• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hipotesis Tindakan

Dalam dokumen Sumarni (Halaman 44-0)

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Hipotesis Tindakan

Hipotesis tindakan penelitian ini adalah jika model Pembelajaran Kooperatif Tipe Example Non Examples diterampak maka hasil belajar murid pada mata pelajaran IPS kelas VI SD Negeri Mangasa Kecematan Somba Opu Kabupaten Gowa, meningkat.

Kondisi Akhir

Hasil Belajar IPS meningkat

xlv BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (class room action research). Arikunto (2012:3) mengemukakan bahwa: penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas. Penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam bentuk kegiatan bersiklus yang terdiri atas empat tahap yaitu, perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi.

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa untuk mata pelajaran ilmuh pengetahuan sosial. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas VI SD Negeri Managasa tahun ajaran 2013/2014, dengan jumlah murid adalah 28 orang yang terdiri dari 17 laki-laki dan 11 perempuan.

C. Objek Penelitian

Ada beberapa faktor yang diselidiki dalam penelitian ini adalah:

1. Faktor proses yakni melihat aktivitas belajar murid serta interaksi antara guru dan murid serta murid dengan murid melalui model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples selama proses pembelajaran.

31

xlvi 2. Faktor hasil belajar yakni melihat hasil belajar murid setiap akhir siklus setelah

diterapkannya model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi, refleksi seperti pada gambar berikut:

Adapun tahapan pelaksanaan penelitian ini adalah seperti tampak pada bagan sebagai berikut:

Gambar 3.2 Bagan Penelitian Tindakan Kelas Arikunto (2012:16)

Perencanaan

Pelaksanaan

SIKLUS I

Observasi

Observasi

SIKLUS II

Perencanaan Refleksi

Refleksi Pelaksanaan

xlvii

Dalam setiap siklus secara rinci pelaksanaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Siklus Pertama

a. Tahap Perencanaan

1) Menelaah Kurikulum KTSP kelas VI yang berjalan tahun 2013/2014;

2) Membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum SD kelas VI dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples;

3) Membuat lembaran observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar di kelas ketika pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples;

4) Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah hasil belajar IPS murid kelas VI dapat meningkat.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

1) Mempersiapkan kondisi murid untuk menerima pelajaran

2) Membentuk kelompok yang beranggotakan 5 orang murid secara heterogen 3) Menjelaskan materi secara singkat di depan kelas yang selanjutnya diperjelas

dengan mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4) Menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP

xlviii 5) Memberi petunjuk dan memberikan kesempatan kepada murid untuk

memperhatikan/menganalisa gambar

6) Melalui diskusi kelompok 4-5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas

7) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

8) Melalui komenter/hasil diskusi murid, guru mulai menjelaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai

9) Membuat kesimpulan.

c. Tahap Observasi/Evaluasi

Pada tahap observasi ini digunakan lembar observasi. Observasi dilakukan pada saat guru melakukan proses belajar mengajar. Guru mencatat tentang situasi dan kondisi belajar murid berdasarkan lembar observasi yang sudah disiapkan dalam hal ini mengenai :

1) Kehadiran murid;

2) Murid yang mengerjakan PR;

3) Murid yang bertanya;

4) Murid yang memperhatikan pelajaran;

5) Murid yang belum mengerti dan membutuhkan bimbingan guru dalam mengerjakan soal;

6) Murid yang menjawab pertanyaan atau tampil menyelesaikan soal di papan tulis;

7) Murid yang minta izin.

xlix d. Tahap Refleksi

Merefleksi setiap hal yang diperoleh melalui lembar observasi, menilai dan mempelajari perkembangan hasil belajar murid pada akhir siklus I. Dari hasil inilah yang selanjutnya dijadikan acuan peneliti untuk merencanakan perbaikan dan penyempurnaan siklus II sehingga hasil yang dicapai lebih baik dari siklus sebelumnya.

