ternyata tidak memiliki pengaruh signifikan bagi manajemen untuk tidak melakukan manajemen laba. Salah satu sebabnya adalah
keberadaan komisaris independen tidak mampu menghilangkan adanya asimetri informasi antara pihak manajer perusahaan dengan para pemegang saham.
4.4.3 Hipotesis Ketiga (H3)
Hipotesis ketiga yang diajukan adalahkepemilikan institusional memoderasi pengaruh
kecakapan manajerial terhadap manajemen laba. Artinya, semakin tinggi kepemilikan
institusional pada perusahaan dapat memperkuat ataupun memperlemah pengaruh kecakapan
manajerial terhadap praktek manajemen laba. Pengujian hipotesis ketiga dilakukan dengan
menggunakan regresi linear berganda dengan Moderated Regression Analysis (MRA). Besarnya
pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba dengan moderasi dari variabel
kepemilikan institusionalditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 4.12
Hasil Uji Koefisien Determinasi Hipotesis ketiga (H3) Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .299a .089 .066 2.29272
a. Predictors: (Constant), moderate2, kecaka M, Kep_Inst
Tabel 4.13
Hasil Uji F (Simultan) Hipotesis Tiga (H3)
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 59.657 3 19.886 3.783 .012a
Residual 609.762 116 5.257
Total 669.419 119
a. Predictors: (Constant), moderate2, kecaka M, Kep_Inst b. Dependent Variable: M_laba
Tabel 4.14
Perbandingan Nilai R Square Hipotesis Satu dan Tiga
Hipotesis Persamaan Nilai R Square
Hipotesis 1 DA= a+ b1KM+ e 8%
Hipotesis 3 DA = a + b1KM + b2KpI + b3KM*KpI + e
8,9%
Sumber : Data primer yang di olah
Hasil analisis regresi dengan variabel moderating kepemilikan institusional pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014 menunjukkan bahwa nilai
koefisien determinasi (Adjusted RSquare) adalah 6,6% artinya sebesar 6,6% variabel manajemen
laba dapat dijelaskan oleh variabel kecakapan manajerial, variabel kepemilikan institusional,
serta interaksi dari variabel kecakapan manajerial dan kepemilikan manajerial. Sisanya sebesar
93,4% dijelaskan oleh faktor lain.
Hasil uji ANOVA atau F test diperoleh angka 3,783 dengan signifikansi 0,012 (<0,05)
artinya bahwa kecakapan manajerial, kepemilikan institusional serta interaksi dari variabel
kecakapan manajerial dan kepemilikan institusional secara bersama-sama (simultan) memiliki
pengaruh terhadap manajemen laba.
Oleh karena nilai R Square meningkat dari 8% (H1) menjadi 8,9% (H3) dapat
disimpulkan bahwa kepemilikan institusional sebagai variabel moderasi dapat
memperkuatpengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba.
Untuk menilai pengaruh moderasi proporsi komisaris independen signifikan ataukah
tidak, dapat dilihat dari hasil uji T dengan level signifikansi 0,05. Pengaruh pada hasil regresi
dinyatakan signifikan jika nilai signifikansi ≤0,05. Berikut adalah hasil uji T untuk hipotesis ketiga (H3):
Tabel 4.15
Hasil Uji T Hipotesis Tiga (H3) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 4.954 3.256 1.521 .131 Kecakapan manajerial 6.418 3.928 .635 1.634 .105 Kep_Inst .049 .048 .409 1.037 .302 moderate2 -.054 .057 -.518 -.935 .352
a. Dependent Variable: M_laba
Persamaan : DA = a + b1KM + b2KpI + b3KM*KpI + e
DA = 4,954 + 6,418KM+0,049KpI – 0,54KM*KpI + e
Tabel 4.15 diatas menunjukkan bahwa nilai thitung pada variabel kepemilikan
institusional adalah sebesar 1,037 dengan tingkat signifikansi 0,302 serta thitung interaksi antara
variabel kecakapan manajerial dengan kepemilikan institusional (Moderate 2) sebesar -0,935
pada tingkat signifikansi 0,352 (>5%). Hal ini berarti variabel kepemilikan institusional hanya
berperan sebagai variabel prediktor moderasi sehingga dapat diketahui bahwa pada uji hipotesis
ketiga (H3) ini kepemilikan institusional memperkuat pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba namun tidak signifikan.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Wicaksono
(2013). Kepemilikan institusional dinyatakan tidak memilik pengaruh yang signifikan sebagai
variabel moderator.
Adanya kepemilikan saham institusional ternyata tidak mampu memoderasi hubungan
kepemilikan institusional tidak menjamin terciptanya budaya organisasi yang mendukung bagi
pengambilan keputusan yang etis serta memotivasi manajer untuk selalu bertindak jujur.
4.4.4 Hipotesis Keempat (H4)
Hipotesis keempat yang diajukan adalahkepemilikan manajerial memoderasi pengaruh
kecakapan manajerial terhadap manajemen laba. Artinya, semakin tinggi kepemilikan
manajerial pada perusahaan dapat memperkuat ataupun memperlemah pengaruh kecakapan
manajerial terhadap praktek manajemen laba. Pengujian hipotesis keempat dilakukan dengan
menggunakan regresi linear berganda dengan Moderated Regression Analysis (MRA). Besarnya
pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba dengan moderasi dari variabel
kepemilikan manajerial ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 4.16
Hasil Uji Koefisien Determinasi Hipotesis keempat (H4) Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1 .403a .162 .141 2.19873
Tabel 4.17
Hasil Uji F (Simultan) Hipotesis Empat (H4) ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 108.629 3 36.210 7.490 .000a
Residual 560.790 116 4.834
Total 669.419 119
a. Predictors: (Constant), moderate3, kecaka manajerial, Kep_Man b. Dependent Variable: M_laba
Tabel 4.18
Perbandingan Nilai R Square Hipotesis Satu dan Empat
Hipotesis Persamaan Nilai R Square
Hipotesis 1 DA= a+ b1KM+ e 8%
Hipotesis 4 DA = a + b1KM + b2KpM + b3KM*KpM + e
16,2%
Sumber : Data primer yang di olah
Hasil analisis regresi dengan variabel moderating kepemilikan manajerial pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2012-2014 menunjukkan bahwa nilai
koefisien determinasi (Adjusted RSquare) adalah 14,1% artinya sebesar 14,1% variabel
manajemen laba dapat dijelaskan oleh variabel kecakapan manajerial, variabel kepemilikan
manajerial, serta interaksi dari variabel kecakapan manajerial dan kepemilikan manajerial.