2. Siklus Kedua

a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini dirumuskan perencanaan siklus kedua yang sama dengan perencanaan siklus pertama dengan mengadakan beberapa perbaikan sesuai dengan kenyataan yang ditemukan di lapangan. Pada siklus kedua dilaksanakan tiga kali pertemuan. Secara rinci prosedur pelaksanaan tindakan pada siklus ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Membuat rencana pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum SD kelas VI dengan menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples;

2) Membuat lembaran observasi untuk melihat bagaimana kondisi belajar di kelas ketika pembelajaran berlangsung dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples;

3) Membuat alat evaluasi untuk melihat apakah hasil belajar IPS murid kelas VI dapat meningkat.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

l 1) Mempersiapkan kondisi murid untuk menerima pelajaran

2) Membentuk kelompok yang berangotakan 5 orang murid secara heterogen.

3) Menjelaskan materi secara singkat di depan kelas yang selanjutnya diperjelas dengan mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

4) Menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP

5) Memberi petunjuk dan memberikan kesempatan kepada murid untuk memperhatikan/menganalisa gambar

6) Melalui diskusi kelompok 4-5 orang murid, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas

7) Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya

8) Mulai dari komenter/hasil diskusi murid , guru mulai menjlaskan materi sesuai dengan tujuan yang ingin di capai

9) Membuat kesimpulan.

c. Tahap Observasi/Evaluasi

Pada tahap observasi ini digunakan lembar observasi. Observasi dilakukan pada saat guru melakukan proses belajar mengajar. Guru mencatat tentang situasi dan kondisi belajar murid berdasarkan lembar observasi yang sudah disiapkan dalam hal ini mengenai:

1) Kehadiran murid

2) Murid yang mengerjakan PR 3) Murid yang bertanya

4) Murid yang memperhatikan pelajaran

li 5) Murid yang belum mengerti dan membutuhkan bimbingan guru dalam

mengerjakan soal

6) Murid yang menjawab pertanyaan atau tampil menyelesaikan soal di papan tulis

7) Murid yang minta izin.

d. Tahap Refleksi

Merefleksi setiap hal yang diperoleh melalui lembar observasi, menilai dan mempelajari perkembangan hasil belajar murid pada akhir siklus I. Dari hasil inilah yang selanjutnya dijadikan acuan peneliti untuk merencanakan perbaikan dan penyempurnaan siklus II sehingga hasil yang dicapai lebih baik dari siklus sebelumnya.

Langkah yang dilakukan pada siklus II pada umumnya sama dengan kegiatan yang telah dilakukan pada siklus I dengan melakukan beberapa perbaikan, seperti mengawasi murid lebih tegas dan memberi teguran bagi murid yang kurang disiplin. Untuk murid yang hasil belajarnya rendah dan mengalami kesulitan menyelesaikan soal diberikan bimbingan dan diberikan kesempatan untuk mengerjakan soal latihan di papan tulis serta meotivasir murid agar lebih bersemangat dan senang dalam belajar.

Hasil yang diperoleh dari siklus ini diharapkan lebih baik dari siklus sebelumnya. Selanjutnya akan diadakan evaluasi untuk mengukur keberhasilan pembelajaran IPS dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe

lii Examples Non Examples. Murid juga akan diberi kesempatan untuk memberi tanggapan secara tertulis.

E. Teknik dan Instrumen Penilaian 1. Teknik Penilaian

a. Tes b. Observasi c. Dokumentasi d. Wawancara 2. Instrument Penilaian

a. Tes: berupa butir-butir soal untuk memperoleh data tentang hasil belajar murid.

b. Observasi: berupa format penilaianuntuk merekam kehadiran dan keaktifan murid dalam proses pembelajaran.

c. Dokumentasi: untuk mengetahui nama murid, arsip-arsip lain yang berhubungan dengan penelitian seperti sarana dan prasarana SD Negeri mangasa.

d. Wawancara: berupa tanya jawab yang dilakukan kepada murid untuk mengetahui pendapat murid tentang penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Examples NonExamples.

F. Teknik Pengumpulan data

liii 1. Data tentang hasil belajar diambil dengan memberikan tes hasil belajar kepada

murid pada setiap akhir siklus

2. Data mengenai aktifitas murid diperoleh dengan mengisi lembar observasi pada saad pemberian tindakan

G. Teknik Analisis Data

Adapun analisis yang digunakan adalah kuantitatif, dimana data yang telah diperoleh dari lapangan berupa data kuantitatif yang dianalisis dengan menggunakan persamaan korelasi sederhana, kemudian digambarkan atau didekskripsikan sejauh mana implementasi model pembelajaran Examples Non Examples berkaitan secara signifikan terhadap pemahaman murid tentang materi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana, yaitu sebagai berikut:

1. Penilaian Rata-rata

Peneliti menjumlahkan nilai yang diperoleh murid kemudian dibagi dengan jumlah murid kelas tersebut sehingga diperoleh nilai rata-rata. Nilai rata-rata ini dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :

dengan :

P = Persentasi F = Frekuensi

N = Jumlah Responden

liv 2. Penilaian untuk ketuntasan belajar.

Untuk menghitung presentase ketuntasan digunakan dengan rumus :

Sedangkan untuk memperoleh nilai akhir dari murid yaitu dengan menggunakan rumus:

Untuk jelasnya dapat dilihat tabel dibawah ini :

Tabel 3.1 Teknik Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan Pendidikan Nasional

No

Tingkat Penguasaan Kategori

1.

0 – 59 Sangat rendah

2.

60 – 69 Rendah

3.

70 - 79 Sedang

4.

80 – 89 Tinggi

5.

90 – 100 Sangat tinggi

Sumber: Departemen Pendidikan Nasional (Drs. Cece, 1999: 156)

lv

H. Indikator Keberhasilan

Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bila skor rata-rata murid yang diperoleh dari tes akhir siklus II lebih tinggi dari tes akhir siklus I. Selain itu dapat juga dilihat dari meningkatnya keaktifan murid dalam proses belajar mengajar dan kemampuan guru dalam mengolah pembelajaran dengan nilai KKM untuk mata pelajaran IPS adalah 70.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Setelah dilakukan observasi awal penelitian ini dilanjutkan pada bulan agustus.

Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus, sedangkan sasaran yang dicapai dalam penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) melalui penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples pada murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamaatan Somba Opu Kabupaten Gowa. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti bertindak sebagai guru yang mengajar dan wali kelas VI bertindak sebagai pengamat dengan materi Kenampakan Alam dan Keadaan Sosial Negara-Negara Tetangga .

Penelitian dilaksanakan 2 siklus yang setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan.

Setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yakni tahap perencanaan, tindakan, observasi dan

lvi refleksi, dari ke 4 tahap ini dapat dilihat hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) setelah penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Examples Non Examples pada murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

A. Pemaparan Hasil Penelitian

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan dari penelitian yang telah dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples dalam meningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

Hasil penelitian yang diperoleh disajikan berdasarkan hasil yang telah didapatkan di lapangan dengan ditindaklanjuti selama 2 siklus. Setiap siklus dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan.

1. Hasil Penelitian Siklus I a. Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti melakukan konsultasi dengan pihak sekolah mengenai rencana teknis penelitian.dengan diterapkannya model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples Pada murid kelas VI SD Negei Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa.

Berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, standar kompetensi yang akan dicapai melalui kegiatan pembelajaran adalah memahami kenampakan alam dan keadaan sosial negara-nagara tetangga sebagaimana yang tercantum pada lampiran kegiatan perencanaan dilanjutkan dengan membuat instrument penelitian berupa, tes

41

lvii hasil belajar untuk mengukur hasil belajar murid pada aspek kognitif dan lembar observasi untuk mengamati faktor-faktor yang diselidiki pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Adapun pelaksanaan tindakan kelas pada Siklus I berlangsung selama 3 pekan atau 3 kali pertemuan dengan lama waktu setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit.