Sisanya sebesar 85,9% dijelaskan oleh faktor lain.
Hasil uji ANOVA atau F test diperoleh angka 7,49 dengan signifikansi 0,000 (<0,05)
artinya bahwa kecakapan manajerial, kepemilikan manajerial serta interaksi dari variabel
kecakapan manajerial dan kepemilikan manajerial secara bersama-sama (simultan) memiliki
Oleh karena nilai R Square meningkat dari 8% (H1) menjadi 16,2% (H4) dapat
disimpulkan bahwa kepemilikan manajerial sebagai variabel moderasi dapat
memperkuatpengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba.
Untuk menilai pengaruh moderasi proporsi komisaris independen signifikan ataukah
tidak, dapat dilihat dari hasil uji T dengan level signifikansi 0,05. Pengaruh pada hasil regresi
dinyatakan signifikan jika nilai signifikansi ≤0,05. Berikut adalah hasil uji T untuk hipotesis keempat (H4):
Tabel 4.19
Hasil Uji T Hipoitesis Empat (H4) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 8.888 .857 10.370 .000 Kecakapan manajerial 2.626 1.019 .260 2.576 .011 Kep_Man -.232 .151 -.589 -1.544 .125 moderate3 .140 .168 .325 .833 .406
a. Dependent Variable: M_laba
Persamaan : DA = a + b1KM + b2KpM + b3KM*KpM + e
DA = 8,888 + 2,626KM-0,232KpM +0,14KM*KpM + e
Tabel 4.19 diatas menunjukkan bahwa nilai thitung pada variabel kepemilikan manajerial
adalah sebesar -1,544 dengan tingkat signifikansi 0,125 serta thitung interaksi antara variabel
kecakapan manajerial dengan kepemilikan manajerial (Moderate 3) sebesar 0,833 pada tingkat
signifikansi 0,406 (>5%). Hal ini berarti variabel kepemillikan manajerial hanya berperan
(H4) ini kepemilikan manajerial memperkuat pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba namun tidak signifikan.
Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Wicaksono
(2013). Kepemilikan manajerial dinyatakan tidak memilik pengaruh yang signifikan sebagai
variabel moderator.
Adanya kepemilikan saham manajerial ternyata tidak mampu memoderasi hubungan
kecakapan manajerial terhadap manajemen laba. Salahsatu sebabnya adalah karena jumlah
kepemilikan saham manaejial itu tidak mampu mengurangi asimetri informasi yang terjadi.
Selain itu jumlah kepemilikan saham manajerial juga tidak mampengaruhi bebrapa keadaan yang
tidak mendukung pengambilan keputusan yang etis.
Secara ringkas hasil pengujian hipotesis dapat dilihat pada Tabel 4.20 dibawah ini :
Tabel 4.20
Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis Pernyataan Hasil Analisis
H1
Kecakapan manajerial berpengaruh positif terhadap
manajemen laba
Terdukung
H2
Proporsi dewan komisaris independen memoderasi pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba Memperkuat pengaruh namun tidak signifikan H3 kepemilikan institusional memoderasi pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba Memperkuat pengaruh namun tidak signifikan H4 kepemilikan manajerial memoderasi pengaruh kecakapan
manajerial terhadap manajemen laba
Memperkuat pengaruh namun
BAB V PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis dapat disimpulkan :
a. Dari hasil uji hipotesis dapat diketahui bahwa kemampuan variabel kecakapan
manajerial dalam menjelaskan variabel manajemen laba secara langsung hanya 8% dan
sisanya 92% dijelaskan oleh faktor lain.
b. Terdapat pengaruh positif signifikan pada pengaruh kecakapan manajerial terhadap
praktik manajemen laba dengan nilai thitung 3,199 dan signifikansi 0,002 (ttabel= 1,9801 ;
signifikansi = 0,05) serta koefisien regresi 2,854. Semakin tinggi kecakapan manajerial,
maka semakin meningkatkan manajemen laba.
c. Terdapat hasil yang tidak signifikan pada proporsi komisaris independen dalam
memoderasi pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba (sig. = 0,072),
namun terdapat peningkatan pada nilai R Square sehingga variabel proporsi komisaris
independen dapat memperkuat hubungan antara kecakapan manajerial dan manajemen
laba.
d. Terdapat hasil yang tidak signifikan pada kepemilikan institusional dalam memoderasi
pengaruh kecakapan manajerial terhadap manajemen laba (sig. = 0,352), namun
terdapat peningkatan pada nilai R Square sehingga variabel kepemilikan institusional
dapat memperkuat hubungan antara kecakapan manajerial dan manjemen laba.
e. Terdapat hasil yang tidak signifikan pada kepemilikan manajerial dalam memoderasi
terdapat peningkatan pada nilai R Square sehingga variabel kepemilikan manajerial
dapat memperkuat hubungan antara kecakapan manajerial dan manjemen laba.
5.2 Keterbatasan dan saran