Pertemuan pertama pada tanggal 06 Agustus 2014, pertemuan kedua pada tanggal 08 Agustus 2014, pertemuan ketiga pada tangga 13 Agustus 2014. Diisi dengan kegiatan pembelajaran dan 15 Agustus 2014 merupakan pemberian tes hasil belajar Siklus I.

c. Tahap Observasi dan Evaluasi

Pada tahap ini dilaksanakan proses observasi terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar observasi yang telah dibuat serta melaksanakan evaluasi berupa tes hasil belajar siklus I setelah 3 kali pertemuan. Tes hasil belajar yang diberikan berbentuk pilihan ganda sebanyak 10 nomor.

1. Hasil Observasi Murid

Selama berlangsungnya penelitian pada siklus I, tercatat sikap yang terjadi pada setiap murid terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples. Peneliti melaksanakan tindakan dengan cara mengidentifikasi keadaan murid selama proses pembelajaran berlangsung di kelas. Sikap murid tersebut diperoleh dari lembar

lviii observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1. Lembar Observasi Aktivitas Murid Selama Mengikuti Proses Pembelajaran Pada Siklus I

2. Murid yang aktif bertanya tentang materi belum

5. Murid yang belajar sesuai pembelajaran yang diterapkan

7. Murid yang aktif menjawab pertanyaan

lix

Pada pertemuan pertama antusias belajar murid masih kurang, murid yang hadir pun hanya 18 dari 28 orang murid. Murid yang mengajukan pertanyaan tentang materi pembelajaran yang belum dipahami pada saat proses belajar mengajar berlangsung hanya sebanyak 3 orang. Murid yang meminta bimbingan guru sebanyak 12 orang, murid yang membimbing temannya sebanyak 1 orang. Murid yang membuat rangkuman/menyimpulkan materi pelajaran sebanyak 19 orang, murid yang aktif menyelesaikan PR sebanyak 3 orang dan murid yang melakukan aktivitas lain saat kegiatan pembelajaran berlangsung sebanyak 3 orang. Selanjutnya untuk mengetahui pemahaman murid terhadap pelajaran diarahkan untuk mengerjakan LKM yang berhubungan dengan materi yang dipelajari.

Pada pertemuan kedua, hasilnya sedikit lebih baik. Namun murid yang hadir hanya 20 orang. Murid yang mengajukan pertanyaan tentang materi yang diajarkan yang belum dipahami hanya 5 orang. Murid yang meminta bimbingan 12 orang, murid yang membimbing temannya hanya 1 orang. Murid yang belajar sesuai pembelajaran yang diterapkan 16 orang. Murid yang mempersentasikan hasil diskusi sebanyak 3 orang dan murid yang aktif menjawab sebanyak 3 orang. Murid yang membuat kesimpulan/rangkuman sebanyak 20 orang dan murid yang aktif membuat PR sebanyak 17 orang. Dan murid yang melakukan aktifitas lain sebanyak 4 orang.

Pada pertemuan ketiga murid yang hadir mengikuti pembelajaran yaitu 23 orang. Murid yang mngajukan pertanyaan tentang materi pembelajaran yang belum dipahami pada proses belajar berlangsung sebanyak 8 orang, murid yang meminta

lx bimbingan guru pada materi yang belum dipahami sebanyak 15 orang dan 4 orang murid yang membimbing temannya. Murid yang mengikuti pembelajaran sesuai dengan pembelajaran sebanyak 18 orang, yang persentasi 4 orang dan murid yang aktif menjawab pertanyaan sebanyak 5 orang dan murid yang membuat rangkuman sebanyak 22 orang, murid yang aktif menyelesaikan tugas PR sebanyak 18 orang, kemudian murid yang melakukan aktifitas lain sebanyak 1 orang.

2. Hasil Belajar Murid

Pada bagian ini akan dibahas secara rinci hasil analisis data sesuai dengan data yang diperoleh di lapangan dengan hasil kuantitatif. Pelaksanaan proses pembelajaran pada siklus I diberikan materi dan evaluasi selama 3 kali pertemuan dan tes siklus diberikan pada pertemuan ke 4. Adapun data skor hasil belajar siklus I, setelah dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Example Non Examples, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2. Hasil Evaluasi Siklus I

No Nama siswa

lxi

11 Fadil Jamal 50 Tidak Tuntas

12 Syahrani Suci Ramadani 50 Tidak Tuntas

13 Abdul Rizal 70 Tuntas

14 Hilmi Khoiry 80 Tuntas

15 Afia Fadilla 70 Tuntas

16 Nurfahmi 60 Tidak Tuntas

17 Multasam 70 Tuntas

18 St. Nuraisyah 80 Tuntas

19 Indah Dewi Puspita 70 Tuntas

20 Andi Alfian Afriansyah 50 Tidak Tuntas

21 Wirya Wirawan 70 Tuntas

22 Cendana Indra Pranata 80 Tuntas

23 Nur Azizah Zulfikram 80 Tuntas

24 St.Aisyah F 80 Tuntas

25 Ilham Anugrah Rahman 60 TidakTuntas

26 Ardi wiranto 80 Tuntas

27 Dewi Sinta 70 Tuntas

28 Nur Arsyila M 80 Tuntas

Jumlah 1910

Rata – Rata 68,21

lxii Tabel 4.3. Statistik Skor Hasil Belajar IPS Murid Kelas VI SD Negeri

Mangasa Kecamatan Somba Opu Kab Gowa Pada Tes Siklus I.

Statistik Nilai Statistik Pengetahuan Sosial (IPS) murid setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe Examples Non Examples pada siklus I dengan rata-rata kelas adalah skor Tertinggi 90 dan skor Terendah 40. Apabila skor hasil belajar IPS murid dikelompokkan ke dalam lima kategori berdasarkan pengkategorian yang telah dikemukakan pada bab 3 di atas, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase seperti yang ditunjukkan pada Tabel 4.4 berikut:

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Dan Persentase Kategori Hasil Belajar IPS Murid Kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Pada Siklus I

No Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 0 – 59 Sangat rendah 5 17,85

lxiii Pada tabel 4.4 tersebut menunjukkan bahwa ada 5 murid atau 17,85 % yang berada dalam kategori rsangat rendah, 5 murid atau 17,85 % terdapat dalam kategori rendah. 8 murid atau 28,57 % yang berada dalam kategori sedang, 9 murid atau 32,14 % yang berada dalam kategori tinggi 1murid atau 3,57% yang berada pada kategori sangat tinggi.

Berdasarkan tabel 4.2 dan 4.3 di atas maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS yang diperoleh murid kelas VI SD Negeri Mangasa kecamatan Somba Opu, setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif Tipe Examples Non Examples pada siklus I mencapai nilai rata-rata 68,21 dan berada dalam kategori sedang.

Selanjutnya jika skor hasil belajar IPS murid dikategorikan berdasarkan ketuntasan belajar dengan menggunakan KKM yaitu murid dinyatakan tuntas perorangan bila mencapai nilai 70 dan jika murid yang tuntas perorangan mencapai 85 maka dinyatakan tuntas secara klasikal. Apabila hasil belajar IPS murid kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.5. Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Pada Siklus I

No Skor Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 0 – 69 Tidak Tuntas 10 35,71

2 70 – 100 Tuntas 18 64,28

Jumlah 28 100%

Pada tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa pada siklus I dari 28 murid, yang tidak tuntas belajar hanya 10 murid atau 35,71 dan yang tuntas belajar hanya

lxiv sebanyak 18 murid atau 64,28. Oleh karena itu, akan diusahakan perbaikan dan peningkatan pembelajaran pada siklus II.

Adapun grafik ketuntasan belajar murid pada siklus I dapat dilihat sebagai berikut : siklus I, dapat dilihat pada grafik di bawah ini:

3. Refleksi Siklus I

Pada Siklus I, penelitian yang dilaksanakan di kelas VI SD Negeri Mangasa Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa berlangsung 3 kali pertemuan, pada pertemuan pertama sampai dengan pertemuan ketiga diisi dengan kegiatan pembelajaran, pertemuan keempat diisi dengan pemberian tes hasil belajar (evaluasi siklus I).

Pada awal pelaksanaan siklus I, murid terlihat kurang antusias dalam mengikuti pelajaran terutama dalam merespon materi yang disajikan. Apabila guru mengajukan sebuah pertanyaan ada kecenderungan murid untuk menjawab pertanyaan secara

64,28

lxv serempak, dan pada saat diminta untuk menanggapi suatu persoalan, sebagian besar murid hanya diam dan takut untuk memberikan komentarnya. Pada umumnya murid pasif dan hanya mendengarkan penjelasan dari guru. Selain itu, murid enggan bertanya tentang materi yang masih belum dimengerti serta tidak menunjukkan kerjasama menganalisa gambar dengan teman kelompoknya.

Untuk mengatasi hal tersebut, maka guru bersama peneliti melakukan analisis dan refleksi terhadap faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya aktivitas murid maupun aktivitas guru dalam pembelajaran dan disepakati adanya beberapa kelemahan guru dalam pengelolaan pembelajaran model Kooperatif Tipe Examples Non Examples di kelas khususnya materi ajar kenampakan alam dan keadaan sosial negara-nagara tetangga, yaitu :

a) Guru belum dapat mengorganisasikan waktu dengan baik, hal itu terlihat dari bertambahnya waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan inti, akibatnya kegiatan Tanya jawab antar murid - guru serta kegiatan menerangkan materi yang sedianya dilaksanakan pada 10 menit terakhir, dilaksanakan dengan mengambil jam pulang.

b) Pada saat pembagian kelompok. Guru belum dapat mengorganisasikan murid dengan baik, sehingga suasan kelas menjadi gaduh dan pembagian kelompok tidak dapat berjalan lancar.

c) Guru kurang mengorganisasikan murid untuk belajar pada setiap kelompok, dalam hal ini mengarahkan murid untuk menelaah LKM.

lxvi d) Pada saat guru memanggil salah satu murid dan meminta murid maju ke depan untuk mempersentasikan hasil kerjanya, ada beberapa murid yang menolak untuk mewakili kelompoknya dan guru menuruti keinginan murid tersebut.

Kemudian, peneliti bersama guru melakukan analisis dan refelksi terhadap kelemahan-kelemahan pelaksanaan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples oleh guru dan kaitannya dengan satuan aktivitas murid yang dinilai.

Dari hasil refleksi tersebut, kemudian ditentukan langkah-langkah perbaikan pada siklus II, yaitu sebagai berikut:

a)

Selama pembelajaran berlangsung, guru harus dapat mengorganisasikan waktu dengan baik. Peneliti dapat berkolaborasi dengan guru dalam mengatur waktu pembelajaran dengan peneliti memegang stop watch dan memberikan isyarat kepada guru jika waktunya setiap pembelajaran Examples Non Examples telah selesai.

b) Guru hendaknya mengorganisasikan dan memberikan motivasi kepada murid dalam setiap kelompok untuk belajar, membaca buku teks atau LKM dan selalu mendiskusikan masalah-masalah sehunbungan dengan materi pembelajaran.

c) Guru harus lebih mengefektifkan pemantauan terhadap kegiatan kelompok dan pembimbingan intensif dan merata kepada semua kelompok.

d) Guru harus dapat memotivasi murid dengan memberikan nilai dan hadiah berupa buku tulis, pulpen kepada kelompok yang kinerjanya bagus, agar setiap kelompok berlomba untuk menjadi yang terbaik.

lxvii

e)

Guru harus dapat bersikap lebih tegas terhadap semua murid selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Berdasarkan hasil analisis dan refleksi tersebut di atas, guru melakukan perbaikan-perbaikan dalam proses pembelajaran yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples untuk diterapkan serta memperbaharui cara menyampaikan materi pembelajaran dengan selalu melibatkan murid dalam pembelajaran, sehingga diharapkan dengan pembelajaran tersebut akan

Berdasarkan hasil analisis dan refleksi tersebut di atas, guru melakukan perbaikan-perbaikan dalam proses pembelajaran yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif Tipe Examples Non Examples untuk diterapkan serta memperbaharui cara menyampaikan materi pembelajaran dengan selalu melibatkan murid dalam pembelajaran, sehingga diharapkan dengan pembelajaran tersebut akan

Dalam dokumen Sumarni (Halaman 44-0)

Dokumen terkait